Anda di halaman 1dari 24

1.

Latar Belakang
Bahan bakar gas alam merupakan bahan bakar yang bersih yang telah

dimanfaatkan oleh banyak negara sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik.
Kecenderungan ini membuat pasokan akan gas alam semakin banyak diminati. Salah
satu hal yang sangat penting adalah pendistribusian sistem transportasi gas alam.
Saluran perpipaan adalah salah satu metode yang paling praktis dan terjangkau
yang sudah diterapkan pada pada sistem transportasi minyak dan gas sejak 1950. Pipa
telah digunakan sebagai salah satu metode yang paling praktis dan berharga murah
untuk transportasi minyak dan gas. Instalasi pipa untuk minyak dan transmisi gas yang
meningkat drastis dalam tiga dekade terakhir(Pluvinage & Elwany 2013).
Akibatnya, masalah kegagalan pipa semakin banyak terjadi. Faktor ekonomis
dan lingkungan serta kehidupan manusia menjadi pertimbangan untuk melibatkan
masalah saat ini sebagai integritas struktural dan standar keamanan. Karakteristik
ledakan gas mengharuskan integritas struktural terjaga tinggi. Oleh karena itu,
keandalan integritas struktural dan keamanan jaringan pipa minyak dan gas dalam
berbagai kondisi termasuk adanya cacat harus dievaluasi secara seksama. Cacat
eksternal, misalnya, cacat korosi, goresan benda asing dan erosi pipa alasan kegagalan
besar dari jaringan pipa minyak dan gas(Pluvinage & Elwany 2013).
Sistem perpipaan yang digunakan merupakan rangkaian dari pipa-pipa yang
digunakan untuk sarana transportasi fluida yang cukup panjang untuk jarak tertentu.
Fluida yang didistribusikan umumnya memiliki sifat-sifat yang berbahaya seperti
mudah terbakar atau mengandung racun. Kondisi ini mengakibatkan meningkatnya
risiko apabila saluran perpipaan ini mengalami kegagalan atau kebocoran. Oleh karena
itu, keamanan saluran perpipaan minyak dan gas dalam berbagai kondisi termasuk
adanya cacat, baik cacat eksternal yang dapat dilihat secara visual maupun cacat internal
harus dievaluasi secara seksama. Salah satu metode yang dapat dilakukan yaitu dengan
menjalankan risk assesment.
Risk assesment merupakan metode yang sistematis untuk menentukan tingkat
risiko yang dapat diterima atau tidak pada suatu kegiatan. Metode ini didefinisikan
sebagai seluruh rangkaian proses identifikasi kerusakan dan estimasi risiko seperti
1

likelihood, exposure, konsekuensi, dan safety level assesment. Proses penilaian terhadap
risiko dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan buruk yang mungkin dapat
membahayakan kesahatan manusia, lingkungan, proses produksi, maupun peralatan
karena aktivitas manusia dan teknologi.
Korosi menjadi salah satu penyebab terbesar dalam proses degradasi pada
mekanisme Plant Proses H2S, pemodelan ANSI/ASME B31G biasa digunakan untuk
memperkirakan remaining strength pada pipeline yang terkena cacat korosi. Semua
pemodelan kegagalan pada tekanan berhubungan dengan perkiraan remaining strength
tetapi bukan kemungkinan kegagalan pada pipeline yang mengandung kecacatan akibat
korosi. Analisis keandalan yang diperlukan untuk menilai sisa umur pipa terkorosi
dengan pertambahan korosi lebih lanjut untuk mencapai tujuan tersebut. First Order
Reliability Methods (FORM) digunakan untuk menganalisis keandalan pipeline(Vinod
et al. 2014).
Risiko biasanya didefinisikan sebagai kemungkinan terjadinya kegagalan dan
konsekuensinya. Pada Pipeline sendiri besarnya risiko ini dipengaruhi oleh kondisi yang
diterima selama beroperasi. Kondisi ini bisa berupa pengaruh fisik maupun kimia
seperti menerima beban tegangan, kondisi cuaca, pengaruh fluida yang didistribusikan,
maupun pengaruh lingkungan yang dilewati oleh pipeline(Verdana 2010).
RBI menggunakan risiko untuk merencanakan, membenarkan dan membantu
dalam penilaian hasil dari pemeriksaan, pengujian dan pemantauan. RBI adalah proses
mengidentifikasi serta mengukur konsekuensi dan probabilitas kegagalan. Metode ini
berlaku baik pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk memprioritaskan upaya analisis
pertama dan kemudian kegiatan pemeriksaan. Penilaian risiko kualitatif didasarkan pada
penilaian ahli dan perencanaan tertentu berdasarkan pengalaman. Mereka merencanakan
secara spesifik dan bisa sangat akurat dalam hal probabilitas kegagalan jika data input
memiliki kualitas yang baik. Jika data kegagalan dicatat dengan benar, estimasi
kemungkinan kegagalan akan akurat.
Risk Based Inspection (RBI) adalah suatu metode yang menggunakan tingkat
resiko sebagai dasar dalam memprioritaskan dan mengatur suatu aktivitas inspeksi.
Keuntungan potensial dari metode RBI ini adalah dapat meningkatkan waktu operasi
dan kerja dari suatu fasilitas proses dimana pada saat bersamaan terjadi peningkatan
2

