Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KELOMPOK PRAKTIK KOMPREHENSIF

DI RSKO JAKARTA TANGGAL 09 28 MEI 2016

Oleh:
Ani Fitryani

Heru Sri Wisnuwantoro

Bagjalia Agustina

Hilda Nurul Apriani

Dela Wagenda

Marisyeu Diniati Lestari

Dian Khoirun Nisa

Muhammad Fadlian N

Dina Nur Fajrin

Nurani Puspita N

Enung Siti Nurjanah

Rani Suryani

Ersa Rizky Septyarini

Ria Nurhalimah

Eva Ferani Putri

Sihmulyaningtyas Paramita

Faradita Putri Barliana

Siti Nur Aisyah

Hasna Oktaviani

Yurianingsih

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN BOGOR
2016

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, penulis panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan Laporan Kelompok Praktik Komprehensif di RSKO Jakarta
pada tanggal 09 28 Mei 2016. Laporan kegiatan ini diajukan untuk memenuhi
mata kuliah Keperawatan Komprehensif pada Program Studi Keperawatan Bogor
Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung tahun ajaran 2015/2016.
Dalam penyusunan laporan kegiatan ini, tidak lepas dari hambatan serta
kesulitan. Namun atas bimbingan, arahan serta bantuan dari berbagai pihak
akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan kegiatan ini. Semoga laporan
kegiatan ini bermanfaat bagi perkembangan Ilmu Keperawatan, pembaca pada
umumnya dan profesi keperawatan khususnya.
Amiin.

Bogor, Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A.

Latar Belakang Masalah............................................................................1

B.

Rumusan Masalah.....................................................................................4

C.

Tujuan........................................................................................................4

BAB II LAPORAN KEGIATAN.............................................................................6


A.

Sejarah RSKO Jakarta...............................................................................6

B.

Nama-nama Direktur RSKO Jakarta.........................................................6

C.

Pelayanan Unggulan..................................................................................7

D.

Visi dan Misi RSKO Jakarta.....................................................................9

E.

Instalasi Gawat Darurat...........................................................................10

F. Dokter Konsulen.........................................................................................12
G.

Instalasi Rawat Jalan...............................................................................12

H.

Terapi Metadon........................................................................................12

I.

Instalasi Rehabilitasi...................................................................................15

J.

Asuhan Keperawata (Terlampir).................................................................16

BAB III PEMBAHASAN......................................................................................17

A.

Pengalaman Praktik Klinik......................................................................17

B.

FAKTOR PENDUKUNG.......................................................................18

C.

FAKTOR PENGHAMBAT.....................................................................19

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI................................................21

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan nasional Indonesia bertujuan mewujudkaan manusia
Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya yang adil,
makmur, sejahtera, tertib dan damai. Untuk mewujudkan masyarakat
Indonesia tersebut, perlu peningkatan secara terus-menerus akan kualitas
sumber daya manusia yang ada. Perkembangan ilmu dan teknologi serta
moderenisasi memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan
kualitas sumber daya manusia. Seiring dengan hal itu, terjadi pergeseran
masalah kesehatan masyarakat dari penyakit infeksi sampai penyakit
degeneratif. Salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius adalah
penyalahgunaan NAPZA.
Masalah penyalahgunaan NAPZA ini bukan saja merupakan masalah
yang perlu mendapat perhatian bagi negara Indonesia, melainkan juga bagi

