Anda di halaman 1dari 39

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A Manajemen Puskesmas
1 Definisi Manajemen Puskesmas
Menurut Permenkes No.75 tahun 2014 tentang pusat kesehatan
masyarakat, disebutkan bahwa Pusat Kesehatan Masyarakat yang
selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif
dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi2

tingginya di wilayah kerjanya (Depkes, 2014).


Tugas dan Fungsi Puskesmas
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan
untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam
rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Dalam melaksanakan

tugas tersebut, puskesmas menyelenggarakan fungsi (Depkes, 2014) :


a penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan
b penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.
3 Penerapan Manajemen di Puskesmas
Untuk dapat melaksanakan usaha pokok puskesmas secara efisien,
efektif, produktif, dan berkualitas, pimpinan puskesmas harus memahami
dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen. Penerapan manajemen
kesehatan di puskesmas terdiri dari :
a Micro Planning (MP)
Merupakan perencanaan tingkat puskesmas. Pengembangan
b

program puskesmas selama 5 tahun disusun dalam MP.


Lokakarya Mini Puskesmas (LKMP)
Merupakan bentuk penjabaran MP kedalam paket-paket
kegiatan program yang dilaksanakan oleh staf, baik secara individu

maupun berkelompok. LKMP dilaksanakan setiap tahun.


Local Area Monitoring (LAM) atau PIAS-PWS (Pemantauan Ibu dan
Anak Setempat-Pemantauan Wilayah Setempat)
Merupakan sistem pencatatan dan pelaporan untuk pemantauan
penyakit pada ibu dan anak atau untuk penyakit menular yang dapat
dicegah dengan imunisasi. LAM merupakan penjabaran fungsi
pengawasan dan pengendalian program. LAM yang dijabarkan khusus
5

untuk memantau kegiatan program KIA disebut dengan PIAS. Sistem


pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) adalah kompilasi
pencatatan program yang dilakukan secara terpadu setiap bulan.
Planning
Organizing

Actuating

Controlling

Mikro Planning, Perencanaan Tingkat


Puskesmas
Strukur organisasi, pembagian tugas,
pembagian wilayah kerja, pengembangan
program puskesmas
Lokakarya mini puskesmas, kepemimpinan,
motivasi kerja, koordinasi, komunikasi
melalui rapat rutin bulanan untuk membahas
aktivitas harian dan kegiatan program
PIAS, LAM, PWS, KIA, supervise,
monitoring, evaluasi, audit internal
keuangan di puskesmas

Penerapan Manajemen di Puskesmas


(Muninjaya, 2004)
B Program Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2BB) Pada
Penyakit DBD
1 Visi Pengendalian DBD
Untuk meningkatkan kemampuan penduduk khususnya di daerah
endemis sehingga mampu mencegah dan melindungi diri dari penularan
DBD melalui perubahan perilaku (PSN DBD) dan kebersihan lingkungan
2

(Kemenkes RI, 2011).


Misi Pengendalian DBD
a Program pengendalian DBD bertujuan untuk menghentikan dan
mencegah penularan penyakit dari penderita ke orang sehat melalui
pengendalian vektor (Kemenkes RI, 2011).
b Penduduk yang menjadi sasaran program pengendalian termasuk
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat terutama yang tinggal di
daerah endemis, pimpinan lembaga pemerintah, swasta dan organisasi
kemasyarakatan dan lingkungan tempat pemukiman baik yang ada di
dalam dan di luar rumah agar bebas dari tempat perkembangbiakan

vektor (Kemenkes RI, 2011).


Tujuan Pengendalian DBD

Meningkatkan

partisipasi

masyarakat

dalam

pencegahan

dan

pengendalian DBD
Menurunkan jumlah kelompok masyarakat yang berisiko terhadap

penularan DBD
c Melaksanakan penanganan penderita sesuai standar
d Menurunkan angka kesakitan DBD
e Menurunkan angka kematian akibat DBD
(Kemenkes RI, 2011)
Kebijakan Pengendalian DBD
Kebijakan Nasional untuk pengendalian DBD sesuai KEPMENKES
No 581/MENKES/SK/VII/1992 tentang Pemberantasan Penyakit Demam
Berdarah Dengue, adalah sebagai berikut :
a Meningkatkan perilaku dalam hidup sehat dan kemandirian terhadap

pengendalian DBD.
Meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit

DBD.
Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program pengendalian

DBD.
d Memantapkan kerjasama lintas sektor/ lintas program.
e Pembangunan berwawasan lingkungan.
(Kemenkes RI, 2011)
Strategi Pengendalian DBD
Berdasarkan visi, misi, kebijakan dan tujuan pengendalian DBD, maka
strategi yang dirumuskan sebagai berikut (Kemenkes RI, 2011):
a Pemberdayaan masyarakat
Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan
pengendalian penyakit DBD merupakan salah satu kunci keberhasilan
upaya pengendalian DBD.
b Peningkatan kemitraan berwawasan bebas dari penyakit DBD
Upaya pengendalian DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sektor
kesehatan saja, peran sektor terkait pengendalian penyakit DBD sangat
menentukan. Oleh sebab itu maka identifikasi stake-holders baik
sebagai mitra maupun pelaku potensial merupakan langkah awal dalam
c

menggalang, meningkatkan dan mewujudkan kemitraan.


Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program
SDM yang terampil dan menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi merupakan salah satu unsur penting dalam mencapai
keberhasilan pelaksanaan program pengendalian DBD.

Desentralisasi
Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelolaan kegiatan
pengendalian DBD kepada pemerintah kabupaten/kota, melalui SPM
bidang kesehatan.

Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan


Meningkatkan mutu lingkungan hidup yang dapat mengurangi
risiko penularan DBD kepada manusia, sehingga dapat menurunkan

angka kesakitan akibat infeksi Dengue/DBD.


Sasaran Pengendalian DBD
Berdasarkan strategi yang telah dirumuskan, maka sasaran
pengendalian DBD adalah (Kemenkes RI, 2011):
a Individu, keluarga dan masyarakat di tujuh tatanan dalam PSN yaitu
tatanan rumah tangga, institusi pendidikan, tempat kerja, tempat-tempat
umum, tempat penjual makanan, fasilitas olah raga dan fasilitas
kesehatan yang secara keseluruhan di daerah terjangkit DBD mampu
mengatasi masalah termasuk melindungi diri dari penularan DBD di
dalam wadah organisasi kemasyarakatan yang ada dan mengakar di
b

masyarakat.
Lintas program dan lintas sektor terkait termasuk swasta/dunia usaha,
LSM dan organisasi kemasyarakatan mempunyai komitmen dalam

penanggulangan penyakit DBD.


Penanggungjawab program Tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota,
Kecamatan dan Desa/Kelurahan mampu membuat dan menetapkan
kebijakan operasional dan menyusun prioritas dalam pengendalian

DBD.
SDM bidang kesehatan di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota,

Kecamatan dan Desa/Kelurahan


Kepala wilayah/pemerintah daerah, pimpinan sektor terkait termasuk

dunia usaha, LSM dan masyarakat.