atau setidaknya perawatan pada level resiko yang sama. Tujuan dari RBI adalah untuk
menentukan kemungkinan terjadinya sebuah insiden yang merugikan (probability) dan
bagaimana dampak dari insiden tersebut (consequence) juga untuk mengidentifikasi
kerusakan atau cacat yang bisa menyebabkan kecelakaan beskala besar sebelum
terjadi(Satmoko et al. 2015).

Gambar 1.1 Proses perencanaan Risk Based Inspection secara umum(API 2000).
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana menerapkan metode
inspeksi yang tepat untuk mengetahui tingkat risiko dan besarnya konsekuensi yang
ditimbulkan akibat kegagalan pada pipa gas milik salah satu perusahaan distribusi gas
alam untuk pembangkit listrik dari Cepu hingga Semarang. Hasil penelitian ini
memberikan rekomendasi tentang metode inspeksi yang tepat pada komponen pipa.
Penelitian ini menggunakan alat bantu perhitungan/software yang dibangun secara
mandiri berpedoman pada American Petroleum Institute (API) 581.
Untuk memperoleh hasil maksimal dari penelitian ini maka perlu dilakukan
perumusan masalah, yaitu sebagai berikut:
1) Mempelajari pedoman American Petroleum Institute (API) Based Resource
Document 581 untuk menganalisis risiko pada pipa distribusi gas alam.
2) Pengambilan data di lapangan untuk mengetahui factor apa yang menjadi penyebab
utama kegagalan pada pipa distribusi gas alam.

3) Melakukan

simulasi

perhitungan

dengan

menggunakan

program

bantu

perhitungan/software secara semi kuantitatif untuk mendapatkan tingkat risiko pada


pipa distribusi gas alam. Hasil dari perhitungan adalah besarnya nilai risiko pada
pipa distribusi gas alam.
1.3
1.

Batasan Masalah
Konsekuensi kegagalan hanya dihitung kerusakan wilayah terbakar akibat ledakan

2.

pipa.
Menggunakan Risk Based Inspection dengan metode analisa semi-kuantitatif

3.

menggunakan bantuan software.


Risk assesment yang dilakukan pada sistem perpipaan tersebut berdasarkan datadata yang diperoleh dari salah satu perusahaan gas yang ada di Jawa Tengah.
Data-data tersebut berupa data komposisi gas, pipeline alignment, process flow
diagram, piping and instrumentation diagram, desain pipa, data material pipa,
data kualitatif dan data interview.

1.4

TujuanPenelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah:

1. Melakukan perhitungan semi kuantitatif nilai risiko untuk menganalisis tingkat


risiko pipa distribusi gas alam berdasarkan API 581 Risk Based Inspection Based
Resource Document.
2. Menghitung tingkat risiko pada pipa distribusi gas alam milik Perusahaan Gas
dengan parameter H2S dan corrosion rate.
3. Memberikan rekomendasi tentang inspeksi yang diperlukan pada pipa distribusi gas
alam.
1.5

Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah dapat mengetahui tingkat risiko kegagalan pada

peralatan. Penentuan tingkat resiko kegagalan yang terjadi pada peralatan, menjadi
pertimbangan untuk melakukan kegiatan inspeksi peralatan. Penelitian ini dapat
memudahkan perusahaan untuk menentukan

interval waktu inspeksi dan memilih

metode inspeksi yang tepat berdasarkan tingkat resiko sebagai upaya tindakan preventif.

