Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tugas matakuliah Audit Manajemen dengan
judul Audit Produksi dan Operasi. Tugas makalah ini merupakan tugas yang
bertujuan untuk melatih diri kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi Universitas
Stikubank Semarang untuk melatih kepripadian yang gemar menulis dan mencari suatu
refrensi dari berbagai sumber yang didapat. Dalam proses penyelesaian kami
mendapatkan kendala, namun berkat kerja keras dan dorongan kendala tersebut akhirnya
bisa diselesaikan. Penulis juga tidak akan mampu menyelesaikan laporan ini tanpa ada
bantuan dari pihak-pihak yang telah memberikan bantuan baik secara langsung maupun
tidak langsung. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada:
1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah mana memberikan nikmat sehat dan masih
memberikan umur yang panjang kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan
tugas dengan baik
2. Kepada kedua orang tua kami yang telah memberi dukungan semangat dan doa
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini meskipun masih banyak
kekurangannya
3. Kepada Ibu Mila selaku dosen mata kuliah Akuntansi Sektor Publik
4. Kepada teman-teman kelas E1 Akuntansi Universitas Stikubank Semarang yang
memberikan dorongan sehingga laporan tugas ini dapat terselesaikan
Kami juga menyadari bahwa dalam pembuatan laporan tugas ini masih banyak
kesalahan, kekurangan dan masih ada yang harus dibenahi dalam pembuatan. Oleh
karena itu kami meminta maaf atas kekurangan dan kesalahan pada pembuatan tugas
laporan ini. Kami juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga
laporan ini bisa bermanfaat bagi kami pada khususnya pembaca pada umumnya.
Semarang, 18 April 2016

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Adanya tekanan yang sangat kuat terhadap bisnis manufaktur saat ini, menuntut
perusahaan untuk lebih cerdas dalam menjalankan operasinya. Perubahan permintaan
pasar menuntut perusahaan untuk beroperasi lebih efisien, fleksibel, dan menempatkan
produk tepat waktu di pasar tanpa mengabaikan standar kualitas sesuai dengan spesifikasi
pelanggan. Pemahaman terhadap kondisi ini dan komitmen untuk memuaskan pelanggan,
mendorong perusahaan merancang proses produksi dan operasinya sedemikian rupa
sehingga produk yang dihasilkan mampu memenuhi persyaratan pelanggan dalam
kualitas, kuantitas, dan waktu yang tepat.
Industry sebagai suatu sistem, mengintegrasikan empat hal penting dalam
keunggulan bersaing perusahaan yang meliputi : riset pasar, desain produk, proses
produksi, dan pemasaran produk. Perbaikan kinerja bisnis modern mencakup keseluruhan
sistem industry mulai dari pesanan material sampai dengan distribusi produk kepada
konsumen, pelayanan penjual, dan desain ulang produk.
Berdasarkan hasil riset pasar, diperoleh informasi tentang keinginan konsumen
terhadap suatu produk. Dari informasi itu kemudian perusahaan merancang desain
produk yang sesuai dengan keinginan pasar. Setiap desain produk menetapkan model dan
spesifikasi yang harus diikuti oleh bagian produksi sehingga produk yang dihasilkan
dapat memnuhi spesifikasi pelanggan. Di samping itu proses produksi harus berjalan
secara efektif dan efisien untuk menghasilkan produk berkualitas dengan biaya serendah
mungkin.
Fungsi produksi dan operasi yang mentranformasikan input menjadi output
bertanggung jawab untuk menghasilkan produk dalam kuantitas dan kualitas tang telah
ditentukan, tepat waktu, secara efektif dan efisien. Dalam aktivitasnya di mulai dari
perencanaan sampai dengan pengendalian dan evaluasi, fungsi ini harus secara optimal
menghubungkan kebutuhan pelanggan dengan kemampuan internal yang dimiliki
perusahaan. Kebijakan produksi dan operasi, kapasitas produk, jadwal produksi, inovasi

dan peningkatan berkelanjutan harus dikonsentrasikan untuk memenuhi kepuasan


pelanggan, agar perusahaan memiliki keunggulan dalam intensitas persaingan yang
sangat ketat ini.
Untuk memastikan bahwa proses produksi dan operasi telah berjalan sesuai
dengan kebijakan dan strategi yang telah ditetapkan, membantu mengidentifikasi
kelemahan-kelemahan yang masih terjadi yang dapat menghambat tercapainya tujuan
fungsi ini dan mencari solusi perbaikannya, perusahaan melakukan audit atas fungsi
produksi dan operasi baik yang dilakukan secara adhoc maupun secara periodic.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian audit produksi dan operasi?
2. Bagaimana prinsip-prinsip audit produksi dan operasi?
3. Apakah tujuan dan manfaat dalam audit produksi dan operasi?
4. Bagaimana tahap-tahap dalam audit produksi dan operasi?
5. Bagaimana ruang lingkup dalam audit produksi dan operasi?
6. Bagaimana pengendalian audit produksi dan operasi?

BAB II

PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN AUDIT PRODUKSI DAN OPERASI
Audit produksi dan operasi melakukan penilaian secara komprehensif terhadap
keseluruhan fungsi produksi dan operasi untuk menentukan apakah fungsi ini telah
berjalan dengan memuaskan (ekonomis, efektif, dan efisien). Audit ini dilakukan tidak
hanya terbatas pada unit produksi tetapi juga berlaku untuk keseluruhan proses produksi
dan operasi. Audit ini juga berperan melengkapi fungsi pengendalian kualitas.
Beberapa alasan yang mendasari perlu dilakukannya audit ini, antara lain :

Proses produksi dan operasi harus berjalan sesuai dengan prosedur yang telah

ditetapkan.
Kekurangan / kelemahan yang terjadi harus ditemukan sehingga segera dapat

diperbaiki.
Konsistensi berjalannya proses harus diungkapkan.
Pendekatan proaktif harus menjadi dasar dalam peningkatan proses.
Berjalannya tindakan korektif harus mendapat dorongan dan dukungan dari berbagai
pihak yang terkait.

