Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan nyata terutama di zaman yang modern sekarang ini,
perusahaan dan masyarakat memiliki hubungan timbal balik satu sama lain, dimana
perusahaan

dan

masyarakat

saling

memberi

dan membutuhkan.

Perusahaan

membutuhkan masyarakat untuk meningkatkan kinerjanya dan sebagai konsumen


terhadap produk yang dihasilkan perusahaan. Sedangkan masyarakat membutuhkan
perusahaan sebagai penyedia kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, dibalik itu semua
setiap kegiatan bisnis yang dilakukan perusahaan pastinya memberikan dampak
terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Terutama perusahaan yang
memanfaatkan sumber daya alam, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dampak tersebut bisa berupa dampak negatif maupun positif. Dampak positif tentunya
memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Akan tetapi, jika dampak negatif yang
ditimbulkan tentunya masyarakat dan lingkungan menuntut pertanggungjawaban dari
perusahaan.
Berdasarkan tuntutan tersebut muncullah suatu konsep akuntansi yang baru
menggantikan konsep akuntansi yang lama yang hanya terpusat kepada stakeholder
dimana perusahaan berupaya meningkatkan kinerja finansial semata. Dalam kebijakan
akuntansi yang baru ini, perusahaan bukan lagi sebagai entitas bisnis yang bertanggung
jawab atas aspek ekonomi yaitu mementingkan pencapaian kinerja keuangan dengan
menigkatkan laba semaksimal mungkin, tetapi juga sebuah entitas yang berperan
penting dan bertanggung jawab atas dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan
operasional perusahaan.
Tanggung jawab sosial perusahaan atau dikenal Corporate Social Responsibility
merupakan suatu konsep transaparansi perusahaan dalam mengungkapkan nilai sosial
atas kegiatan operasionalnya dimana perusahaan tidak hanya mengungkapkan informasi
keuangan saja, namun juga informasi mengnai dampak yang ditimbulkan atas aktivitas
operasional dan tindakan sosial yang dilakukan perusahaan terhadap masyarakat.

Saat sekarang ini seluruh perusahaan dalam berbagai aspek bisnis di Indonesia
mengklaim bahwa perusahaan mereka telah melaksanakan kewajiban dan tanggung
jawab sosialnya terhadap lingkungan sekitar, oleh karena itu pengungkapan corporate
social rensponsibilty merupakan sebuah motivasi bagi perusahaan untuk meningkatkan
eksistensi dan kepercayaan masyarakat dalam pencapaian kinerjanya terhadap
lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini perusahaan tidak hanya melakukan tanggung
jawab terhadap lingkungan saja, namun perusahaan juga menerapkan pengabdian sosial
terhadap masayarakat seperti, pemberian bantuan sosial, pendanaan terhadap usaha
mikro, pendanaan terhadap pendidikan, perluasan lapangan pekerjaan, pelayanan
kesehatan, dan sebagainya.
Menurut studi yang dilakukan oleh Jung (Nursahid, 2006 dalam jurnal Maswar,
2013) kedermawanan sosial perusahaan dipengaruhi oleh tiga faktor. Faktor pertama
menyangkut ukuran dan kematangan perusahaan, dimana perusahaan besar dan mapan
cenderung lebih potensial memberikan sumbangan daripada perusahaan kecil dan belum
mapan. Kedua, regulasi dan sistem perpajakan yang diatur pemerintah, semakin buruk
penataan pajak dalam negeri akan membuat semakin kecil ketertarikan perusahaan
untuk memberikan donasi dan sumbangan sosial kepada masyarakat. Ketiga, bentuk
kepemilikan dan pengelolaan perusahaan, dimana kepemilikan dan pengelolaan
perusahaan yang terpisah cenderung memiliki prakarsa untuk mendirikan yayasan sosial
(Nursahid, 2006 dalam jurnal Maswar, 2013).
Dalam melakukan tindakan pengambilan keputusan investasi terhadap
perusahaan, investor cenderung melihat dari ukuran besar kecilnya perusahaan tersebut
yang selanjutnya penilaian terhadap kinerja keuangan perusahaan. Pengaruh ukuran
perusahaan terhadap CSR terungkap dalam teori agency yang menjelaskan bahwa
perusahaan yang besar cenderung memiliki biaya agensi yang besar, oleh karena itu
perusahaan yang besar lebih banyak mengungkapkan informasi daripada perusahaan
yang kecil. Faktor lain yang diduga mempengaruhi pengungkapan CSR adalah
profitabilitas. Profitabilitas merupakan salah satu alat ukur yang digunakan untuk
menilai kinerja suatu perusahaan. Donovan dan Gibson (2000) menyatakan bahwa
berdasarkan teori legitimacy, salah satu argumen dalam menentukan hubungan
profitabilitas dan CSR adalah ketika perusahaan memiliki tingkat laba yang tinggi,

perusahaan (manajemen) tidak perlu mengungkapkan hal-hal yang akan mengganggu


informasi kesuksesan perusahaan. Akan tetapi, untuk perusahaan yang profitabilitasnya
rendah, mereka berharap agar para pengguna laporan keuangan akan melihat berita
bagus dari kinerja perusahaan.
Faktor berikutnya yang mempengaruhi CSR yaitu leverage. Leverage
merupakan alat ukur yang digunakan uuntuk menilai seberapa besar sebuah perusahaan
memiliki tingkat hutang tak tertagihnya kepada kreditur yang nantinya digunakan untuk
membiayai aset perusahaan. Scott (1997) menyampaikan pendapat bahwa semakin
tinggi leverage kemungkinan besar perusahaan akan mengalami pelanggaran terhadap
kontrak utang, maka manajer akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebih
tinggi akan mengurangi kemungkinan perusahaan melanggar perjanjian utang. Manajer
akan memilih metode akuntansi yang akan memaksimalkan laba sekarang. Kontrak
utang biasanya berisi tentang ketentuan bahwa perusahaan harus menjaga tingkat
leverage tertentu (rasio utang/ekuitas), interest coverage, modal kerja dan ekuitas
pemegang saham.
Faktor lainnya yang mempengaruhi CSR yaitu dewan komisaris. Dengan
wewenang yang dimiliki, dewan konisaris dapat memberikan pengaruh yang cukup
besar terhadap pengungkapan Corporate Social responsibility (CSR). Sehingga
perusahaan yang memiliki kuantitas dewan komisaris yang lebih besar cenderung lebih
mampu untuk mengungkapkan CSR.
Selanjutnya faktor kepemilikan saham publik juga mempengaruhi luas
pengungkapan CSR. Dengan faktor kepemilikan saham publik, maka perusahaan harus
menyajikan laporan tahunan tahunan perusahaan untuk menjaga kepercayaan investor
publik terhadap perusahaan.
Berdasarkan penjelasan karakteristik perusahaan tersebut, yang diindikasikan
sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan dalam pengungkapan Corporate
Social Responsbility, penulis akan mengadopsi faktor-faktor tersebut sebagai variabel
dari sebuah penelitian, yaitu: ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, dewan
komisaris, dan kepemilikan saham publik.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penelitian ini membahas tentang
Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Corporate Social Responsibility

Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode


2010-2014.
1.2 Perumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:
1.2.1 Apakah ukuran perusahaan mempengaruhi pengungkapan CSR dalam laporan
tahunan perusahaan di Indonesia?
1.2.2 Apakah profitabilitas perusahaan mempengaruhi pengungkapan CSR dalam
laporan tahunan perusahaan di Indonesia?
1.2.3 Apakah tingkat leverage perusahaan mempengaruhi pengungkapan CSR dalam
laporan tahunan perusahaan di Indonesia?
1.2.4 Apakah ukuran dewan komisaris mempengaruhi pengungkapan CSR dalam
laporan tahunan perusahaan di Indonesia?
1.2.5 Apakah kepemilikan saham publik mempengaruhi pengungkapan CSR dalam
laporan tahunan perusahaan di Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui ukuran perusahaan mempengaruhi pengungkapan CSR dalam
laporan tahunan perusahaan di Indonesia
2. Mengetahui profitabilitas perusahaan mempengaruhi pengungkapan CSR dalam
laporan tahunan perusahaan di Indonesia
3. Mengetahui pengaruh tingkat leverage perusahaan terhadap pengungkapan CSR
dalam laporan tahunan perusahaan di Indonesia
4. Mengetahui ukuran dewan komisaris mempengaruhi pengungkapan CSR dalam
laporan tahunan perusahaan di Indonesia
5. Menegetahui pengaruh kepemilikan saham publik terhadap pengungkapan CSR
dalam laporan tahunan perusahaan di Indonesia
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan bergmanfaat bagi:

1. Penulis, dengan melakukan penelitian ini penulis dapat menambah wawasan


dan ilmu mengetahuan lebih luas lagi terutama dalam pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia.
2. Entitas, secara empiris penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi dan
bahan pertimbangan bagi entitas dalam pengambilan keputusan oleh pihak
manjaemen yang berhubungan dengan pengungkapan dan penyajian
tanggungjawab sosial perusahaan.
3. Akademisi, penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian
berikutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Legitimasi (Legitimacy Theory)
Teori legitimasi berfokus kepada interaksi perusahaan dengan masyarakat.
Teori ini menyatakan bahwa organisasi adalah bagian dari masyarakat sehingga
harus memperhatikan norma-nroma sosial masyarakat karena kesesuaian dengan norma
masyarakat membuat perusahaan menjadi legitimate.
Legitimasi dapat disebut sebagi kontrak sosial perusahaan dengan masyarakat
dimana perusahaan beroperasi untuk menciptakan suatu produk dan mendapatkan
sumber daya ekonomi dari masyarakat. Legitimasi masyarakat dapat dijadikan wahana
untuk mengonstruksikan strategi perusahaan untuk mengembangkan kinerja perusahaan,
dan menciptakan eksistensi perusahaan dalam pandang masyarakat, serta memposisikan
diri perusahaan ditengah-tengah masyarakat. Legitimasi masyarakat sebagai sesuatu
yang diinginkan dan diharapkan perusahaan dari masyarakat. Dengan demikian,
legitimasi masyarakat merupakan manfaat ataupun sumber potensial bagi perusahaan
untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern). Perkembanga zaman,
dan perkembangan waktu membuat terjadinya perubahan norma sosial dalam
masyarakat. Begitupun dengan legitimasi masyarakat, perubahan norma sosial
masyarakat sebagai motivator terjadinya perubahan legitimasi masyarakat terhadap
perusahaan.
Grey et. al, (1996) dalam buku Nor Hadi (2011,88) berpendapat bahwa
legitimasi merupakan:
.....a system-oriented view of organization and society.....permits us to focus on
the role of information and disclosure in the relationship between organization, the
state, individuals, and group.
Dari definisi diatas legitimasi merupakan sebuah sistem pengelolaan perusahaan
yang berorientasi kepada masyarakat, pemerintah, individu, dan kelompok. Oleh karena
itu, sebagai suatu organisasi yang memiliki sistem pengelolaan yang mendepankan
masyarakat, perusahaan harus kongruen terhadap harapan masyarakat.

Limbdolm (1994) dalam buku Nor hadi (2011,88) menyatakan:


Legitimacy is dynamic in that the relevant public continously evaluate
corporate outputs, methods, and goals agains every en-evolving expectation. The
legitimacy gap will fluctuate without any changes in the action on the part of the
corporation. Indeed, as expectation of the relevant public changes the corporation must
make changes or the legitimacy gap will grow as the level of conflict increases and the
level of positive and passive support decrease.
Dari definisi yang diungkapkan Limbdolm diatas legitimasi merupakan sebuah
pergeseran yang seajlan dengan pergeseran masyarakat, dimana perusahaan harus
mengikuti pergeseran atau perubahan tersebut dengan menyesuaikan output perusahaan
berupa produk, metode, dan peningkatan ekspektasi terhadap laba.
Berbagai

perusahaan

menggunakan

empat

strategi

legitimasi

ketika

mengahadapi ancaman legitimasi. Oleh karena itu, empat strategi yang dilakukan
perusahaan yaitu:
a.

Mencoba untuk mendidik stakeholder tentang tujuan organisasi untuk

b.

meningkatkan kinerja
Mencoba untuk merubah persepsi stakeholder terhadap suatu kejadian

c.

(tetapi tidak merubah kinerja aktual organisasi)


Mengalihkan perhatian dari masalah menjadi perhatian terhadap aktivitas

d.

positif
Mencoba untuk merubah ekspektasi eksternal tentang kinerja.

