Anda di halaman 1dari 12

JOURNAL READING

Studi Klinis Otitis Media Supuratif Kronis dengan


Kolesteatoma

Disusun oleh :
Scherlly Reviana
030.11.269

Pembimbing:
dr. Heri Puryanto, MSc, Sp.THT-KL
dr. Fahmi Novel, Sp. THT-KL, MSi. Med

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN THT-KL


RSUD KARDINAH KOTA TEGAL
14 November 17 Desember 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

LEMBAR PENGESAHAN

JOURNAL READING
Studi Klinis Otitis Media Supuratif Kronis dengan Kolesteatoma
Oleh :
Scherlly Reviana
030.11.269
Disusun sebagai salah satu syarat kelulusan
Kepanitraan Klinik Ilmu Telinga Hidung Tenggorok- Bedah Kepala & Leher
Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah, Kota Tegal
14 November 17 Desember 2016
Tegal, 29 November 2016

Pembimbing I

dr. Heri Puryanto.MSc,Sp.THT-KL

Pembimbing II

Dr. Fahmi Novel, SP.THT- KL, Msi.Med

Bangladesh J Otorhinolaryngol 2011; 17(1): 42-47

Studi Klinis Otitis Media Supuratif Kronis dengan


Kolesteatoma
Mohammed Yousuf1, Khorshed A Majumder2, Akter Kamal3, Ahmed M
Shumon4, Yeahyea Zaman5
Abstrak
Objektif: Untuk mengetahui perbedaan dari faktor etio-patologi dari penyakit dan
meningkatkan kesadaran dari semua tingkatan petugas kesehatan serta
menurunkan kemungkinan tidak terdiagnosisnya penyakit ini dengan merujuk
lebih awal dan mengintervensi tindakan operasi jika dibutuhkan sehingga dapat
menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien.
Metode: Sebanyak 100 pasien dengan otitis media supuratif kronis (OMSK)
dikumpulkan di Departemen THT-KL Rumah Sakit Pendidikan Bangbandhu
Sheikh Mujib, Fakultas Kedokteran Sir Salimullah dan Rumah Sakit Mitford,
Dhaka terhitung dari bulan Januari 2003-Februari 2004. Pasien dengan OMSK
dan kolesteatoma yang memiliki komplikasi ataupun tidak diikut sertakan dalam
penelitian ini, termasuk dalam perbedaan usia, jenis kelamin dan kondisi sosioekonomi.
Hasil: Penelitian ini membuktikan bahwa kemisikinan, pendidikan rendah,
kepadatan penduduk, tinggal di daerah kumuh, dan mandi di sungai atau kolam
adalah etiologi yang utama. Penelitian ini juga membuktikan tingginya ketidak
pedulian pada kesehatan juga merupakan faktor berkembangnya penyakit serta
komplikasi dalam masyarakat.
Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa dengan menghindari faktor
etiologi, meningkatkan kondisi sosio ekonomi dan status pendidikan serta
menyediakan dokter yang terlatih di daerah pedalaman, perkembangan serta
komplikasi ini dapat ditekan jumlahnya. Hal ini juga didukung dengan diagnosis
yang didapatkan sejak awal sehingga dapat merujuk lebih cepat serta lebih cepat
pula dilakukan intervensi tindakan operasi jika diperlukan.
3

Kata kunci: Otitis Media Supuratif Kronis, Kolesteatoma.


1; Professor, Department of Otolaryngology-Head & Neck Surgery, Enam
Medical College and Hospital, Savar, Dhaka, Bangladesh.
2; Professor and Head, Department of Otolaryngology-Head & Neck Surgery,
Holy Family and Red crescent Medical College and Hospital, Dhaka,
Bangladesh.
3; FCPS course, OSD, DG Health, Dhaka, Bangladesh.
4; Assistant Professor, Department of Otolaryngology-Head & Neck Surgery,
Enam Medical College and Hospital, Savar, Dhaka, Bangladesh.
5; Junior consultant, Department of Otolaryngology-Head & Neck Surgery,
Enam Medical College and Hospital, Savar, Dhaka, Bangladesh.
Address for Correspondence: Dr.
Mohammed

