Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A.

Anatomi Fisiologi
1. Tengkorak
Tulang tengkorak menurut merupakan struktur tulang yang menutupi dan
melindungi otak, terdiri dari tulang kranium dan tulang wajah. Tulang kranium terdiri
dari 3 lapisan : lapisan luar, etmoid dan lapisan dalam. Lapisan luar dan dalam
merupakan struktur yang kuat sedangkan etmoid merupakan struktur yang menyerupai
busa. Lapisan dalam membentuk rongga / fosa ; fosa anterior didalamnya terdapat lobus
frontalis, fosa tengah berisi lobus temporalis, parientalis, oksipitalis, fosa posterior
berisi otak tengah dan sereblum.
2. Meningen
Tepat di atas tengkorak terletak galea aponeurotika, suatu jaringan fibrosa, padat
yang bebas dapat menyerap daya kekuatan trauma. Di antara kulit dan galea terdapat
suatu lapisan lemak dan lapisan membrane dalam yang mengandungi pembuluhpembuluh darah besar. Bila robek, pembuluh-pembuluh ini sukar berkonstriksi dan
menyebabkan kehilangan darah yang menimbulkan laserasi pada kulit kepala. Tepat di
bawah galea terdapat ruang subaponeurotik yang mengandung vena emisaria dan
diploika.
Meninges ialah salah satu pelindung yang melapisi otak. Ketiga lapisan
meninges adalah dura mater, araknoid dan pia mater. Masing-masing mempunyai fungsi
tersendiri dan strukturnya berbeda dari struktur lainnya. Cairan serebrospinal diproduksi
di pleksus koroid dari lateral, ketiga dan ventrikel keempat dari otak dan daun melalui
tiga foramina di atap ventrikel 3. Ini masuk ke dalam ruang subarachnoid antara
arachnoid dan pia dan berfungsi untuk melindungi otak dan sum-sum tulang belakang
dengan memperkecil benturan atau goncangan.
a.

Dura mater
Dura mater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan
endosteal dan lapisan meningeal. Dura mater merupakan selaput yang keras, terdiri
atas jaringan ikat fibrosa yang melekat erat pada permukaan dalam dari kranium.
Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di bawahnya, maka terdapat suatu
ruang potensial ruang subdural yang terletak antara dura mater dan arachnoid,

dimana sering dijumpai perdarahan subdural. Pada cedera otak, pembuluh


pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di
garis tengah atau disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan dan
menyebabkan perdarahan subdural. Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena
ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat
mengakibatkan perdarahan hebat .
b.

Selaput Arakhnoid
Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang. Selaput
arakhnoid terletak antara pia mater sebelah dalam dan dura mater sebelah luar yang
meliputi otak. Selaput ini dipisahkan dari dura mater oleh ruang potensial, disebut
spatium subdural dan dari pia mater oleh spatium subarakhnoid yang terisi oleh
liquorserebrospinalis. Perdarahan sub arakhnoid umumnya disebabkan akibat cedera
kepala.

c.

Pia mater
Pia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri. Pia mater adalah
membrana vaskular yang dengan erat membungkus otak, meliputi gyri dan masuk
kedalam sulci yang paling dalam. Membrana ini membungkus saraf otak dan
menyatu dengan epineuriumnya. Arteri-arteri yang masuk kedalam substansi otak
juga diliputi oleh pia mater.

Gambar 1: lapisan yang melindungi kepala

3. Otak
Otak terdiri dari tiga bagian yaitu:
a. Cerebrum
Serebrum atau otak besar terdiri dari dari 2 bagian, hemispherium serebri
kanan dan kiri. Setiap hemispher dibagi dalam 4 lobus yang terdiri dari lobus frontal,
oksipital, temporal dan pariental. Yang masing-masing lobus memiliki fungsi yang
berbeda, yaitu:
1)