dunia Internasional. Memasuki abad ke-20 perhatian dunia internasional


terhadap masalah narkotika semakin meningkat, salah satu dapat dilihat
melalui Single Convention on Narcotic Drugs pada tahun 1961. Masalah
ini menjadi begitu penting mengingat bahwa obat-obat (narkotika) itu
adalah suatu zat yang dapat merusak fisik dan mental yang bersangkutan,
apabila penggunanya tanpa resep dokter.
Penyalahgunaan NAPZA di Indonesia, sekarang ini sudah sangat
memprihatinkan. Hal ini disebabkan beberapa hal antara lain karena
Indonesia yang terletak pada posisi di antara tiga benua dan mengingat
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pengaruh
globalisasi, arus transportasi yang sangat maju dan penggeseran nilai
matrialistis dengan dinamika sasaran opini peredaran gelap. Masyarakat
Indonesia bahkan masyarakat dunia pada umumnya saat ini sedang
dihadapkan pada keadaan yang sangat mengkhawatirkan akibat maraknya
pemakaian secara illegal bermacam-macam jenis narkotika. Kekhawatiran
ini semakin di pertajam akibat maraknya peredaran gelap narkotika yang
telah merebak di segala lapisan masyarakat, termasuk di kalangan generasi
muda. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan bangsa dan
negara pada masa mendatang.
NAPZA merupakan zat psikoaktif narkotika, psikotropika, dan zat
adiktif lainnya dapat juga diartikan sebagai bahan atau zat-zat kimiawi
yang jika masuk ke dalam tubuh baik secara oral (dimakan, diminum, atau
ditelan), diisap, dihirup atau disuntikkan akan mengubah suasana hati,

perasaan, dan perilaku seseorang. Hal ini dapat menimbulkan gangguan


keadaan sosial yang ditandai dengan indikasi negatif, waktu pemakaian
yang panjang, dan pemakaian dosis yang berlebihan (Kusmiran, 2011).
NAPZA berpengaruh terhadap fisik dan mental, apabila digunakan dengan
dosis yang tepat dan dibawah pengawasan dokter anastesia atau dokter
phsikiater dapat digunakan untuk kepentingan pengobatan atau penelitian
sehingga berguna bagi kesehatan phisik dan kejiwaan manusia.
Berdasarkan hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN)
bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia
memperkirakan penyalahgunaan NAPZA tahun anggaran 2014 ada
sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah memakai NAPZA
dalam setahun terakhir (current users) pada kelompok usia 10-59 tahun.
Jadi, ada sekitar 1 dari 44 sampai 48 orang berusia 10-59 tahun masih atau
pernah memakai NAPZA pada tahun 2014. Angka tersebut terus
meningkat dengan merujuk pada hasil penelitian yang diperkirakan jumlah
pengguna NAPZA tahun 2015 mencapai 5,8 juta jiwa.
Untuk menangani masalah ketergantungan dan kecanduan NAPZA,
pemerintah menyelenggarakan upaya preventif, promotif, kuratif dan
rehabilitatif. Undang-Undang telah memberikan hak-hak bagi para
pecandu untuk mendapatkan rehabilitasi medis dan sosial. Rumah Sakit
Ketergantungan Obat Jakarta (RSKO Jakarta) merupakan satu-satunya
rumah sakit milik pemerintah yang menyelenggarakan upaya preventif,
promotif, kuratif dan rehabilitasi dalam bidang NAPZA dari berbagai

kalangan secara komprehensif. Oleh karena itu, RSKO Jakarta dipilih


sebagai lahan praktik pendidikan keperawatan komprehensif berbasis bukti
dalam bidang NAPZA.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis merumuskan
masalah sebagai berikut Bagaimana Asuhan Keperawatan pada klien
dengan penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA di RSKO Jakarta?
C. Tujuan
1

Tujuan Umum
Makalah ini dibuat bertujuan untuk mengetahui Asuhan
Keperawatan Komprehensif pada Klien dengan Penyalahgunaan dan
Ketergantungan NAPZA di RSKO Jakarta.

Tujuan Khusus
a. Diketahuinya karakteristik pengguna NAPZA
b. Diketahuinya dampak yang ditimbulkan terhadap pemakaian
NAPZA bagi klien dengan penyalahgunaan dan ketergantungan
NAPZA, baik dampak fisik, psikologis, social dan hukum.

D. Manfaat
a. Bagi Mahasiswa

Mahasiswa mendapatkan data dan informasi tentang Asuhan


Keperawatan Komprehensif pada klien dengan Penyalahgunaan
dan ketergantungan NAPZA. Mahasiswa mengharapkan makalah
ini dapat memberikan informasi sebagai kajian teoritis maupun
referensi, kepada para mahasiswa lain dalam melaksanakan Asuhan
Keperawatan pada klien dengan penyalahgunaan dan
ketergantungan NAPZA.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan untuk pengelolaan program pembelajaran
mata kuliah Keperawatan Komprehensif.