Penelitian yang berhubungandengan Risk Based Inspection (RBI) pada pipa


distribusi gas alam masih sedikit yang membahas, sehingga diharapkan hasil penelitian
ini dapat bermanfaat.
1.6

SistematikaPenulisan
Tesis ini terdiri atas beberapa bagian yaitu:

1. Bab I Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
2. Bab II Tinjauan Pustaka
Berisitentanghasilhasil penelitian yang terdahulu oleh para peneliti yang ada
kaitannya

dengan

penelitian

yang

diusulkan

danlandasanteori

yang

berkaitandenganrisiko secara umum, metode RBI, pedoman API 581, korosi, dan sistem
perpipaan.
3. Bab III Metode Penelitian
Bab ini berisi tahapan-tahapan untuk menganalisisresikopipa-pipa distribusi
gas alam berdasarkanAPI581 revisitahun 2000 RBIBRD. Tahapan-tahapan disajikan
dalam bentuk diagram alir dalam menganalisis risiko pad pipa distribusi gas alam.
Tahapan ini disajikan karena data-data yang menjadi input dalam perhitungan sangat
banyak sehingga akan menyita banyak waktu dan menurunkan ketepatan dalam
menganalisis, maka diperlukan sebuah program bantu yang bias memudahkan analisis,
mempercepat, serta meningkatkan ketepatan dan ketelitian perhitungan.
4. Bab IV Pembahasan
Bagian ini berisi uraian lebih detail tentang hasil perhitungan penelitian,
pembahasan, dan analisis dari data penelitian yang sudah dilakukan. Pembahasan akan
mengupas secara tuntas permasalahan dari penelitian. Pada bagian ini juga ditunjukkan
hasil penelitian berupa tingkat risiko pada peralatan, saran, dan rekomendasi kegiatan
inspeksi.
5. Bab V Kesimpulan dan Saran
Berisi tentang kesimpulan dan saran yang diambil dari hasil analisis pada babbab
sebelumnya.
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

PERPIPAAN
Pipa merupakan teknologi dalam mengalirkan fluida seperti minyak, gas atau air

dalam jumlah yang sangat besar dan jarak yang jauh melalui laut dan daerah tertentu.
Pipeline merupakan sarana transportasi diam yang berfungsi untuk mendistribusikan
fluida baik dalam bentuk liquid maupun gas(Fadlan 2015).
Piping adalah sistem perpipaan di suatu plant, sebagai fasilitas untuk
mengantarkan fluida (cairan atau gas) antara satu komponen ke komponen lainnya
untuk melewati proses-proses tertentu. Piping ini tidak akan keluar dari satu wilayah
plant. Sedangkan pipeline adalah sistem perpipaan untuk mengantarkan fluida antara
satu plant ke plant lainnya yang biasanya melewati beberapa daerah.
Sistem perpipaan dapat ditemukan hampir pada semua jenis industri, dari sistem
pipa tunggal yang sederhana sampai sistem pipa bercabang yang sangat kompleks.
Contoh sistem perpipaan adalah, sistem distribusi air minum pada gedung atau kota,
sistem pengangkutan minyak dari sumur bor ke tandon atau tangki penyimpan, sistem
distribusi udara pendingin pada suatu gedung, sistem distribusi uap pada proses
pengeringan dan lain sebagainya. Sistem perpipaan meliputi semua komponen dari
lokasi awal sampai dengan lokasi tujuan antara lain, saringan (strainer), katup atau
kran, sambungan, nosel dan sebagainya. Untuk sistem perpipaan yang fluidanya liquid,
umumnya dari lokasi awal fluida, dipasang saringan untuk menyaring kotoran agar tidak
menyumbat aliran fuida. Saringan dilengkapi dengan katup searah ( foot valve) yang
fungsinya mencegah aliran kembali ke lokasi awal atau tandon. Sedangkan sambungan
dapat berupa sambungan penampang tetap, sambungan penampang berubah, belokan
(elbow) atau sambungan bentuk T (Tee).

Gambar 2.1 Sistem Perpipaan


2.2

RISIKO
Risiko adalah suatu kemungkinan dari suatu kejadian yang tidak diinginkan yang

akan mempengaruhi suatu aktivitas atau obyek(Melchers & Feutrill 2001). Resiko
tersebut akan diukur dalam terminologi Consequenses (konsekuensi) dan Likelihood
(kemungkinan/ probabilitas). Dapat dijelaskan pula bahwa risiko adalah pemaparan
tentang kemungkinan dari suatu hal seperti kerugian atau keuntungan secara financial,
kerusakan fisik, kecelakaan atau keterlambatan, sebagai konsekuensi dari suatu
aktivitas. Menurut standar API Based Resource Document Publication 580 definisi dari
risiko adalah kombinasi dari kemungkinan terjadinya suatu kejadian (probability) dan
konsekuensi jika kejadian tersebut terjadi (consequence). Secara matematis, definisi risk
adalah sebagai berikut:
Risk = Probability x Consequence
(2.1)
Pemahaman dari definisi risk tersebut adalah berkaitan dengan suatu peristiwa
yang belum terjadi, namun dapat diperkirakan akibat (consequence) dari peristiwa
tersebut jika terjadi dan seberapa besar kemungkinan peristiwa tersebut dapat terjadi.
Beberapa contoh resiko yang dapat terjadi dalam suatu perusahaan yaitu :
1. Kerusakan dari peralatan atau mesin-mesin produksi
2. Kegagalan dalam meraih kesempatan
3. Kerusakan dari peralatan kantor atau sistem komputer
4. Pelanggaran terhadap keamanan
5. Kebakaran dan kecelakaan kerja
2.3

