Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM AGROKLIMATOLOGI

ACARA VI
KEAWANAN

DISUSUN OLEH:
Nama

:Roulina N.Nainggolan

NPM

:E1J014008

Dosen

:Ir.Busri Saleh S.U


Sigit Sujatmiko Ph.D

Coass

:M.Arif Abdullah Humam


Sri Megawati Sianturi

Hari/Tanggal :Senin,14 Oktober 2016

LABORATORIUM ILMU TANAH


JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2016
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Dasar Teori
Ciri wilayah Indonesia yang antara lain dikelilingi oleh lautan 2/3 bagian, serta
tingginya pemanasan yang bersumber dari pemanasan sinar matahari, kaya akan butiran uap air
dan tingginya kelembapan udara, secara fisis menjadi lahan subur bagi pembentukan awan-awan
konvektif yang menyebabkan terjadinya hujan lebat. (Kurniawan et.al, 2004).
Awan terbentuk ketika uap air menjadi jenuh dan mengalami kondensasi. Penjenuhan
dapat terjadi karena penambahan air (penyatuan), tumbukan, atau kombinasinya. Proses
pembentukan awan merupakan suatu proses yang rumit dan melibatkan proses dinamik dan
proses mikrofisik. Proses dinamik berhubungan dengan pergerakan parsel udara yang
membentuk suatu kondisi tertentu sehingga terbentuk awan melalui proses kondensasi uap air
dan interaksi antar partikel butir air (mechanics)(Ahrens, 2007).
Uap air yang terkandung dalam parsel massa udara yang naik ke level yang lebih tinggi
akan berkondensasi pada inti kondensasi yang tersedia apabila suhu lingkungan di level tersebut
sama dengan suhu titik embun parsel udara. Level dimana parsel udara mulai berkondensasi
dikenal sebagai dasar awan. Dalam perubahan fasa (fasa uap menjadi fasa cair) akan dikeluarkan
panas laten yang dikonversikan menjadi tenaga kinetic pergerakan parsel udara serta butir-butir
air ke level yang lebih tinggi lagi (Irribane and Godson, 1981).
Selama proses pertumbuhan, pergerakan secara vertikal didominasi pergerakan ke atas.
Bila butir air dalam awan yang terbentuk cukup kecil (kurang 18 mikron) butir air dalam awan
akan membesar dengan cara memanfaatkan uap air yang tersedia (Rogers, 1979), sehingga
proses pembesaran butir air / awan akan memakan waktu yang lama sampai mencapai ukuran
butir hujan. Untuk memperbesar ukuran butir air atau droplet menjadi butir hujan yang siap jatuh
diperlukan pembesaran sekitar 104 kali.
1.2 Tujuan
Untuk megetahui macam- macam bentuk awan
Untuk memberikan pengertian tentang kemungkinan terjadinya hujan dengan melihat
kondisi cuaca beberapa waktu sebelumnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Iklim didefinisikan sebagai sintetis atau kesimpulan dari perubahan nilai unsurunsur
cuaca dalam jangka panjang di suatu tempat atau pada suatu wilayah, sementara cuaca
didefinisikan sebagai nilai sesaat dari atmosfer serta perubahan dalam jangka pendek atau kurang
dari dua puluh empat jam di suatu tempat tertentu. Cuaca dan iklim dinyatakan dengan susunan
nilai unsur fisika atmosfer yang terdiri dari radiasi surya, lama penyinaran matahari, suhu udara,
kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan dan arah angin, penutupan awan, presipitasi
(embun, hujan, salju), dan evaporasi atau evapotranspirasi (Handoko, 1993). Dua unsur utama
daripada parameter iklim adalah suhu dan curah hujan. Indonesia sebagai daerah tropis
ekuatorial mempunyai variasi suhu yang kecil, sementara variasi curah hujannya cukup besar.
Oleh karena itu curah hujan merupakan unsur iklim yang paling sering diamati dibandingkan
dengan suhu.
Indonesia merupakan suatu kawasan benua maritim karena sebagian besar wilayahnya
didominasi oleh lautan dan diapit oleh dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera
Pasifik (Hermawan dan Lestari, 2007). Selain itu, Indonesia merupakan daerah Monsoon yang
terletak antara benua Asia dan Australia. Pengaruh angin pasat timur laut dan angin pasat
tenggara tidak begitu jelas terutama untuk daerah Indonesia Barat. Secara umum Monsoon
didefinisikan sebagai keadaan musim dimana dalam musim panas angin permukaan berhembus
dari seperempat penjuru angin (Barat Utara) secara mantap (arah angin terbanyak rata rata >
40%) daripada musim dingin arah angin berbalik dari seperempat penjuru angin yang lainnya
(Timur Selatan).
Hujan merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena keragamannya
sangat tinggi baik menurut waktu maupun tempat. Sehingga kajian tentang iklim lebih banyak
diarahkan pada hujan. Hujan adalah salah satu bentuk dari presipitasi. Presipitasi adalah uap
yang mengkondensasi dan jatuh ke tanah dalam rangkaian proses siklus hidrologi (Sosrodarsono
2006).
Curah hujan didefinisikan sebagai tinggi air hujan (dalam mm) yang diterima di
permukaan sebelum mengalami aliran permukaan, evaporasi dan peresapan atau perembesan ke
dalam tanah. Jumlah hari hujan dibatasi oleh jumlah hari dengan tinggi curah hujan 0,5 mm atau
lebih. Jumlah hari hujan dapat dinyatakan per minggu, dekade, bulan, tahun atau satu periode
tanam. Sedangkan jumlah curah hujan dicatat dalam inci atau milimeter (1 inci = 25,4 mm).