2.1.2 Teori Keagenan (Agency Theory)


Teori keagenan ini memiliki prinsip utama yaitu menyatakan adanya hubungan
kerja antara pihak yang memberi wewenang (principle) yaitu pemilik atau investor
dengan pihak yang diberi wewenang (agency) yaitu manajer. Menurut Jansen dan
Meckling (1986) menyatakan hubungan keagenan adalah adalah suatu kontrak dimana
satu atau lebih orang (prinsipal) melibatkan orang lain (agen) untuk melakukan
beberapa layanan atas nama mereka yang melibatkan mendelegesikan sebagian
kewenangan pengambilan keputusan kepada agen (Jansen dan Meckling, 1986).
Dalam teori agensi pemegang saham sebagai pihak yang memberi wewenang
memiliki hak atas laba yang dihasilkan perusahaan. Sedangkan manajer sebagai pihak

yang diberikan wewenang bertindak untuk memenuhi kepentingan para pemegang


saham. Pemegang saham lebih menyukai maksimalisasi laba yang meningkatkan nilai
perusahaan. Jika manajer tidak dapat memenuhi kepentingan pemegang saham, maka
pemegang saham dapat melakukan tindakan koreksi terhadap kinerja para manajer.
Pemegang saham diasumsikan sebagai prinsipal yang hanya tertarik pada peningkatan
hasil kinerja keuangan perusahaan dan peningkatan investasi mereka pada perusahaan.
Sedangkan para agen mendapatkan kepuasan berupa kompensasi keuangan dan
penghargaan atas pastisipasi peningkatan kinerja perusahaan.
Dalam hubugan agensi tersebut ada tiga faktor yang mempengaruhi
pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, yaitu biaya pengawasan, biaya
kontrak, dan visibilitas politis. Perusahaan yang melakukan pengungkapan tanggung
jawab sosial perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan image dan eksistensi
perusahaan dalam masyarakat. Perusahaan tentunya memerlukan biaya-biaya dalam
mengungkapkan informasi pertanggungjawaban sosial, sehingga laba yang dilaporkan
dalam laporan keuangan menjadi lebih rendah.
Ketika perusahaan menghadapi biaya kontrak dan biaya pengawasan yang
rendah dan visibilitas politis yang tinggi akan cenderung untuk mengungkapkan
informasi

pertanggungjawaban

sosial.

Jadi

pengungkapan

informasi

pertanggungjawaban sosial berhubungan positif dengan kinerja sosial, kinerja ekonomi


dan visibilitas politis dan berhubungan negatif dengan biaya kontrak dan pengawasan
(biaya keagenen), (Belkaoui dan Karpik, 1989 dalam Anggraini, 2006).
Berdasarkan teori agensi, perusahaan yang menghadapi biaya pengawasan dan
biaya kontrak yang rendah, cenderung akan melaporkan laba yang rendah atau
manajemen akan mengeluarkan biaya-biaya untuk memenuhi kepentingan para
pemegang saham salah satunya biaya untuk meingkatkan reputasi perusahaan dimata
masyarakat. Oleh sebab itu, manajemen akan berusaha untuk memenuhi kepentingan
para pemegang saham tersebut dengan melaporkan pengungkapan tanggung jawab
sosial perusahaan dalam laporan keuangan.
2.1.3 Teori Kontrak Sosial (Social Contract Theory)

Teori kontrak sosial muncul karena adanya hubungan interelasi antar perusahaan
dengan masyarakat agar terjadi keserasian, keselarasan, dan keseimbangan dalam
lingkungan sosial. Oleh karena itu, muncullah kontrak sosial yang terseusun secara
tersurat maupun tersirat yang dapat memberikan kesepakatan antara perusahaan dengan
masyarakat yang saling melindungi kepentingan masin-masing. Kontrak dibangun dan
dikembangkan bertujuan untuk memberikan kejelasan hubungan antara perusahaan dan
masyarakat. Perusahaan memiliki kewajiban terhadap masyarakat untuk memberikan
manfaat bagi masyarakat. Dalam setiap interaksi perusahaan dengan masyarakat
tentunya berusaha untuk meemnuhi norma-norma dan nilai-nilai sosial dalam kehidupan
masyarakat, sehingga suatu perusahaan dapat disebut legitimate.
Dalam perspektif manajemen kontemporer, teori sosial kontrak menjelaskan
hak-hak individu, kelompok, dan juga masyarakat yang dibentuk dengan kesepakatankesepakatan yang memberikan keuntungan masing-masing bagi anggotanya. Dalam
konteks perusahaan dan stakeholder, kontrak sosial mengisyaratkan perusahaan untuk
berusaha meningkatkan ekspektasi masyarakat terhadap operasionalnya dimana
perusahaan harus bisa memastikan bahwa kegiatan operasionalnya congruence sehingga
perusahaan dapat dikatakan legitimate. Hal ini sejaln dengan teori legitimasi yang mana
keberadan perusahaan dalam lingkungan masyarakat sesuai (congruence) dengan sistem
nilai dan norma-norma yang ada dalam lingkungan masyarakat tersebut.
2.1.4 Teori Stakeholder (Stakeholder Theory)
Stakeholder merupakan semua pihak baik internal maupun eksternal yang
berhubungan langsung maupun tidak langsung terhadap perusahaan yang memberikan
pengaruh dan dipengaruhi oleh perusahaan.
Teori stakeholder mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya
beroperasi hanya untuk kepentingan sendiri namun harus memberikan manfaat bagi
stakeholdernya. Dengan demikian, keberadaan suatu perusahaan sangat dipengaruhi
oleh stakeholder kepada perusahaan tersebut (Ghozali dan Chariri, 2007).
Tanggung jawab sosial perusahaan seharusnya melebihi dari tindakan
perusahaan dalam memaksimalkan laba yang mana hanya untuk memenuhi kepentingan
pemegang saham saja. Namun lebih luas lagi bahwa kesejahteraan yang dapat