RISK-BASED INSPECTION (RBI)

Risk Based Inspection (RBI) merupakan salah satu metode yang relatif baru dalam
melakukan suatu inspeksi. Metode ini berdasarkan analisis risiko yaitu meliputi
mengenai analisis besarnya kemungkinan munculnya suatu kegagalan dan besarnya
efek risiko yang muncul akibat kegagalan tersebut dan hubungannya terhadap sistem
operasi yang sedang berjalan(Noori & Price 2006).
Risk-Based Inspection (RBI) adalah metode inspeksi berbasis risiko dimana
bahaya sebagai dasar untuk memprioritaskan dan sebagai upaya mengelola program
inspeksi. Dalam pabrik yang sedang beroperasi, persentase relatif besar yang terkait
risiko dari item peralatan . RBI memungkinkan pergeseran inspeksi dan pemeliharaan
sumber daya untuk menyediakan tingkat keamanan yang lebih tinggi dari cakupan pada
item yang berisiko tinggi dan upaya yang akan dikerjakan dengan peralatan yang baik
agar risiko bahaya tersebut menjadi lebih rendah. Manfaat potensial dari program RBI
adalah untuk meningkatkan waktu operasi peralatan dan menjalankan fasilitas industri
dengan proses yang panjang agar kegagalan dapat diminimalisasi atau setidaknya
mempertahankan pada tingkat risiko yang sama(API 2000).
Pendekatan berbasis risiko membantu dalam merancang strategi alternatif untuk
meminimalkan risiko akibat kerusakan atau kegagalan. Metodologi RBI terdiri dari
empat modul: identifikasi ruang lingkup, penilaian risiko, evaluasi risiko, dan
perencanaan perawatan. Dengan menggunakan metodologi ini dapat memperkirakan
risiko yang disebabkan oleh kegagalan yang tak terduga sebagai fungsi dari probabilitas
dan konsekuensi dari kegagalan(Krishnasamy et al. 2005).
Penelitian yang dilakukan oleh Zaman membahas tentang metode RBI semi
kuantitatif pada boiler. Penentuan tingkat risiko pada boiler menggunakan metode semi
kuantitatif dengan menggunakan standar API 581 antara lain yaitu superheater (risiko
menengah), steam drum (risiko menengah), dan reheater (risiko menengah). Dari hasil
penentuan risiko tersebut, maka tindak lanjut yang dapat dilakukan adalah pengamatan
secara intensif terhadap kondisi operasi tiap peralatan sehingga tidak terjadi keadaan
yang dapat membahayakan pihak operator maupun pihak perusahaan sendiri(Badrus
2005).
Metode RBI juga digunakan untuk menganalisis keandalan jaringan pipa heavy
water plants, seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Vinod dkk. Hasil penelitian
9

menunjukan metode RBI dapat digunakan untuk memperkirakan umur pipa dengan
menghitung kekuatan sisa pipa dengan menggunakan pemodelan(Santosh et al. 2006)
Penelitian yang dilakukan oleh Pradana membahas tentang perencanaan jadwal
inspeksi menggunakan metode RBI pada onshore pipeline. Dalam penelitian tersebut
identifikasi awal dilakukan dengan metode Failure Modes and Effect Analysis (FMEA)
kemudian hasil dari identifikasi akan dianalisis dengan menggunakan metode Risk
Based Inspection (RBI). Hasil penelitiannya ini diketahui bahwa pipa dan elbow
memiliki risiko serius sehingga memerlukan prioritas inspeksi(Pradana & Dwiyanti
2013).
Tujuan dari Program Risk-Based Inspection adalah sebagai berikut :
1)

Unit mengidentifikasi daerah-daerah yang berisiko tinggi terhadap peralatan yang


beroperasi di industri.

2)

Memperkirakan nilai risiko terkait dengan pengoperasian setiap item peralatan di


sebuah kilang minyak, kilang proses kimia dan pada industri tertentu berdasarkan
metodologi yang konsisten.

3)

Memprioritaskan perawatan pada peralatan berdasarkan nilai risiko.

4)

Merancang program inspeksi yang sesuai berdasar nilai risiko.

5)

Untuk mengelola risiko dan kegagalan peralatan secara sistematis untuk


mencegah konsekuensi bahaya.

