Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

ACUTE MYELOGENOUS LEUKEMIA (AML)

I.

KONSEP PENYAKIT
A. PENGERTIAN
Leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah
putih dalam sum-sum tulang menggantikan elemen sumsum tulang
normal, juga terjadi proliferasi di hati limpa dan nodus limfatikus dan
invasi organ non hematologis seperti meningen, traktus gastrointestinal,
ginjal dan kulit (Bruner & Suddarth, 2002).
Akut Mielogenus Leukemia (AML) adalah timbulnya disfungsi
sumsum tulang, menyebabkan menurunnya jumlah eritrosit, neutrofil dan
trombosit. Sel-sel leukemia menyusupi limfanodus, limpa, hati, tulang dan
sistem saraf pusat (Cecilyl betz, 2002).
Leukemia adalah penyakit Maligna proliferatif generalicata dari
jaringan pembentuk darah dan biasanya melibatkan leukosit (Rosa.M.
Sacharin, 2002).
Akut mielogenus leukemia (AML) adalah penyakit yang ditandai
dengan adanya proliferasi leukosit yang tidak terkontrol di dalam darah,
sumsum tulang dan jaringan retikuloendotelial (Tucker, 1999).
Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan akut mielogenus
leukemia (AML) adalah penyakit yang ditandai dengan proliferasi leukosit
yang

tidak

teratur

sehingga

timbul

disfungsi

sumsum

tulang,

menyebabkan turunnya jumlah neutrofil, eritrosit dan trombosit.


B. ANATOMI DAN FISIOLOGI
1. Anatomi
Beberapa pengertian darah menurut beberapa ahli :
a. Darah adalah jaringan cair dan terdiri atas dua bagian : bagian cair
yang disebut plasma dan bagian padat yang disebut sel-sel darah
(Pearce Evelyn, 2002 : 133).
b. Darah adalah suatu jaringan tubuh yang terdapat di dalam
pembuluh darah yang warnanya merah (Syaifuddin, 1997 : 232).

c. Darah adalah suatu cairan kental yang terdiri dari sel-sel dan
plasma (Guyton, 1992).
Proses pembentukan sel darah (Hemopoesis) terdapat tiga tempat,
yaitu sumsum, hepar dan limpa.
a. Sumsum tulang
Sumsum tulang yang aktif dalam proses hemopoesis adalah :
1) Tulang vertebrae
Vertebrae merupakan serangkaian tulang-tulang kecil
yang tidak teratur bentuknya dan saling berhubungan,
sehingga tulang belakang mampu melaksanakan fungsinya
sebagai pendukung dan penopang tubuh. Tubuh manusia
mempunyai 33 vertebrae, tiap vertebrae mempunyai korpus
(badan ruas tulang belakang) berbentuk kotak dan terletak
di depan dan menyangga berat badan.
Bagian yang menjorok dari korpuas ke belakang
disebut Arkus neoralis (lengkung neural) yang dilewati
medulla spinalis, yang membawa serabut-serabut dari otak
ke semua bagian tubuh. Pada Arkus terdapat bagian yang
menonjol pada vertebrae dan dilekati otot-otot yang
menggerakkan tulang belakang, yang dinamakan Processus
Spinalis.
2) Sternum (tulang dada)
Sternum adalah tulang dada. Tulang ini sebagai
pelekatan tulang kosta dan klavikula. Sternum terdiri dari
manubrium sterni, Corpus Sterni, dan Processuss Spinosis.
3) Costa (tulang iga)
Costa terdapat 12 pasang, 7 pasang costa vertebra
sternalis, 3 pasang costa vertebrocondralis dan 2 pasang
costa fluktuantes. Costa di bagian posterior tubuh melekat
pada tulang vertebrae dan di bagian anterior melekat pada
tulang sternum, baik secara langsung maupun tidak
langsung, bahkan ada yang sama sekali tidak melekat.
b. Hepar

