Anda di halaman 1dari 23

PRAKTIKUM STRATIGRAFI

LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang

Ilmu stratigrafi muncul di britania raya pada abad ke-19. Perintisnya adalah
William Smith. Kala itu diamati bahwa beberapa lapisan tanah muncul pada urutan
yang sama (superposisi). Kemudian ditarik kesimpulan bahwa lapisan tanah yang
terendah merupakan lapisan yang tertua, dengan beberapa pengecualian. Karena
banyak lapisan tanah merupakan kesinambungan yang utuh ke tempat yang berbedabeda maka, bisa dibuat perbandingan pada sebuah daerah yang luas. Setelah
beberapa waktu, dimiliki sebuah sistem umum periode-periode geologi meski belum
ada penamaan waktunya
Stratigrafi adalah cabang ilmu geologi yang membahas mengenai distribusi,
bentuk, komposisi, dan hubungan antar tubuh batuan, untuk menginterpretasi waktu
dan sejarah pembentukannya. Istilah stratigrafi yang tersusun dari 2 suku kata yaitu
strati ( stratus) yang artinya perlapisan dan kata grafi (graphic/ graphos) yang
artinya gambar atau lukisan, yang awalnya hanya didefinisikan sebagai ilmu
pemerian lapisan-lapisan batuan, khususnya pada batuan sedimen. Selanjutnya
pengertian stratigrafi bertambah luas hingga melingkupi ketiga jenis batuan
penyusun kerak bumi.
Penampang stratigrafi terukur (measured stratigraphic section) adalah suatu
penampang atau kolom yang menggambarkan kondisi stratigrafi suatu jalur, yang
secara sengaja telah dipilih dan telah diukur untuk mewakili daerah tempat
dilakukannya pengukuran tersebut. Jalur yang diukur tersebut dapat meliputi satu
formasi batuan atau lebih.
Sebaliknya pengukuran dapat pula dilakukan hanya pada sebagian dari suatu
formasi, sehingga hanya meliputi satu atau lebih satuan lithostratigrafi yang lebih
kecil dari formasi, misalnya anggota atau bahkan hanya beberapa perlapisan saja
Mengukur suatu penampang stratigrafi dari singkapan mempunyai arti
penting dalam penelitian geologi dan pengukuran penampang stratigrafi merupakan
salah satu pekerjaan yang biasa dilakukan dalam pemetaan geologi lapangan.
NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

Pengukuran suatu penampang stratigrafi biasanya dilakukan terhadap singkapan


singkapan yang menerus, terutama yang meliputi satu atau lebih satuan satuan
stratigrafi yang resmi.
I.2

Maksud dan Tujuan

1.2.1

Maksud
Maksud dilaksanakannya praktikum prinsip stratigrafi acara penampang

stratigrafi terukur adalah untuk mengenal dan mengetahui tentang peanampang


stratigrafi dan mengetahui tentang hal-hal apa saja yang digambarkan dalam suatu
penampang stratigrafi terukur.
1.2.2

Tujuan
Adapun tujuan praktikan mempelajari penampang stratigrafi terukur, yaitu

untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:


1. Praktikan dapat memahami apa yang dimaksud penampang stratigrafi terukur.
2. Praktikan dapat menjelaskan rumus ketebalan batuan.
3. Praktikan dapat menjelaskan gambaran perlapisan pada batuan dan gambaran
bentuk beda tinggi suatu daerah.
I.3

Alat dan Bahan

1.3.1

Alat

1. Atm
2. Mistar 30cm
3. Pensil warna
4. Busur derajat
1.3.2

Bahan

1. Kertas grafik 2x1m

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Pengertian Stratigrafi
Berdasarkan dari asal katanya, stratigrafi tersusun atas 2 kata yaitu, kata

strati berasal dari kata strato yang artinya perlapisan dan kata grafi yang
artinya gambar atau lukisan yang berasal dari kata graphic/graphos. Dengan
semikian Stratigrafi dalam artian sempit dapat dinyatakan sebagai ilmu pemerian
lapisan-lapisan batuan. Dalam arti yang lebih luas, yakni stratigrafi dapat
didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang aturan, hubungan dan
pembentukan (genesa) macam-macam batuan dialam ruang dan waktu. Oleh karena
itu, stratigrafi digunakan sebagai studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relativ
serta distribusi perlapisan batuan untuk menjelaskan sejarah bumi.
II.2

