Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berbagai konflik yang dikarenakan perbedaan suku, budaya atau agama- yang
terus terjadi, dan kekerasan yang mengatas namakan agama khususnya di
Indonesia selalu menjadi pusat perhatian. Ironisnya, sejak kejadian 11 september
2001 Islamlah yang sering dituding menjadi dalang dibalik teror dan kekerasan
dunia.Kekerasaan tersebut menjadi argumen kuat bagi mereka yang ingin
menafikan toleransi dalam Islam. Sehingga mereka mengkalaim Islam tidak akan
memberi solusi dalam kehidupan masyarakat, apalagi pada Negara. Dengan ini
tawaran hidup ala Barat yang sekular lebih banyak diminati.
Pluralitas merupakan sunnatullah yang Allah ciptakan di atas bumi Nya karena
Allah telah berfirman dalam Al Quran:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara
kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. Al Hujurat:
13)

Akan tetapi keterbatasan manusia dalam menerima perbedaan yang telah menjadi
sunnatullah sering menjadi percekcokan dan ketegang apalagi dalam suatu Negara
yang bermasyarakat majemuk dan plural.Tak lepas dari keterbatasan manusia itu
sendiri, muncullah paham sekularisme yang menawarkan persatuan dan
kedamaian dalam perspektif modernitas. Sehingga agama dan (politik) Negara
harus dipisahkan, karena agama tidak akan memberi solusi malah hanya akan
menjadi stagnasi kemajuan.
Penduduk Indonesia terdiri dari berbagai etnis, ras, budaya, suku, bahasa, dan
agama. Akan tetapi berbagai konflik dan ketegangan yang terjadi di Indonesia,
termasuk peran agama pun baik intern atau antar umat beragama- ikut memicu
konflik dan ketegangan yang sering terjadi di tanah air tercinta.
Indonesia merupakan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, jadi tidaklah
mengherankan jika Indonesia mendapat perhatian khusus dunia. Seiring dengan
pergerakan globalisasi yang terus berkembang, apakah Islam yangdituduh sebagai
agama teoraksi yang jumud dan rukud (stagnasi atau statis) dapat membangun
persatuan dalam kehidupan masyarakat yang plural?!
Persatuan adalah gabungan ikatan atau kumpulan dari beberapa bagian
yang sudah bersatu.
Umat merupakan sebutan lain untuk mahluk yang bernama manusia dan
bisa juga diartikan penganut atau pemeluk suatu agama.
Negara adalah organisasi yang sah dalam suatu wilayah yang mempunyai
kekuasaan tertinggi dan ditaati oleh rakyat, atau sebuah kelompok sosial
yang menduduki suatu wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi
dibawah lembaga politik, mempunyai persatuan politik dan berdaulat
sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya.

Bermasyarakat artinya bersatu membentuk masyarakat. Masyarakat


adalah sekumpulan orang yang hidup bersama di suatu tempat atau
wilayah dengan ikatan aturan tertentu.
Majemuk adalah sesuatu yang terdiri dari beberapa bagian yang
merupakan kesatuan.
Kacamata adalah sebuah lensa untuk mata yang berguna untuk
menormalkan atau mempertajam penglihatan.
Islam adalah penyerahan diri kepada Allah dengan melaksanakan dan
tunduk kepada apa yang datang dari Nabi Muhammad saw dari perbuatan
yang jelas dalam syariat dan diketahui oleh agama secara primer
(dharurat) atau dengan adanya al-dalil al-yaqini.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara islam menghadapi perbedaan ?
2. Bagaimana sistem politik dalam islam ?
3. Apa upaya yang dilakukan untuk mempersatukan umat ?

C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui islam dalam menghadapi perbedaan
2.
Untuk mengetahui sistem politik dalam islam
3.
Untuk mengetahui upaya yang dilakukan untuk mempersatukan umat

BAB II
PEMBAHASAN
A. ISLAM DALAM MENYIKAPI PERBEDAAN
1. Konsep Toleransi dalam Islam (Kebebasan Beragama)
Radikalisme Islam mendorong Barat memelihara isu :teroris Islam agar dunia
waspada dan ikut memberantas kelompok ekstrimis Islam. Dan menghapus citra
Islam dengan mengatakan Islam adalah agama yang intoleransi. Islam adalah

agama yang sangat toleransi. Jelas ini tidak pantas jika Islam dituduh agama yang
ekstrim dan radikal. Apalagi dengan mengatakan Al Quran dan Nabi Muhammad
sebagai inti dari semua teror.
Islam mengakui keberagaman ada, termasuk keberagaman dalam agama. Dalam
Islam seorang muslim dilarang memaksa orang lain untuk meninggalkan
agamanya dan masuk Islam dengan terpaksa, karena Allah telah berfirman:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).
(QS. Al Baqarah: 256)
Jika kita menilik kembali sejarah Islam, akan kita dapatkan simahah al islam yang
disana tidak ditemukan tentang adanya hukuman mati atau sisksaan pada
seseorang yang tidak mahu masuk Islam. Contoh riilnya adalah bisa kita lihat
bagaimana

cara

penyebaran

Islam

yang

dilakukan

oleh

wali

songo

rahimahumullah di Indonesia.
Sejarah telah mengabadikan kepemimpinan Rasulullah saw dan sikap tasamuh
beliau dalam memperlakukan penduduk Madinah yang plural. Seperti yang
tertulis dalam Piagam Madinah (shahifah madinah). Diantara isi piagam
disebutkan tentang adanya kesepakatan, bahwa jika ada penyerangan terhadap
kota Madinah atau penduduknya, maka semua ahlu shahifah (yang terlibat dalam
Piagam Madinah) wajib mempertahankan dan menolong kota Madinah dan
penduduknya tanpa melihat perbedaan agama dan qabilah.
2. Batasan toleransi dalam perspektif islam
Islam mengakui pluralitas agama, dan menghormati pemeluk agama lain. Tapi
bagaimana jika ada sebagian kelompok yang melecehkan agama Islam atau aksi

