Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Slope (Kemiringan)
Kemiringan dan panjang lereng merupakan dua hal dari topografi yang
mempengaruhi erosi. Pengaruh kemiringan dan panjang lereng terhadap erosi
disebabkan karena kecepatan aliran permukaan, dimana semakin panjang dan
curam suatu lereng maka kecepatan aliran permukaan akan semakin cepat.
Dengan demikian gaya gesek air pada tanah dan kemampuan air untuk
menghanyutkan tanah semakin besar.
Kemiringan suatu lahan adalah tingkat kecuraman lereng permukaan suatu
lahan yang dapat dinyatakan dalam satuan persen atau derajat. Satuan persen
adalah satuan yang umum digunakan untuk menyatakan kemiringan atau lereng
lahan yang menunjukkan perbandingan antara beda tinggi dengan jarak mendatar
dari dua titik yang diukur, sedangkan satuan derajat menyatakan besarnya sudut
yang dibentuk oleh garis permukaan lahan tersebut dengan garis mendatar.
Kedudukan lereng juga menentukan besar kecilnya erosi. Lereng bagian
bawah lebih mudah tererosi daripada lereng bagian atas karena momentum air
larian lebih besar dan kecepatan air larian lebih terkonsentrasi ketika mencapai
lereng bagian bawah. Dari berbagai pengamatan ternyata Air limpasan yang
terjadi pada tanah bertekstur sedang sampai halus umumnya meningkat dengan
meningkatnya kemiringan, sedangkan pada tanah bertektur pasir meningkatnya
kemiringan tidak selalu meningkatkan limpasan. Namun demikian dengan
meningkatnya kemiringan erosi selalu meningkat.
Lahan dengan kemiringan yang cukup dapat mengakibatkan air mengalir
ke bagian yang lebih rendah merupakan faktor penyebab erosi. Sudah dapat
diduga pada lahan curam, air lebih dari hujan yang jatuh akan mengalir ke bagian
yang lebih rendah dengan kecepatan lebih tinggi dibanding aliran pada lahan
dengan kemiringan yang lebih landai, sehingga terjadinya erosi akan lebih serius.
Panjang lereng juga memegang peranan penting. Makin panjang lereng,
akumulasi limpasan permukaan makin besar, sehingga volume dan kecepatannya
akan semakin meningkat, yang berarti daya gerus dan angkutnya semakin tinggi.

Sehubungan dengan erosi ini sertiap negara menetapkan batas meksimum


kemiringan lereng untuk daerah yang dapat diusahakan pertanian (arable land)
berbeda-beda. Di Afrika tengah maksimum kemiringan adalah 12 %, do Filipina
25 % dan di Israel 35 %.
Hubungan antara erosi dan kemiringan dan panjang lereng seperti terlihat
pada Gambar di bawah ini:

(a)

(b)

Gambar 1. Hubungan antara erosi dan kemiringan (a) dan panjang lereng (b)
Berdasarkan hal di atas pula tindakan-tindakan konservasi secara mekanis
umumnya berkaitan dengan usaha-usaha memperpendek dan memperkecil lereng
lahan yang akan digunakan.
Konversi satuan derajat ke dalam satuan persen dapat menggunakan
persamaan berikut:
Satuan derajat = tg satuan %
Satuan % = arc tg satuan derajat
Contoh:
Lereng 45o tg 45o = 1, berarti persen kemiringan lahan = 100%
Lereng 15o 15o = 0,2679, berarti persen kemiringan lahan = 26,79%
Lereng 15 % arc tg 0,15 = 8,53, berarti sudut kemiringan lahan = 8,53o
Besarnya kemiringan suatu lahan dapat diketahui dengan beberapa cara
yaitu dengan menggunakan alat yang sederhana maupun alat yang lebih modern.
Beberapa alat pengukur kemiringan di lapangan diantaranya adalah meteran,
busur derajat, suunto level/klinometer, abney level, haga meter, waterpass,
theodolite.

