Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum Demonstrasi Klinik

PENYAKIT REPRODUKSI PADA SAPI


(MASTITIS, PIOMETRA, DAN PROSTATITIS)

DISUSUN OLEH :
NAMA

WADI OPSIMA
NIM
: O111 13
310
KELOMPOK
ASISTEN

: VIII (DELAPAN)
: ANITAWATI UMAR, S.KH

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masyarakat Indonesia mulai sadar akan pentingnya kebutuhan protein hewani dalam
mencukupi kebutuhan nutrisinya, seperti susu, dan daging. Dengan adanya kesadaran
masyarakat, maka permintaan untuk tersedianya daging dan susu semakin tinggi. I ini sangat
mendukung ekonomi Indonesia, dengan kondisi geografis Indonesia yang mendukung
pertumbuhan sapi sebagai penghasil daging san susu.
Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang memliliki sumber daya alam yang
melimpah, kondisi geografis yang sangat mendukung pertumbuhan hewan ternak seperti sapi.
Luas lahan pun sangat mendukung untuk dimanfaatkan sebagai lahan penanaman rumput
sebagai pakan ternak.
Di Indonesia sapi yang diternakkan adalah jenis sapi potong dan sapi perah. Sapi
potong adalah jenis sapi yang diternakkan untuk menghasilkan daging, sedangkan sapi perah
diternakkan untuk menghasilkan susu.
Faktor utama produksi ternak apapun jenisnya adalah makanan. Produksi ternak baik
berupa daging atau susu merupakan manifestasi dari makanan yang dikonsumsi oleh ternak
yang bersangkutan. Oleh karena itu makanan merupakan salah satu faktor penting di dalam
usaha peternakan, terutama terhadap tinggi rendahnya produksi. Hal ini terbukti pada
sebagian besar kelompok sapi. Mereka akan mempunyai produksi daging dan susu yang
tinggi kalau pemberian makanannya baik (Andika, 2008).
Makanan akan mempengaruhi kesehatan. Kesehatan ternak sapi merupakan salah
satu faktor penting yang memengaruhi produksi ternak termasuk produksi susu pada sapi
perah dan produksi daging pada sapi potong. Penyakit infeksius maupun non infeksius
merupakan hambatan dalam upaya pencapaian produksi daging dan susu yang optimal dalam
usaha peternakan sapi di Indonesia.
Masalah penyakit yang biasa menyerang ternak sapi potong dan perah adalah system
reproduksi. Pada ternak sapi mengakibatkan bibit yang dihasilkan berkurang sehingga
kebutuhan daging dan susu tidak dapat terpenuhi.
Penyakit yang biasa menyerang system reproduksi ternak sapi adalah mastitis,
piometra, dan protatitis.
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimanakah cara mengenal berbagai ragam perubahan klinik dan patologis
penyakit masititis, piometra, dan prostatitis pada sapi?

b. Bagaimanakah cara merumuskan diagnosis dan diagnosis banding penyakit masititis,


piometra, dan prostatitis pada sapi?
c. Bagaimanakah rencana tindakan penanganan penyakit masititis, piometra, dan
prostatitis pada sapi?
C. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum penyakit neonatal pada sapi adalah untuk:
a. Mengenal berbagai ragam perubahan klinik dan patologis penyakit masititis,
piometra, dan prostatitis pada sapi;
b. Merumuskan diagnosis dan diagnosis banding penyakit masititis, piometra, dan
prostatitis pada sapi;
c. Merencanakan tindakan penanganan penyakit masititis, piometra, dan prostatitis pada
sapi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Mastitis
Mastitis adalah suatu peradangan pada internal ambing. Istilah mastitis berasal dari
kata mastos yang artinya kelenjar ambing dan itis untuk inflamasi. Penyakit ini dapat terjadi
pada semua jenis mamalia dan dapat disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, fungi, alga atau
mikoplasma (Anri, 2008).

a) Etiologi
Infeksi bakteri merupakan penyebab utama terjadinya mastitis, bakteri penyebabnya
adalah Staphylococcus.aureus, Streptococcus agalactiae, Streptococcus dysagalactiae,
Streptococcus. Agen penyebab mastitis paling banyak disebabkan oleh mikroba dari
kelompok bakteri dibandingkan ragi atau kapang. Mastitis dipengaruhi oleh interaksi 3 faktor
yaitu ternak itu sendiri, mikroorganisme penyebab mastitis dan faktor lingkungan. Faktor
lingkungan, terutama sanitasi dan higienis lingkungan kandang tempat pemeliharaan, posisi
dan keadaan lantai, sistem pembuangan kotoran, sistem pemerahan, iklim, serta peternak itu
sendiri dan alat yang ada (Kirk and Lauerman, 1994).
Streptococcus adalah sel yang bulat atau coccus, tersusun berpasangan atau dalam
bentuk rantai, merupakan bakteri Gram positif. Streptococcus adalah golongan bakteri yang
heterogen. Semua spesiesnya merupakan bakteri non motil, non-sporing dan menunjukkan
hasil negatif untuk tes katalase, dengan syarat nutrisi kompleks. Semuanya anaerob fakultatif,
kebanyakan berkembang di udara tetapi beberapa membutuhkan CO untuk berkembang
(Subronto, 2004).
Klasifikasi dari Streptococcus agalactiae (Lund et al., 2000):
Kingdom : Bacteria
Phylum : Firmicutes
Class

