Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM FITOFARMASI

KELOMPOK A2

FORMULASI SEDIAAN INFUSA


EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L.)

Nama Anggota:
Anis Rohmawati

(112210101061)

Rahma Fatdriyah

(112210101063)

Dewi Kusumaningrum P.

(122210101049)

Lisa AyuWardani

(122210101061)

Aulia Putri Kandy

(122210101063)

Alifianti Balinda P.

(122210101067)

Rosyida Fatimatuz Z.

(122210101069)

Aulia Aditya A.

(122210101071)

Nidya Rizqi I.

(122210101073)

Juwita Permata S. G.

(122210101081)

Annisa Raghda E. N.

(122210101097)

Muh. Agus Maluddin

(122210101103)

Putri Kartika Ningsih

(122210101105)

Haris Raudhatuzakinah D. (122210101111)

BAGIAN BIOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB I. PENDAHULUAN

Daun sirih (Piper betle L.) secara umum telah dikenal masyarakat sebagai bahan obat
tradisional. Seperti halnya dengan antibiotika, daun sirih juga mempunyai daya antibakteri.
Selain itu bioaktivitas yang pernah diteliti pada daun sirih (Piper betle L.) adalah sebagai
antioksidan, anti inflamasi, antiseptik, pereda sakit gigi, anti jamur, anti-kandida,
imunomodulator, sebagai penekan syaraf pusat (CNS-depressant), kontrasepsi, deobstruen,
digestif, inhalan, pencegah malaria, sterilan, penurun panas. Kemampuan tersebut karena
adanya berbagai zat yang terkandung di dalamnya. Daun sirih mengandung 4,2 % minyak
atsiri yang sebagian besar terdiri dari Chavicol paraallyphenol turunan dari Chavica betel.
Isomer Euganol allypyrocatechine, Cineol methil euganol dan Caryophyllen, kavikol,
kavibekol, estragol, terpinen (Sastroamidjojo, 1997). Senyawa-senyawa penyusun minyak
atsiri daun sirih terdiri dari 2 komponen fenol yaitu isomer betel fenol dari kavikol dan
eugenol dengan berbagai kombinasi fenol seperti allil pirokatekol, kavibetol, karvakol, metil
eugenol, sineol dan estragol.
Senyawa yang berperan terhadap bioaktivitas tersebut antara lain adalah:

Karvakol bersifat sebagai desinfektan dan antijamur sehingga bisa digunakan sebagai
antiseptik, euganol dan methyl-euganol dapat digunakan untuk mengurangi sakit gigi
(Syukur dan Hernani, 1997).

Selain itu di dalam daun sirih juga terdapat flavanoid, saponin, dan tannin. Menurut
Mursito (2002) saponin dan tannin bersifat sebagai antiseptik pada luka permukaan,
bekerja sebagai bakteriostatik yang biasanya digunakan untuk infeksi pada kulit, mukosa
dan melawan infeksi pada luka. Flavanoid selain berfungsi sebagai bakteriostatik juga
berfungsi sebagai anti inflamasi.

Kartasapoetra (1992) menyatakan daun sirih antara lain mengandung kavikol dan
kavibetol yang merupakan turunan dari fenol yang mempunyai daya antibakteri lima kali
lipat dari fenol biasa terhadap Staphylococcus aureus.

Senyawa fenol dapat berfungsi sebagai antioksidan apabila tidak berdiri sendiri.
Dengan banyaknya senyawa aktif yang dapat menimbulkan efek terapetik daun sirih

maka telah banyak penelitian mengenai bioaktivitas daun sirih itu sendiri. Berikut merupakan
beberapa penilitian mengenai daun sirih yang telah dilakukan: Efek pemberian ekstrak daun
sirih (Piper betle L.) pada jumlah leukosit darah tepi model hewan coba tikus wistar jantan

yang dipapar Candida albicans secara intrakutan (Pritasari, 2012), Studi In Vitro Efek
Larvasidal Minyak Atsiri Daun Sirih (Piper betle L) Sri Lanka dan Bogor terhadap Larva
Chrysomya bezziana (April dkk, 2010), Aktivitas antifungi ekstrak daun sirih hijau (Piper
betle L.) terhadap Candida tropicalis (Rahmadani, Puji., 2014), Uji Aktivitas Antibakteri
Ekstrak Terpurifikasi Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) Terhadap Bakteri Propionibacterium
acnes (Widyaningtias, 2012), Aktivitas larvasida dari daun sirih (Piper betle Linn.) terhadap
larva nyamuk

Aedes

aegypti

(Parwata,

2011),

Antimicrobial, anti-oxidative and

anti-hemolytic activity of Piper betel leaf extracts (Chakraborty, 2011).


Pada Praktikum kali ini kami akan memformulasi daun sirih menjadi bentuk sediaan
Infusa. Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air
pada 90-980C selama 15 menit. Umumnya infusa selalu dibuat dari simplisia yang
mempunyai jaringan lunak, yang mengandung minyak atsiri, dan zat-zat yang tidak tahan
pemanasan lama (Depkes RI, 1979). Kelebihan metode Infudasi adalah peralatan sederhana,
mudah dipakai, biaya murah, dapat menyari simplisia dengan pelarut air dalam waktu singkat.
Apabila dibandingkan dengan metode ekstraksi lain seperti maserasi yang prosesnya lama dan
butuh waktu beberapa hari. Sedangkan apabila dibandingkan dalam pembuatan ekstrak,
kandungan dari bahan tumbuhan dan pelarut yang paling tepat untuk masing-masing
kandungan harus diketahui lebih dahulu. Dengan zat pelarut yang tepat, zat aktif yang
diinginkan akan terpisah dari bahan aslinya dan bercampur dengan pelarut yang digunakan.
Berdasarkan hal di atas maka pada praktikum ini digunakan tanaman sirih (Piper betle
L.), dimana yang digunakan adalah bagian daun sirih (Piper betle L.) yang lunak. Selain itu
daun sirih (Piper betle L.) juga mengandung 15 komponen minyak atsiri yang didominasi 4
komponen yaitu : 4-Allyl phenil acetat; Eugenol (2-metoksi-4-(2- prophenil) fenol), 3- Allyl6-methoxy phenil acetat dan 4-(2- prophenyl)-phenol atau kavikol (Parwata, 2011).