Penampang Stratigrafi Terukur


Penampang stratigrafi adalah suatu gambaran urutan vertical lapisan-lapisan

batuan sedimen pada lintasan batuan yang dipilih, setiap titik dalam urutan stratigrafi
mengikuti kaidah hokum superposisi, jadi defenisi dari penampang stratigrafi terukur
(measured stratigraphic section) adalah suatu penampang atau kolom yang
menggambarkan kondisi stratigrafi suatu jalur, yang secara sengaja telah dipilih dan
diukur untukl mewakili daerah tempat dilakukannya pengukuran tersebut. Jalur yang
diukur tersebut dapat meliputi satu formasi batuan atau lebih, sebaliknya pengukuran
dapat pula dilakukan hanya pada sebagian formasi, sehingga hanya meliputi satu atau
lebih satuan lithostratigrafi yang lebih kecil dari formasi, misalnya anggota atau
bahkan hanya beberapa perlapisan saja.
Keterangan litologi yang terperici yang menyangkut tentang jenis, macam
komponen penyusun, tekstur, kemas, kandungan fosil, struktur sedimen dan lain-lain,
sifat geologis dari setiap satuan yang terdapat pada jalur tersebut. Kedudukan dan
ketebalan dari setiap litologi yang dijumpai urutan dari semua lithologi yang ada
serat jenis hubungan dari satu lithologi yang berdampingan, apakag selaras, tidak
selaras, menyisip, selang-seling, bergradasi normal atau terbalik dan sebagainya.
NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

Pengukuran stratigrafi merupakan salah satu pekerjaan yang biasa dilakukan


dalam pemetaan geologi lapangan, adapun pekerjaan pengukuran stratigrafi yang
untuk memperoleh gambaran yang terperinci dan hubungan stratigrafi antar setiap
perlapisan batuan atau satuan batuan. Ketebalan setiap satuan stratigrafi, sejarah
sedimentasi secara vertical dan lingkungan pengendapan dari setiap satuabn batuan.
Dilapangan pengukuran lapisan stratigrafi biasanya dilakukan dengan menggunakan
tali meteran dan kompas pada singkapan-singkapan yang menerus dalam satuan
lintasan. Pengukuran diusahakan tegak lurus dengan jurus perlapisan batuannya.
Sehingga koreksi sudut antara jalur pengukuran dan arah jurus perlapisan tidak
begitu besar.
II.3

Metoda Pengukuran Stratigrafi


Pengukuran stratigrafi dimaksudkan untuk memperoleh gambaran terperinci

urut-urutan perlapisan satuan stratigrafi, ketebalan setiap satuan stratigrafi, hubungan


stratigrafi, sejarah sedimentasi dalam arah vertical dan lingkungan pengendapan,
mengukur suatu penampang stratigrafi dan singkapan mempunyai arti penting dalam
penelitian geologi, secara umum tujuan pengukuran dari stratigrafi adalah:
1. Mendapatkan data litologi terperinci dari urutan-urutan perlapisan suatu satuan
stratigrafi (formasi), kelompok, anggota, dan sebaginya
2. Mendapatkan ketebalan yang teliti dari tiap-tiap stratigrafi
3. Untuk mendapatkan dan mempelajari hubungan stratigrafi antar suatu batuan
urut-urutan sedimentasi dalam arah vertical secara detail untuk menafsirkan
pengendapan.
Pengukuran stratigrafi biasanya dilakukan terhadap singkapan-singkapan
yang menerus, terutama yang meliputi satu atau lebih satuan-satuan dari stratigrafi
yang resmi. Metoda pengukuran penampang stratigrafi banyak sekali ragamnya.
Namun demikian metoda yang paling umum dan sering dilakukan dilapangan adalah
dengan menggunakan pita ukur dan kompas, metoda ini diterapkan terhadap
singkapan yang menerus atau sejumlah singkapan-singkapan yang dapat disusun
menjadi suatu penampang stratigrafi, metoda pengukuran stratigrafi dilakukan dalam
terhadap sebagai berikut :
1. Menyiapkan peralatan untuk pengukuran stratigrafi, antara lain : pita ukur
(kurang lebih 25 meter), kompas, tripot (optional), kaca pembesar (loope), buku
catatan lapangan, tongkat kayu sebagai alat bantu
NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

