Anda di halaman 1dari 33

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Latar belakang dilaksanakannya praktikum laboratorium ini adalah untuk
memberikan dasar pengetahuan berupa praktik langsung kepada praktikan
mengenai hukum Ohm dan Kirchhoff dalam suatu rangkaian. Dengan melakukan
praktikum ini maka individu tersebut dapat berkembang dengan baik kedepannya,
khususnya dalam bidang industri kelistrikan.
Mengingat pentingnya praktikum ini, maka secara tidak langsung dapat
diambil suatu pelajaran yang sangat berarti yang nantinya dapat dijadikan bekal
dan merupakan dasar dalam meningkatkan kreatifitasnya di industri sekaligus
menjadi perbandingan atas teori yang didapat dalam kegiatan perkuliahan dengan
praktik dilapangan.

Selain itu, praktikum ini merupakan kegiatan dasar sebelum

pengapliikasikannya di masyarakat luas dan untuk melihat hasil-hasil


percobaan yang telah dilakukan maka disusunlah laporan ini yang
merupakan laporan kegiatan dalam praktik pengukuran dasar listrik.

B. Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah :
1. Membuktikan kebenaran hukum Ohm dengan percobaan
2. Menganalisis hubungan antara tegangan dan arus listrik pada suatu tahanan
tertentu
3. Menganalisis hubungan antara arus dan tahanan pada tegangan tertentu
4. Menggambar grafik tegangan fungsi arus pada 5 buah tahanan yang berbeda
5. Membuktikan kebenaran Hukum Kirchhoff I dengan percobaan
6. Menentukan harga yang mengalir pada suatu cabang, bila cabang yang lain
diketahui harganya
7. Membuktikan kebenaran Hukum Kirchhoff II dengan percobaan

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

BAB II
TEORI DASAR
A. Hukum Ohm
Jika sebuah penghantar/ hambatan/ resistansi dilewati oleh sebuah
arus, maka pada penghantar tersebut akan muncul beda potensial.
Menurut Hukum Ohm, beda potensial atau tegangan tersebut
berbanding lurus dengan arus yang mengalir melalui bahan tersebut.

Ketika kutub positip dan kutub negatip dari sebuah sumber tegangan kita
hubungkan dengan sepotong kawat penghantar, maka akan mengalir arus listrik
dari kutub positip ke kutub negatip. Arus ini mendapat hambatan dalam
penghantar itu. Dari peristiwa di atas dapat diketahui bahwa ada hubungan
antara arus yang mengalir dalam hambatan kawat dan adanya sumber tegangan.
Besarnya arus listrik yang mengalir tergantung dari besarnya hambatan kawat.
Semakin besar hambatan kawat, maka semakin kecil arus yang mengalir.
Apabila sumber listrik bertegangan 1 volt dihubungkan dengan hambatan
sebesar 1 Ohm, maka arus yang mengalir sebesar 1 amper.
Dalam penyelidikannya George Simon Ohm (ahli ilmu fisika dari Jerman)
menemukan bahwa arus listrik yang mengalir dalam hambatan akan bertambah
besar jika tegangan dinaikkan, sementara nilai hambatannya tetap. Dari uraian
diatas dapat dituliskan rumus hukum Ohm, yaitu:
V =I . R

(1)

Gambar 2.1 Hukum Ohm

B. Hukum Kirchhoff

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

Di dalam rangkaian listrik (terdiri dari sumber tegangan dan komponenkomponen), maka akan berlaku Hukum-hukum kirchhoff. Hukum ini terdiri dari
hukum kirchhoff tegangan (Kirchhoff voltage law atau KVL) dan hukum
Kirchhoff arus (Kirchhoff Current Law atau KCL).

1. Hukum Kirchhoff Arus


Hukum Kirchhoff arus menyebutkan bahwa dalam suatu simpul
percabangan, maka jumlah arus listrik yang menuju simpul percabangan dan
yang meninggalkan percabangan adalah nol.
Secara matematis sebagai berikut :
I masuk= I keluar
atau

I =0

(2)

Dapat diilustrasikan bahwa arus yang mengalir sama denga aliran sungai, di
mana saat menemui percabangan, aliran sungai tersebut akan terbagi sesuai
dengan hambatan di percabangan tersebut. Artinya bahwa aliran sungai akan
terbagi sesuai dengan jumlah percabangan yang ada, dimana tentunya jumlah
debit air yang masuk akan sama dengan jumlah debit air yang keluar dari
percabangan tersebut.

