Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Kebutuhan penelitian dalam bidang kedokteran dan kesehatan pada
beberapa tahun terakhir ini terus meningkat seiring dengan kemajuan teknologi
pada bidang kesehatan.
Pengetahuan tentang metodologi penelitian sangat penting karena masih
terdapat beberapa kelemahan dan kekurangan dari hasil peneltian yang
dipublikasikan terutama dalam hal metodologi penelitian dan biostatistika sangat
diperlukan baginklinisi dan pengelola layanan kesehatan agar dapat melakukan
penelitian atau menelaah hasil penelitian yang telah dipublikasikan.
Epidemiologi adalah studi tentang distribusi dan determinan penyakit pada
populasi.Studi penelitian epidemiologi dibedakan menjadi dua kategori, yakni
epidemiologi deskriptif dan epidemiologi analitik.Epidemiologi analitik terdiri
dari penelitian eksperimental dan penelitian observasional.
Studi eksperimental meneliti efek intervensi dengan cara memberikan
berbagai level intervensi kepada subjek penelitian dan membandingkan efek dari
berbagai level intervensi itu. Studi observasional peneliti tidak sengaja
memberikan intervensi, melainkan hanya mengamati (mengukur), mencatat,
mengklasifikasi, menghitung, dan menganalisis (membandingkan) perubahan
pada variabel-variabel pada kondisi yang alami.Studi observasional mencakup
studi kohort, studi kasus kontrol, dan studi potong-lintang.
Penelitian kohort merupakan salah satu penelitian observasional yang
mengikuti proses perjalanan penyakit ke arah depan berdasarkan urutan waktu.
Penelitian kohort juga merupakan penelitian intervensional, namun dalam hal ini
intervensi tidak dilakukan oleh peneliti, tetapi dilakukan oleh alam atau orang
yang bersangkutan.

1.2.
a
b
c
d
e
f
g
1.3.

Rumusan Masalah
Apa Pengertian dan Konsep Studi Penelitian Kohort?
Apa saja manfaat penelitian kohort?
Apa saja macam-macam penelitian kohort?
Bagaimanakah karakteristik studi kohort?
Apa sajakaah langkah-langkah kegiatan dalam penelitian kohort?
Apa saja kelebihan dan kelemahan studi peneltian kohort?
Bagaimana desain studi kohort?
Tujuan Penelitian
a Mengetahui Pengertian dan Konsep Studi Penelitian Kohort
b Mengetahui manfaat penelitian kohort
c Mengetahui macam-macam penelitian kohort
d Mengetahui karakteristik studi kohort
e Mengetahui langkah-langkah kegiatan dalam penelitian kohort
f Mengetahui kelebihan dan kelemahan studi peneltian kohort
g Menegetahui bagaimana desain dari studi kohort

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Studi Kohort
Studi penelitian kohortadalah rancangan epidemiologi analitik secara
prospektif dan bersifat observasional yang bertujuan mencari adanya hubungan
sebab akibat dengan membandingkan insidens penyakit pada kelompok studi
yang terpajan oleh faktor resiko dengan insidens penyakit pada kelompok yang
tidak terpajan oleh faktor resiko sebagai kontrol. Namun, dalam hal tertentu

dapat bersifat deskriptif, misalnya mencari insidens penyakit tertentu di suatu


daerah (Budiarto,2003).
Pengertian Penelitian Observasional kohort merupakan penelitian
epidemiologis analitis noneksperimental yang didasarkan pada pengamatan
sekelompok penduduk tertentu dalam satu jangka waktu tertentu.Kelompok
kohort adalah sekelompok penduduk yang memiliki persamaan dalam hal
tertentu dan merupakan kelompok yang diamati sampai batas waktu
tertentu.Dalam epidemiologi, subjek dalam studi kohort dipilih berdasarkan
beberapa karakteristik tertentu yang dianggap sebagai faktor risiko terjadinya
penyakit atau gangguan kesehatan tertentu.Pada dasarnya studi kohort didasarkan
pada pertanyaan "apa yang akan terjadi?" sehingga dengan demikian pengamatan
ini bersifat prospektif.Kelompok penduduk yang diamati/diteliti (kelompok
kohort) merupakan kelompok penduduk dengan dua kategori tertentu yakni yang
terpapar dan yang tidak terpapar terhadap factor yang dicurigai sebagai faktor
risiko atau penyebab. Pada awal penelitian, semua anggota kelompok kohort
harus bebas/tidak menderita penyakit atau mengalami gangguan kesehatan yang
sedang diteliti, artinya semua yang menderita atau yang dicurigai menderita
penyakit/out put yang akan diteliti harus dikeluarkan dari kelompok kohort
2.2. Konsep Studi Kohort
Konsep dasar penelitian kohort, terdapat dua kelompok kohort, yaitu
kelompok yang terpajan oleh faktor risiko dan kelompok yang tidak terpajan oleh
faktor risiko sebagai kontrol. Alokasi kedua kelompok tidak dilakukan secara
acak, tetapi ditentukan berdasarkan kriteria subjek studi.Selanjutnya kedua
kelompok tersebut diikuti secara bersamaan dalam suatu periode waktu tertentu
dan efek (insidens) pada kedua kelompok di catat kemudian dibandingkan.
Secara skematis struktur rancangan penelitian prospektif dapat digambarkan
sebagai berikut:

Dari skema di atas dapat diketahui bahwa pada penelitian kohort terdapat
tiga faktor yang disebut sebagai struktur anatomi penelitian kohort, yaitu:
1
2
3

Keadaan awal
Intervensi (pajanan oleh faktor resiko)
Pengamatan dan pencatatan insidens (Budiarto,2003).

2.3. Manfaat Studi Kohort


A Manfaat Penelitian Kohort
Manfaat penelitian prospektif (kohort) antara lain:
1 Mengetahui pertumbuhan normal yang terjadi seiring dengan berjalannya
waktu atau yang disebut ontogenetik dan dalam hal ini yang bertindak sebagai
intervensi adalah waktu. Misalnya, mempelajari tumbuh kembang anak
2

selama 5 tahun sejak dilahirkan.


Penelitian kohort bermanfaat untuk mengetahui perjalanan penyakit alamiah
(patogenetik) dimana intervensi dilakukan oleh orang bersangkutan secara
sengaja (perokok, peminum alkohol) atau tidak disengaja, misalnya termakan
atau terminumnya makanan atau minuman yang tercemar oleh bakteri
patogen. Misalnya, mempelajari timbulnya (insidens) penyakit jantung
koroner pada perokok. Dalam hal ini penelitian kohort dimaksudkan utuk

mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan penyakit yang ditiimbulkan.


Mempelajari perjalanan klinis suatu penyakit (patogresif) yaitu sembuh,
menjadi semakin parah atau meninggal, misalnya:

Mempelajari perkembangna penyakit karsinoma payudara dari sejak

terdiagnosa sampai meninggal,


b Penyakit varicella sejak timbul gejala sampai sembuh,
c Penyakit bronkitis akut, yang menjadi semakin berat.
Manfaat lain penelitian kohort adalah untuk menentukan ada atau tidak
adanya hubungan sebab akibat antara terpajan oleh faktor risiko dengan
insiden penyakit yang ditimbulkan (Budiarto, 2003).