: Bacilli

Ordo : Lactobacillales
Family : Streptococcaceae
Genus : Streptococcus
Spesies : S. Agalactiae
Kejadian yang tinggi ini terjadi karena Streptococcus agalactiae mempunyai
kemampuan adesi yang kuat pada reseptor spesifik sel inang. Bakteri ini diwaspadai
keberadaannya dalam susu sapi karena merupakan bakteri yang tahan temperature tinggi,
selain itu bakteri ini dapat memproduksi kapsul polisakarida untuk mencegah fagositosis.
Bakteri ini dapat mempengaruhi kesehatan manusia yang meminum susu tercemar dan tidak
diolah dengan baik. Bakteri ini secara khas bersifat hemolitik, yang dapat menghemolisa sel
darah merah secara in vitro. Kelompok Streptococcus dapat menghemolisa eritrosit dengan
melepas hemoglobin secara sempurna termasuk dalam kelompok -hemolitik. Streptococcus
agalactiae membentuk daerah hemolisis yang hanya sedikit lebih besar dari koloninya
(bergaris tengah 1-2 mm). (Wahyuni et al, 2006).

Gambar 1. Morfologi Streptococcus agalactiae (Sumber :Wahyuni et al, 2006).


Staphylococcus aureus adalah bakteri berbentuk kokus dengan garis tengah sekitar 1
m dan tersusun dalam kelompok-kelompok tak beraturan. Dalam biakan cair apabila dilihat
di bawah mikroskop tampak juga kokus tunggal, berpasangan, berbentuk rantai.
Staphylococcus tidak bergerak, tidak membentuk spora dan dapat lisis oleh pengaruh obatobat seperti penisilin. Staphylococcus aureus bersifat aerob fakultatif dan oleh karenanya
bakteri ini dapat bertahan hidup tanpa oksigen. Bakteri ini dapat mengeluarkan toksin yang
tahan terhadap pemanasan. Walaupun bakterinya sudah mati karena panas (pemanasan pada
suhu 66oC selama 10 menit), namun toksinnya dapat bertahan hidup pada suhu 100 oC selama
30 menit (Jawetz et al, 2005).
Berdasarkan taksonominya, Staphylococcus aureus dapat digolongkan
sebagai berikut (Jawetz et al, 2005):
Kingdom : Bacteria
Filum : Firmicutes
Kelas : Cocci
Ordo : Bacillales
Family : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus
Spesies : Staphylococcus aureus
Menurut Jawetz et al (2005) S. aureus merupakan flora normal pada manusia dan
terutama ditemukan pada saluran pernafasan bagian atas, kulit, dan mukosa. Bakteri ini
bersifat gram positif, anaerob fakultatif, katalase positif, koagulase positif dan menghasilkan
asam laktat.
Menurut Purnomo et al (2006) S. aureus merupakan jasad renik yang tahan terhadap
oksigen dan memiliki ciri-ciri sebagai suatu bakteri berbentuk bulat yang bergabung seperti
seikat buah anggur yang berkelompok. Sel-selnya bisa juga terjadi berpasangan seperti kalung

pendek. Bakteri yang berbentuk bola atau bulat ini sangat kecil, ukuran diameternya kurang
dari 1 (satu) mikron.
Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang tahan pengeringan dan panas, tetap
hidup pada suhu 50oC selama 30 menit dan dapat hidup pada debu kering dan makanan yang
didinginkan sampai membeku. Sifat khas S. aureus yang digunakan untuk membedakannya
dengan Staphylococcus yang lain adalah kemampuan menghasilkan enzim koagulase yaitu
suatu enzim yang dapat menggumpalkan plasma (Abrar et al., 2012).

Gambar 2. Morfologi Staphylococcus aureus (Sumber: Abrar et al., 2012).


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wawron et al (2009) penyakit mastitis
bukan hanya disebabkan oleh bakteri, namun dapat disebabkan juga oleh yeast. Faktor
etiologi mastitis mikotik adalah Candida,Cryptococcus, Rhodotorula, Trichosporon,
Torulopsis, dan Geotrichum. Pada daerah tropis

spesies yang banyak ditemukan adalah

Aspergillus, Penicillum, Epicoccum, Phoma,dan Alternaria pada sekresi kelenjar ambing.


