Anda di halaman 1dari 15

GRP (Good Retailing Practice) dan GCP (Good Catering Practice)

Diajukan Guna Memenuhi Tugas Makalah


Mata Kuliah Sertifikasi Sistem Pertanian

Oleh:
Kelompok : 5
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Ade Muhammad S.J


Dyah Alvieta Amelina
Septiana Mutiadur R
Dina Ajeng Elisti W
Intan Nirmalasari
Nida Dhusturiyah
Dewi Masitoh
Riza Rahma Putri
Diemas Ariftianto

(131510501267)
(131510501269)
(131510501276)
(131510501282)
(131510501284)
(131510501285)
(131510501286)
(131510501287)
(131510501288)

PROGRAM STUDI AGROTEKHNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016
BAB 1. PENDAHULUAN

Produk pertanian merupakan produk yang sangat penting untuk


menunjang kebutuhan manusia karena menjadi sektor pokok yang menunjang
kebutuhan pangan manusia. Kesadaran manusia akan produk pertanian yang sehat
menjadikan setiap pengusaha di bidang pertanian harus mengupayakan produk
pangan yang baik yang mana dicirikan sebagai produk pertanian organik.
Budidaya pertanian atau agroindustri produk pertanian secara organik tidak hanya
mengutamakan good manufacturing practices atau proses manufaktur yang baik
saja, tetapi sampai tahap akhir yang meliputi pemasaran produk sehingga dapat
dibeli oleh konsumen juga harus dilakukan dengan praktik yang baik. Good
Retailing Practices merupakan pedoman langkah-langkah yang dilakukan untuk
mewujudkan praktik pemasaran yang baik, sedangkan Good Catering Practice
merupakan pedoman langkah-langkah yang dilakukan untuk mewujudkan praktik
konsumsi yang baik.
Praktik pemasaran yang baik termasuk tanggung jawab pemilik produk
atau manajer perusahaan di samping menjadi tanggung jawab para penjual atau
sales. Sebelum barang dipasarkan pada konsumen, maka seorang manajer harus
memastikan produk yang dijualnya adalah produk yang memiliki standart kualitas
yang baik dan layak untuk dikonsumsi. Hal tersebut perlu dilakukan untuk
menjaga kepercayaan konsumen, karena para konsumen adalah kunci untuk
menggerakkan

produksi

yang

berkelanjutan.

Keberlanjutan

konsumsi

dipertimbangkan dari istilah ekonomi, lingkungan dan sosial. Sebagai penunjang


keberlanjutan konsumsi, maka promosi konsumsi adalah aspek penting dalam
pembangunan yang berkelanjutan, dimana bergantung pada penerimaan jangka
panjang terhadap pertumbuhan ekonomi yang terdiri dari lingkungan dan
kebutuhan sosial.
Promosi konsumsi yang berkelanjutan merupakan salah satu cara untuk
menerangkan praktik konsumsi yang baik pada konsumen, sehingga dapat
menyediakan pasar untuk produk yang berkelanjutan dan melindungi konsumen
dari informasi yang menyesatkan di area seperti pelabelan, periklanan, dan
laporan kerjasama serta membatasi lingkungan negative. Menurut Holt (1995),
Peneliti konsumen telah melihat secara langsung menurut tradisi pertanyaan ini

dengan asumsi bahwa konsumsi dibentuk dari sifat objek konsumsi. Dari
perspektif ekonomi, produk dipahami sebagai serangkaian atribut yang dapat
memberikan hasil keuntungan yang dasar, dari symbol perspektif, produk yang
diterima sebagai makna dari pembuluh yang secara nyata dapat menyebar pada
semua konsumen. Oleh karena itu, dengan adanya praktek retailing (penjualan)
dan konsumsi yang baik, maka proses produksi pertanian akan berjalan lancar.