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Uraian Tanaman Sirih


Sirih merupakan tanaman menjalar dan merambat pada batang pokok di sekelilingnya
dengan daunnya yang memiliki bentuk pipih seperti gambar hati, tangkainya agak panjang,
tepi daun rata, ujung daun meruncing, pangkal daun berlekuk, tulang daun menyirip, dan
daging daun yang tipis. Permukaan daunnya berwarna hijau dan licin, sedangkan batang
pohonnya berwarna hijau tembelek atau hijau agak kecoklatan dan permukaan kulitnya kasar
serta berkerut-kerut. Sirih hidup subur dengan ditanam di atas tanah gembur dengan keadaan
tanah yang tidak terlalu lembab dan memerlukan cuaca tropika dengan air yang mencukupi.
Sirih merupakan tumbuhan obat yang sangat besar manfaatnya.
Sirih dikenal dengan beberapa nama di Sumatera, yaitu suru kuwe, purokuwo
(enggaro), ranub (Aceh), blo, sereh (Gayo) blo (Alas), belo (Batak Karo), demban (Batak
Toba), dll (Wijaya Kusuma dkk., 1992).
Tanaman sirih merupakan tanaman yang tumbuh memanjat dengan tinggi tanaman 5
sampai 15 cm. Helaian daun berbentuk bundar telur atau bundar telur lonjong. Pada bagian
pangkal berbentuk jantung atau agak bundar, tulang daun bagian bawah gundul atau berbulu
sangat pendek, tebal berwarna putih panjang 5 sampai 18 cm, dan lebar 2,5 sampai 10,5 cm.
Daun pelindung berbentuk lingkaran, bundar telur sungsang, atau lonjong dengan panjang
kira-kira 1 mm. Perbungaan berupa bulir, sendiri-sendiri di ujung cabang dan berhadapan
dengan daun. Bulir bunga jantan memiliki panjang gagang 1,5-3 cm dengan benang sari yang
sangat pendek. Bulir bunga betina mempunyai panjang gagang 2,5-6 cm dan panjang kepala
putik 3-5 cm. Buah buni bulat dengan ujung gundul. Bulir yang masak berbulu kelabu, rapat,
dengan tebal 1-1,5 cm. Biji berbentuk bulat (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
Berdasarkan ilmu taksonomi, klasifikasi tanaman sirih adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Piperales

Familia

: Piperaceae

Genus

: Piper

Spesies

: Piper betle L. (Depkes RI, 1980 dalam Yudha 2009)

Menurut Sastroamidjojo (1997), daun sirih dapat digunakan untuk pengobatan


berbagai macam penyakit diantaranya obat sakit gigi dan mulut, sariawan, abses rongga
mulut, luka bekas cabut gigi, penghilang bau mulut, batuk dan serak, hidung berdarah,
keputihan, wasir, tetes mata, gangguan lambung, gatal-gatal, kepala pusing, jantung berdebar
dan trachoma (Syukur dan Hernani, 1999).
Khasiat dari daun sirih ini selain sebagai styptic (penahan darah) dan vulnerary (obat
luka pada kulit) juga berdaya antioksidan, antiseptik, fungisida dan bahkan sebagai
bakterisidal. Hal ini juga dikatakan oleh Widarto (1990) bahwa daun sirih mengandung
minyak atsiri yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba. Minyak atsiri dan ekstrak
daun sirih mempunyai aktivitas terhadap beberapa bakteri Gram positif dan Gram negatif
(Darwis, 1992).
Daun sirih dapat digunakan sebagai anti bakteri karena mengandung 4,2% minyak
atsiri yang sebagian besar terdiri dari betaphenol yang merupakan isomer Eugenol
allypyrocatechine, cineol methil eugenol, caryophyllen (seskuiterpen), kavikol, kavibekol,
estragol dan terpinen (Sastroamidjojo, 1997).
Kandungan kimia utama yang memberikan ciri khas daun sirih adalah minyak atsiri.
Selain minyak atsiri, senyawa lain yang menentukan mutu daun sirih adalah vitamin, asam
organik, asam amino, gula, tanin, lemak, pati, dan karbohidrat. Komposisi minyak atsiri
terdiri dari senyawa fenol, turunan fenol propenil (sampai 60%). Komponen utamanya
eugenol (sampai 42,57%) karvakol, chavikol, kavibetol, alipirokatekol, kavibetol asetat,
alipirokatekol asetat, sineol, estragol, eugenol, metil eter, p-simen, karyofilen kadinen dan
senyawa seskuiterpen (Darwis, 1992).
Sebagai obat, seduhan daun sirih dapat dimanfaatkan untuk menghilangkan bau mulut,
menghentikan perdarahan gusi, menciutkan pembuluh darah serta sebagai obat batuk
(Dharma, 1985).
Hasil uji farmakologi menunjukkan bahwa infusa daun sirih dapat menghambat
pertumbuhan bakteri penyebab pneumonia dan Gaseus gangrene. Air rebusan daun sirih dapat
digunakan untuk mengobati batuk maupun berfungsi sebagai bakterisid terutama terhadap
Haemophylus influenzae, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus haemoliticus (Mursito,
2012).
Pada uji dengan metode dilusi air rebusan daun sirih jawa dapat menghambat
pertumbuhan Staphylococcus aureus pada konsentrasi 60% (Irmasari, 2002).

2.2. Metode Ekstraksi untuk Daun Sirih


Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat
terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut
dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Metode yang sering digunakan antara lain dengan cara
dingin yaitu maserasi, perkolasi atau dengan cara panas yaitu refluks, soxhlet, digesti, infuse,
dan dekokta (Hermiati et al, 2013).
Metode ekstraksi yang sering digunakan untuk daun sirih (Piper betle) adalah
maserasi, digesti, dan infusa. Maserasi merupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan
dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada
temperatur kamar dan terlindung dari cahaya. Metode maserasi digunakan untuk menyari
simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak
mengandung benzoin, tiraks dan lilin. Keuntungan dari metode ini adalah peralatannya
sederhana. Sedang kerugiannya antara lain waktu yang diperlukan untuk mengekstraksi
sampel cukup lama, cairan penyari yang digunakan lebih banyak, tidak dapat digunakan untuk
bahan-bahan yang mempunyai tekstur keras seperti benzoin, tiraks dan lilin.
Berdasarkan jurnal Jahir Alam Khan (2011), metode ekstraksi yang digunakan adalah
maserasi. Tahapan yang dilakukan yaitu sebanyak 5 g serbuk simplisia Piper betel direndam
dalam campuran pelarut etanol 70% dan methanol 80%. Disimpan selama 4 hari dalam
ruangan gelap sehingga metabolit sekundernya terlarut. Kemudian difiltrasi dengan kertas
saring Whatman No 1. Selanjutnya filtrat disimpan dalam suhu 50C sehingga metanol dan
etanol menguap. Lalu metabolit kering dilarutkan kembali dalam 100 mm Tris HCl dengan
konsentrasi akhir yaitu 500mg/ml.
Digesti adalah metode ekstraksi dengan cara maserasi kinetik (pengadukan kontinyu)
menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu 400500C. Cara maserasi ini hanya dapat
dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap pemanasan. Dengan pemanasan
diperoleh keuntungan antara lain :
1. Kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya lapisanlapisan batas.
2. Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga pemanasan tersebut
mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan.
3. Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolut dan berbanding terbalik dengan
kekentalan, sehingga kenaikan suhu akan berpengaruh pada kecepatan difusi.
Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan.

