Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN FITOKIMIA I

PERCOBAAN V
BIOASSAY EKSTRAK BAHAN ALAM

NAMA
NIM
KELAS
KELOMPOK
ASISTEN

OLEH :
: VIA SILVANA
: O1A1 14 058
:B
: VI (ENAM)
: FADHIL MUHAMMAD A.

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016
PERCOBAAN V
BIOASSAY EKSTRAK BAHAN ALAM
A. Tujuan Praktikum
Setelah mengikuti percobaan ini diharapkan mahasiswa dapat :
1. Mengetahui prinsip dasar pengujian ekstrak bahan alam.
2. Melakukan uji bioassay dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality
Test (BST).
B. Teori Umum
Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi
senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut
yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau
serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang telah
ditentukan. Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat

secara perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan secara destilasi dengan


menggunakan tekanan (Ditjen POM, 1995).
Brine Shrimp Lethality Test (BST) merupakan salah satu metode uji
toksisitas yang banyak digunakan dalam penelusuran senyawa bioaktif yang
toksik dari bahan alam. Metode ini menunjukkan aktifitas farmakologis yang luas,
tidak spesifik dan dimanifestasikan sebagai toksisitas senyawa terhadap larva
udang Artemia salina Leach (Anonim, 2013).
Uji toksisitas akut adalah suatu pengujian untuk menetapkan potensi
toksisitas akut LD50, menilai berbagai gejala toksik, spectrum efek toksik, dan
mekanisme kematian. Tujuan uji toksisitas akut adalah untuk mendeteksi adanya
toksisitas suatu zat, menentukan organ sasaran dan kepekaannya, memperoleh
data bahayanya setelah pemberian suatu senyawa secara akut dan untuk
memperoleh informasi awal yang dapat digunakan untuk menetapkan tingkat
dosis yang diperlukan untuk uji toksisitas selanjutnya (Soeksmanto et al., 2010).
Angka kematian dari hewan percobaan dihitung sebagai Median Letal
Dosis (LD50) atau Median Letal Concentration (LC50). Penggunaan (LC50)
dimaksudkan untuk pengujian ketoksikan dengan perlakuan terhadap hewan uji
secara berkelompok yaitu pada saat hewan uji dipaparkan suatu bahan kimia
melalui udara maka hewan uji tersebut akan menghirupnya atau percobaan
toksisitas dengan metode air. LD50 digunakan untuk menguji ketoksikan suatu
bahan kimia dengan rute pemberian secara oral atau intraperitonial pada hewan uji
(Anonim, 2013).
Metode uji toksisitas dilakukan secara in vitro maupun in vivo. Salah satu
metode toksisitas in vitro yang sering digunakan adalah metode Brine Shrimp
Letality Test (BSLT). Metode BSLT merupakan salah satu cara yang cepat dan
murah untuk skrining toksisitas dari ekstrak tanaman dengan menggunakan hewan
laut yaitu larva udang Artemia salina Leach. Uji toksisitas dengan metode BSLT
ini memiliki spectrum aktivitas farmakologi yang luas, prosedurnya sederhana,
cepat dan tidak membutuhkan biaya yang besar, serta hasilnya dapat dipercaya. Di
samping itu, metode ini sering dikaitkan dengan metode penapisan senyawa

antikanker. Dengan alasan-alasan tersebut, maka uji ini sangat tepat digunakan
dalam mengawali penelitian bahan alam (Frengkiet al., 2014).

C. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
- Fraksi metanol
- Fraksi etil asetat
- Fraksi n-heksan
- Lartuan DMSO
- Aquades
- Air laut
- Larva udang Artemia salina Leach
- Aluminium foil
D. Alat
Alat yang dgunakan dalam percobaan ini yaitu:
- Batang pengaduk
- Akuarium
- Aerator
- Bohlam lampu
- Botol vial
- Rak tabung
- Pipet tetes
- Gelas kimia
- Gelas ukur

E. Cara Kerja
1. Penyiapan larva udang (Artemia salina Leach) :
Larva udang
- Disiapkan telur udang (Artemia salina leach)
- Dimasukkan dalam akuarium yang telah berisi air laut
- Kemudian diletakkan di bawah cahaya lampu yang telah
-

dilengkapi dengan aerator


Lalu didiamkan selama 48 jam sambil terus diamati, telur
udang tersebut akan menetas dan menjadi larva