diciptakan oleh perusahaan sebenarnya merupakan suatu halnya yang hanya tidak
terbatas kepada pemegang saham saja, tetapi juga untuk kepentingan para
stakeholdernya yaitu semua pihak yang terkait dengan klaim dan eksistensi perusahaan.
Berdasarkan karakteristinya stakeholder dapat dibagi dua yaitu stakeholder
primer dan stakeholder sekunder (Clarkson, 1995). Stakeholder primer merupakan
pihak yang mana jika tanpa pihak tersebut perusahaan tidak dapat bertahan untuk
kelangsungan hidupnya (going concern), meliputi shareholder, investor, karyawan,
konsumen, dan pemasok, serta stakeholder yang disebut stakeholder publik seperti
pemerintah dan komunitas. Stakeholder sekunder didefinisikan sebagai pihak yang
saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perusahaan, namun tidak berhubungan
transaksi langsung dengan perusahaan dan kelangsungannya tidak esensial, misalnya
media massa dan masyarakat.
Dari dua jenis stakeholder tersebut, stakeholder primer yang sangat memberikan
pengaruh paling besar terhadap kelangsungan hidup perusahaan karena memiliki
wewenang dan kekuasaan yang cukup tinggi terhadap sumber daya perusahaan, baik
sumber daya ekonomi, sumber daya manusia, dan sumber daya alam. Wewenang dan
kekuasaan tersebut dapat berupa bentuk manajemen terhadap pembatasan penggunaan
sumber daya ekonomi, memiliki pengaruh terhadap akses media massa, kemampuan
untuk mengatur dan mengelola perusahaan, kemampuan untuk mengatur pemakaian
barang dan jasa dalam kegiatan operasional perusahaan. Teori stakeholder umunya
berhubungan dengan cara-cara perusahaan dalam me-manage stakeholdernya. Cara-cara
yang dilakukan dalam me-manage stakeholdernya dilakukan dalam bentuk strategi yang
diadopsi oleh perusahaan. Salah satu strateginya merupakan melaksanakan dan
mengungkapkan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility).
Pelaksanaan tanggung jawab sosial dan pengungkapan CSR tersebut diharapkan
dapat terakomodasi sehingga terciptalah sebuah keharmonisan hubungan antara
perusahaan dengan stakeholdernya. Para pemangku kepentingan yang memberikan
pengaruh bagi perusahaan dalam pengungkapan CSR yaitu, dewan komisaris,
masyarakat luas, dan kepemilikan saham asing atau publik. Dewan komisaris sebagai
pihak stakeholder yang mewakili shareholder dalam sebuah perusahaan yang berbentuk
perseroan terbatas (PT), dapat menekankan kepada manjemennya untuk melaksanakan

10

dan mengungkapkan CSR, karena dewan komisaris merupakan pelaksana tertinggi


dalam sebuah entitas.
Masyarakat

luas

memberikan

pengaruh

terhadap

perusahaan

dengan

memberikan tekanan atas produktivitas perusahaan dan penilaian terhadap perhatian


perusahaan terhadap aktivitas produksinya dan lingkungan sekitarnya, serta dampak
yang ditimbulkan. Apabila terjadi kegagalan dalam produksi perusahaan atau terjadi
dampak negatif terhadap lingkungan sekitar perusahaan, tentunya akan menurunkan
eksistensi perusahaan dimata masyarakat. Dengan pengungkapan tanggung jawab sosial
akan mengurang biaya politis bagi perusahaan, sehingga dalam jangka waktu yang lama
perusahaan dapat terhindar dari biaya yang besar akibat tuntutan dari masyarakat.
Pemilik

saham

asing

maupun

publik

membuat

manajemen

selain

mengungkapkan kinerja keuangan, tetapi juga harus mengungkapkan informasi CSR


dalam laporan tahunan perusahaan. Dalam hal ini, para pemilik saham dapat menilai
sebuah perusahaan bukan saja dari aspek ekonomi, tetapi juga bagaimana kepedulian
perusahaan terhadap kehidupan sosial dilingkungan perusahaan itu sendiri.
2.2 Definisi dan Konsep Corporate Social Responsibility
Definisi Corporate Social Responsibility sangat beragam pada saat sekarang ini.
Berikut definisi CSR menurut World Bank (2002), sebagai berikut:
.......CSR is committment bussines to contribute to sustainable economic
development working with employees and their representatives, the local community
and society at large to improve quality of live, in ways that are both good for bussines
and good for development.........
Dari definisi diatas diungkapkan bahwa CSR merupakan suatu komitmen bisnis
untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi yang bekerja sama dengan para
karyawan dan perwakilan mereka, komunitas lokal dan masyarakat luas untuk
meningkatkan kualitas hidup dengan cara yang baik untk bisnis, dan baik untuk
pemabangunan.
CSR merupakan suatu integrasi sosial bagi suatu organisasi untuk memberikan
perhatian terhadap lingkungan sekitarnya. CSR atau pertanggungjawaban sosial
perusahaan diungkapkan dalam laporan yang disebut Sustainability Reporting.

11

Sustainability Reporting adalah pelaporan mengenai kebijakn ekonomi, lingkungan, dan


sosial, pengaruh, dan kinerja oragnisasi dan produknya di dalam konteks pembanguna
berkelanjutan (sustainable development) (Astrotamma, 2009).
Konsep CSR merupakan konsep yang sudah menarik perhatian dunia dan
mendapat perhatian secara global. Namun, belum terdapat keseragaman antar konsep
CSR sampai saat sekarang ini. Meskipun belum terdapat keseragaman konsep, disini
kita dapat menyimpulkan bahwa konsep CSR pada umumnya menyatakan bahwa suatu
perusahaan tidak hanya bertanggung jawab terhadap para pemegang saham dan
pengguna laporan keuangan semata, akan tetapi perusahaan juga bertanggung jawab
terhadap masyarakat dan lingkungan sosial yang terkait dengan perusahaan yang mana
terkena dampak dari aktivitas operasional perusahaan.
Dauman dan Hargreaves (1992) dalam Hasibuan (2001) menyatakan bahwa
tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dapat dibagi dalam tiga level sebagai berikut:
1.

Basic Responsibility (BR), dimana pada level ini menghubungkan


tanggung jawab pertama dari perusahaan yang muncul karena keberadaan
perusahaan tersebut, seperti; pajak, hukum, standar pekerjaan, dan
pemuasan pemegang saham. Jika tanggung jawab ini tidak dipenuhi maka

2.

akan menimbulkan dampak yang serius.


Organization Responsibility (OR), diama pada level ini menunjukkan
tanggung jawab perusahaan untuk memenuhi perubahan kebutuhan

3.

stakeholder, seperti pekrja, pemegang saham, dan masyarakat sekitarnya.