Hepar merupakan kelenjar terbesar dari beberapa kelenjar


pada tubuh manusia. Organ ini terletak di bagian kanan atas
abdomen di bawah diafragma. Kelenjar ini terdiri dari 2 lobus
yaitu lobus dextra dan lobus sinistra. Dari kedua lobus tampak
adanya ductus hepaticus dextra dan ductus hepaticus sinistra,
keduanya bertemu membentuk ductus hepaticus komunis.
Ductus hepaticus comunis menyaut dengan ductus sistikus
membentuk ductus coledakus.
c. Limpa
Limpa terletak di bagian kiri atas abdomen, limpa
berbentuk setengah bulan berwarana kemerahan. Limfa adalah
organ berkapsula dengan berat normal 100 150 gr. Limpa
mempunyai 2 fungsi sebagai organ limfoid dan memfagosit
material tertentu dalam sirkulasi darah. Limpa juga berfungsi
menghancurkan sel darah merah yang rusak.
2. Fisiologi
Volume darah pada tubuh yang sehat atau orang dewasa terdapat
darah kira-kira 1/13 dari berat badan atau kira-kira 4 5 liter. Keadaan
jumlah tersebut pada tiap-tiap orang tidak sama tergantung pada umur,
pekerjaan, keadaan jantung atau pembuluh darah.
Tekanan viskositas atau kekentalan dari pada darah lebih kental dari
pada air yaitu mempunyai berat jenis 1,041 1,067 dengan
temperature 380C dan PH 7,37 7,45.
a. Fungsi darah secara umum terdiri atas :
1) Sebagai alat pengangkut
a) Mengambil O2 atau zat makanan dari paru-paru untuk
diedarkan ke seluruh jaringan tubuh.
b) Mengangkut CO2 dari jaringan untuk dikeluarkan melalui
paru-paru dan mengambil zat-zat makanan dari usus halus
untuk diedarkan dan dabagikan ke seluruh jaringan atau
alat tubuh.
c) Mengangkut atau mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna
bagi tubuh untuk dikeluarkan melalui kulit dan ginjal.

2) Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan bibit penyakit dan


racun yang akan membinasakan tubuh dengan perantaraan
leukosit, antibodi atau zat-zat anti racun.
3) Menyebarkan panas ke seluruh tubuh
Fungsi khususnya diterangkan lebih banyak di struktur/bagianbagian dari masing-masing sel-sel darah dan plasma darah.
b. Darah terdiri dari dua bagian, yaitu :
1) Sel-sel darah, ada tiga macam yaitu :
a) Eritrosit (sel darah merah)
Eritrosit merupakan cakram bikonkaf yang tidak
berinti, ukurannya kira-kira 8 m, tidak dapat bergerak.
Banyaknya kira-kira 5 juta dalam mm 3. Eritrosit berwarna
kuning kemerah-merahan karena di dalamnya mengandung
suatu zat yang disebut hemoglobin. Warna ini akan
bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung O2.
Fungsi dari eritrosit adalah mengikat O2 dari paru-paru
untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan mengikat
CO2 dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paruparu.
Pengikatan O2 dan CO2 ini dilakukan oleh hemoglobin
yang telah bersenyawa dengan O2 disebut oksi hemoglobin
(Hb + O2 HbO2). Jadi O2 diangkut dari seluruh tubuh
sebagai oksihemoglobin dan kemudian dilepaskan dalam
jaringan HbO2 Hb + O2 dan seterusnya Hb akan
mengikat dan bersenyawa dengan CO2 yang disebut
karbodioksisa hemoglobin (Hb + CO2 HbCO2) yang
mana CO2 akan dilepaskan di paru-paru.
Eritrosit dibuat dalam sumsum tulang, limpa, dan hati
yang kemudian akan beredar ke seluruh tubuh selama 14
15 hari, setelah itu akan mati. Hemoglobin yang keluar dari
eritrosit yang mati akan terurai menjadi dua zat yaitu
hematin yang mengandung Fe yang berguna untuk