BAB II
LAPORAN KEGIATAN

A Sejarah RSKO Jakarta


Rumah sakit ini digagas pendiriannya oleh Bp. Ali Sadikin (alm)
mantan gubernur DKI Jakarta, dr. Herman Susilo (mantan Ka. Dinkes DKI
Jakarta), Prof. dr. Kusumanto Setyonegoro (mantan Ka. Ditkeswa Depkes)
dan bagian psikiatri Universitas Indonesia. Secara resmi mulai beroperasi
pada tanggal 12 April 1972. sebagai upaya memenuhi kebutuhan
masyarakat luas akan adanya rumah sakit pemerintah yang secara khusus
memberikan layanan kesehatan dibidang gangguan penyalahgunaan napza,
hal ini mendapat tanggapan positif dari masyarakat.

Tanggapan positif diiringi dengan meningkatnya kebutuhan


masyarakat akan layanan kesehatan yang lebih baik dan lebih lengkap.
Untuk menjawab kebutuhan ini, Rumah Sakit Ketergantungan Obat
menambah kapasitas layanannya dengan mendirikan bangunan baru di
Cibubur, Jakarta Timur pada tahun 2002 dilakukan soft opening.
E. Nama-nama Direktur RSKO Jakarta
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

dr. Erwin Widjono, Sp.KJ


dr. Al Bahri Husein, Sp.KJ
dr. Sudirman, Sp.KJ
dr. Ratna Mardiati S, Sp.KJ
dr. Fidiansyah, Sp.KJ
dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS
dr. Laurentius Panggabean, Sp.KJ, MKK
dr. Erie Dharma Irawan, Sp.KJ, MARS

1972 - 1987
1987 - 1997
1997 - 2005
2005 - 2008
2009 - 2010
2010 - 2012
2012 - 2015
2015 Sekarang

F. Pelayanan Unggulan
1. Pelayanan napza komprehensif: penerimaan awal (intial intake),
detoksifikasi, rehabilitasi pelayanan untuk komplikasi medik, dual
diagnosis dan terapi rumatan metadon dan bufrenorfin yang merupakan
ciri khas terapi cafeteria guna menjawab kebutuhan penerima layanan. Hal
diatas dimaksud untuk menyelaraskan kebutuhan pasien, keluarga dan
masyarakat.
2. Sebagai pengampu layanan program rumatan metadon/suboxon.
3. Memberi pelatihan dan pendidikan dari berbagai profesi dibidang
pelayanan ketergantungan napza (pelayanan akibat gangguan yang
berhubungan dengan zat).

10

4. Menjadi bagian dari jejaring dunia melalui kolaborasi badab dunia (WHO,
UNODS, UNAIDS) menyusun pedoman terapidan pelatihan serta
modulnya untuk kepentingan internasional, regional dan nasional.
5. Menjadi narasumber bagi pelatihan, pelayanan dan penyusunan
perencanaan terapi ketergantungan napza dan HIV/AIDS.
6. Menjadi bagian jejaring pelayanan kesehatan HIV/AIDS dalam promosi,
prevensi, terapi dan penelitian.
Pesatnya kemajuan teknologi informasi turut memacu tuntutan
masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik secara terus
menerus. Tidak bisa tidak, dunia kesehatan khususnya di bidang perumahsakitan perlu untuk terus menerus melakukan upaya dalam memperbaiki
mutu pelayanan kesehatan mereka, baik di bidang sumber daya manusia,
fasilitas dan peralatan kedokteran, teknologi informasi dan sebagainya.
Kesadaran ini turut mendorong Rumah Sakit Ketergantungan Obat
untuk terus melakukan upaya tanpa henti di segala bidang dalam usaha
memenuhi kebutuhan masyarakat. Berkat kerja keras bersama dari seluruh
jajaran pimpinan, dokter, dan karyawan.
Dengan akan adanya Penerapan Sistem Remunerasi di Rumah Sakit
Ketergantungan Obat yang saat ini sedang diolah bersama di tingkat
manajemen, maka atas dasar itu masing-masing karyawan bisa dilakukan
penilaian kinerja secara lebih objektif.
Peningkatan SDM menjadi prioritas utama yang dilakukan Rumah
Sakit Ketergantungan Obat untuk menghasilkan pelayanan yang bermutu