Gambar 2.3 Percabangan arus listrik dalam suatu simpul


Gambar 2.3 adalah contoh percabangan arus listrik dalam suatu
simpul. Dalam Gambar 2.3, terdapat dua komponen arus yang menuju
simpul dan tiga komponen arus yang meninggalkan simpul. Jika keenam
komponen arus ini dijumlahkan maka hasilnya adalah nol, seperti
diperlihatkan dalam persamaan berikut.
I 1 + I 2=I 3+ I 4 + I 5

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

I 1 + I 2I 3I 4I 5=0

2. Hukum Kirchhoff Tegangan


Hukum ini menyebutkan bahwa di dalam suatu lup tertutup maka
jumlah sumber tegangan serta tegangan jatuh adalah nol.

Gambar 2.2 Contoh Rangkain Listrik tertutup


Seperti diperlihatkan dalam Gambar 2.2 di atas, rangkaian ini terdiri
dari sumber tegangan dan empat buah komponen. Jika sumber tegangan
dijumlah dengan tegangan jatuh pada keempat komponen, maka hasilnya
adalah nol, seperti ditunjukan oleh persamaan berikut.
V = E

(3)

V 1+ V 2+ V 3+V 4=E
V 1+ V 2+ V 3+V 4E=0

BAB III

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

METODE PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
Tabel 3.1 Alat dan Bahan
No
Material
1
Power Supply Variabel
2
Multimeter Digital
3
Multimeter Analog
4
Resistor :
- 47 /5 W
- 82 /5 W
- 100 /5 W
- 150 /5 W
- 220 /5 W
- 470 /5 W
- 680 /5 W
- 1,2 k/5 W
- 1,8 k/5 W
- 3,3 k/5 W
8
Saklar Tuggal
9
Papan Percobaan
10
Kabel Penghubung

Jumlah
2
3
1

Satuan
Buah
Buah
Buah

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
16

Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah

B. Gambar Rangkaian Percobaan


1. Hukum Ohm

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

Gambar 3.1 Rangkaian Percobaan Hukum Ohm

2. Hukum Kirchhoff
a. Hukum Kirchoff I

Gambar 3.2 Rangkasian Percobaan Hukum Kirchhoff 1


b. Hukum Kirchoff II

Gambar 3.3 Rangkaian Percobaan Hukum Kirchhoff 2

c. Hukum Kirchoff dengan dua sumber tegangan

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

Gambar 3.4 Hukum Kirchhoff Dengan Dua Sumber Searah

Gambar 3.5 Hukum Kirchhoff Dengan Dua Sumber Berlawanan

C. Prosedur Percobaan
1. Hukum Ohm
a. Membaca dan memahami isi jobsheet
b. Menyiapkan semua alat bahan praktek
c. Melakukan pengecekan pada alat & bahan praktek
d. Menyambungkan Power Supply ke sumber tengangan
e. Membuat rangkaian Sesuai Gambar 3.1 pada papan percobaan
f. Mengatur output power supply menjadi 4 V
g. Menutup Saklar S
h. Membaca hasil pengukuran
i. Mencatat data sementara ke tabel yang telah di sediakan
j. Membuka Saklar S
k. Mengulangi langkah e-j untuk sumber tegangan 6 V, 8 V, 10 V, dan 12V
2. Hukum Kirchhoff I
a. Membuat rangkaian seperti gambar 3.2
b. Mengatur output Power Supply menjadi 4 volt
c. Mengubah posisi saklar menjadi ON
d. Melakukan pengamatan dan membaca hasil pengukuran.
e. Mengubah posisi saklar menjadi OFF
f. Mengubah tengangan dari 4 V ke 6 V