4. Jika cairan penyari mudah menguap pada suhu yang digunakan, maka perlu dilengkapi
dengan pendingin balik, sehingga cairan akan menguap kembali ke dalam bejana
(Pitchaon Maisuthisakul).
Berdasarkan jurnal Pitchaon Maisuthisakul, ekstraksi dilakukan dengan cara digesti
yaitu daun sirih segar sebanyak 80 g dihaluskan selama 1 menit dengan pelarut tertentu yaitu
metanol atau etanol, kemudian dilakukan pengadukan pada suhu 30C. Selanjutnya
dilakukan filtrasi dengan kertas saring Whatman No 4 lalu filtratnya diuapkan didalam
vakum.
Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstrak simplisia nabati
dengan air pada suhu 90o C selaam 10-15 menit yang dihitung sejak air mendidih. Jika bahan
yang digunakan untuk membuat dekok berasal dari bahan bertekstur keras, bahan yang
digunakan dalam infusa berasal dari bahan yang lunak (simplisi, daun dan bunga) seperti daun
kumis kucing, daun meniran, daun pegagan, bunga mawar, bunga melati, dan daun sambiloto.
Cara membuat infusa hampir sama dengan merebus teh. Siapkan simplisia kering 25-30 gram
atau bahan segar 75-90 gram. Bahan tersebut direbus dalam air mendidih 500 cc selama 15
menit atau sampai volumenya menjadi 250 cc. Setelah direbus airnya disaring dan hasil
penyaringan ini disebut infusa.
Di antara ketiga cara tersebut yang paling umum digunakan adalah metode infusa. Hal
ini disebabkan metode infusa lebih menguntungkan sebab teknik infusa lebih murah, lebih
cepat, dan alat serta caranya sederhana. Sedangkan dalam pembuatan ekstrak, kandungan dari
bahan tumbuhan dan pelarut yang paling tepat untuk masing-masing kandungan harus
diketahui lebih dahulu. Dengan zat pelarut yang tepat, zat aktif yang diinginkan akan terpisah
dari bahan aslinya dan bercampur dengan pelarut yang digunakan (Santoso, 1993). Selain itu,
daun sirih memiliki kandungan yang tahan terhadap pemanasan sehingga metode infusa lebih
umum digunakan.
Berdasarkan penelitian Abdul Munim dkk, pembuatan infusa daun sirih dengan cara
serbuk daun sirih sebanyak 20 g ditambahkan akuades hingga 50 ml. Selanjutnya direbus
selama 15 menit terhitung saat suhu 90oC sambil sesekali diaduk. Setelah dingin, larutan
disaring dan dicukupkan volumenya dengan akuades hingga 50 ml. Konsentrasi infusa yang
didapatkan adalah 40%.

2.3. Metode Analisis Senyawa Marker dalam Ekstrak atau Sediaan tertentu secara KLT
Densitometri
Kromatografi adalah proses pemisahan yang didasarkan atas perbedaan distribusi
komponen diantara fase gerak dan fase diam (Vogel, 1978). Pada Kromatografi Lapis Tipis,
cuplikan yang akan dipisahkan ditotolkan pada lapisan tipis yang nantinya akan diabsorpsi
oleh alat penyerap dan selanjutnya dieluasi oleh fase gerak. Pemisahan ini didasarkan pada
sifat polaritas senyawa. Senyawa yang memiliki polaritas hampir sama dengan fasa geraknya
akan tereluasi terlebih dahulu dibandingkan dengan senyawa yang sifat polaritasnya berbeda
dengan fasa geraknya. Dalam Kromatografi Lapis Tipis, terjadi persaingan antara proses
penyerapan yang cenderung menempelkan senyawa dalam fasa diam dan proses pelarutan
yang cenderung membawa dalam fasa gerak (Shellard, 1975).
Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan cara analisis cepat yang memerlukan bahan
yang sedikit. Untuk penelitian pendahuluan kandungan flavonoid suatu ekstrak, sudah
menjadi kebiasaan umum untuk menggunakan pengembang beralkohol pada pengembangan
pertama dengan kromatografi lapis tipis, misalnya butanol-asam asetat-air (BAA) (Markham,
1988). Surayya (2000) menggunakan eluen BAA (6:1:2) untuk memisahkan flavonoid dari
biji kapas. Purwaningsih (2003) menggunakan BAA (4:1:5) untuk memisahkan senyawa
flavonoid dari biji kacang tunggak. Sedangkan Dani (2005) menggunakan BAA (4:1:5), BAA
(6:1:2), metanol-kloroform dengan variasi komposisi (7:3), (6:4), (5:5), (4:6), (3:7), (2:8),
(1:9), (1:19), dan (1:39) untuk memisahkan senyawa flavonoid dari daun kelor.
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah salah satu metode pemisahan komponen
menggunakan fasa diam berupa plat dengan lapisan bahan adsorben inert. KLT sering
digunakan untuk identifikasi awal, karena banyak keuntungan menggunakan KLT, di
antaranya adalah sederhana dan murah.
Eluen KLT dipilih dengan cara trial and error. Kepolaran eluen sangat berpengaruh
terhadap Rf (faktor retensi) yang diperoleh. Faktor retensi (Rf) adalah jarak yang ditempuh
oleh komponen dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh eluen. Nilai Retardation factor (Rf)
tersebut, digunakan sebagai metode identifikasi sederhana yang didefinisikan dengan
persamaan :
Rf =
Tetapi pada gugus-gugus yang besar dari senyawa-senyawa yang susunannya mirip,
seringkali harga Rf berdekatan satu sama lainnya (Sastroshamidjojo, 2002).

Senyawa yang mempunyai Rf lebih besar berarti mempunyai kepolaran yang rendah,
begitu juga sebaliknya. Hal tersebut dikarenakan fasa diam bersifat polar. Senyawa yang lebih
polar akan tertahan kuat pada fasa diam, sehingga menghasilkan nilai Rf yang rendah. Rf
KLT yang bagus berkisar antara 0,2-0,8. Jika Rf terlalu tinggi, yang harus dilakukan adalah
mengurangi kepolaran eluen, dan sebaliknya.
Ekstrak etanol, fraksi n-heksan, dan etilasetat dilakukan analisis dengan KLT
menggunakan plat pra lapis silika gel F254, dengan fase gerak n-heksanetilasetat dengan
perbandingan: (8:2), (7:3), (6:4), (5:5) dan penampak noda LiebermanBurchard, kloroform
metanol (7:3), toluen-etilasetat (6:4) dengan penampak noda FeCl3.
Ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi etilasetat masing-masing sebanyak 10 l
ditotolkan dengan jarak 2 cm diantara pentotolan pada plat KLT, dimasukkan dalam bejana
kromatografi yang telah jenuh dengan larutan pengembang, kemudian dielusi sampai batas
pengembangan. Plat dikeluarkan lalu dikeringkan dan amati di bawah sinar UV, disemprot
dengan penampak noda, selanjutnya dipanaskan di oven pada suhu 110oC selama 10 menit,
warna yang timbul diamati dan dihitung harga Rf-nya (Harborne 1987, Sastrohamidjojo 1985,
Wagner et al. 1984).
Pembandingan Rf flavonoid yang belum dikenal dengan Rf flavonoid yang telah
dikenal dan yang sejenis merupakan cara yang berguna untuk membandingkan flavonoid yang
sedang diidentifikasi (Markham, 1988).
Tabel Petunjuk penafsiran senyawa flavonoid pada kromatogram dengan eluen campuran
metanol kloroform (1/4-93/4)
Jenis Flavonoid
Flavonol
Kaemferol
Kuersetin
Mirisetin
Isoramnetin
Azaleatin
Gosipetin
Flavon
Apigenin
Luteolin
Krisoeriol
Trisin
Glikosiflavon
Viteksin
Isoviteksin
Iso-orientin
Biflavonil