Lobus frontalis
Lobus frontalis pada korteks serebri terutama mengendalikan keahlian motorik
misalnya menulis, memainkan alat musik atau mengikat tali sepatu. Lobus
frontalis juga mengatur ekspresi wajah dan isyarat tangan. daerah tertentu pada
lobus frontalis bertanggung jawab terhadap aktivitas motorik tertentu pada sisi
tubuh yang berlawanan. Efek perilaku dari kerusakan lobus frontalis bervariasi,
tergantung kepada ukuran dan lokasi kerusakan fisik yang terjadi. Kerusakan yang
kecil, jika hanya mengenai satu sisi otak, biasanya tidak menyebabkan perubahan
perilaku yang nyata, meskipun kadang menyebabkan kejang. Kerusakan luas yang
mengarah ke bagian belakang lobus frontalis bisa menyebabkan apati, ceroboh,
lalai dan kadang inkontinensia. Kerusakan luas yang mengarah ke bagian depan
atau samping lobus frontalis menyebabkan perhatian penderita mudah teralihkan,
kegembiraan yang berlebihan, suka menentang, kasar dan kejam.

2)

Lobus parietalis
Lobus parietalis pada korteks serebri menggabungkan kesan dari bentuk, tekstur
dan berat badan ke dalam persepsi umum. Sejumlah kecil kemampuan
matematikan dan bahasa berasal dari daerah ini. Lobus parietalis juga membantu
mengarahkan posisi pada ruang di sekitarnya dan merasakan posisi dari bagian
tubuhnya. Kerusakan kecil di bagian depan lobus parietalis menyebabkan mati
rasa pada sisi tubuh yang berlawanan. Kerusakan yang agak luas bisa
menyebabkan hilangnya kemampuan untuk melakukan serangkaian pekerjaan
keadaan ini disebut ataksia dan untuk menentukan arah kiri-kanan. Kerusakan
yang luas bisa mempengaruhi kemampuan penderita dalam mengenali bagian
tubuhnya atau ruang di sekitarnya atau bahkan bisa mempengaruhi ingatan akan
bentuk yang sebelumnya dikenal dengan baik misalnya, bentuk kubus atau jam
dinding. Penderita bisa menjadi linglung atau mengigau dan tidak mampu
berpakaian maupun melakukan pekerjaan sehari-hari lainnya.
6

3)

Lobus temporalis
Lobus temporalis mengolah kejadian yang baru saja terjadi menjadi dan
mengingatnya sebagai memori jangka panjang. Lobus temporalis juga memahami
suara dan gambaran, menyimpan memori dan mengingatnya kembali serta
menghasilkan jalur emosional. Kerusakan pada lobus temporalis sebelah kanan
menyebabkan terganggunya ingatan akan suara dan bentuk. Kerusakan pada lobus
temporalis sebelah kiri menyebabkan gangguan pemahaman bahasa yang berasal
dari luar maupun dari dalam dan menghambat penderita dalam mengekspresikan
bahasanya. Penderita dengan lobus temporalis sebelah kanan yang nondominan,
akan mengalami perubahan kepribadian seperti tidak suka bercanda, tingkat
kefanatikan agama yang tidak biasa, obsesif dan kehilangan gairah seksual.

4)

Lobus Oksipital
Fungsinya untuk visual center. Kerusakan pada lobus ini otomatis akan
kehilangan fungsi dari lobus itu sendiri yaitu penglihatan.

b. Cerebellum
Terdapat dibagian belakang kranium menepati fosa serebri posterior dibawah
lapisan durameter. Cereblum mempunyai aski yaitu ; merangsang dan menghambat
serta mempunyai tanggunag jawab yang luas terhadap koordinasi dan gerakan halus.
Ditambah

mengontrol

gerakan

yang

benar,

keseimbangan

posisi

dan

mengintegrasikaninput sesori.
c. Batang otak (Brainstem)
Batang otak terdiri dari otak tengah, pons dan medula oblomata. Otak tengah
midbrain / ensefalon menghubungkan pons dan sereblum dengan hemisfer sereblum.
Bagian ini berisi jalur sensorik dan motorik, sebagai pusat reflek pendengaran dan
penglihatan. Pons terletak didepan sereblum antara otak tengah dan medula, serta
merupakan jembatan antara 2 bagian sereblum dan juga antara medula dengan
serebrum. Pons berisi jarak sensorik dan motorik. Medula oblomata membentuk
bagian inferior dari batang otak, terdapat pusat pusat otonom yang mengatur fungsifungsi vital seperti pernafasan, frekuensi jantung, pusat muntah, tonus vasomotor,
reflek batuk dan bersin.