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

g. Mengubah kembali posisi saklar menjadi ON


h. Mencatat hasil pengukuran pada tabel yang telah di sediakan.
i. Mengulangi langkah e g untuk tengangan 8 V, 10 V, dan 12 V.
3. Hukum Kirchhoff II
a. Membuat rangkaian seperti pada gambar 3.3
b. Mengatur output Power Supply menjadi 4 volt
c. Merubah saklar ke posisi ON
d. Mengamati dan mencatat hasil pengukuran pada tabel
e. Merubah kembali saklar ke posisi OFF
f. Mengganti besar tengangan dari 4 V ke 6 V
g. Mengubah posisi saklar ke ON
h. Mencatat kembali hasil pengukuran pada tabel
i. Mengulang langkah b-f untuk tengangan 8 V, 10 V, dan 12 V
4. Hukum Kirchhoff dengan dua sumber tegangan
a. Membuat rangkaian seperti pada gambar 3.4
b. Mengatur output Sumber tegangan E menjadi 4 volt dan Sumber
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Tegangan V menjadi 9V
Membuat posisi saklar dari OFF menjadi ON
Mengamati dan mencatat hasil pengukuran pada tabel
Merubah kembali saklar ke posisi OFF
Mengubah output sumber tegangan dari 4 V ke 6 V
Mengubah posisi saklar ke ON
Mencatat kembali hasil pengukuran pada tabel
Mengulangi langkah b - f untuk sumber tengangan E 8 V, 10 V, dan 12

V
j. Melakukan kembali langkah b-i, untuk rangkaian pada gambar 3.5
D. Analisa Perhitungan
Untuk analisa perhitungan, digunakan rumus hukum ohm (1), hukum
kirchhoff I (2), dan hokum kirchoff II(3) yang sebelumnya telah dipaparkan
pada bab dasar teori

Adapun rumus lain yang digunakan adalah, sebagai berikut :


1. Resistansi Total
a) Rangkaian Seri

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

b)

Rs =R 1+ R 2+ R 3+ + Rn

(4)

Rangkaian Paralel
Rumus umumnya adalah :
1
1 1 1
1
= + + ++
R p R1 R2 R 3
Rn

(
5
)

Khusus untuk dua tahanan yang dihubungkan paralel dapat digunakan rumus:
c)

R p=

R1 . R2
R1 + R2

(
6
)

Rangkaian Kombinasi
2.

R K =R1 + Rn +(

1 1 1
+ + )
R 2 R 3 Rn

(7)

Menghitung Arus (I), menggunakan hukum Ohm


V
I=
R

(8)

3. Rumus Pembagi Tengangan


V n=

Rn
xE
Rn + Rm

(9)

4. Rumus Pembagi Arus


I n=

Rz
xI
R n+ R m

(10)

5. Persen Error
Error( )=

PerhitunganPengukuran
x 100
Perhitungan

(11)

10

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

11

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

BAB IV
DATA DAN HASIL PERCOBAAN
A. Data Percobaan
1. Hukum Ohm
Tabel 4.1 Hasil Percobaan Hukum Ohm
No
1.
2.
3.
4.
5.

Sumber
DC (V)
4
6
8
10
12

Arus (mA)
R = 47

R = 100

R = 220

R = 470

R = 680

84.6
125.5
169.4
198.4
240

38.7
59.9
79.6
92.6
115.6

18.2
27.7
37.6
44.8
54.4

8.3
12.9
17.2
20.3
24.8

5.7
8.8
11.8
13.6
16.9

2. Hukum Kirchhoff I (KCL)


Tabel 4.2 Hasil Percobaan
Sumber DC
No
(V)
1.
4
2.
6
3.
8
4.
10
5.
12

Hukum Kirchhoff I
Arus (mA)
A1
A2
8.9
11
13.7
17
18.6
23.1
21.6
26.9
25
30.7

A3
19.9
30.7
41.6
48.5
55.7

3. Hukum Kirchhoff II (KVL)


Tabel 4.3 Hasil Percobaan Hukum Kirchhoff II
Tegangan (V)
No Sumber DC (V)
V1
V2
V3
1.
4
1.05
1.25
1.93
2.
6
1.76
1.44
2.64
3.
8
2.4
1.97
3.6
4.
10
2.73
2.24
4.1
5.
12
3.45
2.83
5.17

Arus (mA)
A
10.54
17.54
24
27.3
34.4

4. Perobaan dengan 2 Sumber DC


Tabel 4.4 Hasil Percobaan dengan 2 Sumber DC
No
1.
2.
3.
4.
5.

Sumber DC (V)
V1
V2
4
9
6
9
8
9
10
9
12
9

V1
2.42
2.82
8.9
3.44
3.86

Tegangan (V)
V2
3.76
4.35
4.98
5.36
6.03

V3
6.74
7.83
3.21
9.53
10.7

Arus (mA)
A
2.06
2.38
2.73
2.91
3.27

12

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

5. Percobaan dengan 2 sumber DC (Polaritas V2 dibalik)


Tabel 4.5 Hasil Percobaan 2 Sumber DC (Polaritas V2 dibalik)
N
o
1.
2.
3.
4.
5.

