Anda di halaman 1dari 19

PEMERIKSAAN APTT

ACTIVATED PARTIAL THROMBOPLASTIN TIME

OLEH :
KELOMPOK IV GENAP
1.
2.
3.
4.
5.

PUTU RINA WIDHIASIH


KOMANG OKTARINA PUTRI
LUH PUTU DEVI KARTIKA
A.A LIDYA NIRMALA DEWI
I DEWA AYU RIANITA PUTRI

(P07134014002)
(P07134014004)
(P07134014006)
(P07134014008)
(P07134014010)

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

PEMERIKSAAN APTT
ACTIVATED PARTIAL THROMBOPLASTIN TIME

I.

TUJUAN
1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pemeriksaan faal hemostasis.
2. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan APTT (Activated Partial Thromboplastin
Time)

II.

METODE
Metode yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu :
Pemeriksaan APTT dilakukan dengan menggunakan

metode

fotooptik

atau

elektromekanik.
III.

PRINSIP
Menginkubasikan plasma sitrat yang mengandung semua factor koagulasi instrinsik
kecuali kalsium dan trombosit dengan tromboplastin parsial (fosfolipid) dengan bahan
pengaktif (misal : kaolin ellagic acis, micronized silica atau celite koloidal).

IV.

DASAR TEORI
1. Darah
Darah merupakan bagian dari tubuh yang jumlahnya 60-80% dari berat
badan, dangan viskositas darah 4,5 kali lebih besar daripada air. Darah merupakan
jaringan yang berbentuk cairan, terdiri dari dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah.
Plasma darah meliputi 55% volume darah merupakan substansi nonseluler, sedangkan
45% dari volume darah meliputi sel darah. Sel darah terdiri dari sel darah merah,
sel darah putih, dan trombosit (Johan Sitompul, 2001).
Komponen cairan darah dinamakan plasma, 91-92% terdiri dari air sebagai
medium transport dan 7-9% terdiri dari zat padat. Zat-zat padat itu adalah protein-protein
seperti albumin, globulin, dan fibrinogen serta unsure anorganik berupa natrium,
calcium, kalium, fosfor, besi, dan yodium. Unsur organik berupa zat-zat nitrogen, non
protein, urea, asam urat, xantin, kreatinin, asam amino, lemak netral, fosfolipid,
kolesterol, glukosa, dan berbagai enzim. Fibrinogen yang hanya berjumlah 4%
penting untuk pembentukan darah (Sylvia A. Price, dkk, 2005).
2. Pembekuan Darah (Hemostasis)

Hemostasis adalah kemampuan alami untuk menghentikan perdarahan pada lokasi


luka oleh spasme pembuluh darah, adhesi trombosit dan keterlibatan aktif faktor
koagulasi, adanya koordinasi dari endotel pembuluh darah, agregasi trombosit dan
aktivasi jalur koagulasi. Fungsi utama mekanisme koagulasi adalah menjaga keenceran
darah (blood fluidity) sehingga darah dapat mengalir dalam sirkulasi dengan baik, serta
membentuk thrombus sementara atau hemostatic thrombus pada dinding pembuluh darah
yang mengalami kerusakan (vascular injury).
Hemostasis terdiri dari enam komponen utama, yaitu: trombosit, endotel vaskuler,
procoagulant plasma protein faktors, natural anticoagulant proteins, protein fibrinolitik
dan protein antifibrinolitik. Semua komponen ini harus tersedia dalam jumlah cukup,
dengan fungsi yang baik serta tempat yang tepat untuk dapat menjalankan faal hemostasis
dengan baik. Interaksi komponen ini dapat memacu terjadinya thrombosis disebut
sebagai sifat prothrombotik dan dapat juga menghambat proses thrombosis yang
berlebihan, disebut sebagai sifat antithrombotik. Faal hemostasis dapat berjalan normal
jika terdapat keseimbangan antara faktor prothrombotik dan faktor antithrombotik.
3. Mekanisme Hemostasis
Urutan mekanisme dan koagulasi dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Segera setelah pembuluh darah terpotong atau pecah, rangsangan dari pembuluh
darah yang rusak itu menyebabkan dinding pembuluh darah yang pecah akan
berkurang ( terjadi vasokontriksi ).
2) Setelah itu, akan diikuti oleh adhesi trombosit, yaitu penempelan trombosit pada
kolagen ADP (adenosin difosfat) kemuadian dilepaskan olleh trombosit kemidian
ditambah dengan tromboksan A2 menyebabkan terjadinya agregasi (penempelan
trombosit satu sama lain). Proses aktivasi trombosit ini terus terjadi sampai terbentuk
sumbat trombosit, di sebut hemostasis primer.
3) Setelah ituu dimulailah dekade koagulasi yaitu hemostasis sekunder, diakhiri dengan
pembentukan fibrin. Produksi fibrin dimulai dengan perubahan faktor X menjadi
Faktor Xa. Faktor X diaktifkan melalui dua jalur, yaitu jalur ekstrinsik dan jalur
intrinsik. Jalur ekstrinsik dipicu oleh tissue factor atau tromboplastin. Kompleks
lipoprotein tromboplastin selanjutnya bergbung dengan faktor VII bersamaan dengan
hadirnya ion kalsium yang nantinya akan mengaktifkan faktor X. Jalur intrinsil
diawali oeh keluarnya plasma atau kolagen melalui pembuluh darah yang rusak dan