2.4. Macam-Macam Penelitian Kohort


Pengamatan (studi) kohort dapat bersifat deskriptif maupun analitis.Kohort
deskriptif Adala pengamatan kohort yang bertujuan hanya untuk menjelaskan
insidensi atau akibat yang terjadi terhadap populasi kohort setelah diamati dan
diikuti selama jangka waktu tertentu.Sedangkan pengamatan kohort analitis
bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko (efek keterpa-paran)
dengan kejadian penyakit atau gangguan kesehatan yang terjadi selama/setelah
waktu pengamatan. Sesuai dengan sifat pengamatannya, studi kohort disebut
juga sebagai follow up study, atau longitudinal prospective study. Dalam
merancang studi kohort analitis, peneliti harus menetapkan hipotesis penelitian
serta menentukan faktor-faktor risiko yang akan diamati, hasil kejadian atau hasil
luaran (penyakit atau gangguan kesehatan) yang diharapkan terjadi, serta
lamanya waktu pengamatan.
Bentuk-bentuk studi kohort Studi kohor pada dasarnya dapat dibagi dalam dua
kelompok utama yakni kohor prospektif dan kohor retrospektif (historical cohort
study). Di samping itu, dikenal pula suatu modi-fikasi studi kohor yakni nested
case-control study yakni suatu bentuk pengamatan kohor yang menggunakan
analisis bentuk kasus-kelola (case control study).
a

kohor prospektif

Bentuk pengamatan ini merupakan bentuk studi kohor yang murni sesuai
dengan sifatnya.Pengamatan dimulai pada saat populasi kohor belum mengalami
akibat yang diteliti dan hanya diketahui kelompok yang terpapar (berisiko) dan
yang tidak terpapar. Bentuk ini ada dua macam yaitu (1) kohor prospektif dengan
pembanding internal, di mana kelompok yang terpapar dan yang tidak terpapar
(sebagai kelompok pembanding atau kontrol) berasal dari satu populasi yang
sama; (2) kohor prospektif dengan pembanding eksternal di mana kelompok
terpapar dan kelompok pembanding tidak berasal dari satu populasi yang sama.
Pada bentuk pertama, populasi kohor dibagi dalam dua kelompok yakni yang
terpapar dan yang tidak terpapar sebagai kelompok pembanding. Kedua
kelompok tersebut diikuti secara prospektif sampai batas waktu penelitian, di
mana akan muncul dari kelompok terpapar dua subkelompok yakni subkelompok
yang mengalami akibat/efek (a) dan yang tidak mengalami akibat (b). Sedangkan
dari kelompok yang tidak terpapar akan muncul juga dua subkelompok yakni
yang mengalami akibat (c) dan yang tidak mengalami akibat (d). Dari hasil
pengamatan kohor tersebut, peneliti dapat menghitung insiden kejadian dari
kelompok yang terpapar dan insiden kejadian dari kelompok yang tidak terpapar
dan kemudian dapat dihitung; angka resiko relatif hasil pengamatan.

Pada bentuk kedua dari kohor prospektif adalah populasi kohor terdiri dari
dua populasi yang berbeda, dengan satu populasi mengalami keterpaparan (ada faktor
risiko) dan populasi lainnya tanpa faktor risiko.

Bentuk studi kohor dengan pembanding eksternal ini harus


memperhatikan sifat kedua populasi awal (populasi yang terpapar dan
pembanding) yakni sifat-sifat populasi di luar factor keterpaparan atau faktor
risiko yang diteliti.Hasil luaran terjadinya efek yang diamati pada kedua
populasi ini, memberikan nilai rate insiden populasi yang terpapar dan rate
insiden populasi yang tidak terpapar.
Penelitian dengan satu kohort merupakan penelitian prospektif yang
bertujuan untuk mencari insidens suatu penyakit di masyarakat sebagai bahan
pertimbangan dalam penyusunan rencana program pelayanan kesehatan atau
untuk memberikan informasi kepada masyarakat atau mengadakan evaluasi
penggunaan obat baru.Penelitian ini hanya menggunakan satu kohort dan
bersifat deskriptif.
Misalnya, penelitian untuk menentukan efektivitas obat baru setelah
dilakukan uji klinis dengan hasil yang memuaskan kemudian obat tersebut

dipasarkan secara luas.Selanjutnya dilakukan evaluasi terhadpa hasil


pengobatan dengan mengikuti penderita yang telah mendapatkan pengobatan
tersebut untuk mengetahui hasilnya.
Penelitian ini, walaupun intervensi dilakukan oleh peneliti, akan tetapi
tidak dimasukkan ke dalam eksperimen karena tidak menggunakan kelompok
kontrol dan intervensi. Penelitian ini dinamakan posttherapeutic survey atau
pengalaman klinis dalam pengobatan suatu penyakit dengan menggunakan
obat baru.
b Penelitian Dengan Dua Kohort/Retospektif
Penelitian dengan dua kohort merupakan penelitian yang bertujuan
untuk mencari hubungan sebab akibat, dibutuhkan dua kohort dimana satu
kelompok sebagai kelompok terpajan dan satu kelompok sebagai kelompok
lagi yang tidak terpajan.
Misalnya, hubungan antara perbedaan gaya hidup dengan timbunya
berbagai karsinoma. Penelitian ini dilakukan di Jepang dengan mengadakan
pengamatan selama 16 tahun terhadap kelompok penduduk dengan kebiasaan
makan sehari-hari terdiri dari sayur, tidak makan daging sapi setiap hari, tidak
merokok, dan tiak minum alkohol dibandngkan dengan kelompok penduduk
yang kabiasaan amakan sehari-harinya terdiri dari daging, tidak makan sayur,
merokok, dan minum alkohol. Hasil penelitian menunjukan bahwa orangorang dengan pola hidup seperti kelompok kedua mempunyai resiko lebih
besar timbulnya karsinoma mulut, faring, esofagus, lambung, hati, dan paruparu dibandingkan dengan gaya hidup sepert kelompok satu (Hirayama,
1985).
Umumnya studi kohor bersifat prospektif, di mana peneliti memulai
pengamatan denganmengidentifikasi kelompok dengan faktor risiko (terpapar)
dan kelompok tanpa faktor risiko(tidak terpapar), kemudian diamati akibat
yang diharapkan terjadi sepanjang waktu tertentu.Namun demikian, studi
kohor dapat pula dilakukan dengan menggunakan data yang telah
dikumpulkan pada waktu yang lalu yang tersimpan dalam arsip atau bentuk

penyimpanan

data

lainnya.Umpamanya

seorang

peneliti

yang

ingin

menganalisis faktor-faktor risiko dari 78 orangpenderita stroke yang berasal


dari kelompok pegawai perusahaan tertentu yang dijumpainya dalam dua
tahun terakhir, dengan menelusuri catatan kesehatan penderita tersebut sejak
bekerja pada perusahan yang dimaksud. Contoh lain adalah pengamatan
terhadap sejumlah pegawai bagian produksi dari suatu pabriksemen tertentu
yang sedang menderita sejenis penyakit gangguan pernapasan. Peneliti
mencoba mengamati faktor risiko yang berhubungan dengan penyakit tersebut
dengan menelusuri data kesehatan dan faktor lingkungan tempatnya bekerja
sejak pegawai tersebutmulai bekerja pada pabrik tadi.Prinsip studi kohor
retrospektif tetap sama dengan kohor biasa, namun pada bentuk ini,
pengamatan dimulai pada saat akibat (efek) sudah terjadi. Yang terpenting
dalam bentuk iniadalah populasi yang diamati tetap memenuhi syarat populasi
kohort dan yang diamati adalah faktor risiko masa lalu yang diperoleh melalui
pencatatan data yang lengkap. Dengan demikian, bentuk penelitian
retrospektif kohor hanya dapat dilakukan bila data tentang factor risiko
tercatat dengan baik sejak terjadinya keterpaparan pada populasi yang sama
dengan efek yang ditemukan pada awal pengamatan.