Selain faktor mikroorganisme, faktor hewan dan lingkungan juga

menentukan

mudah atau tidaknya terjadi mastitis dalam suatu peternakan. Faktor predisposisi mastitis dari
segi hewannya meliputi bentuk ambing dan faktor umur. Sedangkan faktor lingkungan yang
mempengaruhi terjadinya mastitis meliputi pakan, jumlah sapi dalam suatu kandang, sanitasi
kandang dan cara pemerahan.
Faktor predisposisi dari hewan meliputi kondisi dan bentuk ambing serta umur
ternak. Ambing yang menggantung sangat rendah ataupun ambing yang lubang putingnya
terlalu besar dan juga jika adanya luka atau lecet pada ambing memudahkan mikroorganisme
masuk. Umur hewan juga menjadi faktor yang mempermudah terjadinya mastitis, semakin tua
ternak semakin peka terhadap mastitis karena mekanisme penutupan lubang puting susu
semakin menurun serta penyembuhan semakin lambat (Foley et al, 1972).
Faktor lingkungan dan pengelolaan peternakan yang banyak mempengaruhi
terjadinya mastitis meliputi kandang dan ternak yang basah dan kotor, urutan pemerahan yang

salah, peralatan pemerahan yang kotor, pemerah atau pekerja yang memiliki tangan dan
pakaian kotor dan kuku tajam. Pakan yang mengandung estrogen, misalnya bangsa clover,
jagung ataupun konsentrat dapat mempermudah terjadinya radang (Hidayat, 2008).
Kandang yang berukuran sempit menyebabkan sapi-sapi didalamnya berdesakdesakan. Apabila ada salah satu yang menderita infeksi penularan penyakit akan dipermudah.
Penularan mastitis juga dapat melalui tangan pemerah, peralatan yang digunakan untuk
membersihkan ambing yang tercemar oleh bakteri. Penularan mastitis juga dapat terjadi
melalui pancaran susu pertama yang langsung dibuang ke lantai. Lantai kandang yang basah
dan lembab akan mendukung pertumbuhan bakteri dan bila sapi berbaring akan
memungkinkan bakteri masuk melalui lubang puting (Hidayat, 2008).
b) Patogenesis
Proses dimulai dengan masuknya mikroorganisme ke dalam kelenjar melalui lubang
puting (sfingter) dan berkembang didalamnya sehingga menimbulkan reaksi radang. Sfingter
puting berfungsi untuk menahan infeksi kuman. Pada dasarnya, kelenjar ambing sudah
dilengkapi perangkat pertahanan, sehingga susu tetap steril. Perangkat pertahanan yang
dimiliki oleh kelenjar ambing, antara lain

perangkat pertahanan mekanis, seluler dan

perangkat pertahanan yang tidak tersifat (non spesifik) (Sudarwanto, 1982).


Williamson et al (1993) menjelaskan bahwa proses infeksi pada mastitis terjadi
melalui beberapa tahap, yaitu adanya kontak dengan mikroorganisme dimana sejumlah
mikroorganisme mengalami multiplikasi di sekitar sfingter, kemudian dilanjutkan dengan
masuknya mikroorganisme akibat lubang puting yang terbuka ataupun karena adanya luka.
Tahap berikutnya, terjadi respon imun pada induk semang. Respon pertahanan pertama
ditandai dengan berkumpulnya leukositleukosit untuk mengeliminasi mikroorganisme yang
telah menempel pada sel-sel ambing. Apabila respon ini gagal, maka mikroorganisme akan
mengalami multiplikasi dan sapi dapat memperlihatkan respon yang lain, misalnya demam.
Peradangan pada ambing diawali dengan masuknya bakteri ke dalam ambing yang
dilanjutkan dengan multiplikasi. Sebagai respon pertama, pembuluh darah ambing mengalami
vasodilatasi dan terjadi peningkatan aliran darah pada ambing. Permeabilitas pembuluh darah
meningkat disertai dengan pembentukan produk-produk inflamasi, seperti prostaglandin,
leukotrine, protease dan metabolit oksigen toksik yang dapat meningkatkan permeabilitas
kapiler ambing. Adanya filtrasi cairan ke jaringan menyebabkan pembengkakan pada ambing
(Hurley, 2000).
c) Gejala Klinis