BAB 2. PEMBAHASAN

Pangan merupakan bahan pokok yang memegang peran penting dalam


pemenuhan kebutuhan manusia. Pangan yang baik harus mampu memenuhi
jumlahnya untuk dikonsumsi masyarakat serta memenuhi kebutuhan gizinya.
Pemerintah berperan dalam melindungi pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat
karena

berhubungan

dengan

keselamatan

dan

kesehatan

orang

yang

mengkonsumsinya. Pangan yang tidak memenuhi kebutuhan mutu, gizi dan


keamanan sebaiknya tidak didistribusikan kepada masyarakat. Pemerintah
berperan dalam mengawasi seluruh tahapan mulai dari produksi, distribusi dan
peredaran. Produk pangan kini menghadapi persaingan ketat, mengingat
terbukanya berbagai produk pangan yang berasal dari luar negeri. Oleh sebab itu.
Poduk pangan di Indonesia harus memiliki mutu tinggi, efisien, aman untuk
dikonsumsi serta tidak menimbulkan dampak sosial.
Produk pangan umumnya pertanian harus memenuhi prosedur, syarat dan
kegunaan untuk dapat lolos pada tahap standarisasi. Standarisasi merupakan
proses merumuskan, menetapkan, menerapkan dan merevisi standar, yang
dilaksanakan secara tertib melalui kerjasama dengan semua pihak yang
berkepentingan. Standarisasi mutu produk berkaitan dengan kenampakan, seperti :
ukuran besar atau volume, warna, kandungan air dan sebagainya yang ditentukan
oleh penjual dan pembeli. Selain itu, mutu produk juga dikaitkan dengan masalah
keamanan pangan, keamanan bagi manusia, hewan dan tumbuhan serta
lingkungan. Standar standar produksi dan pengolahan produk pertanian semuanya
disusun sebagai alat yang membantu mencegah tersingkirnya sebuah produk dari
pasar. Standarisasi produk terdiri atas metode HACCP (Hazard Analysis &
Critical Control Points).
HACCP atau analisis bahaya dan pengendalian titik kritis adalah sistem
pengendalian keamanan pangan mulai dari pertanian sampai bahan siap santap.
Sistem ini menekankan pentingnya pemilihan teknologi yang tepat dan bagaimana
cara melakukan validasi terhadap teknologi tersebut (Lisyanti dkk, 2009).
Beberapa persyaratan dasar yang perlu dipenuhi oleh organisasi sebelum
mengadopsi sistem HACCP disesuaikan dengan tahap pada generasi pertanian
(Yhaeheer, 2005 dalam Lisyanti, 2009) antara lain Good Farming Practice (GFP),

Good Handling Practice (GHP), Good Hygienic Practice (GHyP), Good


Manufacturing Practices (GMP), Good Distribution Practices (GDP), Good
Retailing Practices (GRP), dan Good Catering Practise (GCP).
2.1 GRP (Good Retailing Practices)
Standardisasi merupakan tahapan perumusan, penetapan, penerapan suatu
standar yang dilaksanakan secara tertib melalui kerjasama dengan semua pihak
yang berkepentingan. Standardisasi produk berkaitan dengan standar keadaan
mutu produk yang ditentukan oleh penjual dan pembeli. Standar mutu produk
berkaitan dengan keamanan pangan bagi manusia,hewan, dan lingkungan. Standar
produksi dan pengolahan produk pertanian mulai dari proses prduksi sampai
produk olahan ditangan konsumen disusun sebagai alat yang membantu mencegah
tersingkirnya sebuah produk dari pasar. Salah satu standar kegiatan produksi
pertanian sampai dengan produk di tangan konsumen adalah GRP (Good
Retailing Practices) atau yang memiliki kepanjangan cara penyajian yang untuk
konsumen (Bhayangkari, 2012).
Ritel merupakan rantai pasok terakhir yang berhubungan dengan
konsumen, sehingga peranan ritel sangat penting dalam tugasnya memastikan
bahwa produk yang nantinya akan dibeli konsumen benar-benar aman. Pentingnya
peranan ritel membuat perlu adanya jaminan keamanan terhadap produk pangan
yang dijual di supermarket, sehingga dalam prosesnya harus menggunakan cara
yang baik dan benar, agar kepercayaan konsumen terhadap suatu usaha ritel
meningkat dan daya saing ritel satu usaha juga tinggi. Pernyataan ini didukung
oleh Peraturan Pemerintah no 28 tahun 2004 tentang keamanan dan kenyamanan
mutu produk yang isinya adalah setiap orang yang bertanggung jawab dalam
penyelenggaraan kegiatan pada rantai pangan yang meliputi proses produksi,
penyimpanan, pengangkutan, dan peredaran pangan wajib memenuhi persyaratan
sanitasi