Pada dasarnya keunggulan studi kohor prospektif dijumpai pula pada


kohor retrospektif,namun kohor retrospektif membutuhkan biaya yang lebih

rendah.Kelemahannya terletak padakualitas pengukuran dan pencatatan faktor


risiko yang telah berlalu sehingga sangat ditentukanoleh kualitas data yang
telah dikumpulkan pada waktu yang lalu.
c Current cohort
Penelitian kohort pada umumnya berupa current cohort yang berarti
kelompok kohor yang akan diamati dikumpulkan pada saat akan dilakukan
penelitian dan diikuti perkembangannya. Ini berarti bahwa akibat intervensi
belum terjadi, misalnya hubungan antara pemakaian alat kontrasepsi IUD
dengan kehamilan di luar rahim.
Subjek studi dan kelompok pasangan usia subur pemakai IUD sebagai
kelompok studi dan kelompok pasangan usia subur yang tidak menggunakan
IUD, tetapi mempunyai potensi untuk menggunakan IUD sebagai kelompok
kontrol. Selanjutnya, kedua kelompok tersebut diikuti untuk menemukan
insidens kehamilan di luar rahim dan insidens pada kedua kelompok tersebut
dibandingkan untuk mengetahui apakah terdapat hubbungan antara pemakaian
IUD dengan kehamilan di luar rahim.
d Hystorical cohort
Penelitian kohor juga dapat dilakukan terhadap kelompok kohor yang
akibat pajanannya telah terjadi sebelum penelitian dilakukan. Ini berarti pada
keadaan awal, intervensi serta akibatnya telah terjadi, namun prosesnya diikuti
ke depan (prospektif) yaitu dari sebab ke akibat. Penelitian kohort yang
demikian disebut kohor historis atau kohor retrospektif. Secara teoritis, hasil
penelitian dengan hystorical cohort akan sama dengan current cohort, tetapi
dalam kenyataanya tidak demikian karena pada umumnya data yang diperoleh
rekam medis tidak lengkap dan variabilitas pemeriksa tidak diketahui.
2.5. Karakteristik Studi Penelitian Kohort
1. Bersifat observasional
2. Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat
3. Disebut sebagai studi insidens
4. Terdapat kelompok kontrol
5. Terdapat hipotesis spesifik

6. Merupakan penelitian prospektif


7. Intervensi dilakukan oleh alam atau orang yang bersangkutan

2.6.

Langkah-langkah Kegiatan pada Penelitian Kohort


Tujuan dari studi kohort adalah untuk membuktikan apakah faktor

tertentu adalah penyebab dari masalah atau penyakit. Dalam penelitian kohort
seorang peneliti harus melakukan persiapan disertai dengan tahapan-tahapan
kegiatan yang sistematis untuk memudahkan pelaksanaan penelitian sehingga
tujuan dari penelitiannya tercapai.

Langkah-langkah kegiatan dalam penelitian kohort adalah sebagai berikut


dalam Iswandi (2009) adalah:
1 Merumuskan pertanyaan penelitian
Langkah awal dari suatu studi kohor adalah merumuskan masalah atau
pertanyaan penelitian yang kemudian akan mengantar peneliti merumuskan
hipotesis penelitian yang lebih tepat/sesuai. Dari formulasi hipotesis tersebut,
akan tercermin berbagai variabel yang menjadi variabel penelitian, baik yang
bersifat variabel bebas, variabel terikat (dependent) maupun variabel-variabel
lainnya yang harus menjadi perhatian peneliti, antara lain variabel kendali
(kontrol),

variabel

pengganggu

serta

variabel

lainnya

yang

harus

dipertimbangkan.
2 Penetapan populasi kohort
Dalam memilih populasi kohor harus diperhatikan beberapa hal
tertentu seperti berikut:
a. Populasi kohor sedapat mungkin agak stabil
b. Populasi kohor dapat bekerja sama selama penelitian
c. Populasi kohor mudah diamati dan mudah terjangkau untuk follow up
selama penelitian;
d. Populasi kohor memiliki derajat keterpaparan yang cukup
e. Anggota kohor tidak sedang menderita penyakit yarig akan diamati.
Dalam penelitian kohort peneliti harus yakin bahwa kelompok
kohort dan kelompok kontrol betul-betul tidak sedang menderita atau
dicurigai sedang menderita (suspect case) efek yang akan diteliti. Subjek
yang terpilih dari populasi harus memenuhi kriteria pemilihan meliputi
kriteria inklusif dan eksklusif. Kriteria inklusif adalah karakteristik umum
subjek penelitian pada populasi target dan populasi kontrol. Sering terdapat
kendala untuk mendapatkan kriteria yang sesuai dengan masalah penelitian
yang telah ditetapkan.Untuk menghadapi hal tersebut dapat dilakukan
penyimpangan ilmiah sampai batas-batas tertentu, tetapi hal ini harus
dijelaskan dalam laporan penelitian tentang penyimpangan tersebut yang
merupakan jarak antara idealis ilmiah dengan kondisi yang dihadapi.

Kriteria eksklusif bila dalam memilih subjek penelitian, sebagian


subjek yang telah memenuhi kriteria inklusif, namun harus dikeluarkan dari
pengamatan karena beberapa hal antara lain:
a. Terdapat keadaan atau penyakit lain pada subjek yang dapat
mengganggu pengukuran maupun interpretasi hasil penelitian,
umpamanya bila terdapat predisposisi atau faktor genetis yang dapat
mempengaruhi hasil pengamatan.
b. Terdapat keadaan yang dapat mengganggu pelaksanaan studi,
umpamanya mereka yang tidak mempunyai alamat yang tetap
sehingga sulit diamati.
c. Adanya hambatan etis, kultur atau kepercayaan individual maupun
masyarakat untuk dapat berpartisipasi.
d. Kemungkinan subjek yang akan diteliti, akan menolak berpartisipasi.
3 Besarnya sampel
Pemilihan sampel dalam penelitian kohort dimulai dengan melihat
adanya pajanan atau tidak dan memperoleh sampel subyek terpajan perlu
memeriksa sampel subyek, yang banyaknya tergantung proporsi pajanan di
populasi.Sebagaimana diketahui bahwa pada hipotesis nol (Ho) biasanya
dinyatakan bahwabesarnya kelompok yang akan menderita penyakit yang
diteliti pada kelompok terpapartidak berbeda dengan kelompok yang tidak
terpapar sehingga nilai Risiko Relatifnyamenjadi satu (RR = 1). Sedangkan
hipotesis alternant dapat bersifat satu sisi atau dua sisidengan RR > 1 atau
RR < 1 atau tidak sama dengan satu (RR 1). Dalam menentukanbesarnya
sampel pada penelitian ini, umumnya pada sebagian kasus, besarnya RR dan
P2ditentukan terlebih dahulu sedangkan P1 dihitung dari kedua nilai
tersebut. Besarnyasampel untuk pengujian dua sisi menjadi:

Sumber keterangan keterpaparan

Sumber keterangan tentang adanya dan besarnya derajat keterpaparan


dapat diperoleh dari berbagai sumber yang dapat dipercaya kebenarannya
antara lain sebagai berikut:
a. Status/kartu pemeriksaan kesehatan berkala dengan berbagai sifat
tertentuseperti tekanan darah, kadar kolesterol, dan lain lain.
b. Kartu pelayanan kesehatan khusus seperti kartu KB, kartu pengobatan
radiologis dan lain lain.
c. Wawancara langsung dengan anggota kohor, terutama tentang
kebiasaan sehari hari seperti merokok, pola makanan, kebiasaan olah
raga dan lain lain.
d. Keterangan hasil pemeriksaan Lingkungan (fisik, biologis dan sosial)
termasuk lingkungan kerja, tempat tinggal, dan lain lain.
5 Identifikasi Subjek
Subjek pada pengamatan kohor dapat dengan efek negatif maupun
dengan efek positif.Pada studi kohor prospektif umpamanya, kedua kondisi
ini dapat terjadi pada akhir pengamatan di mana efek positif dan negatif
dapat dijumpai baik pada kelompok terpapar (kelompok target) maupun pada
kelompok yang tidak terpapar (kelompok kontrol).Pada pengamatan kohor
prospektif dengan kontrol internal, kelompok kontrol terbentuk secara
alamiah, artinya diambil dari populasi kohor yang tidak terpapar dengan
faktor resiko yang diamati.
Pada bentuk kohor dengan pembanding internal seperti ini,
mempunyai keuntungan tersendiri karena: pertama, kedua kelompok (target
dan kontrol) berasal dari populasi yang sama, dan kedua, terhadap kedua
kelompok tersebut dapat dilakukan follow-up dengan tata cara dan waktu
yang sama.
Dalam pelaksanaannya, perbedaan adanya faktor risiko pada
kelompok target dan absennya pada kelompok kontrol dapat berupa taktor
risiko internal (seperti rentannya kelompok target terhadap gangguan
kesehatan atau penyakit tertentu), dapat pula sebagai faktor risiko eksternal
(umpamanva adanya faktor lingkungan atau perilaku maupun kepercayaan

kelompok tertentu yang dapat mempermudah seseorang terkena penyakit


atau gangguan kesehatan tertentu).Di samping itu, pada kelompok kontrol
internal.Perbedaan faktor risiko antara dua kelompok yang diamati dapat
pula hanya berbeda pada intensitas, kualitas, dan waktu keterpaparan,
umpamanva perokok aktif dan mereka yang berada di sekitar perokok aktif
tersebut.
Pada penelitian kohor, pemilihan anggota kelompok kontrol biasanya
tidak diperlukan teknik matching (penyesuaian) dengan anggota kelompok
target, terutama bila subjek yang diteliti jumlahnya cukup besar, atau bila
proporsi subjek dengan faktor risiko (kelompok target) jauh lebih besar bila
dibanding dengan kelompok kontrol. Namun dalam beberapa keadaan
tertentu, teknik matching perlu dipertimbangkan, misalnya apabila peneliti
ingin mengetahui besarnya pengaruh pemapaparan yang lebih akurat, pada
penelitian dengan besarnya sampel terbatas, atau pada keadaan di mana
proporsi kelompok target lebih kecil bila disbanding dengan kelompok
kontrol. Namun demikian, bila variabel luar cukup banyak ragamnya, teknik
matching akan sulit dilakukan, dan apabila tetap dipaksakan, akan
mengakibatkan jumlah subjek akan lebih kecil sehingga sulit mengambil
kesimpulan yang definitif.
Untuk penelitan kohor, perlu mendapatkan perhatian utama dalam
menentukan hasil luaran secara standar, apa positif atau negatif (menderita
atau tidak menderita penyakit yang diteliti). Pada penelitian ini kemungkinan
timbulnya negatif palsu cukup besar bila tidak dilakukan standar penentuan
diagnosis.
6 Memilih kelompok kontrol (pembanding)
Kelompok kontrol dalam penelitian kohor adalah kumpulan subjek
yang tidak mengalami pemaparan atau pemaparannya berbeda dengan
kelompok target. Perbedaan antara kelompok target dengan kelompok
kontrol dapat dalam beberapa bentuk yaitu:

a. Pada subjek dengan taktor risiko internal maka kelompok target


dengan variabel taktor risiko tersebut, sedangkan kelompok kontrol
tanpa variabel tersebut pada populasi vang sama.
b. Subjek dengan faktor risiko eksternal yang biasanya berupa variabel
lingkungan, di mana kelompok target berada/hidup pada lingkungan
tersebut sedangkan kelompok kontrol bebas

dari pengaruh

lingkungan bersangkutan.
c. Bila keduanya mengandung faktor risiko maka kelompok kontrol
dipilih dari mereka dengan dosis faktor risiko yang lebih sedikit
(intensitas, kualitas, kuantitas, dan waktu pemaparan yang lebih
rendah) dibanding kelompok target.
Pemilihan kelompok kontrol pada rancangan kohor biasanya tidak
disertai dengan teknik matching. Keadaan tanpa teknik matching biasanya
dilakukan pada pemilihan kelompok kontrol seperti berikut:
a. Penelitian yang melibatkan subjek yang besar.
b. Penelitian dalam satu populasi atau sampel yang proporsi kelompok
yang terpapar dengan faktor risiko jauh lebih besar dibanding dengan
kelompok tanpa risiko (kontrol).
Sedangkan yang dianjurkan melakukan teknik matching pada
pemilihan kelompok kontrol adalah pada kondisi berikut:
a. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor risiko
secara teliti dan mendalam.
b. Penelitian yang subjeknya sangat terbatas jumlahnya.
c. Penelitian dengan proporsi subjek yang terpapar jauh lebih kecil.
7 Pengamatan hasil luaran (timbulnya kejadian)
Pengamatan terhadap kedua kelompok (target dan kontrol) dilakukan
secara bersamaan selama jangka waktu tertentu.Lamanya waktu pengamatan
prospektif kohor tergantung pada karakteristik penyakit atau kejadian yang
diharapkan timbul, dan hal ini sangat dipengaruhi oleh sifat patogenesis serta
perkembangan penyakit/masalah kesehatan yang diteliti. Untuk jenis
penyakit keganasan, misalnya timbulnya kanker hati pada kelompok target
dengan faktor risiko adanya HBs-Ag positif, diperlukan periode pengamatan