B. PRINSIP-PRINSIP UMUM
Beberapa prinsip umum yang memberikan panduan terhadap pelaksanaan audit
ini, dapat dijadikan pedoman oleh auditor dalam menjalankan tugas profesionalnya.
Prinsip-prinsip tersebut antara lain :
1. Tujuan audit adalah untuk menentukan apakah proses produksi dan operasi yang
berjalan saat ini sudah sesuai denga kriteria (peraturan, kebijakan, tujuan, dan
standar) yang telah ditetapkan untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan
konsisten dengan standar kualitas yang telah ditetapkan dengan mengidentifikasi
wilayah (bagian) yang masih memerlukan perbaikan.
2. Auditor harus secara objektif dan sistematis mengumpulkan dan menganalisis data
yang cukup dan relevan sebagai dasar penilaian terhadap ketaatan perusahaan dalam
menerapkan kriteria yang telah ditetapkan.
3. Auditor harus mengklarifikasi ketidaksesuain yang tidak terjadi antara aktivitas
produksi dan operasi dengan kebutuhan kriteria (standar) yang telah ditetapkan dan
membuat rekomendasi untuk peningkatan. Di samping itu, auditor harus

mendiskusikan beberapa langkah perbaikan sebagai solusi atas kekurangan yang


masih terjadi dan merupakan tanggung jawab perusahaan untuk menentukan langkah
yang paling tepat untuk memperbaiki ketidaksesuaian tersebut.
C. TUJUAN AUDIT
Tujuan yang ingin dicapai melalui pelaksanaan audit ini adalah untuk mengetahui:
1. Apakah produk yang dihasilkan telah mencerminkan kebutuhan pelanggan (pasar)
2. Apakah strategi serta rencana produksi dan operasi sudah secara format
menghubungkan antara kebutuhan untuk memuaskan pelanggan dengan ketersediaan
sumber daya serta fasilitas yang dimiliki perusahaan.
3. Apakah strategi, rencana rodusi dan operasi telah mempertimbangkan kelemahan
kelemahan internal, ancaman lingkungan eksternal serta peluang yang dimiliki
perusahaan.
4. Apakah proses transformasi telah berjalan secara efektif dan efisien.
5. Apakah penempatan fasilitas produksi dan operasi telah mendukung berjalannya
proses secara ekonomis, efektif, dan efisien.
6. Apakah pemeliharaan dan perbaikan fasilitas produksi dan operasi telah berjalan
sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dalam mendukung dihasilkannya produk
yang sesuai kuantitas, kualitas, dan waktu yang telah ditetapkan.
7. Apakah setiap bagian yang terlibat dalam proses produksi dan operasi telah
melaksanakan aktivitasnya sesuai dengan ketentuan serta aturan yang telah ditetapkan
perusahaan.
MANFAAT AUDIT
Audit fungsi produksi dan operasi dapat membantu manajemen dalam menilai
bagaimana fungsi ini berjalan dalam mendukung pencapaian tujuan perusahaan secara
keseluruhan. Secara rinci audit ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Dapat memberikan gambaran kepada pihak yang berkepentingan tentang ketaatan dan
kemampuan fungsi produksi dan operasi dalam menerapkan kebijakan serta strategi
yang telah ditetapkan.
2. Dapat memberikan informasi tentang usaha-usaha perbaikan proses produksi dan
operasi yang telah dilakukan perusahaan serta hambatan-hanbatan yang dihadapi.
3. Dapat menentukan area permasalahan yang masih dihadapi dalam mencapai tujuan
produksi dan operasi serta tujuan perusahaan secara keseluruhan.

4. Dapat menilai kekuatan dan kelemahan strategi produksi dan operasi kerta kebutuhan
perbaikannya dalam meningkatkan kontribusi fungsi ini terhadap pencapaian tujuan
perusahaan.
D. TAHAP TAHAP AUDIT
Tahap audot produksi dan operasi meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

Audit pendahuluan.
Review dan pengujian terhadap pengendalian manajemen.
Audit lanjutan (terinci).
Pelaporan.
Tindak lanjut.

Audit Pendahuluan
Audit pendahuluan diawali dengan perkenalan antara pihak auditor dengan
organisasi auditee. Pertemuan ini bertujuan untuk mengonfirmasi scope audit,
mendiskusikan rencana audit dan penggalian informasi umum tentang organisasi auditee,
objek yang akan diaudit, mengenal lebih lanjut kondisi perusahaan dan prosedur
perusahaan yang diterapkan pada proses produksi dan operasi.
Pada tahap ini auditor melakukan overview terhadap perusahaan secara umum,
produk yang dihasilkan, proses produksi dan operasi yang dijalankan, melakukan
peninjauan terhadap pabrik (fasilitas produksi), layout pabrik, sistem komputer yang
digunakan, dan berbagai sumber daya yang penunjang keberhasilan fungsi ini dalam
mencapai tujuannya.
Setelah melakukan tahapan audit ini, auditor dapat memperkirakan (menduga)
kelemahan-kelemahan yang mungkin terjadi pada fungsi produksi dan operasi
perusahaan auditee. Hasil pengamatan pada tahapan audit ini dirumuskan ke dalam
bentuk tujuan audit sementara (tentative audit objective) yang akan dibahas lebih lanjut
pada proses audit berikutnya.
Review dan Pengujian Pengendalian Manajemen
Pada tahap ini auditor melakukan review dan pengujian terhadap beberapa
perubahan yang terjadi pada struktur perusahaan, sistem manajemen kualitas, fasilitas
yang digunakan dan/atau personalia kunci salam perusahaan, sejak audit terakhir.
Berdasarkan data yang diperoleh pada audit pendahuluan, auditor melakukan penelitian

terhadap tujuan utama fungsi produksi dan operasi serta variabel-variabel yang
memengaruhinya. Variabel-variabel ini melipiti berbagai kebijakan dan peraturan yang
telah ditetapkan untuk setiap program/aktivitas, praktik yang yang sehat, dokumentasi
yang memadai dan ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan dalam menunjang usaha
pencapaian tujuan tersebut.
Disamping

itu,

pada

tahap

ini

auditor

juga

mengindentifikasi

dan

mengklasifikasikan penyimpangan dan gangguan-gangguan yang mungkin terjadi yang


mengakibatkan terhambatnya pencapaian tujuan fumgsi produksi dan operasi. Review
terhadap hasil audit terdahulu juga dilakukan untuk menentukan berbagai tindakan
korektif yang harus diambil.
Berdasarkan review dan pengujian yang dilakukan pada tahap ini, auditor
mendapatkan keyakinan tentang diperolehnya data yang cukup dan kompeten serta tidak
terhambatnya akses untuk melakukan pengamatan yang lebih dalam terhadap tujuan audit
sementara

yang

telah

ditentukan

pada

tahapan

audit

sebelumnya.