pembuatan eritrosit baru dan berguna untuk mengikat O2


dan CO2. Jumlah Hb dalam orang dewasa kira-kira 11,5
15 mg%. normal Hb wanita 11,5 15,5 mg% dan laki-laki
13,0 17,0 mg%.
Di dalam tubuh banyaknya sel darah merah ini bisa
berkurang, demikian juga banyaknya hemoglobin dalam sel
darah merah. Apabila keduanya berkurang maka keadaan
ini disebut anemia. Biasanya hal ini disebabkan karena
perdarahan yang hebat dan gangguan dalam pembuatan
eritrosit.
b) Leukosit (sel darah putih)
Sel darah yang bentuknya dapat berubah-ubah dan
dapat bergerak dengan perantara kaki palsu (pseudopodia)
mempunyai bermacam-macam inti sel sehingga dapat
dibedakan berdasarkan inti sel. Leukosit berwarna bening
(tidak berwarna), banyaknya kira-kira 4000 11000/mm3.
Leukosit berfungsi sebagai serdadu tubuh, yaitu
membunuh dan memakan bibit penyakit atau bakteri yang
masuk ke dalam tubuh jaringan RES (Retikulo Endotel
System). Fungsi yang lain yaitu sebagai pengangkut,
dimana leukosit mengangkut dan membawa zat lemak dari
dinding usus melalui limpa ke pembuluh darah.
Sel leukosit selain di dalam pembuluh darah juga
terdapat di seluruh jaringan tubuh manusia. Pada
kebanyakan penyakit disebabkan karena kemasukan kuma
atau infeksi maka jumlah leukosit yang ada dalam darah
akan meningkat. Hal ini disebabkan sel leukosit yang
biasanya tinggal di dalam kelenjar limfe sekarang beredar
dalam darah untuk mempertahankan tubuh terhadap
serangan bibit penyakit tersebut. Macam-macam leukosit
meliputi :
1) Agranulosit

i.

Sel yang tidak mempunyai granula, terdiri dari :


Limfosit
Leukosit yang dihasilkan dari jaringan RES dan
kelenjar limfe di dalam sitoplasmanya tidak
terdapat granula dan intinya besar, banyaknya 20
25 %. Fungsinya membunuh dan memakan bakteri

yang masuk ke dalam jaringan tubuh.


ii.
Monosit
Fungsinya sebagai fagosit dan banyaknya 34%
2) Granulosit
i.
Neotrofil
Mempunyai inti, protoplasma banyaknya bintikii.
iii.

bintik, banyaknya 60 70 %.
Eosinofil
Granula lebih besar, banyaknya kira-kira 24%.
Basofil
Inti teratur dalam protoplasma terdapat granula

besar, banyaknya %.
c) Trombosit (sel plasma)
Merupakan benda-benda kecil yang bentuknya dan
ukurannya bermacam-macam, ada yang bulat dan ada yang
lonjong. Warnanya putih dengan jumlah normal 150.000
450.000/mm3. Trombosit memegang peran penting dalam
pembekuan darah, jika kurang dari normal. Apabila timbul
luka, darah tidak lekas membeku sehingga timbul
perdarahan terus-menerus.
Proses pembekuan darah dibantu oleh zat Ca2+ dan
fibrinogen. Fibrinogen mulai bekerja apabila tubuh
mendapat luka.
Jika tubuh terluka, darah akan keluar, trombosit pecah
dan akan mengeluarkan zat yang disebut trombokinase.
Trombokinase akan bertemu dengan protombin dengan
bantuan Ca2+ akan menjadi thrombin. Thrombin akan
bertemu dengan fibrin yang merupakan benang-benang
halus, bentuk jaringan yang tidak teratur letaknya, yang

akan menahan sel darah, dengan demikian terjadi


pembekuan.
2) Plasma darah
Bagian darah yang encer tanpa sel-sel darah warna bening
kekuningan hamper 90% plasma darah terdiri dari :
a. Fibrinogen yang berguna dalam proses pembekuan darah
b. Garam-garam mineral (garam kalsium, kalium, natrium,
dan lain-lain yang berguna dalam metabolism dan juga
mengadakan osmotik).
c. Protein darah (albumin dan globulin) meningkatkan
viskositas darah dan juga menimbulkan tekanan osmotik
untuk memelihara keseimbangan cairan dalam tubuh.
d. Zat makanan (zat amino, glukosa lemak, mineral, dan
vitamin)
e. Hormone yaitu suatu zat yang dihasilkan dari kelenjar
tubuh.
f. Antibody atau anti toksin.
C. JENIS LEUKEMIA
1. Leukemia Mielogenus Akut
AML mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi
ke semua sel Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan
trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat
sesuai bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang
paling sering terjadi.
2. Leukemia Mielogenus Kronis
CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid.
Namun lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga
penyakit ini lebih ringan. CML jarang menyerang individu di bawah
20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda dan
gejala lebih ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahuntahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa,
limpa membesar.
3. Luekemia Limfositik Akut

ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi


pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak
insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL jarang terjadi. Manifestasi
limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan
perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal..
4. Leukemia Limfositik Kronis
CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50
sampai 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala,
baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.
D. ETIOLOGI
Penyebab leukemia belum diketahui, tetapi hal ini dapat diakibatkan
oleh interaksi sejumlah faktor. Faktor-faktor tersebut adalah :
1. Neoplasma
Ada persamaan antara leukemia dengan penyakit neoplastik
lain, misalnya poliferasi sel yang tidak terkendali, abnormalitas
morfologi sel, dan infiltrasi organ. Lebih dari itu, kelainan sumsum
kronis lain dapat berubah bentuk yang akhirnya menjadi leukemia
akut.
2. Infeksi
Pada manusia, terdapat bukti kuat untuk etiologi virus baik satu
jenis leukemia/limforma sel T. beberapa hasil penelitaian yang
menyokong teori sebagai penyebab leukemia antara lain : enzyme
reverase transciptase ditemukan dalam darah penderita leukemia.
Seperti diketahui enzim ini ditemukan di dalam virus onkogenik
seperti retrovirus tipe C, yaitu jenis virus RNA yang menyebabkan
leukemia pada binatang. Enzim tersebut menyebabkan virus yang
bersangkutan dapat membentuk bahan genetic yang kemudian
bergabung dengan ganom sel yang terinfeksi.
3. Radiasi
Radiasi, khususnya sumsum tulang, bersifat leukaemogonik. Radiasi
ionisasi (lingkungan kerja, prenatal, pengobatan kanker sebelumnya).
4. Keturunan/genetik

Virus tertentu meyebabkan terjadinya perubahan struktur gen


(T cell leukemia-lymphoma virus/HTLV). Ada laporan beberapa
kasus yang terjadi pada suatu keluarga pada kembar identik. Ada
insiden yang lebih meningkat pada penyakit herediter, khususnya
Sondron Down (dimana leukemia terjadi peningkatan frekuensi 2030 kali lipat) anemia fanconui dan aoksia-talangfeksia.
5. Zat kimia
Terkena bensin kronie yang dapat menyebabkan dysplasia
susmsum tulang dan perubahan kromosom, merupakan penyebab
leukemia

yang

mengalkalisasi

ditetapkan
seperti

mantap,

khlorambusil,

khususnya
mustin,

obat

melfalan,

yang
dan

prokarbazin.
E. PATOFISIOLOGI
Leukemia adalah satu keadaan dimana terjadi pertumbuhan
yang bersifat irreversible dari sel induk darah dan pertumbuhannya
dimulai dari mana sel itu berasal. Sel-sel tersebut, pada berbagai
stadium akan membanjiri aliran darah yang berakibat sel yang spesifik
akan dijumpai dalam jumlah yang banyak.
Sebagai akibat dari proliferasi sel abnormal tersebut maka akan
terjadi kompertisi metabolic yang akan menyebabkan anemia dan
trombositopenia. Apabila proliferasi sel terjadi di limfa maka akan
membesar sehingga dapat terjadi hiperplenisme yang selanjutnya
menyebabkan makin memburuknya anemia dan trombositopenia. Pada
leukemia yang disertai splenomegali sering terjadi komplikasi
hemolisis.
Infeksi terjadi oleh suatu nahan yang menyebabkan reaksi
seperti ionfeksi oleh virus. Kelainan pada leukemia bukan merupakan
penyakit primer akan tetapi merupakan suatu bagian dari respon
pertahanan sekunder dari tubuh terhadap infeksi tersebut.
Terdapat peninggian insiden leukemia pada orang-orang yang terkena
radiasi sinar rontgen . diduga bahwa peninggian insiden disini karena