sesuai

ketentuan

peraturan

perundang-undangan

yang

berlaku

(Susetyarsih, 2014).
Good Retailing Practices (GRP) merupakan salah satu cara yang
digunakan sebagai pedoman praktek-praktek retail yang baik, sehingga produk

pangan terjamin kesehatan dan keamanannya. Hal tersebut didukung dengan


Peraturan Pemerintah no 28 tahun 2004 pasal 8 menyebutkan bahwa pedoman
cara ritel pangan yang baik atau Good Retailing Practices adalah cara ritel yang
memperhatikan aspek keamanan pangan. Peraturan pemerintah tersebut
menjunjukkan bahwa GRP menjamin bahwa produk dijual adalah produk yang
terjaga keamanannya, bebas dari resiko yang dapat mengganggu kesehatan
konsumen dan keselamatan pekerja serta lingkungan, dimana ketiganya adalah
beberapa aspek keamanan pangan. Selain itu agar praktek-praktek dalam GRP
berjalan dengan lancar, pelaku ritel harus memastikan bahwa produk dihasilkan
dan dipasok sesuai SOP (Standard Operational Practices) dalam bentuk sertifikat
atau label pada produk pangan yang akan dijual.
Menurut Dewan Standardisasi Nasional (2013), adapun praktek-praktek
ritel sesuai standar GRP (Good Retailing Practices) yang harus diperhatikan pasar
atau supermarket untuk menjamin keamanan produk pangan menurut PP No 28
tahun 2004 pasal 8 antara lain :
1. Mengatur cara penempatan pangan dalam lemari gerai dan rak penyimpanan
agar tidak terjadi pencemaran silang
2. Mengendalikan stok peneriman dan penjualan
3. Mengatur stok pangan sesuai dengan masa kadaluwarsanya.
4. Mengendalikan kondisi lingkungan penyimpanan pangan khususnya yang
berkaitan dengan suhu, kelembaban, dan tekanan udara.
Praktek-praktek di lapang yang sering dilakukan dalam kegiatan supermarket
berkaitan dengan GRP antara lain adalah :
1. Pengendalian suhu (cold room).
2. Penerapan metode kerja dan

penggunaan

bahan

baku

yang

baik

(penyimpanan, penempatan, dan rotasi stok)


3. Pengemasan dan pelabelan
4. Program pencucian dan kebersihan (ruangan, mesin, alat serta barang lain
yang kontak dengan makanan termasuk penggunaan bahan kimia dan
peralatan).
5. Pengendalian hama dan penyakit.
6. Pengelolaan sampah dan barang tarikan (breakage)
7. Hygiene personal: kebersihan pribadi, pakaian seragam, kebiasaan cuci
tangan, penggunaan perhiasan, penggunaan masker dan sarung tangan.

