Anda di halaman 1dari 29

UJIAN TAKE HOME PRAKTIKUM

REVIEW JURNAL
ANALISIS MAKANAN DAN KOSMETIKA
Characterization of Suspected Illegal Skin Whitening Cosmetics by Ultra
High Performance Liquid Chromatography-Time Off FlightMass
Spectrometer

OLEH:
ANAK AGUNG RIAS PARAMITA DEWI
(1208505036)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tampil cantik dan indah merupakan prioritas dan kebutuhan
khususnya bagi seorang perempuan. Dengan tampil cantik dan menarik
dapat membuat perempuan merasa lebih percaya diri. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut perempuan akan menggunakan berbagai jenis kosmetik
untuk menyempurnakan penampilannya. Menurut Peraturan Menteri
Kesehatan No. 1175/MENKES/PER/VIII/2010, kosmetika adalah bahan
atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh
manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar) atau
gigi dan mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan,
mengubah penampilan dan/atau memperbaiki bau badan atau melindungi
atau memelihara tubuh pada kondisi baik.
Salah satu jenis kosmetik yang sangat diminati masyarakat adalah
sediaan krim pemutih kulit. Pemutih adalah sediaan kosmetik yang dibuat
untuk memperbaiki penampakan kulit dan warna gelap yang menyeluruh
atau sebagian menjadi lebih terang dan merata (Parengkuan dkk., 2013).
Hal yang mempengaruhi penggunaan krim pemutih adalah sosial budaya,
ekonomi, estetika dan untuk kepentingan medis (AlGhamdi, 2010). Krim
pemutih yang beredar di pasaran baik dalam bentuk kosmetik maupun
sebagai obat dermatologi, banyak mengandung senyawa pemutih seperti
asam

kojik,

asam

salisilat,

nikotimamide,

arbutin,

hidrokuinon,

kortikosteroid dan tretinoin atau dikenal dengan asam retinoat. Menurut


FDA (2009) batas maksimum hidrokuinon yang dapat ditambahkan dalam
krim pemutih adalah 2% pada produk OTC (Over the Counter). Namun
berdasarkan surat Public Warning/Peringatan yang dikeluarkan oleh BPOM
No. HM. 03.03.1.43.12.14.7870 tahun 2014, hidrokuinon dan asam retinoat
merupakan salah satu zat yang berbahaya/bahan dilarang ditambahkan
dalam sediaan kosmetik. Batas maksimum penggunaan asam kojik dalam

kosmetik adalah 2% (Aytemir and Karakaya, 2012). Sedangkan menurut


regulasi yang berlaku di Uni Eropa, asam salisilat dapat digunakan dalam
kosmetik pada konsentrasi yang tidak melebihi 2% (Annex III of Regulation
1223/2009). Asam salisilat ditambahkan dalam produk kosmetik karena
memiliki aktivitas sebagai keratolitik dan dapat meningkatkan penetrasi
bahan lainnya (SCCNFP, 2002; Bashir et al., 2005).
Penggunaan hidrokuinon dapat menimbulkan efek samping yang
sangat

berbahaya diantaranya

ochronosis, destruksi

sel

melanosit,

dermatitis, iritasi, leukoderma (Karamagi et al., 2001; Adebajo, 2002;


BPOM 2009). Sedangkan asam retinoat dapat menimbulkan efek samping
kulit kering, rasa terbakar dan teratogenik (Andriyani, 2011). Berdasarkan
hasil penelitian oleh National Toxicology Programe (2012), asam retinoat
juga memiliki potensi sebagai zat karsinogenik. Asam kojik dapat
menimbulkan efek samping gatal pada kulit dan kemerahan apabila
ditambahkan pada konsentrasi yang lebih tinggi. Kortikosteroid biasanya
ditambahkan dalam produk kosmetik untuk memberikan efek antiinflamasi,
namun apabila kortikosteroid digunakan pada produk sehari-hari hal tersebut
sangat berpotensi menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan
Dalam peraturan

yang berlaku di

Uni Eropa penggunaan

hidrokuinon, tretinoin (asam retinoat) dan kortikosteroid telah dilarang pada


produk kosmetik pemutih kulit, namun kenyataan yang terjadi di pasaran
masih banyak ditemukan produk kosmetik pemutih kulit yang menggunakan
zat-zat tersebut pada konsentrasi yang tinggi. Hal ini disebabkan produk
dengan kandungan zat berbahaya tersebut dengan konsentrasi tinggi mampu
memberikan efek memutihkan dengan cepat dan signifikan sehingga
konsumen cenderung akan langsung memilih produk tersebut tanpa
mempertimbangkan efek berbahaya yang dapat ditimbulkan. Produk
kosmetik yang dikombinasikan dengan asam salisilat dan kortikosteroid juga
merupakan tindakan yang ilegal, karena penggunaan asam salisilat dan
kortikosteroid

pada paparan berulang dan jangka waktu lama dapat

menimbulkan berbagai efek samping (Desmedt et al. 2013).

Berdasarkan kondisi tersebut sangat perlu dilakukan penelitian dan


inspeksi terhadap produk kosmetik di pasaran. Produk kosmetik yang
dijadikan sampel pada penelitian ini adalah kosmetik dari Pasar Belgia.
Metode analisis yang digunakan adalah UHPLC-ToF-MS (Ultra High
Performance Liquid Chromatography-TimeOff FlightMass Spectrometer).
Setelah semua komponen dalam produk kosmetik teridentifikasi dilanjutkan
tahapan

kuantifikasi

dengan

metode

UHPLC-DAD

(Ultra

High

Performance Liquid Chromatography-Diode Array Detector).

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Bagaimana hasil pengembangan metode yang telah dilakukan?
1.2.2. Bagaimana validasi metode UHPLC-ToP-MS?
1.2.3. Bagaimana Hasil Pemeriksaan terhadap Dugaan Kosmetik Ilegal?
1.2.4. Bagaimana Hasil Kuantifikasi masing-masing senyawa dengan
menggunakan metode UHPLC-DAD?