Mastitis terutama yang klinis dapat dilhat dengan adanya perubahan bentuk anatomi
ambing dan fisik air susu yang keluar. Sedangkan mastitis subklinis dapat di diagnosis melalui
uji kimiawi atau uji mikrobiologis. Faktorfaktor yang sering menjadi penyebab tidak langsung
atau mendorong meningkatnya mastitis antara lain anatomi (besar dan bentuk ambing,
puting), umur ternak, jumlah produksi susu, dan lainnya. Faktor ternak terutama dipengaruhi
oleh stadium laktasi, sistem kekebalan, kepekaan individu, anatomi dan umur serta
penanganan pasca pemerahan (Sudarwanto, 1982).
Mastitis berdasarkan gejalanya dapat dibedakan antara mastitis klinis dan subklinis.
Gejala mastitis klinis terlihat tanda-tanda klinis (dapat dilihat atau diraba oleh panca indera)
meliputi (Foley et al, 1972).:
1. Akut
Radang (bengkak), panas dalam rabaan, rasa sakit, warna yang kemerahan

dan

terganggunya fungsi. Air susu jadi pecah, bercampur endapan atau jonjot, reruntuhan sel
maupun gumpalan protein. Konsistensi air susu jadi lebih encer dan warna nya juga jadi
agak kebiruan atau putih yang pucat. Kadang proses akit berlansung dengan cepat dan
hebat. Tanda-tanda lain yang ditemukan adalah anoreksia, kelesuan, toksemia, dan sering
disertai dengan kenaikan suhu tubuh. Keadaa akut yang berlansung setelah kelahiran
mirip dengan gejala milk fever. Karena rasa sakit yang diderita ketika berjalan mungkin
akan tampak seperti ketika ternak menderita pincang.
2. Subakut
Ditandai dengan gejala sama seperti akut tetapi dengan derajat yang lebih ringan.
Hewan masih mau makan dan suhu tubuhnya masih dalam batas normal.Perubahan
radang dari ambing kadang samar-samar tetapi air susunya jelas mengalami
perubahan.Pada inspeksi dari samping dan belakang, ambing tampak asimetris.
Kebengkakan atau lesi pada puting biasanya ditemukan radang. Radang ganrenous akan
menampakkan warna merah atau biru lebam. Bila ambing

di palpasi ditemukan

perubahan berupa jaringan mengeras dengan permukaan yang bervariasi.Pada radang


yang sudah melanjut ke jaringan ikat yang terdapat pada suatu kuartir secara keseluruhan
sehingga kuartir tersebut tidak dapat berfungsi. Kuartir tersebut digunakan bakteri untuk
berkoloni yang pada suatu saat dapat menginfeksi kuartir lain.
3. Kronik
Infeksi berlangsung dalam waktu yang lama pada suatu periode laktasi ke periode
berikutnya.Pada infeksi kronik berakhir dengan atrofi kelenjar. Ambing yang mengalami
gangren yang tampak perubahan seperti ambing terasa dingin, air susu lebih encer kadang

bercampur darah dan warna kulit ambing biru lebam. Hewan tidak sanggup berdiri lagi,
ambruk dan dapat mati dalam beberapa hari.
Mastitis subklinis merupakan peradangan pada ambing tanpa ditemukan gejala klinis
pada ambing dan air susu. Ternak terlihat seperti sehat, nafsu makan biasa dan suhu tubuh
normal, ambing normal dan susu tidak menggumpal dan warna tidak berubah. Tetapi melalui
pemeriksaan akan didapatkan jumlah sel radang meningkat, ditemukan kuman-kuman
penyebab penyakit, susu menjadi pecah /terbentuk butiran-butiran halus atau gumpalan
(Jawetz et al, 2005).
d) Diagnosis
Mastitis klinis dapat didiagnosa dengan melihat adanya peradangan pada ambing dan
putting serta adanya perubahan warna dari susu yang dihasilkan. Deteksi mastitis subklinis
dilakukan melalui pemeriksaan mikrobiologi dan perhitungan jumlah sel somatik dalam susu.
Secara tidak langsung sel somatic dapat dihitung berdasarkan pada intensitas reaksi, metode
yang sering dipakain antara lain Aulendorfer Mastitis Probe (AMP), California Mastitis Test
(CMT), Milk Quality Test (MQT), Michinghan Mastitis Test (MMT), Whitside Test (WTS)
(Foley et al, 1972).
e) Diferensial Diagnosis
Diferensial diagnosis atau diagnosa banding mastitis adalah pembengkakan ambing
akibat tumor. Jika hewan telah sampai pada tahap kronis, dimana hewan tidak sanggup
berdiri, maka diagnose bandingnya adalah milk fever (Foley et al, 1972).
f) Prognosis
Prognosa penyakit mastitis adalah fausta hingga dubius. Jika infeksi mastitis dapat
ditangani lebih awal dengan pemberian antibiotik dan meanajeman pakan dan kandang dan
baik, maka hewan akan sembuh (Jawetz et al, 2005).
g) Terapi
Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik seperti oksitetrasiklin yang
sesuai dengan bakteri yang menginfeksi, dan disarankan dilakukan uji sensitivitas terhadap
bakteri sebelum melakukan pengobatan agar dilakukan pengobatan yang optimal. pengobatan
antibiotik melalui intramamaria untuk mastitis adalah dengan amoksisilin, penisilin dan
eritromisin (Jawetz et al, 2005).