kemaksiatan yang jelas dilarang oleh agama? Apakah umat Islam harus berpurapura menutup mata dan telinga atas dasar toleransi?!
Seperti yang terjadi di masa sahabat, saat seorang munafik yang bernama
Musailah Al Kadzdzab (dan pengikutnya) mengaku bahwa dirinya nabi setelah
wafatnya Nabi Muhammad saw. Melihat hal tersebut para sahabat tidak tinggal
diam dan membiarkan pengikut Musailamah terus menyebarkan ajaran sesatnya.
Karena disitu ada mashlahah untuk menjaga agama (hifdz al din) yang merupakan
faktor dharury (primer) dalam kehidupan umat Islam. Allah telah berfirman
dengan tegas dan jelas bahwa Nabi Muhammad saw adalah penutup para Nabi
dan tidak ada Nabi setelah Nabi Muhammad.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara


kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. Al Ahzab: 40)

Toleransi semacam ini jelas tidak dibenarkan dalam agama Islam. Karena seorang
yang mengaku muslim berarti meyakini dan bersakasi bahwa tidak ada Tuhan
selain Allah dan Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah dan meyakini bahwa
tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad saw.
3. Al Asas al fikri li tasamuh al muslimin
Yusuf Qordhowi dalam kitabnya fi fiqh al aqliyat al muslimah menyebutkan
beberapa faktor toleransi muslim terhadap non-muslim:

Nilai kemanusiaan yang mulia.



Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.
(QS. Al Isra: 70)

Perbedaan yang dimuka bumi ini adalah sesuai dengan kehendak Allah Sang
Maha Pencita alam semesta dan isinya.

Jikalau Tuhan-mu mengkehendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang
satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.(QS. Hud: 118)

Perbedaan tersebut adalah menjadi pertanggung jawaban antara dia dan Allah di
akhirat nanti.

Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah, Allah lebih mengetahui
tentang apa yang kamu kerjakan Allah akan mengadilindiantara kamu pada
hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih.(QS. Al Hajj: 6869)

Allah telah memerintahkan untuk berbuat adil dan berakhlak mulia.



Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang
selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan

janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu


untuk berlaku tidak adil.(QS. Al Maidah: 8)

B. SISTEM POLITIK DALAM ISLAM


Jika mengacu kepada sejarah perpolitikan Islam terutama zaman klasik, bahkan
hingga zaman kontemporer ini, sebenarnya tidak ada pembakuan secara umum
yang berlaku di negara-negara yang memproklamirkan diri sebagai negara
Islam.Alquran maupun as-Sunnah tidak memberikan penjelasan yang mnendetail
dan rinci mengenai sistem politik. Sumber asasi di dalam Islam hanya memberi
rambu-rambu yang amat global, umpama Allah berfirman yang artinya :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu,
Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya).....(QS.
An Nisa : 59).
Ayat ini secara implisit menghendaki keberadaan:
1. Suatu negara yang ada pemimpinnya
2. Rakyat yang taat kepada pemimpin
3. Jika ada pertentangan di antara kedua belah pihak hendaklah kembali
kepada petunjuk Alquran dan as-Sunnah
4. Tidak boleh ada dominasi dari satu pihak kepada pihak yang lain. Jadi
pemimpin mengayomi rakyat dan rakyat taat kepada pemimpin.

Lanjutan ayat itu berbunyi:


Artinya :
...jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS. An Nisa : 59).

Empat poin dalam kandungan ayat ini adalah perwujudan iman.


Implikasinya lebih jauh adalah:
1. Jika para pemimpin tidak mengayomi rakyat
2. Jika rakyat tidak taat pemimpin atau pemerintah syah
jika ada perpebedaan prinsip antara rakyat dan pemerintah (pemimpin) yang cara
pemecahannya tidak dikembalikan menurut petunjuk Alquran maupun as-Sunnah,
maka mereka itu tidak termasuk orang beriman.

Kata iman seakar kata dengan amin, artinya aman tidak ada gangguan dan
ancaman. Aplikasinya dalam kehidupan kenegaraan baik pemerintah maupun
rakyat harus bersama-sama menciptakan suasana aman atau kondusif sehingga
kehidupan bersama dalam berbagai bidang seperti: ekonomi, sosial, politik, dan
yang lainnya berjalan dengan lancar aman, tanpa rasa khawatir akan berbagai
macam gangguan.
Siapapun yang membuat gaduh atau kacau dalam suatu negara, dia itu bukan
orang beriman.al-Amin juga berarti kuat dan setia, artinya sebagai warga negara
harus setia terhadap negara secara kuat (nasionalisme) yaitu cinta kepada negara
(hub al-wathan) sebagai bagian integral dari iman.
Siapapun warga negara atau bada apapun dalam suatu negara seperti LSM
(Lembaga Swadaya Masyarakat) yang menjadi antek negara asing) dan menjual
dokumen-dokumen penting negaranya adalah bukan orang-orang beriman.Mereka
amat berbahaya kerena pada hakikatnya mereka itu adalah mesin pengkhianat
negara.Sudah sepentasnya jika keberadaan mereka harus dikikis habis tak bersisa.
Kata