Yousuf,

Professor,

Department of Otolaryngology - Head


& Neck Surgery, Enam Medical
College and Hospital, Savar, Dhaka,
Bangladesh

Pendahuluan:
Kolesteatoma adalah kantung yang
dilapisi oleh epitel skuamosa berlapis
yang mengandung lapisan konsentris
bahan keratin dengan atau tanpa kristal
kolesterol.
4

Asalnya belum diketahui, sifatnya

kemiskinan,

progresif dan destruktif, sehingga jika

kelenjar adenoid pada saat anak-anak,

ada

kebiasaan mandi di kolam, tinggal di

celah

di

kolesteatoma
jaringan

telinga

dapat
di

tengah

mendestruksi

sekitarnya

dan

ISPA,

pemukiman

pembesaran

kumuh

penduduk,

tidak

dan

padat

sadar

dengan

mengakibatkan komplikasi intracranial

konsekuensi penyakit yang timbul dan

dan ekstrakranial.1

sedikitnya jumlah dokter yang terlatih


di pedalaman.

Berdasarkan etiologinya, kolesteatoma


dapat

diklasifikasikan

kategori,

kongenital

menjadi
dan

didapat.

Kolesteatoma yang didapat dibagi lagi


menjadi

primer

Kolesteatoma

dan

kongenital

sekunder.
diketahui

berasal dari inklusi embrionik atau sisa


sel epitel yang ada di belakang
membrane timpani yang intak.

Gejala

dari

OMSK

dengan

kolesteatom biasanya adalah keluarnya


cairan dari telingan dan penurunan
pendengaran,

jika

disertai

dengan

komplikasi pasien juga akan mengeluh


nyeri telinga, demam, menggigil dan
kaku,

pembengkakan

di

belakang

telinga, muntah, pusing berputar, nyeri


kepala, parese wajah dan lain-lain.6-10

Kolesteatoma

yang

didapat

diklasifikasikan menjadi 3 kategori;

kolesteatom sekunder yang disebabkan

Di Bangladesh sendiri gejala dari


kasus OMSK dengan kolesteatoma
muncul dengan komplikasi ekstrakranial dan kadang intra-kranial.
Tujuan dan objektif:

karena perforasi membrane timpani

a; Untuk mengetahui variasi dari

yang paling umum adalah kolesteatom


primer.

Tipe

lainnya

adalah

dan inflamasi mukosa.2-5

hubungan

OMSK

kolesteatoma

pada

dengan
usia,

jenis

Meskipun etiologi dari kolesteatoma

kelamin, status pendidikan, dan

sebenarnya tidak diketahui tapi tampak

kondisi ekonomi.

bahwa

pembentukan

dan

b; Untuk

meningkatkan

perkembangan dari kolesteatom serta

dari

semua

komplikasinya berhubungan dengan

kesehatan

kesadaran

tingkatan
serta

petugas

menurunkan
5

kemungkinan tidak terdiagnosisnya


penyakit ini dengan merujuk lebih

Age distribution of patients

awal dan mengintervensi tindakan

(n=100)

operasi jika dibutuhkan sehingga


dapat menurunkan morbiditas dan
mortalitas pasien.
Metode:
Sebanyak 100 pasien dengan otitis
media

supuratif

kronis

(OMSK)

Age group
(years)

Number of
patients

Percentage

20
54
16
10
0

20
54.0
16.0
10.0
0.0

0-10
11-20
21-30
31-40
>40

dikumpulkan di Departemen THT-KL


Rumah Sakit Pendidikan Bangbandhu
Sheikh Mujib, Fakultas Kedokteran Sir
Salimullah dan Rumah Sakit Mitford,

Jumlah pasien tertinggi ada di grup 1120 thn (54 orang).

Dhaka terhitung dari bulan Januari


2003-Februari 2004. Pasien dengan
OMSK

dan

kolesteatoma

yang

memiliki komplikasi ataupun tidak


Table-II

diikut sertakan dalam penelitian ini,


termasuk dalam perbedaan usia, jenis

Socioeconomic condition (n=100)

kelamin dan kondisi sosio-ekonomi.