6)

Mengendalikan risiko, bahaya, dan gangguan lingkungan secara terpadu yang


berakibat pada konsekuensi kerugian finansial pada perusahaan apabila terjadi
sebuah kegagalan pada peralatan.

7)

Mengidentifikasi daerah-daerah yang berisiko dengan konsekuensi kegagalan


tinggi yang dapat digunakan untuk melakukan mitigasi risiko sebagai upaya
meminimalisasi kegagalan.
Metode RBI mendefinisikan risiko peralatan operasi sebagai kombinasi dari dua

parameter terpisah yaitu perkalian dari konsekuensi kegagalan dan kemungkinan


kegagalan. Sehingga menurut RBI risiko didefinisikan seperti pada persamaan 2.2.
(2.2)

10

Sedangkan konsep RBI secara umum di lihat pada Gambar 2.2. Penerapan metode
RBI dapat menekan biaya belanja tetap perusahaan pada pos biaya perawatan peralatan
berbasis waktu (time based).

Gambar 2.2 Konsep manajemen Risk Based Inspection secara umum(Perumal 2014)
Hal ini dapat meningkatkan efisiensi dan juga menekan biaya (cost) inspeksi.
Secara umum, tujuan dari metode ini adalah dengan (a) menyeleksi atau menyaring
(screening) seluruh peralatan pada unit operasi dari suatu fasilitas

untuk

mengidentifikasi area yang memiliki risiko paling tinggi (high risk), (b) Menghitung
nilai risk (risk assessment) seluruh peralatan pada unit operasi dari hasil penghitungan
probability of failure dan consequence of failure, (c) Menentukan prioritas peralatan
yang membutuhkan inspeksi dan mitigasi berdasarkan hasil perhitungan risiko (risk
assessment), (d) Mengembangkan program inspeksi yang sesuai dan efektif dan (e)
Mengelola risiko akibat kegagalan yang terjadi pada suatu peralatan dan menentukan
metode mitigasi untuk mengurangi risiko tersebut.
2.3.1 Jenis-jenis Risk Based Inspection pada API 581
Dalam API 581 ada beberapa jenis Risk Based Inspection (RBI), yaitu kualitatif
RBI, semi-kuantitatif RBI dan kuantitatif RBI. Ketiga jenis ini memiliki tingkat
kerumitan yang berbeda dan juga kebutuhan data yang berbeda juga. Semua ini
ditentukan oleh industri proses yang akan dilakukan inspeksi. Dalam kualitatif RBI
dapat dilihat bahwa tingkat analisis detailnya lebih rendah dibandingkan pada kuantitatif
RBI.

11

2.3.2 Qualitative Risk Based Inspection


RBI kualitatif merupakan tingkatan paling sederhana dan mudah perhitungannya.
RBI kualitatif adalah metode pendekatan berdasarkan pengalaman sebagai penilaian
dimana nilai tidak dihitung secara numerik tetapi dengan cara penjelasan secara
deskriptif, misalnya tingkat low, medium atau high ataupun peringkat angka
seperti 1, 2 atau 3. Peringkat kualitatif

biasanya merupakan hasil dari rekayasa

menggunakan sebuah penilaian berbasis pendekatan penilaian(Prayogo 2015).


Keuntungan menggunakan model ini adalah biaya awal yang rendah, dapat
diselesaikan dengan cepat, hanya membutuhan sedikit informasi untuk menilai, dan
hasilnya

mudah disajikan. Sedangkan kelemahan RBI kualitatif adalah hasilnya

subyektif berdasarkan pendapat dan pengalaman dari tim RBI, dan tidak mudah
diperbaharui untuk inspeksi berikutnya(Prayogo 2015).
Metode kualitatif ini dapat diterapkan pada berbagai level sebagai berikut:
1) Sebuah unit operasi misalnya sebuah unit pemprosesan minyak mentah.
2) Sebuah wilayah utama atau bagian fungsional dalam unit operasi misalnya bagian
vakum dari unit pengolahan minyak mentah.
3) Sebuah sistem yaitu bagian utama dari peralatan dan perlengkapan misalnya
pemanas atmosfer termasuk penukar pakan panaskaan, pompa atau tangki.
Prosedur RBI kualitatif memiliki tiga fungsi yaitu:
1) Melakukan penyaringan atau pemilihan unit atau komponen dalam sebuah sistem
operasi untuk memilih tingkat analisis yang dibutuhkan dan untuk memastikan
manfaat dari analisis lebih lanjut.
2) Untuk melakukan penilaian tingkat risiko terhadap komponen atau unit dalamm
sistem operai yang akan dianalisis dalam bentuk diagram matrik risiko.
3) Mengidentifikasi area yang berpotensi menimbulkan bahaya atau kegagalan
sehingga dapat memberikan rekomendasi untuk melakukan prioritas inspeksi.
2.3.3 Quantitative Risk Based Inspection
Model kuantitatif dapat diartikan sebagai model berbasis pendekatan dimana
model yang cocok tersedia yaitu sebuah perhitungan nilai numerik terhadap informasi
berupa desain, keadaan operasi, ketahanan, potensi efek kegagalan terhadap manusia
12