yang cukup lama (dapat sampai puluhan tahun), sedangkan sebaliknya


hubungan antara perokok pasif (asap rokok sebagai faktor risiko) dengan
keadaan kelahiran bayi (BBLR) dari satu proses kehamilan dibutuhkan masa
pengamatan hanya 9 bulan untuk setiap subjek.
Pengamatan terhadap timbulnya akibat, dapat dilakukan dengan hanya
pengamatan tunggal yakni menunggu sampai terjadinya efek sebagai hasil
akhir, tetapi dapat pula dengan pengamatan berkala, caranya setiap subjek
diamati secara periodik menurut interval waktu tertentu, termasuk
pengamatan pada akhir penelitian.Di samping itu, dapat pula dilakukan
analisis perbandingan antara kelompok target dan kelompok kontrol dengan
memperhitungkan unsur waktu sebagai unit analisis sehingga dengan
demikian perbandingannya menggunakan skala rasio.
Penentuan hasil akhir yakni penentuan tentang timbulnya akibat harus
dilakukan berdasarkan kriteria baku yang telah disusun pada awal penelitian.
Untuk mengurangi bias, sebaiknya penilaian dilakukan dengan sistem
"blind" di mana penilai tidak mengetahui apakah yang dinilainya adalah
kelompok target atau kelompok kontrol, walaupun hal demikian agak sulit
diterapkan.
Salah satu masalah yang sering terjadi pada pengamatan bentuk kohor
adalah hilangnya subjek dari pengamatan (lost to follow up), terutama pada
pengamatan yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu bila
sejak awal diketahui bahwa ada subjek yang akan berpindah tempat,
sebaiknya tidak diikutsertakan pada penelitian. Bila subjek dipilih dengan
teknik matching, maka setiap subjek yang hilang dari pengamatan,
pasangannya harus dihapus pula dari pengamatan.Apabila jumlah subjek
yang hilang dari pengamatan cukup besar pengamatan harus dihentikan.
Untuk mengantisipasi adanya mereka yang hilang dari pengamatan, dapat
dilakukan perhitungan person years pada akhir pengamatan.
Untuk mengantisipasi adanya mereka yang hilang dari pengamatan,
dapat dilakukan perhitungan person years pada akhir pengamatan. Subjek

menolak ikut/drop-out selama penelitian, sedangkan kegiatan penelitian


tetap teruskan, dapat dilakukan analisis hasil sebagai berikut : - usahakan
keterangan tentang keadaan insiden mereka yang drop-out/menolak ikut; bandingkan sifat karakteristik tertentu mereka yang menolak/drop out
dengan populasi kohor - follow up mereka yang menolak drop out melalui
sarana lain; dan - melakukan pemeriksaan berkala yang lebih sering pada
kelompok kohor untuk menilai kecenderungan penyakit yang diteliti dari
waktu ke waktu. Perhitungan person years dilakukan terutama pada: anggota kohor memasuki kelompok penelitian tidak bersamaan waktunya; sejumlah anggota kohor meninggal atau drop-out selama masa penelitian
Perhitungan hasil akhir pada mereka yang drop out : - adakan perhitungan
nilai rate maksimal (mereka yang ; drop out dianggap menderita semua); adakan perhitungan dengan rate minimal (mereka yang drop out dianggap
tidak menderita); - adakan perhitungan dengan menganggap yang drop out
sama keadaannya dengan yang tidak drop out; dan - adakan perhitungan
dengan menambahkan penyebut sebesar setengah dari jumlah drop out.
Follow-up terhadap subjek, baik sebelum, selama, atau setelah mengalami
keterpaparan merupakan hal yang cukup penting dan sangat mempengaruhi
hasil luaran penelitian kohor.Penentuan dimulainya follow-up merupakan hal
yang penting dan berbagai hasil yang diamati sangat dipengaruhi oleh waktu
awal follow-up tersebut.Hal ini erat hubungannya dengan awal keterpaparan
maupun awal setiap anggota kelompok memasuki pengamatan. Hal lain
yang juga sangat penting dalam penelitian ini adalah lamanya masa
pengamatan. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwa lama pengamatan
sangat tergantung pada sifat dan jenis penyakit yang diamati.
8 Perhitungan hasil penelitian (insinden dan risiko)
Hasil penelitian kohor biasanya dianalisis berdasarkan besarnya
insiden kejadian pada akhir pengamatan terhadap kelompok yang terpapar
dibandingkan dengan kelompok kontrol.Dalam analisis demikian ini, selain

mereka yang tidak terpapar sebagai kelompok kontrol, juga dimungkinkan


membandingkan tingkat keterpaparan yang berbeda antara kelompok target
dengan kelompok kontrol.Hasil perhitungan adalah dengan menentukan
besarnya pengaruh keterpaparan atau hubungan tingkat keterpaparan dengan
hasil luaran (efek).Ukuran yang sering digunakan untuk menilai besarnya
pengaruh taktor keterpaparan terhadap kejadian adalah tingkat risiko
relatif(RR).

Tabel 2. Analisis Tingkat Resiko


Menderit

Tidak

Jumlah

Menderit

Terpapar
Tidak

a
c

a
B
D

a+b
c+d

terpapar
jumlah

a+c

b+d

N= a + b
+c +d

Keterangan:
a = jumlah yang terpapar dan menderita
b = jumlah yang terpapar dan tidak menderita
c = jumlah yang tidak terpapar dan menderita
d = jumlah yang tidak terpapar dan tidak menderita
a + c = jumlah seluruhnya yang menderita pada akhir pengamatan
b + d = juinlah mereka yang tidak menderita pada akhir pengamatan
a + b = jumlah mereka yang terpapar pada awal pengamatan

c + d = jumlah mereka yang tidak terpapar pada awal pengamatan yang


diamati
N = jumlah populasi
Risiko relatif (RR) disebut juga Rasio Insiden Kumulatif (Cumulatif
Incidence Ratio) adalah ukuran yang menunjukkan berapa kali (lebih besar
atau lebih kecil) risiko secara relatif untuk mengalami kejadian (penyakit
atau kematian) pada populasi terpapar bila dibandingkan dengan mereka
yang tidak terpapar.
Rate insiden (IR) umum adalah Jumlah penderita/jumlah yang diamati
IR = a + b
N
Rate insiden kelompok terpapar (IRT): Jumlah penderita dari
kelompok terpapar/ jumlah semua anggota kohor yang terpapar
IRT =

a
a+b

Rate insiden yang tidak terpapar (IR ) : Jumlah pen-derita dari


kelompok yang tidak terpapar/jumlah anggota kohor yang tidak terpapar
IRtt =

c
c+ d

Besarnya risiko relatif (RR) : rate insiden yang terpapar/rate insiden


yang tidak terpapar.

RR =

a
a+ b
c
c +d

Nilai RR menyatakan besarnya risiko (kemungkinan) untuk menderita


bagi mereka yang terpapar dibanding dengan mereka yang tidak terpapar
atau memperlihatkan besarnya pengaruh keterpaparan terhadap timbulnya

penyakit.Risiko relatif merupakan nilai perbandingan (rasio) antara rate


insiden kelompok terpapar dengan rate insiden kelompok yang tidak
terpapar, pada akhir pengamatan. Bila nilai RR = 1 artinya tidak ada
pengaruh antara keterpaparan dengan kejadian penyakit. Bila nilai RR > 1
artinya ada pengaruh positil di mana faktor keterpaparan mempunyai
peranan dalam timbulnya kejadian yang diamati.Makin besar nilai RR,
makin besar pula nilai kelipatan pengaruh tersebut.Sedangkan bila nilai RR
< 1, artinya keterpaparan bukan merupakan risiko kejadian penyakit, tetapi
mempunyai efek pencegahan terjadinya penyakit.
Selain nilai risiko relatit tersebut di atas, dikenal pula nilai perbedaan
rate insiden dari kedua kelompok yang diamati, dan nilai ini disebut risiko
atribut (Attributable Risk). Besarnya risiko atribut (RA) adalah selisih antara
rate insiden kelompok terpapar dengan rate insiden kelompok yang tidak
terpapar.
Resiko Artrtibut =