iman

juga

seakar

kata

dengan

amanah

yang

berarti

dapat

dipercaya.Kaitannya dengan kenegaraan, baik pemerintah maupun rakyat harus

saling dapat mempercayai maupun dipercayai.Rakyat bersifat anarkhis dan


pemerintah yang korup, jelas masing-masing tidak dapat dipercaya atau
mempercayai.Lebih dari itu mereka sebenarnya tidak beriman. Suatu negara yang
pejabatnya korup, mementingkan kekayaan pribadi dengan cara menggerogoti
kekayaan negara secara tidak syah, negara ini disebut al-madinah alfasiqah, yaitu
negeri yang rusak (Harun Nasution, l981 : 33). Sementara itu, jika rakyat besifat
anarkhis dan mamaksakan kehendaknya sendiri sehingga negara itu menjadi
semrawut, para pemimpin hanya sibuk mengurusi demo-demo berkepanjangan
sehingga tidak bisa mengatur negara secara baik, negara ini disebut, al-madinah
al-jamaah.Negara seperti ini semuanya ingin berkuasa.Al-madinah a-jamaiah
adalah salah satu bentuk dari negeri bodoh (almadinah al-jahilah) , yaitu negara
baik pemerintah maupun rakyatnya hanya berusaha memenuhi kebutuhan jasmani,
memperkaya diri, ambisi kekuasaan, dan mengumnbar hawa nafsu (Harun
Nasution, l981 : 33). Suatu bangsa yang bentuk negara dan sistem
pemerintahannya berttipologi al-madinah al-jamiah maupun al-madinah aljahilah secara prinsip bangsa itu dapat dikatakan sebagai bangsa yang tidak
beriman karena tidak amanah.
Kata iman seakar kata dengan al-amin artinya tenteram, damai dan aman.
Kaitannya dalam kehidupan bernegara, seluruh rakyat maupun yang memangku
jabatan kepemerintahan harus menciptakan ketenteraman, kedamaian, dan
keamanan baik dalam level indfividual, secara batiniah maupun lahiriah, dan
dalam level kehidupan bersama. Profokator dari manapun asalnya apakah dari
unsur pemerintah maupun rakyat yang menyulut pertikaian antar golongan, antar
kelompok, antara pemeluk agama, dan antar suku adalah perbuatan yang tidak

bertanggung jawab dan tidak beriman kepada Allah maupun hari akhir. Kita
semua harus mewaspadai para para politikus kotor maupun kelompoknya
sehingga ruang gerak mereka terbatas atau dinetralisir sama sekali.
Kata at-Tamin juga seakar kata dengan iman dan artinya gadai.Kaitannya dengan
kehidupan negara, setiap warga negara secara prinsip diri mereka masing-masing
digadaikan kepada negara, harus tunduk dan patuh kepada negara. Inilah yang
dimaksud bahwa proses terbentuknya suatu negara melalui social contract dan
pemegang kekuasaan disebut pemegang amanah dari rakyat.
Karena begitu longgar petunjuk baik Alquran maupun as-Sunnah, maka
aktualisasi politik dari generasi ke generasi atau antara wilayah satu dengan
wilayah lain di dunia Islam cukup berfariatif dan lebih bersifat temporal menurut
selera masing-masing pendiri negara, umpama dalam dalam menunjuk dan
mengangkat kepala negara sebagai yang memerintah. Nabi Muhammad menjadi
kepala negara di Madinah terjadi secara otomatis sebagai akibat ditaati oleh setiap
warga di Madinah dan seluruh jazirah Arab. Abu Bakar as-Siddiq menggantikan
posisi Nabi sebagai pemimpin umat - bukan dalam arti nabi maupun rasul - dipilih
secara kerakyatan (Hasan, l968 : 34). Pengganti Abu Bakar adalah Umar bin
Khattab menjadi khalifah ditunjuk oleh oleh Abu Bakar kemudian disetujui oleh
seluruh warganya (Hasan, l968: 37). Usman bin Affan menggantikan posisi Umar
bin Khattab dengan cara Umar bin Khattab menunjuk enam orang calon, satu
diantaranya adalah Usman bin Affan sendiri, ia memenangkan dalam pemilihan
yang kemudian membawanya menjadi khalifah. Pengganti Usman bin Affan
adalah Ali bin Abi Thalib dengan dipilih oleh mayoritas umat Islam. Ali bin Abi
Thalib sebagaimana dua pendahulunya terbunuh dalam insiden politik.

10

Penggamnti Ali bin Abi Thalib adalah Muawiyah bin Abu Sufyan dengan cara
ayang amat licik, yaitu melalui teknik tahkim (arbitrase) di Daumatul jandal.
Pihak Ali bin Abi Thalib diwakili oleh Abu Musa al-Asyari dan pihak Muawiyah
bin Abu Sufyan diwakili oleh Amru bin Aash. Keduanya bersepakat dalam
sidang menurunkan pemimpin masing-masing. Waktu itu Ali bin Abi Thalib
sebagai khalifah, semerntara Muawiyah hanya sebagai gubernur, bukan level
khalifah. Abu Musa diminta supaya berpidato yang pertama.Isi pidatonya
menurunkan pemimpin dari jabatannya masing-masing, dan aksi ini disetujui oleh
seluruh anggota sidang.
Sementara itu, Abu Musa al-Asyari adalah seorang ulama yang tawadu dan
wara, dan amat kurang berpengalaman dalam liku-liku politik kotor. Setelah ia
turun dari mimbar Amru bin Ash gilirannya naik ke mimbar untuk berpidato. Isi
pidato ada dua hal, (1) menyetujui penurunan Ali bin Abu Thalib dari jabatan
khalifah dan (2) mengangkat Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai khalifah dan
langsung disambut sorak gempita dari pendukungnya. Pada sat itu kelompok Ali
bin Abu Thalib merasa - dan memang benar-benar - ditipu oleh kelompok
Muawiyah bin Abu Sufyan. Dengan demikian Muawiyah bin Abu Sufyan menjadi
khalifah dengan cara kudeta tak berdarah, proses sebelumnya juga telah
menumpahkan darah begitu banyak prajurit dari masing-masing pihak. Sejak
Muawiyah bin Abu Sufyan mengangkat putra mahkota, maka sistem politik Islam,
terutama bentuk negara menjadi sistem kerajaan atau monarkhi (Hasan, 1968 : 54,
62, 66). Tetapi secara makro jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti
di Barat, dan Cina yang sama-sama berbentuk kerajaan, Negara yang dipimpin
oleh Muawiyah bin Abu Sufyan disebut sebagai negara kerajaan Islam yang