Sumber DC (V)
V1
4
6
8
10
12

V2
9
9
9
9
9

Arus

Tegangan (V)
V1

V2

V3

-0.91
-0.5
-0.12
0.08
0.49

-1.41
-0.83
-0.2
0.13
0.77

-2.54
-1.41
-0.36
0.23
1.37

(mA)
A
-0.77
-0.43
-0.1
0.07
0.42

13

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

BAB V
PEMBAHASAN
A. Perhitungan secara Teori
1. Hukum Ohm
Untuk menghitung arus menggunakan pada percobaan hukum ohm
menggunakan rumus (8). Sehingga didapatkan hasil perhitungan secara teori
+

seperti di bawah
V
I=
R

Jika diketahui nilai resistor 47 dan tegangan pada resistor yang dihitung
bernilai 3,45 V. Maka hasil yang diperoleh adalah
3,45
I=
=73.4 mA
47
Untuk mendapatkan nilai arus dengan nilai resistansi dan tegangan yang
berbeda dapat diperoleh dengan rumus dan cara yang sama seperti di atas.
Hasil perhitungan arus dapat dilihat pada tabel 5.1
Tabel 5.1 Perhitungan Teori Percobaan Hukum Ohm
Jatuh
Arus (mA)
No

Tegangan

1.
2.
3.
4.
5.

(V)
4
6
8
10
12

47

100

220

470

680

73.4
111.2
152.5
192.2
234.8

36.7
54.7
75.7
93.2
115.1

16.7
26.1
35.4
44.0
53.5

8.1
12.2
16.8
20.9
25.4

5.7
8.6
11.5
14.4
18.6

2. Hukum Kirchhoff I
Untuk menghitung arus pada percobaan hukum Kirchoff I menggunakan
rumus (8) dan rumus (10). Sehingga didapatkan hasil perhitungan secara
teori seperti di bawah
R pararel =

100 x 82
100+82

8200
182

45.05

14

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

Rseri =45.05+150
195.05
Untuk menentukan arus total atau arus yang mengalir pada suatu rangkaian,
menggunakan rumus (8)
I tot =

E
Rtot

4
195.05

20.5 mA

Untuk menentukan arus pada setiap resistor, menggunakan rumus (10)


82
I1 =
x 20.5
182
9.23 mA
I2 =

100
x 20.5
182

11.26 mA

I 3 =I tot
Untuk mendapatkan nilai arus dengan nilai tegangan yang berbeda dapat
diperoleh dengan rumus dan cara yang sama seperti di atas. Hasil
perhitungan arus dapat dilihat pada tabel 5.2
Tabel 5.2 Perhitungan Teori Percobaan Kirchoff Current Law
Sumber DC
Arus (mA)
No
A1
A2
A3
(V)
1.
4
9.23
11.28
20.5
2.
6
13.50
16.5
30.0
3.
8
18.47
22.53
41.0
4.
10
23.06
28.13
51.2
5.
12
27.70
33.79
61.5
3. Hukum Kirchhoff II
Untuk menghitung arus dan tegangan pada percobaan hokum kirchoff II
menggunakan rumus (8) dan rumus (9). Sehingga didapatkan hasil
perhitungan secara teori seperti di bawah

15

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

Rtot =R1 + R2 + R3
100+82+150
332

Untuk menghitung arus


E
I=
R

4
332

12.04 mA
Untuk menghitung tegangan
100
V 1=
x4
332
1.20V

V 2=

82
x4
332

0.98 V
V 3=

150
x4
332

1.80V

Untuk mendapatkan nilai arus dan tegangan dengan nilai tegangan


sumber yang berbeda dapat diperoleh dengan rumus dan cara yang sama
seperti di atas. Hasil perhitungan arus dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3 Perhitungan Teori Percobaan Kirchoff Voltage Law


No Sumber DC
Tegangan (V)
Arus (mA)
V1
V2
V3
A

16

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

1.
2.
3.
4.
5.