Sociental Responses (SR), dimana pada level ini menunjukkan interaksi
antara bisnis dan kekuatan lain dalam masyarakat yang begitu kuat,
sehingga

perusahaan

dapat

tumbuh

dan

berkembang

secara

berkesinambungan, dan terlibat dengan apa yang terjadi dalam


lingkungannya secara keseluruhan.
2.3 Karakteristik Perusahaan
Karakteristik perusahaan yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu ukuran
perusahaan, profitabilitas, leverage, dewan komisaris, dan kepemilikan saham publik.
1. Ukuran perusahaan

12

Ukuran

perusahaan

merupakan

suatu

skala

yang

berfungsi

untuk

mengklasifikasikan besar atau kecilnya sebuah perusahaan. Skala ukuran perusahaan


dapat mempengaruhi luas informasi yang disajikan dalam laporan tahunan perusahaan.
Secara umum, perusahaan yang besar pastinya lebih banyak mengungkapkan
pertanggunjawaban sosial dibandingkan dengan perusahaan kecil. Secara teoritis
menyatakan bahwa sebuah entitas bisnis yang besar memiliki resiko tekanan politis
yang besar dibandingkan dengan entitas bisnis yang kecil. Tekanan politis merupakan
tekanan untuk entitas bisnis yang banyak disoroti oleh masyarakat luas agar lebih
mengungkapkan tanggung jawab sosial atas aktivitas usahanya terhadap lingkungan
sekitarnya.
2. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan faktor yang mebuat manajemen menjadi bebas dan
fleksibel untuk mengungkapkan CSR terhadap pemegang saham (Heinze, 1976; Gray, et
al, 1995; dalam sembiring, 2005), sehingga dapat dijelaskan bahwa profitabilitas
merupakan kemampuan suatu entitas atau perusahaan dalam meningkatkan laba
perusahaan demi meningkat nilai kepentingan pemegang saham. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi profitabilitas perusahaan, maka semakin luas
informasi sosial yang diberikan.
Penelitian yang dilakukan oleh Hackston dan Milne (1996) sejalan dengan riset
penelitian empiris yang dilakukan oleh Sembiring (2005), dan Anggraini (2006) yang
menyatakan

bahwa

tidak

ditemukan

hubungan

antara

profitabilitas

dengan

pengungkapan informasi sosial atau tanggung jawab sosial perusahaan. Hal ini mungkin
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain; periode pengamatan dan jumlah sampel
penelitian (Nurkhin, 2009).
3. Leverage
Leverage merupakan alat ukur untuk menentukan tingkat ketergantungan
perusahaan terhadap kreditur untuk pembiayaan aset perusahaan. Semakin tinggi tingkat
leverage suatu perusahaan berarti tingkat ketergantungan perusahaan terhadap kreditur
lebih tinggi dalam membiayai asetnya. Sebaliknya, perusahaan yang memilki tingkat
leverage yang lebih rendah, cenderung lebih banyak membiayai asetnya dengan modal
sendiri. Dengan demikian, tingakta leverage perusahaan menentukan tingkat resiko

13

keuangan perusahaan. Dalam teori keagenan perusahaan yang memiliki tingkat rasio
leverage yang lebih tinggi memberikan pengungkapan informasi yang lebih banyak,
karena biaya keagenan dengan struktur modal perusahaan lebih tinggi.
4. Dewan komisaris
Dewan komisaris merupakan shareholder yang mewakili dari semua
shareholder dalam sebuah entitas yang berbentuk perseroan terbatas. Selain mewakili
shareholder dewan komisaris memiliki wewenang untuk mengawasi, memberikan
pengarahn kepada pengelolaan perusahaan yang dilaksanakan oleh manajemen, dan
bertanggung jawab untuk menentukan apakah manajemen memenuhi tanggung jawab
mereka dalam mengembangkan, serta menyelenggrakan pengendalian internal
perusahaan (Mulyadi, 2002). Dengan wewenang yang dimilikinya dewan komisaris
memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan (CSR). Semakin banyaknya kuantitas dewan komisaris dalam suatu
perusahaan, semakin besar pengaruhnya terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan (CSR).
5. Kepemilikan saham publik
Kepemilikan saham publik (public shareholding) merupakan proporsi
kepemilikan publik terhadap saham suatu perusahaan yang beredar di Indonesia. Publik
sendiri yaitu pihak yang memiliki kepemilikan saham dalam suatu perusahaan tidak
lebih dari 5% dan tidak ada hubungan istimewa terhadap perusahaan. Sedangkan
Perseroan Terbatas yang memiliki saham perusahaan yang bersangkutan tidak
dikategorikan sebagai publik.
Informasi keuangan yang disampaikan manajemen, bagi investor berguna untuk
menilai dan menganalisis bagaimana kinerja perusahaan untuk masa yang akan datang
dan memberikan pengaruh terhadap resiko investasi. Sedangkan agar publik mau
berinvestasi terhadap dan percaya terhadap perusahaan dengan rendahnya resiko
investasi, perusahaan dapat menyampaikan keunggulan dan eksistensi perusahaan
terhadap publik. Salah satu caranya yaitu dengan mengungkapkan tanggung jawab
perusahaan atau Corporate Social Responsibility. Semakin tinggi kepemilikan saham
publik maka semakin luas pengungkapan terhadap CSR.

14

2.4 Penelitian Terdahulu


Belkaoui dan Karpik (1989) meneliti hubungan antara kinerja sosial (social
performance), biaya kontrak dan monitor (contract and monitoring cost), visibilitas
politik (political visibilities) dan kinerja ekonomi (economic performance) terhadap
pengungkapan sosial yang dilakukan oleh perusahaan. Penelitian ini menemukan
hubungan yang positif signifikan antara kinerja sosial dan visibilitas politik terhadap
pengungkapan sosial perusahaan dan negatif signifikan antara biaya kontrak dan
monitor terhadap pengungkapan sosial perusahaan. Penelitian ini tidak berhasil
menemukan hubungan antara kinerja ekonomi yang diproksikan dengan profitabilitas
perusahaan terhadap pengungkapan sosial perusahaan.
Heckston dan Milne (1996) melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang
menentukan pengungkapan sosial dan lingkungan di Selandia Baru. Heckston dan
Milne menggunakan metode content analysis dengan menggunakan checklist sebagai
alat untuk menentukan pengungkapan sosial dan lingkungan. Dalam penelitian ini,
Heckston dan Milne menemukan bahwa ukuran perusahaan dan tipe industri
mempengaruhi perusahaan dalam pengungkapan sosial dan lingkungan di Selandia
Baru.
Utomo (1999) telah melakukan penelitian terhadap pola perusahaan-perusahaan
yang listing di Bursa Efek Jakarta maupun Bursa Efek Surabaya dalam melakukan
pengungkapan sosialnya. Pola tersebut meliputi tema, item, dan lokasi di dalam laporan
tahunan, serta tipe pengungkapan sosialnya. Selain itu, juga meneliti perbedaan pola
praktek pengungkapan sosial yang berdasarkan tipe industri high profile dan low profile
di Indonesia. Penelitian ini juga dilakukan untuk membuktikan bahwa perusahaan yang
bertipe high profile lebih luas dalam pengungkapan sosialnya dibanding dengan
perusahaan low profile. Hasil pengujian membuktikan perusahaan-perusahaan high
profile melakukan pengungkapan sosial secara dignifikan lebih tinggi daripada
perusahaan-perusahaan low profile.
Marwata (2001) melakukan penelitian mengenai hubungan antara karakteristik
perusahaan dan kualitas pengungkapan sukarela. Karakteristik perusahaan dalam
penelitian ini diproksikan dengan ukuran perusahaan, rasio leverage, basis perusahaan,
umur perusahaan, penerbitan sekuritas tahun berikutnya dan struktur kepemilikan.