Dengan

menghubungkan permasalahan yang dirumuskan dalam bentuk tujuan audit sementara


dan ketersediaan data serta akses untuk mendapatkannya, auditor dapat menetapkan
tujuan audit yang sesungguhnya (definitive auditor objective) yang akan didalami pada
audit lanjutan.
Audit Lanjutan (Terinci)
Pada tahap ini auditor melakukan audit yang lebih dalam dan pengembangan
temuan terhadap fasilitas, prosedur, catatan-catatan (dokumen) yang berkaitan dengan
produksi dan operasi. Konfirmasi kepada pihak perusahaan selama audit dilakukan untuk
mendapatkan penjelasan dari pejabat yang berwenang tentang adanya hal-hal yang
merupakan kelemahan (nonconformances) yang ditemukan auditor. Disamping itu,
analisis terhadap hubungan kapabilitas yang dimiliki dan utilisasi kapabilitas tersebut
didalam perusahaan sangat penting dalam proses audit.
Untuk mendapatkan informasi yang lengkap, relevan dan dapat dipercaya, auditor
menggunakan daftar pertanyaan (audit checklist) yang ditujikan kepada berbagai pihak
yang berwenang dan berkompeten berkaitan dengan masalah yang diaudit. Dalam
wawancara yang dilakukan, auditor harus menyoroti keseluruhan dari ketidaksesuaian
yang ditemukan dan menilai tindakan-tindakan korektif yang telah dilakukan.

Pelaporan
Hasil dari keseluruhan tahapan audit sebelumnya yang telah diringkaskan dalam
Kertas Kerja Audit (KAA), merupakan dasar dalam membuat kesimpulan audit dan
rumusan rekomendasi yang akan diberikan auditor sebagai alternatif solusi atas
kekurangan-kekurangan yang masih ditemukan. Pelaporan menyangkut hasil audit
kepada pihak-pihak yang berkepentingan hasil audit tersebut. Laporan audit disajikan
dengan format sebagai berikut :
I.

Informasi Latar Belakang


Menyajikan gambaran umum fungsi produksi dan operasi dari perusahaan
yang di audit, tujuan dan strategi pencapaiannya serta ketersediaannya

II.

sumber daya yang mendukung keberhasilan implementasi strategi tersebut.


Kesimpulan Audit dan Ringkasan Temuan Audit
Menyajiakn kesimpulan atas hasil audit yang telah dilakukan auditor dan

III.

ringkasan temuan audit sebagai pendukung kesimpulan yang dibuat.


Rumusan Rekomendasi
Menyajikan rekomendasi yang diajukan auditor sebagai alternatif solusi atas
kekurangan-kekurangan yang masih terjadi. Rekomendasi harus didukung
hasil analisis dan menjelaskan manfaat yang diperoleh jika rekomendasi ini
diterapkan serta dampak negatif yang mungkin terjadi dimasa depan jika

IV.

rekomendasi ini tidak diterapkan.


Ruang Lingkup Audit
Ruang lingkup audit menjelaskan tentang cakupan (luas) audit yang
dilakukan, sesuai dengan penugasan yang diterima (disepakati) dengan
pemberi tugas audit

Tindak Lanjut
Rekomendasi yang disajikan auditor dalam laporannya merupakan alternatif
perbaikan yang ditawarkan untuk meningkatkan berbagai kelemahan (kekurangan) yang
masih terjadi pada perusahaan. Tindak lanjut (perbaikan) yang dilakukan merupakan
bentuk komitmen manajemen untuk menjadikan organisaninya menjadi lebih baik dari
yang sebelumnya. Dalam rangka perbaikan ini auditor mendampingi manajemen dalam
merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan program-program perbaikan yang
dilakukan agar dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.

E. RUANG LINGKUP AUDIT


Ruang lingkup audit produksi dan operasi meliputi keseluruhan program/aktivitas
yang dikelola pada fungsi ini, yang merupakan bagian dari wewenang dan tanggung
jawab untuk mendukung pencapaian tujuan perusahaan. Secara keseluruhan ruang
lingkup audit produksi dan operasi meliputi :
1. Rencana produksi dan operasi
2. Produktivitas dan peningkatan nilai tambah
3. Pengendalian produksi dan operasi
Rencana Produksi dan Operasi
Rencana produksi dan operasi mengakomodasi rencana fungsi-fungsi bisnis lain,
yang merupakan penjabaran dari rencana pencapaian tujuan perusahaan secara
keseluruhan. Rencana ini menghubungkan atas kebutuhan pasar atas produk yang
dipersyaratkan, aktivitas pengembangan dan rekayasa, kapasitas produksi, persediaan.
Keuangan, ketersediaan SDM, bahan baku, dan tingkat imbal hasil investasi yang
dipersyaratkan invertor.
Melalui hasil survei pasar dan umpan balik yang diterima dari pelanggan, dapat
diidentifikasi peluang-peluang yang mungkin untuk dikembangkan, yang merupakan
selisih (kesenjangan) antara kebutuhan pasar dengan kemampuan industri untuk
memenuhinya. Menghubungkan peluang-peluang ini dengan kondisi internal perusahaan,
rencana induk produksi dan operasi mencerminkan berbagai usaha yang akan dilakukan
untuk memuaskan kebutuhan pasar dengan mengoptimalkan penggunaan sumber
dayanya. Rencana ini akan menjadi pedoman produksi dan operasi dalam periode
tertentu.
Kondisi internal mencerminkan kekuatan dan kelemahan yang terjadi pada
perusahaan, akan memengaruhi strategi dalam mengelola peluang-peluang dan
pencapaian tujuan perusahaan. Rencana induk harus mencerminkan optimalisasi
penggunaan sumber daya perusahaan dan mencegah semaksimal mungkin terjadinya
kapasitas menganggur. Oleh karena itu, penyusunan rencana induk harus didasarkan pada
ketersediaan kapasitas rencana dan penggunaannya, peluang dan ancaman yang dihadapi
dan uaha-usaha untuk melakukan perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan
efektivitas dan efisiensi. Suatu rencana induk memuat tentang :

1.
2.
3.
4.