mengenai kulit. Paparan kolagen yang rusak akan mengubah faktor XII menhadi
faktor XII yang teraktivasi. Selanjutnya faktor XIIa akan bekerja secara enzimatik
dan mengaktifkan faktor XI. Faktor Xia akan mengubah faktor IX menhadi faktor
Ixa.
4) Faktor Ixa akan bekerja sama dengan lipoprotein trombosit, faktor VIII, serta ion
kalsium untuk mengaktifkan faktor X menjadi faktor Xa.
5) Faktor Xa akan dihasilkan dua jalur berbeda itu akan memasuki jalur bersama. Faktor
Xa akan berikatan dengan fosfolipid trombosit, ion kalsium, dan juga faktor V
sehingga membentuk aktivator protombin.
6) Selanjutnya senyaa itu akan mengubah protombin menjad trombin. Trombin
selanjutnya akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin (longgar), dan akhirnya dengan
bantuan faktor VIIa dannion kalsium, fibrin tersebut menjadi kuat. Fibrin inilah yang
akan menjrat sumbat trombosit sehingga menjadi kuat.
7) Selanjutnya apabila sudah tidak dibutuhkan lagi, bekuan darah akan dilisiskan
melalui proses fibrinolitik. Proses ini dimulai dengan adanya proaktivator
plasminogen yang kemuadian dikatalis menjadi aktivator plasminogen dengan adanya
menjadi plasmid dengan bantuan enzim seperti urokinase. Plasmin inilah yang akan
mendegradasi fibrinogen/fibrin menjadi fibrin produk degradasi.
4. Faktor-faktor pembekuan
Pembagian faktor-faktor pembekuan adalah sebagai berikut:
Faktor I : disebut fibrinogen, adalah suatu glikoprotein dengan berat
molekul 330.000 dalton, tersusun atas 3 pasang rantai polipeptida. Kadar
fibrinogen meningkat pada keadaan yang memerlukan hemostasis dan pada
keadaan

nonspesifik,

misalnya

inflamasi,

kehamilan,

dan

penyakit

autoimun.
Faktor II : Disebut dengan protrombin, dibentuk di hati dan memerlukan vitamin
K. Faktor ini merupakan prekusor enzim proteolitik tromion dan mungkin

asselerator konversi protrombin lain.


Faktor III: Merupakan tromboplastin

Jaringan

yang

berupa

lipoprotein

jaringan activator protombin. Sifat produk jaringan ini dalam kaitannya dengan
aktivitas

pembekuan

belum

dinyatakan sebagai faktor spesifik.


Faktor IV : Merupakan Ion

banyak

diketahui,

kalsium

mengaktifkan protrombin dan pembentukan fibrin.

yang

sehingga

sulit

diperlukan

untuk

Faktor V : Dikenal sebagai proasselerin atau faktor labil, protein ini dibentuk oleh
hati dan kadarnya menurun pada penyakit hati. Faktor ini merupakan faktor

plasma yang mempercepat perubahan protrombin menjadi trombin.


Faktor VI : Istilah ini tidak dipakai
Faktor VII : Merupakan asselerator koversi protrombin serum, dibuat di
hati dan memerlukan vitamin K dalam pembentukannya. Faktor ini merupakan

faktor serum yang mempercepat perubahan protrombin.


Faktor VIII : Dikenal sebagai faktor antihemofili, tidak dibentuk di
hati. Merupakan faktor plasma yang berkaitan dengan faktor III trombosit

dan faktor chrismas (IX), mengaktifkan protrombin.


Faktor IX : Disebut dengan faktor chrismas, dibuat di hati memerlukan vitamin K.
Merupakan faktor serum yang berkaitan dengan faktor III trombosit dan VII

AHG mengaktifkan protrombin.


Faktor X : Disebut dengan faktor

stuart-power, dibuat

di hati

dan

memerlukan vitamin K. Merupakan kunci dari semua jalur aktivasi faktor

faktor pembekuan.
Faktor XI : Sebagai antisenden tromboplastin plasma, dibentuk di hati tetapi tidak

memerlukan vitamin K.
Faktor XII : Disebut

mengaktifkan PTA (faktor XII)


Faktor XIII : Merupakan faktor untuk menstabilkan fibrin, diproduksi di

faktor

Hageman.

Merupakan

faktor

plasma

hati maupun megakariosit. Faktor ini menumbulkan bekuan fibrin yang


lebih kuat yang tidak larut dalam urea.
Faktor-faktor pembekuan dengan pengecualian faktor III (tromboplastin) dan
faktor IV (ion Ca), merupakan protein plasma. Mereka bersirkulasi dalam darah
sebagai

molekul-molekul

nonaktif.