(V)
4
6
8
10
12

1.20
1.80
2.40
3.01
3.60

0.98
1.48
1.97
2.46
2.96

1.80
2.71
3.61
4.51
5.42

12.04
18.07
24.09
30.12
36.14

4. Perhitungan Teori Percobaan Rangkaian Dengan Dua Sumber Tegangan


Untuk menghitung arus dan tegangan pada percobaan rangkaian dengan
dua sumber tegangan menggunakan rumus (8) dan rumus (9). Sehingga
didapatkan hasil perhitungan secara teori seperti di bawah
Etot =E 1+ E 2
4 V +9V
13V

Rtot =R1 + R2 + R3
1.2 k+1.8 k+3.3 k
6.3 k

s
E
I = tot
R tot

13 V
6.3 k

2.06 mA

V 1=

1.2
x 13
6.3

2.47 V

V 2=

1.8
x 13
6.3

3.70V
V 1=

1.2
x 13
6.3

17

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

6.80 V
Untuk mendapatkan nilai arus dan tegangan dengan nilai tegangan sumber
yang berbeda dapat diperoleh dengan rumus dan cara yang sama seperti di
atas. Hasil perhitungan dilihat pada tabel 5.4
Tabel 5.4 Perhitungan teori dua sumber tegangan
Sumber DC (V)
Tegangan (V)
No
V1
V2
V1
V2
V3
1.
4
9
2.47
3.70
6.80
2.
6
9
2.85
4.28
7.65
3.
8
9
3.23
4.85
8.90
4.
10
9
3.61
5.42
9,92
5.
12
9
3.99
5.99
10.98

Arus (mA)
A
2.06
2.38
2.69
3,01
3.33

5. Perhitungan Teori Percobaan Rangkaian Dengan Dua Sumber Tegangan


(Polaritas V2 dibalik)
Untuk menghitung arus dan tegangan pada percobaan rangkaian
dengan dua sumber tegangan (polaritas V2 dibalik) menggunakan rumus (8)
dan rumus (9). Sehingga didapatkan hasil perhitungan secara teori seperti di
bawah

Etot =E 1+ E 2
4 + (9 )
5 V
Rtot =R1 + R2 + R3
1.2+ 1.8+3.3

6.3 k

I=

E tot
R tot

5
6.3

0.79 mA

18

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

V 1=

1.2
x (5 )
6.3

0.94 V
V 2=

1.8
x (5 )
6.3

1.42 V

V 1=

1.2
x (5 )
6.3

2.60V
Untuk mendapatkan nilai arus dan tegangan dengan nilai tegangan
sumber yang berbeda dapat diperoleh dengan rumus dan cara yang sama
seperti di atas. Hasil perhitungan dilihat pada tabel 5.5.
Tabel 5.5 Perhitungan Teori Percobaan Sumber Tegangan (polaritas dibalik)
Sumber DC (V)
Tegangan (V)
Arus (mA)
No
V1
V2
V1
V2
V3
A
1.
4
9
-0.94
-1.42
-2.60
-0.79
2.
6
9
-0.56
-0.84
-1.55
-0.47
3.
8
9
-0.18
-0.27
-0.49
-0.15
4.
10
9
0.18
0.27
0.49
0.15
5.
12
9
0.56
0.84
1.55
1.47
B. Perbandingan Teori dan Praktek
1. Persentase Kesalahan
Untuk formula persentase kesalahan menggunakan rumus (11)
sehingga mendapatkan hasil seperti di bawah
Error (%)

PerhitunganPengukuran
100%
Perhitungan

Error (%)

3,333,29
100%
3,33

Error (%)

= 1,20 %

Untuk persentase error jatuh tegangan dan arus menggunakan rumus


dan cara yang sama seperti di atas. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel

19

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

5.6 untuk hukum ohm, tabel 5.7 untuk hukum kirchoff I, tabel 5.8 untuk
hukum kirchoff II, tabel 5.9 untuk percobaan dua sumber tegangan dan tabel
5.12 untuk percobaan dua sumber tegangan dengan polaritas V2 terbalik

20

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik


2. Tabel Perbandingan
a. Hukum Ohm
Tabel 5.6 Perbandingan Teori dan Praktek Hukum Ohm
Jatuh
No

Tegangan
(V)

1.
2.
3.
4.
5.

