Anda di halaman 1dari 13

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Krim
Menurut formularium nasional krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi
kental mengandung air tidak kurang dari 60%, dimaksudkan untuk pemakaian luar.
Krim adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut dalam
bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah
padat yang mempunyai konsistensi relatif cair yang diformulasikan sebagai emulsi air dalam
minyak atau minyak dalam air. Sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk
yang terdiri dari emulsi minyak dalam air, yang dapat dicuci dengan air atau lebih
ditunjukkan untuk penggunaan kosmetika (Depkes RI, 1995).
B. Penggolongan Krim
Krim terdiri dari emulsi minyak di dalam air atau disperse mikrokristal asam-asam lemak
atau alcohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan
untuk pemakaian kosmetika dan estetika. Ada 2 tipe krim, yaitu :
1.Tipe M/A atau O/W
Vanishing cream adalah kosmetika yang digunakan untuk maksud membersihkan,
melembabkan, dan sebagai alas bedak. Vanishing cream
Krim m/a (vanishing cream) yang digunakan melalui kulit akan hilang tanpa bekas.
Pembuatan krim m/a sering menggunakan zat pengemulsi campuran dari surfaktan (jenis
lemak yang ampifil) yang umumnya merupakan rantai panjang alcohol walaupun untuk
beberapa sediaan kosmetik pemakaian asam lemak lebih popular. Contoh : vanishing cream.
sebagai pelembab (moisturizing) meninggalkan lapisan berminyak/film pada kulit.
2. Tipe A/M atau W/O
Krim berminyak mengandung zat pengemulsi A/M yang spesifik seperti adeps lane, wool
alcohol atau ester asam lemak dengan atau garam dari asam lemak dengan logam bervalensi
2, missal Ca. Krim A/M dan M/A membutuhkan emulgator yang berbeda-beda. Jika
emulgator tidak tepat, dapat terjadi pembalikan fasa. Contoh : Cold cream
Cold cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud memberikan rasa
dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih berwarna putih dan bebas dari
butiran. Cold cream mengandung mineral oil dalam jumlah besar.
C. .Bahan-Bahan Penyusun Krim
a. Bahan bahan penyusun krim, antara lain :
1. Zat berkhasiat
2. Minyak
3. Air
4. Pengemulsi

Bahan pengemulsi yang digunakan dalam sediaan krim disesuaikan dengan jenis dan sifat
krim yang akan dibuat/dikehendaki. Sebagai bahan pengemulsi dapat digunakan emulgide,
lemak bulu domba, setaseum, setil alcohol, stearil alcohol, trietanolalamin stearat, polisorbat,
PEG.

b. Bahan bahan tambahan dalam sediaan krim, antara lain :

1. Zat pengawet untuk meningkatkan stabilitas sediaan


Bahan pengawer sering digunakan umumnya metal paraben 0,12 0,18 % propel paraben
0,02 0,05 %.
2. Pendapar untuk mempertahankan PH sediaan
3. Pelembab
4. Antioksidan untuk mencegah ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya pada minyak tak
jenuh.
D. Kelebihan & Kekurangan Sediaan Krim
a. Kelebihan
1. Mudah menyebar rata
2. Praktis
3. Mudah dibersihkan atau dicuci
4. Cara kerja berlangsung pada jaringan setempat
5. Tidak lengket terutama tipe m/a
6. Memberikan rasa dingin (cold cream) berupa tipe a/m
7. Digunakan sebagai kosmetik
8. Bahan untuk pemakaian topical jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun.
b. Kekurangan
1. Susah dalam pembuatannya karena pembuatan krim harus dalam keadaan panas
2. Mudah pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak pas
3. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m karena terganggu system campuran
terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan penambahan
salah satu fase secara berlebihan.