Prekalikrein

dan

koninogen

berat molekul

besar, bersama-sama dengan faktor XI dan faktor XII dinamakan faktor kontak.
Pengaktifan faktor pembekuan diduga terjadi karena enzim memecahkan fragmen.
Bentuk prekusor yang tidak aktif karena alasan ini dinamakan prokoagulan.
Tiap faktor yang sudah diaktifkan, kecuali V, VIII, dan XIII serta fibrinogen (faktor I),
dalah enzim pemecah protein (protease serin), yang dengan demikian mengaktifkan
prokoagulan berikutnya.

Hati adalah tempat sintesis semua faktor pembekuan kecuali faktor VIII
atau mungkin XI dan XIII. Vitamin K mempertahankan kadar normal atau sintesis faktorfaktor protrombin (faktor II, VII, IX, dan X) (Sylvia A.Price,dkk ,2005).
5. KOAGULASI
1)
Sistem prokoagulasi
Suatu sistem prokoagulasi terdiri dari proses interaksi antara enzim serin protease dan
beberapa kofaktor dengan permukaaan fosfolipid yang terdapat pada membran
trombosit dan endotel yang mengalami kerusakan untuk membentuk fibrin yang stabil.
Terdapat 2 lintasan utama yang menginduksi terjadinya proses koagulasi yaitu jalur
ekstrinsik (tissue factor-faktor VII) dan jalur intrinsik (surface-contact factors). Jalur
ekstrinsik merupakan proses permulaan dalam pembentuk fibrin sedangkan jalur
intrinsik berperan dalam melanjutkan proses pembentukan fibrin yang stabil.
2)
Jalur ekstrinsik
Proses koagulasi dalam darah in vivo dimulai oleh jalur ekstrinsik yang
melibatkan komponen dalam darah dan pembuluh darah. Komponen utama adalah
tissue factor, suatu protein membran intrinsik yang berupa rangkaian polipeptide
tunggal yang diperlukan sebagai kofaktor faktor VIII dalam jalur intrinsik dan faktor V
dalam common pathway. Tissue factor ini akan disintesis oleh makrofag dan sel endotel
bilamana mengalami induksi oleh endotoksin dan sitokin seperti interleukin-1 dan
tumor necrosis factor.
Komponen plasma utama dari jalur ekstrinsik adalah faktor VII yang merupakan
vitamin K dependen protein (seperti halnya faktor IX, X, protrombin, dan protein C).
Jalur ekstrinsik akan diaktifasi apabila tissue factor yang berasal dari sel-sel yang
mengalami kerusakan atau stimulasi kontak dengan faktor VII dalam peredaran darah
dan akan membentuk suatu kompleks dengan bantuan ion Ca. kompleks factor VIIa
tissue factor ini akan menyebabkan aktifasi faktor X menjadi Xa disamping juga
menyebabkan aktifasi faktor IX menjadi IXa (jalur intrinsik)
3)
Jalur intrinsik
Jalur intrinsik merupakan suatu proses koagulasi paralel dengan jalur ekstrinsik,
dimulai oleh komponen darah yang sepenuhnya ada berada dalam sistem pembuluh
darah. Proses koagulasi terjadi sebagai akibat dari aktifasi dari faktor IX menjadi faktor
IXa oleh faktor XIa. Protein contact system (faktor XII, prekalikrein, high moleculer
weight kininogen dan C1 inhibitor) disebutkan sebagai pencentus awal terjadinya
aktifasi ataupun inhibisi faktor XI. Protein contact system ini akan berperan sebagai

respon dari reaksi inflamasi, aktifasi komplemen, fibrinolisis dan angiogenesis. Faktor
XI dikonversikan menjadi XIa melalui 2 mekanisme yang berbeda yaitu diaktifkan oleh
kompleks faktor XIIa dan high molekuler weight kininogen(HMWK) atau sebagai
regulasi negative feedback dari thrombin.
Faktor IXa akan membentuk suatu kompleks dengan faktor VIIIa dengan bantuan
adanya fospolipid dan kalsium yang kemudian akan mengaktifkan faktor X menjadi
faktor Xa. Faktor Xa akan mengikat faktor V bersama dengan kalsium dan fosfolipid
membentuk suatu kompleks yang disebut protrombinase, suatu kompleks yang bekerja
mengkonversi protrombin menjadi trombin. Faktor IX dapat juga diaktifkan oleh faktor
XIa.
4)

Common pathway
Bilamana telah terbentuk faktor Xa baik melalui faktor ekstrinsik atau intrinsik

maka akan terjadi konversi protrombin menjadi trombin. Bersama dengan vit K
dependen, yang lain (faktor Xa, faktor V, fosfolipid, dan kalsium) akan suatu kompleks
protrombinase. Kompleks protrombinase ini mengaktifasi protrombin.
5)