8. Manajemen sanitasi dan Hygiene


Pelaksanaan praktek-praktek GRP di lapang selama ini hanya dilakukan
oleh ritel-ritel besar seperti supermarket atau hypermart. Oleh sebab itu ada
beberapa permasalah dalam pelaksanaan GRP, adapun masalah-masalah tersebut
berasal dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti kurangnya
dukungan dari pemilik atau manajemen supermarket karena pemilik cenderung
menyerahkan urusan kebersihan dan penanganan produk pada pegawai. Selain itu,
rendahnya pengetahuan dan kesadaran staf mengenai pentingnya keamanan
pangan, kurangnya sarana dan prasarana untuk mendukung penerapan sanitasi dan
hygiene. Sedangkan faktor eksternal antara lain adalah tidak adanya tunutan dari
konsumen karena merasa semua barang yang dijual di supermarket adalah barangbarang yang terjamin keamanannya. Selain itu pemerintah juga belum secara
resmi mengeluarkan pedoman GRP meski aturan GRP sudah tercantum pada
Peraturan Pemerintah no 28 tahun 2004.
Menurut badan Susetyarsi (2014), salah satu perusahan ritel besar yang
sudah mengaplikasikan GRP (Good Retailing Practices) adalah Carrefour.
Carrefour merupakan salah satu perusahaan retail berskala besar (hyper).
Perusahaan retail berskala besar (hyper) adalah kombinasi antara pasar swalayan,
toko diskon dan prinsip-prinsip pengecer gudang. Jenis produknya lebih dari pada
barang-barang yang dijual secara rutin, termasuk asesoris mobil atau motor,
furniture, peralatan berat dan ringan, jenis-jenis pakaian dan produk lainnya.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh perusahaan retail Carrefour dalam upaya
meningkatkan keputusan pembelian konsumen dalam berbelanja di Carrefour.
Salah satu usaha dari perusahan carrefour adalah dengan menerapkan GRP, seperti
pihak Carrefour bertanggung jawab untuk menjaga kualitas produk yang dikirim
oleh produsen. Misalnya dengan penggunaan mesin pendingin untuk menjaga
kualitas kesegaran produk terutama produk pertanian (sayur dan buah-buahan)
dan daging-daging segar. Carrefour sebagai retailer bertanggung jawab
mengawasi semua produk yang diterima dari produsen sampai ke konsumen baik
berhubungan dengan kualitas, gizi, mutu dan keamanan produknya. Produk yang
masuk Carrefour akan diberi label dan diperiksa pada tahap akhir untuk
mengetahui kelayakan dan keamanan produknya. Selain itu dari sisi pelayanan

konsumen karyawan dan pramuniaga sangat ramah, merekajuga menggunakan


seragam lengkap dengan peralatan yang dibutuhkan guna memberi pelayanan
terbaik untuk konsumen.
2.2 GCP (Good Catering Practices)
Sertifikasi GCP (Good Catering Practices) mencakup segala sesuatu
mulai dari kebersihan dan penanganan makanan prosedur dasar untuk pengelolaan
limbah, fasilitas sanitasi dan pengendalian hama. Sertifikasi GCP menunjukkan
kepada konsumen mengenai komitmen untuk memproduksi suatu produk yang
aman dan berkualitas makanan. Ini menyediakan komprehensif, pendekatan biaya
yang efektif untuk mengembangkan sistem manajemen keamanan pangan yang
sukses, dan memastikan kepatuhan dengan peraturan keamanan pangan. Proses
GCP dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan intertek. Dengan
memilih Intertek sebagai mitra GCP Anda akan memberikan Anda akses ke
keahlian dan fasilitas kelas dunia, memberikan Anda pengalaman dan kehadiran
global untuk memandu Anda melalui seluruh program, untuk memenuhi tantangan
dan memaksimalkan manfaat dari sertifikasi GCP.
Intertek adalah badan sertifikasi keamanan pangan terkemuka di dunia,
dengan akreditasi untuk program yang diakui secara global termasuk Food Safety
System Certification (FS22000), British Retail Consortium Food Standard (BRC),
International Featured Standards (IFS Food), and Safe Quality Food (SQF).
Adanya GCP ini dapat menjadi salah satu cara untuk meyakinkan konsumen.
Manfaat sertifikasi:
1. Memperkuat image produk
2. Meningkatkan keuntungan dengan membuka peluang pangsa pasar
3. Menjamin kebersihan produk yang menjadi salah satu bukti yang paling
penting
4. Pemenuhan persyaratan hukum
5. Pelanggan untuk perusahaan Anda terhadap kualitas image
Menurut UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, konsumen
merupakan setiap orang yang memakai barang maupun jasa yang tersedia dalam
masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun

makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Konsumen terbesar


merupakan konsumen produk pertanian. Konsumen yang akan menggunakan atau
mengkonsumsi produk-produk pertanian utamanya produk pangan, hendaknya
memperhatikan beberapa hal agar mendapat mutu dan keamanan pangan
diantaranya label yang tercantum pada produk tersebut dan tanggal kadaluarsa
produk. jika kedua hal tersebut tidak dapat ditemukan, maka konsumen harus
memperhatikan keamanan produk dengan tidak terkecoh pada tampilan produk
yang begitu mencolok. Konsumen berhak mendapatkan produk yang baik untuk
dikonsumsi. Beberapa hak konsumen diatur dalam UU No. 8 Tahun 1999,
diantaranya:
a. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa.
b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau
jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang
dijanjikan.
c. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa.
Praktek GCP yang telah di ada Indonesia salah satu contoh lembaganya
yaitu ISO 22000. ISO 22000 merupakan standar sistem manajemen keamanan
pangan global untuk seluruh rantai pasokan makanan, dari mulai petani dan
produsen ke pengolah dan pengepak, hingga transportasi dan penjualan.
Perusahaan yang bergelut di bidang pertanian dapat memberikan jaminan mutu
dan keamanan produk untuk konsumen salah satunya yaitu dengan mendaftarkan
produk pada lembaga sertifikasi salah satunya yaitu ISO 22000. Persyaratan
perusahaan pertanian dapat mendaftarkan ke lembaga ISO 22000 yaitu
1.

Persyaratan : Umum
Organisasi harus membangun sistem yang efektif dan dapat memenuhi

persyaratan standar, dokumentasi, implementasi dan pemeliharaan sistem. Sistem


harus di evaluasi dan diperbaharui.
2.

Persyaratan : Manajemen
Management harus terlibat dan berkomitmen pada FSMS. Manajemen

membuat kebijakan Keamanan Pangan dan harus dikomunikasikan dan

diimplementasikan.

Top Management

harus

terlibat

dalam

desain dan

implementasi FSMS. Setelah implementasi, manajemen akan melaksanakan


tinjauan manajemen untuk memastikan keefektifan sistem.
3.

Persyaratan : Sumber Daya


FSMS harus menjelaskan sumberdaya manusia dan fisik yang dibutuhkan

untuk membuat produk yang aman. Selama pengembangan sistem, organisasi


akan mengidentifikasikan kompetensi personil, training yang dibutuhkan serta
lingkungan kerja dan infrastruktur yang dibutuhkan.
4.

Persyaratan : Pembuatan produk


Organisasi harus merencanakan semua proses yang berkaitan dengan

pembuatan produk untuk menjamin keamanan produk. Program pendahuluan


harus ditetapkan, diimplementasikan dan dievaluasi terus menerus. Tetapkan dan
dokumentasikan sistem untuk :

5.

Pengumpulan informasi awal analisis bahaya


Lakukan analisa bahaya
Tetapkan Rencana HACCP
Laksanakan aktifitas verifikasi
Telusuri produk, material dan distribusi produk
Persyaratan : Produk Tidak Sesuai
Tetapkan - dokumentasi sistem untuk pengendalian semua produk tidak

sesuai. Saat Titik Kendali Kritis terlampaui, produk berpotensi tidak aman harus
diidentifikasi, di periksa, di kendalikan dan dipisahkan. Dibuat prosedur
pemisahan produk cacat untuk memastikan tindakan dapat cepat dilakukan.
Identifikasi tindakan perbaikan dan pencegahan yang diperlukan untuk
menghilangkan ketidaksesuaian dan penyebabnya.
6.