7 Kegiatan Pokok Pengendalian DBD
a Penyelidikan Epidemiologi
Penyelidikan epidemiologi adalah kegiatan pencarian penderita
DBD atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular
DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitar, termasuk

tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter (Depkes


RI, 2005).
b Pengendalian Vektor dan Penyakit Demam Berdarah Dengue
Upaya pemberantasan penyakit demam berdarah

dengue

dilaksanakan dengan cara tepat guna oleh pemerintah dengan peran serta
masyarakat yang meliputi (Depkes RI, 2005):
a) Pencegahan
b) penemuan, pertolongan dan pelaporan
c) penyelidikan epidemiologi dan pengamatan penyakit demam berdarah
dengue
d) penanggulangan
e) penyuluhan
Tujuan pemberantasan demam berdarah dengue adalah penurunan
angka kematian (Case Fatality Rate) dan insidens demam berdarah dengue
serendah mungkin. Selain itu juga membatasi penyerbar-luasan
penyakit (Depkes RI, 2005).
a Pengamatan Epidemiologi dan tindakan Pemberantasan
1. Surveillance epidemiologi
Tujuan:
- Deteksi secara dini adanya "out break" atau kakus-kakus yang
endemis, sehingga dapat dilakukan usaha penanggulangan
-

secepatnya.
Mengetahui faktor-faktor terpenting yang menyebabkan atau
membantu adanya penularan-penularan atau wabah.

Daerah pelaksanaan:
-

Surveillance tidak hanya dilaksanakan di desa-desa dimana


sudah pernah terdapat penderita/penularan DHF saja, tetapi
harus dilaksanakan juga di daerah-daerah yang receptive, yaitu
daerah-daerah dimanaadiketahui terdapat Aedes aegepti saja
sudah cukup untuk dinyatakan receptive (Depkes RI, 2005).

Pelaksanaan (Depkes RI, 2005):


-

Penemuan penderita.
Untuk hal ini perlu ditentukan kriteria yang Standard guna

diagnosa klinis dan konfirmasi laboratorium dari DHF.


Pelaporan penderita.

Penderita yang telah ditemukan di Puskesmas/Puskesmas


Pembantu perlu

dilaporkan kepada unit-unitakurveillance

epidemiologi.
- Penelitian KLB / wabah.
2. Surveillance Vektor
Untuk tingkat Puskesmas kegiatannya membantu Tim dari
Dati II atau Dati I dalam pelaksanaan kurveillance vektor ini.
Perlindungan perseorangan: Memberikan anjuran untuk mencegah
gigitan nyamuk Aedes aegypti yaitu dengan meniadakan sarang
nyamuknya

di

dalam

rumah.

Yaitu

dengan

melakukan

penyemprotan dengan obat anti serangga yang dapat dibeli di tokotoko seperti baygon, raid dan lain-lain.
Dalam usaha jangka panjang untuk daerah dengan vektor
tinggi dan riwayat wabah DHF maka kegiatan Puskesmas lebih
lanjut yaitu(Depkes RI, 2005):

- Abatesasi untuk membunuh larva dan nyamuk


- Fogging dengan malathion atau fonitrothion.
Pelaksanaan Survei Jentik (pemeriksaan Jentik)
Survei jentik dilakukan dengan cara kubagai berikut (Depkes RI, 2005):
1. Semua tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat
perkembangbiakan
2. Nyamuk Aedes aegypti diperiksa (dengan mata telanjang) untuk
mengetahui ada tidaknya jentik.
3. Untuk memeriksa tempat penampungan air yang berukuran besar,
seperti : bak mandi, tempayan, drum, dan bak penampungan air
lainnya. Jika pada pandangan (penglihatan) pertama tidak
menemukan jentik, tunggu kira-kira 1 (satu) menitauntuk
memastikan keberadaan jentik.
4. Untuk memeriksa tempat-tempat perkembangbiakan yang kecil,
seperti: vas bunga/pot, tanaman air/botol yang airnya keruh,
seringkali airnya perlu dipindahkan ke tempat lain.
5. Untuk memeriksa jentik di tempat yang agak gelap, atau airnya
keruh, biasanya digunakan senter.
Metode kurvey jentik kecara visual dapat dilakukan kubagai berikut:

10

Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya


jentik di setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya.
Ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes
aegypti

biasanya menggunakan persamaan house index kubagai

berikut (Depkes RI, 2005):

Kegiatan PE dilakukan dalam radius 100 meter dari lokasi


tempat tinggal penderita. Bila penderita adalah siswa sekolah atau
pekerja, maka PE selain dilakukan di rumah juga dilakukan di
sekolah/tempat kerja penderita oleh puskesmas. Hasil PE segera
dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,auntuk
tindak lanjut lapangan dikoordinasikan dengan Kades/Lurah. Bila hasil
PE positif (Ditemukan 1 atau lebih penderita DBD lainnya dan atau 3
orang tersangka DBD, dan ditemukan jentik (5%), dilakukan
penanggulangan fokus, melakukan pengasapan (fogging), penyuluhan,
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan larvasidaki selektif),
sedangkan bila hasilnya negatif dilakukan penyuluhan, PSN dan
larvasidaki selektif (Depkes RI, 2005).
Berikut

adalah

bagan

penyelidikan

epidemiologi

yang

tergabung dalam penanggulangan fokus penanggulangan penderita


DBD di lapangan :

11

Angka Bebas Jentik (ABJ)


Merupakan salah

satu

indicator

keberhasilan

program

pemberantasan vector penular DBD. Angka Bubas Jentik kubagai tolak


ukur

upaya

pemberantasan

vector

melalui

gerakan

PSN-3M

menunjukan tingkat partisipaki masyarakat dalam mencegah DBD.


Rata-rata ABJ yang dibawah 95% menjelaskan bahwa partisipaki
masyarakat dalam mencegah DBD di lingkunagnnya masing-masing
d

belum optimal (Depkes RI, 2005).


PSN (pemberantasan sarang nyamuk)
Pencegahannya dilakukan melalui jalur (Depkes RI, 2007):
- Penyuluhan kelompok : PKK, organisasi sosial masyarakat lain,
kelompok

agama,

guru,

murid

sekolah,

pengelola

tempat

umum/instansi, dll.
Penyuluhan perorangan
1) Kepada ibu-ibu pengunjung Posyandu
2) Kepada penderita/keluarganya di Puskesmas
3) Kunjungan rumah oleh Kader/petugas Puskesmas
- Penyuluhan melalui media massa : TV, radio, dll (oleh Dinas
-

Kesehatan Tk. II, I dan pusat) Menggerakkan masyarakat untuk PSN


penting terutama kubelum musim penularan (musim hujan) yang
pelaksanaannya dikoordinasikan oleh kepala Wilayah setempat.
Kegiatan PSN oleh masyarakat ini seyogyanya diintegrasikan ke
12

dalam kegiatan di wilayah dalam rangka program Kebersihan dan


Keindahan

Kota.

Di

tingkat

Puskesmas,ausaha/kegiatan

pemberantasan sarang nyamuk (PSN) demam berdarah ini


seyogyanya diintegrasikan dalam program Sanitasi Lingkungan.

Evaluasi Program

Masukan (input)
Kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam system dan terdiri
dari untur tenaga (man), dana (money), sarana (material), dan metoda
(method) yang merupakan variable dalam melaksanakan evaluasi

program pemberantasan Demam Berdarah Dengue (Depkes RI, 2005).


Proses (process)
Kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam system dan terdiri
dari

unsure perencanaan (planning), organisasi

pelaksanaan

(activities),

dan

pengawasan

(organization),

(controlling)

yang

merupakan variable dalam melaksanakan evaluasi program Demam


c

Berdarah Dengue (DBD) (Depkes RI, 2005).