11

secara teknis disebut daulah atau khilafah (kekhalifahan), yaitu Daulah Bani
Umayyah. Kata Umayyah dinisbahkan dari kakek Muawiyah.
Untuk selanjutnya bentuk pemerintahan semacam itu berlaku di semua wilayah
Islam.Bani Umayyah tumbang digantikan oleh Bani Abbasiyah. Bersamaan
dengan ini kerajaan Bani Umayyah di Andalusia (Spanyol) didirikan oleh
ketrurunan dari Muawiyyah bin Abu Sufyan yang selamat dari pembumihangusan
Abul Abbas Assafah(pendiri Bani Abbasiah). Sesudah dua kerajaan raksasa ini
tumbang muncullah berbagai kerajaan di dunia Islam, seperti khilafah Bani
Fatimiyah di Mesir(909-ll7l M), Khilafah Bani al-Murabbitun di Afrika Utara
(l056-ll45 M), Khilafah Mamalik di Mesir maupun di Suriah (1250-1516 M),
Khilafah Usmaniah di Turki (l299-l922 M), Khilafah Mughaliah di India (l5261858 M), dan masih banyak yang lainnya.
Pada abad l8 di Eropa muncdul konsep dan praktik politik yang disebut
nasionalisme. Melalui agitasi politik imperialisme (penjajahan) Barat ke seluruh
wilayah di dunia, termasuk dan khususnya di dunia Islam pada abad l9,
nasionalisme menjadi konsep politik universal (L.Stodart, l966 : l37). Sekarang
ini tidak ada di manapun di dunia yang tidak menganut paham nasionalisme, dan
di sisi lain tidak bisa keluar dari paham nasionalisme itu. Maka nasionalisme
menjadi paham tunggal hingga sekarang ini.Meskipun demikian, negara-negara
yang akarnya kekhalifahan tetap mengelaborasi prinsip-prinsip ajaran Islam dan
nasionalisme yang wujud akhirnya adalah nasionalisme yang dibedakan dari
nasionalisme sekuler.Sekularisme anti atau sekurang-kurangnya memisahkan dari
urusan agama, sementara nasionalisme Islam tidak demikian.Agama menjadi
dasar dan sendi-sendi praktik kenegaraan.

12

Elaborasi anatara ajaran Islam dan nssionalisme Barat menghasilkan berbagai


bentuk negara Islam sesuai dengan akar sejarahnya dari masing-masing yang
membentuk negara yang bersangkutan.Saudi Arabia, bentuk negaranya kerajaan,
tetapi mengaku sebagai negara Islam.Iran berbentuk republik tetapi juga mengaku
sebagai negara Islam.Malaisia berbentuk serikat tetapi mengaku sebagai negara
Islam. OIC (Organization of the Islamic Conference) merupakan gabungan dari
berbagai negara Islam yang bertujuan melenyapkan pemisahan ras, diskriminasi,
dan kolonialisme dalam segala bentuk, juga bergerak di bidang ekonomi, sosial,
budaya, ilmu pengetahuan, dan kegiatan vital lainnya (Esposito,IV : 201) tidak
mengusahakan keseragaman bentuk negara. Urusan ini diserahkan kepada negara
masing-masing anggota. Indonesia secara formal mengaku sebagai negara
pancasila, bukan negara Islam, tetapi mayoritas penduduknya beragama Islam dan
ikut sebagai anggota OIC.Oleh karean aitu, kebijakan apapun yang mengabaikan
kepentingan umat Islam di negeri tercinta ini pasti menuai badai yang pada
akhirnya akan merugikan negara itu sendiri.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada pembakuan sistem dalam
Islam sehingga kepentingan umat Islam dalam membentuk negara menjadi
kebebasan mereka,boleh mengambil bentuk negara kerajaan, republik, negara
serikat, atau yang lainnya selagi prinsip-prinsip Islam tentang kehidupan bersama
ditegakkan untuk kemaslahatan dan kemakmuran bersama (pemerintah dan
rakyat).