E. Morfologi Lidah Buaya


Lidah Buaya merupakan sejenis tumbuhan yang merupakan salah satu spesies dari
tanaman lilieceae, Lidah buaya sudah dikenal sejak jaman mesir kuno sejak beberapa ribu
tahun yang lalu dan dipakai sebagai obat penyubur rambut, penyembuh luka, dan juga
sebagai perawatan kulit. Tanaman lidah buaya diduga berasal dari kepulauan Canary di
sebelah barat Afrika. Lidah buaya memiliki nama latin Aloe Vera atau Aloe barbadensis
Milleer.
Tanaman ini sudah digunakan bangsa Samaria sekitar tahun 1875 SM. Bangsa Mesir kuno
sudah mengenal khasiat lidah buaya sebagai obat sekitar tahun 1500 SM. Berkat khasiatnya,
masyarakat Mesir kuno menyebutnya sebagai tanaman keabadian.
Bersamaan dengan perkembangan dari ilmu dan pengetahuan dan teknologi, pemakaian
tanaman lidah buaya berkembang dan digunakan untuk bahan baku industri farmasi dan
kosmetika, dan juga untuk bahan makanan dan minuman kesehatan.

Umumnya, lidah buaya adalah satu dari 10 tipe tanaman terlaris didunia yang memiliki
potensi untuk bisa dikembangkan sebagai tanaman obat dan juga bahan baku industri.
Lebih dari 350 jenis yang tersebar di seluruh dunia, selain itu lidah buaya hasil persilangan
juga banyak. Di dunia, ada tiga jenis lidah buaya yang dibudidayakan secara komersial yaitu,
Aloe vera (Aloevera barbadensis Miller), (Aloe ferox Miller), Aloe very Barker. Dari ketiga
tersebut yang paling banyak dimanfaatkan adalah spesies Aloevera barbadensis Miller,
karena memiliki beberapa keunggulan diantaranya tahan hama, ukuran lebih panjang bisa
mencapai 121 cm, berat perbatang bisa mencapai 4 kg, mengandung 75 kg, dan aman
dikonsumsi. Sementara itu, di Asia termasuk di Indonesia yang paling banyak di kembangkan
yaitu lidah buaya jenis Aloe Chinesis Baker. Jenis ini diindonesia sudah dikembangkan secara
komersial di Kalimantan Barat yang dikenal dengan sebutan Lidah Buaya Pontianak.

Gambar 1. Lidah Buaya (Aloe Vera)


F. Klasifikasi Lidah Buaya
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Angiospermae
Kelas
: Monocotyledoneae
Bangsa
: Liliales
Suku
: Liliaceae 8
Marga
: Aloe
Jenis
: Aloe vera (Hutapea, 1993)
G. Senyawa Metabolisme Sekunder Pada Lidah Buaya (Aloe Vera)
a. Flavonoid
Flavanoid merupakan salah satu golongan fenol alam yang terbesar dan terdapat dalam
semua tumbuhan hijau dan memiliki senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada
tanaman hijau, kecuali alga. Flovonoid tersusun dari dua cincin aromatis yang terdiri dari 15
atom karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantai propana (C3)
sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Dalam lidah buaya ini flavonoid berfungsi
sebagai antibakteri, antioksidan, dan dapat menghambat pendarahan pada kulit.
Flavanoid merupakan senyawa polar sehingga akan larut dalam pelarut polar etanol, metanol,
butanol, aseton. Adanya gula yang terikat pada flavanoid cenderung menyebabkan flavanoid
lebih mudah larut dalam air Sebaliknya, aglikogen yang kurang polar cenderung lebih mudah

larut dalam pelarut seperti eter dan kloroform (Sukadana, 2009).