1.3. Tujuan
1.3.1. Bagaimana hasil pengembangan metode yang telah dilakukan?
1.3.2. Bagaimana validasi metode UHPLC-ToP-MS?
1.3.3. Bagaimana Hasil Pemeriksaan terhadap Dugaan Kosmetik Ilegal?
1.3.4. Bagaimana Hasil Kuantifikasi masing-masing senyawa dengan
menggunakan metode UHPLC-DAD?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Kosmetik
Kosmetik berasal dari kata Yunani kosmetikos yang mempunyai
arti keterampilan menghias atau mengatur. Kosmetik menurut Keputusan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor:
HK.00.05.4.1745, kosmetik adalah bahan atau sediaan yang digunakan pada
bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, dan organ genital
bagian luar) atau gigi dan mukosa mulut terutama dimaksudkan untuk
membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan, memperbaiki bau
badan, melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik (BPOM RI,
2003).
Berdasarkan peraturan Menkes RI No. 140/Menkes/Per/III/1991
tentang wajib daftarnya alat kesehatan rumah tangga, bahwa kosmetik
adalah sediaan atau paduan bahan yang siap digunakan pada bagian luar
badan , gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik,
mengubah

penampilan,

melindungi

supaya

dalam

keaadan

baik,

memperbaiki bau badan, tetapi tidak tidak dimaksudkan untuk mengobati


atau menyembuhkan penyakit. Kosmetik termasuk sediaan Farmasi maka
pembuatannya

harus

mengikuti

persyaratan,

keaamanan

dan

kemamfaatannya sesuai dengan undang-undang kesehatan serta peraturan


pelaksanaannya.
Kosmetik yang diproduksi dan diedarkan harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
a. Menggunakan bahan yang memenuhi standar dan persyaratan mutu serta
persyaratan lain yang ditetapkan.
b. Diproduksi dengan menggunakan cara pembuatan kosmetik yang baik.
c. Terdaftar pada dan mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan
Makanan RI.
(BPOM RI, 2003).

2.1.1

Bahan Dasar Kosmetik


Bahan Dasar Kosmetik menurut keputusan BPOM RI tentang

kosmetik dijelaskan bahan yang digunakan meliputi zat warna, zat


pengawet, dan tabir surya yang digunakan dalam kosmetik harus dengan
pembatasan dan persyaratan penggunaan sesuai dengan yang ditetapkan
(BPOM RI, 2003). Dasar kosmetika terdiri dari bermacam-macam bahan
dasar, bahan aktif dan bahan pelengkap. Bahan tersebut memiliki aneka
fungsi antara lain sebagai solvent (pelarut), emulsier (pencampur),
pengawet, adhesive (pelekat), pengencang, absortent (penyerap) dan
desinfektan.
2.1.2

Sediaan Krim Kosmetik


Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau

lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
Krim mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air
dalam minyak atau minyak dalam air. (Depkes RI, 1995).
Krim kosmetik sebagian besar bertujuan untuk mengencangkan,
memutihkan dan menghaluskan kulit wajah. Dalam pembuatan krim
kosmetik pemutih kulit diperlukan bahan utama yang berkhasiat
memutihkan kulit dan diperlukan pula bahan dasar lain untuk formulasi.
Bahan dasar yang digunakan harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu.
Kualitas dasar krim yang diharapkan adalah: stabil; lunak; mudah dipakai;
dasar krim yang cocok; dan terdistribusi merata di kulit (Anief,1997).
Pemutih kulit merupakan suatu bahan yang digunakan untuk
mencerahkan atau merubah warna kulit yang tidak diinginkan (Rieger,
2000). Beberapa krim pemutih mengandung pigmen putih untuk menutupi
kulit dan para konsumen merasa kulitnya menjadi lebih putih, namun
sebenarnya kulit mereka hanya terlihat lebih putih saja akibat efek pelapisan
pigmen putih pada lapisan terluar kulit dan tidak ada pengurangan pada
kadar pigmen kulit yang sebenarnya. Krim pemutih yang mengandung
bahan yang dapat mengganggu produksi pigmen merupakan krim yang
dianggap paling efektif (Scott et al, 1985). Berdasarkan cara penggunaanya

produk whitening kulit dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu; Skin Bleaching


dan Skin Lightening (Budi, 2011).
2.2 Hidrokuinon
Hidrokuinon dengan nama lain Hydroquinol atau Quinol memiliki
rumus molekul C6H6O2 (1,4-Benzenediol) dengan Berat Molekul 110.1
gram/mol (Moffat et al, 2005). Struktur kimia hidrokuinon dapat dilihat
pada gambar berikut ini :

Gambar 1. Struktur Kimia Hidrokuinon (Moffat et al, 2005).


Hidrokuinon merupakan salah satu senyawa golongan fenol. Fenol
merupakan senyawa yang mudah dioksidasi. Fenol yang dibiarkan di udara
terbuka cepat berubah warna karena pembentukan hasil-hasil oksidasi.
Hidrokuinon (1,4- dihidroksibenzena), reaksinya mudah dikendalikan dan
menghasilkan

1,4-benzokuinon

sering

dinamakan

kuinon.

Oksidasi

hidrokuinon menjadi kuinon bersifat bolak-balik dan pertukaran ini


memainkan peranan penting dalam reaksi-reaksi oksidasi-reduksi biologi
(Hart,1983).
Kelarutan hidrokuinon adalah 1 dalam 14 bagian air, 1 dalam 4
bagian etanol, 1 dalam 51 bagian kloroform, dan 1 dalam 16 bagian eter;
sedikit larut dalam benzena. Konstanta disosiasi : pKa 10.9 (25). Spektrum :
Ethanol- 295 nm (A11=282b) (Moffat et al, 2005). Rf 0,5 (BPOM, 2011).
Berikut adalah spektrum hidrokuinon :

Gambar 2. Spektrum Hidrokuinon (Anonim, 2011).

2.3 Ultra High-Speed Liquid Chromatography


Ultra High-Speed Liquid Chromatography (UHPLC) merupakan
turunan dari metode HPLC, dimana pada UHPLC penurunan ukuran partikel
dari kolom akan meningkatkan efisiensi dan resolusi (1). Fase diam yang
digunakan memiliki ukuran partikel kurang dari 2 m, sedangkan pada
metode HPLC ukuran partikel yang umum digunakan adalah 3-5 m
(Ashok, 2012).
Pada UHPLC ini menggunakan partikel sub-2-um yang dikemas ke
dalam kolom kapiler panjang 25 sampai 100 cm. Dalam pengoperasian
kolom ini menggunakan tekanan yang libih tinggi, dimana dari 1000 bar
sampai 7000 bar (15.000 sampai 100.000 psi). Keuntungan dari metode ini
adalah pemisahan yang dihasilkan lebih optimal, serta waktu yang
diperlukan untuk analisis menjadi lebih singkat (Jorgenson, 2010).
2.4 Diode Array Detector (DAD)
DAD adalah suatu tipe detektor UV kemampuan untuk memantau
melewati seluruh rentang UV secara simultan dengan menggunakan susunan
fotodioda yang mendeteksi cahaya yang didispersikan oleh suatu
monokromator tetap di sepanjang rentang panjang gelombang dan
memberikan resolusi kurang lebih 1 mm. Detektor ini memberikan spectrum
UV yang penuh untuk tiap puncak dalam kromatogram, yang membantu
dalam identifikasi senyawa-senyawa yang belum dikenal (Watson, 2009).
Dengan menggunakan detector DAD, dapat dilakukan uji kemurnian puncak
dengan membandingkan antara spektra analit dengan spectra senyawa yang
sudah diketahui (Gandjar dan Rohman, 2007).
DAD berguna untuk campuran kompleks yang megandung senyawa
dengan rentang absorbansi yang sangat berbeda dan untuk senyawa yang
puncaknya saling tumpang tindih dapat dipisahkan dengan faktor absorban
UV (Dekker, 1998).