Selain pemberian antibiotik, pembersihkan lantai kandang secara teratur dan


usahakan senantiasa dalam keadaan kering, pemerah harus selalu berupaya agar tangan dalam
keadaan bersih dan kuku tidak melukai putsing. Setiap akan diperah ambing harus selalu
dalam keadaan bersih dan higienis, sapi yang terkena mastitis harus dipisahkan dari sapi-sapi
yang sehat, melakukan pemerahan dengan baik dan benar dengan pemerahan sampai tidak ada
air susu yang tertinggal dalam puting, melakukan pencegahan dengan pemberian antibiotika
selama masa kering kandang, melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kejadian mastitis,
dan melakukan pencelupan atau dipping putting ke dalam larutan desinfektan setelah selesai
pemerahan (Sudarwanto, 1982).
B. Piometra
Piometra berasal dari dua kata, yaitu pyo yang artinya nanah dan metra yang artinya
uterus. Piometra merupakan penyakit dimana terjadi penimbunan nanah pada uterus akibat
terjadinya endometritis kronis (Frandson, 1993).
a) Etiologi
Piometra dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu kondisi hewan dan lingkungan.
Selain itu juga piometra dapat terjadi post koitus (sesudah perkawinan) atau post partus.
Mikroorganisme yang sering ditemukan di lapangan sebagai penyebab piometra adalah
bakteri Corynebacterium pyogenes dan protozoa Trichomonas foetus (Partodiharjo, 1987).
Infeksi Trichomonas foetus mengakibatkan piometra yang terjadi setelah kawin yang
berhubungan dengan kematian embrio dini dan maserasi fetus. Selain itu, piometra dapat
terjadi akibat inseminasi buatan yang semennya tidak dicampur antibiotik serta pengenceran
kurang steril (Partodiharjo, 1987).
Piometra merupakan peradangan kronis mukosa uterus (endometrium) yang ditandai
dengan nanah dalam uterus, menyebabkan gangguan reproduksi yang bersifat sementara
(infertil) atau permanen (majir), dan dapat terjadi pada semua jenis hewan ternak. Pada infeksi
persisten, endometritis (piometra) kronis atau subakut berkembang dan mempunyai pengaruh
yang merugikan bagi fertilitas (Partodiharjo, 1987).
Piometra (endometritis kronik purulen) secara umum merupakan penyakit metoestral
yang sebagian besar menyerang betina yang lebih tua, dapat disebabkan karena kontaminasi
uterus, retensio sekundinarium, atau kontaminasi selama proses kelahiran. Penyakit kelamin
menular seperti brucellosis, trichomoniasis dan vibriosis atau kuman non spesifik seperti
golongan kokus, coli, dan piogenes dapat menyebabkan terjadinya piometra. Pada beberapa
kasus, sapi dapat bunting dan kemudian fetus mati, terjadi proses maserasi, uterus mengalami
kegagalan dalam proses involusi uteri, dan pada ovarium akan terbentuk korpus luteum (CL)

persisten. Sapi piometra akan mengalami infeksi/peradangan uterus. Uterus berada di bawah
pengaruh hormon progesteron yang menekan aktivitas

fagositosis oleh sel-sel leukosit,

sehingga serviks tertutup dan membuat nanah berakumulasi dan terhambat pengeluarannya
(Ibrahim, 2000).
b) Patogenesis
Piometra adalah hasil dari pengaruh hormonal yang menurunkan ketahanan tubuh
normal terhadap infeksi. Progesteron juga menghambat respon sel darah putih terhadap
infeksi bakteri menyebabkan hanya sedikit leukosit-leukosit yang tiba di dalam mukosa
saluran genital dan menyebabkan infeksi uterus mudah terjadi. Bakteri yang secara normal
ada dalam uterus maupun yang berasal dari luar tubuh kemudian pindah dari vagina ke uterus
melalui aliran darah berkembang biak diantara glandula uterina dan lumen. Jika bakteri
tersebut sangat virulen, sel darah putih (leukosit) tidak bisa membunuhnya. Leukosit akan
mati dan terakumulasi sebagai nanah. Nanah dan sekresi kelenjar uterin yang tertimbun di
dalam uterus tidak dapat dikeluarkan karena kadar progesteron yang tinggi mengakibatkan
negatif feedback (efek negatif) pada kelenjar pituitaria anterior sehingga kadar esterogen
rendah dan kontraksi uterus berkurang. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya korpus
luteum dan kista-kista folikel pada ovarium hewan yang menderita piometra (Ibrahim, 2000).
c) Gejala Klinis
Umumnya gejala yang tampak adalah adanya leleran vagina purulen (kekuningan),
anestrus, karena adanya korpus luteum persisten. Pembesaran uterus dibedakan dari
kebuntingan muda dengan sifat cairan dalam uterus dan ketebalan dinding uterus. Cairan
fetus lebih pekat dari endometritis dan dinding uterus lebih tebal (Toelihere, 1985).
Gejala pada hewan betina penderita piometra adalah tidak munculnya berahi dalam
waktu yang lama atau anestrus, siklus berahi hilang karena adanya CL persistenn. Cairan
nanah mengisi penuh uterus dapat ditemukan dengan palpasi rektal, dan adanya leleran
(discharge) yang bisa dilihat di sekitar ekor (Toelihere, 1985).
Gejala klinis dari pyometra sangat tergatung pada kondisi cervik uterus yang bersifat
terbuka atau tertutup, jika bersifat terbuka nanah dari uterus akan terlihat keluar melalui
vagina dan bulu dibawah ekor terlihat kotor. Demam, lesu, anoreksia dan stress dapat muncul
pada hewan menderita pyometra. Jika cervik uterus tertutup, maka nanah yang terbentuk
didalam uterus tidak mampu mengalir keluar melalui vagina sehingga nanah akan
terakumulasi didalam uterus dan dapat menyebabkan bengkak/penggelembungan pada daerah
abdomen. Bakteri-bakteri yang terdapat didalam uterus akan melepaskan toksin-toksin yang