b. Tanin
Tanin merupakan senyawa organik yang terdiri dari campuran senyawa polifenol
kompleks. Tanin tersebar dalam setiap tanaman yang berbatang. Tanin berada dalam jumlah
tertentu, biasanya berada pada bagian yang spesifik tanaman seperti daun, buah, akar dan
batang. Tanin merupakan senyawa kompleks, biasanya merupakan campuran polifenol yang
sukar untuk dipisahkan karena tidak dalam bentuk kristal (Robert,1997). Tanin biasanya
berupa senyawa amorf, higroskopis, berwarna coklat kuning yang larut dalam organik yang
polar. Tanin mempunyai aktivitas antioksidan menghambat pertumbuhan tumor dan enzim
(Harborne, 1987). Teori lain menyebutkan bahwa tanin mempunyai daya antiseptik yaitu
mencegah kerusakan yang disebabkan bakteri atau jamur berfungsi sebagai astringen yang
dapat menyebabkan penutupan pori-pori kulit, menghentikan pendarahan yang ringan (Anief,
1997).
c. Saponin
Saponin adalah jenis glikosida yang banyak ditemukan dalam tumbuhan. Saponin memiliki
karakteristik berupa buih. Sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan
terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut dalam air dan tidak larut
dalam eter. Saponin memiliki rasa pahit menusuk dan menyebabkan bersin serta iritasi pada
selaput lendir (Robert, 1997). Efek saponin berdasarkan sistem fisiologis meliputi aktivitas
pada sistem kardiovaskular dan aktivitas pada sifat darah (hemolisis, koagulasi, kolesterol),
sistem saraf pusat, sistem endokrin, dan aktivitas lainnya. Saponin mampu berikatan dengan
kolesterol, sedangkan saponin yang masuk kedalam saluran cerna tidak diserap oleh saluran
pencernaan sehingga saponin beserta kolesterol yang terikat dapat keluar dari saluran cerna.
Hal ini menyebabkan kadar kolesterol dalam tubuh dapat berkurang. d. Polifenol
Polifenol merupakan senyawa turunan fenol yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan.
Antioksidan fenolik biasanya digunakan untuk mencegah kerusakan akibat reaksi oksidasi
pada makanan, kosmetik, farmasi dan plastik. Fungsi polifenol sebagai penangkap dan
pengikat radikal bebas dari rusaknya ion ion logam. Kelompok tersebut sangat mudah larut
dalam air dan lemak serta dapat bereaksi dengan vitamin C dan E (Anief, 1997). 12
e. Steroid
Steroid merupakan bagian yang penting dari senyawa organik dan seringkali berfungsi
sebagai nukleus. Salah satu jenis steroid, yakni kolesterol mempunyai peranan yang vital bagi
fungsi-fungsi selular dan menjadi substrat awal bagi vitamin yang larut dalam lemak, dan
hormon steroid. Steroid sebagai anti inflamasi, bersifat antiseptik dan penghilang rasa sakit.
H. Manfaat Lidah Buaya
a. Manfaat Lidah Buaya Untuk Kesehatan
1. Mengurangi gula dalam darah
Lidah buaya mengandung aloe emodin, yaitu sebuah senyawa organik dari golongan
antrokuinon yang mengaktivasi jenjang sinyal insulin seperti pencerap insulin-beta dan
-substrat1, fosfatidil inositol-3 kinase dan meningkatkan laju sintesis glikogen dengan
menghambat glikogen sintase kinase 3beta yang bermanfaat untuk mengurangi rasio gula
darah.
Di dalam pengobatan tradisional India, daun lidah buaya sering digunakan untuk mengurangi
glukosa darah (gula dalam darah) pada seseorang yang menderita diabetes.
2. Obat antiseptik & obat luka bakar
Bagian daun dan akar dari lidah buaya mengandung saponin dan flavonoid, sedangkan
bagian daun lidah buaya mengandung tanin dan polifenol.

