Anda di halaman 1dari 5

Al-Wafi; Imam Nawawi; DR.

Musthafa Dieb al-Bugha

Abu Tsalabah al-Khusyani Jurtsum bin Nasyir ra. berkata, Rasulullah saw.
bersabda: Sesungguhnya Allah telah menetapkan kewajiban-kewajiban,
maka janganlah sampai diabaikan. Dia telah meletakkan batasan-batasan,
maka jangan sampai diterjang. Dia telah mengharamkan beberapa hal, maka
jangan dilanggar. Dia juga telah mendiamkan beberapa hal, karena sayang
kepada kalian dan bukan karena lupa, maka jangan sampai kalian ributkan.
(Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dan yang lain)
URGENSI HADITS
Hadits ini termasuk jawamiul kalim yang menjadi keistimewaan Rasulullah
saw. Ungkapan ini singkat, namun penuh makna. Sebagian ulama berkata:
Selain hadits ini tidak ada haditsn yang menghimpun masalah ushuliyah
dan furuiyah. Karena Rasulullah saw. membagi syariat Allah menjadi empat
jenis: faraidh [kewajiban], maharim [yang diharamkan], hudud [ketentuan
hukum], dan maskut anhu [hal-hal yang tidak diperbincangkan].
Ibnu Samani berkata: Orang yang menamalkan hadits ini, layak
mendapatkan pahala dan terhindar dari siksa. Karena orang yang melakukan
hal-hal yang wajib, menjauhi larangan, tidak melanggar ketentuan-ketentuan
yangn wajib, menjauhi larangan, tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang
digariskan, dan tidak mempersoalkan berbagai perkara yang didiamkan,
maka ia telah menghimpujn semua keutamaan dan memenuhi hak-hak
agama. Karena syaria tidak keluar dari hal-hal yang disebutkan dalam hadits
ini.

KANDUNGAN HADITS
1.Keharusan
melakukan hal-hal
yang fardlu dan wajib
Fardlu
adalah sesuatu yang diperintahkan secara tegas oleh Allah kepada hambaNya,
seperti:
shalat,
zakat,
puasa
dan
haji.
Madzab Syafii berpendapat bahwa setiap yang diwajibkan oleh syara, baik
melalui al-Quran, sunnah, ijma atau dalil syari yang lain, maka disebut
fardlu. Jadi pengertian fardlu sama dengan wajib, kecuali dalam masalah haji.
Dalam haji, fardlu adalah amalan yang tidak bisa diganti dengan dam,
seperti: thawaf ifadhah. Sedangkan wajib adalah amalan yang bisa diganti
dengan dam, seperti thawaf wada.
Madzab Hanafi berpendapat, bahwa fardlu adalah yang diperintahkan
melalui dalil yang qathi [pasti], seperti: shalat dan zakat. Sedangkan wajib
adalah yang diperintahkan melalui dalil dhanni (tidak pasti, misalnya dengan
qiyas atau khawab wahid [bukan mutawathir]) seperti zakat fitrah.
Fardlu dibagi menjadi dua:
a. Fardlu ain, yaitu kewajiban yang dibebankan kepada setiap individu.
Seperti shalat wajib, zakat
dan puasa.
b. Fardlu kifayah, yaitu kewajiban yang apabila adalah salah satu atau
sebagian orang yang melakukannya, maka semua orang Islam terbebas dari
dosa. Namun jika tidak ada orang yang melakukannya, maka semua orang
Islam mendapatkan dosa, seperti: shalat jenazah, menjawab salam, amar
maruf nahi munkar.
2. Tidak melampaui batasan-batasan yang telah ditentukan Allah
Batasan-batasan tersebut adalah hukum-hukum yang dimaksud untuk
mencegah dari perbuatan yang dilarang. Sebagai contoh: hukuman zina,
hukuman mencuri, hukuman minum minuman keras.
Ketika Ibnu Zaid berusaha meminta keringanan hukuman bagi wanita dair
Bani Makhzumiyah yang dijatuhi kukuman potong tangan, Rasulullah saw.
menjawab: Apakah kamu meminta keringan hukuman yang telah ditentukan
oleh
Allah?
Jadi ketentuan hukuman-hukuman ini harus dilaksanakan apa adanya, tidak
boleh ditambah atau dikurangi.