Results:
69% kasus dari 100 pasien diketahu
memiliki

gejala

komplikasi,

25%

dengan gejala komplikasi ekstrakranial

Socioeconomic Number of Percentage


condition
patients
Very poor
44
44%
Poor
40
40%
Middle class
16
16%

dan 6% intracranial. Pada penelitian


ini, usia termuda didapatkan 6 tahun

Sedangkan

dan tertua 40 tahun, dengan rerata 17,2

sosioekonomi, mayoritas pasien datang

tahun.

dari keluarga yang sangat miskin

berdasarkan

kondisi

(44%) dan miskin (40%). Dari segi


Table-I

status pendidikan, terdapat 22% yang


6

tidak mengenyam pendidikan dan 40%


yang berpendidikan. Diketahui

pula

masyarakat yang kelasnya lebih tinggi


biasanya tidak datang berobat ke
rumah sakit yang disebutkan di atas.
Tinggal di area kumuh dan memiliki
kebiasaan mandi di sungai serta kolam

swelling
Post auricular
discharging sinus
Fever
Headache
Vomiting
Vertigo
Neck rigidity
Facial paralysis
Tinnitus

10

10.0

10
6
5
5
4
3
2

10.0
6.0
5.0
5.0
4.0
3.0
2.0

memiliki potensi lebih tinggi terkena


OMSK

dengan

kolesteatoma

dibandingkan dengan yang tinggal di


kota dan memiliki suplai air yang
bersih.

Berdasarkan gejalanya, semua pasien


mengeluhkan gejala otorea (100%) dan
80%

pasien

mengeluh

gejala

Dari karakter cairannya 82.70%


mengeluh keluar sedikit, 18,27%
banyak, 14,5% keluar sekret darah dan
14,42% kasus disertai dengan polip.
Sebanyak 69,2% kasus mengalami
perforasi di bagian marginal membrane
timpani dan 30,77% di atik.
Kasus terbanyak yang ditemukan yaitu
sebanyak 69% tidak menunjukkan
gejala komplikasi.

terdapatnya penurunan pendengaran.

Cholesteatoma with complications

Table-III
Clinical presentation (n=100)
Symptoms

Table-IV

Number Percentage
of patient

(n=100)
Complications

Number
of patient

Post auricular

Discharge from
ear
Hearing

100

100.0

impairment
Earache
Fleshy mass in ear
Post auricular

80
15
15

80.0
15.0
15.0

painful

12

12.0

abscess
Post auricular sinus
Facial palsy
Extradural abscess
Lateral sinus
thrombophlebitis
Meningitis
Temporal lobe

12
10
03
01
01

12.0
10.0
03.0
01.0
01.0

03
01

03.0
01.0
7

Tabel di atas menunjukkan bahwa

abscess
Didapatkan
komplikasi

25%

kasus

ekstrakranial

dengan
dan

6%

dengan komplikasi intracranial.


Pemeriksaan radiologis dan audiologi
(X-ray mastoid n=75, CT scan n=06)
menunjukkan 52% terdapat rongga
yang dibatasi (circumscribed cavity)
pada Xray mastoid Townes and
Stenvers di 75 pasien. Lesi yang
mengisi

ruang

(space

occupying

lesion) ditemukan pada 2% dari kasus


atau 6 pasien dengan komplikasi
intracranial.

CSOM with cholesteatoma

dan sedikit yang mengalami tuli


campur berat (6.38%). Pemeriksaan
audiologi tidak dilakukan pada pasien
dengan komplikasi intracranial.
Diskusi:
Seratus pasien dengan usia dan jenis
kelamin yang berbeda diikut sertakan
dalam penelitian ini dengan definit
kolesteatoma

setelah

dilakukan

pemeriksaan

fisik

dan

Pada penelitian ini, kasus terbanyak


didapatkan pada kelompok usia 11-20

(n=94 ears).

deafness
(41-70 dB)
Severe deafness
(71-90 dB)

dengan tuli konduktif ringan (19.5%)

penunjang.

Audiological findings of patients of

Mild deafness
(26-40 dB)
Moderate

konduktif sedang (74.47%) diikuti

anamnesis,

Table-V

PTA findings

pasien paling banyak mengalami tuli

tahun (54%) dengan usia pasien

Number
of ears
18

Percentage
19.15

termuda 6 tahun dan tertua 40 tahun


(Tabel 1), yang juga didukung oleh
4,5,11

banyak penelitian.