47

4
6
8
10
12

T
73.40
111.2
152.5
192.2
234.8

P
72.90
103.7
145.6
180.0
220.0

Arus (mA)
220

100
Error
(%)
0.68
6.74
4.52
6.35
6.30

Erro
T
36.70
54.70
75.70
93.20
115.1

35.80
52.50
74.10
91.60
110.0

(%)
2.45
4.02
2.11
1.72
4.43

16.7
26.1
35.4
44.0
53.5

16.54
25.60
35.40
41.10
50.00

470
Error
(%)
0.96
1.92
0.00
6.59
6.54

8.1
12.2
16.8
20.9
25.4

8.24
12.37
16.9
21.1
26.0

680
Error
(%)
-1.73
-1.39
-0.60
-0.96
-2.30

5.7
8.6
11.5
14.4
18.6

5.47
8.12
10.76
13.54
18.00

Error
(%)
4.03
5.58
6.43
5.97
3.22

21

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

b. Hukum Kirchhoff I
Tabel 5.7 Perbandingan Teori dan Praktek Hukum Kirchhoff I
Sumber
No

DC

1.
2.
3.
4.
5.

(V)
4
6
8
10
12

Arus (mA)
A2

A1

A3

Error(%)

Error (%)

Error (%)

9.23
13.50
18.47
23.06
27.70

8.180
11.23
16.05
20.10
26.70

11.37
16.81
13.10
12.83
3.610

11.28
16.5
22.53
28.13
33.79

10.79
17.00
22.50
28.10
33.6

4.34
-3.03
0.13
0.10
0.56

20.5
30.0
41.0
51.2
61.5

18.9
28.4
38.5
48.5
60.5

7.80
5.30
6.09
5.27
1.62

c. Hukum Kirchhoff II
Tabel 5.8 Perbandingan Teori dan Praktek Hukum Kirchhoff II
No
1.
2.
3.
4.
5.

Sumber
DC (V)
4
6
8
10
12

V1
T
1.20
1.80
2.40
3.01
3.60

P
1.17
1.75
2.40
3.60
3.63

Error (%)
2.5
2.7
0.0
-19.6
-0.83

T
0.98
1.48
1.97
2.46
2.96

Tegangan (V)
V2
P
Error (%)
0.96
2.04
1.46
1.35
1.94
1.52
2.42
1.62
2.94
0.67

V3
T
1.80
2.71
3.61
4.51
5.42

P
1.76
2.67
3.56
4.45
5.39

Error (%)
2.22
1.47
1.38
1.33
0.55

d. Rangkaian Dengan Dua Sumber Tegangan


Tabel 5.9 Perbandingan Teori dan Praktek Rangkaian Dengan Dua Sumber Tegangan
Sumbe
Tegangan (V)
N
V1
V2
V3
r DC
o
T
P
Error (%)
T
P
Error (%)
T
P
Error (%)
(Vtot)
1.
13
2.4 2.4
0.40
3.7
3.81
-2.97
6.8
6.95
-2.21

T
12.04
18.07
24.09
30.12
36.14

Arus (mA)
A
P
Error (%)
11
8.63
17
5.92
24
0.37
29
3.71
36
0.38

Arus (mA)
A
T

Error (%)

2.06

2.0

2.91

22

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

2.
3.
4.
5.

15

7
2.8

6
2.8
2

17

5
3.2

19

3
3.6

21

1
3.9
9

1.05

4.28

4.36

-1.87

7.65

7.95

-3.92

2.38

2.2

7.56

3.2

0.93

4.85

4.9

-1.03

8.9

9.00

-1.12

2.69

2.7

-0.37

3.6

0.28

5.42

5.5

-1.48

9.92

9.85

0.70

3.01

3.1

-2.99

1.75

5.99

6.08

-1.50

10.98

11.06

-0.73

3.33

3.29

1.20

3.9
2

e. Rangkaian dengan dua sumber tegangan (polaritas dibalik)


Tabel 5.10 Perbandingan Teori dan Praktek Rangkaian Dengan Dua Sumber Tegangan (polaritas dibalik).

No

Sumber

Tegangan (V)

Arus (mA)

23

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

V1

DC
1.
2.
3.
4.
5.