11

dan berkualitas. Hal ini nampak dari profesionalnya kinerja para pimpinan,
dokter dan perawat serta seluruh staf dan karyawan lainnya. Programprogram peningkatan berupa training dalam dan luar negeri, pendidikan
formal, langsung melakukan studi banding ke lembaga-lembaga kesehatan
yang kredibel, dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.
G. Visi dan Misi RSKO Jakarta
1

Visi
Menjadi Rumah sakit yang unggul dalam Pelayanan, Pendidikan
dan Penelitian dalam bidang NAPZA di tahun 2019.

Misi
Menyelenggarakan upaya preventif, promotif, kuratif dan
rehabilitatif dalam bidang bidang NPZA dan penyakit terkait secara
komprehensif dan paripurna yang memenuhi kaidah mutu
keselamatan pasien dan terjangkau oleh masyarakat yang dikelola oleh
tenaga yang kompeten.
Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi tenaga profesi
serta masyarakat umum dalam bidang NAPZA dan melaksanakan
penelitian dan pengembangan berbasis bukti dalam bidang NAPZA.
Menjadi sarana bagi pegawai untuk meningkatkan kompetensi dan
kesejahteraan

12

Motto
Motto rumah sakit Ketergantungan Obat adalah Ramah, Sigap,
Kasih, Optimis.
a. Ramah, selalu memberikan senyum, salam dan sapa setiap
memberikan pelayanan maupun sesama karyawan.
b. Sigap, selalu berusha cepat, tepat dan cekatan dalam melakukan
pekerjaan maupun pelayanan sesuai dengan sistem dan prosedur
yang berlaku.
c. Kasih, selalu memberikan kepedulian dan tanggap serta saling
menghargai dan menghormati pendapat orang lain.
d. Optimis, senantiasa memberikan harapan kepada pasien dan
keluarganya agar pasien mencapai proses pemulihan yang optimal
dari masalah penyalahgunaan napza.

H. Instalasi Gawat Darurat


Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Ketergantungan Obat adalah
Instalasi yang memberikan pelayanan 24 jam kepada pasien dengan
kondisi gawat darurat sehingga perlu mendapatkan pelayanan sesegera
mungkin sesuai standar yang ada.
Kasus-kasus yang dapat dilayani:
1.
2.
3.
4.

Kasus-kasus Umum
Kasus-kasus Napza
Kasus-kasus Jiwa
Bencana Massal

Tindakan-tindakan:

13

1. Resusitasi
2. Intoksikasi Napza
3. Intoksikasi Umum
4. Heacting/Jahit luka
5. Angkat jahitan
6. Nekrotomy
7. Perawatan Luka Bakar
8. Insisi Abses
9. Eksplorasi/Cross Incise
10. Ekstraksi Corpus Alienum
11. Ganti verban
12. Pasang Fowley Kateter
13. Pasang NGT
14. Pasang Spaik/Bidai
15. Lavage Lambung
16. Lain lain
17. Pemeriksaan EKG
18. Nebulizer/Inhalasi
Fasilitas Penunjang 24 jam:
1. Laboratorium
2. Radiologi
3. Ambulance
Pelayanan dilakukan oleh tenaga dokter dan perawat yang terampil
serta kompeten dalam masalah kegawatdaruratan.
I. Dokter Konsulen
1.
2.
3.
4.