Kemiringan Lahan (%)


Kelas Kemiringan Lahan
Relief
03
Datar
Datar
38
Agak Miring
Landai
8 15
Miring
Berombak
15 25
Agak Terjal
Bergelombang
25 40
Terjal
Berbukit
> 40
Curam
Bergunung
Tabel 1: Klasifikasi Kemiringan Lereng dan Kategori Bentuk Reliefnya

Land slope atau kemiringan lahan merupakan faktor yang sangat perlu
untuk dperhatikan, sejak dari penyiapan lahan pertanian, usaha penanamannya,
pengambilan produk-produk serta pengawetan lahan tersebut, karena lahan yang
mempunyai kemiringan itu dapat dikatakan lebih mudah terganggu atau rusak,
lebih-lebih kalau derajat kemiringanya besar. Derajat kemiringan dan panjang
lereng merupakan dua sifat yang utama dari topografi yang memepengaruhi
besarnya erosi. Makin curam dan makin panjang lereng maka makin besar pula
besar kecepatan aliran air permukaan dan bahaya erosi. Bila kita hubungkan
kenyataan ini dengan lereng yang gundul, maka inilah yang termudah untuk
terjadinya erosi ditijau dari sudut topografi, karena kecepatan daripada aliran air
di permukaan dapat dengan mudah mengikis lapisan atas tanah.

2.2 Pengukuran Kemiringan Lahan


Waktu melakukan pengukuran dengan alat-alat ilmu ukur tanah, baik
pengukuran mendatar maupun pengukuran tegak, haruslah sumbu ke satu tegak
lurus dan sumbu ke dua tegak lurus pada sumbu ke satu. Untuk mencapai keadaan
dua sumbu itu, digunakan suatu alat yang dinamakan nivo. Menurut bentuk nivo
dibagi dalam dua macam, yaitu nivo kotak dan nivo tabung. Diketahui garis arah
nivo adalah garis singgung yang ditarik di titik tengah skala pada nivo. Apabila
titik tengah gelembung berimpit dengan titik tengah skala, maka keadaan ini
dinamakan gelembung di tengah-tengah (Wongsotjitro, 1980).
Pengukuran

di

atas

permukaan

bumi

dilakukan

dengan

mempertimbangkan bentuk lengkung permukaan bumi dan proses perhitungannya

pun akan lebih sulit dibandingkan dengan pengukuran yang dilakukan pada
bidang datar. Jadi pengukuran yang dilaksanakan dengan mempertimbangkan
bentuk lengkung bumi disebut geodesi, sedangkan pengukuran yang dilaksanakan
tanpa mempertimbangkan bentuk lengkung bumi disebut ukur tanah datar.
Pengukuran sudut berarti mengukur suatu sudut yang terbentuk antara suatu titik
dan dua titik lainnya. Pada pengukuran ini diukur arah dari pada dua titik atau
lebih yang dibidik dari satu titik kontrol dan jarak antara titik-titik diabaikan
(Sosrodarsono dan Takasaki, 1992).
Menurut Sosrodarsono dan Takasaki (1992) theodolit mempunyai
perbedaan baik bagian dalamnya, maupun penampilannya, tergantung dari
pekerjaannya, pabrik pembuatannya dan lain-lain, akan tetapi secara umum
mempunyai prinsip mekanisme yang sama. Secara umum theodolit dapat
dipisahkan menjadi bagian atas dan bagian bawah. Adapun bagian atas tersebut
diantaranya :
a. Pelat atas yang langsung dipasang pada sumbu vertikal.
b. Standar yang secara vertikal dipasang pada pelat atas yang langsung
dipasang pada sumbu vertikal.
c. Sumbu horisontal didukung oleh pelat atas yang langsung dipasang pada
sumbu vertikal.
d. Teleskop tegak lurus sumbu horisontal dan dapat berputar mengililingi
sumbunya.
e. Lingkaran graduasi vertikal dengan sumbu horisontal sebagai pusatnya.
f. Dua buah nivo tabung dengan sumbu-sumbu yang saling tegak lurus satu
dengan lainnya.
Sedangkan bagian bawahnya diantaranya :
a. Pelat bawah.
b. Lingkaran graduasi horisontal mengelilingi pelat bawah.
c. Tabung sumbu luar dari sumbu vertical yang dipasangkan tegak lurus
terhadap lingkaran graduasi horizontal.
d. Pelat-pelat sejajar dan sekrup-sekrup

penyipat

datar

untuk

menghorisontalkan theodolit secara keseluruhan.