Rf (x100)
83
64
43
74
48
31
89
78
82
73
41
56
41

Kayaflavon
Khalkon
Isolikuiritigenin
Butein
Isoliritigenin 4-glukosida
Isosalipurposida
Auron
Sulfuretin
Aureusidin
Aureusidin 4-glukosida
Aureusidin 6-glukosida
Flavanon
Narigenin
Hesperitin
Hesperidin
Naringin
Dihidrokuersetin
Dihidrokhalkon
Floridzin
Isoflavon
Daidzein
Genistein
Xanton
Mangiferi

98
89
78
61
67
80
57
49
28
89
89
48
59
78
75
92
94
45

Sumber: Harborne, 1987

Penggunaan berbagai macam komposisi eluen diharapkan mampu memisahkan


komponen-komponen senyawa flavonoid yang terkandung dalam daun sirih. Data hasil
pemisahan ekstrak flavonoid dengan KLT analitik menggunakan eluen lapisan atas dari
campuran n-butanol asam asetat glasial air (BAA) dengan komposisi (4:1:5), (6:1:2), dan
metanol kloroform (7:3), (6:4), (5:5), (4:6), (3:7), (2:8), (1:9), (1:19) dan (1:39) yaitu :
Data penampakan noda dari fasa organik yang dihasilkan pada KLT analitik berdasarkan
berbagai macam komposisi eluen menggunakan lampu UV 254 nm dan 366 nm.
No

Variasi komposisi eluen

Jumlah noda

Keterangan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Metanol : kloroform (1:39)


Metanol : kloroform (1:19)
Metanol : kloroform (1:9)
Metanol : kloroform (2:8)
Metanol : kloroform (3:7)
Metanol : kloroform (4:6)
Metanol : kloroform (5:5)
Metanol : kloroform (6:4)
Metanol : kloroform (7:3)
n-butanol asam asetat : air (4:1:5)
n-butanol asam asetat : air (6:1:2)

9
4
2
1
1
1
1
1
1
1
1

Terpisah baik
Terpisah baik
Terpisah baik
Tak terpisah
Tak terpisah
Tak terpisah
Tak terpisah
Tak terpisah
Tak terpisah
Tak terpisah
Tak terpisah

Tabel harga Rf dan warna noda hasil KLTA eluen terbaik metanol:kloroform (1:39) dibawah
sinar UV 254 nm dan 366 nm
Warna noda
Noda
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Rf
0,06
0,11
0,24
0,48
0,53
0,59
0,70
0,86
0,92

254 nm

366 nm

Hijau
Hijau-kuning
Hijau tua
Hijau-kuning
Hijau-kuning
Hijau-kuning
Hijau-kuning
Hijau-kehitaman
Hijau-kehitaman

Jingga
Merah

Data Rf hasil KLT preparatif dan warna noda dengan eluen campuran metanol-kloroform
(1:39), di bawah sinar UV 254 nm dan golongan flavonoid yang mungkin.
Isolat
1

Warna noda dengan sinar ultraviolet


Tanpa NH3
Dengan NH3
0,15 Hijau
Hijau
Rf

0,25 Fluoresensi
Biru muda
0,35 Lembayung
gelap

Fluoresensi murup
biru muda
Kuning

0,47 Fluoresensi
biru muda
0,53 Kuning redup

Fluoresensi murup
biru muda
Perubahan warna
sedikit atau tanpa
perubahan

0,59 Hijau-biru

Perubahan warna
sedikit atau tanpa
perubahan

0,70 Fluoresensi
biru muda

Perubahan warna
sedikit atau tanpa
perubahan

Jenis senyawa flavonoid yang


mungkin
a. Auron yang tak mengandung 4OH bebas dan flavon tanpa 5-OH
bebas
b. Flavonol yang mengandung 3-OH
bebas dan disertai atau tanpa 5-OH
bebas
Isoflavon yang tak mengandung 5OH bebas
a. Biasanya 5-OH flavon atau
flavonol (tersulih pada 3-O dan
mempunyai 4-OH)
b. Kadang-kadang 5-OH flavon dan
4-OH khalkon tanpa OH pada
cincin B
Isoflavon yang tak mengandung 5OH bebas
Flavonol yang mengandung 3-OH
dan mempunyai atau tak mempunyai
5-OH bebas (kadang-kadang berasal
dari dihidroflavonol)
a. Auron yang tak mengandung 4OH bebas dan flavanon tanpa 5OH bebas
b. Flavonol yang mengandung 3-OH
bebas dan disertai atau tanpa 5-OH
bebas
Isoflavon yang tak mengandung 5OH bebas

0,86 Hijau-kuning

0,92 Hijau

Hijaua. Auron yang tak mengandung 4kuning/perubahan


OH bebas dan flavanon tanpa 5warna sedikit atau
OH bebas
tanpa perubahan
b. Flavonol yang mengandung 3-OH
bebas dan disertai atau tanpa 5-OH
bebas
Hijau
a. Auron yang tak mengandung 4OH bebas dan flavanon tanpa 5OH bebas
b. Flavonol yang mengandung 3-OH
bebas dan disertai atau tanpa 5-OH
bebas

Sumber : Markham, 1988

Data Rf hasil KLT preparatif dan warna noda dengan eluen campuran metanol-kloroform
(1:39), di bawah sinar UV 366 nm dan golongan flavonoid yang mungkin.
Warna noda dengan sinar ultraviolet
Tanpa NH3
Dengan NH3
Hijau-biru
Ungu
Tak nampak
Fluoresensi biru
muda
Tak nampak
Merah jambu
Fluoresensi
Tanpa perubahan
jingga

Isolat

Rf

1
2

0,24
0,45

3
4

0,50
0,67

0,78

Biru

Hijau-biru

0,92

Fluoresensi
jingga

Tanpa perubahan

0,96

Fluoresensi
jingga

Tanpa perubahan

Jenis senyawa flavonoid yang


mungkin
Isoflavon tanpa 5-OH bebas
Flavonol yang mengandung 3-OH
bebas dan mempunyai atau tak
mempunyai 5-OH bebas (kadangkadang berasal dari dihidroflavonol)
a. Flavon dan flavanon yang tak
mengandung 3-OH mengandung 5OH
b. Flavonol tanpa 5-OH bebas tetapi
tersulih pada 3-OH
Flavonol yang mengandung 3-OH
bebas dan mempunyai atau tak
mempunyai 5-OH bebas (kadangkadang berasal dari dihidroflavonol)
Flavonol yang mengandung 3-OH
bebas dan mempunyai atau tak
mempunyai 5-OH bebas (kadangkadang berasal dari dihidroflavonol)