Gambar 2: Bagian-bagian otak


4. Syaraf Cranial
terdapat 12 syaraf cranial yaitu:
a. Nervus Olfaktorius (Nervus Kranialis I)
Saraf pembau yang keluar dari otak dibawa oleh dahi, membawa rangsangan aroma
(bau-bauan) dari rongga hidung ke otak.
b. Nervus Optikus (Nervus Kranialis II)
Mensarafi bola mata, membawa rangsangan penglihatan ke otak.
c. Nervus Okulomotorius (Nervus Kranialis III)
Bersifat

motoris,

mensarafi

otot-otot

orbital

(otot

pengerak

bola

mata)

menghantarkan serabut-serabut saraf para simpati untuk melayani otot siliaris dan
otot iris.
d. Nervus Trokhlearis (Nervus Kranialis IV)
Bersifat motoris, mensarafi otot-otot orbital. Saraf pemutar mata yang pusatnya
terletak dibelakang pusat saraf penggerak mata.
e. Nervus Trigeminus (Nervus Kranialis V)
Sifatnya majemuk (sensoris motoris) saraf ini mempunyai tiga buah cabang.
Fungsinya sebagai saraf kembar tiga, saraf ini merupakan saraf otak besar, sarafnya
yaitu:
1) Nervus oftalmikus: sifatnya sensorik, mensarafi kulit kepala bagian depan kelopak
mata atas, selaput lendir kelopak mata dan bola mata.

2) Nervus maksilaris: sifatnya sensoris, mensarafi gigi atas, bibir atas, palatum,
batang hidung, ronga hidung dan sinus maksilaris.
3) Nervus mandibula: sifatnya majemuk (sensori dan motoris) mensarafi otot-otot
pengunyah. Serabut-serabut sensorisnya mensarafi gigi bawah, kulit daerah
temporal dan dagu.
f. Nervus Abducens (Nervus Kranialis VI)
Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot orbital. Fungsinya sebagai saraf penggoyang
sisi mata
g. Nervus Fasialis (Nervus Kranialis VII)
Sifatnya majemuk (sensori dan motori) serabut-serabut motorisnya mensarafi otototot lidah dan selaput lendir ronga mulut. Di dalam saraf ini terdapat serabut-serabut
saraf otonom (parasimpatis) untuk wajah dan kulit kepala fungsinya sebagai mimik
wajah untuk menghantarkan rasa pengecap.
h. Nervus Akustikus (Nervus Kranialis VIII)
Sifatnya sensori, mensarafi alat pendengar, membawa rangsangan dari pendengaran
dan dari telinga ke otak. Fungsinya sebagai saraf pendengar.
i. Nervus Glosofaringeus (Nervus Kranialis IX)
Sifatnya majemuk (sensori dan motoris) mensarafi faring, tonsil dan lidah, saraf ini
dapat membawa rangsangan cita rasa ke otak.
j. Nervus Vagus (Nervus Kranialis X)
Sifatnya majemuk (sensoris dan motoris) mengandung saraf-saraf motorik, sensorik
dan parasimpatis faring, laring, paru-paru, esofagus, gaster intestinum minor,
kelenjar-kelenjar pencernaan dalam abdomen. Fungsinya sebagai saraf perasa.
k. Nervus Aksesorius (Nervus Kranialis XI),
Saraf ini mensarafi muskulus sternokleidomastoid dan muskulus trapezium,
fungsinya sebagai saraf tambahan
l. Nerrvus Hipoglosus (Nervus Kranialis XII)
Saraf ini mensarafi otot-otot lidah, fungsinya sebagai saraf lidah. Saraf ini terdapat di
dalam sumsum penyambung.