Jadwal induk produksi


Penilaian atas penggunaan kapasitas produksi
Tingkat persediaan
Perencanaan keseimbangan lintas produksi

Bagaimana rencana produksi dan operasi terbentuk dan bagaimana rencana ini
dijabarkan dalam berbagai program yang berhubungan dengan produksi, disajikan pada
Gambar 7.2 di halaman berikut.
GAMBAR 7.2. HUBUNGAN BERBAGAI BAGIAN DALAM PERENCANAAN PRODUKSI DAN
OPERASI

Menjadikan rencana produksi utama sebagai pedoman oprasi dalam menunjang strategi
pencapaian tujuan perusahaan, bebrapa pertanyaan mendasar harus dijawab oleh manajer oprasi
dalam merumuskan rencana prodksi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut meliputi :

1. Apakah persediaan digunakan untuk menyerap perubahan permintaan selama


periode permintaan
2. Apakah perubahan-perubahaan yang terjadi dalam volume produksi dan oprasi
akan diakomodasi dengan cara mengubah jumlah tenaga kerja.
3. Apakah perusahaan akan menggunakan subkontraktor dalam mengantisipasi
permintaan yang berfluktuasi, sehingga kestabilan tingkat SDm dapat
dipertahankan.
4. Apakah perusahaan memutuskan untuk mengubah harga atau faktor lain untuk
mempengaruhi permintaan.
JADWAL INDUK PRODUKSI
Jadwal produksi utama membuat spesifikasi tentang apa yang akan dibuat dan
kapan akan dibuat, sesuai dengan rencana produksi. Rencana ini mencakup input yang
akan diproses seperti permintaan konsumen, kemampuan teknis, ketersedian SDm
fluktuasi persediaan kinerja pemasok dan berbagai pertimbangan lainya. Jadwal produksi
ini mendiskripsikan berapa jumlah produksi yang harus dilakukan untuk setiap klompok
barang, kapan produk tersebut harus sudah siap untuk diserahkan konsumen, sumber
daya apa saja yang harus tersedia untuk menghasilkan produk sesuai dengan rencana
oprasi perusahaan dalam memenuhi spesifikasi pelanggan.
Jadwal produksi yang akurat dapat menimbulkan biaya persediaan dan penyetelan
mesin karena jadwal ini telah menghubungkan jadwal konsumen dengan jadwal
pengirim. Penerimaan bahan baku dan pengelolaan kapasitas produksi yang dimiliki
perusahaan. Disamping itu jadwal produksi yang akurat juga dapat menimbukan kerja
lembur, waktu sumber daya yang menganggur, dan penentuaan, tingkat persediaan yang
optimal. Hal ini dicapai karena keseluruhan, aktivitas produksi sampai dengan pelepasan
produk kepasar telah dituangkan dalam jadal produksi yang terintregasi dengan jadwal
pada fungsi-fungsi yang lain.
PENILAIAN ATAS KAPASITAS PRODUKSI
Pertimbangan kebutuhan kapasitas berpengaruh secara mendasar terhadap jadwal
produksi utama. Oleh karena itu, perusahaan harus memiliki kebijakan dan strategi yang
tepat berkaitan dengan bersaran kapasitas yang harus dimiliki. Perusahaan harus memiliki
dasar dan metode yang tepat dalam meramalkan kebutuhan kapasitas dimasa depan.
Pengelola kelebihaan dan sumber lain jika terjadi kekurangan dalam memenuhi
kebutuhan oprasi harus dituangkan dalam suatu pedoman tertulis sehingga pengambilan
keputusan berkaitan dengan kapasitastidak bias dengan tujuan produksi dan oprasi yang
telah ditetapkan. Pertimbangan kapasitas ini harus mendasari terjadinya praktik optimal
terhadap prnggunaan kapasitas produksi.
TINGKAT PERSEDIAAN
Secara umum persediaan pada industry manufaktur terdiri atas persediaan bahan
baku, bahan dalam proses, barang jadi, dan persediaan perlengkapan. Keputusan tentang
persediaan bukanlah keputusan yang berdiri sendiri tetapi sangat terkait dengan

keputusan lain dengan arus kas, jadwal produksi dan distribusi termaksud komiten
perusahaan dalam meningkatkan nilai pelanggan. Kebijakan tentang persediaan bahan
baku harus memerhatikan hubungan permintaan atas permintaan tersebut. Hal ini penting
sekali karena berpengaruh pada metode permintaan atas persediaan tersebut dalam
mendukung efektifitas dan efesiensi, proses produk dan oprasi.
Metode modern seperti just in time mengisyaratkan tingkat persediaan nol.
Menurut metode ini tingkat pesaing perusahaan dirancang mulai dari perencanaan oprasi
rencana induk produksi dirancang dengan menghubungkan rangkaian nilai internal dan
eksternal yang dapat mendukung keberhasilan perusahaan. Dalam rencana ini perusahaan
membuka ruang keterlibatan pemasok, untuk bekerja sama dalam menyediakan bahan
baku yan tepat dari segi waktu, kuantitas, kualitas yang sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan perusahaan. Disamping ketelibatan pemasok perusahaan juga membukan
ruang terhadap ketelibatan pelanggan dalam rencana produksinya. Jadwal distribusi untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan terhadap produk perusahaan terintregasikan dengan
jadwal produksi yang dibangun. Sehingga perusahaan tidak perlu membentuk persediaan
yang berlebihan. Disamping itu umpan balik dari pelanggan dapat menjadi input yang
sangat bernilai dalam meningkatkan kinerja fungsi dan operasi.
Menghubungkan rantai nilai eksternal (pemasok dan pelanggan) dengan rantai
internal (proses dan kerja sama antar fungsi dalam perusahaan), menjadikan proses
produksi berjalan sangat efektif dan efisien. Proses produksi dan oprasi yang didasari
komiten perbaikan berkelanjutan dan hubungan pelanggan dan pemasok antar fungsi
bekerja sama, menghasilkan produk yang sesuai dengan standar keberhasilan perusahaan.
PERENCANAAN KESEIMBANGAN LINTAS PRODUKSI
Keseimbangan lini produksi (production lini balancing) bertujuan untuk
memperoleh suatu arus produksi yang lancer guna memperoleh suatu arus produksi yang
lancer dan memperoleh optimalisasi penggunaan fasilitas, tenaga kerja, dan peralat yang
tinggi melalui penyeimbagan waktu kerja antar stasiun kerja(work stasion). Elemenelemen tugas dalam suatu aktivitas dikelompokan sedemikian rupa diantara stasiun kerja,
sehingga proses keseimbangan dalam penggunaan sumber daya produksi. Dengan
demikian, tujuan produksi tercapai dengan ekonomis, efektif, dan efisien.
Secara teknis dalam penyusunan keseimbangan lini ini, tedapat dua fartor yang
harus diketahui yaitu:
1. Jumlah wktu seluruh tugas
2. Waktu elemen tugas terpanjang
Berdasarkan waktu siklus ini, kapasitas keluaran dapat dihitung dengan membagi waktu
operasi dengan waktu siklus. Metode ini lebih sederhana sehingga mudah untuk
diterapkan untuk kasus kasus dengan jumlah elemen tugas yang tidak banyak. Metode
pengelompokan penugasan yang lai adalah metode heuristic, yang memberikan hasil
yang lebih akurat pada kasus jumlah elemen penugasan yang sangat banyak. Metode ini,
mengelompokan penugasan dalam mencapai keseimbangan lintas produk yang optimal
dengan prosedur sebagi berikut:
1. Menetapkan tugas yang dapat dipilih sebagai awal tugas
2. Menetapkan tugas yang cocok dengan waktu yang tersedia
3. Menetapkan penugasan pada suatu stasiun kerja sampai maksimal