Keluaran (output)
Kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari berlangsungnya
proses dalam system dari kegiatan pemberantasan DBD (Depkes RI,

2005).
Dampak (impact)
Akibat yang ditimbulkan oleh keluaran dalam pemberantasan DBD
(Depkes RI, 2005).

13

Umpan Balik (feed back)


Kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran dari system
dan sekaligus sebagai masukan dalam program pemberantasan DBD

(Depkes RI, 2005).


Lingkungan (environment)
Dunia luar yang tidak dikelola oleh system tetapi mempunyai
pengaruh terhadap system (Depkes RI, 2005).

Tolak ukur keberhasilan:


Terdiri dari variable masukan, proses, keluaran, umpan balik,
lingkungan dan dampak. Digunakan sebagai pembanding atau target yang
harus dicapai dalam program pemberantasan DBD (Depkes RI, 2005):
a

Masukan
Tenaga : Dokter, Koordinator P2M dan PKM, Petugas Laboratorium,
Petugas Administrasi, Kader aktif, Jumantik
Dana : Dana untuk pelaksanaan program dapat diperoleh di:
APBD

: APBD menyediakan anggaran untuk pengawasan dan

monitoring, sarana diagnosis, bahan cetakan, kegiatan pemecahan


masalah di kotamadya.
Swadaya Masyarakat

: menyediakan anggaran untuk operasional,

pemeliharaan, pelaksanaan, pencegahan dan penanggulangan DBD


Sarana Medis : Poliklinik set (stetoskop, timbangaan BB,
thermometer, tensimeter, senter), Alat pemeriksaan hematokrit, Alat
penyuluhan

kesehatan

masyarakat,

Formulir

laporan

Standart

Operasional dan KDRS (kasus DBD di Rumah Sakit), Obat-obatan


simptomatis untuk DBD (analgetik dan antipiretik), Buku petunjuk
program DBD, Bagan penatalaksanaan kasuk DBD, Larvasida
Sarana Non-Medis : Gedung puskesmas, Ruang tunggu, Tuang
administrasi, Ruang periksa, Ruang tindakan, Laboratorium, Apotik,
Perlengkapan administrasi, Formulir laporan
Metode : Terdapat metode untuk:
- Penemuan penderita tersangka DBD
Kasus dilihat dari jumlah suspek DBD yang dating ke
-

puskesmas
Rujukan penderita DBD
Penyuluhan Kesehatan pada Penyuluhan masyarakat meliputi :
14

o Penyuluhan Perorangan

: terhadap individu yang

berobat melalui konseling


o Penyuluhan Kelompok : Melalui diskusi, ceramah,
-

penyuluhan melalui poster.


Surveilan kasus DBD
Angka Bebas Jentik : presentasi rumah yang bebas jentik

disbanding dengan jumlah rumah yang diperiksa


Surveilans vector
Pengamatan Jentik Berkala : presentasi jumlah rumah yang

diperiksa jentik dibanding dengan jumlah rumah yang diperiksa


Pemberantasan vector
Abatisasi : pemberian bubuk abate pada tempat penampungan
air yang tidak bias dikuras
Kegiatan 3 M
: dengan

Badan

Gerakan

3M

yang

perwujudannya melalui Jumat bersih selama 30 menit setiap


satu minggu sekali. Dilakukan dengan pengawasan kader.

Menguras, menutup, dan mengubur tempat pertumbuhan jentik.


Fogging focus
- Pencatatan dan Pelaporan
Proses
Perencanaan Ada perencanaan tertulis mengenai:
- Penemuan penderita tersangka DBD : dilihat dari jumlah pasien
-

suspect DBD yang datang ke puskesmas


Rujukan penderita DBD : Bila terdapat tanda-tanda penyakit
DBD, seperti mendadak panas tinggi 2-7hari, tampak lemah dan
lesu, suhu badan antara 38OC sampai 40OC atau lebih, tampak
bintik-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik
merah itu tidak hilang, kadang-kadang ada perdarahan hidung,
mungkin terjadi muntah darah atau BAB darah, tes Torniquet

positif.
Penyuluhan Kesehatan : Perorangan dan Kelompok
Surveilans kasus DBD : hasil Angka Bebas Jentik
Surveilans vector
: melalui Pengamatan Jentik Berkala
Pemberantasan vector : Melalui program Abatisasi, kegiatan 3M,

dan Fogging focus


Pencatatan dan Pelaporan

15

Pengorganisasian : Terdapat strukur organisasi tertulis dan pemberian


tugas yang jelas dalam melaksanakan tugasnya.
Pelaksanaan
- Penemuan penderita tersangka DBD
Kasus dilihat dar jumlah suspect DBD yang datang ke puskesmas
- Rujukan penderita DBD
Bila terdapat tanda-tanda penyakit DBD, seperti mendadak panas
tinggi 2-7 hari, tampak lemah dan lesu, suhu badan antara 38 OC
sampai 40OC atau lebih, tampak bintik-bintik merah pada kulit
dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang,
kadang-kadang ada perdarahan hidung, mungkin terjadi muntah

darah atau BAB darah, tes Torniquet positif.


Penyuluhan Kesehatan : Perorangan dan Kelompok
Surveilans kasus DBD
: hasil Angka Bebas Jentik (berapa

kali per tahun)


Surveilans vector : melalui Pengamatan Jentik Berkala (berapa

kali per tahun)


Pemberantasan vector

Melalui

program

Abatisasi,

kegiatan 3M, dan Fogging focus


- Pencatatan dan Pelaporan : ada tidaknya terjadi wabah
Pengawasan dan Pengendalian
Melalui pencatatan dan pelaporan yang dilakukan
1. Bulanan
2. Triwulanan
3. Tahunan
Keluaran
Penemuan penderita tersangka DBD : dilihat dari jumlah pasien
suspect DBD yang datang ke puskesmas Contoh : 128 orang/tahun
Rujukan penderita DBD : Bila terdapat tanda-tanda penyakit DBD,
seperti mendadak panas tinggi 2-7hari, tampak lemah dan lesu, suhu
badan antara 38OC sampai 40OC atau lebih, tampak bintik-bintik
merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak
hilang, kadang-kadang ada perdarahan hidung, mungkin terjadi
muntah darah atau BAB darah, tes Torniquet positif. Contoh :
dilakukan rujukan 100% kasus
Penyuluhan dan penggerakkan

masyarakat

untuk

PSN

(pemberantasan sarang nyamuk) : Penyuluhan/informasi tentang

16

demam berdarah dan pencegahannya dilakukan melalui jalur-jalur


informasi yang ada:
- Penyuluhan Kelompok: PKK, Organisaasi social masyarakat lain,
kelompok agama, guru, murid sekolah, pengelola tempat
-

umum/instansi, dll.
Penyuluhan Perorangan : Kepada ibu-ibu pengunjung posyandu,
Kepada penderita/keluarganya di puskesmas, Kunjungan rumah

oleh kader/ petugas puskesmas


- Penyuluhan melalui media massa : TV, radio, dll .
Surveilans kasus DBD : hasil Angka Bebas Jentik, Survei jentik
dilakukan dengan cara melihat atau memeriksa semua tempat atau
bejana yang dapat menjadi tempat berkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti dengan mata telanjang untuk mengetahui ada tidaknya
jentik,yaitu dengan cara visual. Cara ini cukup dilakukan dengan
melihat ada tidaknya jentik disetiap tempat genangan air tanpa
mengambil jentiknya. Angka Bebas Jentik sebagai tolak ukur upaya
pemberantasan vector melalui gerakan PSN-3M menunjukan tingkat
partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD. Rata-rata ABJ yang
dibawah 95% menjelaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam
mencegah DBD di lingkunagnnya masing-masing belum optimal.
Contoh : 3x/ tahun dengan cakupan ABJ 96,07%
Surveilans vector

melalui

Pengamatan

Jentik

Berkala,

Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) merupakan bentuk evaluasi hasil


kegiatan yang dilakukan tiap 3 bulan sekali disetiap desa/kelurahan
endemis pada 100 rumah/bangunan yang dipilih secara acak (random
sampling).
Pemberantasan

vector

Perlindungan

perseorangan,

yaitu

memberikan anjuran untuk mencegah gigitan nyamuk Aedes


aegypti yaitu dengan meniadakan sarang nyamuknya di dalam
rumah. Yaitu dengan melakukan penyemprotan dengan obat anti
serangga yang dapat dibeli di took-toko seperti baygon, dll
-

Menggunakan insektisida

17

1.