Jumlah laki-

laki didapatkan lebih tinggi dibanding


70

74.47

6.38

perempuan dengan ratio 2.33:1. Hal ini


sesuai dengan beberapa penelitian
sebelumnya.12-16

Didapatkan

ada

hubungan antara pasien kolesteatoma


dengan kondisi sosioekonomi dimana
mereka
kelompok

sangat
miskin

miskin
(40%)

(44%),
lebih
8

memiliki insiden yang lebih tinggi,

ditemukan, diikuti dengan gangguan

yang juga didukung oleh penelitian

pendengaran (80%), otalgia (15%),

lainnya. 17-19

serumen (15%) di meatus auditori


eksternal, keluar cairan dari sinus post-

Pada penelitian ini, didapatkan hasil

auricular (10%) dan hanya 6% yang

pasien yang tidak mengenyam bangku

memiliki

pendidikan mencapai 22% sedangkan

intracranial. Hal ini disebabkan karena

yang berpendidikan dasar sebanyak

ketidak tahuan terhadap etiopatologi

40%.15,18,19 Masyarakat yang tinggal di

dari

pemukiman

kurangnya petugas kesehatan yang

kumuh

memiliki

kemungkinan mengalami kolesteatoma

gejala

penyakit,

komplikasi

konsekuensi

serta

terlatih.10, 15, 21

sebanyak 80% dibandingkan dengan


mereka yang tinggal di perumahan

Cairan yang keluar berbau (100%),

layak huni. Hal ini disebabkan karena

jumlah cairan sedikit (86%) dan

tinggal

kumuh

disertai darah (15%). Hal ini tidak

merupakan factor risiko dari terjadinya

sesuai dengan penelitian yang telah

ISPA

dilakukan sebelumnya.21-24

di

pemukiman

yang

disebabkan

oleh

kemiskinan, dan kepadatan penduduk.


Hal ini sesuai dengan penelitian

Berdasarkan komplikasinya, hanya 6

sebelumnya.15, 20, 21

kasus yang mengalami komplikasi


intracranial, 3 meningitis, 1 abses

Masyarakat yang tinggal di pinggiran


Bangladesh memiliki kebiasaan
berenang di kolam dan sungai terdekat,
hal ini membuktikan tingginya risiko
kolesteatoma yaitu sebesar 60%,
dibandingkan dengan masyarakat yang
mandi dengan air bersih sebesar 40%.
Hal ini dapat disebabkan karena air
yang kotor masuk menginfeksi telinga.

ekstradural, 1 sinus thrombophlebitis


lateral, dan 1 lagi dengan abses lobus
temporalis.

Hampir

kasus

mengalami komplikasi ekstrakranial,


12 kasus dengan abses subperiosteal,
10 dengan keluarnya cairan post
aurikular,

dan

dengan

parese

Hampir semua pasien memiliki gejala

n.facialis, penemuan ini sesuai dengan

yang lebih dari satu. Otorrhoea (100%)

kasus sebelumnya. 25

merupakan gejala yang paling umum


9

Sedangkan berdasarkan pemeriksaan

Otolaryngology, 5th edn. 1992;

audiologi,

223 -27.

penurunan

pendengaran

didapatkan pada semua pasien dan

3;

Alan G. Kerr, John B. Booth

kebanyakan pasien mengalami tuli

editors

konduktif sedang (74.47%) diikuti

Otolaryngology, Otology 6th edn.

dengan tuli konduktif ringan (19.15%)

Butterworth and Heinemann 1997.

dan sedikit dengan tuli campuran

5-23.

(6.38%).15,26

4;

Scot

Browns

Podoshin L et al. Cholesteatoma:


An epidemiological study. Ann

Dapat disimpulkan bahwa dengan

Otol Rhinol Laryngol 1986; 95:

meningkatkan kondisi sosio ekonomi


dan

status

pendidikan

serta

365-8.
5;

menyediakan dokter yang terlatih di


daerah

pedalaman,

children. J Laryngol Otol 1988;

perkembangan

serta komplikasi ini dapat ditekan

102: 1003 - 6.
6;

jumlahnya. Hal ini juga didukung

Ludman Harold. Tony Wright,


Editors, Disease of the ear, Sixth

dengan diagnosis yang didapatkan


sejak awal sehingga dapat merujuk

Sade J, Shatz A. Cholesteatoma in

edn. 1998; 178 - 95.