Pembentukan fibrin dan fibrinolysis


Trombin bekerja pada berbagai bahan, termasuk fibrinogen, faktor XIII, V dan

VII; membran trombosit; protein S dan protein C. Dapat dikatakan bahwa trombin
memegang peran sentral dalam mengontrol proses pembentukan hemostatic plug
melalui mekanisme positive dan negative feed back. Pembentukan fibrin merupakan
suatu proses fase kedua (setelah fase pertama agregasi trombosit). Fibrinogen
merupakan bahan dasar dari fibrin, suatu glikoprotein dengan BM 340.000 dalton yang
terdapat dalam konsentrasi yang tinggi dalam plasma dan granul trombosit. Trombin
akan terikat pada fibrinogen dan akan membebaskan fibrinopeptida dan membentuk
fibrin monomer dan selanjutnya membentuk fibrin polimer. Pengikatan fibrin dengan
faktor XIIIa ini akan menjadikan fibrin resisten terhadap degragasi plasmin dan keadaan
ini juga diperkuat oleh pengaruh 2 - plasmin inhibitor yang melindungi fibrin terhadap
efek fibrinolisis dari plasmin. Mekanisme terakhir untuk membatasi pembentukan
bekuan darah adalah fibrinolisis. Mekanisme ini diperlukan untuk reparasi pembuluh
darah dan struktur jaringan lainnya bersamaan dengan pertumbuhan kembali sel endotel
dan rekanalisasi pembuluh darah. Fibrinolisis merupakan suatu rangkaian proses aktifasi

faktor-faktor pembekuan yang meliputi konversi zimogen-enzim, mekanisme feedback


potensiasi dan inhibisi, dan reparasi struktur pembuluh darah. Pada proses permulaan
pembentuk hemostatic plug, trombosit dan sel endotel akan melepaskan plasminogen
activator inhibitor untuk menfasilitasi pembentukan fibrin. Proses selanjutnya, sel
endotel akan melepaskan plasminogen aktivator dan prourokinase yang akan
mengkonversi plasminogen (terutama yang terikat pada fibrin) menjadi bentuk aktif
yaitu plasmin, yang nantinya akan mencetuskan terjadinya fibrinolisis.
(Mantik, 2004)
6. PEMERIKSAAN PENYARING KELAINAN KOAGULASI
Bilamana pada suatu pemeriksaan anamnesis dan fisik ditemukan
kecenderungan

perdarahan

maka

seharusnya

dilakukan

pemeriksaan

adanya
skrining

hemostasis seperti halnya hitung trombosit, waktu perdarahan, dan pemeriksaan yang
khususnya menggambarkan kelainan koagulasi dan rangkaian hemostasis selanjutnya
seperti pembentukan fibrin dan fibrinolisis yaitu activated partial tromboplastin
time(APTT), protrombin time(PT), trombin cloting time (TCT), fibrinogen, euglobin
lysis time (ELT), fibrinogen-fibrin degradation product (FDP) (Mantik, 2004)
Activated Partial Thromboplastin Time (APTT)
Pemeriksaan APTT sudah sejak 1950 dikenal sebagai pemeriksaan skrining untuk
mengetahui kelainan koagulasi. Masa tromboplastin parsial teraktivasi (activated partial
thromboplastin time, APTT) adalah uji laboratorium untuk menilai aktifitas faktor
koagulasi jalur intrinsik dan jalur bersama, yaitu faktor XII (faktor Hagemen), prekalikrein, kininogen, faktor XI (plasma tromboplastin antecendent, PTA), faktor IX
(factor Christmas), faktor VIII (antihemophilic factor, AHF), faktor X (faktor Stuart),
faktor V (proakselerin), faktor II (protrombin) dan faktor I (fibrinogen). Pemeriksaan ini
sensitif terhadap kelainan dalam jalur intrinsik (XII,XI,IX dan VIII) dan kurang sensitif
terhadap pemeriksaan defisiensi protrombin dan fibrinogen.
Pemeriksaan APPT ini ditujukan untuk mengetahui adanya defisiensi faktor pembekuan
atau adanya inhibitor dalam jalur intrinsik. Bilamana APTT memanjang menunjukkan
adanya defisiensi dari satu atau beberapa faktor pembekuan (prekalikrein, high
molekuler weight kininogen, faktor XII,XI,VIII,X,V,II atau fibrinogen) atau adanya
inhibisi pada proses koagulasi (heparin, lupus anti coagulant, fibrinogen degradation
product) atau oleh karena adanya faktor inhibitor spesifik.