Adapun penambahan hukuman terhadap orang yang minum minuman keras,


dari 40 cambukan ke 80 cambukan, adalah hal yang bisa diterima, karena
jumlah peminum minuman keras pada zaman Umar bin Khaththab
meningkat, maka tambahan tersebut dapat membuat jera yang lain. Dengan
demikian tambahan tersebut adalah ijtihad dari Umar ra. sedangkan kita
diperintahkan Rasulullah untuk mencontoh Umar bin Khaththab ra,
sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, Contohlah dua orang
setelahku, Abu Bakar dan Umar. Juga dalam hadits beliau yang dalam
bentuk yang lebih umum. Berpegang teguhlah terhadap sunnahku dan
sunnah khulafa ar-rasyidin.
Keputusan Umar juga telah disepakati oleh para shahabat, terlebih setelah
Ali ra. berkata: Wahai Amirul Mukminin, barangsiapa yang minum minuman
keras maka ia akan berkata tidak karuan maka ia telah menuduh orang lain
tanpa bukti, sedangkan hukuman bagi orang yang menuduh orang lain
adalah delapan puluh kali Allah befirman, Dan orang-orang yang
menuduh wanita-wanita yang baik-baik [berbuat zina] dan mereka tidak
mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka [yang menuduh
itu] delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka
untuk selamanya. Dan mereka itulah oran-orang yang fasik. (an-Nurr:4) Ali
ra. juga berkata: 40 atau 80, keduanya adalah sunnah.
3.
Larangan
mendekati
berbagai
hal
yang
diharamkan.
Yaitu hal-hal yang secara jelas telah diharamkan di dalam al-Quran dan
hadits, seperti: kesaksian palsu, makan harta anak yatim, dan riba. Allah swt.
berfirman: Katakanlah: Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji,
baik yang nampak maupun yang tersembunyi. (al-Anam: 151)
Rasulullah saw. bersabda: Setiap yang memabukkan adalah haram.
Beliau juga bersabda: Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian
adalah
haram
bagi
kalian.
Hal-hal yang diharamkan tidaklah banyak, dan semuanya mengandung
mudharat. Selain hal-hal yang disebutkan keharamannya, maka masuk
dalam
kategori
halal.
Firman Allah: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan
apa-apa yang telah Allah halalkan bagi kamu. (al-Maa-idah: 87)
4.
Rahmat
Allah kepada
hamba-Nya Rasulullah saw. menjelaskan
bahwa apa-apa yang didiamkan oleh Allah swt. atau tidak ditegaskan halal
haramnya, adalah rahmat Allah kepada hamba-Nya. hal-hal semacam ini
boleh
dilakukan
atau
ditinggalkan.
Karena diamnya Allah swt. bukanlah karena kesalahan atau kelalaian,

Mahasuci Allah dari semua itu. Allah berfirman: Dan tidaklah Rabb-mu
lupa.
(Maryam:
64)
Rabb-mu tidak akan salah dan tidak [pula] lupa. (Thaha: 52)
5.
Tidak boleh banyak
bertanya Larangan ini mungkin khusus pada
zaman Nabi Muhammad saw. karena dengan banyak pertanyaan terhadap
sesuatu yang belum disebut, dikhawatirkan menjadi penyebab turunnya satu
hukum
yang
justru
akaan
memberatkan.
Firman Allah: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan
[kepada Nabimu] hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya
menyusahkan kamu. (al-Maa-idah: 101)
Namun bisa juga larangan itu masih berlaku hingga sekarang, terutama
pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya tidak mendatangkan kemaslahatan.
Rasulullah saw. bersabda: Cukuplah dengan apa yang aku jelaskan.
Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak
bertanya dan berselisih dengan para nabinya.
Dalam sabdanya yang lain, Celakalah orang-orang yang suka membahas
perkara-perkara yang tidak ada manfaatnya.
Larangan itu juga terhadap usaha untuk mendalami satu masalah hingga
tahab berlebih-lebihan, sebagaimana yang diutarakan oleh Ibnu Masud ra.
Janganlah menanyakan hal-hal yang tidak bermanfaat. Janganlah
mendalami sesuatu secara berlebihan. Cukuplah dengan apa yang dipahami
oleh para shahabat ra
Para shahabat tidak banyak bertanya kepada Rasulullah saw. Ada keheranan
pada diri shahabat ra. ketika sekelompok orang badui datang kepada
Rasulullah saw. dan mendengarkan dengan seksama jawaban yang diberikan
oleh beliau.
Masuk dalam kategori mempermasalahkan hal-hal yang tidak mendatangkan
manfaat adalah membahas dan mempermasalahkan perkara-perkara ghaib.
Padahal kita hanya diperintahkan untuk meyakininya tanpa dijelaskan
bagaimana bentuknya. Karena, membahas masalah ghaib sangat mungkin
akan melahirkan keraguan atau bahkan mendustakan.
Ibnu Ishak berkata: Tidak boleh memikirkan sang pencipta dan juga ciptaanNya, kecuali pernah didengar [dari al-Quran atau hadits] sebagai contoh
ayat: Dan tiada suatupun melainkan ia bertasbih dengan memuji-Nya. (alIsraa:
44)
Maka tidak boleh memikirkan bagaimana benda-benda padat bertasbih? Kita

hanya diperintahkan mempercayai bahwa semua benda yang ada di alam


semesta ini bertasbih, bagaimana cara bertasbihnya? wallaaHu alam.
Rasulullah saw. bersabda: Setan datang kepada salah seorang di antara
kamu lalu bertanya: siapakah yang menciptakan ini? Siapakah
yangmenciptakan itu? hingga pada satu pertanyaan: Siapakah yang
menciptakan Tuhan kamu? jika sampai pada pertanyaan itu maka
berlindunglah kepada Allah dan hentikanlah. (HR Bukhari)
Beliau juga bersabda: Manusia tidak henti-hentinya bertanya, sehingga ia
akan bertanya, Allah yang menciptakan makhluk, lalu siapakah yang
menciptakan Allah? barangsiapa yang bertemu dengan pertanyaan ini maka
ucapkanlah: Saya beriman kepada Allah. (HR Muslim)
6. Hadits ini menyuruh kita untuk mematuhi semua kewajiban, komitmen
dengan rambu-rambu yang ada, menjauhi larangan dan tidak
mempermasalahkan berbagai hal yang didiamkan.