4. Melanjukan stsiun kerja berikutnya dengan mengulangi prosedur diatas dampai


semua penugasan selesai.

F. PENGENDALIAN PRODUKSI DAN OPERASI


Pengendalian produksi dan operasi menyangkut pengamatan atau hubungan
antara proses yang berjalan dengan standar (kriteria) operasi yang telah ditetapkan.
Pengamatan ini bertujuan untuk memandu proses agar tidak keluar dari standar operasi
pencapaian tujuan perusahaan, agar keseimbangan antara sumber-sumber daya yang
tersedia dengan permintaan total dapat dipertahankan. Dalam praktik manajemen modern
seluruh lapisan manajemen dan karyawan bertanggungjawab secara proporsional
terhadap berjalannya operasi secara efektif dan efisien serta dihasilkannya produk yang
memenuhi standar kualitas, kuantitas, ketepatan waktu dan dengan pengorbanan yang
minimal.Tabel 7.4 di halaman berikut menyajikan berbagai tanggungjawab, kriteria dan
pengukurannya dalam sistem pengukuran kinerja manufaktur.
Tabel 7.4 Sistem Pengukuran Kinerja Manufaktur
Area Fungsional

Rencana Bisnis
Rencana Penjualan
Rencana Kapasitas

Tanggungjawab
Kriteria
Perencanaan Manajemen Puncak
Manajer Umum
Manajer Material

Imbal hasil
onvestasi (ROI)
Kinerja Penjualan

Manajer
Kinerja Produksi
Manufaktur
Perencanaan Manajemen Operasi

Jadwal Induk

Manajer Material

Kinerja MPS

Rencana Material

Manajer Material

Keandalan pesanan
yang dihasilkan

Rencana Kapasitas

Manajer
Manufaktur

Kinerja Kapasitas

Pengukuran Kinerja
ROI Aktual
ROI yang terencana
Unit yang terjual
Unit yang terencana
Produksi aktual
Produksi terencana
MPS aktual
MPS terencana
Pesanan yang dihasilkan
Total pesanan yang
dihasilkan
Jam kapasitas produksi

Database

Jam kapasitas yang


diperlukan

Bill of Material

Manajer
Engineering

Keakuratan BOM

Pengendalian Pasar

Manajer Material

Keakuratan
Persediaan

Routing

Manajer
Manufaktur

Keakuratan
Routing

Bagian dari persetujuan


Total jumlah bagian
Jumlah bagian yang
tepat
Jumlah bagian yang
terhitung
Operasi yang disetujui
Jumlah operasi

Pelaksanaan Manajemen Operasi


Pembelian

Manajer Pembelian

Jadwal Kinerja

Pengendalian Shop
Floor

Manajer
Manufaktur

Jadwal Kinerja

Kinerja Pengiriman

Manajer Umum

Jadwal Kinerja

Bagian yang dikirim


Bagian dari jadwal
Bagian yang lengkap
Bagian dari jadwal
Unit yang terkirim
Unit yang dijanjikan

Tujuan utama dari pengendalian produksi dan operasi meliputi tiga hal penting dalam
keunggulan bersaing perusahaan, meliputi : (i) maksimum tingkat pelayanan pelanggan,
(ii) minimumkan investasi pada persediaan, (iii) efisiensi operasi.
Maksimumkan Tingkat Pelayanan
Pengendalian harus menjamin bahwa pelayanan telah diberikan secara tepat.
Beberapa elemen yang harus mendapat perhatian khusus adalah: kualitas produk,
ketersediaan produk (jika diinginkan), harga yang kompetitif, penyediaan untuk stock
pengaman dan penyerahan yang tepat waktu. Proses harus memahami bahwa pelanggan
yang harus dilayani dengan tepat bukan saja pelanggan eksternal tetapi yang tidak kalah
pentingnya adalah pelanggan internal.
Minimumkan Investasi pada Persediaan
Pengendalian harus mampu memandu seluruh aktivitas (utama dan pendukung)
manufaktur ke dalam suatu proses yang terintegrasi, sehingga proses berjalan sesuai
dengan rencana dan jadwal yang telah ditentukan. Aktivitas pemesanan dan penerimaan
bahan harus terintegrasi dengan jadwal produksi demikian juga jadwal produksi harus
terintegrasi dengan rencana (jadwal) penyerahan kepada pelanggan.Semua hubungan ini
harus berjalan seperti halnya hubungan pelanggan pemasok, dimana setiap pemasok