Pemeriksaan APTT umumnya digunakan untuk menjaring kasus dengan kelainan pada
lintasan intrinsik seperti defisiensi faktor kontak, hemofila A (defisiensi faktor VIII),
hemofilia B (defisiensi faktor IX) dan hemofilia C (defisiensi faktor XI ). Kadar APTT
akan memberikan gambaran abnormal (memanjang) bilamana defisiensi faktor berada
pada level <0,3-0,4 U/mL. Kemampuan untuk mempertahankan fungsi hemostasis
minimal dari factor VIII, IX, XI adalah pada nilai 30% dengan demikian APTT
merupakan tes skrining hemostatic yang sensitive terhadap defisiensi factor.
Pemeriksaan APTT dapat dilakukan dengan cara manual (visual) atau dengan alat
otomatis (koagulometer), yang menggunakan metode foto-optik dan elektro-mekanik.
Teknik manual memiliki bias individu yang sangat besar sehingga tidak dianjurkan lagi.
Tetapi pada keadaan dimana kadar fibrinogen sangat rendah dan tidak dapat dideteksi
dengan alat otomatis, metode ini masih dapat digunakan. Metode otomatis dapat
memeriksa sampel dalam jumlah besar dengan cepat dan teliti.
Prinsip dari pemeriksaan APTT adalah menginkubasikan plasma sitrat yang
mengandung semua faktor koagulasi intrinsik kecuali kalsium dan trombosit dengan
tromboplastin parsial (fosfolipid) dengan bahan pengaktif (mis. kaolin, ellagic acid,
mikronized silica atau celite koloidal). Penambahan kalsium akan memulai proses
pembekuan (bekuan fibrin) dan waktu yang diperlukan untuk membentuk bekuan fibrin
dicatat sebagai APTT.
Tes APTT adalah tes yang dilakukan dengan menambahkan reagen APTT yang
mengandung aktivator plasma dan fosfolipid pada sampel tes. Fosfolipid berfungsi
sebagai pengganti platelet. Campuran diinkubasi selama 3 - 5 menit untuk aktivasi
optimum, kemudian direkalsifikasi dengan kalsium klorida dan beberapa saat terbentuk
bekuan.
Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah darah vena dengan antikoagulan trisodium
sitrat 3.2% (0.109 M) dengan perbandingan 9:1. Gunakan tabung plastik atau gelas yang
dilapisi silikon. Sampel disentrifus selama 15 menit dengan kecepatan 2.500 g. Plasma
dipisahkan dalam tabung plastik tahan 4 jam pada suhu 20 5 oC. Jika dalam terapi
heparin, plasma masih stabil dalam 2 jam pada suhu 20 5 oC kalau sampling dengan
antikoagulan citrate.
Nilai normal uji APTT adalah 20 35 detik, bervariasi untuk tiap laboratorium
tergantung pada peralatan dan reagen yang digunakan.
Faktor yang dapat mempengaruhi hasil APTT adalah :

Bekuan pada sampel darah


Sampel darah hemolisis atau berbusa akibat dikocok-kocok
Pengambilan sampel darah pada jalur intravena misal pada infus Heparin.
APTT memanjang dijumpai pada :
1. Defisiensi bawaan
Jika PT normal, kemungkinan kekurangan Faktor VIII, Faktor IX, Faktor XI ,

Faktor XII
Jika faktor koagulasi tersebut normal, kemungkinan kekurangan HMW

kininogen
Defisiensi vitamin K, defisiensi protrombin, hipofibrinogenemia.
2. Defisiensi didapat dan kondisi abnormal seperti :
Penyakit hati (sirosis hati)
Leukemia (mielositik, monositik)
Penyakit von Willebrand (hemophilia vaskular)
Malaria
Koagulopati konsumtif, seperti pada DIC
Circulating anticoagulant
Selama terapi antikoagulan oral atau Heparin
Pasien dengan APTT panjang dan PT normal memiliki kelainan dalam jalur koagulasi
intrinsik karena semua komponen uji aPTT kecuali koalin bersifat intrinsik terhadap
plasma, sedangkan pada PT panjang dan aPTT normal terjadi kelainan dalam jalur
koagulasi ekstrinsik terhadap plasma.
V.

ALAT DAN BAHAN


Phlebotomi Koagulasi
1. Alat :
a. Jarum vacutainer
b. Holder
c. Tourniquet
d. Tabung vakum :
Tutup merah
: untuk dibuang karena masih mengandung cairan jaringan.
Tutup biru
: untuk pemeriksaan APTT
2. Bahan
a. Alcohol swab 70%
b. Kapas kering
c. Plaster

VI.

CARA KERJA
Pemeriksaan aPTT (Activated Partial Thromboplastin Time) menggunakan reagen
APTT-S (TECO)
1. Disiapkan sampel plasma sitrat 50 l dan dimasukkan ke dalam kuvet

2. Dimasukkan reagen TEClot APTT S 50 l ke dalam kuvet yang berisi plasma sitrat
3. Disiapkan reagen dan inkubasi CaCl2 solution selama 10 menit pada alat [37 0C]
(prewarm) 50 l
Buka light protection cap
Letakkan kuvet ke dalam channel pengukuran
Tutup light protection cap
Pada display akan tertera timer incubation count-down

4.
5.
6.
7.

Incu 180

GO-S

Adi-S

8. Setelah muncul GO-S masukkan CaCl2 solution yang sudah diinkubasi pada alat
sebanyak 50 l.
9. Dicatat hasil detik

Note :

Gunakan pipet tip, kuvet dan stir bar yang selalu baru
Penambahan reagen ke dalam cuvete harus dilakukan dengan cepat
Volume pemipetan reagen dan plasma harus tepat.
Perhatikan STABILITAS reagen dan control terhadap SUHU (lihat tabel)

CONTROL
CALIBRATOR

Catalog No.
A0320-050
A0350-100
P6000-010
P8000-010

STABILITAS
TEClot APTT-S
TEControl
CaCl2 0,025 M

2-8C
30 hari
24 jam
30 hari

REAGENT

Produk
TEClot APTT-S
CaCl2 0,025 M
TEControl N
TECal Normal
20-25C
8 jam
8 jam
--

Ukuran
10 X 5 ml
10 X 10 ml
10 X 1 ml
10 X 1 ml
37C
8 jam
2 jam
--

Persiapan Sampel :
Tabung penampung Plasma Sitrat harus terbuat dari plastik, bertutup rapat
(Centrifuge Tube).