Saponin berfungsi sebagai pembersih yang sangat berguna untuk menyembuhkan luka
terbuka, sedangkan tanin bisa digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena
mempunyai daya antiseptik dan obat luka bakar. Flavonoid dan polifenol mempunyai
aktivitas sebagai antiseptic.
3. Obat pencahar
Lidah buaya lateks mengandung molekul dengan efek pencahar yang kuat (anthranoids),
yang sangat efektif untuk mengatasi sembelit.
4. Regenerasi kulit
Karena lidah buaya tinggi akan antioksidan (flavonoid, vitamin C, beta-karoten), maka dari
itu lidah buaya juga memiliki efek anti-penuaan atau membantu regenerasi jaringan kulit.
Selain itu lidah buaya juga bisa memudarkan bekas luka dan garis-garis putih atau merah
pada masa kehamilan atau strecth mark, merawat luka kecil akibat teriris pisau dan tergores
serta memudarkan bintik-bintik kehitaman pada kulit.
5. Membantu pencernaan
Gel lidah buaya mampu mengusir dan membinasakan racun dan bahan asing lainnya yang
biasanya menempel pada usus.
Racun dan benda asing yang menempel pada usus sangatlah berbahaya sebab mengakibatkan
akumulasi limbah sehingga dapat memblokir saluran usus dan mengurangi kemampuan tubuh
untuk menyerap nutrisi.
b. Manfaat Lidah Buaya Untuk Kecantikan
Lidah buaya banyak dipergunakan pada berbagai produk kosmetik, seperti krim, lotion,
atau sabun. Kandungan lidah buaya di dalam produk kosmetik tersebut membantu
meningkatkan kadar oksigen yang berguna bagi kulit, membantu menguatkan jaringan kulit
sehingga tidak mengendur, serta membantu mencegah penuaan dini.
I. Luka Bakar
Luka bakar adalah kerusakan jaringan tubuh terutama kulit akibat trauma panas, elektrik,
kimia dan radiasi (Smith, 1998).
Luka bakar adalah kerusakan pada kulit diakibatkan oleh panas, kimia atau radio aktif
(Wong, 2003).
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh. Panas
tersebut dapat dipindahkan melalui konduksi dan radiasi elektro magnetic. (Effendi. C, 1999).
Jadi luka bakar adalah kerusakan pada kulit yang disebabkan oleh panas, kimia, elektrik
maupun radiasi.
J. Penyebab Luka Bakar
Menurut Wong 2003, luka bakar dapat disebabkan oleh ;
1. Panas : basah (air panas, minyak), kering (uap, metal, api)
2.Kimia : Asam kuat seperti Asam Sulfat, basa kuat seperti Natrium Hidroksida
3. Listrik : Voltage tinggi, petir
4. Radiasi : termasuk X-ray
K. Tanda dan Gejala Luka Bakar
Menurut Wong and Whaleys 2003, tanda dan gejala pada luka bakar adalah :
1. Grade I (9%)

Kerusakan pada epidermis (kulit bagian luar), kulit kering kemerahan, nyeri sekali,
sembuh dalam 3 - 7 hari dan tidak ada jaringan parut.
2. Grade II (2 X 9%)
Kerusakan pada epidermis (kulit bagian luar) dan dermis (kulit bagian dalam), terdapat
vesikel (benjolan berupa cairan atau nanah) dan oedem sub kutan (adanya penimbunan
dibawah kulit), luka merah dan basah, mengkilap, sangat nyeri, sembuh dalam 21 - 28 hari
tergantung komplikasi infeksi. 3.Grade III (4 X 9%)
Kerusakan pada semua lapisan kulit, nyeri tidak ada, luka merah keputih putihan (seperti
merah yang terdapat serat putih dan merupakan jaringan mati) atau hitam keabu-abuan
(seperti luka yang kering dan gosong juga termasuk jaringan mati), tampak kering, lapisan
yang rusak tidak sembuh sendiri (perlu skin graf).
L. Perhitungan Luas Luka Bakar
Luas luka bakar dinyatakan sebagai presentase terhadap luas permukaan tubuh. Untuk
menghitung secara cepat dipakai Rule of Nine dari Wallace. Perhitungan cara ini hanya dapat
diterapkan pada orang dewasa, karena anak-anak mempunyai proporsi tubuh yang berbeda.
Untuk keperluan pencatatan medis, digunakan kartu luka bakar dengan cara LUND &
BROWDER.
Perhitungan luas luka bakar berdasarkan Rule Of Nine oleh Polaski dan Tennison dari
WALLACE :
1. Kepala dan leher : 9%
2. Ekstremitas atas : 2 x 9% (kiri dan kanan)
3. Paha dan betis-kaki : 4 x 9% (kiri dan kanan)
4.Dada, perut, punggung, bokong : 4 x 9%
5. Perineum dan genitalia : 1%
Pada keadaan darurat dapat digunakan cara cepat yaitu dengan menggunakan luas
telapak tangan penderita. Prinsipnya yaitu luas telapak tangan = 1% luas tubuh.
Perhitungan luas luka bakar menurut Lund dan Browder :
Area