(Vtot)

-5
-3
-1
1
3

-0.94
-0.56
-0.18
0.18
0.56

-0.99
-0.61
-0.21
0.15
0.52

V2
Error
(%)
-5.32
-8.93
-16.67
16.67
7.14

-1.42
-0.84
-0.27
0.27
0.84

-1.52
-0.95
-0.32
0.21
0.8

V3
Error
(%)
-7.04
-13.1
-18.5
22.2
4.76

-2.6
-1.55
-0.49
0.49
1.55

-2.78
-1.72
-0.59
0.44
1.46

A
Error
(%)
-6.92
-10.97
20.4
10.20
5.81

-0.79
-0.47
-0.15
0.15
0.47

-0.84
-0.52
-0.17
0.13
0.44

Error
(%)
-6.3
-10.6
13.3
13.3
6.3

Ket :
T = Teori
P = Praktek

24

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

3. Grafik Percobaan

25

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

C. Analisa Hasil Praktikum


1. Analisa Hasil Praktikum Percobaan Hukum Ohm
Berdasarkan hasil perbandingan perhitungan teori dan praktek dapat
disimpulkan bahwa :
-

Hasil yang didapatkan dari pengukuran dengan hasil perhitungan secara


teori yang berbeda bisa disebabkan karena alat ukur memiliki tahanan

dalam
Perbedaan hasil yang diperoleh juga dipengaruhi oleh pembacaan alat ukur
yang kurang tepat oleh pengamat sehingga hasil yang diperoleh tidak

terlalu akurat
Persentase error dari percobaan relatif kecil dikarenakan kecilnya

perbedaan antara perhitungan secara teori dengan pengukuran


Arus yang megalir cenderung lebih besar pada hambatan yang lebih kecil

dengan tegangan yang sama.


Karena ada sedikit kerusakan pada resistor 82 , maka terjadi
ketidakstabilan pada pengukuran

2. Analisa Hasil Praktikum Percobaan Hukum Kirchhoff I


Berdasarkan hasil perbandingan perhitungan teori dan praktek dapat
disimpulkan bahwa :
-

Hasil yang didapatkan dari pengukuran dengan hasil perhitungan secara


teori yang berbeda bisa disebabkan karena alat ukur memiliki tahanan

dalam
Perbedaan hasil yang diperoleh juga dipengaruhi oleh pembacaan alat ukur
yang kurang tepat oleh pengamat sehingga hasil yang diperoleh tidak

terlalu akurat.
Persentase error dari percobaan relatif kecil dikarenakan kecilnya

perbedaan antara perhitungan secara teori dengan pengukuran


Arus yang megalir cenderung lebih besar pada hambatan yang lebih kecil
dengan tegangan yang sama

24

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

3. Hukum Kirchhoff II
Berdasarkan hasil perbandingan perhitungan teori dan praktek dapat
disimpulkan bahwa :
-

Hasil yang didapatkan dari pengukuran dengan hasil perhitungan secara


teori yang berbeda bisa disebabkan karena alat ukur memiliki tahanan

dalam
Perbedaan hasil yang diperoleh juga dipengaruhi oleh pembacaan alat ukur
yang kurang tepat oleh pengamat sehingga hasil yang diperoleh tidak

terlalu akurat
Persentase error dari percobaan relatif kecil dikarenakan kecilnya

perbedaan antara perhitungan secara teori dengan pengukuran


Arus yang megalir cenderung lebih besar pada hambatan yang lebih kecil

dengan tegangan yang sama


Semakin besar nilai hambatan semakin besar pula nilai tegangan yang
terbaca pada alat ukur.

4. Rangkaian Dengan Dua Sumber


Berdasarkan hasil perbandingan perhitungan teori dan praktek dapat
disimpulkan bahwa :
-

Hasil yang didapatkan dari pengukuran dengan hasil perhitungan secara


teori yang berbeda bisa disebabkan karena alat ukur memiliki tahanan

dalam
Perbedaan hasil yang diperoleh juga dipengaruhi oleh pembacaan alat ukur
yang kurang tepat oleh pengamat sehingga hasil yang diperoleh tidak

terlalu akurat
Persentase error dari percobaan relatif kecil dikarenakan kecilnya

perbedaan antara perhitungan secara teori dengan pengukuran


Menggunakan dua sumber dengan polaritas yang sama membuat nilai

tegangan semakin besar.


Jika nilai tegangan semakin besar semakin besar nilai arus yang mengalir.
Karena ada sedikit kerusakan pada resistor 82 , maka terjadi
ketidakstabilan pada pengukuran

25

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

5. Rangkaian Dengan Dua Sumber (polaritas V2 dibalik)


Berdasarkan hasil perbandingan perhitungan teori dan praktek dapat
disimpulkan bahwa :
-

Hasil yang didapatkan dari pengukuran dengan hasil perhitungan secara


teori yang berbeda bisa disebabkan karena alat ukur memiliki tahanan

dalam
Perbedaan hasil yang diperoleh juga dipengaruhi oleh pembacaan alat ukur
yang kurang tepat oleh pengamat sehingga hasil yang diperoleh tidak

terlalu akurat
Dua sumber yang memiliki polaritas berbeda dapat membuat tegangan dan

arus bernilai negatif.