Larva yang telah berumur 48 jam, digunakan

sebagai

hewan uji aktivitas ketoksikan


Hasil pengamatan
2. Pelaksanaan pengujian
Sampel uji
- Masukkan ke dalam masing-masing vial yang dengan
-

membuat beberapa konsentrasi


Dimasukkan 10 ekor larva Artemia salina Leach dan

volumenya dicukupkan sampai 5 ml dengan air laut


Vial-vial uji kemudian disimpan di tempat yang cukup

mendapat sinar lampu


Setelah 24 jam dilakukan pengamatan terhadap jumlah larva

yang mati
Untuk tiap sampel dan kontrol dilakukan pengulangan
sebanyak 3 kali

Hasil pengamatan
3. Pengenceran
Ekstrak batang serai
-

Ditimbang sebanyak 5 gr
Dilarutkan dengan metanol
Diencerkan dengan metanol hingga 100 ml
Dipindahkan ke botol gelap
Dipipet 10 ml ke dalam botol vial
Diuapkan etanolnya
Diulangi prosedur untuk konsentrasi 5000 ppm, 4000
ppm, 3000 ppm, 2000 ppm, 1000 ppm, 500 ppm, 400
ppm, 300 ppm, 200 ppm, dan 100 ppm.

Ekstrak batang serai 10.000 ppm


4. Uji toksisitas akut
Dilarutkan
sedikit dengan air laut
Ekstrak batang- serai
10.000 ppm
- Diaduk dengan batang pengaduk hingga larut

Dimasukkan 10 larva udang ke dalam botol vial


Dicukupkan 10 ml air laut
Didiamkan selama 1 x 24 jam
Diamati dan dhitung larva udang yang hidup dan mati
Diulangi prosedur diatas untuk konsentrasi 5000 ppm,
4000 ppm, 3000 ppm, 2000 ppm, 1000 ppm, 500 ppm,
400 ppm, 300 ppm, 200 ppm, dan 100 ppm.

Hasil pengamatan
F. Hasil Pengamatan
No
.

Fraksi

1.

Etil asetat

2.

Metanol

3.

n-hexan

G. Pembahasan

Konsentrasi
(ppm)
50

Pengulangan
(larva hidup)
8
7
10

Rata-rata
yang hidup
8,3

Rata-rata
yang mati
1,7

125

2,3

7,7

250
500
1000
50
125
250
500
1000
50
125
250
500
1000

10
10
7
7
10
6
9
8
6
5
5
8
4

2
8
0
3
6
8
7
8
4
7
3
3
1

8
8
8
0
7
7
10
8
3
8
8
8
3

6,6
8,6
5
3,3
7,6
7
8,6
8
4,3
6,6
5,3
3
2,6

4,4
1,4
5
6,7
2,4
3
1,4
2
5,7
3,4
4,7
7
7,4

Bioassay adalah suatu test atau uji yang menggunakan organisme hidup
untuk mengetahui efektifitas suatu bahan hidup ataupun bahan organik dan
anorganik terhadap suatu organisme hidup. Senyawa bioaktif hampir selalu toksik
pada dosis tinggi, oleh karena itu daya bunuh in vivo dari senyawa terhadap
organisme hewan dapat digunakan untuk menapis ekstrak tumbuhan yang
mempunyai bioaktivitas dan juga memonitor fraksi bioaktif selama fraksinasi dan
pemurnian. Salah satu organisme yang sesuai untuk hewan uji adalah brine shrimp
(udang laut).
Brine

Shrimp

Lethality

Test

(BSLT)

merupakan

metode

yang

menggunakan udang laut Artemia salina Leach yang mana diajukan sebagai
suatu bioassay sederhana untuk penelitian produk alamiah. Metode ini
menggunakan hewan uji Artemia salina Leach yang merupakan udang-udangan
primitif, sederhana dan efektif dalam ilmu biologi dan toksikologi. Prosedur
penentuan LC50 dalam g/ml dari ekstrak dilakukan dalam medium air asin.
Besarnya aktivitas dari ekstrak ditunjukkan sebagai toksisitas terhadap larva
udang.
Adapun siklus hidup dari Artemia salina, dimulai dari kista atau telur,
kemudian menjadi embrio, embrio ini masih akan melekat pada kulit kista, setelah
menjadi embrio dia akan menjadi nauplii, nauplii inilah yang berenang bebas, dan
memulai hidupnya, dan dalam fase ini, mulai mencari makanan untuk dirinya
sendiri, setelah itu menjadi Artemia dewasa, setelah dewasa, Artemia jantan dan
Artemia betina bertemu dan mengalami perkembang biakan, dan lahirlah kembali
kista ataupun telur.
Pada percobaan ini dilakukan pengujian toksisitas terhadap udang laut
(Artemia salina) dengan menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality
Test). LC50 adalah konsentrasi dari suatu senyawa kimia di udara atau dalam air
yang dapat menyebabkan 50% kematian pada suatu populasi hewan uji atau
makhluk hidup tertentu. Penggunaan LC50 dimaksudkan untuk pengujian
ketoksikan dengan perlakuan terhadap hewan uji secara berkelompok yaitu pada
saat hewan uji dipaparkan suatu bahan kimia melalui udara maka hewan uji
tersebut akan menghirupnya atau percobaan toksisitas dengan media air. Nilai