a
a+b

c
c+ d

atau RA = IR t IR tt

Nilai RA ini menunjukkan besarnya pengaruh bila faktor keterpaparan


dihilangkan atau untuk melihat besarnya kemungkinan dalam usaha
pencegahan penyakit.Kedua nilai tersebut di atas mempunyai arti tersendiri
yaitu risiko relatif menunjukkan berapa besarnya pengaruh faktor
keterpaparan terhadap kejadian penyakit maupun kematian, sedangkan risiko
atribut mempunyai kepentingan dalam kesehatan masyarakat di mana
frekuensi kejadian dapat diperki-rakan pada suatu populasi tertentu.
Untuk menganalisis hasil akhir suatu pengamatan kohor, harus
dianalisis apakah setiap nilai yang diperoleh pada pengamatan, memenuhi
syarat serta betul-betul sesuai dengan ketentuan penelitian. Di samping itu,
nilai yang dicapai harus memberikan gambaran hubungan penyebab
(causality associated) dengan memperhatikan syarat-syarat yang telah
dikemukakan terdahulu.

2.7.

Kelebihan dan Kelemahan Studi Penelitian Kohort


Penelitian kohort dengan rancangan prospektif mempunyai beberapa

kelebihan dan kelemahan yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan


sebelum melakukan penelitian. (Iswandi,2009)
1 Kelebihan
a. Penelitian prospektif dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang
hubungan faktor risiko yang diperkirakan sebagai penyebab timbulnya
suatu penyakit.
b. Dapat digunakan untuk menghitung insiden rate secara langsung.
c. Dapat digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi
dengan perjalannya waktu atau perjalanan penyakit alamiah.
d. Dapat digunakan untuk menghitung besarnya risiko kelompok terpajan
dan kelompok tidak terpajan hingga dapat dihitung risiko atribut dan
risiko relatif atau population atributablerisk (PAR) secara langsung.
e. Dapat bersifat deskriptif, misalnya pengalaman pengobatan dengan obat
baru yang dicatat kemudian dianalisis.
f. Penelitian kohort dapat digunakan untuk mempelajari berbagai efek
terhadap suatu pajanan hingga dapat diperoleh informasi yang lebih
mendalam.
2 Kelemahan
Disamping beberapa keuntungan yang ada, penelitian kohort juga
mempunyai kelemahan sebagai berikut:
a. Pada umumnya, penelitian prospektif membutuhkan waktu yang sangat
lama, misalnya penelitian tentang hubungan antara gaya hidup dengan
timbulnya berbagai macam karsinoma di Jepang membutuhkan waktu 16
tahun atau penelitian tetang hubungan antara alkohol dengan hemorage
stroke yang membutuhkan waktu 12 tahun.
b. Membutuhkan biaya dan tenaga yang besar. Sebagai akibat dari besarnya
sampel yang dibutuhkan dan lamanya penelitian, dibutuhkan biaya yang
besar dan untuk mengadakna pengamatan dibutuhkan lebih banyak
tenaga.

c. Tidak efisien untuk penyakit yang jarang terjadi atau penyakit dengan
fase laten yang panjang.
d. Sering kali sulit untuk mempertahankan subjek studi agar tetap dalam
penelitian, terutama bila pengamatan dilakukan berulang-ulang dan
mebutuhkan waktu yang lama karena penderita menjadi bosan (Budiarto,
2003).

Menurut Setiadi, 2007 Keunggulan penelitian cohort :


a Merupakan desain yang terbaik dalam menentukan insident perjalanan
b

penyakit atau efek yang idteliti.


Paling baik dalam menerangkan dinamika hubungan antara faktor resiko

c
d

dengan efek secara temporal.


Merupakan pilihan terbaik untuk kasus yang bersifat fatal dan progresif.
Karena dilakukan secara kontinyu dan longitudinal, studi ini memiliki
kekuatan yang andal untuk meneliti masalah kesehatan yang masih

meningkat.
Dapat mengatur komparabilitas antara dua kelompok sejak awal

penelitian (subyek dan kontrol).


Dapat secara langsung menetapkan besarnya angka resiko dari suatu

waktu ke waktu yang lain.


Ada keseragaman observasi baik terhadap faktor resiko maupun efek.

Keterbatasan penelitian cohort :


a
b
c
d
e

Memerlukan waktu yang cukup lama.


Memerlukan biaya yang mahal dan rumit.
Kurang efektif bila kasus jarang terjadi.
Memerlukan sarana pengelolahan yang rumit.
Kemungkinan adanya subyek penelitian yang drop out dan mengganggu

analisis hasil.
Karena faktor resiko yang ada pada subyek akan diamati sampai
terjadinya efek maka hal ini berarti kurang atau tidak etis.

2.8.

Desain Studi Cohort


Pada studi kohort, penerliti memilih kelompok individu yang terpajan

dan kelompok individu yang tidak terpajan dan mengikuti perkembangan dari
kedua grup untuk membandingkan insidensi dari suatu penyakit (atau rasio
dari penyakit) pada kedua grup.Desain dapat lebih dari dua grup. Jika terdapat
hubungan antara pajanan dengan penyakit, kita akan menjumpai proporsi
kelompok yang terpajan akan lebih besar daripada kelompok yang tidak
terpajan.
Muncul

Tidak

Penyakit

muncul

Total

Insidens

A+b
c+d

a/(a+b)
c/(c+d)

Penyak
it
Terpajan
Tidak

A
C

B
D

Terpajan
Kita mulai dengan kelompok yang terpajan dengan kelompok yang
tidak terpajan. Pada kelompok a+b, penyakit timbul hanya pada a, tidak pada
b. Oleh karena itu insiden dari penyakit diantara yang terpajan adalah a/(a+b).
Begitu juga dengan kelompok yang tidak terpajan c+d, penyakit timbul pada
kelompok c, tidak pada d. Oleh karena itu insiden dari penyakit diantara yang
tidak terpajan adalah c/(c+d). Penggunaan dari kalkulasi ini terlihat pada
contoh hipotesis dari studi kohort. Pada studi kohort, hubungan antara
merokok dengan penyakit jantung koroner (PJK) ditelaah terjadap kelompok
berisikan 3000 perokok (terpajan) dan kelompok berisikan 5000 non-perokok
(tidak terpajan) yang bebas dari penyakit jantung. Kedua kelompok diikuti
untuk dilihat perkembangan apakah menderita penyakit jantung koroner, dan

insidens dari penyakit jantung koroner dari kedua kelompok dibedakan.PJK


timbul pada 84 orang perokok dan 87 non perokok. Hasilnya ialah insiden
dari PJK 28/1000 diantara perokok dan 17,4/1000 diantara non-perokok.
Perlu dicatat karena kita mengidentifikasi kasus baru (insidens) dari
penyakit saat baru terjadi, kita dapat menentukan apakah hubungan sementara
terjadi antara pajanan dan penyakit, yaitu apakah pajanan mendahului awitan
penyakit.Cara Membedakan Studi Kohort dengan Percobaan Teracakadalah
Kedua studi ini membandingkan kelompok yang terpajan dengan yang tidak
terpajan. Karena, untuk alasan etik dan yang lainnya kita tidak dapat memilih
secara acak subjek penelitian untuk menerima substansi yang sangat
berbahaya seperti zat yang diduga karsinogen, pajanan pada kebanyakan
percobaan Teracak adalah pengobatan atau pencegahan.Pada studi kohort
dalam meneliti etiologi, pajanan sering merupakan zat toksik atau
karsinogenik.
Perbedaan antara kedua desain studi ada tidaknya pengacakan
sangat kritis dengan melihat hasil interpretasi dari suatu penemuan. Pada studi
yang tak teracak (Studi Kohort), ketika kita mengobservasi hubungan antara
pajanan dengan penyakit, kita tidak dapat memastikan apakah timbulnya
penyakit oleh karena pajanan tersebut atau oleh karena pajanan lain. Sebagai
contoh, jika peningkatan risiko penyakit ditemukan pada pekerja di sebuah
pabrik tertentu, dan jika sebagian besar pekerja di pabrik ini hidup di daerah
tertentu, peningkatan risiko penyakit dapat dihasilkan dari pajanan yang
berhubungan dengan tempat tinggal mereka daripada dengan pekerjaan atau
tempat kerja mereka.(Murti,Bhisma. 2011)

2.9.