Segera lakukan pemeriksaan, bila ditunda hanya dalam batas waktu 2 jam setelah
pengambilan pada suhu kamar.
Jangan menginkubasi Plasma pada suhu 37C > 5 menit

Persiapan & Penyimpanan Control :


Larutkan bahan Kontrol dengan 1,0 ml aquabidest dan diamkan selama 5 menit
pada suhu kamar agar terjadi rehidrasi.
Homogenkan

hingga larut dengan sempurna selama 15 menit dengan

menggunakan Mixer Roller.


Diamkan kembali pada suhu kamar selama 15 menit.
Bagilah sebanyak yang dibutuhkan ke tabung plastik bertutup rapat (Centrifuge
Tube) dan segera simpan pada suhu 2 - 8 .
Ambil bila dibutuhkan dan diamkan pada suhu kamar sebelum digunakan. Kontrol
yang sudah dipakai tidak boleh disimpan kembali ke lemari es.
Stabilitas bahan Kontrol hanya 24 jam pada suhu 2 8 C dan rentan terhadap
perubahan suhu.
Persiapan & Penyimpanan Reagen :
Reagen Cair TEClot APTT & CaCl2 0,025M adalah reagen siap pakai, diamkan
terlebih dahulu pada suhu kamar setelah dikeluarkan dari lemari es dan kemudian
homogenkan.
Ambillah seperlunya reagen TEClot APTT & CaCl 2 0,025 M dan masing-masing
dipindahkan ke tabung reagent yang baru (penambahan reagent baru harus
menggunakan tabung baru , jangan dicampur dengan yang lama ).
Reagen APTT pada suhu kamar tidak boleh lebih dari 1 jam.
Segera simpan kembali vial TEClot APTT & CaCl 2 0,025 M yang belum terpakai
ke lemari es bersuhu 2-8C (jangan biarkan vial TEClot APTT & CaCl2
0,025M pada suhu kamar karena akan menurunkan stabilitas reagen),
CaCl2 disimpan pada suhu 2 8 C.

Reagent APTT-P tidak perlu di inkubasi. Hanya CaCl 2 0,025 M yang perlu di
inkubasi.
VII.

INTERPRETASI HASIL
Normal
: 25 30 detik

VIII. HASIL PENGAMATAN


a. Identitas Probandus
Nama
: Komang Oktarina Putri
Usia
: 20 tahun
Jenis Kelamin : perempuan
Jenis sampel
: plasma sitrat
b. Hasil pemeriksaan APTT Kontrol
Waktu Inkubasi reagen : 10 menit
Waktu inkubasi kontrol : 180 detik
APTT Kontrol
: 35,3 s
c. Hasil pemeriksaan APTT Sampel
Waktu Inkubasi reagen : 10 menit
Waktu inkubasi sampel : 180 detik
APTT Sampel
: 35,3 s

d. Foto Hasil pengamatan

Sampel Plasma Sitrat a.n Komang


Oktarina Putri (Waktu pengambilan
sampel : 10.15 WITA, waktu

Reagen TEClot APTT- S

CaCl2 Solution

pemeriksaan : 11.53 WITA]


Kuvet
Magnet
Fungsi: membantu
menghomogenkan
reagen dan sampel/
kontrol

Lubang
tempat
kuvet saat
inkubasi

Fungsi: sebagai
wadah untuk
menampung
reagen dan
sampel/control

Light Protection
cup, tempat
kuvet saat
pembacaan
Tombol
pemilihan
parameter
pemeriksaan
Tampilan awal alat sebelum dilakukann pemeriksaan APTT
(merk : CoaDATA 4004)

Hasil pemeriksaan APTT probandus


a.n Komang Oktarina Putri
IX.

Hasil pemeriksaan kontrol APTT

PEMBAHASAN
Masa tromboplastin parsial teraktivasi (Activated Partial Thromboplastin Time, APTT)