Psikiater
Spesialis Internis
Spesialis Anak
Spesialis Saraf

J. Instalasi Rawat Jalan


1. Poliklinik Umum
2. Klinik Umum

14

Klinik Umum RS. Ketergantungan Obat Jakarta ditangani oleh dokterdokter yang berpengalaman dan siap menangani keluhan awal Anda dan
dapat mengarahkan penanganan spesialistik lebih lanjut secara tepat.
K. Terapi Metadon
1. Definisi
Metadon adalah opiate sintetik, berbentuk cair, diberikan bagi
penderita ketergantungan opiate, dan diberikan setiap hari didepan
petugas.
2. Manfaat
a. Metadon dapat mendorong pasien hidup lebih sehat
b. Dosis metadon yang tepat akan membuat pasien menghentikan
penggunaan heroin
c. Metadon akan membuat stabil mental emosional pasien, sehingga
dapat menjalani hidup normal
d. Penggunaan metadon dapat membuat pasien meninggalkan
kebiasaan berbagi peralatan suntik sehingga menurunkan resiko
penularan HIV/AIDS maupun Hepatitis B maupun C
e. Menurunkan tindak kriminal
3. Syarat Mengikuti Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)
a. Penderita ketergantungan opiate
b. Umur minimal 18 tahun
c. Bersedia mengikuti program ini minimal satu tahun
d. Ketergantungan opiate minimal satu tahun, memiliki riwayat
peningkatan dosis (toleransi), dan telah menjalani pengobatan cara
lain, tetapi tetap gagal
e. Harus ditemani oleh orang tua/wali sesuai dengan peraturan rumah
sakit
f. Bersedia menjalani pemeriksaan urin

15

4. Pemberian Awal Dosis Metadon


a. Dosis awal metadon dimulai pada 20-30 miligram
b. Dosis dinaikkan secara bertahap sampai terjadi kesesuaian dengan
kebutuhan individu
c. Metadon harus diminum setiap hari di depan petugas klinik
metadon
5. Berhenti dari Program Metadon
Apabila pasien ingin berhenti dari program metadon, pasien harus
memberitahu tim PTRM. Hal ini untuk meminimalisasi kemungkinan
gejala putus zat akibat penghentian mendadak penggunaan metadon.
6. Profesi yang Terlibat di Pelayanan Metadon
a. Dokter spesialis : Kesehatan Jiwa, Penyakit dalam
b. Dokter umum
c. Perawat
d. Apoteker
e. Konselor
f. Psikolog klinis
g. Pekerja sosial
h. Petugas laboratorium
i. Petugas kemanan
7. Layanan di Klinik Metadon
a. Terapi kelompok
b. Dinamika kelompok
c. Pendidikan kesehatan
d. Pertemuan keluarga
e. Kelompok Dukungan Sebaya (KDS)

L. Instalasi Rehabilitasi
1. Latar Belakang
Instalasi Rehabilitasi atau yang disebut Halmahera House
merupakan instalasi pemulihan narkoba Rumah Sakit Ketergantungan

16

Obat Jakarta, yang berfungsi memberikan terapi rehabilitasi pecandu


narkoba. Didukung oleh program dan tenaga professional dibidangnya
membantu pemulihan pecandu untuk kembali hidup normal bersama
keluarga dan masyarakat.
2. Visi
Menjadi pusat rujukan terapi dan rehabilitasi adiksi yang berbasis
rumah sakit (Hospital Based Program) disertai pendekatan
Therapeutic Community dan 12 langkah Narcotic Anonymous.
3. Misi
Melaksanakan upaya terapi dan rehabilitasi adiksi berbasis rumah
sakit. Membina pecandu dengan pendekatan program/treatment yang
comprehensive. Menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga
pemerintahan maupun NGO yang dapat menunjang upaya terapi dan
rehabilitasi adiksi. Meningkatkan profesionalisme SDM baik di
bidang klinis adiksi dan secara management.