10

15

dws

A : 1/2 bagian kepala

9,5

8,5

6,5

5,5

4,5

3,5

B : 1/2 bgn tungkai atas

2,75

3,25

4,25

4,5

4,75

C : 1/2 bgn tungkai bawah

2,25

2,25

2,75

3,25

3,5

M. Patofisiologi
Luka bakar (combustio) pada tubuh dapat terjadi karena konduksi panas langsung atau
radiasi elektromagnetik. Setelah terjadi luka bakar yang parah, dapat mengakibatkan
gangguan hemodinamika, jantung, paru, ginjal serta metabolik akan berkembang lebih cepat.
Dalam beberapa detik saja setelah terjadi jejas yang bersangkutan, isi curah jantung akan
menurun, mungkin sebagai akibat dari refleks yang berlebihan serta pengembalian vena yang
menurun. Kontaktibilitas miokardium tidak mengalami gangguan. Segera setelah terjadi jejas,
permeabilitas seluruhh pembuluh darah meningkat, sebagai akibatnya air, elektrolit, serta
protein akan hilang dari ruang pembuluh darah masuk ke dalam jarigan interstisial, baik
dalam tempat yang luka maupun yang tidak mengalami luka. Kehilangan ini terjadi secara
berlebihan dalam 12 jam pertama setelah terjadinya luka dan dapat mencapai sepertiga dari
volume darah. Selama 4 hari yang pertama sebanyak 2 pool albumin dalam plasma dapat
hilang, dengan demikian kekurangan albumin serta beberapa macam protein plasma lainnya
merupakan masalah yang sering didapatkan. Dalam jangka waktu beberapa menit setelah
luka bakar besar, pengaliran plasma dan laju filtrasi glomerulus mengalami penurunan,
sehingga timbul oliguria. Sekresi hormon antideuretika dan aldosterone meningkat. Lebih
lanjut lagi mengakibatkan penurunan pembentukan kemih, penyerapan natrium oleh tubulus
dirangsang, ekskresi kalium diperbesar dan kemih dikonsentrasikan secara maksimal.
Albumin dalam plasma dapat hilang, dengan demikian kekurangan albumin serta beberapa
macam protein plasma lainnya merupakan masalah yang sering didapatkan. Dalam jangka
waktu beberapa menit setelah luka bakar besar, pengaliran plasma dan laju filtrasi glomerulus
mengalami penurunan, sehingga timbul oliguria. Sekresi hormon antideuretika dan aldosteron
meningkat. Lebih lanjut lagi mengakibatkan penurunan pembentukan kemih, penyerapan
natrium oleh tubulus dirangsang, ekskresi kalium diperbesar dan kemih dikonsentrasikan
secara maksimal.
N. Penatalaksanaan Pengobatan Luka Bakar
Penatalaksanaan pasien luka bakar sesuai dengan kondisi dan pasien dirawat melibatkan
berbagai lingkungan perawatan dan disiplin ilmu antara lain mencakup penanganan awal
(ditempat kejadian), penanganan pertama di unit gawat darurat, penanganan diruang intensif
atau bangsal. Tindakan yang diberikan antara lain adalah terapi cairan, fisioterapi dan
psikiatri. Pasien dengan luka bakar memerlukan obat-obatan topical. Pemberian obat-obatan
topical anti microbial bertujuan tidak untuk mensterilkan luka akan tetapi akan menekan
pertumbuhan mikroorganisme dan mengurangi kolonisasi, dengan memberikan obat-obatan