akan diserap dan dibawah melalui sirkulasi darah ke seluruh tubuh dan biasanya dapat
berakhir dengan kematian. Patogenesa penyakit ini pada hewan betina yang mengalami
pyometra tertutup berlangsung sangat akut, hewan akan memperlihatkan gejala anoreksia,
sangat lesu, dan depresi (Ibrahim, 2000).
d) Diagnosis
Hasil dianogsa dapat diperjelas jika terjadi pemucatan pada vagina atau
membesarnya daerah abdomen dan keluarnya nanah melalui vagina pada pyometra tertutup,
pemeriksaan darah biasanya akan memperlihatkan gambaran sel darah putih yang sangat
meningkat, kerusakan ginjal dapat juga terjadi akibat dari toksin-toksin dari bakteri,
bagaimanapun juga semua kelainan ini umum terjadi pada kejadian infeksi oleh bakteri.
Dignosa dengan x-ray dapat dilakukan untuk memastikan penyebab pembengkakan daerah
abdomen dan uterus (Ibrahim, 2000).
e) Diferensial Diagnosis
Diferensial diagnose piometra adalah kebuntingan, mumifikasi fetus, dan maserasi
(Ibrahim, 2000).
f) Prognosis
Apabila kasus piometra dapat didiagbosa dan diobeati lebih cepat, maka hewan akan
sembuh, sehingga prognosanya adalah fausta hingga dubius (Toelihere, 1985).
g) Terapi
Pemberian oksitosin bertujuan untuk menimbulkan kontraksi uterus sehingga cairan
di uterus bergerak keluar. Lalu prostaglandin menyebabkan luteolisis, kontraksi miometrium,
relaksasi servix, dan pengeluaran eksudat uterus. Setelah itu baru diberikan antibiotik
(Hardjopranjoto, 1995).
Pemberian preparat estrogen atau sintesisnya bertujuan untuk mendorong terjadinya
kontraksi uterus dan pembukaan cerviks. Untuk itu diberikan Dietil stilbestrol (larutan dalam
minyak mengandung 10 mg/ml). Pada hewan besar seperti sapi diberikan 50-100mg secara
intramuskuler diulang 4 hari sekali. Obat lain yang dapat dipakai adalah Hypophysin yang
didalamnya mengandung oksitosin, diberikan sebanyak 60-100 IU atau 3-5 ml secara
intramuskuler atau subcutan. Pengobatan ini mengakibatkan kontraksi dinding uterus dan
membuka cerviks diikuti keluarnya nanah dan terjadi involusi uterus