2.3

Teodolit
Theodolit adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk

menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Berbeda dengan

waterpass yang hanya memiliki sudut mendatar saja. Di dalam theodolit sudut
yang dapat di baca bisa sampai pada satuan sekon (detik). Di dalam pekerjaan
pekerjaan yang berhubungan dengan ukur tanah, theodolit sering digunakan dalam
bentuk pengukuran polygon, pemetaan situasi, maupun pengamatan matahari.
Theodolit juga bisa berubah fungsinya menjadi seperti Pesawat Penyipat Datar
bila sudut verticalnya dibuat 90.

Gambar 1. Teodolit
Dengan adanya teropong pada theodolit, maka theodolit dapat dibidikkan
kesegala arah. Di dalam pekerjaan bangunan gedung, theodolit sering digunakan
untuk menentukan sudut siku- siku pada perencanaan / pekerjaan pondasi,
theodolit juga dapat digunakan untuk menguker ketinggian suatu bangunan
bertingkat.
2.4 Bagian-bagian dari thedolite
Secara umum, konstruksi theodolit terbagi atas dua bagian:
1. Bagian atas, terdiri dari :

Teropong / Teleskope

Nivo tabung

Sekrup Okuler dan Objektif

Sekrup Gerak Vertikal

Sekrup gerak horizontal

Teropong bacaan sudut vertical dan horizontal

Nivo kotak

Sekrup pengunci teropong

Sekrup pengunci sudut vertical

Sekrup pengatur menit dan detik

Sekrup pengatur sudut horizontal dan vertikal

2. Bagian Bawah terdiri dari :

Statif / Trifoot

Tiga sekrup penyetel nivo kotak

Unting unting o Sekrup repitisi

Sekrup pengunci pesawat dengan statif

2.5 Jenis-jenis theodolite


1. Macam Theodolit berdasarkan konstruksinya, dikenal dua macam yaitu:
a. Theodolit Reiterasi (Theodolit sumbu tunggal)
Dalam theodolit ini, lingkaran skala mendatar menjadi satu dengan
kiap, sehingga bacaan skala mendatarnya tidak bisa di atur. Theodolit yang
di maksud adalah theodolit type T0 (wild) dan type DKM-2A (Kem) 2.
Theodolite Repitisi Konsruksinya kebalikan dari theodolit reiterasi, yaitu
bahwa lingkaran mendatarnya dapat diatur dan dapat mengelilingi sumbu
tegak. Akibatnya dari konstuksi ini, maka bacaan lingkaran skala mendatar
0, dapat ditentukan kearah bidikan / target yang dikehendaki. Theodolit
yang termasuk ke dalam jenis ini adalah theodolit type TM 6 dan TL 60DP (Sokkisha ), TL 6-DE (Topcon), Th-51 (Zeiss).
2. Macam Theodolit menurut sistem bacaannya:

Theodolite sistem baca dengan Indexs Garis

Theodolite sistem baca dengan Nonius

Theodolite sistem baca dengan Micrometer

Theodolite sistem baca dengan Koinsidensi

Theodolite sistem baca dengan Digital

3. Theodolit menurut skala ketelitian

Theodolit Presisi (Type T3/ Wild)

Theodolit Satu Sekon (Type T2 / Wild)

Theodolit Spuluh Sekon (Type TM-10C / Sokkisha)

Theodolit Satu Menit (Type T0 / Wild)

Theodolit Sepuluh Menit ( Type DK-1 / Kern)

2.6 Hagameter
Hagameter adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengukur tinggi
suatu benda. Cara penggunaannya adalah:
1. Fungsikan alat penunjuk arah tinggi, dengan memutar tombol untuk
berbagai jarak pohon dari pengukuran ( bisa 10, 15, 20m dll ).
2. Atur posisi pembidik dengan jarak antara pembidik dengan pohon yang
akan di ukur sesuai dengan skala jarak yang digunakan.
3. Buka kunci jarum penunjuk dengan menekan knop / tombol.
4. Lakukan pembidik melaluhi visir ke pangkal pohon kemudian kunci
dengan menekan tombol / knop.
5. Baca dan catat skala yang ditunjukkan jarum.
6. Lakukan bidikan ke ujung pohon yang di inginkan ( puncak / cabang
pertama), kunci jarum penunjuk dengan menekan knop / tombol.
7. Baca dan catat skala yang di tunjukkan jarum.