topical secara tepat dan efektif dapat mengurangi terjadinya infeksi luka dan mencegah sepsis
yang sering kali masih menjadi penyebab kematian pasien.( Effendi. C, 1999)
O. Preformulasi
1. Asam Stearat
Asam stearat, atau asam oktadekanoat, adalah asam lemak jenuh yang mudah diperoleh
dari lemak hewani serta minyak masak. Wujudnya padat pada suhu ruang, dengan rumus
kimia CH3(CH2)16COOH. Asam stearat diproses antara lemak hewan dengan air pada suhu
dan tekanan tinggi. Asam ini dapat pula diperoleh dari hidrogenasi minyak nabati. larut dalam
etanol dan propilen glikol, tidak larut dalam air, memiliki Konsentrasi 120%, sebagai
pelarut.
Dalam bidang industri asam stearat dipakai sebagai bahan pembuatan lilin, sabun, plastik,
kosmetika, dan untuk melunakkan karet. Titik lebur asam stearat 69.6 C dan titik didihnya
361 C. Reduksi asam stearat menghasilkan stearil alkohol. Asam stearat merupakan bahan
kimia yang dapat digunakan sebagai bahan baku surfaktan, metil ester, maupun sabun dan
deterjen melalui reaksi saponifikasi. Produk ini dihasilkan dari reaksi hidrolisis minyak atau
lemak dengan air
2. Adeps Lanae
Adeps lanae adalah Cholestolesters yang dibersihkan dari bulu domba mentah. Adeps Lanae
berwarna kuning muda, setengah bening, dengan bentuk yang menyerupai salep, mempunyai
bau yang agak dikenal, Tidak larut dalam air, dapat bercampur dengan air lebih kurang
2xberatnya, agak sukar larut dalam etanol dingin, lebih larut dalam etanol panas, sebagai
pengemulsi 3. Triethanolamine
Triethanolamin merupakan emulgator yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan kedua
cairan tersebut sehingga bersifat sebagai surfaktan. (Muryati dan Kurniawan, 2006) Fungsi lain
dari Triethanolamin tersebut adalah menstabilkan tingkat pH, Kelarutan dalam etanol 95% larut,
methanol larut, air larut.
4. Parafin liquid
Campuran dari hidrokarbon hidrokarbon cair, dari minyak tanah gubal yang diperoleh dengan
penyulingan. Zat cair yang mengandung minyak, tak berbau dan tidak berwarna, hernih, tidak
berflouresensi. Berat jenis tidak lebih rendah dari 0,87 0,88 (selisih 0,0006 untuk 1). Titik
didih tidak dibawah 300 (selisih 0,7 untuk tekanan 10 mm). kekentalan 10 -12. Parafin liquid
apabila didinginkan sampai 5 harus tetap jernih, bila parafin liquid dipanasi dengan spiritus yang
banyaknya sama sehingga mendidih dan dikocok, maka zat cair yang mengandung spiritus itu
setelah didinginkan dan diencerkan dengan air yang volumennya sama, maka reaksinya adalah
netral. Parafin liquid dipanaskan pada suhu 60 dengan campuran yang volumenya sama dari 1
bagian air dan 1 bagian asam sulfat dalam penangas air selama 10 menit dengan dikocok
berulang ulang, maka kedua lapisannya masing masing tidak boleh mendapat warna. Parafin
liquid tidak dapat larut dalam air.
5. Aquadest
Aquadest ini merupakan H2O murni, Karena sifatnya yang murni ini, aquadest (suling) sering
digunakan dalam laboratorium untuk menghindari kontaminasi zat maupun galat-galat yang akan
ditimbulkan dalam penelitian.
6. Nipagin
Memiliki berat molekul 152,15, berfungsi sebagai antimikroba untuk sediaan topikal 0,02%0,3%, berbentuk kristal putih, tidak berbau, panas, Kelarutannya dalam etanol 1:2, gliserin 1:60,
air 1:400.
P. Evaluasi Sediaan Krim
1. Organoleptis