akibar radiasi akan merendahkan referensi terhadap bahan dari


penyebab leukemia tersebut.
Pada leukemia akut hepar, lien dan kelenjar getah bening
membesar secara cepat, keluhan nyeri akibat regangan kapsel organ
tersebut menjadi jelas. Infiltrasi ke otak akan menyebabkan keluhan
sakit kepala dan infiltrasi ke tulang menyebabkan fraktur spontan.
Infiltrasi ke gusi menimbulkan hipertrofi gusi dan sering disertai
pendarahan gusi. Limfadenopati dapat menyertai leukemia dan apabila
kelompokkam pembesaran kelenjar ini menekan pembuluh adarah dan
pembuluh getah bening, maka akan terjadi edema local.
Infiltarsi ke paru menyebabkan batuk dan sesak, pembesaran
kelenjar getah bening di abdomen dapat menyebabkan keluhan rasa
tidak enak di perut, dan rasa cepat kenyang. Infiltarasi ke ginjal dapat
menyebabkan hematuria dan gagal ginjal. Keluhan akibat adanya
anemia lemah badan dan cepat lelah. Trombositopenia menimbulkan
pendarahan baik dari kulit dan selaput lendir (Long, 2010 ;
Issalbacher, 2010).
F. MANIFESTASI KLINIS
1. Bukti anemia, perdarahan dan infeksi
a. Demam
b. Keletihan
c. Pusat
d. Anorexia
e. Petekia dan perdarahan
f. Nyeri sendi dan tulang
g. Nyeri abdomen yang tidak jelas
h. Berat badan turun
i. Pembesaran dan fibrosis organ-organ sistem retikuloendotelia hati,
limfa dan linfonodus.
2. Peningkatan tekanan intracranial karena infiltrasi meninges
a. Sakit kepala
b. Iritabilitas
c. Letargi
d. Muntah
e. Edema pupil

f. Koma
3. Gejala-gejala sistem saraf pusat yang berhubungan dengan bagian
sistem yang terkena
a. Kelemahan ekstremitas bawah
b. Kesulitan berkemih
(Cecil betz, 2012)
G. KOMPLIKASI
1. Gagal sumsum tulang
2. Infeksi
3. Perdarahan
4. Splenomegali
5. Hepatomegali
H. PENATALAKSANAAN
1. Pelaksanaan kemoterapi
Terdapat dengan fase pelaksanaan kemoterapi :
a. Fase Induksi
Dimulai 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase ini
diberika terapi kortikosteroid (prednisone), vincristin, dan Lasparaginase. Fase induksi dinyatakan berhasil jika tanda-tanda
penyakit berkurang atau tidak ada dalam sumsum tulang
ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5%.
b. Fase Profilaksis Sistem Saraf Pusat
Pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine dan
hydrocotison melalui intracranial untuk mencegah invasi sel
leukemia ke otak. Terapi irradiasi cranial dilakukan hanya pada
pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat.
c. Kosolidasi
Pada fase kombinasi pengobatan dilakukan untuk
mempertahankan remisi dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia
yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, mingguan atau bulanan
dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon
sumsum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum
tulang, maka pengobatan dihentikan sementara atau dosis obat
dikurangi.

2. Irradiasi Kranial
3. Transfusi darah dan trombosit bila ditemukan trombositopenia
4. Transplantasi sumsum tulang bila diperlukan
II.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Pengkajian fokus
a. Aktivitas : kelelahan, kelemahan, malaise, kelemahan otot
b. Sirkulasi : palpitasi, takikardi, mur-mur jantung, membran mukosa
pusat
c. Eliminasi : diare, nyeri tekan perianal, darah merah terang, feses
hitam, penurunan haluaran urine, darah pada urin.
d. Integritas ego : perasaan tidak berdaya, menarik diri, takut, mudah
terangsang, ansietas.
e. Makanan/cairan : anoreksia, muntah, perubahan rasa, faringitis,
penurunan BB dan disfagia.
f. Neurosensori : penurunan koordinasi, disorientasi, pusing,
kesemutan parestesia, aktifitas kejang otot mudah terangsang.
g. Nyeri : nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri sendi, perilaku hati-hati,
gelisah.
h. Pernafasan : nafas pendek, batuk, dispneu, takipneu, ronchi,
gemericik, penurunan bunyi nafas.
i. Keamanan : gangguan penglihatan, perdarahan spontan tidak
terkontrol, demam, infeksi, kemerahan, purpura, pembesaran
nodus limfe, limpa/hati.
2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien AML
adalah sebagai berikut :
a. Jumlah sel darah putih bisa berkurang, normal atau meningkat
b. Pada sebagian besar kasus terjadi trombositopena
c. Biasanya pada pemeriksaan fungsi lumbal memperlihatkan bahwa
cairan

