Anda di halaman 1dari 3

Nama : Corry Angelina Sinaga

NIM : I4041152036
1. HALOTHANE
Karakteristik
Halotan merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak iritatif, mudah
menguap, tidak mudah terbakar/meledak, tidak bereaksi dengan soda lime, dan
mudah diuraikan cahaya. Halotan merupakan obat anestetik dengan kekuatan 4-5
kali eter atau 2 kali kloroform (Mansjoer, dkk. 2008).
Efek terhadap Sistem dalam Tubuh
a) Kardiovaskular
Depresi miokard bergantung pada dosis, penurunan otomatisitas sistem
konduksi, penurunan aliran darah ginjal dan splanknikus dari curah jantung
yang berkurang, serta pengurangan sensitivitas miokard terhadap aritmia
yang diinduksi katekolamin yang menyebabkan terjadinya hipotensi untuk
menghindari efek hipotensi yang berat selama anestesi, yang dalam hal ini
perlu diberikan vasokonstriktor langsung, seperti fenileprin (Munaf, 2008).
b) Pernapasan
Depresi respirasi terkait dengan dosis yang dapat menyebabkan menurunnya
volume tidal dan sensitivitas terhadap pengaturan respirasi yang dipacu oleh
CO2. Pemberian bronkodilator poten sangat baik untuk mengurangi spasme
bronkus (Munaf, 2008).
c) Susunan Saraf Pusat
Hilangnya autoregulasi aliran darah serebral yang menyebabkan tekanan
intrakranial menurun (Munaf, 2008).
d) Ginjal
Menurunnya GFR, dan berkurangnya aliran darah ke ginjal disebabkan oleh
curah jantung yang menurun (Munaf, 2008).
e) Hati
Aliran darah ke hati menurun (Munaf, 2008).
f) Uterus
Menyebabkan relaksasi otot polos uterus; berguna dalam manipulasi kasus
obstetrik (misalnya penarikan plasenta) (Munaf, 2008).
Metabolisme
Sebanyak 80% hilang melalui gas yang dihembuskan, 20% melalui metabolisme
di hati. Metabolit berupa bromida dan asam trifluoroasetat (Munaf, 2008).
Keuntungan dan Kerugian
Keuntungannya potensi anestesi umum kuat, induksi dan penyembuhan baik,
iritasi jalan napas tidak ada, serta bronkodilator yang sangat baik. Sedangkan
kerugiannya adalah depresi miokard dan pernapasan, sensitisasi miokard terhadap
aritmia yang diinduksi oleh katekolamin, serta aliran darah serebral menurun
yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (Munaf, 2008).
Efek samping/Toksisitas:
a) Hepatitis Halotan: kejadian 1/30.000 dari pemberian; pasien yang
mempunyai resiko adalah yang mengalami obesitas, wanita usia muda lebih
banyak terjadi dengan periode waktu yang singkat; ditandai dengan nekrosis

sentrilobuler; uji fungsi hati abnormal dan eosinofilia. Sindrom ini dapat juga
terjadi dengan isofluran dan etran (Munaf, 2008).
b) Hipertermi maligna: suatu sindrom yang ditandai dengan peningkatan suhu
tubuh secara belebihan, rigiditas otot rangka, serta dijumpai asidosis
metabolik. Secara umum, hal ini berakibat fatal kecuali jika diobati dengan
dantrolen yang merupakan pelemas otot yang mencegah Ca dari retikulum
sarkoplasmik (Munaf, 2008).
Indikasi : Anestesi Umum
Merupakan alkana terhalogenisasi dengan ikatan karbon-florida sehingga bersifat
tidak mudah terbakar atau meledak (meski dicampur oksigen). Halotan berbentuk
cairan tidak berwarna dan berbau enak. Botol berwarna amber dan pengawet
timol berguna untuk menghambat dekomposisi oksidatif spontan. Halotan
merupakan anestetik kuat dengan efek analgesia lemah, di mana induksi dan
tahapan anestesia dilalui dengan mulus, bahkan pasien akan segera bangun
setelah anestetik dihentikan. Gas ini merupakan agen anestestik inhalasi paling
murah, dan karena keamanannya hingga kini tetap digunakan di dunia.
Efek terhadap Sistem Organ
2 MAC dari halotan menghasilkan 50% penurunan tekanan darah dan curah
jantung. Halotan dapat secara langsung menghambat otot jantung dan otot polos
pembuluh darah serta menurunkan aktivitas saraf simpatis. Penurunan tekanan
darah terjadi akibat depresi langsung pada miokard dan penghambatan refleks
baroreseptor terhadap hipotensi, meski respons simpatoadrenal tidak dihambat
oleh halotan (sehingga peningkatan PCO2 atau rangsangan pembedahan tetap
memicu respons simpatis). Makin dalam anestesia, makin jelas turunnya
kontraksi miokard, curah jantung, tekanan darah, dan resistensi perifer. Efek
bradikardi disebabkan aktivitas vagal yang meningkat. Automatisitas miokard
akibat halotan diperkuat oleh pemberian agonis adrenergik (epinefrin) yang
menyebabkan aritmia jantung. Efek vasodilatasi yang dihasilkan pada pembuluh
darah otot rangka dan otak dapat meningkatkan aliran darah.
Efek terhadap respirasi adalah pernapasan cepat dan dangkal. Peningkatan laju napas ini tidak
cukup untuk mengimbangi penurunan volume tidal, sehingga ventilasi alveolar turun dan
PaCO2. Depresi napas ini diduga akibat depresi medula (sentral) dan disfungsi otot interkostal
(perifer). Halotan diduga juga sebagai bronkodilator poten, di mana dapat mencegah
bronkospasme pada asma, menghambat salivasi dan fungsi mukosiliar, dengan relaksasi otot
maseter yang cukup baik (sehingga intubasi mudah dilakukan), namun dapat mengakibatkan
hipoksia pascaoperasi dan atelektasis. Efek bronkodilatasi ini bahkan tidak dihambat oleh
propanolol.
Dengan mendilatasi pembuluh darah serebral, halotan menurunkan resistensi vaskular
serebral dan meningkatkan aliran darah otak, sehingga ICP meningkat, namun aktivitas
serebrum berkurang (gambaran EEG melambat dan kebutuhan O 2 yang berkurang). Efek
terhadap neuromuskular adalah relaksasi otot skeletal dan meningkatkan kemampuan agen
pelumpuh otot nondepolarisasi, serta memicu hipertermia malignan.