Gambar 3: Syaraf-syaraf cranial


5. Arteri intra cranial
Arteri carotid interna membawa darah ke daerah sirkulasi serebral anterior.
Arteri vertebral dan basilar memperdarahi di daerah sirkulasi posterior. Arteri carotid
externa paling banyak membawa darah di daerah ekstrakranial dan struktur leher
(kecuali pada daerah orbit) dan penting untuk sirkulasi darah di meningea. Banyak
pertemuaan anastomoses di antara arteri karotis externa dengan sirkulasi anterior dan
posterior.
Para arteri meningeal medial ke atas melewati foramen spinosum. Dalam
tengkorak melewati lateral dan kemudian naik pada tulang temporal skuamosa di dalam
alur, dengan vena yang sesuai. Cabang anterior melewati ke atas dan mundur menuju
titik dan cabang posterior melewati mundur. Ini memasok dura mater dan tulang-tulang
tempurung kepala. Setelah cedera kepala mungkin berdarah untuk menghasilkan
subdural perdarahan, gejala yang mungkin tertunda selama beberapa waktu setelah
cedera
Percabangan di daerah posterior termasuk arteri occipital. Arteri ini
memperdarahi otot, scalp dan dura mater melalui percabangan arteri petromastoid.
Arteri mengingeal media ke atas melewati arteri temporal superficial melalui foramen
spinosum dan membentuk angular. Kemudian percabangan posterior ke arah lambda
melewati tulang temporal squamous. Arteri meningeal media memperdarahi dura mater
dan daerah dalam tengkorak serta ateri oftalmikus. Arteri temporal superficial
merupakan pembekal utama scalp. Kemudiannya bercabang di daerah proksimal, arteri
fasial transversal ke zygomatik arc, percabangan di atas cranium
10

Gambar 4: perjalanan arteri meningeal media


B.

Pengertian
Epidural hematom adalah adanya pengumpulan darah diantara tulang tengkorak
dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah/cabang-cabang arteri meningeal media
yang terdapat di duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena itu
sangat berbahaya. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 2 hari. Lokasi yang paling
sering yaitu dilobus temporalis dan parietalis

Gambar 5: lokasi subdural hematoma dan epidural hematoma

11

Gambar 6: Perbedaan subdural hematoma dan epidural hematoma


C.

Penyebab
Epidural hematom sebagai akibat perdarahan pada lapisan otak yang terdapat pada
permukaan bagian dalam dari tengkorak. Hematoma Epidural dapat terjadi pada siapa saja
dan umur berapa saja, beberapa keadaan yang bisa menyebabkan epidural hematom
adalah:
1. Trauma
2. Non-traumatic:
a. Arteri-vascular malformasi,
b. Hemoragik diathesis
c. Neoplasma (meningioma, meningeal carcinomatosis)
d. Spontan intracranial hipotensi
e. Rupture granulasio Pacchini
f. Kontusio cerebri
Faktor risiko non traumatik: Hipertensi, obat-obatan(anti-koagulan), atheroma, usia
lanjut

D.

Manifestasi klinik.
1. Saat awal kejadian, pada sekitar 20% pasien, tidak timbul gejala apa apa
2. Pada sebagian besar pasien dapat terjadi periode tidak sadar sadar tidak sadar. ketika
3.
4.
5.
6.

sadar pada umumnya pasien dalam kondisi delirium


Beberapa penderita epidural hematom mengeluh sakit kepala
Muntah muntah
Kejang kejang
Pasien dengan epidural hematom yang mengenai fossa posterior akan menyebabkan
keterlambatan atau kemunduran aktivitas yang drastis. Penderita akan merasa
kebingungan dan berbicara kacau, lalu beberapa saat kemudian menjadi apneu, koma,
kemudian meninggal.

12

7. Respon chusing yang menetap dapat timbul sejalan dengan adanya peningkatan tekanan
intara kranial, dimana gejalanya dapat berupa : hipertensi, bradikardi, bradipneu
8. kontusio, laserasi atau tulang yang retak dapat diobservasi di area trauma
9. dilatasi pupil, lebam, pupil yang terfixasi, bilateral atau ipsilateral kearah lesi, adanya
gejala gejala peningkatan tekanan intrakranial, atau herniasi.
10. Hemiplegi kontralateral lesi dengan gejala herniasi
E.