spinal

mempunyai

tekanan

yang

meninggi

dan

mengandung sel leukemik


d. Pemeriksaan dengan Sinar X dapat memperlihatkan lesi tulang
e. Tes funsi hati dan ginjal dilakukan sebagai pedoman sebelum
terapi

f. Biopsy/Aspirasi sumsum tulang, untuk mengidentifikasi adanya


blast dalam sumsum tulang
g. Pemeriksaan rontgen dada, untuk mengidentifikasi massa
mediastinum
h. Hitung darah lengkap

menunjukkan

normositik,

anemia

i.
j.
k.
l.

normositik
Hemoglobulin : dapat kurang dari 10 gr/100ml
Retikulosit : jumlah biasaya rendah
Trombosit : sangat rendah (< 50000/mm)
SDP
: mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan

m.
n.
o.
p.

SDP immature
PTT
: memanjang
LDH
: mungkin meningkat
Asam urat serum : mungkin meningkat
Muramidase serum : pengikatan pada leukemia monositik akut

dan mielomonositik
q. Copper serum
: meningkat
r. Zink serum
: menurun
s. Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat
keterlibatan
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai
oksigen : kelemahan umum
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan pembesaran organ
atau modus limfe
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, malaise, mual dan muntah
4. Risiko cedera : Pendarahan berhubungan dengan penurunan jumlah
trombosit
5. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan
sekunder yang tidak adekuat
6. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan dengan penurunan
kapasitas suplai O2 ke sel jaringan
7. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai O 2
ke sel jaringan

C. PERENCANAAN
1. Intoleransi
Intoleransi

aktifitas

berhubungan

dengan

ketidakseimbangan suplai oksigen : kelemahan umum


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan terjadi peningkatan
toleransi terhadap aktifitas
Kriteria Hasil :
a. Laporan peningkatan aktivitas yang dapat diukur
b. Menunjukkan tanda fisiologis tidak toleran misalnya nadi,
pernafasan dalam batas normal
c. Intervensi :
1) Evaluasi laporan kelemahan perhatian ketidakmampuan untuk
berpartisipasi dalam aktifitas
2) Berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa
gangguan
Rasional : Menghemat energy untuk aktifitas dan regenerasi
seluler atau penyembuhan jaringan
3) Implementasi teknik penghematan energi contoh lebih baik
duduk dari pada berdiri
4) Berikan kebersihan mulut sebelum makan
5) Kolaborasi berikan oksigen tambahan
Rasional : Memaksimalkan sediaan oksigen untuk kebutuhan
seluler
(Doengoes, 2000)
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan pembesaran organ
atau modus limfe
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat
berkurang atau hilang
Kriteria Hasil :
a. Menyatakan nyeri hilang atau terkontrol
b. Tampak relax dan mampu beristirahat dengan tenang
Intervensi :
1) Mengkaji intensitas skala nyeri (skala 0-10)
Rasional : Dapat mengidentifikasi terjadinya komplikasi
2) Monitor tanda-tanda vital perhatikan petunjuk non verbal misalnya
Rasional : Dapat membantu mengevaluasi pernyataan verbal dan
keefektifan intervensi
3) Berikan lingkungan yang nyaman dan tenang
Rasional : Meningkatkan istirahat