C. UPAYA DALAM MEWUJUDKAN PERSATUAN UMAT


1. Untuk mewujudkan persatuan masyarakat yang majemuk seperti di
Indonesia, perlu adanya kerja sama antara pemimpin dan rakyat. Jargon

13

demokrasi yang dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat butuh
pembuktian yang nyata dalam menjaga keamanan dan ketenangan bagi
setiap umat beragama, dan tegas dalam mengambil keputusan jika ada
yang meresahkan rakyat setempat.
2. Peduli kepada sesama tanpa melihat suku, ras, budaya, dan agama dengan
saling menghormati dan menghargai perbedaan masing-masing.
3. Cinta tanah air dengan bangga menjadi warga Negara Indonesia, bangga
terhadap budaya Indonesia dan dengan cara menerapakan bahwa negara
kita adalah negara yang paling istimewa.
4. Terutama peran pemuda sangatlah penting dalam upaya pembangunan
persatuan umat, karena mereka merupakan calon pemimpin dan generasi
penerus bangsa kita. Nasib umat ada ditangan mereka, negara bisa maju
jika pemudanya juga maju dan begitu juga sebaliknya.
5. Melahirkan kembali semangat nasionalisme dengan mempelajari kembali
perjuangan para pejuang dahulu yang telah berkorban jiwa dan raganya
untuk kemerdekaan Indonesia.
6. Bertanya kepada diri sendiri, apa yang telah kita lakukan untuk Negara?
Sumbangsih apa yang telah kita berikan kepada tanah air tercinta?
D. Kontribusi Agama Dalam Bidang Politik.
Agama itu sangat penting disegala aspek kehidupan umat manusia selain itu
agama juga agama berperan untuk menenangkan jiwa dan raga. Dengan agama
kita akan lebih bijak menyikapi sesuatu. Oleh karena itu agama itu dibutuhkan
oleh setiap umat manusia.
Islam adalah solusi. Solusi segala permasalahan di dunia ini dengan
kesempurnaan ajarannya (syumul). Kesempurnaan ajaran Islam dapat ditelaah dari
sumber aslinya, yaitu Alquran dan Sunnah yang mengatur pola kehidupan
manusia, mulai dari hal terkecil hingga terbesar baik ekonomi, sosial, politik,
hukum, ketatanegaraan, budaya, seni, akhlak/etika, keluarga, dan lain-lain.
Bahkan, bagaimana cara membersihkan najis pun diatur oleh Islam.

14

Ajaran Islam merupakan rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta alam),
artinya Islam selalu membawa kedamaian, keamanan, kesejukan, dan keadilan
bagi seluruh makhluk hidup yang berada diatas dunia. Islam tidak memandang
bentuk atau rupa seseorang dan membedakan derajat atau martabat manusia dalam
level apapapun. Islam menghormati dan memberikan kebebasan kepada seseorang
untuk menganut suatu keyakinan atau agama tanpa memaksakan ajaran Islam
tersebut dijalankan (laa ikrahaa fiddiin).
Islam bukanlah semata agama (a religion) namun juga merupakan sistem politik
(a political sistem), Islam lebih dari sekedar agama. Islam mencerminkan teoriteori perundang-undangan dan politik. Islam merupakan sistem peradaban yang
lengkap, yang mencakup agama dan Negara secara bersamaan. Dalam hal politik
Islam mengatur bagaimana seorang pemimpin harus bersikap terhadap rakyatnya.
Dan bagi seorang pemimpin ada pertanggung jawaban atas apa yang telah
dilakukan terhadap rakyatnya di akirat nanti. Ada batas-batasan yang diberikan
terhadap seorang pemimpin.
E. Politik yang Dilakukan Rasulullah SAW
Nabi Muhammad SAW adalah seorang politikus yang bijaksana. Di Madinah
beliau membangun Negara Islam yang pertama dan meletakkan prinsip-prinsip
utama undang-undang Islam. Nabi Muhammad pada waktu yang sama menjadi
kepala agama dan kepala Negara.
Pertama, sebelum diangkat sebagai nabi dan rasul. Nabi Muhammad SAW bertahanuts di Gua Hira. Namun, setelah dipilih sebagai utusan Allah, Beliau
langsung

diperintahkan

untuk

memberikan

peringatan

di

tengah-tengah

masyarakat mulai dari keluarga terdekat dan kawan-kawannya. Nabi Muhammad


SAW pun menyebarkan dakwah di tengah-tengah mereka.
Kedua, Rasulullah SAW melakukan pemantapan akidah. Sejak awal, Nabi
Muhammad SAW memproklamirkan: L ilha ill Allh, Muhammad Raslullh.
Dengan syahadat tersebut berarti tidak ada yang wajib disembah, diibadahi dan
dipatuhi selain Allah SWT. Menaati Allah SWT haruslah dengan mengikuti
utusan-Nya, Muhammad SAW. Jadi, syahadat merupakan pengingkaran
terhadap thght serta keimanan kepada Allah dan Rasul.

15

Ketiga, dakwah Nabi Muhammad SAW menyerukan pengurusan masyarakat


(riyah syun al-ummah). Ayat-ayat Makiyyah banyak mengajari akidah seperti
takdir, hidayah dan dhallah (kesesatan), rezeki, tawakal kepada Allah, dll.
Ratusan ayat al-Quran dan hadits di Makkah dan Madinah diturunkan kepada
Nabi tentang pengaturan masyarakat di dunia. Misal: jual-beli, sewa-menyewa,
wasiat, waris, nikah dan talak, taat pada ulil amri, mengoreksi penguasa sebagai
seutama-utama jihad, makanan dan minuman, pencurian, hibah dan hadiah kepada
penguasa, pembunuhan, pidana, hijrah, jihad, dll. Semua ini menegaskan bahwa
apa yang didakwahkan Nabi Muhammad SAW bukan hanya persoalan ritual,
spiritual dan moral. Dakwah Nabi Muhammad SAW berisi juga tentang hal-hal
pengurusan masyarakat. Artinya, dilihat dari isinya dakwah Rasulullah SAW juga
bersifat politik.
Keempat,

Rasulullah

melakukan

pergulatan

pemikiran.