Gambar 2.8 Gambar skematik dari detektor UV/VIS (a) dan detektor DAD
(b). (Francis dan Taylor, 2011)
Beberapa poin utama menggunakann Diode Array Detector (DAD)
a. Penafsiran kemurnian puncak: ketika dua senyawa dielusi secara simultan
atau bersama-sama dalam satu puncak, kedua senyawa tersebut dapat
dikenali sebagai spektra yang berbeda dari kedua sisi oleh karena dua
senyawa tersebut memiliki spektrum penyerapan yang berbeda.
b. Dekonvolusi puncak: ketika dua puncak tidak benar-benar terpisah,
masing-masing daerah dapat dihitung dengan dekonvolusi sinyal
menggunakan spektrum senyawa murni.
c. Identifikasi

puncak:

Identifikasi

dapat

dilakukan

dengan

hasil

kromatogram dan hasil data spektrum uv dari puncak senyawa yang


terekam selama proses kromatografi dapat digunakan sebagai pilihan
dalam identifikasi senyawa yang tidak diketahui. Data spektrum disimpan
dalam memori unit pengolahan data, yang dapat digunakan untuk
perbandingan.
d. Pelacakan puncak: salah satu masalah di optimasi otomatis pemisahan
adalah identifikasi puncak ketika terjadi perubahan urutan elusi senyawa.
Namun, dengan detektor DAD masalah ini dengan mudah dapat
diselesaikan.
(Dekker, 1998).

2.5 Validasi Metode


Validasi metode analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap
parameter

tertentu,

berdasarkan

percobaan

laboratorium,

untuk

membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk


penggunaannya (Harmita, 2004). Validasi metode menurut United States
Pharmacopeia (USP) dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis
akurat, spesifik, reprodusibel, dan tahan pada kisaran analit yang akan
dianalisis. Beberapa parameter validasi antara lain:
a. Kecermatan (accuracy)
Akurasi merupakan ketelitian metode analisis atau kedekatan nilai
terukur dengan nilai yang diterima, baik nilai konvensi, nilai sebenarnya,
atau nilai rujukan. Akurasi diukur sebagai banyaknya analit yang diperoleh
kembali pada suatu pengukuran dengan melakukan spiking pada suatu
sampel (Gandjar dan Rohman, 2007).
b. Keseksamaan (Precision)
Keseksamaan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian
antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari
rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel
yang diambil dari campuran yang homogen. Ukuran keterulangan metode
analisis biasanya diekspresikan sebagai simpangan baku relatif dari
sejumlah sampel yang berbeda signifikan secara statistik (Gandjar dan
Rohman, 2007). Keseksamaan diukur sebagai simpangan baku atau
simpangan baku relatif (koefisien variasi). Keseksamaan dapat dinyatakan
sebagai keterulangan (repeatability) atau ketertiruan (reproducibility).
Keterulangan adalah keseksamaan metode jika dilakukan berulang kali
oleh analis yang sama pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang
pendek.
c. Kekhasan (Specificity/Selectivity)
Selektivitas atau spesifisitas suatu metode adalah kemampuannya
yang hanya mengukur zat tertentu saja secara cermat dan seksama dengan
adanya komponen lain yang mungkin ada dalam matriks sampel.

Selektivitas seringkali dapat dinyatakan sebagai derajat penyimpangan


(degree of bias) metode yang dilakukan terhadap sampel yang
mengandung bahan yang ditambahkan berupa cemaran, hasil urai,
senyawa sejenis, senyawa asing lainnya, dan dibandingkan terhadap hasil
analisis sampel yang tidak mengandung bahan lain yang ditambahkan
(Harmita, 2004).
d. Linearitas dan Rentang
Linearitas juga dapat diartikan sebagai kemampuan suatu metode
untuk memperoleh hasil-hasil uji yang secara langsung proporsional
dengan konsentrasi analit pada kisaran yang diberikan. Rentang (range)
didefinisikan sebagai konsentrasi terendah dan tertinggi yang mana suatu
metode analisis menunjukkan akurasi, presisi, dan linieritas yang
mencukupi (Gandjar dan Rohman, 2007).
e. Batas Deteksi (Limit of Deteksion, LOD)
Batas Deteksi (LOD) didefinisikan sebagai jumlah terkecil analit
dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon
signifikan dibandingkan dengan blangko. LOD dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut :
LOD =
keterangan:

3Sy
slope

Sy = simpangan baku residual (Harmita, 2004).

f. Batas Kuantitasi (Limit of Quantification, LOQ)


Batas kuantifikasi (LOQ) didefinisikan sebagai parameter pada
analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel
yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama. LOQ dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
LOQ =
keterangan:

10 Sy
slope

Sy = simpangan baku residual (Harmita, 2004).

BAB III
METODE
3.1. Alat dan Bahan
a. Alat
Untuk melakukan kuantifikasi terhadap seluruh komponen yang
terkandung dalam kosmetik digunakan instrumen HPLC (High Performance
Liquid Chromatography) dengan detektor DAD (Diode Array Detector). Air
yang digunakan diperoleh dari sistem MiliQ-Gradient A10 (Milipore,
Billerica, USA). Skirining atau identifikasi komponen yang terkandung
dalam kosmetik dilakukan dengan memanfaatkan instrumen ULC/MS (Ultra
Liquid Chromatograpgy/Mass Spectroscopy) dengan detektor TOF-MS,
asetonitril dan air grade ULC/MS (Valkenswaard, Netherlands). Asam borat
dan larutan ammonia 25% (v/v) diperoleh dari Merck (Darmstadt, Jerman).
Leucine enkephalin dan asam fosfat digunakan untuk kurva kalibrasi pada
MS (Sigma Aldrich, USA).
b. Bahan Standard an Reagen
Reference stadards asam kojik (bach 1363411V, kemurnian
98%), arbutin (batch BCBD1957V, kemurnian 98%), nikotimadine (batch
0001448241, kemurnian 99%), hidrokortison 21-asetat (batch 025K1123,
kemurnian 98%) (Sigma Aldrich, USA). Asam salisilat (batch 03E37-B02
241946, kemurnian 99%), tretinoin (batch 09J22-BO5-251745, kemurnian
98%), betamethasone valerate (batch 10J04-B01-262745, kemurnian
97%), clobetasol propionate (batch 11G25-B02-264743, kemurnian
99%), dexamethasone (batch 12C09-B03-269762, kemurnian 98%) dan
prednisone

(batch

07L19-B10-232010, kemurnian 99%) (Fagron,

Waregem, Belgium).
Fluocinolone acetonide

(batch

037K1286,

kemurnian

98%)

(Fluka, Steinheim, Jerman), betamethasone dipropionate (batch 10F17B08-257129,

kemurnian 97%) (Certa, Braine-Lalleud,

Belgian) dan

hidrokuinon (batch 10157959, kemurnian 99%) (Alfa Aesar Karlsruhe,


Jerman).
3.2. Sampel Produk Kosmetik Putih yang Diduga Ilegal
Dalam penelitian ini dilakukan inspeksi terhadap 163 produk
kosmetik yang berada dipasaran oleh Inspektur Pelayanan Publik
Pemerintah Federal Belgia Animan, Plant and Food Directorate-General
(DG4) dan Belgium Federal Agency for Medicinal and Health Products
(FAMHP). Sampel yang dikumpulan berlangsung pada tahun 2009 dan
2012. Sebanyak 48% sampel berupa produk krim, 18% adalah lotion dan
13% adalah sabun batangan. Produk dari formulasi serum, gel dan minyak
juga dikumpulkan. Karena sifat kerahasiaan dari data pemeriksaan yang
tidak memungkinkan memberikan informasi yang tepat pada setiap
pengambilan sampel, maka sebagian sampel diiambil dari bea cukai kargo
dan penumpang bandara. Sebagian lainnya diperoleh dari retail, bisnis grosir
yang disebut Ethnic Cosmetics dari took di Belgia. Sampel-sampel yang
diperoleh dari toko retail sebagai wakil dari setiap unit produk yang sama
tersedia di took tersebut. Paparan jenis sampel produk kosmetik yang
digunakan tercantum pada Tabel 1.
3.3. Preparasi Sampel
Prosedur preparasi sampel dilakukan pengembangan dan validasi
dari metode preparasi sebelumnya. Sebanyak 1 gram dari formulasi sampel
dan dilarutkan dengan 25 mL asetonitril. Untuk kuantifikasi sebanyak 5 mL
larutan prednisone 0,1 mg/mL dalam pelarut asetonitril ditambahkan
kedalam sampel sebagai larutan standar.
Larutan tersebut kemudian diaduk selama 10 menit dengan stirrer,
dan diultrasonifikasi pada suhu 50oC selama 30 menit dan disimpan pada
suhu -20oC selama 1 jam. Larutan tersebut hasil preparasi selajutnya
dilewatkan pada saringan 0,2 m polytetrafluoroethylene syringe filter (25
mm. Sebelum diinjeksikan, larutan diencerkan terlebih dahulu sebanyak 5
kali dengan menggunakan pelarut campuran air dan asetonitril (90:10 v/v).

Khusus pada ekstraksi produk sabun, sebanyak 1 gram dilarutkan


dengan 10 ml air dan dinetralkan dengan penambahan HCL untuk
menstabilkan hidrokuinon. Larutan kemudian dipindahkan pada labu ukur
25 ml dan dilarutkan hingga tanda batas dengan asetonitril. Tahap ekstraksi
selanjutnya sama dengan prosedur diatas.
3.4. Sampel Validasi
Validasi metode skrining dilakukan dengan menggunakan 32
kosmetik kosong dengan matriks. Produk tersebut dipilihkan oleh seorang
apoteker, dimana produk yang dipilih sedemikian rupa sehingga rasio
matriks yang berbeda, hadir pada setiap set uji validasi. Matriks yang
berbeda-beda tersebut sebagai perwakilan dari setiap matriks sampel produk
kosmetik yang diduga sebagai produk illegal.
Sampel validasi dianalisis sebalum dan sesudah spiking standar.
Tingkatan konsentrasi yang dipilih untuk ditambahkan pada spiking lebih
rendah dari konsentrasi penggunaan, hal ini dilakukan untuk menjaga dalam
batas dibawah ambang yang dipersyaratkan secara legalitas. Spiking yang
dilakukan dengan menambahkan 100 L larutan spike pada 1 gram sampel
produk uji pada kondisi yang terhindar dari paparan matahari langsung. Hal
ini dilakukan agar asam retinoat tidak mengalami degradasi.
Konsentrasi spiking yang ditambahkan tercantum pada Tabel 2.
Larutan spike disiapkan dengan pelarut campuran air dan asetonitril (90:10
v/v). Larutan yang telah di-spiking selanjutnya diaduk agar homogen dengan
stirrer, dan kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur 25 ml dan
ditambahkan asetonitril hingga tanda batas. Tahap ekstraksi selanjutnya
sama seperti prosedur pada 3.3.
3.5. Pengkondisian Instrumen
a. Metode Skrining atau Identifikasi
Dalam melakukan skrining atau identifikasi terhadap setiap
komponen yang terkandung pada sampel produk kosmetik, dipilih suatu
pengembangan metode UPLCTM system (Waters, Milford, USA), yang
terdiri dari binary solvent manager dan sample manager. Intrumen

UPLC dihubungkan dengan suatu detektor resolusi tinggi TOF-MS


(LCT Premiere XE, Waters, Milford, USA). Sinyal output yang
dihasilkan dipantau dan diproses dengan Waters Masslynx Software
(v4.1).
Pemisahan

komponen

sampel

dilakukan

dengan

metode

kromatografi dengan sistem fase terbalik. Kolom yang digunakan adalah


Waters Acquity BEH shield RP18 (2,1 mm x 100 mm, 1,7 m). Fase
gerak yang digunakan terdiri dari dua jenis, yaitu fase gerak A adalah
ammonia 0,01% dalam air dan B adalah asetonitril. Sistem pengaliran
secara bergradien, dimana 99% fase air dialirkan dan ditahan selama 2
menit pada 45% sebelum kembali ke kondisi awal selama 1 menit.
Sistem bergradien diatur dengan laju alir 0,4 mL/menit, volume sampel
yang diinjeksikan adalah 0,4 L dengan suhu kolom diatur 40oC.
Gas pengering yang sebagai nebulizer adalah gas nitrogen. Aliran
desolvasi ditetapkan sebesar 800L/ham dan dalam W mode resolusi
dicapai pada 12.000 FWHM pada 556,2711 m.z. Selama analisis dengan
0,05 Da massa eror masih dapat diterima. Detektor FP dioperasikan
dengan mode negative dan dipindai setiap 0,1 s dari 100 sampai 1000
Da. Microchannel Plate (MCP) detektor diatur pada tegangan 2700 V.
Tegangan kapiler 0,3 kV dan tegangan cone adalah 50 V. Temperatur
desolvasi dan temperature sumber adalah 450oC dan 120oC. Lock Mass
(leucine enkephalin, 2 ng/L dalam metanol: air; 1:1 v/v), dengan laju
alir lock spray 5L/menit. Sebanyak 30 V tegangan cone sebagai
tegangan adekuat untuk menghasilkan intensitas sinyal yang kuat pada
tiap senyawa. Kalibrasi dari 50 hingga 1000 m/z digunakan asam fosfat
0,1 % dengan laju alir 10 L/menit.
b. Metode Kuantifikasi
Kuantifikasi dengan menggunakan instrument UPLC yang
dihubungkan pada suatu detektor DAD. UPLCTM system (Waters,
Milford, USA), yang terdiri dari binary solvent manager dan sample
manager. Sinyal output dipantau dan diproses menggunakan Waters

EmpowerTM 3 Software Citrix. Kolom yang digunakan adalah Waters


Acquity BEH RP18 (2,1 mm x 100 mm, 1,7 m). Fase gerak yang
digunakan terdiri dari 0,025 M ammonium borat sebagai buffer pH 10
sebagai fase berair dan asetonitril digunakan sebagai pengubah organik.
Sistem gradient dimulai pada 99% penyangga dan kondisi ini
dipertahankan selama 3 menit. Setelah itu persentase buffer diturunkan
secara linier menjadi 70% dalam 1 menit dan kemudian menurun secara
linier menjadi 30% pada 6 menit sebelum kembali ke kondisi awal.
Volume yang diinjeksikan adalah 4 L dan suhu kolom ditetapkan pada
suhu 40oC. Untuk melakukan estimasi terhadap kesalahan metode yang
dilakukan, maka divalidasi dengan metode UV pada pustaka (Desmedt et
al., 2013).
3.6. Validasi Metode Skrining
Sebuah metode skrining harus mampu mengidentifkasi agen-agen
pemutih pada konsentrasi yang rendah. Hal ini berarti bahwa metode harus
mampu membedakan matriks sampel dengan agen pemutih, dan metode
yang digunakan harus sedapat mungkin menghasilkan perspektif positif
palsu atau negatif palsu. Untuk memastiakan selektivitas metode skrining
strategi validasi dan kualiti kontrol prosedur mengadopsi prosedur dalam
analisis

residu

pestisida

dalam

makanan

dan

pakan

ternak

(Sanco/12495/2011) (Sanco, 2011) dan Guidelines for the validation of


Screening Methods for Residue of Veterinary Medicine 20/1/2010 (CRLs,
2010).
Menurut kedua dokumen tersebut, metode skrining kualitatif dalam
mendeteksi analit, harus dapat mendeteksi analit dengan tingkat konsentrasi
deteksi sama atau mendekati konsentrasi sebenarnya. Skrining batas deteksi
(SDL) menunjukkan bahwa analit yang ditambahkan atau terkandung dalam
sampel dapat terdeteksi minimal sebanyak 95% dari jumlah sebenarnya
dalam sampel. Validasi melibatkan sedikit tidaknya 20 sampel yang meliputi
beberapa matriks dengan minimal dua per matriks dan dapat menjadi wakil
untuk lingkup matriks laboratorium.

Sesuai dengan prosedur validasi, metode ini menganalisis 32 produk


kosmetik yang berbeda-beda, dimana sampel dianalisis sebelum dan sesudah
spiking. Jenis sampel yang digunakan berupa krim, lotion, sabun, serum,
minyak dan gel. Konsentrasi yang digunakan untuk validasi menyerupai
SDL, dimana dipilih 10 hingga 100 kali lebih rendah dari konsentrasi yang
digunakan dalam produk.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Pengembangan Metode
Metode ini merupakan suatu metode yang telah diajukan dan
divalidasi pada penelitian sebelumnya oleh Desmedt et al.(2013), dimana
dalam penelitian tersebut dilakukan suatu pengembangan dan validasi
metode Fast Chromatographic (UHPLC) untuk melakukan skrining dan
kuantifikasi terhadap produk kosmetik pemutih legal dan ilegal. Pada tahun
berikutnya yaitu 2014, Desmedt et al. (2014) melakukan pegaplikasi
inspeksi terhadap produk kosmetik pemutih dipasaran untuk melakukan
krining dan kuantifikasi terhadap kandung bahan-bahan (ingridient) dari
produk kosmetik tersebut dengan metode yang telah kembangkan oleh
Desmedt et al. (2013). Metode UHPLC (Desmedt et al., 2013) telah
tervalidasi berdasarkan ketentuan ISO-17025 dan telah menunjukkan hasil
yang sangat baik. Hasil validasi terhadap pengembangan metode tersebut
dapat dirangkum sebagai berikut:
(A). Ringkasan Nilai Lack of Fit, Koef. Korelasi dan % Quality Control dengan metode
UHPLC-DAD

(B). Nilai Batas Deteksi dan Kuantifikasi Masing-masing Komponen dengan metode
UHPLC-DAD

(C). Nilai Recovery (mean standar deviasi) dari 12 jenis agen pemutih yang dianalisis pada
sampel bentuk krim, lotion dan sabun (tiap 1 analisis direplikasi sebanyak 3 kali)

Gambar (A), (B) dan (C) merupakan ringkasan validasi metode yang telah
tervalidasi berdasarkan acuan ISO-17025 dan komponen validasi lainnya
terlampir pada jurnal (Desmedt et al., 2013)

Metode UHPLC atau Ultra High-Speed Liquid Chromatography


(UHPLC) merupakan turunan dari metode HPLC, dimana pada UHPLC
penurunan ukuran partikel dari kolom akan meningkatkan efisiensi dan
resolusi (1). Fase diam yang digunakan memiliki ukuran partikel kurang dari
2 m, sedangkan pada metode HPLC ukuran partikel yang umum digunakan
adalah 3-5 m (Ashok, 2012). Keuntungan dari metode ini adalah
pemisahan yang dihasilkan lebih optimal, serta waktu yang diperlukan untuk
analisis menjadi lebih singkat (Jorgenson, 2010). Dalam kuantifikasi
masing-masing analit digunakannya suatu detektor DAD atau Diode Array
Detector. DAD adalah suatu tipe detektor UV kemampuan untuk memantau
melewati seluruh rentang UV secara simultan dengan menggunakan susunan
fotodioda yang mendeteksi cahaya yang didispersikan oleh suatu
monokromator tetap di sepanjang rentang panjang gelombang dan
memberikan resolusi kurang lebih 1 mm. Detektor ini memberikan spectrum
UV yang penuh untuk tiap puncak dalam kromatogram, yang membantu
dalam identifikasi senyawa-senyawa yang belum dikenal (Watson, 2009).
Dengan menggunakan detector DAD, dapat dilakukan uji kemurnian puncak
dengan membandingkan antara spektra analit dengan spectra senyawa yang
sudah diketahui (Gandjar dan Rohman, 2007).
Pada penelitian ini jenis kolom yang digunakan adalah Waters
Acquty BEH shiel RP 18 (2,1 mm x 100 mm, 1,7 m) pada pH 10 karena

dari hasil optimasi pemisahan antara kolom Water Acquity BEH RP (2,1
mm x 150 mm, 1,7 m) dan kolom Waters Acquty BEH shiel RP 18 (2,1
mm x 100 mm, 1,7 m) menunjukan hasil resolesi pemisahan yang paling
baik. Optimasi pH juga dilakukan antara pH 3, 6 dan 10, dimana pH 10
menunjukkan hasil yang paling baik (Desmedt et al., 2013). Selama dilakukan
pengembangan metode UHPLC-ToF-MS, perbedaan konsentrasi ammonia
diuji dari rentang 1% hingga 0,001% v/v sebagai larutan berair. Dari hasil
kromatogram menunjukkan bahwa ammonia dengan konsentrasi 0,01% v/v
memberikan hasil resolusi kromatogram terbaik (data tidak ditunjukkan).
Kondisi tersebut selanjutnya akan digunakan dalam elusi bergradien.
Sebelumnya dalam prosedur disebutkan bahwa 99% fase berair dialirkan
secara linier hingga 10% fase berair selama 10 menit sebelum kembali pada
keadaan konsentrasi awal pada 2 menit perlakuan ini mampu meminimalkan
waktu retensi dari 12 menit mejadi 7 menit (Desmedt et al., 2013; Desmedt et
al., 2014)

Total Ion Chromatogram (TIC) dari hasil sampel yang dispiking dan
Extracted Ion Chromatogram (EIC) dari sampel sebenarnya (positif)
ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. (i) Kromatogram TIC yang di-spiking 12 jenis agen pemutih


dalam krim pada konsentrasi SDL. (ii) Kromatogram SIM dari sampel positif
hidrokuinon dan clobetasol propionate (Desmedt et al., 2014)

4.2

Validasi Metode
Tahap awal sebelum dilakukan kuantifikasi pada penelitian ini,
diawali dengan melakukan skrining pada sampel-sampel yang diguga ilegal.
Namun sebelum melakukan skrining terhadap sampel, harus ditentukan
terlebih dahulu batas deteksi skrining. Penentuan batas deteksi skrining pada
penelitian ini mengacu pada (Sanco/12495/2011) (Sanco, 2011) dan
Guidelines for the validation of Screening Methods for Residue of
Veterinary Medicine 20/1/2010 (CRLs, 2010). Batas deteksi skrining ini
akan menggambarkan selektivitas metode hingga mampu mendeteksi analit
tertentu (CRLs, 2010).
Hasil validasi sampel yang digunakan dalam tahapan skrining
menunjukkan bahwa, metode selektif terhadap 32 sampel SDL dan tidak
ditemukan adanya hasil positif palsu atau negatif palsu. Positif palsu (Tipe I
atau error) menandakan bahwa adanya suatu analit terdeteksi, padahal
sebenarnya yang memberikan sinyal adanya analit bukanlah analit tersebut
yang dituju, sehingga akan menghasilkan sinyal positif namun sinyal
tersebut palsu, sedangkan negatif palsu (Tipe II atau error) adalah bahwa
tidak adanya sinyal yang menandakan suatu analit yang dituju, namun
sesungguhnya analit tersebut ada (Analitical Detection Limit Guidance,
1996).
Dari hasil yang diperoleh pada penelitian ini, telah sesuai dengan
batas yang ditetapkan untuk positif palsu dan negatif palsu. Berdasarkan
metode yang dijelaskan dalam European Pharmacopoeian dan International
Conference on Harmonization (ICH), batas deteksi (LOD) yang diperoleh
secara eksperimental untuk 12 agen pemutih tercantum pada Tabel 3. Nilai
LOD tertinggi sebesar 30 ng/mL pada nikotinamide menunjukkan bahwa
metode ini sensitif. Kode a pada tabel merupakan tanda pada jenis

senyawa agen pemutih yang tidak diizinkan sebagai pemutih kulit dalam
kosmetik menurut Peraturan 1223/2009 dan Annex II (Official Journal of
the European Unioun, 2009).

Tabel 3. Nilai LOD yang diperoleh secara eksperimental terhadap 12 jenis


agen pemutih (Desmedt et al., 2014)

4.3

Dugaan Kosmetik Pemutih Ilegal


a. Hasil Skrining
Metode yang telah diuji dan validasi sebelumnya selanjutnya
diterapkan untuk mengidentifikasi dan menyelidiki 163 kosmetik yang
diduga sebagai kosmetik pemutih ilegal. Hasil untuk masing-masing sampel
ditunjukkan oleh Gambar. 2. Dari hasil penyelidikan diperoleh sebanyak 151
sampel terbukti positif mengandung agen pemutih dari 12 jenis agen
pemutih yang telah diselidiki sebelumnya. Agen pemutih yang paling sering
digunakan dalam produk kosmetik namun masih bersifat legal yaitu asam
salisilat dan asam kojik terdeteksi sebanyak 89 dan 71 dari jumlah seluruh
sampel. Agen pumutih ketiga yang paling banyak terdeteksi adalah
clobetasol propionate. Sebanyak 65 sampel produk kosmetik menunjukkan
hasil positif bersifat illegal, hal ini dikarenakan sebanyak 40% sampel positif
mengandung kortikosteroid kelas IV yang bersifat sangat poten. Arbutin
terdeteksi pada 29 sampel produk kosmetik. Saat ini bahan tersebut masih
diakui sebagai bahan yang legal, namun hal tersebut masih dalam tahapan
diskusi dengan Scientific Committee on Custumer Safety (SCCS).

Hidrokuinon terdeteksi pada 19 sampel dan tretinoin (asam retinoat)


terdeteksi pada 18 sampel produk kosmetik, apabila dipersentasekan
sebanyak 12% dari total sampel mengandung hidrokuinon dan 11% sampel
mengandung tretinoin. Total produk kosmetik yang terdeteksi mengandung
kortikosteroid sebanyak 92 sampel.

Gambar 2. Jumlah masing-masingsampel yang teridentifikasi mengandung masingmasing dari 12 jenis agen pemutih dari total 163 sampel (Desmedt et al., 2014).

Namun angka ini tidak berhubungan secara langsung dengan jumlah


sampel positif yang mengandung lebih dari satu kortikosteroid. Tidak ada
satu pun dari seluruh sampel mengandung kortikosteroid jenis betametason
valerate.
Pada semua sampel positif dapat diringkas sebagai berikut, 40 sampel
mengandung clobetasol propionate, 15 sampel mengandung tretinoin, 11
mengandung hidrokuinon dan 1 sampel mengandung hidrokortison asetat.
Sampel yang mengandung kombinasi dua agen pemutih illegal ditunjukkan
pada Tabel 4. Pada sampel yang mengandung kombinasi 2 agen pemutih,
ditemukan bahwa 21 sampel positif mengandung clobetasol propionate
kombinasi dengan tritionin, hidrokuinon, betametason dipropionate dan
dexamatason.
Dari 163 sampel yang positif sebanyak 96 sampel positif mengandung
1 atau lebih agen pemutih illegal. Karena kemampuan asam salisilat dalam

memfasilitasi absorbsi bahan-bahan lain ke dalam kulit, kombinasi asam


salisilat dan agen pemutih ilegal sangat tidak diperbolehkan. Kombinasi
tersebut ditemukan pada 52 sampel yang positif, hal ini menunjukkan 54%
dari sampel positif mengandung agen pemutih ilegal.
Sebanyak 70 sampel terdeteksi positif mengandung 1 atau lebih
kortikosteroid yang menunjukkan bahwa sebanyak 73% dari sampel positif
mengandung agen pemutih ilegal.

Tabel 4. Jumlah kombinasi agen pemutih ilegal yang terdeteksi dalam sampel
positif (Desmedt et al., 2014).

4.4

Hasil Kuantifikasi
Dari 151 sampel produk kosmetik yang positif terdeteksi
mengandung agen pemutih (baik legal maupun ilegal) selanjutnya
kandungan tersebut dihitung menggunakan metode UPLC-DAD. Pada tabel
5. menunjukkan rata-rata, median, konsentrasi tertinggi dan terendah untuk
jumlah setiap agen yang terdeteksi. Namun pengecualian pada flucinolone
dan hidrokortison asetat hanya terdeteksi sekali dari seluruh sampel. Dua
sampel positif mengandung asam kojik, namun pada konsentrasi rendah dari
LOQ. Sebanyak 69 sampel mengandung rata-rata 0,84 hingga 2,05% asam
kojik dan hal tersebut dapat diterima karena berdasarkan Martindale ed36,
konsentrasi tersebut masih berada dibawah rentang 0,5-2% (Sweetman,
2009).
Asam salisilat ditemukan pada 89 sampel, namun yang mampu
terkuantifikasi hanya pada 54 sampel. Rata-rata konsentrasi yang terkandung
adalah 0,2% hingga 3,14%. Kosmetik yang mengandung asam salisilat
diperbolehkan pada rentang 0,5% hingga konsentrasi maksimum yaitu 2%

(3,6). Sebanyak 4 sampel masih berada pada rentang dibawah 0,5%, namun
terdapat satu sampel yang terkandung dalam jumlah diatas 2% yaitu pada
konsentrasi 3,14%. Dari nilai median yang diperoleh yaitu 0,055%, hal ini
mengindikasikan bahwa penggunaan asam salisilat pada produk kosmetik
masih pada konsentrasi yang rendah, konsentrasi yang rendah tersebut tidak
dapat memberikan efek sebagai pengelupasan kulit atau keratolitik, namun
mungkin ditambahkan untuk kepentingan sebagai pengawet (Sweetman,
2009).
Sebanyak 18 sampel terkuantifikasi mengandung arbutin, dimana
rata-rata konsentrasi adalah 0,49% dan maksimum adalah 2,5%. Konsentrasi
ini masih dibawah 7% berdasarkan yang telah dilaporkan sebelumnya.
Arbutin mampu melepaskan hidrokuinon ketika diaplikasikan pada kulit.
Penggunaan tersebut telah diriview oleh SCSS, dan merekomendasikan
tidak menggunakaan agen tersebut dalam produk kosmetik.
Dalam produk kosmetik dan terapi dermatologi, nikotinamide dapat
digunakan hingga konsentrasi 4% (Desmedt et al., 2013). Pada hasil
pengujian diperoleh hasil kuantifikasi kandungan nikotinamide 0,42 %
hingga maksimum 1,36 %. Nilai ini masih masuk dalam rentang yang
diperbolehkan.
Dalam tujuan medis, penggunaan hidrokuinon ditujukan untuk
mengobati luka bakar. Namun dari segi penggunaan dalam produk kosmetik
hal tersebut dilarang. Tujuah dari 19 sampel mengandung hidrokuinon pada
konsentrasi lenih rendah dari LOQ (Sweetman, 2009). Kandungan rata-rata
hidrokuinon dalam sampel adalah 5,22 % hingga maksimal 11,86%. Apabila
ditinjau dari tujuan perawatan dermatologi konsentrasi yang umumnya
digunakan dan diperbolehkan adalah 1% hingga 5%. Hal ini menunjukkan
sampel mengandung hidrokuinon pada konsentrasi yang berbahaya. Bahkan
ada satu sampel yang mengandung 10,80% hidrokuinon dan 3,13% asam
salisilat, sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel tersebut telah melanggar
regulasi.