Gambar 2. Hagameter
2.7 Abney Level
Abney level adalah sebuah alat yang dipakai untuk mengukur ketinggian
yang terdiri dari skala busur derajat. Beberapa kelebihan abney level adalah

mudah untuk digunakan, relatif murah dan akurat. Abney level digunakan untuk
mengukur derajat dan elevasi topografi. Alat ini berupa teropong yang dilengkapi
dengan busur setengah lingkaran.
2.8 Sunto level
Alat ini seperti abney level, tetapi lingkaran skalanya ada di dalam alat
sehingga alat ini tidak terlihat seperti bentuk teropongnya tetapi menyerupai kotak
pipih seperti korek api Abney level dan Sunto level umumnya dikenal sebagai alat
untuk mengukur lereng atau kemiringan lahan.Cara menggunakan abney level
atau sunto level adalah sebagai berikut:
1. Alat dipengang, lubang pembidiknya diletakan di depan mata, berdiri di titik
awal
2. Ukur tinggi mata kita, sebagai tinggi alat
3. Bidikan ke rambu ukur yang dipasang di titik berikutnya/titik yang akan
dibidik, atur bacaan bidikan sama tingginga dengan ketinggian alat
4. Baca skala kemiringannya

REINALDY PRADANA
240110120040
KELOMPOK 1

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan mengenai pengukuran
kemiringan lahan dengan alat pengukur sudut. Pengamatan kemiringan lahan ini
dilakukan sebanyak 5 kali menggunakan alat ukur yang berbeda di lokasi
Ciparanje, Jatinangor. Alat pengukur yang dipergunakan dalam praktikum kali ini
terdiri dari pita ukur (meteran), theodolite, abney level, suunto meter, dan
hagameter. Pengukuran ini dilakukan dengan membagi jarak ukur menjadi 3
bagian, yaitu 24 m, 24 m, dan 24 m.
Dilakukannya pengukuran kemiringan lereng ini sangatlah penting.
Kelerengan sangat berhubungan dengan besarnya erosi yang dialami oleh lahan
tersebut. Semakin besar kelerengan maka kemungkinan besarnya erosi lebih
tinggi. Kelerengan akan memperbesar jumlah aliran permukaan. Akan tetapi
besarnya erosi dapat ditangani dengan memanfaatkan faktor vegetasi penutup
tanah, dengan demikian erosi dapat diperkecil. Dengan mengetahui sudut lereng
baik dalam persen (%) ataupun dalam (0), maka kita bisa memperkirakan seberapa
besar terjadinya erosi ditempat itu dan tindakan konservasi yang bagaimana
seharusnya dilakukan pada titik tersebut.
Pada pengukuran pertama, dilakukan pengukuran kemiringan lahan
dengan menggunakan alat pengukur sudut berupa hagameter. Penggunaan alat ini
adalah dengan mengarahkan alat pada rambu ukur yang ditempatkan pada titik
pengamatan, kemudian pengamat membidik kearah rambu, setelah benar-benar
dianggap lurus, praktikan kemudian menembak dengan memcet tombol pada alat,
selanjutnya pengamat lain membaca angka yang ditunjukkan oleh jarum pada
hagameter. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh besarnya nilai kemiringan
sudut dalam persen (%) adalah 22%, 23%, dan 22,2%. Sedangkan besarnya
kemiringan sudut dalam derajat (o) adalah 0,8739 o, 0,8751 o, dan 0,8742 o.
Pengukuran kedua dilakukan dengan menggunakan alat pengukur sudut
berupa abney level. Sebelum digunakan, alat harus dikalibrasi terlebih dahulu.
Terdapat gelembung udara pada abney level yang menjadi titik acuan dalam
pengukuran yang disebut Nivo. Pada alat abney level ini, hasil pengukuran sudah