harus memuaskan pelanggannya. Pengendalian yang baik akan mencapai arus produksi
yang mulus (smooth production flow) dengan persediaan yang minimumkan dan waktu
tunggu yang pendek.
Efisiensi produksi dan Operasi
Untuk memperoleh harga yang kompetitif, pengendalian harus meminimumkan
biaya-biaya yang terjadi dalam produksi dan operasi. Efisiensi produksi dan operasi
adalah sesuatu yang mutlak dan harus menjadi budaya kerja pada setiap bagian yang
terlibat dalam proses produksi dan operasi. Dalam hal ini pengendalian harus semaksimal
mungkin mampu menekan pemborosan (aktivitas tidak bernilai tambah) yang terjadi.
Perhatian khusus harus diberikan terhadap supervise pabrik dan tenaga kerja tidak
langsung, dukungan dan keterlibatan pekerjaan, kesiapan mesin dan peralatan, fasilitas
pendukung yang efektif dan berbagai hal lain yang berpengaruh baik langsung maupun
tidak langsung.
Pengendalian produksi dan operasi meliputi pengendalian terhadap keseluruhan
komponen dan tahapan dalam proses produksi mulai dari penanganan bahan baku sampai
dengan penanganan penyerahan produk jadi ke gudang. Secara rinci pengendalian
tersebut meliputi hal-hal berikut :
1)
2)
3)
4)
5)

Pengendalian bahan baku


Pengendalian peralatan dan fasilitas produksi
Pengendalian transformasi
Pengendalian kualitas
Pengendalian barang jadi

1. Pengendalian Bahan Baku


Pengendalian bahan baku bertujuan untuk memastikan bahwa bahan baku yang
diolah dalam proses produksi telah sesuai dengan kebutuhan standar kualitas produk yang
dihasilkan perusahaan. Pengendalian bahan baku mencakup keseluruhan aktivitas yang
berhubungan dengan bahan baku mulai dari pembelian, jadwal penerimaan, penanganan
pada saat diterima, penyimpanan sampai dengan bahan baku tersebut digunakan (diolah)
dalam proses produksi.
Pembelian bahan baku menyangkut pemilihan pemasok dan pemesanan bahan
tersebut kepada pemasok terpilih.Untuk mendapatkan keyakinan bahwa pemasok mampu

memasok bahan baku sesuai dengan kebutuhan, pemasok yang terpilih harus melalui
proses verifikasi. Untuk mendapatkan keyakinan kelangsungan pasokan, inspeksi secara
periodik terhadap sistem kepastian kualitas pemasok harus dilakukan berdasarkan
prosedur tertulis yang dimiliki perusahaan.
Penerimaan bahan baku harus sesuai dengan kebutuhan proses produksi. Material
requirement program (MRP) menjabarkan jadwal produksi ke dalam jadwal penerimaan
bahan baku dan mengintegrasikan jadwal tersebut ke dalam proses produksi, sehingga
kebutuhan bahan baku selalu terlenuhi pada saat proses produksi berjalan dan perusahaan
tidak menanggung beban investasi yang besar dalam bentuk persediaan.
Penanganan bahan baku merupakan aktivitas sangat penting untuk memastikan
bahwa bahan yang diterima dari pemasok telah sesuai dengan standar produk yang telah
ditetapkan perusahaan. Aktivitas ini harus didukung dengan peralatan memadai dan
prosedur tertulis penanganan bahan, untuk menentukan apakah barang yang diterimadari
pemasok telah sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan.Setiap bahan yang
diterima harus diberikan kode khusus agar mudah ditelusuri distribusi dan
penggunaannya.
Inspeksi penanganan bahan harus melalui audit fisik barang yang diterima, untuk
menentukan kesesuaian bahan dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Perusahaan
harus memiliki teknik sampling tertulis untuk pengambilan sampelyang konsisten pada
setiap pengujian. Penangangan bahan harus memisahkan bahan yang tidak sesuai dengan
spesifikasi untuk menghindari penggunaannya dalam proses produksi. Setelah bahan
dinyatakan memenuhi spesifikasi, penanganan berikutnya berkaitan dengan penyimpanan
yang memadai sehingga barang tidak mudah rusak atau terkontaminasi bahan-bahan lain.
Kebijakan mendapatkan garansi dari pemasok sampai bahan diolah dalam proses
produksi, dapat menghindari kerugian yang terjadi sebagai akibat kerusakan bahan
sebelum masuk proses produksi.
Aktivitas penanganan bahan merupakan salah satu bentuk pencegahan terjadinya
kegagalan produk memenuhi spesifikasinya. Aktivitas ini akan semakin berkurang
dengan telah terjalinnya kemitraan dengan pemasok dimana komitmen pemasok untuk
memberikan bahan baku sesuai dengan standar kebutuhan perusahaan dalam

menghasilkan produk berkualitas sesuai dengan spesifikasi pelanggan, dituangkan dalam


bentuk kontrak jangka panjang.
2. Pengendalian Peralatan dan Fasilitas Produksi
Pengendalian peralatan dan fasilitas produksi bertujuan untuk mematikan bahwa
semua peralatan dan fasilitas produksi ada dalam keadaan siap untuk melaksanakan
proses produksi sesuai dengan ketentuan penggunaannya. Desain dan penempatan
peratan yang tepat menjadi faktor utama berjalannya proses produksi secara efektif dan
efisien mampu menghasilkan produk tepat sesuai dengan yang telah dijadwalkan.
Seluruh peralatan dan fasilitas produksi lainnya harus sesuai dengan ukuran dan
desain produksi yang telah ditentukan. Peralatan ini harus berada pada tempat yang tepat
sesuai dengan kebutuhan proses produksi yang efektif dan efisien. Perusahaan harus
memiliki suatu prosedur tertulis yang menjadi pedoman penggunaan, pemeliharaan dan
perbaikan peralatan dan fasilitas produksi lainnya. Prosedur tersebut secara jelas memuat
tentang pedoman setup mesin, pembersihan setelah digunakan, jadwal perawatan dan
perbaikan-perbaikan signifikan yang diperlukan untuk mendukung kelancaran proses
produksi.
Penempatan fasilitas dan peralatan harus sesuai dengan karakteristik dan metode
produksi yang diterapkan, sehingga arus material dalam proses produksi dapat berjalan
secara efektif dan efisien. Disamping itu pengelolaan fasilitas dan peralatan produksi
harus didukung oleh pedoman penggunaan dan pemeliharaan.Pedoman ini berfungsi
untuk melindungi operator dari kecelakaan akibat tidak bisa mengoperasikan peralatan
dan melindungi peralatan dari kerusakan karena jadwal pemeliharaan dari perbaikan yang
tidak tepat waktu.
3. Pengendalian Transformasi
Fungsi transformasi mengolah input menjadi output sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan. Pengendalian transformasi memegangan peranan penting untuk
memastikan bahwa proses pengolahan ini berjalan sesuai dengan kebutuhan proses
efektif dan efisien. Pada pengendalian ini tugas seorang (tim) pengendalian kualitas
(quality control) sangat penting untuk memastikan bahwa proses yang berjalan
menghasilkan produk yang tepat (kuantitas, kualitas dan waktu) dengan pengorbanan
yang minimum. Untuk mencapai tujuan tersebut, pengendalian ini mencakup pengesahan