Sumber : Markham, 1988

2.3. Bentuk Sediaan


Bentuk sediaan yang akan dibuat adalah infusa. Menurut Farmakope Indonesia edisi
ketiga, Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air
pada suhu 900C selama 15 menit. Pembuatan campur simplisia dengan derajat halus yang
cocok dalam panci dengan air secukupnya, panaskan di atas tangas air selama 15 menit

terhitung mulai suhu mencapai 900C sambil sekali diaduk. Serkai selagi panas melalui kain
flannel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infusa yang
dikehendaki. Untuk infusa dari simplisia yang mengandung minyak atsiri seperti yang
digunkan dalam praktikum kali ini yaitu daun sirih (Folia Piper Betle) maka diserkai setelah
dingin.
Kecuali dinyatakan lain, dan kecuali untuk simplisia yang tertera dibawah, infusa yang
mengandung bukan bahan khasiat keras, dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Untuk
pembuatan 100 bagian infusa tanaman berikut berikut, digunakan sejumlah yang tertera.
Kulit kina........................................................................ 6 bagian
Daun digitalis.................................................................. 0,5 bagian
Akar Ipeka ..................................................................... 0,5 bagian
Daun Kumis kucing.......................................................... 0,5 bagian
Sekale Kornutum.............................................................. 3 bagian
Daun Sena........................................................................ 4 bagian
Temulawak....................................................................... 4 bagian
Derajat halus simplisia yang digunakan untuk infus harus mempunyai derajat halus
sebagai berikut :
Serbuk 5/8 = Akar manis, daun kumis kucing, daun sirih, daun sena
Serbuk 8/10 = Dringo, kelembak
Serbuk 10/22 = Laos, akar valerian, temulawak, jahe
Serbuk 22/60 = Kulit kina, akar ipeka,sekale kornutum
Serbuk 85/120 = Daun digitalis
Sediaan infusa daun sirih berupa cairan berwarna hitam, rasa sedikit pedas dan pahit
dengan bau spesifik, bila didiamkan akan berbentuk sedikit endapan coklat (Soemiati, 2002).
Pada penentuan kadar hambat minimal (KTM) Infus daun sirih terhadap Candida
albicans adalah 62,5 mg/ml. Diameter zona hambatan 250 mg/ml adalah 10,43 mm, 500
mg/ml adalah 12,33 mm, dan 100 mg/ml adalah 16,33 mm.

2.4. Formulasi Sediaan Infusa Piper betle folium yang dipilih


R/ Infus daun sirih

100 ml

Aqua dest ad

100 ml

Piper betle folium

10%

Penimbangan bahan
Piper betle

= 10%
=

x 100ml

= 10gr
Sifat Fisika Kimia Bahan

Piper betle

Pemerian

: Bau aromatik khas, rasa pedas khas

Makroskopik

: Daun tunggal, warna coklat kehijauan sampai coklat. Helaian daun


berbentuk bundar telur sampai lonjong,ujung runcing, pangkal
berbentuk jantung atau agak bundar berlekuk sedikit, pinggir daun rata
agak menggulung ke bawah, panjang 5 cm sampai 18,5 cm, lebar 5
cm-12 cm, permukaan atas rata, licin, agak mengkilat, tulang daun agak
tenggelam, permukaan bawah agak kasar, kusam, tulang daun
menonjol, permukaan atas berwarna lebih tua dari permukaan bawah.
Tangkai daun bulat, warrna coklat kehijauan,panjang 1,5cm -8 cm
(Sitrait et al,1980).

Kandungan kimia

: Minyak atsiri 1-4,2% hidroksikavikol, kavikol 7,2-16,7%, kavibetol


2,7-6,2%, allypyrokatekol 0-9,6%, karvakrol 2,2-5,6%, eugenol 26,842,5%, eugenol methyl ether 4,2-4,8%, caryophyllene 3,0-9,8%,
candinene 2,4-15,8%, estragiol, seskuiterpene, fenil propane, tannin,
diastase, katekol, pyrocatechin, terpinyl acetat, alkaloids, 1-alanine.

Khasiat

: Antisariawan, antibatuk, antiseptik (Sitrait et al,1980 ), anti radang,


menghilangkan gatal, mematikan Candida albicans yang merupakan
penyebab keputihan, tanin(daun) untuk mengurangi sekresi cairan pada
vagina, pelindung hati, antidiare, dan antimutagenik (Standar of
ASEAN, 1993; Hariana, 2006).

Bagian yang digunakan : Daun


Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.

Aqua destilata (pelarut)

Pemerian

: Jernih tidak berbau tidak berwarna

BJ

:1

Alasan pemilihan

: Air adalah pelarut universal yang hampir melarutkan segala macam


bahan, tidak toksik, aman dan cenderung compatible dengan pelarut
pelarut lain.

2.5. Evaluasi Sediaan


1)

Uji Organoleptis
Pemeriksaan infusa yang dapat dilakukan adalah organoleptis (bentuk, warna, bau dan

rasa). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Soemiati, A dan Elya, B. 2002, hasil uji
organoleptis infusa daun sirih adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Uji Organoleptis Infusa Piper betle L
Uji Organoleptis

Hasil pengamatan

Bentuk

Cairan

Warna

Hitam

Bau

Spesifik

Rasa

Pedas

(Soemiati,2002)

2.

Penetapan susut pengeringan

campur dan timbang sesama zat uji 2 g

gerus cepat
tara botol timbang yang telah dikeringkan selama 30 menit (botol
timbang bersumbat kaca)

masukkan zat uji dalam botol timbang

timbang

goyangkan perlahan botol timbang agar tinggi simplisia sama

buka penyumbat, masukkan oven, panaskan

buka oven, tutup botol, biarkan dalam desikator ad suhu kamar

timbang

3.

Penetapan organoleptis dan pH


tuang sediaan 10 ml dalam tabung reaksi
amati bentuk
letakkan tabung reaksi pada latar putih
amati warnanya
kibas-kibas ujung tabung reaksi

amati baunya
celupkan indikator universal dalam tabung
cek pH
4.

Uji viskositas
posisikan piknometer dengan tegak pada tiang penyangga
pipet cairan (3ml) dan masukkan pada pipa tengah viskometer yang lebar
hisap cairan di dalam viskometer dengan karet penghisap sehingga melewati
batas atas pipa kapiler

nyalakan stopwatch pada saat miniskus menyinggung batas bawah pipa kapiler
das viskometer

catat waktu yang diperlukan oleh cairan untuk melewati batas tersebut
tentukan massa jenis cairan, lalu hitung viskositasnya

5.

Uji volume terpindahkan


tuang zat uji berlahan-lahan dari tiap wadah sediaan ke dalam gelas ukur kering
terpisah secara hati-hati untuk menghindari pembentukan gelembung udara

diamkan tidak lebih dari 30 menit


ukur volume dari tiap-tiap campuran
6.