Pemikiran

dan

pemahaman batil masyarakat Arab kala itu dikritisi. Terjadilah pergulatan


pemikiran. Akhirnya, pemikiran dan pemahaman Islam dapat menggantikan
pemikiran dan pemahaman lama. Konsekuensinya, hukum-hukum yang
diterapkan di masyarakat pun berubah. Rasulullah SAW dengan al-Quran
menyerang kekufuran, syirik, kepercayaan terhadap berhala, ketidakpercayaan
akan Hari Kebangkitan, dll. Hikmah, nasihat, dan debat secara baik terus
dilakukan oleh Nabi saw
Jelas, ini merupakan aktivitas politik karena merupakan aktivitas riyah syun
al-ummah, mengurusi urusan rakyat.
Kelima, para pembesar Quraisy banyak menzalimi rakyat, kasar, menghambur
fitnah, dan banyak bersumpah tanpa ditepati. Rasulullah SAW dengan tegas
menyerang mereka karena kesombongan dan penentangan mereka. Di antara
pembesar yang diserang langsung oleh Beliau adalah Abu Lahab dan istrinya
(Ummu Jamil). Sementara itu, Walid bin Mughirah diserang dengan menyebutkan
ciri, perilaku, dan tindakannya terhadap masyarakat.
Selain itu, Nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu dari Allah yang berisi
pembongkaran terhadap tipudaya para penguasa Quraisy itu (QS ath-Thariq [86]:
15-17; al-Anfal [8]: 30). Semua ini merupakan perjuangan politik. Arahnya adalah

16

menghentikan kezaliman pembesar terhadap rakyatnya, seraya menyerukan Islam


sebagai keadilan yang menggantikannya.
Keenam, Nabi saw. menentang hubungan-hubungan rusak di masyarakat dan
menyerukan Islam sebagai gantinya. Pada saat itu, kecurangan dalam takaran dan
timbangan sudah merupakan hal lumrah dalam jual-beli. Sistem masyarakat yang
diterapkan penguasa/pembesar kala itu membiarkan pembunuhan terhadap anakanak karena takut miskin, khawatir tidak terjamin makan dan kehidupannya.
Rasul saw. justru berteriak lantang bahwa tindakan tersebut adalah dosa besar.
Beliau menyerukan: tidak perlu takut dan khawatir miskin karena Allahlah yang
mengatur rezeki. Perzinaan pun merajalela.
Ketujuh, setelah berhijrah dari Makkah ke Madinah, Beliau mendirikan institusi
politik berupa negara Madinah. Beliau langsung mengurusi urusan masyarakat.
Misal: dalam bidang pendidikan Beliau menetapkan tebusan tawanan Perang
Badar dengan mengajari baca-tulis kepada sepuluh orang kaum Muslim
pertawanan. Dalam masalah pekerjaan Nabi saw. mengeluarkan kebijakan dengan
memberi modal dan menyediakan lapangan pekerjaan berupa pencarian kayu
bakar untuk dijual (HR Muslim dan Ahmad). Nabi Muhammad SAW. pernah
menetapkan kebijakan tentang lebar jalan selebar tujuh hasta (HR al-Bukhari).
Beliau juga mengeluarkan kebijakan tentang pembagian saluran air bagi pertanian
(HR al-Bukhari dan Muslim). Begitulah, Nabi saw. sebagai kepala pemerintahan
telah memberikan arahan dalam mengurusi masalah rakyat.
Berdasarkan perilaku dakwah Nabi saw. dan para Sahabatnya di atas, jelaslah,
dakwah Beliau tidak sekadar mencakup ritual, spiritual dan moral. Dakwah Beliau
juga bersifat politik, yakni mengurusi urusan umat dengan syariah. Karenanya,
dakwah Islam haruslah diarahkan seperti yang dilakukan Beliau. Politik tidak
dapat dan tidak boleh dipisahkan dari Islam. Politik yang dilakukan oleh Nabi
Muhammad SAW adalah politik yang membawa rakyat ke arah yang lebih
baik.
F. Penjelasan Qs. An-Nisa ayat 59


17

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan
Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul
(Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS.
An-Nisa: 59)
Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang firman-Nya,
Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan Ulil Amri di antara kamu. Ayat ini turun
berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi, ketika diutus oleh
Rasulullah di dalam satu pasukan khusus. Demikianlah yang dikeluarkan oleh
seluruh jamaah kecuali Ibnu Majah.
Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW sudah memberi batasan kepada kita,
bahwasannya ketaatan hanya pada yang maruf, dan bukannya pada yang tidak
maruf. Ayat juga ini disebutkan oleh ulama sebagai hak para pemimpin yang
menjadi kewajiban rakyat. Sedangkan pada ayat sebelumnya QS. An-Nisa': 58,
sebagai hak rakyat yang menjadi kewajiban para pemimpin. Yaitu agar para
pemimpin

menunaikan

amanat

kepemimpinan

dengan

sebaik-baiknya.

Memberikan hak kepada yang berhak menerimanya, dan memutuskan hukum di


antara rakyatnya dengan seadil-adilnya.
Allah SWT menjelaskan bahwa ciri-ciri utama Ulil Amri Minkum yang
sebenarnya ialah komitmen untuk selalu mengembalikan segenap urusan yang
diperselisihkan kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya). Para pemimpin
sejati di antara orang-orang beriman tidak mungkin akan rela menyelesaikan
berbagai urusan kepada selain Al-Quran dan Sunnah Ar-Rasul.
Ibnu Qayyim meneruskan dalam kitabnya tersebut, bahwasannya makna taat
kepada Ulil Amri adalah bertaqlid kepada apa yang mereka fatwakan. Akan tetapi
hal yang tidak dimengerti oleh orang-orang yang taqlid adalah bahwa Ulil Amriseharusnya-hanya ditaati apabila tidak keluar dari ketaatan kepada Allah dan
Rasul-Nya. Para ulama dalam hal ini hanya berfungsi sebagai mediator
(penyampai perintah dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat), sementara Umara
memegang peranan sebagai fasilitator demi kelancarannya. Oleh karena itu,
ketaatan kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul.