Persyaratan : Validasi
Tetapkan dan dokumentasikan proses untuk validasi control measure

sebelum di implementasikan. Pastikan semua pengukuran dan alat ukur serta


metodenya mampu menghasilkan akurasi yang diinginkan.
7.

Persyaratan : Verifikasi
Tetapkan dan dokumentasikan proses internal audit. Training auditors, dan

rencanakan internal audit untuk memastikan FSMS berjalan efektif dan selalu

diperbaharui. Implementasikan proses evaluasi serta analisa hasil verifikasi dan


tindakan yang diperlukan.
8.

Persyaratan : Perbaikan

Lakukan perbaikan berkelanjutan untuk FSMS dengan menggunakan:

Management review/tinjauan manajemen


Internal audits
Tindakan Perbaikan
Hasil verifikasi
Hasil validasi
Perbaharui FSMS

Salah satu produk di pertanian yang terdaftar ISO 22000 yaitu perusahaan benih
East West Seed Indonesia. PT East West Seed Indonesia telah mendapatkan
sertifikat ISO pada tahun 2004.

BAB 4. PENUTUP
1. Pemasaran produk pertanian dituntut tetap segar hingga ketangan konsumen.
Selain itu, harus aman dari bahan-bahan kimia yang digunakan selama
budidaya produk tersebut.
2. Produk pertanian khususnya komoditas pangan yang berkaitan langsung
dengan manusia memiliki banyak persyaratan. Oleh karena itu, setiap individu
yang berusaha dalam bidang pertanian harus benar-benar menjaga kualitasnya

sesuai standarisasi produk dalam metode HACCP (Hazard Analysis & Critical
Control Points), diantaranya dari sekian banyak tahap yaitu GRP dan GCP
3. GRP (Good Retailing Product) atau penjaminan produk pangan hingga ke
tangan konsumen telah diaplikasikan oleh salah satu usaha ritel di Indonesia,
yaitu Carrefour. Salah satunya adalah penggunaan mesin pendingin untuk
menjaga kualitas kesegaran produk terutama produk pertanian.
4. Praktek GCP yang telah di ada Indonesia salah satu contoh lembaganya yaitu
ISO 22000. Salah satu produk di pertanian yang terdaftar ISO 22000 yaitu
perusahaan benih East West Seed Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Bhayangkari, S. 2012. Penerapan Standarisasi dan Adaptasi Sebagai Upaya
Pengembangan Strategi Produk Pada Pemasaran Internasional. Manajemen
Keuangan, 1(3) : 245-258.
Dewan Standaradisasi Nasional. 2013. Strategi Standardisasi Nasional 20152025. Badan Standaradisasi Nasional: Jakarta
Holt, D.B. 1995. How Consumers Consume: A Typology of Consumption
Practices. Consumer Research. 2 (1): 1-17.
LRQA. 2015. [serial online]. ISO 22000 Keamanan Pangan. Di http://www.id.
lrqa.com/standards-and-schemes/iso22000/.

Lisyanti., Nurheni, P dan Darwin, K. 2009. Evaluasi Penerapan Cara Produksi


yang Baik (Good Manufacturing Practice) dan Penyusunan SSOP Industri
Lidah Buaya di PT. Libe Bumi Abadi. MPI, 4(1): 91-109.
Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). 2008.
Promoting
Sustainable Consumption: Good Consumption in OECD Country.
www.oecd.org/publishing/corrigenda. Diakses 215 Februari 2016
Susetyarsi, T. 2014. Analisis Dimensi Citra Perusahaan Ritel Dan Pengaruhnya
Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Pada Perusahaan Ritel
Carrefour Di Kota Semarang. STIE, 6(2) : 225-235.