Uji kandungan mikrobiologi


ambil 1 ml larutan (sediaan) diinokulasikan media blood agar dan moconsey
cawan petri

ambil 1 ml larutan (sediaan), diinokulasikan ke dalam media

ratakan sampai menyebar pada permukaan media

inokulasi pada suhu 33oC selama 24 jam


amati bentuk, ukuran dan warna koloni, amati kolom dan inokulasi ke
nutrien both

lakukan pewarnaan gram dan uji fisiologisnya

inkubasi pada suhu 33oC selama 24 jam


amati hasilnya, jika terdapat bakteri, maka sediaan mengandung bakteribakteri tersebut

BAB III. METODE

3.1. Alat dan Bahan


3.1.1 Pembuatan Infusa
Alat : - Pisau/Gunting

- Botol infusa

- Neraca analitis

- Corong kaca

- Panci infusa

- Erlenmeyer

- Termometer celcius

- Beaker glass 100 ml

- Kompor

- Gelas ukur 500 ml

- Batang pengaduk

- Kain kassa/flannel untuk menyaring

Bahan : - Daun Sirih


- Aquadest

3.1.2 Analisis Senyawa Marker dengan KLT-Densitometri


Alat :

- Chamber

- Vial

Densitometer camag

- Beaker glass

Lampu UV

- Pipet volume

Pinset

- Gelas ukur 10 ml

Erlenmeyer

- Ball filler

Mikropipet

- Kertas saring

Bahan : -

Larutan pembanding piperin

Larutan uji

Fase gerak (Kloroform : Metanol = 9 : 1)

Fase diam (Lempeng Silica Gel 60 F254)

3.2. Pembuatan infusa


lembaran daun
sirih
dipotong kecil-kecil dengan gunting dan ditimbang 10 g dimasukkan
panci infus
simplisia
cacahan
tambah air 100 ml dan panaskan selama 15 menit di atas penangas air
(water bath) hingga suhu cairan mencapai 90o C
cairan daun sirih
dalam panci
infus
angkat panci infus dan diamkan hingga suhu cairan mendekati suhu
kamar
cairan daun sirih
serkai infus ke dalam botol yang telah dikalibrasi dengan kain flanel
dan corong gelas dan tambah air masak hingga volume infusa 100 ml
sediaan infusa
daun sirih
3.3. Analisis Senyawa Marker dengan KLT-Densitometri
Pembuatan profil kromatografi lapis tipis (KLT) :
Penotolan

: Totolkan 10l dekok

Fase gerak

: Kloroform : Metanol (90 : 10)

Fase diam

: Silika gel 60 F254

Deteksi

: Amati pada UV 254 nm

Warna noda

: Gelap (meredam sinar UV)


Pada profil terdapat 4 noda, dengan Rf 0,20;0,52,dan 0,82

Langkah langkah KLT Infusa


1. Membuat larutan pengembang
Menyiapkan larutan pengembang / fase gerak
Ukur volume kloroform dan methanol dengan perbandingan
(90:10). Kemudian masukkan fase larutan fase Gerak tersebut
ke dalam chamber. Kemudian dibiarkan hingga jenuh
Larutan pengembang yang jenuh

2. Penotolan Larutan INFUSA pada kertas silica gel 60

Menyiapkan kertas silica gel 60


Kertas silica gel diberi batas garis tepi atas, bawah, samping.
Untuk penotolan kertas silica gel diberi tanda (titik) dan
diberi jarak 1 cm untuk penotolan infusa. Kemudian totolkan
10l, larutan infusa Sirih dengan penotol mikro
Kertas silica gel dengan larutan infusa

3. Pengujian Infusa dengan KLT (Kromatografi Lapis Tipis)


Hasil penotolan

Kertas silica yang telah ditotolkan dengan


infusa tersebut dimasukkan kedalam
chamber yang berisi larutan pengembang
dan ditutup. Dibiarkan hingga pelarut
pengembangnya pada batas eluasi. Setelah
sampai batas eluasi, Kertas silica diambil
dan dikeringkan

Hasil penjenuhan kertas silica

Kertas silica tersebut, diamati dengan


lampu UV 254 nm

Terlihat noda pada kertas silica 60 F254

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan


Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan nilai RF (Faktor Retardasi) yakni:
Replikasi penotolan

Nilai Rf

R1.1

0,235

R1.2

0,529

R2.1

0,235

R2.2

0,47

Perhitungan :
R1.1 =

= 0,235

R1.2 =

= 0,529

R2.2 =

= 0,235

R2.2 =

= 0,47

Tiap replikasi (R1,R2) terdapat masing-masing 2 noda.

4.2. Pembahasan
Infusa adalah sediaan air yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air
pada suhu 90C selama 15 menit. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan
infusa adalah:
1. Jumlah simplisia
Kecuali dinyatakan lain, infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras dibuat
dengan menggunakan 10% simplisia.
2. Derajat halus simplisia
Yang digunakan untuk infus harus mempunyai derajat halus sebagai berikut:
Serbuk (5/8)
Serbuk (8/10)
Serbuk (10/22)
Serbuk (22/60)
Serbuk (85/120)

Akar manis, daun kumis kucing, daun sirih, daun


sena
Dringo, kelembak
Laos, akar valerian, temulawak, jahe
Kulit kuni, akar ipeka, sekale kornutum
Daun digitalis

3. Banyaknya ekstra air


Umumnya untuk membuat sediaan infusa diperlukan penambahan air sebanayak 2 kali
berat simplisia. Air ekstra ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada umumnya dalam
keadaan kering.
4. Cara menyerkai
Pada umumya infusa diserkai selagi panas, kecuali infusa simplisia yang mengandung
minyak aktsiri, diserkai setelah dingin.
5. Penambahan bahan-bahan lain
Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat 10% dari bobot bahan
berkhasiat dan pada pembuatan infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon,
ditambahkan natrium karbonat 10% dari bobot simplisia.
Derajat halus perlu diketahui untuk menentukan simplisia tersebut dipotong-potong
dengan ukuran sesuai derajat halusnya selain itu dapat juga untuk menentukan alat
penyaringnya, dengan kain flannel atau kapas.
Banyaknya air yang dibutuhkan untuk pembuatan infusa adalah (Anonim, 1997,
Farmakope Indonesia Edisi IV):
1. Untuk simplisia segar : sejumlah infusa yang dibuat
2. Untuk simplisia kering : sejumlah infusa yang dibuat + ( 1 x berat simplisia)
3. Untuk simplisia kering : sejumlah infusa yang dibuat + ( 2 x berat simplisia)
Teknik infusa mempunyai beberapa keuntungan bila dibandingkan dengan teknik
pembuatan ekstrak yaitu karena teknik infusa lebih murah, lebih cepat, dan alat serta caranya
sederhana. Sedangkan dalam pembuatan ekstrak, kandungan dari bahan tumbuhan dan pelarut
yang paling tepat untuk masing-masing kandungan harus diketahui lebih dahulu. Dengan zat
pelarut yang tepat, zat aktif yang diinginkan akan terpisah dari bahan aslinya dan bercampur
dengan pelarut yang digunakan. Selanjutnya pemisahan zat aktif dari pelarutnya dengan lebih
mudah dilakukan untuk memperoleh zat aktif yang benar-benar murni.
Khasiat daun sirih adalah sebagai antisariawan, antibatuk, dan antisepyik. Selain itu
juga sebagai antiradang, peluruh kentut, dan menghilangkan gatal. Efek zat aktif eugenol
(pada bagian daun) berguna untuk mencegah ejakulasi, mematikan cendawan Candida
albicans yang merupakan penyebaba keputihan, antikejang, analgetik, dan anestetik. Tanin
(pada bagian daun) berguna untuk mengurangi sekresi cairan pada vagina, pelindung hati,
antidiare, dan antimutagenik (Hariana, 2006 dan Yudha 2009).