2. Menentukan jalur lintasan yang akan dilalui dalam pengukuran stratigrafi, jalur
lintasan ditandai dengan huruf B (bottom) adalah mewakili daerah bagian bawah
sedangkan huruf T (top) mewakili daerah bagian atas
3. Tentukan satuan-satuan litologi yangakan diukur, berilah patok-patok atau tanda
lainnya pada batas-batas satuan litologinya
4. Pengukuran stratigrafi dilapangan dapat dimulai dari bagian bawah atau atas.
Unsur-unsur yang diukur dalam pengukuran stratigrafi adalah : arah lintasan,
sudut lereng (apabila pengukuran dilintasan yang berbukit), jarak antar stasiun
pengukuran, kedudukan lapisan bataun dan pengukuran unsur-unsur geologi
lainnya.
5. Jika jurus dan kemiringan dari tiap satuan berubah-ubah sepanjang penampang,
sebaiknya pengukuran jurus dan kemiringan dilakukan pada alas dan atap dari
satuan ini dan dalam perhitungan digunakan rata-rata.
6. Membuat catatan hasil pengamatan disepanjang lintasan dari pengukuran
stratigrafi yang meliputi semua jenis batuan yang dijumpai pada lintasan
tersebut, yaitu : jenis batuan, keadaan perlapisan, ketebalan setiap lapisan
batuan, struktur sedimen (bila ada) dan unsur-unsur geologi lainnya yang
dianggap perlu. Jika ada sisipan, tentukan jaraknya dari atas satuan
7. Data hasil pengukuran stratigrafi kemudian disajikan diatas kertas melalui proses
perhitungan dan koreksi-koreksi kemudian digambarkan dengan skala tertentu
dan data singkapan ada disepanjang lintasan diplotkan dengan memakai simbolsimbol geologi standar
8. Untuk pengamatan dan penggambaran dalam bentuk kolom stratigrafi perlu
dilakukan terlebih dahulu koreksi-koreksi antara lain koreksi sudut antara arah
lintasan dengan jurus kemiringan perlapisan, koreksi kemiringan lereng (apabila
pengukuran dilintasan yang berbukit) perhitungan ketebalan setiap lapisan
batuan dan sebagainya.

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

Gambar 2.3.1 Metode rentang tali


Sedangkan untuk lintasan pengukuran ditetapkan berdasadarkan urutanurutan singkapan yang secara keseluruhan telah diperiksa untuk hal-hal sebagai
berikut :
1. Kedudukan lapisan (jurus dan kemiringan) apakah curam, landai, vertikal
ataupun horizontal, arah lintasan yang akan diukur sedapat mungkin tegak lurus
terhadap jurus.
2. Harus diperiksa apakah jurus dan kemiringan lapisan secara continue tetap atau
berubah-ubah kemungkinan adanya struktur sepanjang penampang, seperti sesar,
perlipatan, dan hal ini penting untuk menentukan urutan-urutan stratigrafi yang
benar
3. Meneliti akan kemungkinan adanya lapisan penunjuk (key beds) yang dapat
diiukuti diseluruh daerah serta penentuan superposisi dan lapisan yang paling
sering terlupakan pada saat pengukuran
II.4

Menghitung Ketebalan
Tebal lapisan adalah jarak terpendek antara bidang atas (top) dan bidang

bawah (bottom). Dengan demikian perhitungan tebal lapisan yang tepat harus
dilakukan dalam bidang yang tegak lurus jurus lapisan. Bila pengukuran dilapangan
tidak dilakukan dalam bidang tegak lurus tersebut maka jarak terukur yang diperoleh
harus dikoreksi terlebih dahulu, dengan rumus :

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR
d = dt X cosinus

Dimana merupakan sudut antara arah kemiringan dan arah pengukuran.