18

G. Hadits Tentang Politik


Hal mengenai politik tidak hanya diatur dalam Al-quran saja tapi ada beberapa
hadits yang mengaturnya yaitu:
1

Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka. (HR. Abu Na'im).
Rasulullah Saw berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, "Wahai
Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan.
Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung
seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan

ditolong mengatasinya." (HR. Bukhari dan Muslim)


Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka dijadikan
pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang bijaksana dan dijadikan
ulama-ulama mereka menangani hukum dan peradilan. Juga Allah jadikan
harta-benda ditangan orang-orang yang dermawan. Namun, jika Allah
menghendaki keburukan bagi suatu kaum maka Dia menjadikan pemimpinpemimpin mereka orang-orang yang berakhlak rendah. DijadikanNya
orang-orang dungu yang menangani hukum dan peradilan, dan harta berada

3
4

di tangan orang-orang kikir. (HR. Ad-Dailami)


Kami tidak mengangkat orang yang berambisi berkedudukan. (HR. Muslim)
Ada tiga perkara yang tergolong musibah yang membinasakan, yaitu:
a. Seorang penguasa bila kamu berbuat baik kepadanya, dia tidak
mensyukurimu dan bila kamu berbuat kesalahan dia tidak
mengampuni.
b. Tetangga apabila melihat kebaikanmu dia pendam (dirahasiakan atau
diam saja) tapi bila melihat keburukanmu dia sebarluaskan
c. Isteri bila berkumpul dia mengganggumu (diantaranya dengan
ucapan dan perbuatan yang menyakiti) dan bila kamu pergi (tidak di

tempat) dia akan mengkhianatimu. (HR. Ath-Thabrani)


Allah melaknat penyuap, penerima suap dan yang memberi peluang bagi

mereka. (HR. Ahmad)


Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas
mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila
telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati
mereka lebih busuk dari bangkai. (HR. Ath-Thabrani

19

Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya


kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat.

(HR. Ath-Thabrani)
Aku mendengar Rasulullah Saw memprihatinkan umatnya dalam enam

perkara:
a. Diangkatnya anak-anak sebagai pemimpin (penguasa).
b. Terlampau banyak petugas keamanan.
c. Main suap dalam urusan hokum.
d. Pemutusan silaturahmi dan meremehkan pembunuhan.
e. Generasi baru yang menjadikan Al Qur'an sebagai nyanyian.
Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Karena itu jika
terjadi perselisihan maka ikutilah suara terbanyak. (HR. Anas bin Malik)

H. Norma Politik dalam Islam


Dalam pelaksanaan politik, Islam juga memiliki norma-norma yang harus
diperhatikan. Norma-norma ini merupakan karakteristik pembeda politik Islam
dari system poltik lainnya. Diantara norma-norma itu ialah :
1.

Poltik merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan, bukan

2.
3.
4.

dijadikan sebagai tujuan akhir atau satu-satunya.


Politik Islam berhubungan dengan kemashlahatan umat.
Kekuasaan mutlak adalah milik Allah.
Manusia diberi amanah sebagai khalifah untuk mengatur ala mini secara

5.
6.

baik.
Pengangkatan pemimpin didasari atas prinsip musyawarah.
Ketaatan kepada pemimpin wajib hukumnya setelah taat kepada Allah

7.

dan Rasul .
Islam tidak menentukan secara eksplisit bentuk pemerintahan Negara.

I. Prinsip-Pinsip Politik dalam Pandangan Islam


1.
Prinsip-prinsip dasar politik Islam
a.Tauhid berarti mengesakan Allah SWT selaku pemilik kedaulatan
tertinggi.
b. Pandangan Islam terhadap kekuasaan tidak terlepas dari ajaran tauhid
bahwa penguasa tertinggi dalam kehidupan manusia, termasuk dalam
kehidupan politik dan bernegara adalah Allah SWT (QS.5:18)
c. Risalah merupakan medium perantara penerimaan manusia terhadap
hukum-hukum Allah SWT. Manusia baik dia pejabat pemerintah atau

20

rakyat jelata adalah Khalifah-Nya, mandataris atau pelaksana amanahNya dalam kehidupan ini (QS.2:30).
d. Khalifah berarti pemimpin atau wakil Allah di bumi. Pemerintahan
baru wajib di patuhi kalau politik dan kebijaksanaannya merujuk
kepada Al-Quran dan hadist atau tidak bertentangan dengan keduanya.
Prinsip-prinsip dasar siasyah dalam Islam meliputi antara lain :
1.
2.
3.
4.

Musyawarah.
Pembahasan Bersama.
Tujuan bersama, yakni untuk mencapai suatu keputusan.
Keputusan itu merupakan penyelesaian dari suatu masalah yang

5.
6.
7.
8.

dihadapi bersama.
Keadilan.
Al-Musaawah atau persamaan.
Al-hurriyyah (kemerdekaan/kebebasan).
Perlindungan jiwa raga dan harta masyarakat .