dalam bentuk derajat (o). Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh besarnya nilai
kemiringan sudut dalam persen (%) adalah 86,4236%, 86,42%, dan 86,98%.
Pada pengukuran ketiga, kami menggunakan alat pengukur sudut berupa
suunto level. Dalam penggunaannya, alat ini harus dikalibrasi terlebih dahulu
sebelum digunakan. Pengamat yang akan mengamati kemiringan lahan dengan
alat ini memisir terlebih dahulu garis setinggi mata pengamat pada tiang atau
rambu ukur pada jarak 24 m. Pada alat suunto level ini, hasil pengukuran sudah
dalam bentuk derajat (o).
Pada pengukuran keempat, kami melakukan pengukuran dengan
menggunakan meteran. Meteran ini dijadikan patokan seberapa besar beda tinggi
lahan dengan melihat angka yang tertera pada rambu ukur. Berdasarkan hasil
perhitungan diperoleh bahwa besarnya kemiringan sudut dalam persen (%) adalah
5,828%, 6,652%, dan 4,88%. Sedangkan besarnya kemiringan sudut dalam derajat
(o) adalah 333,54 o, 380,606 o, dan 274,387 o. Hasil pengukuran dengan meteran ini
ternyata kurang akurat, ini bisa dilihat dari gambar penampakan lahan dari
gambar. Terlihat bahwa ketinggian di masing-masing zona begitu mencolok,
padahal pada kenyataannya tidak seperti itu. Kurangnya keakuratan hasil
pengukuran dengan menggunakan meteran ini dikarenakan ketelitian penglihatan
pengamat akan berbeda-beda tergantung sudut pandang pengamatan.
Pada percobaan kelima atau terakhir, kelompok kami mengukur sudut
kemiringan lahan dengan menggunakan theodolite digital. Berdasarkan hasil
perhitungan nilai kemiringan dalam derajat (o) pada jarak 24 m, 48 m, dan 72 m
adalah sebesar 4,488, 7,342, dan 8,299. Perhitungan jarak datar (dh) pada jarak
24m, 48m dan 72m sebesar 2484,692cm, 5016,7133cm, dan 7147,913cm.
Kemudian untuk beda tinggi (dt) pada jarak 24m, 48m, dan 72m sebesar
195,024cm, 646,393cm, 1044,0814cm. Dalam pelaksanaannya, ada beberapa data
yang kurang akurat dengan keadaan yang sebenarnya dari pengukuran dengan
theodolite ini. Hal tersebut terjadi akibat adanya kesalahan pada saat praktikum.
Kesalahan yang terjadi dalam pengukuran dengan menggunakan theodolite ini
diantaranya diakibatkan oleh pengaturan alat yang tidak sempurna (temporary
adjusment), salah taksir dalam pembacaan, kesalahan dalam mencatat, atau
adanya faktor alam.

Berdasarkan literatur diketahui bahwa memang abney level memiliki


tingkat ketelitian yang lebih baik disbanding dengan suunto level. Akan tetapi
pengukurannya tidak betul-betul akurat karena dalam pelaksanaannya masih
terjadi beberapa kesalahan seperti dalam pembacaan nilai dan pemisiran karena
praktikan terburu-buru pada saat melakukan praktikum yang dikarenakan
pemaikaian alat bergiliran dan waktu praktikum yang terbatas. Pada penggunaan
alat abney level kita dituntut untuk lebih telaten karena untuk meletakkan nivo
pada garis tengah dengan sejajar sebagai indicator bahwa kemiringan sudah tepat
tidaklah muadah. Pengukur harus tidak banyak bergerak dan harus teliti.
Berdasarkan hasil pengamatan dan literatur, diketahui bahwa alat yang
memiliki tingkat ketelitian paling tinggi adalah theodolite, sedangkan yang tingkat
keakurasiannya paling rendah adalah meteran. Ketelitian dalam hal pengukuran
tidak hanya tergantung pada alat, namun pada pengukur dan juga faktor alamnya.
Dalam menggunakan theodolite, gelembung air yang terdapat pada nivo
horizontal maupun vertikal harus benar-benar berada di tengah. Theodolite digital
memiliki kelebihan seperti hasil data yang diperoleh lebih cepat, cara
penggunaanya

mudah,

serta

data

yang

diperoleh

akurat.

Sedangkan

kekurangannya adalah bobotnya berat, harganya mahal, dan untuk mendapat data
yang akurat, pengaturan harus stabil.

REINALDY PRADANA
240110120040
KELOMPOK 1

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan
bahwa:
1. Kemiringan suatu lahan adalah tingkat kecuraman lereng permukaan suatu
lahan yang dapat dinyatakan dalam satuan persen atau derajat.
2. Lahan dengan kemiringan yang cukup dapat mengakibatkan air mengalir
ke bagian yang lebih rendah merupakan faktor penyebab erosi.
3. Makin panjang lereng, akumulasi limpasan permukaan makin besar,
sehingga volume dan kecepatannya akan semakin meningkat, yang berarti
daya gerus dan angkutnya semakin tinggi.
4. Pengukuran
di
atas
permukaan

bumi

dilakukan

dengan

mempertimbangkan bentuk lengkung permukaan bumi.