dan lingkungan dengan menggunakan model logika seperti event trees. Nilai kuantitatif
dapat dinyatakan dan ditampilkan secara kualitatif untuk kesederhanaan. Dengan
menetapkan probabilitas dan konsekuensi kegagalan akan mendapatkan nilai risiko dan
peringkat risiko. Keuntungan dari pendekatan kuantitatif adalah bahwa hasilnya dapat
digunakan untuk menghitung beberapa presisi bila batas penerimaan risiko akan
dilanggar. Metode ini sistematis, konsisten dan terdokumentasi dan cocok untuk
kemudahan update berdasarkan temuan pemeriksaan. Pendekatan kuantitatif biasanya
melibatkan penggunaan komputer untuk menghitung risiko dan program inspeksi.
Tingkatan perhitungan risiko yang sangat akurat karena melibatkan perhitungan
yang komprehensif pada tiap bagian analisis yang dilakukan. Kemungkinan kegagalan
dapat dihitung berdasar subfaktor-subfaktor yang mewakili keadaan operasi dan
inspeksi peralatan dalam pembahasan lebih rinci daripada pembahasan yang dilakukan
dalam analisis kualitatif. Subfaktor universal, subfaktor mekanik, subfaktor proses dan
seluruh TMSF dihitung secara lengkap untuk mendapat harga parameter dari
kemungkinan. Untuk melakukan analisis RBI kuantitatif ini dibutuhkan data-data teknik
operasi dari sebuah peralatan, sistem dan unit yang akan di evaluasi yang sangat
berkualitas dan akurat. Ketidak lengkapan data akan menyebabkan analisis kuantitatif
ini tidak bisa dilaksanakan.
2.3.4 Semi-Quantitative Risk Based Inspection
Pendekatan

semi-kuantitatif

merupakan

gabungan

dari

dua

pendekatan

sebelumnya. Keuntungan dari pendekatan ini adalah kecepatan analisis yang merupakan
kelebihan dari pendekatan kualitatif dan ketelitian analisis yang merupakan kelebihan
dari pendekatan kuantitatif, sebagai contoh:
1) Penilaian Consequence of Failure (CoF) adalah kualitatif dan Probability of
Failure (PoF) kuantitatif.
2) Penilaian Consequence of Failure (CoF) dan Probability of Failure (PoF) adalah
kuantitatif, sedangkan peringkat risiko dan waktu penilaian inspeksi adalah
kualitatif.
3) Penilaian Probability of Failure (PoF) dan atau Consequence of Failure (CoF)
dilakukan alogaritma berdasarkan pilihan parameter yang paling relevan.
13

4) Penilaian Probability of Failure (PoF) dan Consequence of Failure (CoF)


berdasarkan engineering judgement.
Kendala pada analisis kuantitatif seperti tidak ditemukannya salah satu data teknik
dari operasi atau unit yang akan dievaluasi dapat di selesaikan melalui pendekatan semi
kuantitatif. Oleh karena itu, pendatan semi kuantitif menjadi sebuah solusi bagi
perusahaan yang akan melakukan analisis RBI, tetapi memiliki keterbatasan data teknik.
Meskipun demikian, laporan lengkap dari pihak ketiga yang melakukan inspeksi NDT
secara lengkap harus disediakan oleh perusahaan, karena data-data tersebut merupakan
data-data primer sebagai instrumen vital dalam melakukan analisis RBI semi kuantitatif.

Gambar 2.3 Proses Risk Based Inspection secara umum(API 2000)

Gambar 2.4 Rangkaian kesatuan proses RBI semi-kualitatif (API 2000)

14

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1

DIAGRAM ALIR PENELITIAN


Pada penelitian ini langkah-langkah pengujian mengacu pada diagram alir

seperti yang terlihat pada Gambar 3.1, berikut langkah pengujian yang telah terlaksana
dalam penelitian ini:
Mulai

Penentuan Judul

Studi Literatur

Spesifikasi Pipa

Studi Lapangan
Salah Satu Perusahaan
Distributor Gas Alam.