Contoh kasus

Contoh 1 Studi Framingham

Salah satu penelitian kohort yang paling penting dan paling terkenal
adalah studi Framingham pada penyakit kardiovaskular, yang dimulai pada
tahun 1948. Framingham adalah sebuah kota di massachusetts, sekitar 20 mil
dari Boston. Hal itu dianggap bahwa karakteristik dari populasi (hanya di
bawah 30.000) akan sesuai untuk studi semacam ini dan akan memfasilitasi
follow up dari peserta. Penduduk dianggap memenuhi persyaratan jika
mereka berusia antara 30 dan 62 tahun. Alasan untuk menggunakan rentang
usia ini adalah bahwa orang muda usia 30 tahun umumnya akan mungkin
mewujudkan endpoint kardiovaskular yang sedang dipelajari selama 20 tahun
dan diusulkan periode folllow-up. Banyak orang yang lebih tua dari 62 tahun
akan atau telah menderita penyakit koroner, dan karena itu

tidak akan

bermanfaat untuk mempelajari orang-orang dalam kelompok usia ini untuk


insidens penyakit koroner.
Peneliti mencari besar sampel 5.000.Tabel 9-3 menunjukkan
bagaimana populasi penelitian akhir berasal. itu terdiri dari 5,127 pria dan
wanita yang berusia antara 30 dan 62 tahun pada waktu masuk penelitian dan
bebas dari penyakit kardiovaskular pada waktu itu. Dalam penelitian ini,
banyak "paparan" didefinisikan, termasuk merokok, obesitaS, tekanan darah
tinggi, kadar kolesterol tinggi, rendahnya tingkat aktivitas fisik dan faktor
lainnya.
Kejadian koroner baru diidentifikasi dengan memeriksa populasi
penelitian setiap 2 tahun dan dengan pengawasan harian rawat inap di
rumah sakit hanya di Framingham
TA
BEL 9-3 Turunan dari Populasi penelitian Framingham
Number of men
Total

Number of women

Sampel acak

3,074

3,433

2,024

2,445

6,507
Respondens
4,469
Voluntir

312

428

1,975

2,418

307

427

2,282

2,845

740
Respondens bebas dari CHD
4,393
Voluntir bebas dari CHD
734
Total bebas dari CHD :
5,127
Kelompok penelitian Framingham
CHD,coronary heart disease
Penelitian ini dirancang untuk menguji hipotesis berikut:
Insiden meningkat dengan usia PJK. Ini terjadi lebih awal dan lebih sering
pada laki-laki.
Orang dengan hipertensi mengembangkan penyakit jantung koroner pada
tingkat yang lebih besar daripada mereka yang darah normal.
kadar kolesterol yang tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko PJK.
Tembakau merokok dan penggunaan alkohol kebiasaan yang berhubungan
dengan peningkatan insiden

PJK.

fisik

Peningkatan

aktivitas

dikaitkan

dengan

penurunan

dalam

pengembangan PJK.
Peningkatan berat badan presdisposes seseorang untuk perkembangan PJK.
Sebuah tingkat peningkatan perkembangan PJK terjadi pada pasien dengan
diabetes melitus.
Ketika kita meneliti daftar ini hari ini, kita mungkin bertanya-tanya
mengapa obvius tersebut dan hubungan terkenal seharusnya diperiksa dalam

seperti studi yang luas. Bahaya ini sholud "belakang" Pendekatan diingat,
melainkan terutama karena studi Framingham, sebuah studi kohort klasik
yang membuat kontribusi fundamental bagi pemahaman kita tentang
epidemiologi penyakit kardiovaskuler, bahwa hubungan ini sudah dikenal saat
ini.
Penelitian

ini

menggunakan

metode

kedua

yang

dijelaskan

sebelumnya dalam bab ini untuk memilih populasi penelitian untuk studi
kohort: Sebuah populasi tertentu dipilih berdasarkan lokasi tempat tinggal
atau faktor lainnya tidak berhubungan dengan eksposur (s) yang
bersangkutan. Populasi kemudian diamati dari waktu ke waktu untuk
menentukan individu dikembangkan atau sudah memiliki "eksposur"
kepentingan dan, kemudian, untuk menentukan mana yang mengembangkan
hasil kardiovaskular (s) bunga. Pendekatan ini menawarkan keuntungan
penting: mengijinkan investigastors untuk mempelajari beberapa "eksposur"
seperti hipertensi, merokok, obesitas, kadar kolesterol, dan faktor-faktor
lainnya, serta interaksi yang kompleks antara eksposur, dengan menggunakan
teknik multivariabel. Dengan demikian, sedangkan studi kohort yang dimulai
dengan terbuka dan kelompok terpapar non berfokus pada pemaparan
spesifik, sebuah studi kohort yang dimulai dengan populasi tertentu dapat
mengeksplorasi peran eksposur banyak.

Contoh 2: Insiden Kanker Payudara dan Defisiensi Progesteron


Telah lama diakui bahwa kanker payudara lebih sering terjadi pada wanita
yang lebih tua pada saat kehamilan pertama mereka. Sebuah pertanyaan yang
sulit dimunculkan oleh pengamatan ini: adalah hubungan antara usia larut
kehamilan pertama dan peningkatan risiko kanker payudara terkait dengan
temuan bahwa kehamilan pertama awal melindungi terhadap resiko kanker
payudara (dan karena itu perlindungan seperti yang hilang pada wanita yang