15

Penelitian ini menemukan bahwa kualitas pengungkapan sukarela dalam laporan


tahunan secara positif dan signifikan berhubungan dengan ukuran perusahaan dan
penerbitan sekuritas tahun berikutnya.
Sembiring (2005) melakukan penelitian mengenai hubungan antara karakteristik
perusahaan dan pengungkapan CSR di Indonesia. Karakteristik perusahaan dalam
penelitian ini terdiri atas ukuran perusahaan, profitabilitas, tipe industri, ukuran dewan
komisaris dan leverage. Penelitian ini menemukan bahwa ukuran perusahaan, ukuran
dewan komisaris dan tipe industri mempengaruhi pengungkapan CSR yang dilakukan
oleh perusahaan di Indonesia.
Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Anggraini (2006). Anggraini
melakukan penelitian untuk menguji pengaruh kepemilikan manajemen, leverage,
ukuran perusahaan, tipe industri dan profitabilitas terhadap pengungkapan CSR yang
dilakukan oleh perusahaan di Indonesia. Anggraini menggunakan metode content
analysis untuk menghitung pengungkapan CSR di Indonesia. Anggraini menemukan
bahwa kepemilikan manajemen dan tipe industri berpengaruh secara signifikan pada
pengungkapan CSR yang dilakukan oleh perusahaan di Indonesia.
Penelitian yang dilakukan Puspitasari (2009) mengadopsi dari Amran dan Devi
(2008), namun faktor kepemilikan saham pemerintah diganti dengan kepemilikan saham
publik. Faktor kepemilikan saham pemerintah tidak digunakan dalam penelitian karena
menimbang proporsi kepemilikan saham pemerintah pada perusahaan-perusahaan di
Indonesia jumlahnya sangat sedikit, sehingga tidak dapat dijadikan variabel penelitian.
Jadi, faktor-faktor yang diadopsi oleh Puspitasari (2009) dari Amran dan Devi (2008)
mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan CSR, antara lain: faktor
kepemilikan saham publik (public shareholding), faktor kepemilikan saham asing
(foreign shareholding), tipe industi (industry type), ukuran perusahaan (corporate size)
dan profitabilitas (profitability).
Berdasarkan uraian penelitian terdahulu diatas, karakteristik perusahaan yang
diindikasikan memiliki pengaruh terhadap pengungkapan CSR. Diantara karakteristik
perusahaan yang menjadi variabel independen dalam penelitian terdahulu adalah ukuran
dewan komisaris, tipe industri, ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, kepemilikan
saham asing dan kepemilikan saham publik. Namun, dalam penelitian ini penulis

16

mengambil beberapa karakteristik perusahaan yaitu; ukuran perusahaan, profitabilitas,


leverage, dewan komisaris, dan kepemilikan saham publik.
2.5 Perumusan Hipotesis
2.5.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Pengungkapan CSR
Pengaruh ukuran perusahaan terhadap pengungkapan CSR tercermin dalam teori
agensi yang menjelaskan bahwa perusahaan besar mempunyai biaya agensi yang besar,
oleh karena itu perusahaan besar akan lebih banyak mengungkapkan informasi daripada
perusahaan kecil.
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini
ditulis dalam bentuk alternatif yaitu:
H1

: Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan

CSR
2.5.2 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Pengungkapan CSR
Hubungan profitabilitas terhadap pengungkapan CSR menurut Bowman dan
Haire (1976) dalam Heckston dan Milne (1996) bahwa kepekaan sosial membutuhkan
gaya manajerial yang sama sebagaimana yang diperlukan untuk dapat membuat
perusahaan menguntungkan (profitable). Pengungkapan CSR merupakan cerminan
suatu pendekatan manajemen dalam menghadapi lingkungan yang dinamis dan
multidimensional serta kemampuan untuk mempertemukan tekanan sosial dengan reaksi
masyarakat.
Henzi (1976) dalam Heckston dan Milne, (1996) menyatakan bahwa
profitabilitas merupakan faktor yang memberikan kebebasan dan fleksibilitas kepada
manajemen untuk mengungkapkan pertanggungjawaban sosial kepada pemegang
saham. Hal ini semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan maka semakin besar
pengungkapan informasi sosial yang dilakukan oleh perusahaan. Berdasarkan uraian
diatas maka hipotesis kedua yang akan diuji dalam penelitian ini ditulis dalam bentuk
alternatif.
H2

: Profitabilitas berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR

17

2.5.3 Pengaruh Leverage Terhadap Pengungkapan CSR


Leverage memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki
perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat resiko tak tertagihnya sustu utang. Scott
(2000) menyampaikan pendapat yang mengatakan bahwa semakin tinggi leverage
kemungkinan besar perusahaan akan mengalami pelanggaran terhadap kontrak utang,
maka manajer akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebih tinggi dibandingkan
laba masa depan,. Perusahaan yang memiliki rasio leverage tinggi akan lebih sedikit
mengungkapkan CSR supaya dapat melaporkan laba sekarang yang lebih tinggi.
Berdasarkan hal tersebut maka hipotesis ketiga yang akan diuji ditulis dalam
alternatif beriktu:
H3

