Anda di halaman 1dari 5

MANUSIA DAN MASYARAKAT INDONESIA (1)

LAPORAN TUGAS MANDIRI


Angela Monalisa Kurniawan | 1506728655
Pada hari Jumat, 9 September 2016 yang lalu, saya mengadakan pengamatan sosial di
ITC Depok. Pengamatan sosial ini merupakan cara yang diterapkan oleh Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Indonesia dalam menerapkan mata kuliah Manusia dan Masyarakat
Indonesia (MMI). ITC Depok terpilih menjadi lokasi penelitian atau sub-setting bagi kelas
kami yang difasilitasi oleh Pak Prathama Raharja.
Indonesia merupakan negara yang terdiri dari begitu banyak suku, bahasa, budaya,
hingga agama. Terkadang, butuh lebih dari sekedar pengetahuan bahwa Indonesia
bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika untuk memahami bagaimana sesungguhnya
masyarakat Indonesia berinteraksi. Menurut saya pribadi, pengamatan sosial ini bertujuan
untuk membawa mahasiswa keluar dari zona nyamannya. Zona aman yang selama ini kita
tempati mungkin hanya mewakili sangat kecil bagian dari masyarakat Indonesia sehingga
kita tidak mencapai pemahaman yang menyeluruh mengenai masyarakat Indonesia dan
interaksinya.
Mulanya, kelas kami mendapatkan lokasi sub-setting di DMall yang juga berlokasi di
Jalan Margonda Raya. Akan tetapi setelah dilakukan survei awal, ternyata wilayah DMall
kurang dapat memberikan informasi mengenai interaksi masyarakat Indonesia. Saya sendiri
menyadari hal ini ketika berjalan melewati DMall, DMall merupakan gambaran pusat
perbelanjaan modern yang didominasi oleh restoran-restoran franchise dari luar negeri.
Kalaupun tetap dikelola oleh orang Indonesia, dinamika yang ada tentunya sudah sangat
minim.
Saya mendapat lokasi sub-setting di wilayah pertokoan lantai 1 ITC Depok. Terdapat
beragam toko yang menjual beragam barang pula. Mulai dari pakaian, tas, aksesoris wanita,
hingga peralatan bayi. Di lantai 1 ITC Depok juga terdapat perbelanjaan modern Carrefour.
Menurut saya, adanya Carrefour cukup menjadi tempat belanja komplementer dibandingkan
substitusi dari kios-kios kecil yang ada. Hal ini karena Carrefour tentunya menjual jenis
barang yang berbeda dibandingkan kios-kios kecil ini. Walaupun kini Carrefour telah
memperluas pilihan barang yang dijual sehingga kini merambah ke pakaian dan barang
elektronik, kios-kios yang ada tentu saja masih menarik golongan masyarakat tertentu.
Pertama kali menginjakan kaki di pertokoan lantai 1 ITC Depok, saya masih belum
begitu memahami apa sebenarnya yang harus saya lakukan. Tetapi kemudian saya

memutuskan untuk berjalan-jalan saja seperti biasa dan mengamati hal-hal yang terjadi di
sekitar saya. Karena saya ingin melihat-lihat terlebih dahulu daerah mana saja yang dapat
dijadikan lokasi pengamatan, saya mengunjungi beberapa tempat di kuliah lapangan MMI
pertama.
Kebetulan pada tanggal 12 September 2016 atau tepatnya tiga hari ssetelah pengamatan
sosial pertama adalah Hari Raya Idul Adha. Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu hari
besar keagamaan umat Muslim yang memperingati saat ketika Abraham hendak
mengurbankan anaknya sendiri. Peristiwa ini diperingati oleh umat Muslim dengan cara
mengurbankan hewan ternak sapi atau kambing dan membagikan dagingnya kepada
mereka yang membutuhkan. Saya mendapati terdapat semacam stand kecil dari Carrefour
yang menyediakan jasa penjualan kurban. Stand ini dijaga oleh seorang wanita muda
bertubuh agak gempal yang mengenakan seragam Carrefour. Saya memperhatikan mbak
sales ini begitu gencar menawarkan produknya kepada orang-orang yang berseliweran keluar
masuk Carrefour. Sayangnya, sepertinya antusiasme para pengunjung ITC Depok kurang
begitu besar terhadap adanya stand ini. Beberapa meter di samping mbak sales dan standnya,
tampak segerombolan orang yang memakai seragam yang sama bercanda tawa dengan suara
kencang sedangkan sang mbak sales menjaga stand sendirian dan tidak ikut berinteraksi
dengan mereka.
Saya memutuskan untuk masuk ke dalam area Carrefour untuk membeli beberapa
keperluan. Di dalam, saya menemukan ada meja kecil dilengkapi dengan kompor yang dijaga
oleh seorang sales produk bumbu masak. Hal ini sudah sangat jarang saya temukan, sehingga
saya memutuskan untuk mampir dan mencoba produk uji cobanya. Sang mbak sales dengan
senang hati mempersilahkan saya untuk mencicipi produknya. Ternyata rasa produk yang
ditampilkan sangat enak. Saya merasa penasaran bagaimana teknik memasak produk ini
karena mama saya tidak pernah berhasil membuatnya. Tampilan produk ayam goreng
tersebut sangat mirip dengan yang tertera di bungkus produk bumbu masak.
Mbak, ini bagaimana ya cara menggorengnya?
Oh, ini pakai bumbu yang itu, mbak. Jadi nanti kan bentuknya bubuk kering,
tambahkan saja sedikit air sehingga nanti jadi bumbu basah. Nah, potongan ayam yang ada
dibalut saja dengan bumbu basah, kemudian dilapisi oleh bumbu kering, kalau sudah dilapisi
lagi dengan bumbu basah. Jadi urutannya basah, kering, basah, ya. Setelah itu tinggal goreng
saja dan jadi deh seperti ini.
Ohh, begitu ya.. Wah, terima kasih banyak, mbak! saya terkesima akan jawaban yang
sangat memuaskan dari mbak sales tersebut. Walaupun mungkin beliau tahu bahwa saya