Didalam menghitung tebal lapisan, sudut lereng yang dipergunakan adalah
sudut yang terukur pada arah pengukuran yang tegak lurus jurus perlapisan. Biasanya
koreksi dapat dilakukan dengan menggunakan table koreksi dip untuk pembuatan
penampang.
1. Pengukuran pada daerah datar (lereng 00)
Pengukuran pada daerah diatas, apabila jarak terukur adalah jarak tegak lurus
jurus, ketebalan langsung didapan dengan rumus :
t = d sin

Dimana d adalah jarak terukur dilapangan dan adalah sudut kemiringan


lapisan. Apabila pengukuran tidak tegak lurus, maka jarak tratur harus dikoreksi
seperti menggunakan cara diatas
2. Pengukuran pada lereng
Terdapat beberapa kemungkinan posisi lapisan terhadap lereng, dimana sudut
lereng (s) dan kemiringan lapisan () adalah pada suatu keadaan yang tegak
lurus dengan jurus atau disebut true dip dan true slope
a. Kemiringan lapisan searah dengan lereng
Bila kemiringan lapisan () lebih besar dari sudut lereng (s) dan arah lintasan
tegak lurus jurus, maka perhitungannya untuk ketebalan adalah :
t = d sin ( s)

Bila kemiringan lapisan kecil daripada sudut lerang dan arah lapisan tegak
lurus, maka perhitungan ketebalan adalah :
t = d sin (s )

b.

Kemiringan lapisan berlawanan arah dengan lereng


Bila kemiringan lapisan membentuk sudut lancip terhadap lereng dan arah
lintasan tegak lurus jurus, maka :
t = d sin ( + s)

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

Apabila jumlah sudut lereng dan sudut kemiringan dari lapisan adalah 900
(lereng berpotongan tegak lurus dengan perlapisan) dan arah lintasan tegak lurus
jurus, maka:
t=d

Bila kemiringan lapisan membentuk sudut tempat terhadap lereng dan arah
lintasan tegak lurus jenis, maka :
t = d sin 1800 ( - s)

Bila lapisan mendatar, maka :


t = d sin s

Dari rumus-rumus diatas, maka untuk perencanaan dan lintasan pengukuran,


yang perlu diperiksa adalah seluruh urutan-urutan singkapan secara keseluruhan,
yaitu :
1.

Kedudukan lapisan (strike/dip) apakah curam, landai, vertical atau horizontal


atau lintasan yang akan diukur sedapat mungkin tegak lurus terhadap jenis

2.

perlipatan
Perlu diketahui apakah jurus dan kemiringan lapisan it uterus-menerus atau
berubah-ubah hal ini penting dalam menentukan metode dan perhitungan
pengukuran.

II.5

Jacob Staf
Metode ini bertujuan menggabungkan ketepatan dan kecepatan waktu sesuai

dengan rumusan yang dikemukakan oleh Fritz & Moore, 1988). Perangkat Jacob Staf
a.

Dilakukan dengan menggunakan tongkat Jacob yang panjangnya 1,50 meter, atau
setinggi mata pengamat.

b.

Semua ketebalan lapisan batuan atau singkapan batuan diukur dengan tongkat
tersebut. Oleh sebab itu, maka tongkat diberi cat berwarna selang-seling merah-putih,
setiap selang 10 cm. Salah satu ujung tongkat dibuat agak runcing agar mudah
dalam menancapkan ke tanah, dan ujung yang lain untuk menempatkan clinometers

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

c.

Clinometer, dipasang dengan posisi tegak pada arah memanjang tongkat. Besaran
kemiringan perlapisan batuan dapat dibaca secara langsung pada clinometer tersebut.
Dalam keadaan terpaksa, clinometers dapat digantikan dengan sebuah busur derajat
yang difungsikan sebagai clinometer, demikian juga tongkatnya dapat dibuat sendiri
baik dengan kayu ataupun dengan pipa besi.

Gambar 2.5.1 Penggunaan clinometers

Gambar 2.5.2 Penggunaan tongkat Jacob dilapangan


Prosedur pengukuran
1. Pengukuran dimulai dari bagian bawah suatu jalur, pada awal pengukuran
letakkan ujung tongkat dititik terbawah jalur, beri notasi nomor 1.
NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

2. Clinometer yang tertempel pada tongkat diarahkan sehingga sesuai dengan arah
kemiringan lapisan batuan, dengan cara menggoyangkan tongkat sampai pada
posisi yang diinginkan, yaitu posisi tongkat tegak lurus pada bidang perlapisan.
3. Tandai arah bidikan clinometers pada singkapan batuan, dan berikan notasi
nomor 2. Tebal singkapan tersebut adalah sama dengan panjang tongkat, yaitu
1,50 meter.
4. Perhatikan, cermati dan catat kenampakan pada singkapan yang terkhususkan,
misal adanya endapan placer, konsentrasi mineral sekunder, keberadaan lapisan
batubara, tanda-tanda adanya ketidakselarasan.
5. Lakukan hal yang sama untuk urutan berikutnya, sampai sasaran titik akhir
selesai.
6. Ketebalan keseluruhan penyusun kolom litologi adalah merupakan jumlah
ketebalan masing-masing segmen.
7. Pengukuran dengan tongkat Jacob, dapat dilakukan seorang diri, namun akan
lebih baik dan lebih cepat bila dikerjakan berdua.

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
3.1

Problem Set 1

1.

Adapun pada problem set 1 akan di kerjakan, antara lain:


Mengukur dasar penampang dengan menggunakan skala 1 : 1000 pada kertas

2.

grafik
Menggambarkan medel perlapisan batuan pada geologi ragional lembar
pangkajene dan watampone bagian barat

3.

Memberikan simbol batuan sesuai dengan perlapisan pada geologi ragional lembar
pangkajene dan watampone bagian barat

4.

Mewarnai simbol batuan sesuai dengan warna batuannya

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
Stasiun
Slope ( )
Jarak (m)
Dip
CP
PENAMPANG
STRATIGRAFI
TERUKUR

Dari

Ke

Stasiun
Dari
Ke

39
35
25
20
18
8
3
-1
-6
-15
-20
-22

40
39
35
30
15
70
97
60
87
52
45
35

35
32
32
30
27
25
25
25
29
40
40
41

4
3.9
3.5
3
1.5
7
9.7
6
8.7
5.2
4.5
3.5

Slope ( )

Jarak (m)

Dip

CP

20
12
15
23
30
28
15
37
32
27
34
5
22
18
24
27
34
40
40
45
42

50
45
60
60
52
62
32
68
80
56
72
72
61
70
56
67
62
48
72
64
60

70
71
68
68
72
64
60
60
59
54
55
53
51
50
45
45
43
40
34
37
37

5
4.5
6
6
5.2
6.2
3.2
6.8
8
5.6
7.2
7.2
6.1
7
5.6
6.7
6.2
4.8
7.2
6.4
6

5.
M

enentukan rumus penggambaran


Cara Pengambaran (CP) = Jarak
Skala peta
Skala 1 : 1000
3.2 Problem Set 2
1. Seorang Explorer melakukan eksplorasi di Pulau Buton dan menemukan
singkapan batupasir dengan kedudukan N150E/900 dengan slope 00 dan jarak

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

lapangan (tebal semu) 550 meter. Gambarkan, tentukan rumus dan hitunglah
tebal batupasir tersebut.
2. Seorang Explorer melakukan eksplorasi di Pulau Buton dan menemukan
singkapan batulempung dengan kedudukan N450E/450 dengan slope 00 dan jarak
lapangan (tebal semu) 145 meter. Gambarkan, tentukan rumus dan hitunglah
tebal batulempung tersebut.
3. Ditemukan singkapan batuserpih dengan kedudukan N1800E/700 dengan slope
500 dan jarak lapangan (tebal semu) 150 meter. Jika kemiringan lereng searah
dengan perlapisan batuan, Gambarkan, tentukan rumus dan hitunglah tebal
batuserpih tersebut.
4. Ditemukan singkapan batubara dengan kedudukan N1800E/100 dengan slope 300
dan jarak lapangan (tebal semu) 150 meter. Jika kemiringan lereng searah
dengan perlapisan batuan, Gambarkan, tentukan rumus dan hitunglah tebal
batubara tersebut.
5. Ditemukan singkapan batulanau yang searah dengan kemiringan lereng dengan
kedudukan N2300E/450 dengan kemiringan lereng 450 dan jarak lapangan (tebal
semu) 200 meter. Jika kemiringan lereng berlawanan dengan perlapisan batuan,
Gambarkan, tentukan rumus dan hitunglah tebal batulanau tersebut.
6. Ditemukan singkapan batupasir yang searah dengan kemiringan lereng dengan
kedudukan N5300E/00 dengan kemiringan lereng 450 dan jarak lapangan (tebal
semu) 300 meter. Jika kemiringan lereng berlawanan dengan perlapisan batuan,
Gambarkan, tentukan rumus dan hitunglah tebal batupasir tersebut..
7. Jika ditemukan singkapan Batubara dengan kemiringan lereng 450 dan
kemiringan perlapisan 900 serta tebal semu 100 meter. Maka Gambarkan,
tentukan rumus dan hitunglah tebal batubara tersebut.
8. Gambarkan kemiringan lapisan batuapasir yang membentuk sudut lancip
terhadap lereng.
9. Gambarkan kemiringan lapisan batubara yang membentuk sudut 90 0 terhadap
lereng.
10. Gambarkan kemiringan lapisan batuserpih yang membentuk sudut 900 terhadap
lereng.

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN
IV.1

Hasil

IV.1.1 Problem Set 1

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

IV.1.2 Problem Set 2


1. Dik : Kedudukan batupasir
= N 15 E / 90
Slope
= 0
Tebal semu (d)
= 550 m
Dit : Ketebalan batupasir?
Penyelesaian:
Jika kemiringan batuan membentuk sudut 90 jadi rumusnya yaitu d = t
Jadi T = 550 m

2.

Dik : Kedudukan batubara


Slope
Tebal semu (d)
Dit : Ketebalan batupasir?
Penyelesaian:
Sin = t
d
t = sin 45 . 145 m

NURUL ARIFAH
09320140071

= N 45 E / 45
= 0
= 145 m

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

= 102,53 m

3.

Dik : Kedudukan batuserpih


Slope
Tebal semu (d)
Dit : Ketebalan batupasir?
Penyelesaian:
Sin ( - ) = t
d
t = sin 20 . 145 m
= 49,59 m

= N 180 E / 70
= 50
= 150 m

4.

Dik : Kedudukan batubara


Slope
Tebal semu (d)
Dit : Ketebalan batubara?
Penyelesaian:

= N 180 E / 10
= 30
= 150 m

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

Sin ( ) = t
d
t = sin 20 . 145 m
= 49,59 m

5.

Dik : Kedudukan batulanau


= N 230 E / 45
Slope
= 45
Tebal semu (t)
= 200 m
Dit : Ketebalan batubara?
Penyelesaian:
Jika kemiringan batuan membentuk sudut 90. Jadi, rumusnya yaitu d = t
Jadi t = 550 m

6.

Dik : Kedudukan batupasir


Slope
Tebal semu (d)
Dit : Ketebalan batupasir?
Penyelesaian:
Sin ( )
= t
d
t = sin 45 . 300 m
= 212,13 m

NURUL ARIFAH
09320140071

= N 180 E / 0
= 45
= 300 m

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

7.

Dik : Kemiringan perlapisan


= 90
Slope
= 45
Tebal semu (d)
= 100 m
Dit : Ketebalan batubara?
Penyelesaian:
Sin ( )
= t
d
t = cos 45 . 100 m
= 70,71 m

8.

Dik : Kemiringan perlapisan


Slope
Tebal semu (d)
Dit : Ketebalan batubara?
Penyelesaian:
Sin ( )
= t
d
t = sin 55 . 134 m
= 109,76 m

NURUL ARIFAH
09320140071

= 55
= 0
= 134 m

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

9.

Dik : Kemiringan perlapisan


= 45
Slope
= 45
Tebal semu (d)
= 780 m
Dit : Ketebalan batubara?
Penyelesaian:
Jika kemiringan batuan membentuk sudut 90. Jadi, rumusnya yaitu d = t
Jadi t = 780 m

10. Dik : Kemiringan perlapisan


= 90
Slope
= 0
Tebal semu (d)
= 563 m
Dit : Ketebalan batubara?
Penyelesaian:
Jika kemiringan batuan membentuk sudut 90. Jadi, rumusnya yaitu d = t
Jadi t = 563 m

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

IV.2

Pembahasan

IV.2.1 Problem set 1


Pada gambar penampang sayatan memperlihatkan perlapisan-perlapisan
batuan yang terdiri dari empat formasi yang ada di geologi regional lembar
pangkajene dan watampone bagian barat. Pada stasiun 1 sampai dengan stasiun 2 itu
terdapat formasi balangbaru yang ditemukan perlapisan batubara, konglomerat,
batulanau, batulempung, batuserpih, batupasir, dan napal. Formasi ini mempunyai
ketebalan sekitar 2000 meter, berumur Kapur Atas.
Pada stasiun 2 sampai dengan satasiun 3 itu terdapat formasi mallawa yang
ditemukan perlapisan batu lempung, tufa, batupasir, napal, konglomerat, batuserpih,
batubara dan batu lanau, berdasarkan atas kandungan fosil menunjukkan kisaran
umur paleogen dengan lingkungan paralis sampai laut dangkal formasi ini
mempunyai ketebalan sekitar meter, berumur Kapur Atas. Pada stasiun 3 sampai
dengan satasiun 4 itu terdapat formasi camba yang ditemukan perlapisan
konglomerat, tufa, batubara, breksi, konglomerat, batulanau, batulempung, batupasir,
dan tufa, pada formasi ini ditemukan fosil-fosil yang ditemukan pada satuan ini
menunjukkan kisaran umur miosen tengah - miosen akhir. Dan pada stasiun 4 sampai
dengan satasiun 5 itu terdapat formasi tonasa yang ditemukan perlapisan batuan
napal, batulanau, batulempung, batupasir, konglomerat, tufa dan napal, umur
formasi tonasa adalah eosen atas sampai miosen tengah.
4.1.1 Problem Set 2
1. Seorang Explorer melakukan eksplorasi di Pulau Buton dan menemukan
singkapan batupasir dengan kedudukan N150E/900 dengan slope 00 dan jarak
lapangan (tebal semu) 550 meter. Dari hasil penggambaran ditemukan slop dan
dip membentuk sudut 90, sehingga jika kemiringan batuan membentuk sudut
90 maka rumusnya yaitu d = t, Jadi ketebalan yang ditemukan yaitu 550 meter
2. Seorang Explorer melakukan eksplorasi di Pulau Buton dan menemukan
singkapan batulempung dengan kedudukan N450E/450 dengan slope 00 dan jarak
NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

lapangan (tebal semu) 145 meter. Sehingga dari hasil penggambaran ditemukan
ketebalan batulempung yaitu 102,53 meter
3. Ditemukan singkapan batuserpih dengan kedudukan N1800E/700 dengan slope
500 dan jarak lapangan (tebal semu) 150 meter. Jika kemiringan lereng searah
dengan perlapisan batuan, maka dari hasil penggambaran ditemukan ketebalan
batulempung yaitu 49,59 meter
4. Ditemukan singkapan batubara dengan kedudukan N1800E/100 dengan slope 300
dan jarak lapangan (tebal semu) 150 meter. Jika kemiringan lereng searah
dengan perlapisan batuan, maka dari hasil penggambaran ditemukan ketebalan
batulempung yaitu 49,59 meter
5. Ditemukan singkapan batulanau yang searah dengan kemiringan lereng dengan
kedudukan N2300E/450 dengan kemiringan lereng 450 dan jarak lapangan (tebal
semu) 200 meter. Jika kemiringan lereng berlawanan dengan perlapisan batuan,
jadi dari hasil penggambaran ditemukan slop dan dip membentuk sudut 90,
sehingga jika kemiringan batuan membentuk sudut 90 maka rumusnya yaitu d
= t, Jadi ketebalan yang ditemukan yaitu 200 meter
6. Ditemukan singkapan batupasir yang searah dengan kemiringan lereng dengan
kedudukan N5300E/00 dengan kemiringan lereng 450 dan jarak lapangan (tebal
semu) 300 meter. Jika kemiringan lereng berlawanan dengan perlapisan batuan,
maka dari hasil penggambaran ditemukan ketebalan batulempung yaitu 212,13
meter
7. Jika ditemukan singkapan Batubara dengan kemiringan lereng 450 dan
kemiringan perlapisan 900 serta tebal semu 100 meter. Sehingga dari hasil
penggambaran ditemukan ketebalan batulempung yaitu 70,71 meter
8. Gambarkan kemiringan lapisan batuapasir yang membentuk sudut lancip
terhadap lereng. Dengan kemiringan perlapisan 55, slop 0. Dan ketebalan semu
yaitu 134 meter, sehingga ditemukan ketebalan dari batuan tersebut yaitu 109,76
meter
9. Gambarkan kemiringan lapisan batubara yang membentuk sudut 90 0 terhadap
lereng. Dengan kemiringan perlapisan 45, slop 45. Dan ketebalan semu yaitu
780 meter, dari hasil penggambaran ditemukan slop dan dip membentuk sudut
90, sehingga jika kemiringan batuan membentuk sudut 90 maka rumusnya
yaitu d = t, Jadi ketebalan yang ditemukan yaitu 780 meter
10. Gambarkan kemiringan lapisan batuserpih yang membentuk sudut 900 terhadap
lereng. Dengan kemiringan perlapisan 90, slop 0. Dan ketebalan semu yaitu
563 meter, dari hasil penggambaran ditemukan slop dan dip membentuk sudut
NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

90, sehingga jika kemiringan batuan membentuk sudut 90 maka rumusnya


yaitu d = t, Jadi ketebalan yang ditemukan yaitu 563 meter

BAB V
PENUTUP
V.1

Kesimpulan
Penampang stratigrafi adalah suatu gambaran urutan vertikal lapisan-lapisan

batuan sedimen pada lintasan batuan yang dipilih, setiap titik dalam urutan stratigrafi
mengikuti kaidah hokum superposisi, jadi defenisi dari penampang stratigrafi terukur
(measured stratigraphic section) adalah suatu penampang atau kolom yang
menggambarkan kondisi stratigrafi suatu jalur, yang secara sengaja telah dipilih dan
diukur untukl mewakili daerah tempat dilakukannya pengukuran tersebut.

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

Adapun rumus yang digunakan dalam mencari ketebalan batuan yaitu dengan
menggunakan rumus trigonometri pada segitiga siku-siku. Pertama-tama yang harus
kita cari yaitu dengan mencar sudut kemiringan dip dan slop, dan juga mengetahui
jarak kemiringan lerennya, setelah itu baru bisa menggunakan dalam rumus segitiga
siku-siku dengan cara mencari terlebih dahulu sudut segitiga siku-siku dari dari sudut
slope dan dip.
Pada pemnggambaran penampang pada kertas grafik dengan skala 1:1000
kami dapat dengan mudah melihat pebedaan beda tinggi suatu daerah dari hasil
gambar yang telah terbentuk pada pengggambaran penampang sayatan.
V.2

Saran
Adapun saran kami dalam praktikum ini yaitu agar kiranya asisten membantu

membimbing praktikannya yang lebih baik untuk praktikum berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Djauhari, Noor., 2010., Pengantar Geologi., Fakultas Teknik., Universitas Pakuan.
Bogor.
Korps Asisten., 2016., Penuntun Praktikum stratigrafi., Makassar: Universitas
Muslim Indonesia
Widada, S., 2002, Petunjuk Praktikum Geologi Minyak Bumi, Jurusan Teknik
Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, UPNVY, Yogyakarta, Indonesia.
NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120

PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

NURUL ARIFAH
09320140071

M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320130120