Patofisiologi
Pada hematom epidural, perdarahan terjadi di antara tulang tengkorak dan
durameter. Perdarahan ini lebih sering terjadi di daerah temporal bila salah satu cabang
arteria meningea media robek. Robekan ini sering terjadi bila fraktur tulang tengkorak di
daerah bersangkutan. Hematom dapat pula terjadi di daerah frontal atau oksipital
Arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum
dan jalan antara durameter dan tulang di permukaan dan os temporale. Perdarahan yang
terjadi menimbulkan hematom epidural, desakan oleh hematoma akan melepaskan
durameter lebih lanjut dari tulang kepala sehingga hematom bertambah besar. Hematoma
yang membesar di daerah temporal menyebabkan tekanan pada lobus temporalis otak
kearah bawah dan dalam. Tekanan ini menyebabkan bagian medial lobus mengalami
herniasi di bawah pinggiran tentorium. Keadaan ini menyebabkan timbulnya tanda-tanda
neurologik.
Tekanan dari herniasi unkus pada sirkulasi arteria yang mengurus formation
retikularis di medulla oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran. Di tempat ini terdapat
nuclei saraf cranial ketiga (okulomotorius). Tekanan pada saraf ini mengakibatkan dilatasi
pupil dan ptosis kelopak mata. Tekanan pada lintasan kortikospinalis yang berjalan naik
pada daerah ini, menyebabkan kelemahan respons motorik kontralateral, refleks hiperaktif
atau sangat cepat, dan tanda babinski positif. Dengan makin membesarnya hematoma,
maka seluruh isi otak akan terdorong kearah yang berlawanan, menyebabkan tekanan
intracranial yang besar. Timbul tanda-tanda lanjut peningkatan tekanan intracranial antara
lain kekakuan deserebrasi dan gangguan tanda-tanda vital dan fungsi pernafasan.
Karena perdarahan ini berasal dari arteri, maka darah akan terpompa terus keluar
hingga makin lama makin besar. Ketika kepala terbanting atau terbentur mungkin penderita
pingsan sebentar dan segera sadar kembali. Dalam waktu beberapa jam , penderita akan
merasakan nyeri kepala yang progersif memberat, kemudian kesadaran berangsur
menurun. Masa antara dua penurunan kesadaran ini selama penderita sadar setelah terjadi
kecelakaan di sebut interval lucid. Fenomena lucid interval terjadi karena cedera primer

13

yang ringan pada Epidural hematom. Kalau pada subdural hematoma cedera primernya
hampir selalu berat atau epidural hematoma dengan trauma primer berat tidak terjadi lucid
interval karena pasien langsung tidak sadarkan diri dan tidak pernah mengalami fase sadar.
Perdarahan pada arteri meningeal media juga menyebabkan gangguan pada fungsi
pada bagian yang di perdarahinya, karena mengarah ke bagian frontalis di mana mensuplai
nutrisi dan oksigen ke lobus frontalis maka gejala yang tampak dapat berupa: hemipharese
kontralateral, hemipharese sensorik, aphasia, penurunan daya ingat dan penurunan
persepsi.

14

F.

Pathway

Trauma
Kerusakan
integritas kulit

Luka

Resiko Infeksi

Faktor non
traumatik
Terjadi robekan
arteri meningeal
Perdarahan

Resiko
ketidakefektifaan
perfusi jaringan
Tekanan Lobus
Temporalis

Tekanan pada
brocca area
Hambatan
komunikasi
verbal

Ketidakefektifa
n Pola nafas

Epidural
Haematoma

Arteri-vascular malformasi
Hemoragik diathesis
Neoplasma
Spontan intracranial hipotensi
Rupture granulasio Pacchini
Kontusio cerebri
Hipertensi
Obat-obatan(anti-koagulan)
Atheroma
Usia lanjut

Peningkatan TIK
Kompresi ke
arah otak

Herniasi
Otak
Tekanan pada
medulla
oblongata
Tekanan pada pusat
Pernafasan dan
kardiovakuler
Resiko
Gangguan
fungsi

Nyeri
Hemiplegic
kontralateral lesi
dengan gejala herniasi
Hambatan mobilitas
fisik
Penurunan
Fungsi
Sensorik/Motorik
Ansietas
Resiko
ketidakseimbangan

15

G.

Pemeriksaan Penunjang
1.

Pemeriksaan Computerice Tomografi Scan (CT-SCAN) otak


Pemeriksaan ini merupakan metode diagnostic standar terpilih (gold standard)
untuk kasus cedera kepala dan prosedur ini tidak bersifat invasive, juga memiliki
kehandalan yang tinggi. Dari pemeriksaan ini dapat diperoleh infrmasi yang lebih jelas
tentang lokasi dan adanya perdarahan intracranial, edema, kontusi, udara, benda asing
intracranial serta pergeseran struktur di dalam rongga tengkorak.

2. Pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging)


Pemeriksaan MRI memiliki keunggulan untuk melihat perdarahan kronis
maupun kerusakan otak yang kronis. Dalam hal ini MRI T2 mampu menunjukkan
gambaran yang lebih jelas terutama lesi hipodens pada CT Scan atau lesi yang sulit
dibedakan densitasnya dengan korteks.
3. Diffusion-Weighted Imaging (DWI)
DWI memberikan gambaran hematoma subdural dengan intensitas yang berbeda
tergantung usi hematoma. Kelebihan penggunaan DWI ialah kemampuannya untuk
deteksi mendasari atau terkait lesi parenchymal.
4. Angiografi
Pada kasus pos-traumatik hematoma subdural sangat jarang digunakan
angiografi untuk mendapatkan diagnostic. Tetapi angiografi dapat membantu
menegakkan diagnosis jika etiologi terjadinya hematoma epidural akibat gangguan pada
vessel di serebral seperti rupture dinding vena, postrauma aneurisme, arterio-venous
malformation atau fistula. Pemeriksaan ini dapat membedakan koleksi darah yang
mildly hiperdens dengan tulang-tulang adjacent yang hiperdensity.
H.

Penatalaksanaan
1. Terapi medikamentosa
a. Elevasi kepala 30 dari tempat tidur setelah memastikan tidak ada cedera spinal atau
gunakan posisi trendelenburg terbalik untuk mengurang tekanan intracranial dan
meningkakan drainase vena.
b. Pengobatan yang lazim diberikan pada cedera kepala adalah golongan dexametason
(dengan dosis awal 10 mg kemudian dilanjutkan 4 mg tiap 6 jam),
c. Mannitol 20% (dosis 1-3 mg/kgBB/hari) yang bertujuan untuk mengatasi edema
cerebri yang terjadi akan tetapi hal ini masih kontroversi dalam memilih mana yang
terbaik.
d. Dianjurkan untuk memberikan terapi profilaksis dengan fenitoin sedini mungkin (24
jam pertama) untuk mencegah timbulnya focus epileptogenic dan untuk penggunaan
16

jangka panjang dapat dilanjutkan dengan karbamazepin. Tri-hidroksimetil-aminometana (THAM) merupakan suatu buffer yang dapat masuk ke susunan saraf pusat
dan secarateoritis lebih superior dari natrium bikarbonat, dalam hal ini untuk
mengurangi tekanan intracranial.
e. Barbiturat dapat dipakai unuk mengatasi tekanan inrakranial yang meninggi dan
mempunyai efek protektif terhadap otak dari anoksia dan iskemik dosis yang biasa
diterapkan adalah diawali dengan 10 mg/kgBB dalam 30 menit dan kemudian
dilanjutkandengan 5 mg/ kgBB setiap 3 jam serta drip 1 mg/kgBB/jam unuk
mencapai kadar serum3-4mg%.(8)
2. Terapi Operatif
Operasi di lakukan bila terdapat:
a. Volume hamatom > 30 ml ( kepustakaan lain > 44 ml)
b. Keadaan pasien memburuk, Penurunan klinis
c. Pendorongan garis tengah > 3 mm Indikasi operasi di bidang bedah saraf adalah
untuk life saving dan untuk fungsional saving .
I.

Focus pengkajian keperawatan


1. Breathing
Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung, sehingga
terjadi perubahan pada pola napas, kedalaman, frekuensi maupun iramanya, bisa berupa
Cheyne Stokes atau Ataxia breathing. Napas berbunyi, stridor, ronkhi, wheezing
(kemungkinan karena aspirasi ), cenderung terjadi peningkatan produksi sputum pada
jalan napas.
2. Blood
Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi. Tekanan pada
pusat vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung yang
akan mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat, merupakan tanda peningkatan
tekanan intrakranial. Perubahan frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi
dengan bradikardia, disritmia).