Kortikosteroid clobetasol propionate dan betametasone terdeteksi


masing-masing pada 54 dan 12 sampel. Konsentrasi rata-rata kandungan
propionate adalah 0,026% dan maksimum adalah 0,059%. Pada betametason
diperoleh konsentrasi rata-rata adalah 0,038% dan maksimum 0,0650%.
Pada kortikosteroid dexametasone yang terkuantifikasi pada tujuan kali
kondisi yang berbeda, diperoleh konsentrasi pada sampel adalah 0,0016%
dan nilai ini 10 kali lebih rendah dari atas bawah dari konsentrasi
penggunaan medis pada umumnya yaitu 0,05%. Dari hasil kuantifikasi
tretinoin diperoleh konsentrasi rata-rata adalah 0,038% dan nilai maksimum
adalah 0,06%. Nilai ini masih masuk dalam rentang 0,01-0,1% (Sweetman,
2009; Ladizinski et al., 2011).
Selain melakukan peneliatan secara eksperimental pada produk
kosmetik, juga dilakukan pengamatan dari segi perspektif konsumen. Dari
hasil tersebut diperoleh bahwa konsumen membeli produk pemutih mereka
dengan hati-hati dan waspada, namun sebenarnya mereka tidak megetahui
secara pasti kandungan dari produk mereka sendiri. Dari hasil skrining
diperoleh bahwa kadang-kadang lebih dari satu agen putih ditambahkan
dalam produk kosmetik, untuk menjaga produk kosmetik yang dihasilkan
sangat perlu dilakukannya kontrol kualitas oleh pelaku usaha

BAB V
KESIMPULAN
Dari sudut pandang hukum, semua produk yang dijual sebagai kosmetik
mengandung agen pemutih ilegal dijual ilegal dipasaran. Oleh karena itu suatu
metode skirining UHPLC-ToF-MS mampu sebagai metode yang dapat digunakan
dalam analisis rutin terhadap produk kosmeti yang diduga ilegal. Agar dapat
menilai atau mengkuantifikasi setiap komponen tersebut metode UHPLC-DAD
dapat digunakan khususnya pada bahan-bahan yang diperbolehkan pada batasan
rentang tertentu.
Agen pemutih ilegal sangat serimg ditemukan pada sampel yang diteliti.
Agen pemutih ilegal yang paling banyak ditemui pada sampel adalah clobetasol
propionate yang termasuk pada golongan kortikosteroid golongan IV dan
ditemukan pada 65 sampel. Dari sampel total ditemukan 70 sampel positif
mengandung satu atau lebih kortikosteroid. Selain itu hidrokuinon dan tretinoid
juga ditemukan pada 19 dan 18 buah sampel.
Karena kecendrugan kosmetik yang pasti akan digunakan berulang dan
dalam jangka waktu lama, hal ini menjadi sangat riskan ketika bahan-bahan
berbahaya tersebut digunakan terus menerus. Hal yang paling membahayakan
adalah ketika mulai timbulnya berbagai efek samping akibat penggunaan bahanbahan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Adebajo, S. B., 2002. An Epidermiological Survey of the Use of Cosmetics Skin
Lightening Cosmetics Among Tenders in Lagos. West African Journal of
Medicine. Vol. 21 No. 1:51-55.
AlGhamdi, K. 2010. The use of topical bleaching agents among women: a crosssectional study of knowledge, attitude and practices. J. Eur. Acad.
Dermatol. Vo. 24 , pp: 12141219.
Andriyani, Vina Budi. 2011. Identifikasi Asam Retinoat Dalam Krim Pemutih
Wajah Secara Kromatografi Lapis Tipis. Universitas Sumatra Utara.
Medan.
Anief, Moh. 1997. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Ashok Kumar. 2012. UPLC: A Preeminient Technique in Pharmaceutical
Analysis. Acta Poloniae Pharmaceutical-drug research. Vol 69 (30). Pp
371-380
Aytmir, M. D., G. Karayaka. 2012. Kojic Acid Derivates. Medicinal Chemistry
and Drug Design. Avalaible at www.intechopen.com.
BPOM RI. 2003. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia Nomor HK.00.05.4.1745. Keputusan Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan, Republik Indonesia.
BPOM RI. 2009. Public Warning: Peringatan tentang Kosmetik Mengandung
Bahan Berbahaya dan Bahan Dilarang. Jakarta.
BPOM RI. 2011. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan
Republik Indonesia Nomor Hk. 03.1. 23.08. 11.07331 Tahun 2011 Tentang
Metode Analisis Kosmetika. Jakarta : Badan Pengawas Obat Dan Makanan
Republik Indonesia.
BPOM RI. 2014. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan
Republik Indonesia Nomor No. HM. 03.03.1.43.12.14.7870 Tentang
Kosmetik Mengandung Bahan Berbahaya/Bahan Dilarang. Jakarta: Badan
Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia.
CRLs (Community reference laboratories residues). 2010. Guidelines for the
validation of screening methods for residues of veterinary medicines.
Dekker, Marcel. 1998. Handbook of HPLC. New York: Marcel Dekker Inc.
Depkes R.I. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV.Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Desmedt, B. V. Rogiers, P. Courselle, J. De Beer, K. De Paepe, E. Deconinck.
2013. Development and validation of a fast chromatographic method for

screening and quantification of legal and illegal skin whitening


agents, J. Pharm. Biomed. Anal. 83 (2013) 8288.
European Pharmacopoeia. 2009. Regulation (EC) No. 1223/2009 of the European
Parliament and of the Council. Official Journal of the European Union.
Gandjar, I. G dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Harmita. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya.
Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. I, No.3: 117 135.
Jorgenson, J.w. 2010. Capillary Liquid Chromatography at Ultra high Pressures.
Anuual Review of Analytical Chemistry. Vol 3. Pp 129-150.
Karamagi, E. Owino, E. 2001. Katabira, Hydroquinone neuropathy following
use of skin bleaching creams: case report. East Afr. Med. J. 78 , pp:
223224.
Menteri Kesehatan RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan No.
1175/MENKES/PER/VIII/2010.
Kementrian
Kesehatan Republik
Indonesia.
Moffat, Antonym C., M. David Osselton, and Brian Widdop. 2005. Clarke`s
Analysis of Drugs and Poisons. Third editions. London: The
Pharmaceutical Press.
Parengkuan, K., Fatimawali, G. Citraningtyas. 2013. Analisis Kandungan Merkuri
pada Krim Pemutih yang Beredar di Kota Menado. Pharmacon Jurnal
Ilmiah Farmasi. Vol. 2, No. 1.
SANCO, N. 2011. SANCO/12495/2011. Method validation and quality control
procedures for pesticide residues analysis in food and feed. Implemented.
SCCNFP. 2002. SCCNFP/0522/01,
concerning on salicylic acid,
SCCNFP/0522/01, in: Adopted during the 20th Plenary Meeting of 4
June 2002, 2002.
Watson, D. G. 2009. Analisis Farmasi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.