Persiapan Objek Pengukuran


Kalibrasi dan
Validasi

1. Pipa Gas Lurus


2. Pipa Gas Lurus
3. Sambungan Tee

15

Pengukuran pada Objek Pipa Gas


1. Pipa Gas Lurus (Inlet Automatic
Valve KP-20 20)
2. Pipa Gas Lurus (Outlet Automatic
Shutdown Valve KP-20 20)
3. Sambungan Tee (KP-20 20)

Pengamatan Visual Material

Pengukuran Thickness (Non

Pengambilan

pada Pipa Gas

Destructive Ultrasonic Thickness)

Sampel Gas

Probability of

Pengumpulan Data Hasil


Pengukuran

Failures
Consequences of
Failures

Perhitungan risiko,
Risk Matrix

Perhitungan Remaining
Life Time
Risk Based Inspection
Analisa
dan
Pembahasan
Kesimpulan dan Saran

Selesai
Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian.
16

API 581

3.2

GAMBARAN UMUM
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis risiko dan menentukan Remaining

Life Time pada pipa distribusi gas Cepu-Tambak Lorok, Semarang berdasarkan API 581
RBI Based Resource Document tahun 2000 dan API Risk Based Inspection 2008.
Metode Risk Based Inspection yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
secara Semi-Quantitative berdasarkan Risk Matrix yang didapat dari perhitungan
Probability of Failures dan Consequences of Failures. Setelah Risk Matrix didapatkan,
dilakukan proses analisa untuk mendapatkan rekomendasi inspeksi yang teliti dan dapat
menghemat biaya investasi yang besar.
3.3

PERALATAN PENELITIAN
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa komputer,

perangkat lunak Microsoft Office, kalkulator, alat tulis, alat penguji ketebalan NonDestructive Test (ultrasonic thickness gauge).
3.3.1 ALAT UKUR
a. Ultrasonic Thickness Gauge
Alat pengukur Ketebalan Plat Ultrasonic TM-8812 adalah alat pengukur
ketebalan benda padat model genggam yang dikendalikan dengan teknologi
mikroprosesor yang dirancang khusus untuk mengukur ketebalan bahan logam dan
non-logam misalkan aluminium, titanium, plastik, keramik, kaca, besi, emas, perak,
tembaga, kuningan, seng, timah termasuk karet dan lainnya yang mampu
menghantarkan gelombang ultrasonik dengan baik, asalkan mereka memiliki
permukaan paralel atas dan bawah. Alat yang digunakan menggunakan merk
MiTech buatan China.

17

Gambar 3.2 Ultrasonic Non-Destructive thickness Testing merk mitech.


b. Sensor Uji Ketebalan
Sensor uji ketebalan yang dipakai adalah sensor yang berfungsi untuk
mendeteksi dan mengidentifikasi serta menampilkan hasil nilai ketebalan dinding
pada area tertentu yang sedang dilakukan pengukuran. Nilai ketebalan ini
digunakan sebagai hasil dari pengujian atau inspeksi yang dilakukan. Hasil dari
nilai ketebalan akan digunakan sebagai referensi untuk memperkirakan usia pakai
dari alat yang sedang dilakukan pengukuran sehingga dapat menghindari terjadinya
kebocoran yang dapat menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti
terjadinya ledakan.
Gambar 3.3 Sensor uji ketebalan.
3.4

OBJEK UKUR
Objek ukur yang digunakan pada penelitian ini ada pipa gas pada proyek

Pengembangan Pipa Gas Jawa(PPGJ). Gas yang didistribusikan dari Cepu menuju
Tambak

Lorok-

Semarang

digunakan untuk

pembangkit

listrik area Jawa

Tengah.

Gambar 3.4 Pipa pada plant receiver

Pipa distribusi
gas PPGJ

Berikut adalah spesifikasi pipa distribusi gas tersebut sesuai standard pada API 5L:
Tabel 3.1 Spesifikasi Pipa Lurus(PT. Sumber Petrindo Perkasa 2011).

18

ini

Standard

API 5L Grade X65 44th Edition

Product Specification Level

PSL 2

Grade

X65

Lengths

12 m (min 11,9 m, mas 12,5 m)

Size and Wall Thickness

ID 20 , 12,7 mm WT

Chemical Composition

Lihat tabel 3.2

Carbon Equivalent

0.25% (Pcm) atau 0,43% (HW)

Tabel

Yield Strength

448-600 MPa

Chemical

Ultimate Tensile Strength

531-758 Mpa

Composition(

10

YS/TS Ratio Max

0,90

PT.

3.2

Sumber

Petrindo

Perkasa 2011).