hanya mahasiswa yang kemungkinan besar tidak membeli produk tersebut, akan tetapi ia
dengan senang hati membagikan informasi yang saya tanyakan. Setelah mengucapkan terima
kasih atas informasinya, saya memutuskan untuk melanjutkan berjalan karena Carrefour
bukanlah lokasi tujuan saya untuk melakukan pengamatan.
Selanjutnya saya berjalan ke arah depan DCost. Jujur saya, lokasi ini sangat sepi.
Kios-toko yang ada tampak sepi pembeli dan para penjaga toko juga tidak begitu gencar
dalam mempromosikan tokonya seperti di wilayah lain. Saya mendapati daerah ini
didominasi oleh penyedia jasa refleksi. Selain itu, tampak beberapa penjaga toko yang
bermain permainan konsol dengan penjaga toko yang lain. Wilayah ini agak lebih sepi karena
para penjaga toko asik sendiri dengan kesibukan masing-masing. Keceriaan mungkin dapat
ditemui di salah satu toko dengan canda tawa anak-anak. Penjaga toko di toko tersebut
sepertinya membawa anak-anak mereka. Anak-anak tersebut dengan santai tampak bermain
mobil-mobilan dan lain sebagainya. Setelah terlalu sering menjumpai anak-anak yang
bermain gadget, saya merasakan ada perasaan lega melihat masih banyak anak yang bermain
secara aktif.
Akhirnya, waktu untuk pengamatan pun selesai dan kami bergegas menuju lokasi titik
pertemuan. Setelah bertemu dengan teman-teman lainnya, kami memutuskan untuk
menyudahi pengamatan hari ini dan pulang ke rumah masing-masing. Seraya melewati stand
penjualan hewan kurban di depan Carrefour, saya mendapati mbak sales tadi akhirnya
berhasil menarik calon pembeli yang tertarik. Walaupun tidak banyak yang saya dapat hari
ini, akan tetapi hati saya merasa damai karena akhirnya kerja keras dari satu orang yang tadi
saya perhatikan terbayar.

Gambar 1. Stand hewan kurban yang akhirnya dikunjungi peminat.

Refleksi
Saya menjumpai hal-hal menarik dari pengamatan di hari pertama. Meskipun
pengamatan yang saya lakukan baru pengamatan di permukaan, tetapi dari perilaku
masyarakat dalam cara mereka berinteraksi telah memberikan beberapa hal bagi saya untuk
direfleksikan.
Ketika melihat mbak sales mempromosikan hewan kurbannya, saya mengamati
beberapa hal. Teman-teman sang mbak sales tampak asik bercanda tawa tidak jauh dari lokasi
stand sedangkan ia sendiri dengan tekun menjaga stand tersebut. Saya tidak bisa
menyimpulkan apa-apa karena saya tidak menanyakan hal ini secara langsung. Akan tetapi,
saya dapat mengasumsikan dua kemungkinan. Pertama, terdapat hubungan yang belum akrab
secara personal antara mbak sales dengan temannya yang lain. Atau kedua, si mbak sales
merupakan orang yang bertanggung jawab yang memilih untuk melaksanakan tugasnya
dibandingkan bercakap-cakap dengan teman-temannya. Hal ini bisa jadi karena sudah
terdapat SOP dari perusahaan yang menyebutkan bahwa stand harus dijaga dengan
profesional. Saya memilih untuk menggunakan asumsi kedua karena hal ini berarti
menunjukkan bahwa ada lapisan masyarakat Indonesia yang memiliki etos kerja yang baik.
Hal ini cukup kontras dibandingkan dengan wilayah lain dimana penjaga toko
kebanyakan bersikap apatis dan asik dengan gadget mereka masing-masing. Namun tentu
saja saya tidak dapat menyalahkan mereka sepenuhnya. Mengerjakan pekerjaan yang sama

tanpa tantangan berarti dalam jangka waktu tertentu pasti meningkatkan level boredom
seseorang terhadap pekerjaannya. Maka dari itu, etos kerja yang ditunjukkan oleh mbak sales
penjaga stand hewan kurban begitu menyentuh bagi saya.
Saya juga memiliki tanggapan menarik terkait anak-anak yang bermain di sekitar toko.
Hal ini menunjukkan masih adanya kepedulian antara para penjaga toko dengan anak-anak
mereka. Semua orang tua memang peduli dengan anak-anaknya, tapi tak jarang banyak di
antara mereka yang memilih untuk mencari cara mudah dengan cara menitipkan anak di
kakek nenek mereka atau membiarkan mereka sendirian di rumah. Menyambi membawa
anak di tempat kerja memang merepotkan dan dapat mengganggu pengunjung, akan tetapi
hal ini dapat mempererat ikatan anak dengan orang tua. Terlebih lagi, anak-anak yang
memiliki ikatan kuat dengan orang tua mereka akan cenderung menjadi anak yang penurut
dan kurang pemberontak. Saya mengharapkan kesadaran ini dimiliki oleh banyak orang tua
di Indonesia demi generasi muda Indonesia yang lebih baik.