: Leverage berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR

2.5.4 Pengaruh Dewan Komisaris Terhadap Pengungkapan CSR


Dewan komisaris adalah wakil shareholder dalam perusahaan yang berbadan
hukum perseroan terbatas (PT) yang berfungsi mengawasi pengelolaan perusahaan yang
dilaksanakan oleh manajemen (direksi), dan bertanggungjawab untuk menentukan
apakah manajemen memenuhi tanggung jawab mereka dalam mengembangkan dan
menyelenggarakan pengendalian intern perusahaan (Mulyadi, 20002). Dengan
wewenang yang dimiliki, dewan komisaris dapat memberikan pengaruh yang cukup
kuat untuk menekan manajemen untuk mengungkapkan CSR. Sehingga perusahaan
yang memiliki ukuran dewan komisaris yang lebih besar akan lebih banyak
mengungkapkan CSR.
Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis keempat yang akan diuji dapat ditulis
dalam alternatif berikt:
H4

: Ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap pengungkapan

CSR
2.5.5 Pengaruh Kepemilikan Publik Terhadap Pengungkapan CSR
Perusahaan go public dan telah terdaftar dalam BEI adalah perusahaanperusahaan yang memiliki proporsi kepemilikan saham oleh publik, yang artinya bahwa
semua aktivitas dan keadaan perusahaan harus dilaporkan dan diketahui oleh publik

18

sebagai salah satu bagian pemegang saham. Akan tetapi tingkat kepemilikan sahamnya
berbeda-beda satu sama lain.
Penelitian Hasibuan (2001) menjelaskan bahwa semakin tinggi rasio/tingkat
kepemilikan publik dalam perusahaan diprediksi akan melakukan tingkat pengungkapan
yang lebih luas. Hal tersebut dikaitkan dengan tekanan dari pemegang saham, agar
perusahaan lebih memperhatikan tanggung jawab sosialnya terhadap masyarakat.
Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis kelima yang akan diuji dapat ditulis dalam
alternatif berikut:
H5

: besarnya kepemilikan saham publik berpengaruh positif terhadap

pengungkapan CSR.

19

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Populasi dan Sampel
Penelitian ini menggunakan populasi perusahaan manufaktur yang tercatat di
Bursa Efek Indonesia tanhun 2010-2014. Periode tahun 2010-2014 dipilih karena
meupakan data terbaru yang bisa diperoleh dan diharapkan dengan peiode tersebut akan
diperoleh hasil yang baik dalam menjelaskan pengaruh karakteristik perusahaan
terhadap pengungkapan CSR. Perusahaan manufaktur dipilih karena merupakan
perusahaan yang relatif lebih banyak memiliki dampak pada lingkungan dibandingkan
perusahaan jasa atau dagang dan merupakan jumlah perusahaan dalam satu populasi
yang cukup besar.
Sampel dipilih dengan metode purposive sampling, dengan harapan peneliti
mendapatkan informasi dari kelompok sasaran spesifik (sekaran, 2003). Adapun
kriteria-kriteria yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah:
1. Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010-2014
2. Perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur
3. Perusahaan yang mempublikasikan laporan tahunan lengkap termasuk
pengungkapan sosial dan tersedia untuk publik
3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel penelitian adalah objek penelitian yang menjadi titik perhatian suatu
penelitian. Penelitian ini menganalisis secara empiris mengenai pengaruh karakteristik
perusahaan terhadap pengungkapan CSR pada Laporan Tahunan perusahaan. Oleh
karena itu dilakukan pengujian atas hipotesis-hipotesi yang telah diajukan.
3.2.1 Variabel Terikat (Dependen)
Variabel terikat (dependen) dalam penelitian ini adalah tingkat pengungkapan
CSR yang diukur mengunakan Corporate Social Responsibility Index (CSRI).
Instrumen pengukuran CSRI yang akan digunakan dalam penelitian ini mengacu pada
instrumen yang digunakan oleh Darwin (2004), yang mengelompokkan informasi CSR
kedalam tiga kategori, yaitu: aspek kinerja ekonomi, aspek kinerja lingkungan, dan
aspek kinerja sosial. Aspek kinerja sosial dibagi menjadi empat kategori, antara lain:
20

prekatek kinerja, hak manusia, sosial, dan tanggung jawab terhadap produk. Menurut
Darwin (2004) dalam Anggraini (2006), kategori informasi Sustainability Reporting
menjadi dasar yang digunakan untuk mengukur pengungkapan Corporate Social
Responsibility Index (CSRI) sebagai berikut:
KE

: Kinerja Ekonomi

KL

: Kinerja Lingkungan

PK

: Praktik Kinerja

HM

: Hak Asasi Manusia

Sos

: Sosial

TP

: Tanggung jawab terhadap Produk


Pengukuran CSRI mengacu pada penelitian Haniffa et al. (2005) dalam Sayekti

dan Wondabio (2007), yaitu dengan menggunakan content analysis dalam mengukur
variety dari CSRI. Pendekatan ini pada dasarnya menggunakan pendekatan dikotomi,
yaitu setiap kategori informasi pengungkapan CSR dalam instrumen penelitian diberi
skor 1 jika kategori informasi yang diungkapkan ada dalam laporan tahunan, dan 0 jika
kategori informasi tidak diungkapkan di alporan tahunan. Selanjtnya, skor dari setiap
kategori informasi SR dijumlahkan untuk memperoleh keseluruhan skor untuk setiap
perusahaan. Pengukuran dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Xky
CSRIy =

--------6

Keterangan:
CSRIy : Corporate Social Responsibility Indekx perusahaan y,
Xky : Dummy variable: 1 jika kategori Sustainability Reporting k
diungkapkan; 0 jika kategori Sustainability Reporting k tidak diungkapkan.
3.2.2. Variabel Bebas (Independen)
3.2.2.1 Ukuran Perusahaan (Corporate Size)
Ukuran perusahaan diukur dari total aset yang dimiliki perusahaan yang
diperoleh dari laporan tahunan perusahaan untuk tahun 2010-2014. Size perusahaan
yang diukur dengan total aset akan ditransformasikan dalam logaritma untuk
21

menyamakan dengan variabel lain karena total aset perusahaan nilainya relatif besar
dibandingkan variabel-variabel lainnya.
SIZE = log (nilai buku total aset)
3.2.2.2 Profitabilitas (Profitability)
Profitabilitas diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan laba atau profit
dalam upaya meningkatkan nilai pemegang saham (Fahrizqi, 2010). Profitabilitas dapat
diukur dengan Return On Asset (Belkaoui dan Karpik, 1989; Heckston dan milne;
1996). Return On Asset (ROA) merupakan ukuran efektifitas perusahaan di dalam
menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aset yang dimilikinya. Untuk menukur
ROA dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Return On Asset = Laba Bersih setelah Pajak
Total Aset
3.2.2.3 Leverage
Leverage dapat diartikan sebagai tingkat ketergantungan perusahaan terhadap
utang dalam membiayai kegiatan operasinya, dengan demikian leverage juga
mencerminkan tingkat resiko keuangan perusahaan, Sembiring (2005). Dalam penelitian
ini, indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat leverage adalah Debt to Equity
Ratio (DER) yang mana rumusnya adalah:
DER =