Daun sirih memilki efek sebagai antibakteri karena mengandung banyak senyawa
fenol sehingga dapat membunuh kuman-kuman penyebab penyakit. Salah satu komponen
minyak atsiri adalah karvakrol yang bersifat sebagai desinfektan dan anti jamur sehingga bisa
digunakan untuk obat antiseptik pada bau mulut dan keputihan. Zat yang lainnya yaitu
eugenol dan metil eugenol yang dapat digunkan untuk mengurangu rasa sakit pada gigi
(Depkes RI. Dirjen BPOM, 2000 dalam Yudha 2009).
Pembuatan infusa daun sirih diawali dengan memotong kecil-kecil daun sirih dengan
gunting, kemudian ditimbang 10 g. Pemotongan daun ini bertujuan untuk memperkecil
ukuran partikel agar pelepasan bahan khasiat lebih maksimal. Infusa daun sirih ini dibuat
dengan kadar 10%, sehingga daun sirih yang ditimbang 10 g dan air yang digunakan sebanyak
100 ml air. Dibuat dengan kadar 10% ini sesuai dengan ketentuan sediaan infusa yang
tercantum dalam Acuan Sediaan Herbal Volume Kelima yang dikeluarkan oleh BPOM RI
dimana kecuali dinyatakan lain infusa yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras,
dibuat dengan menggunakan 10% simplisia.
Air sebanyak 100 ml dimasukkan ke dalam panci infus yang berisi potongan daun
sirih. Panci kemudian dipanaskan di atas penangas air (waterbath) hingga suhu cairan
mencapai 90oC, panaskan selama 15 menit. Angkat panci infusa kemudian segera serkai
selagi panas infusa ke dalam botol dengan bantuan kain flanel dan corong gelas. Infusa
diserkai saat panas untuk menhindari pengendapan dari infusa tersebut, karena saat dingin
dimungkinkan infusa sirih akan mengendap sehingga ketika dimasukkan ke dalam botol kadar
yang diinginkan kurang dari 10%. Terakhir untuk mencukupi kekurangan air, ditambahkan air
masak ke dalam botol hingga volume infusa menjadi 100 ml.
Selanjutnya dilakukan tahap analisis KLT terhadap infusa daun sirih yang dihasilkan,
serta dilakukan pula penentuan nilai Rf pada senyawa yang terkandung dalam daun sirih
dengan menggunakan metode KLT.
Daun sirih adalah salah satu bahan yang dapat digunakan untuk kepentingan fumigasi,
karena mengandung zat anti mikroorganisme dan zat penyamak. Senyawa fenol yang
merupakan komponen utama minyak atsiri berperan dalam menghambat pertumbuhan
mikroba (Pelezar dan Chan, 1988). Zat anti mikroorganisme berupa polyfenol yaitu kavibetol
dan kavikol (Bambang Sarwono, 1996).
Analisis kromatografi lapis tipis (KLT) digunakan untuk mengetahui kandungan
senyawa kimia yang terdapat dalam ekstrak infusa daun sirih (Piper betle). Hasil KLT yang
telah dielusi dengan fase gerak kloroform:methanol (90:10) sebanyak 10 ml kemudian dilihat

pada sinar UV 254 nm. Berdasarkan naskah publikasi dari Tri Wahyuning Lestari tentang
sirih merah, penggunaan fase gerak kloroform dan methanol digunakan untuk mendeteksi
adanya senyawa-senyawa yang terdapat pada sirih merah. Dari jurnal tersebut diketahui pula
nilai Rf dari masing-masing pembanding, yaitu :

Sedangkan berdasarkan jurnal dari Ririn Lispita Wulan dan Yulias Ninik Windriyati
tentang sirih merah juga, menunjukkan bahwa penggunaan fase gerak kloroform dan
methanol digunakan untuk mendeteksi senyawa saponin pada ekstrak daun sirih. Berdasarkan
jurnal tersebut terdapat nilai Rf dari senyawa pembanding saponin yaitu sebesar 0,48; 0,61;
0,83.
Berdasarkan hasil praktikum, didapatkan bahwa pada lempeng menunjukkan beberapa
bercak noda saat diamati pada sinar UV 254 nm. Dari dua replikasi penotolan infusa daun
sirih masing-masing menunjukkan dua spot noda setelah elusi dan diamati pada sinar UV 254
nm. Dua spot dari masing-masing totolan menunjukkan nilai Rf yang berbeda. Pada replikasi
pertama, spot 1 menunjukkan nilai Rf sebesar 0,235 dan spot dua dengan Rf 0,529, sedangkan
pada replikasi kedua, spot 1 menunjukkan nilai Rf sebesar 0,235 dan spot 2 dengan Rf sebesar
0,470.
Berdasarkan hasil tersebut, untuk spot 1 pada masing-masing replikasi dengan nilai Rf
yang sama yaitu sebesar 0,235 menunjukkan nilai yang mendekati dengan nilai Rf dari
senyawa fenolik yaitu sebesar 0,21 berdasarkan tabel diatas. Nilai ini cukup mendekati
dengan nilai Rf senyawa fenolik sehingga dapat disimpulkan daun sirih memiliki kandungan
senyawa fenolik. Sementara untuk spot 2, pada Rf noda yang pertama menunjukkan nilai Rf
sebesar 0,529 dan Rf kedua menunjukkan Rf sebesar 0,47. Dilihat dari nilai Rf yang kedua
yaitu 0,47 yang mendekati nilai Rf dari pembanding saponin yaitu 0,48 sehingga dapat
dibilang daun sirih mengandung senyawa saponin namun jika dilihat dari Rf pertama

menunjukkan nilai yang cukup berbeda yaitu 0,529. Perbedaan nilai Rf ini dapat disebabkan
karena beberapa faktor, yaitu :
1) Jenis dan mutu kertas, daya jerap, kelembaban.
2) Susunan pelarut, meliputi :
a. Kemurnian pelarut dan,
b. Stabilitas campuran pelarut selama pemakain dan penyimpanan
3) Temperatur ruang
4) Kelembaban ruang
5) Kejenuhan ruang akan uap pelarut
6) Konsentrasi (banyaknya) zat
7) Jarak bercak awal (tempat penetesan zat) ke permukaan pelarut
8) Adanya zat lain atau pencemaran
Untuk mengurangi pengaruh faktor-faktor yang sukar diatur tersebut maka sering kali
ditentukan nilai Rx statu zat A terhadap zat x sebagai pembanding.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1) Nilai Rf spot 1 pada kedua replikasi sebesar 0,235 mendekati nilai Rf dari senyawa
fenolik yaitu sebesar 0,21, maka infusa daun sirih yang kami buat memiliki kandungan
senyawa fenolik yang sama.
2) Senyawa fenol merupakan komponen utama minyak atsiri yang berperan dalam
menghambat pertumbuhan mikroba. Zat anti mikroorganisme berupa polifenol yaitu
kavibetol dan kavikol.
3) Nilai Rf spot 2 replikasi kedua yaitu 0,47 mendekati nilai Rf dari pembanding saponin
yaitu 0,48 sehingga dapat dibilang infusa daun sirih yang kami buat mengandung
senyawa saponin.
4) Nilai Rf spot 2 replikasi pertama menunjukkan nilai yang cukup berbeda yaitu 0,529,
perbedaan nilai Rf ini dapat disebabkan karena beberapa faktor.
5) Saponin dan tannin bersifat sebagai antiseptik pada luka permukaan, bekerja sebagai
bakteriostatik yang biasanya digunakan untuk infeksi pada kulit, mukosa dan melawan
infeksi pada luka.
5.2. Saran
1)

Supaya hasil analisis yang didapat optimal mungkin sebaiknya dilakukan validasi
metode terlebih dahulu.