Abatisasi : adalah menaburkan bubuk abate ke


dalam penampung air untuk membunuh larva dan nyamuk.
Fogging dengan malathion atau fonitrothion.

2.

Melakukan
-

pengasapan

saja

tidak

cukup,

karena

penyemprotan hanya mematikan nyamuk dewasa.


Tanpa insektisida
Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melaksanakan
penyuluhan 3M:
a. Menguras

tempat-tempat

penampungan

air

sekurang-kurangnya seminggu sekali


b. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
c. Menguburkan, mengumpulkan, memanfaatkan
atau menyingkirkan barang-barang

bekas yang

dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas,


plastic bekas dan lain-lain.
Selain itu ditambah dengan cara yang dikenal dengan
istilah 3M Plus, seperti :
a. Ganti air vas bunga, minuman burung dan tempattempat lain seminggu sekali
b. Perbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar
c. Tutup lubang-lubang pada potongan bamboo,
pohon dan lain-lain, misalnya dengan tanah.
d. Bersihkan/keringkan tempat-tempat yang dapat
menampung air seperti pelepah pisang atau
tanaman lainnya termasuk tempat-tempat lain
yang dapat menampung air hujan di pekarangan,
e.
f.
g.
h.
i.
j.

kebun, pemakaman, rumah kosong, dan lain-lain.


Pemeliharaan ikan pemakan jentik nyamuk
Pasang kawat kasa di rumah
Pencahayaan dan ventilasi memadai
Jangan biarkan menggantuk pakian di rumah
Tidur menggunakan kelambu
Gunakan obat nyamuk untuk mencegah gigtan
nyamuk.

18

Pencatatan dan Pelaporan: kalau seandainya terjadi wabah,


Sesuai dengan ketentuan/sistim pelaporan yang berlaku, pelaporan
penderita demam berdarah dengue menggunakan formulir:
1.
2.
3.

W 1/ laporan KLB (wabah)


W 2/ laporan mingguan wabah
SP2TP :
LB 1 / laporan

bulanan

data

kesakitan
LB 2 /laporan bulanan data kematian
Sedangkan untuk pelaporan kegiatan menggunakan formulir
LB3 / Laporan bulanan kegiatan Puskesmas (SP2TP)
-

Penderita demam berdarah / suspect demam berdarah perlu


diambil specimen darahnya (akut ataupun konvalesens) untuk
pemeriksaan serologis. Specimen dikirim bersama-sama de
Balai

Laboratorium

Kesehatan

(BLK)

melalui

Dinas

KEsehatan Dati II setempat.


Lingkungan
a) Lingkungan Fisik:
2. Jarak dengan pemukiman penduduk (dekat/jauh)
3. Transportasi (mudah/sukar)
4. Jarak dengan fasilitas umum
b) Lingkungan Non-Fisik
1. Mata Pencaharian penduduk (terbanyak)
2. Tingkat pendidikan
e Umpan Balik
a) Adanya pencatatan dan Pelaporan
1. Sesuai dengan waktu yang ditetapkan
2. Masukan dalam program pemberantasan

DBD

selanjutnya
b) Rapat kerja (berapa kali / tahun)
Antara kepala puskesmas dengan Pelaksana Unit untuk
1. Membahas laporan kegiatan bulanan
2. Evaluasi program yang telah dilakukan
f

Dampak
a) Langsung

: apakah terjadi penurunan angka morbiditas

dan mortalitas kasus DBD


b) Tidak Langsung
: apakah

terjadi

peningkatan

derajat

kesehatan masyarakat.

19

A. Demam Berdarah Dengue (DBD)


1. Definisi DBD
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit
menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk
Aedes aegypti. Virus ini termasuk dalam grup B Antropod Borne Virus
(Arboviroses) kelompok flavivirus dari family flaviviridae, yang terdiri
dari empat serotipe, yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3, DEN 4. Masing masing
saling berkaitan sifat antigennya dan dapat menyebabkan sakit pada
manusia. (Dinkes Jateng, 2004).
2. Cara Penularan
Seorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue
merupakan sumber penularan penyakit DBD. Virus dengue dalam darah
selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila pederita tersebut
digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap hasuk
dalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus memperbanyak diri dan tersebar
di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya.
Kira-kira 1 minggu setelah menghisap darah penderita, nyamuk tersebut
siap untuk menularkan kepada orang lain. Virus ini akan tetap berada dalam
tuubuh nyamuk sepanjang hidupnya (Dinkes Jateng, 2004).
3. Faktor Resiko Penularan DBD
Salah satu faktor risiko penularan DBD adalah Perubahan lingkungan
global atau Global Environmental Change (GEC) terutama Global Warming
sedikit banyak ikut berperan terhadap kejadian DBD. Setiap peralihan
musim, terutama dari musim kemarau ke musim penghujan, berbagai
masalah kesehatan melanda termasuk yang paling sering terjadi adalah
peningkatan kejadian demam berdarah. Faktor risiko lain infeksi dengue
diantaranya tingkat imunitas host, kepadatan penduduk, interaksi vektor dan
host dan virulensi virus. Kepadatan vektor juga berkontribusi terhadap
epidemi DBD (Dinkes Jateng, 2012)
4. Gejala dan Diagnosis DBD

20

Diagnosis DBD ditegakan berdasarkan kriteria diagnosis menurut


WHO tahun 1997 yang terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris (Dinkes
Jateng, 2004). Kriteria klinis :
a. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus
menerus selama 2-7 hari.
b. Terdapat manifestasi pendarahan ditandai dengan :
- Uji torniquet positif
- Petechie, echimosis, purpura
- Pendarahan mucosa, epistaksis, pendarahan gusi
- Hematemesis/melena
c. Pembesaran hati
d. Syok, nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi,
kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah
Kriteria Laboratorium
a. Trombositopenia (100.000 atau kurang)
b. Hemokonsentrasi, dilihat dari peningkatan hematokrit 20% atau lebih

21

5. Pengobatan DBD
Demam Dengue (DD), dapat berobat jalan, tidak perlu dirawat. Pada fase
demam dianjurkan (Dinkes Jateng, 2004):
- Tirah baring
- Obat antipiretik atau kompres bila perlu. Obat yang di anjurkan adalah
-

parasetamol
Dianjurkan pemberian cairan dan elektrolit peroral, jus buah, sirop, susu
di samping air putih. Paling sedikit diberikan 2 hari.

Monitor suhu, jumlah trombosit dan hematokrit sampai fase konvalense.