adalah uji laboratorium untuk menilai aktifitas faktor koagulasi jalur intrinsik dan jalur bersama,
yaitu faktor XII (faktor Hagemen), pre-kalikrein, kininogen, faktor XI (plasma tromboplastin
antecendent, PTA), faktor IX (factor Christmas), faktor VIII (antihemophilic factor, AHF), faktor
X (faktor Stuart), faktor V (proakselerin), faktor II (protrombin) dan faktor I (fibrinogen). Tes ini
bertujuan untuk monitoring terapi heparin atau adanya circulating anticoagulant. Bilamana
APTT memanjang menunjukkan adanya defisiensi dari satu atau beberapa faktor pembekuan
(prekalikrein, high molekuler weight kininogen, faktor XII,XI,VIII,X,V, II atau fibrinogen) atau
adanya inhibisi pada proses koagulasi (heparin, lupus anti coagulant, fibrin-fibrinogen
degradation product) atau oleh karena adanya faktor inhibitor spesifik. (Mantik, 2004)
Pada praktikum kali ini, dilakukan pemeriksaan APTT pada probandus atas nama
Komang Oktarina Putri , jenis kelamin perempuan , usia 20 tahun. Dimana metode yang
digunakan saat praktikum adalah dengan metode fotooptik atau elektromekanik menggunakan
alat semi otomastis merk CoaDATA 4004. Prinsip dari uji APTT adalah menginkubasikan plasma
sitrat yang mengandung semua faktor koagulasi intrinsik kecuali kalsium dan trombosit dengan
tromboplastin parsial (fosfolipid) dengan bahan pengaktif (mis. kaolin, ellagic acid, mikronized
silica atau celite koloidal). Setelah ditambah kalsium, maka akan terjadi bekuan fibrin. Waktu
koagulasi dicatat sebagai APTT.
Sebelum dilakukan pemeriksaan APTT, mula-mula disiapkan sampel darah yang akan
digunakan. Sampel yang dapat digunakan dapat pemeriksaan APTT adalah darah vena dengan
antikoagulan sodium sitrat atau natrium sitrat 3.2% (0.109M) dengan perbandingan
darah:antikoagulan adalah 9:1. Penggunaan antikoagulan sodium sitrat dikarenakan sodium sitrat
dapat menghambat aktivitas faktor pembekuan dengan mengikat kalsium menjadi kompleks
kalsium sitrat, sehingga menghambat aktifitas fibrinogen menjadi fribrin (bekuan). Setelah darah
diambil dengan spuite, darah dipindahkan ke dalam tabung vacutainer biru dengan cara
membuka jarum spuite dan dimasukkan darah ke dalam tabung vacutainer melewati dinding
tabung. Hal ini dilakukan untuk mencegah lisisnya sampel darah, dan sebaiknya hindari sampel

darah agar tidak berbuih. Perlu diperhatikan bahwa saat pemeriksaan APTT, sebaiknya
pengambilan darah ditampung terlebih dahulu pada tabung tanpa antikoagulan kemudian darah
ditampung pada tabung dengan antikoagulan sitrat. Hal ini dikarenakan jika darah langsung
ditampung dengan sodium sitrat, maka kemungkinan banyak mengandung cairan jaringan
sehingga dapat menyebabkan dilusi pada sampel dan mempengaruhi hasil pemeriksaan APTT.
Sampel harus segera dihomogenkan dengan antikoagulan segera setelah pengambilan
untuk mencegah aktivasi proses koagulasi dan pembentukan bekuan darah yang menyebabkan
hasil tidak valid. Pencampuran dilakukan dengan membolak-balikkan tabung sebanyak 4-5 kali
secara perlahan. Pencampuran yang terlalu kuat dan berkali-kali (lebih dari 5 kali) dapat
mengaktifkan penggumpalan platelet sehingga mempersingkat waktu pembekuan.. Hal lain yang
harus diperhatikan adalah penggunaan tabung, yaitu harus menggunakan tabung yang terbuat
dari plastik. Hal ini dikarenakan plastik mampu mencegah aktivasi pembentukan koagulasi.
Batas waktu untuk melakukan pemeriksaan APTT adalah maksimal 2 jam dari setelah sampel
darah diambil. Karena apabila analisa dilakukan lebih dari 2 jam, maka hasil bisa memanjang
yang disebabkan karena factor V dan VIII yang sangat labil.
Setelah mendapatkan sampel darah, sampel darah dicentrifuge terlebih dahulu untuk
mendapatkan plasma yang jernih. Plasma merupakan cairan kekuningan yang terbentuk dari
hasil sentrifugasi darah dengan antikoagulan, yang masih mengandung fibrinogen. Setelah itu,
disiapkan seluruh alat dan bahan yang diperlukan termasuk melakukan pemanasan terlebih
dahulu pada alat pemeriksaan selama 30 menit. Hal ini bertujuan agar saat melakukan
pemeriksaan, alat telah dalam keadaan stabil sehingga tidak mempengaruhi hasil pemeriksaan.
Setelah itu, disiapkan reagen CaCl2 dengan memipet reagen sebanyak 50 l dan dimasukkan ke
dalam kuvet tanpa biji magnet. Reagen ini kemudian diinkubasi pada suhu 37 0C selama 10
menit. Dalam pemerisaan ini, penambahan CaCl2 akan memulai proses pembekuan (bekuan
fibrin). Inkubasi berfungsi untuk membuat kondisi reagen sesuai dengan suhu tubuh sehingga
reaksi pembentukan koagulasi pada alat akan semirip mungkin dengan yang terjadi dalam tubuh
manusia.
Setelah mendekati waktu inkubasi reagen CaCl 2, dipipet plasma sitrat sebanyak 50 l ke
dalam kuvet yang berisi biji magnet, kemudian ditambahkan 50 l reagen APTT. Setelah itu,
dibuka light protection cap dan letakkan kuvet tersebut ke dalamnya lalu tutup light protection

cap. Biji magnet yang terdapat dalam kuvet sampel berfungsi untuk homogenisasi saat
pencampuran reagen ke dalam sampel.
Setelah dimasukkan kuvet, pada display layar akan tertera perintah berturut-turut mulai
dari Incu 180 Adj S GO S. setelah muncul perintah GO-S reagen CaCl 2 yang telah diinkubasi
selama 10 menit dimasukkan ke dalam kuvet sampel sebanyak 50 l dan ditunggu hingga layar
menampilkan hasil APTT probandus.
Berdasarkan hasil pengukuran pada control didapat nilai APTT sebesar 35 detik dan pada
sampel didapatkan nilai APTT sebesar 35,3 detik. Range nilai normal APTT adalah 7 detik dari
nilai control, sehingga nilai APTT pasien atas nama Komang Oktarina Putri dalam batas normal.
Adapun hasil APTT memanjang pada kondisi sebagai berikut:

Kekurangan factor pembekuan karena keturunan:


1. Penyakit von Willebrand adalah yang paling umum diwariskan.
2. Hemofilia A dan hemofilia B adalah dua gangguan lain yang sering diwariskan. Masingmasing terjadi akibat penurunan faktor VIII dan IX.
3. Kekurangan faktor pembekuan lainnya, seperti faktor XII dan XI.
4. Jika faktor-faktor koagulasi tersebut normal, kemungkinan kekurangan HMW kininogen

(Fitzgerald factor), defisiensi vitamin K, defisiensi protrombin, dan hipofibrinogenemia


Defisiensi didapat, dan kondisi abnormal seperti :
1. Penyakit hati (sirosis hati)
2. Leukemia (mielositik, monositik)
3. Penyakit von Willebrand (hemophilia vaskular)
4. Malaria
5. Koagulopati konsumtif, seperti pada disseminated intravascular coagulation (DIC)
6. Circulating anticoagulant (antiprothrombinase atau circulating anticoagulant terhadap
suatu faktor koagulasi)
7. Selama terapi antikoagulan oral atau heparin

Hasil APTT memendek mungkin karena:

Koagulasi intravaskular diseminata (DIC) : dalam tahap awal DIC, ada prokoagulan yang

beredar dan memperpendek APTT.


Kanker luas (ovarium, pankreas, usus).
Reaksi fase akut: ini adalah kondisi yang menyebabkan peradangan jaringan atau trauma
yang menambah tingkat faktor VIII. Ini biasanya merupakan perubahan sementara yang
tidak dimonitor dengan tes APTT. Ketika kondisi yang menyebabkan reaksi fase akut
teratasi, APTT akan kembali normal.

Pemeriksaan APTT berguna dalam hal-hal sebagai berikut.


Mengidentifikasi kekurangan faktor pembekuan. Jika APTT memanjang maka sebaiknya
dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor koagulasi apa yang
kurang atau tidak berfungsi. Berfungsi pula untuk menentukan apakah ada antibodi untuk
faktor koagulasi (inhibitor spesifik) dalam darah.
Mendeteksi autoantibodi non-spesifik seperti lupus antikoagulan (LA). Ini berhubungan
dengan waktu pembekuan dan keguguran berulang. Karena itu

pemeriksaan APTT

termasuk dalam panel gangguan pembekuan untuk membantu menyelidiki penyebab


keguguran berulang. Ini juga bisa mendiagnosis sindrom antifosfolipid (APS). Sebuah
variasi dari APTT disebut LA-sensitif PTT yang berperan dalam hal ini.
Memantau terapi heparin antikoagulan standar. Heparin adalah obat antikoagulan yang
diberikan secara intravena (IV) atau dengan injeksi untuk mencegah dan mengobati
pembekuan darah (emboli dan tromboemboli). Terapi ini memperpanjang APTT. Ketika
heparin digunakan untuk tujuan terapeutik harus diawasi secara ketat. Kelebihan atau
kekurangan heparin dapat mengganggu sistem koagulasi.
Tes PT dan APTT sering dilakukan sebagai pra-bedah atau sebelum prosedur invasif
lainnya untuk menyaring kecenderungan potensi perdarahan.
X.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pemeriksaan APTT (Activated Partial Thromboplastin Time) pada

probandus Komang Oktarina Putri diperoleh hasil 35,3 s, hasil tersebut sama dengan hasil
kontrol. Dapat disimpulkan kadar APTT probandus dalam batas normal
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.-.APTT Activated Pertial Tromboplastin.[online].tersedia : http://labkes.net/awam/apttactivated-partial-tromboplastin-time-2.[diakses : 29 Oktober 2016, 18.24]
Riswanto.

2010.

Masa

Trombloplastin

Parsial

Teraktivasi.

[online]

tersedia:

http://labkesehatan.blogspot.co.id/2010/01/masa-tromboplastin-parsial-teraktivasi.html
[diakses: Sabtu, 29 Oktober 2016 ; 17:08]
Johan Sitompul. 2001. Fisiologi Darah. [online]. tersedia:
file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR.../FISIOLOGI_DARAH_new.pdf [diakses: 3 Oktober
2016. 14:00]

Price, Sylvia A. Dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis ProsesProses Penyakit, Volume 2. Jakarta : EGC.
Depkes. 2001. Perpustakaan Kementerian Kesehatan RI. [online]. tersedia:
https://www.box.com/s/r82fxj2zd5hrs4935rvl[diakses: 3 Oktober 2016. 15:00]
Frances

K, Widmann. 1999. Tinjauan

Klinis

atas

Hasil

PemeriksaanLaboratorium.

Jakarta.
S. B. Kresno. 1989. Pengantar Hematologi dan Imunohematologi. Jakarta.