Irigasi ke dalam saluran uterus dapat dilakukan dengan larutan yodium 1-2%,
kadang-kadang dapat memberikan hasil yang cukup baik dalam usaha mengeluarkan nanah
dari uterus. Stimulasi pada uterus dapat dilakukan dengan cairan antiseptik seperti larutan
lugol sebanyak 2,5 ml yang dicampur ke dalam 250 ml aquades. Larutan ini diberikan untuk
irigasi dalam uterus
C. Prostatitis
a) Etiologi
Prostatitis merupakan suatu infeksi (peradangan) kelenjar prostat yang diakibatkan
karena struktur abnormal uretra atau infeksi kuman yang ditularkan melalui hubungan
seksual. Penyebab pasti dari penyakit prostatitis tidak diketahui secara pasti tetapi biasanya
merupakan hasil dari penyebaran bakteri di saluran kandung kemih (Akmal, 1999).
Bakteri dari kandung kemih dan uretra menyebar ke prostat. Bakteri penyebab
prostatitis adalah Brucella sp, Staphylococcus sp, Streptococcus sp. Selain itu penyebab dari
prostatitis juga disebabkan oleh beberapa faktor yaitu penyumbatan saluran kencing, stimulasi
urin, gangguan sistem syaraf, kekebalan tubuh yang rendah, serta adanya cedera pada daerah
prostat dan sekitarnya (Akmal, 1999).
b) Patogenesis
Agen kausatif yang bersifat patogen bila masuk ke daerah yang fungsi pertahanannya
abnormal, misalnya bila selaput mukosa dan kulit "\robek karena kerusakan kulit langsung;
pada pemakaian kateter intravena atau kateter air kemih ; atau bila terdapat netropenia,
misalnya pada kemoterapi kanker. Kuman melekat dan mengkoloni selaput mukosa atau kulit
dan menginvasi secara lokal dan menimbulkan penyakit sistemik termasuk prostatitis. Proses
ini dibantu oleh phili, enzim dan toksin bakteri causatif. Lipopolisakarida berperan langsung
yang menyebabkan demam, syok, oliguria, leukositosis, dan leukopenia, disseminated
intravascula coagulation dan respiratory distress syndrome (Anderson et al, 2007).
Mekanisme terjadinya inflamasi secara alami karena host tersebut meliputi barrier
dari mukosa saluran reproduksi, keasaman larutan pada prostat (pH 6.1 sampai 6.5), peristal
uretra, mekanisme flushing selama urinasi dan ejakulasi, area tekanan uretra yang tinggi,
kandungan zink pada prostat sebagai antibacterial faktor yang dihasilkan oleh kelenjar prostat
ke cairan seminal. Faktor-faktor tersebut yang memicu terjadinya infeksi dan munculnya
prostatitis secara alami dari host. Prostatitis dapat terjadi dalam dua tipe yaitu akut prostatitis
dan kronis prostatitis (Anderson et al, 2007).

c) Gejala Klinis
Tanda-tanda klinis prostatitis bervariasi dengan tingkat keparahan infeksi dan apakah
penyakit ini termasuk tipe akut atau tipe kronis. Gejala-gejala berikut bisa menunjukkan
adanya kondisi ini demam, nyeri saat buang air kecil dan terdapat tetesan nanah atau darah
dari penis atau urin, pollakiuria terkait dengan infeksi saluran kemih, kaki belakang kaku,
vomit, dan anoreksia (Krieger, 1999).
d) Diagnosis
Langkah pertama yang dilakukan dalam menentukan diagnosa yaitu dengan
mengamati gejala klinis yang tampak. Selanjutnya dapat melakukan melakukan uji fisik
seperti palpasi abdominal, sapi akan merasa kesakitan jika kita palpasi pada daerah tersebut.
Sapi dengan prostatitis yang akut biasanya sering merasa sakit dan prostata mereka
membesar. Selain itu kita juga dapat melakukan pemeriksaan urin pada sapi, dengan
mengambil sampel urin kemudian dibiakkan dalam Kultur media. Sehingga apabila dianalisis
tampak adanya bakteri maka dapat menujukkan hasil jika positif kita dapat mengetahui
adanya peradangan pada saluran urinary yang disebabkan oleh infeksi bakteri, salah satunya
yaitu prostatitis (Michel , 2008).
Selain itu dapat juga dilakukan analisa urin misalkan didalam urin banyak
mengandung akan sel-sel darah merah dan sel darah putih karena menunnjukkan adanya suatu
peradangan. Radiograf abdominal (X-ray) merupakan prosedur yang memungkinkan dokter
hewan untuk memvisualisasikan jaringan, organ dan tulang yang terletak di bawah kulit. Xray sangat membantu untuk mengukur ukuran dan bentuk kelenjar lebih akurat. bila terjadi
peradangan pada kelenjar prostat maka akan tampak adanya perubahan ukuran terutama pada
kasus akut prostatitis yang akan mengalami pembesaran. (Krieger, 1999).

e) Diferensial Diagnosis
Diferensial diagnosa atau dignosa banding prostatitis adalah orchitis

(Michel ,

2008).
f) Prognosis
Prognosa prostatis adalah fausta hingga dubius, apabila diberikan antibiotik dan
manajemen perkandangan yang baik maka hewan dapat disembuhkan (Michel , 2008).
g) Terapi

Pengobatan memerlukan program berkepanjangan (4-8 minggu) dengan antibiotik


yang bisa menembus prostat dengan baik. Diantaranya yaitu quinolones (ciprofloxacin,
levofloxacin), sulfas (Bactrim, Septra), Doxycycline and macrolides (erythromycin,
clarithromycin). Infeksi persisten bisa diatasi (80% pasien) dengan menggunakan blockers
(tamsulosin, flomax, alfuzosin), atau untuk terapi jangka panjang bisa diberi terapi antibiotik
dosis rendah. Infeksi berulang dapat disebabkan karena buang air kecil yang tidak tuntas
(hipertrofi prostatic jinak), batu prostat atau kelainan struktural yang berfungsi sebagai
reservoir untuk infeksi (Krieger, 1999).