BAB II

22

TINJAUAN PUSTAKA
C Manajemen Puskesmas
4

Definisi Manajemen Puskesmas


Menurut Permenkes No.75 tahun 2014 tentang pusat kesehatan
masyarakat, disebutkan bahwa Pusat Kesehatan Masyarakat yang
selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif
dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya di wilayah kerjanya (Depkes, 2014).

Tugas dan Fungsi Puskesmas


Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan
untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam
rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Dalam melaksanakan
tugas tersebut, puskesmas menyelenggarakan fungsi (Depkes, 2014) :

penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan

penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.

Penerapan Manajemen di Puskesmas


Untuk dapat melaksanakan usaha pokok puskesmas secara efisien,
efektif, produktif, dan berkualitas, pimpinan puskesmas harus memahami
dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen. Penerapan manajemen
kesehatan di puskesmas terdiri dari :
d

Micro Planning (MP)


Merupakan perencanaan tingkat puskesmas. Pengembangan
program puskesmas selama 5 tahun disusun dalam MP.

Lokakarya Mini Puskesmas (LKMP)


Merupakan bentuk penjabaran MP kedalam paket-paket
kegiatan program yang dilaksanakan oleh staf, baik secara individu
maupun berkelompok. LKMP dilaksanakan setiap tahun.

Local Area Monitoring (LAM) atau PIAS-PWS (Pemantauan Ibu dan


Anak Setempat-Pemantauan Wilayah Setempat)
Merupakan sistem pencatatan dan pelaporan untuk pemantauan
penyakit pada ibu dan anak atau untuk penyakit menular yang dapat
dicegah dengan imunisasi. LAM merupakan penjabaran fungsi
pengawasan dan pengendalian program. LAM yang dijabarkan khusus
untuk memantau kegiatan program KIA disebut dengan PIAS. Sistem
pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) adalah kompilasi
pencatatan program yang dilakukan secara terpadu setiap bulan.

Planning
Organizing

Actuating

Controlling

Mikro Planning, Perencanaan Tingkat


Puskesmas
Strukur organisasi, pembagian tugas,
pembagian wilayah kerja, pengembangan
program puskesmas
Lokakarya mini puskesmas, kepemimpinan,
motivasi kerja, koordinasi, komunikasi
melalui rapat rutin bulanan untuk membahas
aktivitas harian dan kegiatan program
PIAS, LAM, PWS, KIA, supervise,
monitoring, evaluasi, audit internal
keuangan di puskesmas

Penerapan Manajemen di Puskesmas


(Muninjaya, 2004)
D Program Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2BB) Pada
Penyakit DBD
9

Visi Pengendalian DBD


Untuk meningkatkan kemampuan penduduk khususnya di daerah
endemis sehingga mampu mencegah dan melindungi diri dari penularan
DBD melalui perubahan perilaku (PSN DBD) dan kebersihan lingkungan
(Kemenkes RI, 2011).

10 Misi Pengendalian DBD

Program pengendalian DBD bertujuan untuk menghentikan dan


mencegah penularan penyakit dari penderita ke orang sehat melalui
pengendalian vektor (Kemenkes RI, 2011).

d Penduduk yang menjadi sasaran program pengendalian termasuk


individu, keluarga, kelompok dan masyarakat terutama yang tinggal di
daerah endemis, pimpinan lembaga pemerintah, swasta dan organisasi
kemasyarakatan dan lingkungan tempat pemukiman baik yang ada di
dalam dan di luar rumah agar bebas dari tempat perkembangbiakan
vektor (Kemenkes RI, 2011).
11 Tujuan Pengendalian DBD
f

Meningkatkan

partisipasi

masyarakat

dalam

pencegahan

dan

pengendalian DBD
g

Menurunkan jumlah kelompok masyarakat yang berisiko terhadap


penularan DBD

Melaksanakan penanganan penderita sesuai standar

Menurunkan angka kesakitan DBD

Menurunkan angka kematian akibat DBD


(Kemenkes RI, 2011)

12 Kebijakan Pengendalian DBD


Kebijakan Nasional untuk pengendalian DBD sesuai KEPMENKES
No 581/MENKES/SK/VII/1992 tentang Pemberantasan Penyakit Demam
Berdarah Dengue, adalah sebagai berikut :
f

Meningkatkan perilaku dalam hidup sehat dan kemandirian terhadap


pengendalian DBD.

Meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit


DBD.

Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program pengendalian


DBD.

Memantapkan kerjasama lintas sektor/ lintas program.

Pembangunan berwawasan lingkungan.


(Kemenkes RI, 2011)

13 Strategi Pengendalian DBD


Berdasarkan visi, misi, kebijakan dan tujuan pengendalian DBD, maka
strategi yang dirumuskan sebagai berikut (Kemenkes RI, 2011):
f

Pemberdayaan masyarakat
Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan
pengendalian penyakit DBD merupakan salah satu kunci keberhasilan
upaya pengendalian DBD.

Peningkatan kemitraan berwawasan bebas dari penyakit DBD


Upaya pengendalian DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sektor
kesehatan saja, peran sektor terkait pengendalian penyakit DBD sangat
menentukan. Oleh sebab itu maka identifikasi stake-holders baik
sebagai mitra maupun pelaku potensial merupakan langkah awal dalam
menggalang, meningkatkan dan mewujudkan kemitraan.

Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program


SDM yang terampil dan menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi merupakan salah satu unsur penting dalam mencapai
keberhasilan pelaksanaan program pengendalian DBD.

Desentralisasi
Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelolaan kegiatan
pengendalian DBD kepada pemerintah kabupaten/kota, melalui SPM
bidang kesehatan.

Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan


Meningkatkan mutu lingkungan hidup yang dapat mengurangi
risiko penularan DBD kepada manusia, sehingga dapat menurunkan
angka kesakitan akibat infeksi Dengue/DBD.

14 Sasaran Pengendalian DBD


Berdasarkan strategi yang telah dirumuskan, maka sasaran
pengendalian DBD adalah (Kemenkes RI, 2011):
f

Individu, keluarga dan masyarakat di tujuh tatanan dalam PSN yaitu


tatanan rumah tangga, institusi pendidikan, tempat kerja, tempat-tempat

umum, tempat penjual makanan, fasilitas olah raga dan fasilitas


kesehatan yang secara keseluruhan di daerah terjangkit DBD mampu
mengatasi masalah termasuk melindungi diri dari penularan DBD di
dalam wadah organisasi kemasyarakatan yang ada dan mengakar di
masyarakat.
g

Lintas program dan lintas sektor terkait termasuk swasta/dunia usaha,


LSM dan organisasi kemasyarakatan mempunyai komitmen dalam
penanggulangan penyakit DBD.

Penanggungjawab program Tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota,


Kecamatan dan Desa/Kelurahan mampu membuat dan menetapkan
kebijakan operasional dan menyusun prioritas dalam pengendalian
DBD.

SDM bidang kesehatan di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota,


Kecamatan dan Desa/Kelurahan

Kepala wilayah/pemerintah daerah, pimpinan sektor terkait termasuk


dunia usaha, LSM dan masyarakat.

15 Kegiatan Pokok Pengendalian DBD


c

Penyelidikan Epidemiologi
Penyelidikan epidemiologi adalah kegiatan pencarian penderita
DBD atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular
DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitar, termasuk
tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter (Depkes
RI, 2005).

d Pengendalian Vektor dan Penyakit Demam Berdarah Dengue


Upaya

pemberantasan

penyakit

demam

berdarah

dengue

dilaksanakan dengan cara tepat guna oleh pemerintah dengan peran serta
masyarakat yang meliputi (Depkes RI, 2005):
f) Pencegahan
g) penemuan, pertolongan dan pelaporan
h) penyelidikan epidemiologi dan pengamatan penyakit demam berdarah
dengue

i) penanggulangan
j) penyuluhan
Tujuan pemberantasan demam berdarah dengue adalah penurunan
angka kematian (Case Fatality Rate) dan insidens demam berdarah dengue
serendah mungkin. Selain itu juga membatasi penyerbar-luasan
penyakit (Depkes RI, 2005).
e

Pengamatan Epidemiologi dan tindakan Pemberantasan


3. Surveillance epidemiologi
Tujuan:
-

Deteksi secara dini adanya "out break" atau kakus-kakus yang


endemis, sehingga dapat dilakukan usaha penanggulangan
secepatnya.

Mengetahui faktor-faktor terpenting yang menyebabkan atau


membantu adanya penularan-penularan atau wabah.

Daerah pelaksanaan:
-

Surveillance tidak hanya dilaksanakan di desa-desa dimana


sudah pernah terdapat penderita/penularan DHF saja, tetapi
harus dilaksanakan juga di daerah-daerah yang receptive, yaitu
daerah-daerah dimanaadiketahui terdapat Aedes aegepti saja
sudah cukup untuk dinyatakan receptive (Depkes RI, 2005).

Pelaksanaan (Depkes RI, 2005):


-

Penemuan penderita.

Untuk hal ini perlu ditentukan kriteria yang Standard guna


diagnosa klinis dan konfirmasi laboratorium dari DHF.

Pelaporan penderita.

Penderita yang telah ditemukan di Puskesmas/Puskesmas


Pembantu perlu

dilaporkan kepada unit-unitakurveillance

epidemiologi.
-

Penelitian KLB / wabah.

4. Surveillance Vektor

10

Untuk tingkat Puskesmas kegiatannya membantu Tim dari


Dati II atau Dati I dalam pelaksanaan kurveillance vektor ini.
Perlindungan perseorangan: Memberikan anjuran untuk mencegah
gigitan nyamuk Aedes aegypti yaitu dengan meniadakan sarang
nyamuknya

di

dalam

rumah.

Yaitu

dengan

melakukan

penyemprotan dengan obat anti serangga yang dapat dibeli di tokotoko seperti baygon, raid dan lain-lain.
Dalam usaha jangka panjang untuk daerah dengan vektor
tinggi dan riwayat wabah DHF maka kegiatan Puskesmas lebih
lanjut yaitu(Depkes RI, 2005):

Abatesasi untuk membunuh larva dan nyamuk

Fogging dengan malathion atau fonitrothion.

Pelaksanaan Survei Jentik (pemeriksaan Jentik)


Survei jentik dilakukan dengan cara kubagai berikut (Depkes RI, 2005):
6. Semua

tempat

atau

bejana

yang

dapat

menjadi

tempat

perkembangbiakan
7. Nyamuk Aedes aegypti diperiksa (dengan mata telanjang) untuk
mengetahui ada tidaknya jentik.
8. Untuk memeriksa tempat penampungan air yang berukuran besar,
seperti : bak mandi, tempayan, drum, dan bak penampungan air
lainnya. Jika pada pandangan (penglihatan) pertama tidak
menemukan jentik, tunggu kira-kira 1 (satu) menitauntuk
memastikan keberadaan jentik.
9. Untuk memeriksa tempat-tempat perkembangbiakan yang kecil,
seperti: vas bunga/pot, tanaman air/botol yang airnya keruh,
seringkali airnya perlu dipindahkan ke tempat lain.
10. Untuk memeriksa jentik di tempat yang agak gelap, atau airnya
keruh, biasanya digunakan senter.
Metode kurvey jentik kecara visual dapat dilakukan kubagai berikut:
Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya
jentik di setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya.

11

Ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes


aegypti

biasanya menggunakan persamaan house index kubagai

berikut (Depkes RI, 2005):

Kegiatan PE dilakukan dalam radius 100 meter dari lokasi


tempat tinggal penderita. Bila penderita adalah siswa sekolah atau
pekerja, maka PE selain dilakukan di rumah juga dilakukan di
sekolah/tempat kerja penderita oleh puskesmas. Hasil PE segera
dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,auntuk
tindak lanjut lapangan dikoordinasikan dengan Kades/Lurah. Bila hasil
PE positif (Ditemukan 1 atau lebih penderita DBD lainnya dan atau 3
orang tersangka DBD, dan ditemukan jentik (5%), dilakukan
penanggulangan fokus, melakukan pengasapan (fogging), penyuluhan,
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan larvasidaki selektif),
sedangkan bila hasilnya negatif dilakukan penyuluhan, PSN dan
larvasidaki selektif (Depkes RI, 2005).
Berikut

adalah

bagan

penyelidikan

epidemiologi

yang

tergabung dalam penanggulangan fokus penanggulangan penderita


DBD di lapangan :

12

Angka Bebas Jentik (ABJ)


Merupakan

salah

satu

indicator

keberhasilan

program

pemberantasan vector penular DBD. Angka Bubas Jentik kubagai tolak


ukur

upaya

pemberantasan

vector

melalui

gerakan

PSN-3M

menunjukan tingkat partisipaki masyarakat dalam mencegah DBD.


Rata-rata ABJ yang dibawah 95% menjelaskan bahwa partisipaki
masyarakat dalam mencegah DBD di lingkunagnnya masing-masing
belum optimal (Depkes RI, 2005).
h

PSN (pemberantasan sarang nyamuk)


Pencegahannya dilakukan melalui jalur (Depkes RI, 2007):
-

Penyuluhan kelompok : PKK, organisasi sosial masyarakat lain,


kelompok

agama,

guru,

murid

sekolah,

pengelola

tempat

umum/instansi, dll.
-

Penyuluhan perorangan
4) Kepada ibu-ibu pengunjung Posyandu
5) Kepada penderita/keluarganya di Puskesmas
6) Kunjungan rumah oleh Kader/petugas Puskesmas

Penyuluhan melalui media massa : TV, radio, dll (oleh Dinas


Kesehatan Tk. II, I dan pusat) Menggerakkan masyarakat untuk PSN
13

penting terutama kubelum musim penularan (musim hujan) yang


pelaksanaannya dikoordinasikan oleh kepala Wilayah setempat.
Kegiatan PSN oleh masyarakat ini seyogyanya diintegrasikan ke
dalam kegiatan di wilayah dalam rangka program Kebersihan dan
Keindahan

Kota.

Di

tingkat

Puskesmas,ausaha/kegiatan

pemberantasan sarang nyamuk (PSN) demam berdarah ini


seyogyanya diintegrasikan dalam program Sanitasi Lingkungan.

16 Evaluasi Program

Masukan (input)
Kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam system dan terdiri
dari untur tenaga (man), dana (money), sarana (material), dan metoda
(method) yang merupakan variable dalam melaksanakan evaluasi
program pemberantasan Demam Berdarah Dengue (Depkes RI, 2005).

Proses (process)
Kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam system dan terdiri
dari

unsure perencanaan (planning), organisasi

pelaksanaan

(activities),

dan

pengawasan

(organization),

(controlling)

yang

14

merupakan variable dalam melaksanakan evaluasi program Demam


Berdarah Dengue (DBD) (Depkes RI, 2005).
i

Keluaran (output)
Kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari berlangsungnya
proses dalam system dari kegiatan pemberantasan DBD (Depkes RI,
2005).