2)

Dilakukan pengendalian faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil analisis.

LAMPIRAN
Pembuatan Infusa

Gambar 1 Pemotongan beberapa lembar


daun sirih

Gambar 3 Penimbangan sejumlah


10 g daun sirih yang telah
dipotong kecil-kecil

Gambar 5a

Gambar 2 Hasil potongan beberapa


lembar daun sirih

Gambar 4 10 g daun sirih

dalam panci infus


dan ditambah air
sebanyak 100ml

Gambar 5b

Gambar 5c

Gambar 5d

Gambar 5e

Gambar 5f

Gambar 5 Pemanasan panci infus hingga suhu cairan mencapai 90c, selama 15 menit

Gambar 6 Panci infus selesai


dipanaskan dan
didiamkan hingga
suhu sedikit turun

Gambar 7 Menyerkai atau menyaring


infus dalam keadaan agak
panas

Gambar 8 Hasil saringan infus


dalam botol yang
telah dikalibrasi

Gambar 9 Menambahkan air masak panas ke dalam botol hingga tanda batas (100ml)

Pembuatan Profil Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Infusa

Gambar 10 2ml larutan infus


dalam vial yang
telah dikalibrasi 1ml

Gambar 11 a

Gambar 11 b

Gambar 11 c

Gambar 11 Pembuatan eluen = Kloroform : Metanol (90 : 10)

Gambar 12 Memasukkan fase


gerak ke dalam chamber

Gambar 14 a

Gambar 13 Menjenuhkan chamber

Gambar 14 b

Gambar 14 c Penotolan larutan infus sebanyak


10l

Gambar 15 Eluasi lempeng KLT

Gambar 16 Sediaan Infusa Daun Sirih

DAFTAR PUSTAKA
Andarwulan, Nuri., C. Hanny Wijaya., Cahyono , Didik Tri. 1996. Aktivitas Antioksidan dari
Daun Sirih (Piper betle L.). Bul. Tek. Dan Industri Pangan, Vol. VII. No. 1.______.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Arishandy, D.N. 2010. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dari Daun Sirih Merah
(Piper betle L. Var Rubrum). Skripsi. Malang: Jurusan Kimia, Fakultas Sains Dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Bhalerao, Satish A et al. 2013. Phytochemistry, Pharmacological Profile and Therapeutic
Uses of Piper betle Linn. RRJPP. Volume 1. Issue 2.
Chakraborty, D. , Shah, Barkha. 2011. Antimicrobial, Antioxidative
and Antihemolytic Activity of Piper betle Leaf Extracts. International Journal of
Phamaceutical Sciences 3(3) : 192-199.
Hermawan, Anang. 2007. Pengaruh Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) Terhadap
Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan Metode Difusi
Disk. Surabaya: Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.
Hermiati et al. 2013. Ekstrak Daun Sirih Hijau dan Merah Sebagai Antioksidan pada Minyak
Kelapa. Sumatra Utara: Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas
Sumatera Utara.
Khan, Jahir Alam, et al. 2011. Evaluation of Antibacterial Properties of Extract of Piper betle
Leaves. Journal of Pharmaceutical and Biomedical Science 11 (01).
Maisuthisakul, Pitchaon. ___. Phenolic Antioxidants from Betel Leaf (Piper betle Linn.)
Extract Obtained with Different Solvents and Extraction Time. School of Science,
University of the Thai Chamber of Commerce.
Mayasari, et al. 2011. Betel Leaf Toothpastes Inhibit Dental Plaque Formation on Fixed
Orthodontic Patients. Dental Journal, Vol. 44. No. 4.
Parwata , I Made O A., et al. 2011. Aktivitas Larvasida dari Daun Sirih (Piper betle Linn.)
Terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti. Jurnal Kimia 5 (1): 88-93.
. 2009. Sirih (Piper betle Linn.) Secara Spektroskopi Ultra Violet-Tampak. JURNAL
KIMIA 3 (1), 7-13.
Pritasari. 2012. Efek Pemberian Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) pada Jumlah Leukosit
Darah Tepi Model Hewan Coba Tikus Wistar Jantan yang Dipapar Candida
albicans Secara Intrakutan. Jember: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.
Rahmadani, Puji. 2014. Aktivitas Antifungi Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L.)
Terhadap Candida tropicalis. Bogor: Departemen Biokimia FMIPA IPB.
Santoso, S. 1993. Perkembangan Obat Tradisional dalam Ilmu Kedokteran di Indonesia dan

Upaya Pengembangannya Sebagai Obat Alternatif. Jakarta: FKUI.


Soemiati, A., Elya, B. 2002. Uji Pendahuluan Efek Kombinasi Antijamur Infus Daun Sirih
(Piper betle L.), Kulit Buah Delima (Punica granatum L.), dan Rimpang Kunyit
(Curcuma domestica Val.) Terhadap Jamur Candida albicans. Makara, Seri Sains 6
(3): 150-154.
Tri Wahyuning Lestari. 2013. Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Sirih
Merah (Piper Crocatum Ruiz And Pav.) Dan Amoksisilin Terhadap Bakteri
Streptococcus Pneumoniae, Pseudomonas Aeruginosa, Dan Salmonella Typhi Serta
Bioautografinya. Surakarta : Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Wardhana, A.H., S. Muharsini, S. Santosa, L.S.R. Arambewela dan S. P.W. Kumarasinghe.
2010. Studi In Vitro Efek Larvasidal Minyak Atsiri Daun Sirih (Piper betle L) Sri
Lanka dan Bogor Terhadap Larva Chrysomya bezziana. Jitv 15 (4): 297-307.
Widyaningtias, N. M. S. R., Yustiantara, P. S., Paramita, N. L. P.V. 2012. Uji Aktivitas
Antibakteri Ekstrak Terpurifikasi Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) Terhadap Bakteri
Propionibacterium acnes. Bali: Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana.
Windriyati , Yulias Ninik, Budiarti, Aqnes, Dan Syahida, Igustin Azmi. AKTIVITAS
MUKOLITIK IN VITRO EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH MERAH (Piper Crocotum
Ruiz Dan Pav.) PADA MUKOSA USUS SAPI DAN IDENTIFIKASI KANDUNGAN
KIMIANYA. Semarang : Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim.