Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

ANALISA INCREMENTAL
( Tugas Ekonomi Teknik )

Disusun oleh :
AHMAD SUKAERI

1441177003017

ALDIMAS F. ARIANTO

1441177003098

ROY SANDI M.

1441177003059

RUSLAN ABDUL G.

1441177003139

SUSI APRIANI B.

1441177003145

FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI


UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur panjatkan kehadirat Allah SWT, salawat dan salam tak lupa terlimpahkan
kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW. Karena atas rahmat dan karunianya kami dapat
menyelesaikan makalah metrologi dan perancangan alat bantu .
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bp. Ahmad Surahman, Ir.,MM.
2. Keluarga yang selalu memberi motivasi dan doa
3. Seluruh mahasiswa/I teknik Unsika
Kami menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan kekeliruan, untuk itu
kami akan sangat berbesar hati apabila pembaca dapat member masukan dan saran demi
penyempurnaan makalah metrologi dan perancangan alat bantu ini.
Terimakasih kepada pembaca makalah ini, mudah-mudahan makalah ini dapat memberi
pengetahuan dan bermanfaat bagi kita semua.

Karawang, Mei 2016

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam sebuah ruang lingkup ekonomi dibutuhkan adanya pengambilan keputusan dalam
sebuah perusahaan dan dalam ekonomi teknik disebut analisai incremental. Analisis Incremental
adalah pemilihan atas dua alternatif dengan cara menentukan selisih cash flow dari kedua
alternatif, umumnya dipakai untuk menentukan IRR (Internal Rate of Return ) dari dua alternatif
yang memiliki keseluruhan cash flow negatif (kecuali nilai sisa).
Ilmu ekonomi tidak pernah lepas dari ilmu teknik, terutama dalam perancangan dan
penerapannya dalam masyarakat. Dan hal tersebut selalu ada beberapa alternative dalam
pelaksanaanya yang masing masing alternative memiliki keuntungan dan kerugian yang
berbeda- beda jenis dan jumlahnya. Namun penyelesain masalah tersebut selalu memiliki kriteria
ekonomi, dan kriteria tersebut digunakan untuk memilih satu dari banyak alternatif yang tersedia
tersebut.
1.2 Tujuan Pembuatan Makalah
1. Tujuan pembuatan makalah ini untuk memenuhi tugas yang di berikan oleh dosen
mata kuliah ekonomi teknik.
2. Untuk menambah wawasan pembaca tentang analisis incremental. Memahami
tentang analisis incremental, benefit cost rasio, analisa payback period, break event point dan
analisis sesitivitas.
1.3 Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan membahas tentang :
1. pengertian analisis incremental, benefit cost rasio, analisa payback period, break event point
dan analisis sesitivitas.
2. pengertian konsep dasar analisis incremental, benefit cost rasio, analisa payback period, break
event point dan analisis sesitivitas.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Analisis Incremental
A. Pengertian
Analisis Incremental adalah pemilihan atas dua alternatif dengan cara menentukan selisih
cash flow dari kedua alternatif, umumnya dipakai untuk menentukan IRR (Internal Rate of
Return ) dari dua alternatif yang memiliki keseluruhan cash flow negatif (kecuali nilai sisa).
Incremental analysis kadang-kadang disebut analisis marjinal atau analisis diferensial, digunakan
untuk menganalisis informasi keuangan yang diperlukan untuk pengambilan keputusan. Lebih
jelasnya, ini mengidentifikasi pendapatan yang relevan dan biaya-biaya dari setiap alternatif dan
dampak yang diharapkan dari setiap alternatif itu pada pendapatan masa depan. Biasanya
Incremental Analysis itu meliputi :

Menjual atau memproses secara lanjut


Memperbaiki atau membeli baru
Menyimpan atau mengganti barang tertentu
Membuat atau membeli sejumlah barang tertentu
Menjual sekarang atau memproses barang lebih lanjut
Menyewa ruangan lain atau melanjutkan kegiatan
Melanjutkan atau menghentikan produksi
Menerima atau menolak penawaran khusus
Perubahan jangka waktu kredit
Membuka tempat baru
Membeli atau menyewa

B. Rumus
Probabilitas (P) bahwa akan ada permintaan barang ke-n sama dengan probabilitas bahwa
permintaan barang akan sama atau lebih besar dari n. Ini berarti tidak akan ada permintaan
untuk barang ke-n apabila permintaan barang lebih kecil dari n, sehingga jumlah dari kedua nilai
probabilitas ialah satu.
P(D n) + P(D < n) = 1
Apabila menyediakan barang ke-n dan ada permintaan untuk barang tersebut, kemungkinan
akan mengalami kerugian 0 (nol). Namun, apabila menyediakan barang ke-n dan tidak ada

permintaan, maka akan mengalami kerugian karena penyediaan berlebih (over stocking)
sebesar :
Lo. EL (Q > n) = Lo . P(D < n)
Apabila tidak menyediakan barang ke-n tetapi ada permintaan untuk barang tersebut,
kemungkinan akan mengalami kerugian akibat penyediaan kurang sebesar Lu. Sebaliknya,
apabila tidak menyediakan barang ke-n dan tidak ada permintaan untuk barang tersebut, tidak
akan mengalami kerugian. Harapan kerugian karena tidak menyediakan barang ke-n sebesar
penyediaan berlebih dikalikan probabilitas.
EL (Q < n) = Lo . P(D n)
Syarat yang diperlukan untuk menyediakan barang ke-n ialah apabila harapan menyediakan
akan sama atau lebih kecil dari harapan kerugian tidak menyediakan. Dengan kata lain, dapat
dituliskan hubungan berikut:
Lo . P(D < n) Lu . P(D n)
Jumlah probabilitas dari kedua kejadian tersebut sama dengan satu, yaitu
P(D n) + P(D < n) = 1. Karena P(D n) = 1 - P(D < n), maka dapat ditulis
Lo . P(D < n) Lu . P(D n)
Lo . P(D < n) Lu . [1 - P(D < n)]
Lo . P(D < n) Lu - Lu . P(D < n)
Jika ditambahkan Lu . P(D < n) di kedua belah pihak
Lo . P(D < n) + Lu . P(D < n) Lu - Lu . P(D < n) + Lu . P(D < n) Lo . P(D < n) + Lu . P(D
< n) Lu
P(D< n) . [Lo + Lu] Lu
Dengan membagi kedua belah pihak dengan Lo + Lu , diperoleh
P (D < n ) LuLo+Lu
Hubungan di atas menunjukkan bahwa untuk penyediaan barang ke-n,
probabilitas kumulatif barang kurang atau lebih kecil dari n akan sama atau lebih
kecil dari rasio kerugian karena penyediaan berlebih (Lo) dengan jumlah kerugian
karena penyediaan berlebih dan berkurang (Lo + Lu).

C. Contoh kasus dan Jawabannya


Analisis Incremental Cost dalam Pengambilan Keputusan untuk Menerima atau Menolak
Pesanan Khusus
PT. Monetta memproduksi ikat pinggang dalam pabrik yang berkapasitas 1500 satuan pertahun .
Untuk tahun anggaran 2012 perusahaan merencanakan akan memproduksi dan menjual produk
tersebut sebanyak 1000 satuan dengan harga jual sebesar Rp.5000 persatuan. Anggaran biaya
untuk tahun tsb sbb:

Persatuan
Biaya Variabel:
By. Produksi variabel
By. Komersial variabel
Biaya Tetap:
By.Produksi tetap
By. Komersial tetap

Total
Rp.800
300

Rp.800.000
300.000

700
700.000
600
600.000
Rp.2400
Rp2.400.000
Misal perusahaan menerima pesanan khusus sebanyak 350 satuan produk tersebut dari
perusahaan lain. Harga yang diminta oleh pemesan Rp.2000 perpesanan.
Pendapatan diferensial :
350 satuan x Rp.2000
Rp.700.000
Biaya diferensial:
By. Produksi Variabel
Rp.280.000
By. Komersial Variabel
Rp.105.000
Rp.385.000
Laba Diferensial
Rp. 315.000

2.2 Benefit Cost Ratio


A Pengertian
Benefit cost ratio adalah perbandingan nilai ekuivalen semua manfaat terhadap nilai
ekuivalen semua biaya. Nilai ekuivalen dapat dilakukan menggunakan analisis nilai sekarang,
nilai yang akan datang atau nilai tahunan. Metoda pemilihan alternatif yang berdasarkan atas
dasar Ratio Benefit (B) terhadap Cost (C) yang terjadi pada proyek tertentu ( biasanya proyek
pemerintah). Suatu evaluasi yang berdasarkan selisih antara Benefit dan Cost adalah B C.
Kriteria pengambilan keputusan berdasarkan nilai B/C yang diperoleh jika dari dua alternatif
yang dibandingkan diperoleh nilai B/C > 1 maka alternatif dengan biaya yang lebih besar yang
dipilih. Namun jika dua alternatif yang dibandingkan nilai B/C < 1 maka alternatif dengan biaya
yang lebih kecil yang dipilih.
B. Rumus

Benefit cost ratio analysis secara matematis merupakan perbandingan nilai ekuivalen semua
benefit terhadap nilai ekuivalen semua biaya. Perhitungan ekuivalensi bisa menggunakan salah
satu dari beberapa analisis. Contohnya :
B/C= PWbenefit/(PW cost)= FWbenefit/FWcost=AWbenefit/AWcost
Untuk kriteria pengambilan keputusan untuk alternatif tunggal adalah dengan cara melihat
nilai dari B/C apakah besar dari sama dengan satu atau kecil dari satu.

Jika B/C 1 , maka alternatif investasi atau proyek layak (feasible), diterima
Jika B/C < 1 , maka alternatif investasi atau proyek tidak layak (not feasible)

C. Contoh Kasus dan Jawabannya


Contoh alternatif tunggal :
Sebuah perusahaan sedang mempertimbangkan untuk membeli peralatan baru seharga
Rp.35.000.000. Dengan peralatan baru itu bisa dilakukan penghematan sebesar Rp.500.000 per
tahun selama 5 tahun. Pada akhir tahun ke 5 peralatan itu memiliki nilai jual sebesar 40.000.000.
apabila tingkat pengembalian 9% per tahun. Apakah pembelian peralatan baru tersebut
menguntungkan?
Penyelesaian :
Dengan menggunakan pendekatan present worth maka semua biaya dan benefit ditarik ke
present
B/C= (500.000 (P/A,9%,5)+40.000.000 (P/F,9 %,5))/35.000.000
B/C= (500.000 (3,88966)+40.000.000 (0,64993))/35.000.000
B/C= 0,79
karena kurang dari 1 maka investasi pembelian peralatan baru tidak layak atau tidak
menguntungkan.
2.3 Analisa Payback Period
A. Pengertian
Analisis payback period menghitung waktu yang diperlukan arus kas masuk sama dengan
arus kas keluar. Analisis ini biasanya digunakan untuk mengukur tingkat resiko alternatif
berkaitan dengan seberapa cepat nilai investasi dapat dikembalikan. Alternatif dengan periode
pengembalian yang lebih singkat merupakan pilihan yang lebih menarik. Hasil analisis payback
period hanya menyajikan kecepatan pengembalian investasi. Di harapkan seluruh pendapatan

sudah dapat memenuhi syarat seluruh pengeluaran dengan tidak memperhitungkan bunga.
Sehingga bisa dikatakan bahwa payback period adalah break event project tanpa menghitung
bunga.
Jika payback period suatu investasi kurang dari payback period yang disyaratkan, maka
usulan investasi layak diterima semua. Masalah-masalah dgn payback period:

Mengabaikan aliran kas masuk setelah periode cutofff. Contoh: $2000 di tahun 3 untuk
proyek A diabaikan. Juga $5000 di tahun 5 untuk proyek B. Walaupun $5.000 diganti dgn

$50.000, itu tidak mempengaruhi decision pada metode payback period.


Metoda payback tidak mempertimbangkan nilai waktu uang.

B. Rumus
Periode Payback menunjukkan berapa lama (dalam beberapa tahun) suatu investasi akan
bisa kembali. Periode Payback menunjukkan perbandingan antara initial investment dengan
aliran kas tahunan, dengan rumus umu sebagai berikut :
Payback Period = Nilai InvestasiProceed
Apabila periode payback kurang dari suatu periode yang telah ditentukan proyek tersebut
diterima, apabila tidak proyek tersebut ditolak. Jangka waktu yang dibutuhkan untuk
mengembalikan nilai investasi melalui penerimaan penerimaan yang dihasilkan oleh proyek
investasi tersebut juga untuk mengukur kecepatan kembalinya dana investasi. Rumus periode
pengembalian jika arus kas per tahun jumlahnya berbeda
Payback Period = n+a-bc-bX 1 tahun

Dimana :
n = Tahun terakhir dimana jumlah arus kas masih belum bisa menutup investasi

mula-

mula
a = Jumlah investasi mula-mula
b = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n
c = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n + 1
Semakin lama payback periodnya, semakin jelek siklus keuangan perusahaan tersebut.
Payback Period dihitung dengan menambahkan seluruh cash inflow proyek sampai cash in flownya positif. konsep yang digunakan:
CF proyek = Net Income + Depresiasi

C. Contoh Kasus dan Jawabannya


Liverpool Inc. merencanakan untuk membangun fasilitas kebugaran bagi masyarakat umum.
Biaya investasi untuk membangun fasilitas ini sebesar Rp 200 M dan fasilitas ini akan memiliki
umur ekonomis 4 tahun. Biaya modal proyek ini sebesar 11%. Depresiasi fasilitas ini akan
dihitung dengan menggunakan metode garis lurus tanpa nilai sisa. Informasi mengenai laba
bersih (Net Income) dari proyek ini adalah data berikut:
Tahun 1
2
3
4
Net Income 30M 40M 50M 50M
berdasarkan data diatas, hitung:
1. Average Accounting Return (AAR)
2. Payback Period
3. Discounted Period
Penyelesaian:
ARR = rata-rata NI / rata-rata ASSET
rata-rata NI = (30+40+50+50)/ 4
= 42,5 M
rata-rata ASSET = (200+0)/ 2
= 100 M
jadi AAR = 42,5/ 100
= 0,425
= 42,5%
2.4 Break Event Points
A. Pengertian
Dalam beberapa kondisi ekonomi, biaya dari suatu alternatif mungkin merupakan fungsi dari
suatu variabel. Jika dua atau lebih alternatif merupakan fungsi dari suatu variabel yang sama,
kemudian ingin ditentukan nilai dari variabel tersebut sedemikian hingga biaya kedua alternatif
tersebut sama. Nilai dari variabel yang diperoleh disebut sebagai titik (break-event point).
Jika biaya dari suatu alternatif merupakan fungsi dari satu variabel yang dapat berupa
beberapa nilai tertentu maka adalah bermanfaat untuk menentukan nilai suatu variabel dimana
biaya minimal. Nilai variabel yang demikian disebut biaya minimal (minimum, cost point).
Beberapa alternatif yang merupakan fungsi dengan variabel yang sama dapa dibandingkan
berdasarkan, biaya minimal.
B. Rumus

Jika proyek feasible karena IRR > MARR


NPV> 0
Dan jika tidak feasible karena IRR < MARR
NPV< 0
Rumus BEP untuk menghitung berapa unit yang harus dijual agar terjadi Break Even
Point :
BEP=Total fixed costHarga jual per unit di kurangi variable cost
Rumus BEP untuk menghitung berapa uang penjualan yang perlu diterima agar terjadi
BEP :
BEP=Total fixed costHarga jual per unit di kurangi variable cost X Harga jual
perunit

C. Contoh Kasus dan Jawabannya.


Fixed Cost suatu toko lampu : Rp.200,000,Variable cost Rp.5,000 / unit
Harga jual Rp. 10,000 / unit
Penyelesaiannya
Maka BEP per unitnya adalah
BEP=Rp.200,000Rp.10,000-Rp.5,000

= 40 Units
Artinya perusahaan perlu menjual 40 unit lampu agar terjadi break even point. Pada pejualan
unit ke 41, maka took itu mulai memperoleh keuntungan
2.5 Analisis Sensitivitas
A. Pengertian
Analisis sensivitas merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui akibat dari
perubahan parameter-parameter produksi terhadap perubahan kinerja system produksi dalam
menghasilkan keuntungan. Dengan melakukan analisis sentivitas maka akibat yang mungkin
terjadi dari perubahan-perubahan tersebut dapat diketahui dan diantisifikasi sebelumnya.

Contoh :

Perubahan biaya produksi dapat mempengaruhi tingkat kelayakan.


Alasan dilakukannya analisis sentivitas adalah untuk mengantisipasi adanya perubahan-

perubahan berikut :

Adanya cost overrn, yaitu kenaikan biaya-biaya, seperti biaya konstruksi, biaya bahan baku,

produksi, dsb.
Penurunan produktivitas
Mundurnya jadwal pelaksanaan proyek
Tujuan Analisis Sensitivitas : Menilai apa yang terjadi dengan hasil analisis kelayakan suatu

kegiatan investasi atau bisnis apabila terjadi perubahan di dalam perhitungan biaya atau manfaat

Analisis kelayakan suatu usaha ataupun bisnis perhitungan umumnya di dasarkan pada
proyeksi-proyeksi yang mengandung ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi di waktu

yang akan datang


Analisis pasca criteria investasi yang digunakan untuk melihat apa yang akan terjadi dengan
kondisi ekonomi dan hasil analisisbisnis jika terjadi perubahan atau ketidaktepatan dalam
perhitungan biaya atau manfaat

B. Rumus
Harga komoditas (product price) akan berpengaruh terhadap revenue recovery dari Au, Ag, Pt,
Pd,Se dan slag Pb.
Product price baru = Product price awal + Product price awal x sensitivitas Product price
Misalnya untuk Au dengan sensitivitas product price sebesar 10% dan -10%;
Untuk level sensitivitas 10 %:
Product price Au = 727.5 USD/oz + 727.5 USD/oz x 10% = 800.25 USD/oz
Untuk level sensitivitas -10 %:
Product price Au = 727.5 USD/oz - 727.5 USD/oz x 10% = 654.75 USD/oz
C. Contoh Kasus dan Jawabannya
Table analisis penggilingan padi (dalam ribu Rp)
Tahun
0

C
5000

B
0

B-C

DF

NPV

DF

NPV

DF

NPV

-5000

15%
1

15%
-5000

30%
1

30%
-5000

50%
1

50%
-5000

1
2
3
4
5
6
7
8

3000
2500
2500
2000
2000
2000
2000
2000

4000
4000
5000
5000
5000
5000
5000
7000

1000
1500
2500
3000
3000
3000
3000
5000

0.87
0.756
0.658
0.572
0.497
0.432
0.376
0.327
NPV=

870
1134
1645
1716
1491
1296
1128
1635
5915

0.769
0.592
0.455
0.35
0.269
0.207
0.159
0.123

769
888
1137.5
1050
807
621
477
615
1364.
5

Hasil analisis :
NPV (pada tingkat discount rate 15% per tahun ) = Rp 5915
NetBC =870+1134+1645+1716+1491+1296+1128+16355000
= 2.183

IRR=1365000 X ( 50-30 )30+1365000-( -1301000 )

= 40.24 %

0.667
0.444
0.296
0.198
0.132
0.088
0.059
0.039

667
666
740
594
396
264
177
195
-1301

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Analisis incremental
sangat diperlukan untuk pengambilan keputusan dalam sebuah perusahaan dan dalam ekonomi.
Analisa incremental dapat digunakan untuk menganalisis informasi keuangan yang diperlukan
untuk pengambilan keputusan. Lebih jelasnya, dapat mengidentifikasi pendapatan yang relevan
dan biaya-biaya dari setiap alternatif dan dampak yang diharapkan dari setiap alternatif itu pada
pendapatan masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

http://mysweetestfamily.wordpress.com/2011/05/20/incremental-analysis-pembahasan/
http://anggih91.wordpress.com/2012/10/05/menerima-atau-menolak-pesanan-khusus/
http://ekonomiteknik-itt.blogspot.com/2012/01/benefit-cost-ratio.html
http://paybackperiods.blogspot.com/
http://d3unggulan.bl.ac.id/materi/SEMESTER%20PENDEK/PPSI/Soal%20tugas.ppt
http://www.wealthindonesia.com/wealth-growth-and-accumulation/cara-simple-menghitung-

break-even-point-dalam-usaha.html
http://irnawt.wordpress.com/2011/04/28/pengertian-definisi-dan-rumus-bep-break-even-point4/

http://achmad-amirudin21.blogspot.com/2012/05/analisis-sensitivitas-titik-impas.html

Beri Nilai