3. Brain
Gangguan kesadaran merupakan salah satu bentuk manifestasi adanya gangguan otak
akibat cidera kepala. Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian,
vertigo, sinkope, tinitus, kehilangan pendengaran, baal pada ekstrimitas. Bila
17

perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak akan terjadi gangguan pada nervus
cranialis, maka dapat terjadi :
a. Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan
masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori).
b. Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan sebagian
lapang pandang, foto fobia.
c. Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata.
d. Terjadi penurunan daya pendengaran, keseimbangan tubuh.
e. Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus vagus
menyebabkan kompresi spasmodik diafragma.
f. Gangguan nervus hipoglosus. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah satu sisi,
disfagia, disatria, sehingga kesulitan menelan.
4. Blader
Pada cidera kepala sering terjadi gangguan berupa retensi, inkontinensia uri,
ketidakmampuan menahan miksi.
5. Bowel
Terjadi penurunan fungsi pencernaan: bising usus lemah, mual, muntah (mungkin
proyektil), kembung dan mengalami perubahan selera. Gangguan menelan (disfagia)
dan terganggunya proses eliminasi alvi.
6. Bone
Pasien cidera kepala sering datang dalam keadaan parese, paraplegi. Pada kondisi yang
lama dapat terjadi kontraktur karena imobilisasi dan dapat pula terjadi spastisitas atau
ketidakseimbangan antara otot-otot antagonis yang terjadi karena rusak atau putusnya
hubungan antara pusat saraf di otak dengan refleks pada spinal selain itu dapat pula
terjadi penurunan tonus otot.

J.

Fokus Intervensi Keperawatan


1. Diagnose keperawatan : Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak
NOC :
a. Circulation status
Mendemonstrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan
1) Tekanna systole dan diastole dalam rentang yang diharapkan
2) Tidak ada ortosttik hipertensi
18

3) Tidak ada tanda peningakatan TIK


b. Tissue prefusion:cerebral
Mendemonstrasikan kemampuan kognitif yang ditandai dengan:
1)
2)
3)
4)
5)

Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan


Menunjuk kanperhatian, konsentrasidanorientasi
Memproses informasi
Membuat keputusan dengan benar
Menunjukkan fungsi sensori motori cranial yang utuh: tingkat kesdaran
membaik, tidak ada gerakan gerakan involunter

NIC:
Peripheral sensation management( menejemensensasiperifer)
1) Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas dingin, tajam,
tumpul
2) Monitor adanya paratese
3) Instrusikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada lesi atau laserasi
4) Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung
5) Monitor kemmapuan BAB
6) Kolaborasi pemberian analgetik
7) Monitor adanya trombo plebitis
8) Diskusikan mengenai penyebab perubahan sensasi
2. Diagnose keperawatan : Ketidakefektifan Pola Nafas
NOC
a. Respiratory status : Ventilation
b. Respiratory status : Airway patency
c. Vital sign Status
NIC :
Airway Management
1) Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
2) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
3) Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
4) Pasang mayo bila perlu
5) Lakukan fisioterapi dada jika perlu
6) Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
7) Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
8) Lakukan suction pada mayo
9) Berikan bronkodilator bila perlu
10) Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
11) Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
12) Monitor respirasi dan status O2
Terapi Oksigen
1) Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
2) Pertahankan jalan nafas yang paten
19

3)
4)
5)
6)
7)

Atur peralatan oksigenasi


Monitor aliran oksigen
Pertahankan posisi pasien
Onservasi adanya tanda tanda hipoventilasi
Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi

Vital sign Monitoring


1)Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
2)Catat adanya fluktuasi tekanan darah
3)Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
4)Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
5)Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas
6)Monitor kualitas dari nadi
7)Monitor frekuensi dan irama pernapasan
8)Monitor suara paru
9)Monitor pola pernapasan abnormal
10) Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
11) Monitor sianosis perifer
12) Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
13) Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
3. Diagnose keperawatan : Hambatan Mobilitas Fisik
NOC
a.
b.
c.
d.

Joint Movement : Active


Mobility Level
Self care : ADLs
Transfer performance

NIC :
Exercise therapy : ambulation
1) Monitoring vital sign sebelm/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan
2) Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai dengan
3)
4)
5)
6)

kebutuhan
Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah terhadap cedera
Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain tentang teknik ambulasi
Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai

kemampuan
7) Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan ADLs ps.
8) Berikan alat Bantu jika klien memerlukan.
9) Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan

20