Dampak (impact)
Akibat yang ditimbulkan oleh keluaran dalam pemberantasan DBD
(Depkes RI, 2005).

Umpan Balik (feed back)


Kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran dari system
dan sekaligus sebagai masukan dalam program pemberantasan DBD
(Depkes RI, 2005).

Lingkungan (environment)
Dunia luar yang tidak dikelola oleh system tetapi mempunyai
pengaruh terhadap system (Depkes RI, 2005).

Tolak ukur keberhasilan:


Terdiri dari variable masukan, proses, keluaran, umpan balik,
lingkungan dan dampak. Digunakan sebagai pembanding atau target yang
harus dicapai dalam program pemberantasan DBD (Depkes RI, 2005):
g

Masukan
Tenaga : Dokter, Koordinator P2M dan PKM, Petugas Laboratorium,
Petugas Administrasi, Kader aktif, Jumantik
Dana : Dana untuk pelaksanaan program dapat diperoleh di:
APBD

: APBD menyediakan anggaran untuk pengawasan dan

monitoring, sarana diagnosis, bahan cetakan, kegiatan pemecahan


masalah di kotamadya.
Swadaya Masyarakat

: menyediakan anggaran untuk operasional,

pemeliharaan, pelaksanaan, pencegahan dan penanggulangan DBD


Sarana Medis : Poliklinik set (stetoskop, timbangaan BB,
thermometer, tensimeter, senter), Alat pemeriksaan hematokrit, Alat

15

penyuluhan

kesehatan

masyarakat,

Formulir

laporan

Standart

Operasional dan KDRS (kasus DBD di Rumah Sakit), Obat-obatan


simptomatis untuk DBD (analgetik dan antipiretik), Buku petunjuk
program DBD, Bagan penatalaksanaan kasuk DBD, Larvasida
Sarana Non-Medis : Gedung puskesmas, Ruang tunggu, Tuang
administrasi, Ruang periksa, Ruang tindakan, Laboratorium, Apotik,
Perlengkapan administrasi, Formulir laporan
Metode : Terdapat metode untuk:
-

Penemuan penderita tersangka DBD


Kasus dilihat dari jumlah suspek DBD yang dating ke
puskesmas

Rujukan penderita DBD

Penyuluhan Kesehatan pada Penyuluhan masyarakat meliputi :


o Penyuluhan Perorangan

: terhadap individu yang

berobat melalui konseling


o Penyuluhan Kelompok

: Melalui diskusi, ceramah,

penyuluhan melalui poster.


-

Surveilan kasus DBD


Angka Bebas Jentik : presentasi rumah yang bebas jentik
disbanding dengan jumlah rumah yang diperiksa

Surveilans vector
Pengamatan Jentik Berkala : presentasi jumlah rumah yang
diperiksa jentik dibanding dengan jumlah rumah yang diperiksa

Pemberantasan vector
Abatisasi

: pemberian bubuk abate pada tempat penampungan

air yang tidak bias dikuras


Kegiatan 3 M

dengan

Badan

Gerakan

3M

yang

perwujudannya melalui Jumat bersih selama 30 menit setiap


satu minggu sekali. Dilakukan dengan pengawasan kader.
Menguras, menutup, dan mengubur tempat pertumbuhan jentik.
Fogging focus

16

Pencatatan dan Pelaporan

Proses
Perencanaan Ada perencanaan tertulis mengenai:
-

Penemuan penderita tersangka DBD : dilihat dari jumlah pasien


suspect DBD yang datang ke puskesmas

Rujukan penderita DBD : Bila terdapat tanda-tanda penyakit


DBD, seperti mendadak panas tinggi 2-7hari, tampak lemah dan
lesu, suhu badan antara 38OC sampai 40OC atau lebih, tampak
bintik-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik
merah itu tidak hilang, kadang-kadang ada perdarahan hidung,
mungkin terjadi muntah darah atau BAB darah, tes Torniquet
positif.

Penyuluhan Kesehatan : Perorangan dan Kelompok

Surveilans kasus DBD : hasil Angka Bebas Jentik

Surveilans vector

Pemberantasan vector : Melalui program Abatisasi, kegiatan 3M,

: melalui Pengamatan Jentik Berkala

dan Fogging focus


-

Pencatatan dan Pelaporan

Pengorganisasian : Terdapat strukur organisasi tertulis dan pemberian


tugas yang jelas dalam melaksanakan tugasnya.
Pelaksanaan
-

Penemuan penderita tersangka DBD


Kasus dilihat dar jumlah suspect DBD yang datang ke puskesmas

Rujukan penderita DBD


Bila terdapat tanda-tanda penyakit DBD, seperti mendadak panas
tinggi 2-7 hari, tampak lemah dan lesu, suhu badan antara 38 OC
sampai 40OC atau lebih, tampak bintik-bintik merah pada kulit
dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang,
kadang-kadang ada perdarahan hidung, mungkin terjadi muntah
darah atau BAB darah, tes Torniquet positif.

Penyuluhan Kesehatan : Perorangan dan Kelompok

17

Surveilans kasus DBD

: hasil Angka Bebas Jentik (berapa

kali per tahun)


-

Surveilans vector : melalui Pengamatan Jentik Berkala (berapa


kali per tahun)

Pemberantasan vector

Melalui

program

Abatisasi,

kegiatan 3M, dan Fogging focus


-

Pencatatan dan Pelaporan : ada tidaknya terjadi wabah

Pengawasan dan Pengendalian


Melalui pencatatan dan pelaporan yang dilakukan
4. Bulanan
5. Triwulanan
6. Tahunan
i

Keluaran
Penemuan penderita tersangka DBD : dilihat dari jumlah pasien
suspect DBD yang datang ke puskesmas Contoh : 128 orang/tahun
Rujukan penderita DBD : Bila terdapat tanda-tanda penyakit DBD,
seperti mendadak panas tinggi 2-7hari, tampak lemah dan lesu, suhu
badan antara 38OC sampai 40OC atau lebih, tampak bintik-bintik
merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak
hilang, kadang-kadang ada perdarahan hidung, mungkin terjadi
muntah darah atau BAB darah, tes Torniquet positif. Contoh :
dilakukan rujukan 100% kasus
Penyuluhan

dan

penggerakkan

masyarakat

untuk

PSN

(pemberantasan sarang nyamuk) : Penyuluhan/informasi tentang


demam berdarah dan pencegahannya dilakukan melalui jalur-jalur
informasi yang ada:
-

Penyuluhan Kelompok: PKK, Organisaasi social masyarakat lain,


kelompok agama, guru, murid sekolah, pengelola tempat
umum/instansi, dll.

18

Penyuluhan Perorangan : Kepada ibu-ibu pengunjung posyandu,


Kepada penderita/keluarganya di puskesmas, Kunjungan rumah
oleh kader/ petugas puskesmas

Penyuluhan melalui media massa : TV, radio, dll .

