Anda di halaman 1dari 3

Percobaan pengujian Diabetes dan antidiabetes dengan tujuan untuk

mengetahui peran insulin dalam tubuh dan pengaruhnya pada penyakit diabetes
serta mengenal teknik untuk mengevaluasi

penyakit diabetes dengan cara

konvensional (wet lab). Pada praktikum ini digunakan hewan uji yaitu mencit
jantan, hal ini disebabkan karena mencit betina mengalami fase estrus dimana
pada fase ini terjadi peningkatan hormone estrogen dan hormone pertumbuhan
yang akan mempengaruhi sekresi insulin. Sebelum perlakuan mencit dipuasakan
terlebih dahulu dipuasakan untuk menghilangkan faktor makanan. Walaupun
demikian faktor variasi biologis dari hewan tidak dapat dihilangkan sehingga
faktor ini relatif dapat mempengaruhi hasil.
Pada prosedur kali ini kami melakukan uji coba terhadap 3 kelompok
mencit uji. Mencit yang pertama yaitu mencit kontrol, mencit kontrol negatif ini
diberikan larutan PGA 2%, mencit uji yang kedua adalah yang diberikan
glibenklamid dosis 0,013mg/ 0,5mL sedangkan mencit uji yang ketiga adalah
mencit uji yang diberikan larutan glibenklamid dosis 0,026mg/ 0,5mL. Obat
hipoglikemik oral dari golongan sulfonylurea yang digunakan yaitu glibenklamid
dengan mekanisme kerja meningkatkan sekresi insulin dari sel beta pulau
langerhans,sedangkan pada pengobatan jangka panajang efek utamanya adalah
meningkatkan efek insulin terhadap jaringan perifer dan penurunan pengeluaran
glukosa dari hati (efek ekstra pankreatik).
Larutan PGA2% dijadikan sebagai larutan kontrol negatif karena larutan
ini tidak memberikan efek farmakologis terhadap hewan percobaan, sedangkan
larutan glibenklamid memberikan efek farmakologis, yaitu dengan menurunkan
kadar gula darah pada hewan percobaan. Dalam percobaan kali ini, mencit tidak
dibuat menjadi diabetes, tetapi hanya dinaikkan saja kadar gula darahnya dengan
memberikan larutan glukosa sebanyak 1g/kg BB. Artinya, percobaan ini hanya
dilakukan untuk mengetahui seberapa efektif larutan uji glibenklamid dalam
menurunkan kadar gula darah pada hewan percobaan. Pertama-tama kedua
kelompok mencit diberi perlakuan yang sama, yaitu ditimbang. Penimbangan
dilakukan untuk mengetahui berapa banyak larutan uji dan kontrol diberikan
kepada mencit sehingga efek yang dihasilkan bisa dianggap sama pada mencit.

Ketiga mencit tersebut ditimbang satu per satu dengan menggunakan


neraca Ohauss tiga lengan. Pada saat penimbangan mencit, terlebih dahulu
timbangan dikalibrasi. Pengkalibrasian timbangan dimaksudkan agar timbangan
memberikan hasil yang sebenarnya atau mendekati nilai sebenarnya (akurasi
tinggi). Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur
sesuai dengan rancangannya dan dilakukan dengan cara menggeserkan alat
pemberat pada skala timbangan hingga didapatkan kestabilan yang dapat dilihat
dari penunjuk garis yang berada pada titik nol. Kemudian, mencit ditimbang satu
persatu dengan cara meletakkannya diatas piringan timbangan, lalu diatur
pemberatnya pada bagian kanan timbangan sampai terjadi keseimbangan pada
alat. Setelah itu dilihat berapa nilai massa yang ditunjukkan oleh alat.
Penimbangan mencit ini bertujuan untuk mengetahui berapa perhitungan dosis
yang tepat pada percobaan, karena setiap hewan (mencit) yang memiliki bobot
(berat badan) yang berbeda akan mendapatkan pemberian dosis yang berbeda,
mengingat bobot (berat badan) merupakan salah satu faktor penting yang
menentukan pemberian jumlah dosis.
Setelah ditimbang, kelompok kontrol diberi PGA 2% dan kelompok uji
diberi glibenklamid sebagai obat hipoglikemia. Hewan uji kemudian diukur kadar
glukosa normalnya (t=0). Pengukuran kadar glukosa normal dapat dilakukan
setelah pemberian obat karena obat hipoglikemia ini tidak mempengaruhi kadar
glukosa normal dalam darah, tetapi bekerja saat kadar glukosa darah tinggi.
Pengukuran kadar gula darah normal dilakukan dengan cara meletakkan mencit
pada alat yang memungkinkan pengambilan darah melalui ekor dengan mudah,
yaitu tanpa adanya perlawanan dari mencit. Bagian ekor mencit diiris dengan
pisau cutter, kemudian darah yang keluar diteteskan ke dalam glucose test strips.
Darah diambil pada bagian ekor tujuannya yaitu agar lebih mudah membuat luka
tanpa terlalu menyakiti hewan percobaan. Di samping itu, akan lebih mudah
membuat beberapa luka, karena darahnya diambil dalam rentang waktu tertentu.
Alat ini akan mengidentifikasi nilai glukosa darah hewan percobaan dalam mg per
desiliter. Kadar gula darah normal ini selanjutnya akan dijadikan pembanding
terhadap kadar gula darah yang akan diukur setelah pemberian glukosa.

Setelah pengukuran kadar gula darah normal dilakukan, kemudian masingmasing mencit diberikan larutan glukosa 1g / kg BB. Larutan glukosa diberikan
setelah 30 menit, tujuannya yaitu agar obat yang diberikan sudah terabsorpsi ke
dalam tubuh mencit. Pengukuran kadar gula darah dilakukan yaitu pada t=15,
t=30, t=60, dan t=90 setelah pemberian larutan glukosa. Prosedur yang dilakukan
pun sama dengan pengukuran kadar gula darah normal sebelumnya. Kemudian
data yang didapat dicatat pada tabel pengamatan untuk kemudian dievaluasi.