LC50 dapat digunakan untuk menentukan tingkat efek toksik suatu senyawa
sehingga dapat juga untuk memprediksi potensinya sebagai antikanker.
Dengan berdasarkan pada pemikiran bahwa efek farmakologi adalah
toksikologi sederhana pada dosis yang rendah dan sebagian besar senyawa
antitumor adalah sitotoksik, maka Brine Shrimp Lethality Test (BST) dapat
digunakan sebagai uji pendahuluan senyawa antitumor. Senyawa yang
mempunyai kemampuan membunuh larva udang diperkirakan juga mempunyai
kemampuan membunuh sel kanker dalam kultur sel.
Digunakan udang laut sebagai sampel karena udang laut (Artemia salina
Leach) merupakan udang-udangan primitif, sederhana dan efektif dalam ilmu
biologi dan toksikologi. Dimana efek toksisitas terhadap udang ini ditujukan dari
besarnya aktivitas

ekstrak yang digunakan juga melihat dari

kecepatan

pertumbuhan sel kanker dan merupakan salah satu media untuk uji coba kanker.
Dalam pengujian toksisitas ini digunakan metode BST karena memiliki
keuntungan yaitu hasil yang diperoleh lebih cepat, tidak mahal, mudah
pengerjaannya dari metode-metode yang lainnya karena tidak membutuhkan
peralatan dan latihan khusus. Sampel yang digunakan pun relatif sedikit. Dimana
efek toksik dapat diketahui atau dapat diukur dari kematian larva karena pengaruh
bahan uji.
Pada penetasan telur larva diberikan pencahayaan lampu dimaksudkan
untuk membantu proses penetasan larva udang. Aerator digunakan dalam
percobaan ini dimaksudkan untuk menjaga oksigen terlarut.
Pengujian dilakukan pada hewan uji larva udang (Artemia salina) setelah
berumur 48 jam, karena pada umur tersebut larva udang mengalami pertumbuhan
yang cepat sehingga diasumsikan sebagai pertumbuhan sel yang abnormal.
Dalam percobaan ini digunakan air laut karena merupakan media hidup
bagi larva udang atau dengan kata lain larva udang hanya dapat hidup dalam air
laut. Pada percobaan ini dilakukan juga replikasi sebanyak 3 kali dengan maksud
untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat atau meyakinkan dan tetap ekonomis,
walaupun sebenarnya replikasi tersebut dapat dilakukan lebih dari 3 kali.

Hasil pengamatan selama 24 jam perlakuan menunjukkan adanya hewan


coba ynag mati dan hewan coba yang masih bertahan hidup. Hal ini ditunjukkan
pada konsentrasi yang rendah
H. Kesimpulan
Dari pemabahan di atas, dapat disimpulkan bahwa :
1. Prinsip dasar toksisitas ditentukan dengan melihat harga LC 50 yang dihitung

berdasarkan analisis probit. Ekstrak ditentukan dengan melihat LC50-nya lebih


kecil atau sama dengan 1000g/ml (LC50 < 1000 g/ml).
2. Bekstrak batang serai pada pengujian toksisitas akut mempunyai potensi
toksisitas terhadap larva Artemia salina pada konsentrasi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Penuntun Farmakologi dan Toksikologi III. Universitas Muslim
Indonesia. Makassar.
Ditjen POM, 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI : Jakarta.
Frengki, Rosliza waty dan Desi P., 2014, Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Sarang
Semut Lokal Aceh (Mymercodia sp.) dengan Metode BSLT terhadap Larva
Udang Artemia salina Leach, Jurnal Medika Veterinaria, Vol. 8, No. 1.
Soeksmanto, A., Partomuan S., dan Muhammad, A.S., 2010, Uji Toksisitas Akut
Ekstrak Air Tanaman Sarang Semut(Myrmecodia pendans) Terhadap
Histologi Organ Hati Mencit, Jurnal Natur Indonesia, Vol. 12, No. 2.