19

Tabel 3.3 Spesifikasi Pipa Tee[23]

Standard

API 5L Grade X65 44th Edition

Product Specification Level

PSL 2

Grade

X65M

Lengths

0,6 m (min 0,59 m, mas 0,65 m)

Size and Wall Thickness

ID 20 , 23,8 mm WT

Chemical Composition

Lihat tabel 3.4

Carbon Equivalent

0.25% (Pcm) atau 0,43% (HW)

Yield Strength

450-570 MPa

Ultimate Tensile Strength

535-760 Mpa

10

YS/TS Ratio Max

0,93

Composition(PT. Sumber Petrindo Perkasa 2011).

20

Tabel
Chemical

3.4

3.4.1 Area Pengukuran


Pengukuran yang dilakukan pada pipa KP-20 meliputi 3 komponen pipa yaitu:
1. Pipa Gas Lurus (Inlet Automatic Shutdown Valve KP-20 20)

Gambar 3.5 Pipa Gas Lurus


Daerah yang diukur

Daerah yang diukur


21

Gambar 3.6 Pipa Gas Lurus

Daerah yang diukur


Gambar 3.7 Sambungan Tee Pipa

3.5

PROSES PENGUKURAN
Proses pengukuran yang dilakukan pada penelitian ini adalah pengukuran

ketebalan dinding pipa yang dilalui gas aliran tujuan Tambak Lorok, Semarang. Data
hasil pengukuran ketebalan ini akan digunakan dalam perhitungan untuk mendapatkan
Probability of Failures dalam analisa risiko menggunakan Risk Matrix.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat Non-Destructive Test yaitu
00
Ultrasonic Thickness Mitech MT-160. Pengukuran dilakukan pada 4 area setiap
komponennya sebanyak 4 titik pada sudut: 00, 900, 1800, 2700. Setelah didapatkan nilai
pengukuran pada setiap area di tiap komponen, maka akan diambil rata-rata hasil
pengukuran.
2700

900

22

1800

Gambar 3.8 Titik Pengukuran Ketebalan Pipa

DAFTAR PUSTAKA
Api, 2000. Risk-Based Inspection Based Resource Document.
Badrus, Z.M., 2005. Penilaian Resiko Pada Boiler Di Pt.Ipmomi Unit 7&8 Paiton
Dengan Menggunakan Standard Api 581. , Pp.78.
Fadlan, W., 2015. Kajian Resiko Pipa Gas Transmisi Pt Pertamina Studi Kasus Simpang
Km32-Palembang. , 3(1), Pp.726733.
Krishnasamy, L., Khan, F. & Haddara, M., 2005. Development Of A Risk-Based
Maintenance (Rbm) Strategy For A Power-Generating Plant. Journal Of Loss
Prevention In The Process Industries, 18(2), Pp.6981.
Melchers, R.E. & Feutrill, W.R., 2001. Risk Assessment Of Lpg Automotive Refuelling
Facilities. , 74.
Noori, S.A. & Price, J.W.H., 2006. A Risk Approach To The Management Of Boiler
Tube Thinning. Nuclear Engineering And Design, 236(4), Pp.405414.
Perumal, K.E., 2014. Corrosion Risk Analysis , Risk Based Inspection And A Case
23

Study Concerning A Condensate Pipeline. Procedia Engineering, 86, Pp.597605.


Available At: Http://Dx.Doi.Org/10.1016/J.Proeng.2014.11.085.
Pluvinage, G. & Elwany, M.H., 2013. Safety, Reliability And Risk Associated With
Water, Oil And Gas Pipelines,
Pradana, R.K. & Dwiyanti, E., 2013. Analisis Risiko Hydrogen Recovery Unit (Hru)
Dan Prioritas Risiko Kegagalan Komponen Pipa Gas Hidrogen Di Pt Petrokimia.
Prayogo, G.S., 2015. Analisis Risiko Heat Recovery Steam Generator Dengan Metode
Risk Based Inspection Semi Kuantitatif Api 581.
Pt. Sumber Petrindo Perkasa, 2011. Specification Of Line Pipe.
Santosh Et Al., 2006. Reliability Analysis Of Pipelines Carrying H 2 S For Risk Based
Inspection Of Heavy Water Plants. , 91, Pp.163170.
Satmoko, M.E.A. Et Al., 2015. Risk Assessment On Gas Piping Against Corrosion
Using A Risk Based Inspection Api 581. , 1(Sens 1), Pp.6471.
Verdana, A., 2010. Penentuan Jenis Dan Waktu Inspeksi Pipa Penyalur Gas
Berdasarkan Tingkat Risiko Studi Kasus: Pipa Transmisi Gas Suban-Grisik,
Vinod, G. Et Al., 2014. New Approach For Risk Based Inspection Of H 2 S Based
Process Plants. Annals Of Nuclear Energy, 66, Pp.1319.

24