Jumlah curah hujan 1 mm, menunjukkan tinggi air hujan yang menutupi permukaan bumi 1 mm,
jika air tersebut tidak meresap ke dalam tanah atau menguap ke atmosfer (Handoko 1993).
Secara tidak langsung, aerosol bertindak sebagai inti kondensasi awan dan inti es,
sehingga mengubah karakteristik awan (Lohmann dan Feichter, 2005; Koren dkk., 2005;
Sherwood, 2002; Tripathi dan Sagnik., 2007; Wu dkk., 2008). IPCC telah menekankan
pentingnya melakukan kuantifikasi pengaruh tidak langsung aerosol pada awan-cair dan awan-es
dalam skala regional. Kuantifikasi tersebut berguna untuk meminimalkan ketidakpastian estimasi
indirect forcing secara global. Efek Twomey, sebagai efek tidak langsung pertama dari aerosol
(Sekiguchi dkk., 2003; Twomey, 1977; Twomey dkk., merujuk pada peningkatan reflektivitas
dan albedo awan. Peningkatan reflektivitas tersebut terjadi karena aerosol menjadikan butiran
awan yang terbentuk menjadi lebih kecil dibandingkan tanpa aerosol, namun dalam jumlah yang
lebih besar. Selanjutnya, butiran awan yang semakin banyak tapi semakin kecil mengurangi
efisiensi presipitasi dan meningkatkan lifetime awan (efek tidak langsung kedua) (Jiang dkk.,
2007; Ramanathan dan Carmichael, 2008). Efek lainnya (efek semi-langsung) merupakan hasil
penyerapan radiasi matahari oleh aerosol, yang memanaskan atmosfer dan mengakibatkan
penguapan butiran awan (Sekiguchi dkk., 2003).

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Bahan dan Alat

Termometer
Anemometer
Hygrometer
Windvan
Anemometer
Barometer

3.2 Waktu Dan Tempat


Waktu yang digunakan adalah satu hari pada tempat-tempat yang telah ditentukan oleh
pembimbing/co-ass
3.4 Prosedur Kerja
Mengamati keadaan keawanan sejak pagi hari mulai matahari terbit hingga hampir

terbenam.
Selain pembentukan keawanan tersebut unsure-unsur lain diamati yaitu jarak pandang,

suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, dan arah serta kecepatan angin.
Pengamatan unsure-unsur tersebut dilakukan setiap jam.
Pengamatan dilakukan oleh mahasiswa secara berkelompok.
Mencatat apabila terjadi hujan.Perkirakan berapa luas dan lamanya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
No

Macam-macam awan

Karakteristik Awan

.
1

Alto Cumulus

awan yang seperti bulu domba atau sisik ikan tetapi agak
melebar 10 s/d 50 dengan warna putih bersi, atau abu-abu atau
campuran dari dua-duanya..Berupa gumpalan awan berwarna

Nimbo Stratus

putih dengan bagian-bagian yang lebih gelap.


awan yang seperti lembaranlembaranatau lapisan-lapisan yang
tebal, dengan warna abuabudan gelap. Jenis awan ini sering
menimbulkan hujan lebat. Lapisan awan rendah dan tebal,

Alto Stratus

berwarna kelabu tua merupakan awan hujan.


Sangat tebal berwarna hitam dengan bentuk tidak menentu dan
sering mengakibatkan terjadinya hujan..awan merata yang rapat

Cirro Cumulus

dan kelabu.
Awan tipis putih terpisah-pisahseperti biji-bijian, sisik ikan,
bulu domba yang tipis yangberwarna putih bersih.Berupa
gumpalan bulat berwarna putih tanpa bagian-bagian yang lebih

Cirro Stratus

gelap.
awan yang transparan denganpuncak seperti serabut halus
menutupi sebagian atauseluruhnya dari langit dengan warna
keputih-putihan. Awan ini menimbulkan phenomena lingkaran
putihdisekeliling bulan atau matahari. Sangat tebal berwarna
hitam dengan bentuk tidak menentu dan sering mengakibatkan

Strato Cumulus

terjadinya hujan.awan merata yang tipis.


awan yang berlapis-lapis tebal agak gelap, berwarna abu-abu
atau putih atau campurandari kedua-duanya, mempunyai lebar
lebih dari 50..Awan tebal bergumpal-gumpal berupa bulatan
atau gulungan

4.2 Pembahasan
Dari praktikum yng telah dilaksanakan,ada beberapa jenis awan menurut ketinggian dan
bentuknya yaitu:
1) Awan Tinggi
Merupakan awan putih terpisah-pisah seperti benanghalus atau pecah-pecah atau jalurjalur sempit atau matapancing atau bulu ayam atau serabut yang berwarna putihkeperak

perakan.
Cirrus : bentuknya seperti bulu sutera, biasanya berwarna putih di waktu siang.
Cirrocumulus : berupa gumpalan bulat berwarna putih tanpa bagian-bagian yang lebih

gelap.
Cirrostratus : awan merata yang tipis.
2) Awan Menengah
Merupakan awan tebal yang memiliki puncak yang tinggi, bentuknya padat serta
memiliki batas yang jelas. Terbentuk karena adanya proses konveksi dan apabila terkena
sinar matahari sebagian maka akan menimbulkan bayangan berwarna kelabu.
Pembentukan awan cumulus juga disebabkan oleh faktor ketidakstabilan dari lapisan

atmosfer.
Altocumulus : berupa gumpalan awan berwarna putih dengan bagian-bagian yang lebih

gelap.
Altostratus : awan merata yang rapat dan kelabu.
3) Awan Rendah

Merupakan awan yang berlapis-lapis tipis denganwarna abu-abu dengan dasar hampir

serba sama, dapatmenimbulkan hujan es.


Stratus : bentuknya berlapis-lapis dan rendah seperti kabut, tetapi tidak sampai

permukaan bumi.
Stratocumulus : awan tebal bergumpal-gumpal berupa bulatan atau gulungan
Nimbostratus : lapisan awan rendah dan tebal, berwarna kelabu tua merupakan awan
hujan.

Setiap awan selalu memiliki karakteristik atau ciri-ciri tersendiri. Dan berikut adalah ciri-ciri
atau karakteristik dari awan cumulus :
A. bentuknya menyerupai kubah atau menara
B. termasuk golongan awan pembawa hujan ( baca : Ciri-ciri Hujan )
C. warna dasarnya putih, namun apabila sebagian terkena sinar matahari maka akan
menimbulkan bayangan berwarna kelabu
D. terbentuk karena proses konveksi dan juga disebabkan oleh ketidakstabilan di lapisan
atmosfer ( baca : Struktur Lapisan Bumi )
E. memiliki lebar sekitar 1 km
F. puncaknya sangat tinggi
Komposisi dari awan cumulus ini terdiri atas tetes-tetes air, sedangkan kristal-kristal es atau
kristal saljunya biasanya tertutup pada bagian awal yang suhunya dibawah 0 derajat Celcius.
Ciri awan cirrus: Berada di ketinggian lebih dari 6000 M. kata kunci bagi awan tinggi (cirrus)
adalah cilik yang dalam bahasa jawa artinya kecil. Jadi awannya kecil seperti bulu/kapas.
1) seperti bulu sutera, biasanya berwarna putih di waktu siang.
2) berupa gumpalan bulat berwarna putih tanpa bagian-bagian yang lebih gelap.
3) awan merata yang tipis.
Ciri awan stratus :Terletak di ketinggian kurang dari 2100 M. Stratus artinya bertingkat, jadi
awan ini bertingkat-tingkat.Warnanya putih keabu-abuan, bisa meliputi sebagian atau seluruh
langit, biasanya awan ini terlihat saat siang atau sore hari dan bisa menimbulkan gerimis.