4. Halmahera House Rehabilitation Center


Untuk mencapai tujuannya, Residential Treatment Halmahera
House yang berdasarkan Hospital bashed. Yang disertai dengan
pendekatan Therapeutic Community Programme. Adapun tujuan dari
residential treatment adalah sebagai berikut:

17

a. Berhenti drugs dan alcohol


b. Membangun kesadaran dari dalam diri seorang pecandu
c. Membuat pecandu mengenali diri mereka sendiri dapat berfungsi
normal kembali dalam masyarakat.
d. Mempunyai pengetahuan yang luas mengenai dunia kecanduan.
e. Memiliki tempat yang aman dan komunitas baru.
f. Dapat menunjukkan sikap dan perilaku sehat, yang dilandasi oleh
gaya hidup berpikiran jernih tanpa zat adiktif (Clean and Sober
Lifestyle).
M. Asuhan Keperawata (Terlampir)

BAB III
PEMBAHASAN

A Pengalaman Praktik Klinik


1. Dapat melatih kemampuan berkomunikasi pada klien dengan
ketergantungan NAPZA
2. Dapat melatih kemampuan berkomunikasi dengan perawat dan profesi
lainnya

18

3. Dapat mengetahui program rehabilitasi pada klien dengan


ketergantungan NAPZA di RSKO Jakarta
4. Dapat melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan
ketergantungan NAPZA
5. Dapat melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan adiksi
6. Dapat melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan
detoksifikasi
7. Dapat melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan
komplikasi akibat NAPZA
8. Dapat melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan terapi
rumatan metadon
9. Dapat melaksanakan terapi aktivitas kelompok pada klien dengan
ketergantungan NAPZA

N. FAKTOR PENDUKUNG
1. Ruang Methadon
a. Tersedianya waktu yang diberikan oleh perawat untuk
berinteraksi dengan pasien
b. Tersedianya waktu yang diluangkan oleh perawat kepada
mahasiswa untuk menggali pengetahuan tentang terapi subtitusi
methadon
2. Ruang MPE / Detoksifikasi
a. Adanya bimbingan rutin dari dosen pembimbing dan pembimbing
ruangan
b. Pasien diruang MPE/ Detoksifikasi kooperatif dalam berinteraksi
dengan pasien lain dan perawat
c. Adanya kesempatan yang diberikan oleh perawat kepada
mahasiswa untuk mengaplikasikan asuhan keperawatan pasien
dengan ketergantungan NAPZA

19

d. Semua pasien di ruang MPE dapat diajak untuk bekerja sama


dalam melakukan kegiatan seperti : Terapi aktivitas kelompok,
berolahraga.
3. Ruang Rehabilitasi (Spesial Program)
a. Saat dilakukan interaksi pasien kooperatif
b. Tersedia cukup waktu untuk berinteraksi dengan pasien

4. Ruang Primary
a. Tersedianya waktu yang diberikan oleh MOD (Mayor On Duty)
untuk berinteraksi dengan pasien
b. MOD dapat kooperatif, bekerjasama dengan baik dan membantu
memfasilitasi mahasiswa dalam melakukan interaksi dengan
pasien
O. FAKTOR PENGHAMBAT
1. Ruang Methadon
Terbatasnya waktu yang didapatkan mahasiswa dalam melakukan
asuhan keperawatan pada pasien dengan terapi rumatan metadon yaitu
hanya 1 hari saja.
2. Ruang MPE / Detoksifikasi
a. Perawat kurang membimbing mahasiswa karena adanya
akreditasi Rumah Sakit
b. Mahasiswa sulit untuk melakukan interaksi dengan pasien dalam
kondisi yang tidak mendukung seperti : suasana hati yang buruk,
dan pasien baru yang masih dalam pengaruh obat
c. Terdapat pasien yang saat dilakukan interaksi berbicaranya
inkoheren

20

d. Dalam melakukan interaksi dengan pasien kelolaan kelompok


pasien kurang kooperatif
3. Ruang Rehabilitasi (Spesial Program)
a. Kurangnya waktu untuk berdiskusi dengan perawat dan pasien
b. Terdapat kesulitan dalam berinteraksi dengan pasien karena sudah
mempunyai jadwal kegiatan setiap harinya
4. Ruang Rehabilitasi (Primary)
a. Kurangnya waktu untuk berdiskusi dengan perawat ruangan
b. Waktu untuk berinteraksi/ pengkajian dengan pasien hanya
sebentar. Dari pukul 15.00 17.30
c. Terdapat kesulitan dalam mengkaji/berinteraksi dengan klien
kelolaan kelompok karena suasana hati/moodnya naik turun

BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A Kesimpulan
Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta (RSKO Jakarta)
merupakan satu-satunya rumah sakit milik pemerintah yang
menyelenggarakan upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitasi
dalam bidang NAPZA dari berbagai kalangan secara komprehensif. Oleh
karena itu, RSKO Jakarta dipilih sebagai lahan praktik pendidikan
keperawatan komprehensif berbasis bukti dalam bidang NAPZA. RSKO
Jakarta memberikan pelayanan napza komprehensif: penerimaan awal

21

(intial intake), detoksifikasi, rehabilitasi pelayanan untuk komplikasi


medik, dual diagnosis dan terapi rumatan metadon.
Hasil dari Praktik Komprehensif yang telah dilakukan di RSKO
Jakarta pada tanggal 9 Mei 28 Mei 2016, dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Mahasiswa dapat menjalankan praktik komprehensif dengan baik sesuai
dengan kompetensi.
2. Mahasiswa dapat berkomunikasi baik dengan perawat dan staff selama
praktik di RSKO Jakarta.
3. Mahasiswa dapat membina hubungan saling percaya dengan klien yang
membuat klien dapat mengungkapkan perasaannya dan menceritakan
tentang pengalamannya menggunakan NAPZA.
4. Mahasiswa dapat membuat asuhan keperawatan yang meliputi biologis,
psikologis, sosial, budaya dan spiritual pada klien dengan
ketergantungan NAPZA beserta komplikasi penyakit yang menyertai
seperti gangguan psikososial dan gangguan pada fisiknya.
5. Kasus yang paling sering ditemukan oleh Mahasiwa adalah klien
dengan multi drugs dan dengan diagnosa keperawatan halusinasi dan
koping individu tidak efektif.
6. Pelaksanaan terapi aktivitas kelompok berjalan lancar, klien tampak
kooperatif hanya beberapa klien yang tidak fokus dan tidak kooperatif.
7. Seminar dilaksanakan pada tanggal 26 Mei 2016 di ruang Diklat
RSKO Jakarta. Seminar yang dipresentasikan dari keempat kelompok
adalah asuhan keperawatan klien dengan halusinasi, koping individu
tidak efektif, dan resiko perilaku kekerasan. Seminar dihadiri oleh 20
mahasiswa, 3 dosen pembimbing, 4 pembimbing lapangan, dan 1 ketua

22

diklat. Seminar berjalan lancar, peserta kooperatif dan mendapatkan


feedback yang positif dari dosen pembimbing dan pembimbing
lapangan.
8. Adanya bimbingan rutin dari dosen pembimbing dan pembimbing
ruangan.
9. Adanya keterbatasan waktu untuk berinteraksi dengan klien
dikarenakan keadaan klien yang moodnya tidak menentu dan kegiatan
klien yang sudah terjadwal seperti di ruang rehabilitasi spesial program
dan primary.
P. Rekomendasi
Hasil dari laporan kegiatan ini diharapkan dapat diambil manfaatnya bagi
penulis dan pembaca. Penulis menyampaikan beberapa rekomendasi
sebagai berikut:
1. Bagi mahasiswa
Diharapkan mahasiswa dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin di
waktu yang terbatas dalam berinteraksi dan melaksanakan Asuhan
Keperawatan pada klien dengan penyalahgunaan dan ketergantungan
NAPZA. Selain itu diharapkan bagi mahasiswa lain yang akan
melakukan praktik Keparawatan Komprehensif khususnya di RSKO
Jakarta dapat mempelajari lebih banyak teori keilmuan tentang
Keperawatan NAPZA dan teknik berkomunikasi yang tepat pada klien
dengan penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA
2. Bagi Institusi Pendidikan

23

Diharapkan bagi institusi pendidikan khususnya prodi Keperawatan


Bogor dapat mempertimbangkan waktu kegiatan praktik Keperawatan
Komprehensif agar tidak bersamaan dengan kegiatan pengumpulan
data. Selain itu diharapakan dalam pemberian teori keilmuan kepada
mahasiswa khususnya dalam bidang Keperawatan NAPZA dapat lebih
menyesuaikan dengan keadaaan di lahan praktik.