Efek terhadap ginjal adalah menurunkan aliran darah renal, laju filtrasi glomerulus, dan
jumlah urin, semua ini diakibatkan oleh penurunan tekanan darah arteri dan curah jantung.
Efek terhadap hati adalah penurunan aliran darah hepatik, bahkan dapat menyebabkan
vasospasme arteri hepatik. Selain itu, metabolisme dan klirens dari beberapa obat (fentanil,
fenitoin, verapamil) jadi terganggu.
Biotransformasi dan Toksisitas
Eksresi halotan utamanya melalui paru, hanya 20% yang dimetabolisme dalam tubuh untuk
dibuang melalui urin dalam bentuk asam trifluoroasetat, trifluoroetanol, dan bromida.
Halotan dioksidasi di hati oleh isozim sitokrom P-450 menjadi metabolit utamanya, asam
trifluoroasetat. Metabolisme ini dapat dihambat dengan pemberian disulfiram. Bromida,
metabolit oksidatif lain, diduga menjadi penyebab perubahan status mental pascaanestesi.
Disfungsi hepatik pascaoperasi dapat disebabkan oleh: hepatitis viral, perfusi hepatik yang
terganggu, penyakit hati yang mendasari, hipoksia hepatosit, dan sebagainya. Penggunaan
berulang dari halotan dapat menyebabkan nekrosis hati sentrolobular dengan gejala
anoreksia, mual muntah, kadang kemerahan pada kulit disertai eosinofilia.
Kontraindikasi dan Interaksi Obat
Halotan dikontraindikasikan pada pasien dengan disfungsi hati, atau pernah mendapat halotan
sebelumnya. Halotan sebaiknya digunakan secara hati-hati pada pasien dengan massa
intrakranial (kemungkinan adanya peningkatan TIK). Efek depresi miokard oleh halotan
dapat dieksaserbasi oleh agen penghambat adrenergik (seperti propanolol) dan agen
penghambat kanal ion kalsium (seperti verapamil). Penggunaannya bersama dengan
antidepresan dan inhibitor monoamin oksidase (MAO-I) dihubungkan dengan fluktuasi
tekanan darah dan aritmia. Kombinasi halotan dan aminofilin berakibat aritmia ventrikel.
.
2. PROPOFOL
Mekanisme : Propofol adalah modulator selektif dari reseptor gamma amino butiric
acid (GABAA) dan tidak terlihat memodulasi saluran ion ligand lainnya
pada konsentrasi yang relevan secara klinis. Propofol memberikan efek
sedatif hipnotik melalui interaksi reseptor GABAA. GABA adalah
neurotransmiter penghambat utama dalam susunan saraf pusat. Ketika
reseptor GABAA diaktifkan, maka konduksi klorida transmembran
akan meningkat, mengakibatkan hiperpolarisasi membran sel postsinap
dan hambatan fungsional dari neuron postsinap. Interaksi propofol
dengan komponen spesifik reseptor GABAA terlihat mampu
meningkatkan laju disosiasi dari penghambat neurotransmiter, dan juga
mampu meningkatkan lama waktu dari pembukaan klorida yang
diaktifkan oleh GABA dengan menghasilkan hiperpolarisasi dari
membran sel.