7;

lebih cepat serta lebih cepat pula

Ballenger JJ. Disease of ear nose


throat head and neck, 13th edn.

dilakukan intervensi tindakan operasi

Philadeplphia. Lea and Fabiger,

jika diperlukan.

1985; 11360-42.
8;

Alauddin M. Complications of
Otitis Media: A review. The Orion
Medical Journal. 2003; 14: 20 - 3.

References:

9;

Savic LD and Deleric DR. Facial


paralysis in chronic suppurative

1;

Michael U, Cholesteatoma, grand


round presentation, UTMB, Dept.
of Otolaryngology, Sept-18, 2002.

2;

Roger

F.

Gray,

Maurice

Howthorne, Editors, Synopsis of

otitis media. Clin Otolaryngol


1989; 14: 515-17.
10; Edelstein Dr. Parisier SO. Haun
JC. Acquired cholesteatoma in the
paediatric age group. Otolaryngol
10

Clin N Am 1989; 22: 955-65.


11; Simon

Watts,

Tomography,

middle ear cholesteatoma. Acta

Liam

X-ray

MF,

computed;

Otolaryngol. 1999; 119: 568-72.


18; Browning

GG,

Pathology

Temporal bone; Cholesteatoma. J

inflammatory

Laryngol Otol, 2000;248-253.

middle ear, In: both Booth JB ed,

12; Ludman H. Applied anatomy In:

conditions

of

Scott-Browns

Otolaryngology

Mawsons Diseases of the Ear, 5th

(otology),

edn. London, Edward Arnold,

Butterworths, 1987; 53-84.

1988; 17-25.
13; Amin

19; Shenoi

MN,

5th

PM,

ed.

London:

Management

of

WA,

chronic suppurative otitis media,

Sheikh MS, Abdullah M. Pattern

In: both booth J ed., Scott-

of

rural

Browns Otolaryngology, Otology,

Bangladesh. Journal of BCPS

5th edn, London: Butterworths,

1989; 23-27.

1987; 215-233.

ENT

14; Ludman

Chowdhury

of

diseases

H.

in

Complication

of

20; Manni JJ, Lema PN. Otitis media

suppurative otitis media. Booth

in

JB,

Laryngol Otol 1987; 101: 222 - 8.

editor.

Otolaryngology,

Scott
5th

Browns
ed.

vol.3

Darres

Salam,

Tanjania,J

21; Hassan M. Clinical presentation of

London: Butterworth, 1987; 264-

cholesteatoma

91.

Bangladesh College of Physician

15; Shenoi

PM.

Management

(Dissertation)

of

& Surgeons, Dhaka 1993; 23 - 28.

chronic suppurative otitis media,

22; Ustun O, Cureoglu S, Otitis

In; Booth J ed., Scott-Browns

media,

Otolaryngology, Otology, 5th edn,

complications. J Laryngol Otol

London: Butterworths, 1987; 215-

2000; 114: 97-100.

233.

suppurative,

23; Amin ASA, Joardar MAH et al. A

16; Majumder KA. Complications of

Study on complications of chronic

chronic suppurative otitis media,

suppurative otitis media. Northern

(Thesis) BSMMU, Dhaka, 1998.

Medical Journal 1996; 5: 1- 4.

17; Kemppainen HO, Puhakka HJ.


Epidemiology and aetiology of

24; Nasima Akter et al. Hearing loss


in

chronic

suppurative

otitis
11

media,

Bangladesh

Otorhinolaryngol 2003; 9: 19 - 23.


25; Alho OP, Jokinen K et al. Chronic
suppurative

otitis

media

&

cholesteatoma, Vanishing disease

Otolaryngol 1997; 22. 258-361.


Chowdhury MA, Alauddin M.
Comparative study between
tubotympanic and atticoantral types of
chronic suppurative otitis media.
Bangladesh Me Res Counc Bull 2002;
28: 36 41

among western populations. J


.

12