Terjadinya perbedaan jenis awan dan penyebarannya setiap waktu dikarenakan terjadinya
pergerakan angin, perbedaan tempat dan perbedaan suhu udara di atmosfer. Karena diketahui
bahwa massa udara selalu bergerak. Sedangkan pada waktu pengamatan cuaca sangat cerah
dengan banyak angin berhembus.
Kita dapat melihat kemungkinan terjadinya hujan dengan melihat keadaan disekeliling
kita.Seperti Awan cumulus, berpotensi hujan namanya nimbus, maka jadilah awan
cumulonimbus. Begitu juga pada awan tinggi dan awan rendah yang berpotensi hujan, maka
namanya cirrus nimbus dan stratus nimbus. biasanya jarang ada awan tinggi yang berpotensi
hujan. Yang paling sering terjadi potensi hujan adalah pada awan cumulus dan stratus.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari Pengamatan yang telah dilaksananakan maka sapat disimpulkan bahwa:
1) Macam-macam awan:
A. Awan tinggi
Cirrus
Cirrocumulus
Cirrostratus
B. Awan menengah
Alto cumulus
Alto stratus
C. Awan rendah
Stratus
Stratocumulus
Nimbostratus
2) Kita dapat melihat kemungkinan terjadinya hujan dengan melihat keadaan disekeliling
kita. cumulus nimbus. Seperti Awan cumulus, berpotensi hujan namanya nimbus, maka
jadilah awan cumulonimbus. Begitu juga pada awan tinggi dan awan rendah yang
berpotensi hujan, maka namanya cirrus nimbus dan stratus nimbus. biasanya jarang ada
awan tinggi yang berpotensi hujan. Yang paling sering terjadi potensi hujan adalah pada
awan cumulus dan stratus.

DAFTAR PUSTAKA

Ahrens.2007.Meteorology Today;An Introduction to Weather, Climate, and the Enviroment.


Thomson Brooks/Cole :USA
Handoko. 1993. Klimatologi Dasar. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Hermawan dan S. Lestari. 2007. Analisis Variabilitas Curah Hujan di Sumatera Barat dan Selatan
Dikaitkan dengan Kejadian Dipole Mode. Jurnal Sains Dirgantara 4: 91 106.
Irribane and Godson, 1981, Athmospheric Thermodynamics, Volume 6, 2nd edition, D. Reidel,
U.S.A.
Jiang, J. H. , Livesey, N. J., Su, H., Neary, L., McConnell, J. C., dan Richards, N. A. D., 2007.
Connecting Surface Emissions, Convective Uplifting, and Long-Range Transport of
Carbon Monoxide in the Upper Troposphere: New Observations from the Aura
Microwave Limb Sounder, Geophys. Res. Lett. , 34.
Koren, I., Kaufman, Y. J., Rosenfeld, D., Remer, L. A., dan Rudich, Y., 2005. Aerosol
Invigoration and Restructuring of Atlantic Convective Clouds, Geophysical Research
Letters, Volume 32, Issue 14, DOI: 10.1029/2005GL023187, Copyright 2005 by the
American Geophysical Union.
Kurniawan,et.al.2004. Meteorologi Fisis. Bandung: Penerbit ITB
Lohmann, U., dan Feichter, J., 2005. Global Indirect Aerosol Effects: A Review, Atmos. Chem.
Phys., 5, 715737, 2005, www.atmos-chem-phys.org/acp/5/715/, SRef-ID: 16807324/acp/2005-5-715, European Geosciences Union.
Ramanathan, V., dan Carmichael, G., 2008. Global and Regional Climate Changes Due to Black
Carbon,

Review Article,

Nature

Geosciences,

Vol

1,

www.nature.

com/

naturegeoscience, 2008 Nature Publishing Group.


Rogers, R.R.1983. A Short Course in Clouds Physics.2nd ed.Pergamon Press.Oxford
Sekiguchi, M., Nakajima, T., Suzuki, K., Kawamoto, K., Higurashi, A., Rosenfeld, D., Sano, I.,
dan Mukai, S., 2003. A Study of the Direct and Indirect Effects of Aerosols using
Global Satellite Data Sets of Aerosol and Cloud Parameters, J. Geophys. Res., 108
(D22), 4699, doi:10. 1029/2002JD003359.
Sherwood, S., 2002. Aerosols and Ice Particle Size in Tropical Cumulonimbus, Journal of
Climate, 15, 10511063.
Tripathi, S. N., Pattnaik, and Sagnik, A., 2007. Aerosol Indirect Effect over Indo-Gangetic Plain,
Atmospheric Environment, Vol. 41, p. 7037-7047.

Twomey, S., 1977. Atmospheric Aerosols, 302 pp., Elsevier Sci., Amsterdam.
Wu, D. L., Jiang, J. H., Read, W. G., Austin R. T., Davis, C. P. A., Lambert, Stephens, G. L.,
Vane, D. G., dan Waters, J. W., 2008. Validation of the Aura MLS Cloud Ice Water
Content Measurements, J. Geophys. Res., 113.