Evaluasi organoleptis menggunakan panca indra, mulai dari bau, warna, tekstur sediaan,
konsistensi pelaksanaan menggunakan subjek responden (dengan kriteria teertentu) dengan
menetapkan kriterianya pengujiannya (macam dan item), menghitung presentase masingmasing kriteria yang diperoleh, pengambilan keputusan dengan analisa statistik.
2. Evaluasi Ph
Menggunakan alat Ph meter, dengan cara perbandingan 60g : 200ml air yang digunakan
untuk mengencerkan, kemudian diaduk hingga gomogen, dan diamkan agar mengendap, dan
airnya yang diukur denga Ph meter, catat hasil yang tertera pada alat Ph meter.
3. Evaluasi daya sebar
Dengan cara sejumlah zat tertentu diletakan diatas kaca yang berskala, kemudian bagian
atasnya diberi kaca yang sama, dan di tinggkatkan bebannya, dan diberi rentang waktu 1-2
menit. Kemudian diameter penyebaran diukur pada setiap penambahan beban, saat sediaan
itu berhenti menyebar (dengan waktu tertentu secara teratur).
4. Evaluasi penentuan ukuran droplet
Untuk menentukann ukuran droplet suatu sediaan krim ataupun sediaan emulgel, dengan cara
menggunakan mikroskop dengan di teteskan pada objek glass, kemudian di periksa adanya
tetesan-tetesan pase dalam ukuran dan penyebaran nya.
5. Evaluasi uji aseptabilitas krim
Dilakukan pada kulit, dengan berbagai orang yang di kasih suatu quisioner dibuat suatu
kriteria, kemudian dioleskan, kelembutan, sensasi yang di timbulkan, kemudian pencucian,
kemudian dari data tersebut dibuat skoring untuk masing-masing kriteria misal untuk
kelembutan agak lembut, lembut, sangat lembut.

BAB III
METODOLOGI
A. Diskripsi Penelitian
1. Objek
Yang menjadi objek pada tugas makalah ini adalah krim.
2. Tempat
Tempat yang digunakan untuk membuat krim yaitu dilaboratorium sekolah tinggi
farmasi muhammadiyah tangerang.
3. Waktu
Pembuatan krim dilakukan pada tanggal 1 Maret 2016 pukul 08.00-11.00 WIB.
4. Subjek
Subjek yang digunakan pada makalah ini adalah lidah buaya (Aloe Vera).
B. Alat dan Bahan

a.

Alat
Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan krim ini adalah pisau, blender, timbangan

digital, batang pengaduk, kertas saring, kain kasa dan wadah.


b. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan berupa lidah buaya (Aloe Vera), asam stearate, trietanolamin,
adeps lanae, paraffin liquid, nipagin, nipasol dan aquadest.

21

C. Formulasi

Tabel 1. Formula Basis Krim

NO

Formula
Nama Bahan

1 Asam Stearat
2 Trietanolamin
3 Adeps lanae
4 Paraffin liquidum
5 Nipagin
6 Aquades
(farida et al, 2011)
a.

Satuan

II

g
ml
ml
ml
g
ml

14,5
1,5
3
0,1
100

14,5
1,5
3
20
0,1
100

Penimbangan
Tabel 2. Penimbangan Formula I
NO
1
2
3
4
5
6

Nama Bahan
Asam Stearat
Trietanolamin
Adeps lanae
Paraffin liquidum
Nipagin
Aquades

Formula
I
14,5 g
1,5 ml
3g
0,1 g
Add 100 ml

Penimbangan
145 g
15 ml
30 g
10 g
Add 1000 ml

Tabel 3. Penimbangan Formula II


NO
1
2
3
4
5
6

Nama Bahan
Asam Stearat
Trietanolamin
Adeps lanae
Paraffin liquidum
Nipagin
Aquades

Formula
II
14,5 g
1,5 ml
3g
20 ml
0,1 g
Add 100 ml

Penimbangan
145 g
15 ml
30 g
200 ml
10 g
Add 1000 ml

b. Fungsi Bahan
Tabel 4. Fungsi Bahan
No
1
2
3
4
5
6

Nama Bahan
Asam Stearate
Trietanolamin
Adeps Lanae
Paraffin Liquidum
Nipagin
Nipasol

