Anda di halaman 1dari 4

PENDIDIKAN SEKSUAL TERHADAP ANAK PREKOKSITAS SEKSUAL

Tujuan Pendidikan Seksual terhadap anak ( prekoksitas seksual )


Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomi dan biologis juga
menerangkan aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual yang benar harus
memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia. Penjabaran tujuan pendidikan seksual dengan lebih
lengkap sebagai berikut : memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik yang
berkaitan dengan masalah seksual pada anak (prekoksitas seksual), mengurangi ketakutan dan
kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tututan dan
tangung jawab), membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua
manifestasi yang bervariasi, memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang
esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan
perilaku seksual, memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar
individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik
dan mentalnya, untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan
eksplorasi seks yang berlebihan dan memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat
individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya
sebagai suami istri/suami, orang tua, anggota masyarakat.
Beberapa hal penting dalam memberikan pendidikan seksual pada anak (prekoksitas
seksual)
Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-ragu/malu. Isi uraian
yang disampaikan harus obyektif, namun jangan menerangkan yang tidak-tidak, seolah-olah
bertujuan agara anak tidak akan bertanya lagi. Dangkal/mendalamnya isi uraiannya harus
disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak.
Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi, karena luas sempitnya pengetahuan dengan
cepat lambatnya tahap-tahap perkembangan tidak sama buat setiap anak. Pada akhirnya perlu
diperhatikan bahwa usahakan melaksanakan pendidikan seksual perlu diulang-ulang (repetitive)

selain itu juga perlu untuk mengetahui seberapa jauh sesuatu pengertian baru dapat diserap oleh
anak, juga perlu untuk mengingatkan dan memperkuat (reinforcement) (Singgih D. Gunarso,
2002). Hindari gaya mengajar seperti di sekolah. Pembicaraan hendaknya tidak hanya terbatas
pada fakta-fakta biologis, melainkan juga tentang nilai, emosi dan jiwa. Jangan khawatir Anda
telah menjawab terlalu banyak terhadap pertanyaan anak. Mereka akan selalu bertanya tentang
apa yang mereka tidak mengerti. Anak-anak usia pra sekolah juga perlu tahu bagaimana
melindungi dari penyimpangan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa.
Jangan menunggu sampai anak mencapai usia belasan tahun untuk berbicara tentang masa
pubertas. Mereka harus sudah mengetahui perubahan yang terjadi pada masa sebelumnya
(Singgih D. Gunarso, 2002). Ada juga beberapa hal lain yang orang tua harus ketahui dalam
memberikan pendidikan seksual terhadap anak prekoksitas sekual.
a) Observasi tahap perkembangan seksual sekunder ( prekoksitas seksual ) sesuaikan
dengan tahap fisiologis.
b) Berikan kesempatan pada anak untuk bertanya mengenai kondisi yang dialaminya
( karena perkembangannya berbeda dengan anak yang lainnya ).
c) Berikan sexual education untuk mencegah penyimpangan seksual pada anak yang
mengalami prekoksitas seksual.
d) Orientasikan anak sesuai dengan jenis kelaminnya.
e) Berikan lingkungan yang positif untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kualitas
interaksi
f) Tingkatkan harga diri anak yang mengalami prekoksitas seksual.
Ada beberapa langkah orangtua untuk mendidik anak seputar pendidikan seksual terhadap anak
prekoksitas seksual:
1. Menjelakan bahwa ada perbedaan individual dalam setiap perkembangan.
Orang tua sebaiknya berbicara dengan anaknya dan menjelaskan bahwa pertumbuhan
sekunder atau tanda-tanda pubertas dini (prekoksitas seksual) yang anak alami
merupakan hal yang wajar terjadi. Karena tiap anak memiliki karakteristik perkembangan
individual yang berbeda- beda.

2. Diskusikanlah tentang nilai seksualitas terhadap anak


Dalam suatu aktivitas perkembangan seksual, ada nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya. Orangtua perlu memasukkan nilai-nilai tersebut dalam percakapan. Salah
satunya, nilai-nilai agama. Orang tua harus menyatakan nilai-nilai yang ada secara jelas.
Sebagai contohnya, tidak boleh ada seks di luar nikah, hal ini harus ditekan kan sejak
dini khususnya pada anak penderita prekoksitas seksual. Rasa hormat dan martabat
antara pria dan wanita juga dapat didiskusikan dalam konteks nilai-nilai seksualitas.
3. Berbicara tentang hubungan ( seks )
Berbicara tentang hubungan. Jangan biarkan anak melakukan hubungan seksual di luar
pernikahan. Katakan pada anak, bahwa ada konsekuensi kehamilan yang harus
ditanggung jika melakukan hal tersebut. Orang tua harus menyisihkan waktu untuk dapat
berkumpul dengan anak-anaknya. Karena ada beberapa tipe kepribadian anak ada anak
yang bersifat tertutup dengan orang tuanya ataupun temannya sendiri. Anak butuh waktu
untuk dapat terbuka dengan orang lain, itulah sebabnya orang tua harus berusaha
meluangkan waktu untuk anaknya agar anak memiliki kepribadian yang terbuka agar
tidak mengalami stress atau depresi.

Daftar Pustaka
Sarlito W. Sarwono. (2002). Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: PT. Surya Melati Grafika
Kohler. (2008). Psikologi Anak. http://www.lifestyle.okezone.com. (diakses pada tanggal 21
Oktober 2016)
Singgih D. Gunarso. (2008). Gaya Hidup Sehat. http://www.gayahidupsehat.com.
(diakses pada tanggal 21 Oktober 2016 )