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Mastitis adalah suatu peradangan pada internal ambing. Istilah mastitis berasal dari kata
mastos yang artinya kelenjar ambing dan itis untuk inflamasi.
2. Piometra merupakan penyakit dimana terjadi penimbunan nanah pada uterus akibat
terjadinya endometritis kronis

3. Prostatitis merupakan suatu infeksi (peradangan) kelenjar prostat yang diakibatkan


karena struktur abnormal uretra atau infeksi kuman yang ditularkan melalui hubungan
seksual.
B. Saran
Sebaiknya dilakukan perawatan yang baik pada sapi agar tidak terjadi penyakit pada
reproduksi.

DAFTAR PUSTAKA

Abrar, M., I Wayan T.W., Bambang P.P., Mirnawati S., dan Fachriyan H.P. 2012. Isolasi dan
Karakteristik Hemaglutinin Staphylococcus sureus Penyebab Mastitis pada Sapi
Perah. Jurnal Kedokteran Hewan. ISSN : 1978 225 X. Vol. 6. No. 1 Maret 2012.
Akmal ,Taher.1999 . Model penanganan penderita Disfungsi Ereksi, Jakarta: INA-EDACT
Anderson JK, Kabalin JN, Cadeddu JA. 2007. Surgical Anatomy of the Retroperitonium,
Adrenals, Kidneys, and Ureters. Campbell-Walsh Urology. 9th Ed. Philadelphia:

Saunders-Elsevier
Andika, Ibrahim. 2008. Manajemen Pemeliharaan yang Buruk Pemicu Malnutrisi. Medan :
Bina Ilmu.
Anri, A. 2008. Manual on Mastitis Control. The Project for Improvement of Countermeasures
on the Productive Diseases on dairy Cattle in Indonesia. Jica Indonesia Office,
Jakarta
Foley, R. C., Bath, D. L., Dickinson, F. N., & Tucker, H. A. (1972). Dairy cattle principles,
practices, problems, profits. Library of Congress Catalog Card No. 76-152022. ISBN
0- 8121-0309-2. P-669.
Frandson, R.D. (1993). Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Universitas Gadjah
Mada Press, Yogyakarta.
Hidayat A.drh. 2008, Buku Petunjuk Praktis untuk Peternak Sapi Perah tentang,Manajemen
Kesehatan Pemerahan, Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat
Hurley WL. 2000. Mammary tissue organization. Lactation Biology.ANSCI 308.
http://classes aces.uiuc.edu/Ansci 308
Ibrahim R. 2000. Pengantar Ilmu Bedah Veteriner. Syiah Kuala University Press. Banda
Aceh.
Krieger JN. 1999. Prostatitis Syndrome. In: Sexually Transmitted Diseases 3th Ed. New York:
McGraw-Hill
Michel A. Pontari , Michael R. Ruggieri. 2008. Mechanisms In Prostatitis/Chronic Pelvic Pain
Syndrome. Nihpa Author Manuscripts
Lund BM, Baird-Parker TC, Gould GW. 2000.The Microbiological Safety and Quality of
Food. Volume 1. Maryland: Aspen Publishers, inc.
Jawetz, E., Melnick, J.L. and Adelberg, E.A. 2005 Mikrobiologi kedokteran. Buku 1. Penerbit
Salemba Medika. Jakarta.
Kirk, J.H. and Lauerman, L.H. 1994. Mycoplasma mastitis in dairy cows. Veterinarian. 16:
541-551
Partodiharjo, R. 1987. Ilmu Reproduksi Hewan. Penerbit Mutiara Sumber Widya, Jakarta.
Purnomo, A., Hartatik, Khusnan, S. I. O., Salasia dan Soegiyono. 2006. Isolasdan
Karakterisasi Staphylococcus aureus Asal Susu Kambing Peternakan Ettawa. Media
Kedokteran Hewan. 22 (3): 142 - 147.
Subronto. 2004. Ilmu Penyakit Ternak I. UGM Press: Yogyakarta
Toelihere, M.R. (1985). Ilmu Kebidanan Pada Sapi dan Kerbau. Universitas Indonesia Press,
Jakarta.

Sudarwanto M. 1982. Penggunaan metode Aulendorfer Mastitis Probe (AMP) untuk


mendiagnosa mastitis subklinik. Prosiding Pertemuan Ilmiah Ruminansia Besar,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Balai Penelitian dan
Pengembangan, Departemen Pertanian; Bogor, 7-9 Desember 1982. Bogor:
Puslitbang Peternakan, Balitbang Pertanian, Dep. Pertanian.
Wahyuni, A.E.T.H, I.W.T Wibawan, F.H Pasaribu dan B.P Priosoeryanto. 2006. Distribusi
serotipe Streptococcus agalactiae penyebab mastitis subklinis pada sapi perah di
Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. J Sains Vet 7(1):1-8
Williamson, G., W.J.A, Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. GMU- Press,
Yogyakarta.