5. Pengukuran jarak dan kemiringan suatu lahan dapat dilakukan dengan
menggunakan meteran, theodolite, abney level, suunto level, dan
hagameter.
6. Setiap tempat ataupun setiap titik mempunyai sudut lereng (kelerengan)
baik dalam (%) maupun dalam (0) mempunyai nilai yang berbeda.
7. Dengan mengetahui sudut lereng baik dalam persen (%) ataupun dalam (0),
maka kita bisa mengetahui seberapa bersar terjadinya erosi ditempat itu
dan tindakan konservasi yang bagaimana seharusnya dilakukan.
8. Alat pengukur kemiringan sudut yang paling akurat dari kelima alat yang
digunakan adalah theodolite.
4.2 Saran
Disarankan kepada praktikan yang akan melakukan praktikum serupa
agar:
1. Memahami terlebih dahulu materi yang akan dipraktikkan agar
memudahkan jalannya praktikum.
2. Melakukan praktikum dengan serius dan teliti untuk meminimalisir
terjadinya kesalahan.

3. Memastikan kaki tiga pada theodolite sudah berdiri tegak dengan


sempurna dan pastikan juga gelembung nivo sudah berada di tengah agar
pembacaannya akurat.
4. Memastikan telah melakukan kalibrasi dengan benar sebelum mengukur
kemiringan dengan abney dan suunto level.
5. Melakukan perhitungan dengan teliti dan hati-hati sehingga terhindar dari
kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S. 1993. Survai Tanah dan Evaluasi Lahan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Asdak, Chay. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 1995. Gadjah
Mada University Press: Yogyakarta.
Anonim. 2012. Alat Ukur Tanah. Tersedia:
http://www.slideshare.net (Diakses pada tanggal 17/3/2015 pada pukul
18.17 WIB)
Anonim. 2008. Diameter Tape. Tersedia:
http://www.cnr.vt.edu (Diakses pada tanggal 17/3/2015 pada pukul 18.23
WIB)
Bafdal, Nurpilihan; Suryadi, Edi. Penuntun Praktikum Teknik Pengawetan Tanah
dan Air. 2007. Jatinagor: UNPAD.
Frick, H. 1996. Ilmu dan Alat Ukur Tanah. Kanisius. Yogyakarta.
Hutdopi. 2011. Alat Ukur Geografi. Tersedia:
http://hutdopi08.blogspot.com (Diakses pada tanggal 17/3/2015 pada
pukul 18.09 WIB)
Irawan, Budi. 2011. Mengoperasikan dan Merawat Alat Ukur Tanah. Tersedia:
http://pustaka.ictsleman.net (Diakses pada tanggal 17/3/2015 pada pukul
18.13 WIB)
Irvine, W. 1995. Penyigian Untuk Konstruksi. Edisi ke II. ITB. Bandung.
Kartasapoetra, G . 1987. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Bina Aksara,
Jakarta.
McCormac, J.2004. Surveying. Fifth Edition. John Wiley & Sons, Inc.
Schwab, Glen O; dkk. 1981. Soil and Water Conservation Engineering. United
States of America: John Wiley and Sons, Inc.
Seta, A. K. 1987. Konservasi Sumberdaya Tanah dan Air. Kalam Mulia, Jakarta.
Sosrodarsono, S., dan Takasaki, M. 1992. Pengukuran Topografi dan Teknik
Pemetaan. Edisi ke III. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.
Suripin, M.Eng. 2002. Pelestarian Sumber Daya Air dan Tanah. ANDI.
Yogyakarta.
Tonni. 2012. Survey Ilmu Ukur Tanah. Tersedia:

http://www.scribd.com (Diakses pada tanggal 17/3/2015 pada pukul 18.15)


Wikipedia. 2012. Topographic Abney Level. Tersedia:
http://en.wikipedia.org (Diakses pada tanggal 17/3/2015 pada pukul 18.21)
Wongsotjitro, S. 1980. Ilmu Ukur Tanah. Kanisius. Yogyakarta.
Yulfa, Arie. 2008. Peta Situasi. Tersedia:
http://arieyulfa.files.wordpress.com (Diakses pada tanggal 17/3/2015 pada
pukul 18.24)