memiliki kehamilan lanjut atau tidak ada kehamilan), atau keduanya


merupakan kehamilan pertama tertunda dan peningkatan risiko kanker
payudara hasil dari beberapa faktor ketiga, seperti kelainan hormonal yang
mendasari?
Sulit untuk menggoda selain dua interpretasi.Namun, pada tahun 1978,
Cowan dan rekan kerja yang dilakukan sekitar sebuah studi yang dirancang
untuk menentukan mana dari kedua penjelasan itu mungkin yang benar.Para
peneliti mengidentifikasi populasi wanita yang pasien di Klinik Rumah Sakit
Johns Hopkins Infertilitas di Baltimore, Maryland, dari tahun 1945 sampai
1965. Karena mereka adalah pasien di klinik ini, mata pelajaran, menurut
definisi, semua memiliki usia larut kehamilan pertama. Dalam perjalanan
evaluasi diagnostik mereka, profil hormonal rinci dikembangkan untuk setiap
wanita. Para peneliti tersebut mampu memisahkan wanita dengan kelainan
hormonal yang mendasari (tidak terpapar) yang memiliki penyebab lain
infertilitas, seperti masalah dengan patensi tuba atau jumlah sperma rendah
suami. Kedua kelompok perempuan kemudian diikuti untuk pengembangan
selanjutnya dari kanker payudara.
Bagaimana mungkin hasil ini desain studi memperjelas hubungan
antara usia larut kehamilan pertama dan peningkatan risiko kanker payudara?
Jika penjelasan asosiasi usia larut kehamilan pertama dan peningkatan risiko
kanker payudara adalah bahwa kehamilan pertama awal melindungi terhadap
resiko kanker payudara, kita tidak akan mengharapkan perbedaan dalam
kejadian kanker payudara antara wanita yang memiliki kelainan hormonal dan
mereka yang tidak. Namun, jika penjelasan untuk peningkatan risiko kanker
payudara adalah bahwa kelainan hormonal yang mendasari presdisposes
wanita-wanita dengan kanker payudara, kita akan mengharapkan untuk
menemukan insiden yang lebih tinggi dari kanker payudara pada wanita
dengan kelainan hormonal dibanding mereka yang tanpa kelainan ini..( Noor,
Nur Nasry, 2000)

Studi ini menemukan bahwa, ketika perkembangan kanker payudara


dianggap untuk seluruh kelompok, kejadian itu 1,8 kali lebih besar pada
wanita dengan kelainan hormonal dibandingkan pada wanita dengan kelainan
hormonal, namun temuan itu tidak signifikan secara statistik. Namun, ketika
terjadinya kanker payudara dibagi menjadi kategori kejadian premenopause
dan menopause, wanita dengan kelainan hormonal memiliki risiko 5,4 kali
lebih besar terjadinya kanker payudara premenopause, ada perbedaan yang
terlihat untuk terjadinya kanker payudara pascamenopause. Hal ini tidak jelas
apakah

ini

kurangnya

perbedaan

dalam

kejadian

kanker

payudara

pascamenopause merupakan ketiadaan sejati perbedaan atau wheter dapat


dikaitkan dengan sejumlah kecil perempuan dalam populasi ini yang telah
mencapai menopause pada saat penelitian dilakukan.Apa jenis desain
penelitian itu? Jelas, itu adalah desain kohort, karena membandingkan terbuka
dan terkena orang.Selain itu, karena penelitian itu dilakukan pada tahun 1978
dan penyidik menggunakan daftar pasien yang telah dilihat di Klinik
Infertilitas 1945-1965, itu adalah desain kohort retrospektif.

Jelas, untuk melakukan studi kohort, kita harus memiliki beberapa ide
yang pajanannya dicurigai sebagai kemungkinan penyebab penyakit dan karena
itu pantas diselidiki. Konsekuensinya, studi kohort dindikasikan ketika bukti
yang baik memberi kesan adanya hubungan penyakit dengan pajanan tertentu
atau pajanan yang lainnya (bukti yang diperoleh baik dari pengamatan klinis
atau kasus kontrol atau jenis lain studi).
Karena studi kohort sering melibatkan tindak lanjut dari populasi dalam
jangka panjang, pendekatan kohort adalah particurlarly menarik ketika kita
dapat meminimalkan gesekan (kerugian untuk menindaklanjuti) dari populasi

penelitian.Akibatnya, studi tersebut umumnya lebih mudah untuk melakukan


ketika interval antara eksposur dan perkembangan penyakit ini singkat.Sebuah
contoh dari sebuah asosiasi di mana interval antara paparan dan hasil pendek
adalah hubungan antara infeksi rubella selama kehamilan dan pengembangan
cacat bawaan pada keturunannya.
Beberapa

pertimbangan

dapat

membuat

desain

kohort

praktis.Seringkali, bukti kuat tidak ada untuk membenarkan pemasangan


sebuah studi besar dan mahal untuk penyelidikan mendalam dari peran faktor
risiko spesifik dalam etiologi penyakit.Bahkan ketika bukti tersebut tersedia,
kohort

orang

terbuka

dan

tidak

terbuka

sering

tidak

dapat

diidentifikasi.Umumnya, kita tidak memiliki catatan sesuai jika pas atau sumber
data yang memungkinkan kita untuk melakukan studi kohort retrospektif,
sebagai akibatnya, sebuah studi yang panjang diperlukan karena kebutuhan
untuk diperpanjang tindak lanjut dari populasi setelah paparan.Selanjutnya,
banyak penyakit yang menarik hari ini terjadi pada tingkat yang sangat rendah.
Akibatnya, kohort sangat besar harus terdaftar dalam penelitian untuk
memastikan bahwa kasus yang cukup berkembang pada akhir masa studi untuk
mengizinkan analisis valid dan kesimpulan.( Noor, Nur Nasry, 2000)

BAB III
PENUTUP

2.1. kesimpulan
Studi penelitian kohortadalah rancangan epidemiologi analitik secara prospektif
dan bersifat observasional yang bertujuan mencari adanya hubungan sebab akibat
dengan membandingkan insidens penyakit pada kelompok studi yang terpajan oleh
faktor resiko dengan insidens penyakit pada kelompok yang tidak terpajan oleh faktor
resiko sebagai kontrol.
Karakteristik Studi Penelitian Kohort yaitu bersifat observasional, pengamatan
dilakukan dari sebab ke akibat, studi insidens, terdapat kelompok kontrol, terdapat
hipotesis spesifik, merupakan penelitian prospektif dan intervensi dilakukan oleh
alam atau orang yang bersangkutan
Jenis-jenis penelitian studi kohort yaitu penelitian dengan satu kohort, penelitian
dengan dua kohort, current kohort, dan hystorical kohort.Langkah-langkah kegiatan
pada penelitian kohort yaitu merumuskan pertanyaan penelitian, penetapan populasi
kohort, menentukan besarnya sampel. Sumber keterangan keterpaparan, identifikasi
subjek, memilih kelompok pembanding, pengamatan hasil luaran, dan perhitungan
hasil penelitian
Konsep dasar penelitian kohort, terdapat dua kelompok kohort, yaitu
kelompok yang terpajan oleh faktor risiko dan kelompok yang tidak terpajan oleh
faktor risiko sebagai kontrol. Alokasi kedua kelompok tidak dilakukan secara acak,
tetapi ditentukan berdasarkan kriteria subjek studi.Selanjutnya kedua kelompok
tersebut diikuti secara bersamaan dalam suatu periode waktu tertentu dan efek
(insidens) pada kedua kelompok di catat kemudian dibandingkan.

3.2. saran

DAFTAR PUSTAKA
Budiarto, eko. 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta.

Iswandi.2009. Penelitian Kohort.Program Pasca Sarjana Departemen Biostatistik dan


Kependudukan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Murti,Bhisma. 2011. Desain Studi. Institute of Health Economic and Policy Studies
(IHEPS),
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran,
Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Noor, Nur Nasry. 2000. Pengantar Epidemiologi. Makassar : Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Hasanuddin

Takeshi, Hirayama. 1985. Life Style Carrying Highest and Lowest Cancer Risk.
National cancer Research center Institute of Tokyo, japan, JAMA SEA Ed.
Vol.1. No.1, p14.