proses produksi dan pengendalian perubahan atas permintaan; inspeksi sampel dalam
proses dan pengendalian laboratorium dan pemrosesan ulang.
Setiap proses produksi harus mendapatkan pengesahan dari bagian yang
berwenang. Perusahaan harus memiliki prosedur produksi secara tertulis, yang
memberikan pedoman tentang hal-hal yang harus dipenuhi sebelum proses produksi
dimulai. Prosedur ini mencakup tentang kesiapan fasilitas produksi sebelum
dioperasikan, pejabat yang berwenang memberikan persetujuan dan pengesahan proses
tersebut dijalankan, individu (kelompok) yang melaksanakan dan/atau bertanggung jawab
atas proses yang dijalankan serta ketentuan-ketentuan lain yang mengatur jalannya proses
produksi termasuk penanganan jika terjadi kemacetan proses (bottleneck).
Untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan telah mampu memenuhi
spesifikasinya, berbagai pengujian dalam proses produksi dilakukan. Perusahaan harus
memiliki prosedur tertulis untuk memonitor apakah proses telah berjalan sesuai dengan
ketentuan, sehingga mampu menghasilkan output sesuai dengan yang direncanakan.
Prosedur ini mencakup tentang teknik penentuan sampel, memonitor output dan
pengesahan produk jadi untuk dimasukan ke dalam gudang atau langsung diserahkan
kepada pelanggan. Penerapan prosedur ini bertujuan untuk mencegah terjadinya
kegagalan produk baik kegagaln internal maupun eksternal.
Pengerjaan ulang karena kesalahan proses harus mendapatkan pengendalian yang
memadai. Perusahaan harus menekan secara maksimal terjadinya pengerjaan ulang
terhadap produk yang gagal memenuhi spesifikaasinya karena merupakan salah satu
sumber pemborosan dan berakibat pada tidak efisiensinya proses yang berjalan.
Kalaupun tidak bisa dihindari terjadinya, harus ada prosedur tertulis yang mengesahkan
adanya pengerjaan ulang (rework) terhadap produk gagal. Prosedur ini mencakup tentang
kriteria produk gagal, cara penangannya, penilian atas pencegahan yang telah dilakukan
dan persyaratan tentang produk gagal yang dapat diolah kembali serta siapa yang
memiliki wewenang untuk memutuskan produk gagal diolah kembali atau tidak.
4. Pengendalian Kualitas
Pengendalian kualitas tidak cukup dipahami sebagai pengendalian proses
produksi, yang hanya membebankan tanggung jawab kualitas produksi kepada unit
kendala kualitas. Dihasilkannya produk yang mampu memenuhi spesifikasi pelanggan

sesungguhnya adalah tanggung jawab bersama setiap komponen yang terlibat di dalam
perusahaan. Setiap bagian (fungsi) yang terlibat mulai dari persiapan sampai dengan
proses operasional perusahaan memiliki tanggung jawab secara proporsional terhadap
kualitas produk dan kemampuannya dalam memenuhi harapan pelanggan. Hal ini masuk
akal karena keseluruhan fungsi dan tingkatkan manajemen ikut berperan (terlibat) dalam
proses tersebut baik langsung maupun tidak langsung. Hal ini merupakan bentuk
implementasi fokus pelanggan yang menjadi pola pikir dalam pengelolaan perusahaan, di
mana seluruh komponen di dalam perusahaan berkomitmen untuk memuaskan pelanggan
melalui produk yang ditawarkan.
Sebagai contoh, Northern Trust Corporation menetapkan empat tujuan kualitas
yang dapat memandu perusahaan dalam mendapat keunggulan bersaing terdiri atas :
1. Unrivaled client statisfaction
a. Client needs drive inprovement decisions.
b. All aera need an ongoing process for establishing client and partener
requirement.
c. Prevention of defect is essential to meet or exceed and partner requirement.
2. Continuous improvement of all processes
a. Everything is a process-and every process can be improved.
b. Process measurement provide the facts that will guide desicions.
c. To solve problem look beyond symptoms so you can find and remove root
cause.
3. Inspired leadership
a. Absolute quality management is achieved through attention to both process
and result.
b. We will deliver absolute quality to our client.
c. Manager can lead improvement by creating a climate of support and respect
for all Northern people.
4. Active innolvement all people
a. Everyone has a vital role in delivering unrivaled client statisfaction through
absolute quality in everything we do.
b. We exceed client expectations when all Northern people apply a systematic
and disciplined approach to process improvement.
c. Skills improvement and knowledge of the bank are fundamental tools
Northern people.

Apa yang dilakukan di Northern Trust Company ini dapat dipakai sebagai tolok
ukur dalam merencanakan program pelatihan dan pengembangan yang tepat untuk
karyawan sehingga mampu memberikan kinerja terbaiknya bagi perusahaan.
Terbentuknya komitmen bersama dalam menghasilkan produk sesuai dengan
harapan pelanggan, melahirkan tanggung jawab secara profesional dalam menghasilkan
produk yang memenuhi standar kualitas sesuai dengan persyaratan pelanggan. Pada
kondisi ini setiap bagian (fungsi) bekerja sama dengan bagian (fungsi) yang lain
membentuk suatu rantai nilai, di mana antara fungsi-fungsi yang terlibat dalam
keberhasilan perusahaan, terjadi hubungan pemasok-pelanggan. Optimalisasi pengelolaan
rantai nilai internal (internal value chain) akan mengintegrasikan seluruh sumber daya
yang terlibat dalam proses operasi untuk saling mendukung pencapaian tujuan
perusahaan.
Sistem biaya kualitas apat memebrikan informasi kepada perusahaan tentang
berbagai aktivitas yan terlibat dalam menghasilkan produk sesuai dengan standar kualitas
yang telah ditetapkan perusahaan. Aktivitas tersebut dikelompokkan menjadi empat,
meliputi:
1. Aktivitas pencegahan (prevention activity), merupakan berbagai aktivitas yang
dilakukan bertujuan untuk mencegah terjadinya kualitas buruk pada produk yang
dihasilkan. Peningkatan aktivitas ini diharapkan dapat menurunkan terjadinya
kegagalan produk.
2. Aktivitas penilaian (appraisal activity), merupakan aktivitas yang dilakukan
untuk menentukan apakah produk telah sesuai dengan persyaratan pelanggan.
Aktivitas ini memiliki sifat yang sama dengan aktivitas pencegahan dimana
peningkatan aktivitas ini dapat menurunkan terjadunya produk gagal.
3. Aktivitas kegagalan internal (internal failure), merupakan aktivitas yang
dilakukan sebagai akibat dari terjadinya kegagalan produk dalam memenuhi
spesifikasinya, di mana hal ini telah terdeteksi sebelum diserahkan kepada
pemesan.
4. Aktivitas kegagalan eksternal (external failure), merupakan aktivitas yang
dilakukan sebagai akibat dari terjadinya kegagalan produk dalam memenuhi

spesifikasinya, di mana hal ini baru terdeteksi setelah pproduksi diserahkan


kepada pemesan.
TABEL 7.8

Komponen dari Empat Kategori Biaya Kualitas


Biaya Pencegahan

Biaya Penilian
Rekayasa/teknik kualitas
Perencanaan kualitas

Inspeksi penerimaan
Perancangan dan pengembangan alat uji
Inspeksi barang dan proses

kualitas

Inspeksi laboratorium

Verifikasi dan pemeriksaan desain

Pengesahan laboratorium eksternal

Pelatihan kualitas

Penyetelan pengujian

Proyek peningkatan kualitas

Pemeliharaan alat uji

Pengumpulan data kualitas, analisis dan

Audit kualitas

pelaporan

Kalibrasi alat uji kualitas

Kendali proses statistik

Pemeliharaan peralatan produksi

Aktivitas kontrol proses lainnya untuk


mencegah produk cacat
Akuntansi biaya untuk variansi produk

Biaya Kegagalan Internal

Biaya Kegagalan Eksternal

Bahan sisa

Garansi produk

Pengerjaan ulang

Perbaikan produk rusak

Inspeksi kembali hasil pengerjaan ulang

Layanan pelanggan

Penurunan kelas produk yang cacat

Barang direktur

Penyelidikan barang cacat


Kerugian akibat bahan sisa dari vendor

Penarikan kembali produk yang telah


beredar di pasar

Mesin berhenti sejenak karena produk cacat


Tuntutan hukum
Analisis kegagalan
Pendapatan yang hilang karena
beralihnya pelanggan
Berbagai aktivitas dalam menghasilkan produk sesuai dengan kualitas yang telah
diterapkan, harus dirumuskan secara seimbang dalam kebijakan kualitas perusahaan.
Aktivitas pencegahan dan penilaian yang merupakan aktivitas persiapan untuk mencegah
terjadinya kegagalan produk dalam memenuhi spesifikasinya, harus dikelola dengan lebih
baik karena pegelolaan yang tepat terhadap aktivitas-aktivitas ini dapat secara signifikan
menurunkan aktivitas sebagai akibat produk gagal memenuhi standar kualitas. Laporan
biaya kualitas dapat memberikan informasi tentang bagaimana perusahaan mengelola
aktivitas-aktivitas kualitasnya. Oleh karena itu, laporan ini secara akurat menyajikan
informasi tentang komposisi biaya kualitas.
5. Pengendalian Barang Jadi
Pengendalian barang jadi merupakan pengendalian yang dilakukan terhadap
pengelolaan barang setelah selesai diproduksi. Pengendalian ini bertujuan untuk
memastikan bahwa penanganan barang setelah produksi berjalan sesuai dengan prosedur,
sehingga

tidak

terjadi

kerusakan

barang

dalam

proses

penyimpanan

dan

pendistribusiannya. Untuk memastikan bahwa barang dalam kondisi yang sesuai dengan
persyaratan pelanggan pada saat diserahkan, pengendalian ini melakukannya melalui
tahapan: (i) verifikasi penanganan penyimpanan dan inspeksi, (ii) pengujian, dan
distribusi.
Verifikasi, penanganan, dan penyimpanan ditujukan untuk memastikan bahwa
barang jadi yang diterima dari proses produksi telah ditangani dengan baik termasuk
penyimapanannya. Berkaitan dengan hal ini perusahaan harus memiliki suatu prosedur
tertulis menyangkut bagaimana dan siapa yang memeriksa kemasan dari produk yang

dihasilkan,

penentuan

bahwa

setiap

produk

harus

mencantumkan

tanggal

kadaluwarsanya, adanya pemisahan produk antara yang telah diaudit dan belum diaudit
oleh bagian pengendalian kualitas dan ketentuan suhu penyimpanan yang tepat sesuai
dengan karakteristik produk.
Inspeksi, pengujian, dan distribusi menyangkut penanganan produk untuk
memastikan bahwa produk yang diserahkan kepada pelanggan adalah sesuai dengan
spesifikasinya. Pengendalian ini menyangkut pengujian tentang kesesuaian produk
dengan spesifikasinya, pengelolaan persediaan untuk mendapat kepastian bahwa produk
yang diproduksi pertama didistribusikan terlebih dahulu, prosedur penanganan terhadap
produk yang dikembalikan. Berkaitan dengan hal ini, perusahaan harus memiliki
prosedur tertulis tentang metode pengambilan sampel dalam pengujian, ketentuan
pemasangan label kadaluwarsa, pengelolaan persediaan, dan penanganan produk yang
dikembalikan pelanggan.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
IBK.Bayangkara. 2008. Audit Manajemen Prosedur dan Implementasi. Jakarta : Salemba
Empat.