Surveilans kasus DBD : hasil Angka Bebas Jentik, Survei jentik


dilakukan dengan cara melihat atau memeriksa semua tempat atau
bejana yang dapat menjadi tempat berkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti dengan mata telanjang untuk mengetahui ada tidaknya
jentik,yaitu dengan cara visual. Cara ini cukup dilakukan dengan
melihat ada tidaknya jentik disetiap tempat genangan air tanpa
mengambil jentiknya. Angka Bebas Jentik sebagai tolak ukur upaya
pemberantasan vector melalui gerakan PSN-3M menunjukan tingkat
partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD. Rata-rata ABJ yang
dibawah 95% menjelaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam
mencegah DBD di lingkunagnnya masing-masing belum optimal.
Contoh : 3x/ tahun dengan cakupan ABJ 96,07%
Surveilans vector

melalui

Pengamatan

Jentik

Berkala,

Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) merupakan bentuk evaluasi hasil


kegiatan yang dilakukan tiap 3 bulan sekali disetiap desa/kelurahan
endemis pada 100 rumah/bangunan yang dipilih secara acak (random
sampling).
Pemberantasan

vector

Perlindungan

perseorangan,

yaitu

memberikan anjuran untuk mencegah gigitan nyamuk Aedes


aegypti yaitu dengan meniadakan sarang nyamuknya di dalam
rumah. Yaitu dengan melakukan penyemprotan dengan obat anti
serangga yang dapat dibeli di took-toko seperti baygon, dll
-

Menggunakan insektisida
3.

Abatisasi : adalah menaburkan bubuk abate ke


dalam penampung air untuk membunuh larva dan nyamuk.

19

4.

Fogging
Melakukan

dengan

malathion

pengasapan

saja

atau

tidak

fonitrothion.

cukup,

karena

penyemprotan hanya mematikan nyamuk dewasa.


-

Tanpa insektisida
Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melaksanakan
penyuluhan 3M:
d. Menguras

tempat-tempat

penampungan

air

sekurang-kurangnya seminggu sekali


e. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
f. Menguburkan,

mengumpulkan,

memanfaatkan

atau menyingkirkan barang-barang

bekas yang

dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas,


plastic bekas dan lain-lain.
Selain itu ditambah dengan cara yang dikenal dengan
istilah 3M Plus, seperti :
k. Ganti air vas bunga, minuman burung dan tempattempat lain seminggu sekali
l. Perbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar
m. Tutup lubang-lubang pada potongan bamboo,
pohon dan lain-lain, misalnya dengan tanah.
n. Bersihkan/keringkan tempat-tempat yang dapat
menampung air seperti pelepah pisang atau
tanaman lainnya termasuk tempat-tempat lain
yang dapat menampung air hujan di pekarangan,
kebun, pemakaman, rumah kosong, dan lain-lain.
o. Pemeliharaan ikan pemakan jentik nyamuk
p. Pasang kawat kasa di rumah
q. Pencahayaan dan ventilasi memadai
r. Jangan biarkan menggantuk pakian di rumah
s. Tidur menggunakan kelambu

20

t. Gunakan obat nyamuk untuk mencegah gigtan


nyamuk.
Pencatatan dan Pelaporan: kalau seandainya terjadi wabah,
Sesuai dengan ketentuan/sistim pelaporan yang berlaku, pelaporan
penderita demam berdarah dengue menggunakan formulir:
4.

W 1/ laporan KLB (wabah)

5.

W 2/ laporan mingguan wabah

6.

SP2TP :

LB

laporan

bulanan

data

kesakitan
LB 2 /laporan bulanan data kematian
Sedangkan untuk pelaporan kegiatan menggunakan formulir
LB3 / Laporan bulanan kegiatan Puskesmas (SP2TP)
-

Penderita demam berdarah / suspect demam berdarah perlu


diambil specimen darahnya (akut ataupun konvalesens) untuk
pemeriksaan serologis. Specimen dikirim bersama-sama de
Balai

Laboratorium

Kesehatan

(BLK)

melalui

Dinas

KEsehatan Dati II setempat.


j

Lingkungan
c) Lingkungan Fisik:
5. Jarak dengan pemukiman penduduk (dekat/jauh)
6. Transportasi (mudah/sukar)
7. Jarak dengan fasilitas umum
d) Lingkungan Non-Fisik
1. Mata Pencaharian penduduk (terbanyak)
2. Tingkat pendidikan

Umpan Balik
c) Adanya pencatatan dan Pelaporan
3. Sesuai dengan waktu yang ditetapkan
4. Masukan

dalam

program

pemberantasan

DBD

selanjutnya
d) Rapat kerja (berapa kali / tahun)

21

Antara kepala puskesmas dengan Pelaksana Unit untuk


3. Membahas laporan kegiatan bulanan
4. Evaluasi program yang telah dilakukan
l

Dampak
c) Langsung

: apakah terjadi penurunan angka morbiditas

dan mortalitas kasus DBD


d) Tidak Langsung

apakah

terjadi

peningkatan

derajat

kesehatan masyarakat.

B. Demam Berdarah Dengue (DBD)


6. Definisi DBD
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit
menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk
Aedes aegypti. Virus ini termasuk dalam grup B Antropod Borne Virus
(Arboviroses) kelompok flavivirus dari family flaviviridae, yang terdiri
dari empat serotipe, yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3, DEN 4. Masing masing
saling berkaitan sifat antigennya dan dapat menyebabkan sakit pada
manusia. (Dinkes Jateng, 2004).
7. Cara Penularan
Seorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue
merupakan sumber penularan penyakit DBD. Virus dengue dalam darah
selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila pederita tersebut
digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap hasuk
dalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus memperbanyak diri dan tersebar
di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya.
Kira-kira 1 minggu setelah menghisap darah penderita, nyamuk tersebut
siap untuk menularkan kepada orang lain. Virus ini akan tetap berada dalam
tuubuh nyamuk sepanjang hidupnya (Dinkes Jateng, 2004).
8. Faktor Resiko Penularan DBD

22

Salah satu faktor risiko penularan DBD adalah Perubahan lingkungan


global atau Global Environmental Change (GEC) terutama Global Warming
sedikit banyak ikut berperan terhadap kejadian DBD. Setiap peralihan
musim, terutama dari musim kemarau ke musim penghujan, berbagai
masalah kesehatan melanda termasuk yang paling sering terjadi adalah
peningkatan kejadian demam berdarah. Faktor risiko lain infeksi dengue
diantaranya tingkat imunitas host, kepadatan penduduk, interaksi vektor dan
host dan virulensi virus. Kepadatan vektor juga berkontribusi terhadap
epidemi DBD (Dinkes Jateng, 2012)
9. Gejala dan Diagnosis DBD
Diagnosis DBD ditegakan berdasarkan kriteria diagnosis menurut
WHO tahun 1997 yang terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris (Dinkes
Jateng, 2004). Kriteria klinis :
a. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus
menerus selama 2-7 hari.
b. Terdapat manifestasi pendarahan ditandai dengan :
- Uji torniquet positif
- Petechie, echimosis, purpura
- Pendarahan mucosa, epistaksis, pendarahan gusi
- Hematemesis/melena
c. Pembesaran hati
d. Syok, nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi,
kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah
Kriteria Laboratorium
c. Trombositopenia (100.000 atau kurang)
d. Hemokonsentrasi, dilihat dari peningkatan hematokrit 20% atau lebih

23

10. Pengobatan DBD


Demam Dengue (DD), dapat berobat jalan, tidak perlu dirawat. Pada fase
demam dianjurkan (Dinkes Jateng, 2004):
-

Tirah baring

Obat antipiretik atau kompres bila perlu. Obat yang di anjurkan adalah
parasetamol

Dianjurkan pemberian cairan dan elektrolit peroral, jus buah, sirop, susu
di samping air putih. Paling sedikit diberikan 2 hari.

Monitor suhu, jumlah trombosit dan hematokrit sampai fase konvalense.

24

25