Total kewajiban
Ekuitas Pemegang saham

3.2.2.4 Dewan Komisaris


Dewan komisaris disini yaitu banyaknya jumlah anggota dewan komisaris dalam
suatu perusahaan. Ukuran dewan komisaris dalam penelitian ini adalah konsisten
dengan Sembiring (2005) yaitu dilihat dari banyaknya jumlah anggota dewan komisaris
perusahaan. Adapun rumusnya adalah:
DK

= dewan Komisaris Perusahaan

3.2.2.5 Kepemilikan Saham Publik

22

Kepemilikan saham publik adalah jumlah lembar saham yang dimiliki oleh
masyarakat terhadap saham perusahaan di Indonesia. Kepemilikan saham publik
tersebut dapat dilihat dalam laporan tahunan perusahaan. Besarnya saham
publik/masyarakat diukur melalui rasio dari jumlah kepemilikan lembar shaam yang
dimiliki publik terhadap total saham perusahaan di Indonesia. Metode pengukuran
diatas berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan oleh Puspitasari (2009).
Rasio=

Jumlah Kepemilikan Lembar Saham Publik


x 100
Total Lembar Saham perusahaan

3.3 Jenis dan Sumber Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder
diperoleh dari annual report dan laporan keuangan tahunan perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) umtuk tahun 2010-2014. Data sekunder
tersebut diperoleh dari IDX (Indonesia Stock Exchanges) yang dimiliki oleh website
BEI. Alasan menggunakan data sekunder ialah karena data sekunder lebih mudah
diperoleh, biayanya lebih murah, sudah ada penelitian sejenis dengan data tersebut, serta
lebih dapat dipercaya keabsahannya karena laporan keuangannya telah diaudit oleh
akuntan publik.
3.4 Teknik Analisis Data
1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui tingkat pengungkapan
Corporate Social Rseponsibility (CSR), nilai perusahaan dan profitabilitas
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Pengukuran yang
digunakan dalam penelitian ini adalah nilai minimum, maximum, mean, dan
standar deviasi.
2. Pengujian Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji
kelayakan atas model regresi yang digunakan dalam penelitian ini. Pengujian
ini juga dimaksudkan untuk memastikan bahwa di dalam model regresi yang
digunakan tidak terdapat multikolonieritas dan heteroskedastisitas serta

23

untuk memastikan bahwa data yang dihasilkan berdistribusi normal


(Ghozali, 2006).
a. Uji Heteroskedastisitas
Bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan
variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika
variance dan residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka
disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas.
Model regresi yang baik adalah yang Homoskedastisitas atau tidak
terjadi Heteroskedastisitas.
b. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui
bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti
distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi
tidak valid untuk jumlah sampel kecil.
Pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran
data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat
histogram dari residualnya. Dasar pengmabilan keputusan:
1) Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi
normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti
arah garis diagonal, maka model regresi tidak asumsi normalitas.
c. Uji multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya kolerasi antar variabel bebas (independen). Model
regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel
independen. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas, dapat
dilihat dari nilai tolerance dan lawannya variance inflation factor (VIF).
Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah
yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Tolerance mengukur
variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh
variabel independen lainnya. Jadi, nilai tolerance yang rendah sama

24

dengan nilai VIF tinggi (karena VIF = 1/Tolerance). Nilai cutoff yang
umum dipakai untuk menunjukkan adanya mult ikolinearitas adalah nilai
Tolerance = 0,10 atau sama dengan nilai VIF = 10.
3. Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji pengaruh dua atau lebih
variabel independen terhadap variabel dependen. Variabel independen dalam
penelitian ini adalah ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage dan ukuran
dewan komisaris. Sedangkan variabel independennya adalah indeks
pengungkapan CSR. Adapun persamaan untuk menguji hipotesis secara
keseluruhan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Y = 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5 X5 + t
Keterangan :
Y

: Indeks pengungkapan CSR

: Konstanta

X1

: Ukuran perusahaan

X2

: Profitabilitas

X3

: Leverage

X4

: Ukuran dewan komisaris

X5

: Kepemilikan Saham Publik

1...4 : Koefisien X1...X4


t

: Error

4. Uji Hipotesis
Setelah mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelit ian ini, peneliti
akan melakukan serangkaian tahap untuk menghit ung dan mengolah data
tersebut, agar dapat mendukung hipotesis yang telah diajukan.
Adapun tahap-tahap penghitungan dan pengolahan data sbb:
1) Menghitung indeks CSR.
2) Menghitung karakteristik perusahaan yang diproksikan dalam ukuran
perusahaan,

profitabilitas,

leverage,

dewan

komisaris

dan

kepemilikan saham publik.

25

3) Regresi model.
Metode regresi linier berganda (multiple regression) dilakukan
terhadap model yang diajukan untuk memprediksi hubungan antara
variabel independen dengan variabel dependen.

26

DAFTAR PUSTAKA
Marzully Nur. 2012. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan
Corporate Social Responsibility di Indonesia (Studi Empiris pada Perusahaan
Berkategori High Profile yang Listing di Bursa efek Indonesia). Jurnal Nominal.
Volume I No. 1.Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.
Sukmawati Safitir Dewi, dan Maswar Patuh Priyadi. 2013. Pengaruh Karakteristik
Perusahaan terhadap Corporate Social Responsibility Disclosure pada
Perusahaan manufaktur yang Terdaftar di BEI. Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi.
Vol. 2 No. 3. STIESIA Surabaya.
Megawati Cheng, dan Yulius Jogi Christiawan. -. Pengaruh Pengungkapan Corporate
Social Responsibility terhadap Abnormal Return. Universitas Kristen Petra
Surabaya.

27