Perbedaan polaritas menyebabkan perubahan arah arus yang mengalir
Karena ada sedikit kerusakan pada resistor 82 , maka terjadi
ketidakstabilan pada pengukuran

26

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

BAB VI
JAWABAN PERTANYAAN
Soal 1

Jelaskan maksud percobaan pada :


a. Gambar 3.2
b. Gambar 3.3
c. Gambar 3.4

Solusi
Maksud dari gambar :
a. Gambar 3.2 adalah gambar rangkaian kombinasi seri-paralel dimana dengan
rangkaian ini kita dapat mengetahui nilai arus yang melewati tiap-tiap resistor dalam
keadaan paralel maupun seri
b. Gambar 4.3 adalah untuk mengukur arus total serta tengangan yang terdapat pada
tiap-tiap resistor yang di pasangkan secara seri yang di hubungkan menggunakan
sumber tengangan DC menggunakan 3 alat ukur analog/digital.
c. Gambar 4.4 adalah untuk mengukur arus total serta tengangan yang terdapat pada
tiap-tiap resistor yang di pasangkan secara seri dan di beri dua sumber tengangan DC
menggunakan 3 alat ukur analog/digital.
Soal 2
Sesuaikah percobaan-percobaan yang telah saudara lakukan dengan teori? Jelaskan!
Solusi
Tidak sesuai, karena dalam melakukan percobaan terdapat variabel-variabel tertentu
yang dapat mengganggu nilai yang muncul pada alat ukur, adapun variabel-variabel
itu telah dijelaskan pada Analisa Percobaan di BAB V
Soal 3
Mengapa ketika baterai V2 dibalik polaritasnya, menyebabkan berubahnya
penunjukan tengangan pada setiap tahanan?
Solusi
Ketik dalam sebuah rangkaian terdapat 2 sumber tegangan dengan polaritas yang
berbeda, maka arus yang mengalir akan berlawanan sehingga tegangan pada
rangkaian tersebut menjadi berkurang dimana kita ketahui sesuai dengan hukum ohm
V berbanding Lurus dengan I

27

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

28

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Setelah melakukan melakukan percobaan pengukuran
listrik dasar dan melakukan analisis terhadap hasil percobaan
dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Dalam melakukan percobaan pengukuran menggunakan alat
ukur listrik, kami dapat membuktikan kebenaran dari Hukum
Ohm.
2. Kami mampu menganalisis hubungan antara tengangan dan
arus listrik pada suatu rangkaian dengan munggunakan
besar tahanan yang diubah-ubah.
3. Kami mampu menganalisis hubungan antara tahanan dgn
arus listrik pada suatu rangkaian dengan munggunakan
tengangan yang berbeda-beda.
4. Mengetahui cara menggambar grafik tengangan fungsi arus
pada 5 buah tahanan yang berbeda.
B. Saran
Setelah melakukan praktek laboratorium pengukuran listrik dasar, maka
praktikan ingin menyampaikan beberapa hal yang kiranya dapat menjadi
perhatian oleh praktikan dan dosen pembimbing :
1. Preaktikan diharapkan mengikuti prosedur dalam merangkai
dan mengukur komponen listrik, agar terhindar dari bahaya
dan juga resiko kerusakan pada alat praktikum. Praktikan
juga

diharapkan

laboratorium

membaca

agar

pengukuran.
2. Dosen pembimbing

materi

memiliki
di

dasar

harapkan

sebelum

memasuki

untuk

melakukan

lebih

memperhatikan

praktikannya agar tidak terjadi kesalahan yang dapat


membahayakan

praktikan

dan

juga

dapat

membantu

menghindari kerusakan pada alat ukur.


29

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

DAFTAR PUSTAKA
------- . 2016. Jobsheet Laboratorium Pengukuran Dasar. Makassar: Politeknik
Negeri Ujung Pandang
Jumadi. (2010). Praktikum Analisis Rangkaian Listrik
Mohammad Ramdhani, S.T.,M.T. Dalam Buku Rangkaian Listrik
www.wikipedia.org

30

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik

LAMPIRAN LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4

Lembar Asistensi
Copy Kartu Kontrol
Data Sementara
Sampul Laporan Pertama

31