2. Prinsip-prinsip politik luar negeri dalam Islam (Siasah Dauliyyah)


Dalam Al-Quran, ditemui beberapa prinsip politik luar negeri dalam Islam, yaitu :
a.Saling menghormati fakta-fakta dan traktat-traktat, QS.8:58, QS.9:4,
QS.16:91, QS.17:34.
b. Kehormatan dan Integrasi Nasional, QS.16:92
c.Keadilan Universal (Internasional), QS. 5:8.
d. Menjaga perdamaian abadi, QS.5:61.
e.Menjaga kenetralan negara-negara lain, QS.4:89,90.
f. Larangan terhadap eksploitasi para imperialis, QS.6:92.
g. Memberikan perlindungan dan dukungan kepada orang-orang Islam yang
hidup di negara lain, QS.8:72.
h. Bersahabat dengan kekuasaan-kekuasaan netral, QS.60:8,9.
i. Kehormatan dalam hubungan Internasional, QS.55:60.
j. Persamaan keadilan untuk para penyerang, QS.2:195, QS.16:126, dan
QS.42:40.

J. Syarat Kepemimpinan Politik dalam Islam


Kepemimpinan politik dalam Islam harus memenuhi syarat-syarat yang telah
digariskan oleh ajaran agama. Penjelasan itu terdapat dalam surat An-Nisa,(4):58-

21

59. Pada ayat itu disimpulkan bahwa terdapat beberapa syarat kepemimpinan
politik dalam Islam antara lain;
1. Amanah yaitu bertanggung jawab dengan tugas dan kewenangan
yang diemban
2. Adil yaitu mampu menempatkan segala sesuatu secara tepat dan
proporsional
3. Taat kepada Allah dan Rasul
4. Menjadikan quran dan sunnah sebagai referensi utama.
K. Peranan Agama dalam Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Agama memberikan penerangan kepada manusia dalam hidup bersama termasuk
dalam bidang politik atau bernegara. Penerangan itu antara lain.

1. Perintah untuk bersatu


Islam melalui Al-Quran menganjurkan agar antar kelompok, antar golongan
maupun antar partai saling melakukan taaruf (perkenalan). Allah berfirman:

Artinya :
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersukusuku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal . ( QS. Al Hujurat :
13 ).
Pemahaman terhadap Al-Quran surat al-Hujarat ayat 13 menunjukkan bahwa
manusia diciptakan bersuku-suku, dan surat al-Mukminun ayat 52 menjelaskan
bahwa manusia adalah umat yang satu. Ini berarti berbagai suku, berbagai
golongan, berbagai kelompok, termasuk di dalamnya kelompok politik atau yang
lainnya supaya tetap bersatu. Pengikat persatuan adalah takwa. Karakter takwa
antara lain menjalankan semua perintah Allah sejauh yang diketahui dan menjauhi
larangan-Nya. Jadi, ukurannya gampang kalau orang itu takwa pasti iman dan
senang bersatu dan menjaga persatuan dan kesatun.

22

2. Larangan untuk saling curiga


Islam melarang kepada semua orang baik dalam kapasitasnya sebagai individu,
sebagai kelompok sosial, maupun kelompok-kelompok yang lain termasuk
kelompok politik untuk saling curiga, saling melecehkan atau yang semakna
dengannya. Allah berfirman:

Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan),
karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari
keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang
diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka
tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang . ( QS. Al
Hujurat : 12 ).
Dengan demikian, terhadap orang lain atau kelompok lain haruslah saling
mengembangkan husnuzhan (berprasangka
baik).
Kalau
masing-masing
kelompok saling menaruh husnuzhan tentu akan mempererat hubungan mereka
sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 13 surat al-Hujarat tersebut.
Akibatnya dari pelecehan, pasti timbul saling mencurigai di antara mereka. Saling
curiga tentu mudah menigkat menjadi disintegrasi bahkan konflik di antara
mereka. Sebagai bangsa akan menjadi lemah jika elemen-elemen di dalamnya
saling mencurigai dan bertikai. Itulah sebabnya Allah melarang umat yang saling
bercerai berai.
Sebaliknya orang yang tetap istikamah dalam kesatuan umat, mereka itulah
sebagai orang yang mempererat petunjuk ilahi dan dapat merasakan kenikmatan
bersaudara (bersatu). Mencermati perintah Allah agar kita bersatu dan laranganNya untuk bercerai berai itu ternyata akibatnya kembali kepada manusia itu
sendiri. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh merupakan kesimpulan padat
dari perintah untuk bersatu dan larangan bercerai.

23

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil kajian diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Agama itu sangat penting disegala aspek kehidupan umat manusia selain itu
agama juga berperan untuk menenangkan jiwa dan raga. Salah satunya adalah
dalam hal politik. Contoh dari politik yang berdasarkan agama adalah politik yang
dilakukan oleh Rasulullah SAW. Politik yang digunakan oleh Rasulullah SAW
adalah poltik yang membawa kebahagiaan bagi umat yang dipimpinnya. Jika
seseorang pemimpin politik berlandaskan agama dalam hal ini agama Islam dan
yang menjadi landasan dalam memimpin rakyatnya adalah Al-quran dan hadist
maka pemimpin tersebut tidak akan menindas rakyatnya. Dikarenakan ia telah
mengetahui norma-norma berpolitik dalam Islam dan aturan-aturan berpolitik
dalam Islam
B.

Saran

Berkenaan

dengan

pentingnya

penguasaan memahami

agama dalam kehidupan politik. Khususnya pendidik harus mampu :


a.
b.
c.
d.

Menjelaskan pentingnya Agama dalam kehidupan berpolitik


Memberikan contoh pemimpin yang sesuai dengan kaidah Agama.
Menerapkan Suri Tauladan yang dicantumkan Dalam Hadits.
Berpolitik sesuai dengan norma-norma berpolitik dalam Islam.

24

kontribusi