4) Tempatkan pada posisi ruangan dan sokong sendi ekstremitas


dengan bantal
Rasional : Dapat menurunkan ketidaknyamanan tulang/sendi
5) Berikan tindakan kenyamanan (misalnya : pijatan, kompres dingin)
dan dukungan psikologis)
Rasional : Meminimalkan kebutuhan/meningkatkan efek obat
6) Kolaborasi analgetik, narkotik
Rasional : Menurunkan nyeri
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, malaise, mual dan muntah
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan nutrisi
terpenuhi
Kriteria Hasil :
a. Nafsu makan meningkat
b. BB meningkat
Intervensi :
1) Observasi dan catat masukan makanan, bila jumlahnya kurang dari
yang diperlukan berikan cairan parenteral
2) Sajikan makanan dalm bentuk menarik dan berikan sedikit-sedikit
tapi sering
3) Motivasi klien untuk menghabiskan porsi makan
4) Timbang berat badan sesuai indikasi
5) Kolaborasi dengan ahli gizi
4. Risiko cedera : Pendarahan berhubungan dengan penurunan jumlah
trombosit
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi
pendarahan
Kriteria Hasil : Tidak mengalami perdarahan
Intervensi :
1) Pantau hitung trombosit dengan jumlah 50.000 mm3, resiko
perdarahan pantau Ht dan Hb terhadap tanda perdarahan
2) Hindari aktifitas berlebih yang mungkin menyebabkan cedera fisik
3) Inspeksi kulit, mulut, hidung, urine, feses, muntahan dan tempat
tusukan terhadap perdarahan
4) Beri bantalan tidur untuk mencegah trauma
5) Beri tranfusi trombosit sesuai indikasi

5. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan


sekunder yang tidak adekuat
Tujuan : Setelah dilalukan tindakan keperawatan klien terhindar dari
infeksi
Kriteria Hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi
Intervensi :
1) Monitor suhu badan
Rasional : Hipertermi lanjut terjadi pada beberapa tipe infeksi
2) Cegah menggigil : tingkatkan cairan
Rasional : Membantu menurunkan demam, yang menambah
ketidakseimbangan cairan
3) Cuci tangan untuk semua petugas dan pengunjung
Rasional : Mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko
infeksi
4) Berikan periode istirahat tanpa gangguan
Rasional : Meningkatkan energy
5) Dorong peningkatan masukan makanan tinggi protein dan cairan
Rasional : Meningkatkan pembentukan antibody dan mencegah
dehidrasi
6) Kolaborasi
a) Pemeriksaan laboratorium, misalnya hitung darah lengkap
Rasional : Penurunan jumlah SDP normal/matun dapat
diakibatkan oleh proses penyakit/kemoterapi
b) Pemberian antibiotic sesuai indikasi
Rasional : Meminimalkan sumber potensial kontaminasi
bacterial
6. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan dengan penurunan
kapasitas suplai O2 ke sel jaringan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien menunjukkan
perbaikan oksigenasi
Kriteria Hasil :
a. Pernafasan dalam rentang normal
b. Tidak ada sianosis
c. Bunyi nafas normal
Intervensi :
1) Monitor frekuensi/kedalaman pernafasan area sianosis
2) Auskultasi bunyi nafas, catat adanya takikardi
3) Observasi peningkatan batuk
4) Kolaborasi pemberian O2 sesuai indikasi

5) Batasi aktivitas klien


7. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai O 2
ke sel jaringan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi perfusi
jaringan
Kriteria Hasil :
a. TTV klien stabil, kulit hangat, dan tidak ada sianosis
b. Turgor kulit baik, kapiler refill (2 detik)
Intervensi :
1) Monitor TTV
2) Kaji pengisian kapiler, warna kulit, turgor kulit
3) Catat adanya keluhan rasa dingin, pucat, kelambatan pengisian
kapiler
4) Catat adanya perubahan tingkat kesadaran
5) Pertahankan suhu lingkungan

DAFTAR PUSTAKA
1.Doenges, Marilynn E. Nursing Care Plans: Guidelines For Planning And
Documenting Patient Care. Alih Bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC; 1999
2.Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes.
Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994
3.Reeves, Charlene J et al. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. I.
Jakarta : Salemba Medika; 2001

4.Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.
Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC;
2001.
5.Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And
Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998
6.http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/2/jtptunimus-gdl-s1-2007-erianiradi-97-2bab2.pdf diakses pada tanggal 28 Agustus 2016 pukul 11.00 WIB