Fungsi
Minyak
Pendapar
Pengemulsi
Pelembab
Antioksidan
Cairan Pembawa

Tabel 5. Formula krim ekstrak lidah buaya


No
1
2

Bahan
Ekstrak lidah buaya
Basis krim

FI
10%
100

FII
15%
100

Krim dibuat dengan cara : dituangkan ekstrak lidah buaya 10% dan 15% ke dalam
cawan porselin yang berisi 100 g krim, digerus pelan-pelan sampai homogen.
D. Rancangan Penelitian
a. Cara Kerja
1. Menimbang semua bahan yang diperlukan. Bahan yang terdapat dalam formula dipisahkan
menjadi dua kelompok yaitu fase minyak dan fase air.
2. Fase minyak yaitu asam stearat, paraffin liquid, adeps lanae dipindahkan dalam cawan
porselin, dipanaskan diatas hot plate dengan suhu 700C sampai lebur.
3. Fase air yaitu Trietanolamin dan akuades, dipanaskan di atas hot plate pada suhu 7000C
sampai lebur.
4. Fase air dimasukkan secara perlahan lahan ke dalam fase minyak kemudian tambahkan
nipasol dan nipagin dengan pengadukan yang konstan sampai diperoleh massa krim yang
homogen.
5. Krim dibuat dengan cara dituangkan ekstrak lidah buaya 10% dan 15% ke dalam cawan
porselin yang berisi 100 g krim, digerus pelan-pelan sampai homogen.
b. Pengujian Efek Krim Lidah Buaya

Pengujian efek krim diujikan pada 4 mencit.


1. Pada penelitian ini luka bakar pada mencit dilakukan dengan menempelkan soldier dengan
panjang 1 cm
2. Pada kulit yang mengalami luka bakar tersebut dioleskan formula krim 3 kali sehari untuk
masing-masing formula
3. kemudian dilakukan pengamatan setiap hari untuk melihat efek yang terjadi

4. Parameter yang diamati adalah hilangnya luka.

BAB IV
HASIL DAN KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan, yaitu :
1. Krim adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut dalam bahan
dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat
yang mempunyai konsistensi relatif cair yang diformulasikan sebagai emulsi air dalam
minyak atau minyak dalam air. Sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk
yang terdiri dari emulsi minyak dalam air, yang dapat dicuci dengan air atau lebih
ditunjukkan untuk penggunaan kosmetika (Depkes RI, 1995).
2. Kandungan kimia yang terdapat pada lidah buaya (Aloe Vera) yaitu : flavonoid, tanin, saponin,
polifenol dan steroid. Sedangkan yang berperan sebagai obat luka bakar yaitu saponin karena
mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga efektif untuk menyembuhkan luka
terbuka, sedangkan tanin dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena
mempunyai daya antiseptik dan obat luka bakar. Flavonoid dan polifenol mempunyai
aktivitas sebagai antiseptik (Harborne, 1987).
3. Formulasi yang digunakan untuk pembuatan krim yaitu asam stearat, trietanolamin, adeps
lanae, paraffin liquid, nipagin, nipasol, dan aquades.
4. Evaluasi sediaan krim meliputi : organoleptis, evaluasi pH, evaluasi daya sebar, evaluasi
penentuan ukuran droplet dan uji aseptabilitas krim.

DAFTAR PUSTAKA
Rini, M., 2013, Formulasi Krim Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit (curcuma
longa Lion) Dengan Variasi Basis Adeps Lanae.Tangerang : Sekolah Tinggi Farmasi
Muhammadiyah
Rizki A, W,. http://lib.unnes.ac.id/17852/1/4350408023.pdf/ diakses pada
tanggal 1 Maret 2016/ 20.00 WIB
E. Biantoro, http://eprints.ums.ac.id/16543/3/BAB_I.pdf/diakses pada
tanggal 1 Maret 2016/ 20.00 WIB

Ancel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Ed. 4, Alih


Bahasa oleh Farida Ibrahim, Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Robert, H.D. 1997. Aloe Vera: A Scientific A pproach. Vantage Press, Inc.
New York.
Suryowidodo, C.W. 1988. Lidah Buaya (Aloe Vera) Sebagai Bahan Baku
Industry. Warta IHP. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Industri Hasil Pertanian (BBIHP). Bogo