Anda di halaman 1dari 17

Ribi Ramadanti Multisona

240210150073
1B
IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan senyawa

kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion). Kompleksometri


merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk
hasil berupa kompleks. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang
dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau
molekul yang dinamakan ligan. Ligan dalam senyawa kompleks dapat berupa
atom atau gugus yang mempunyai satu atau lebih pasangan elektron, misalnya
H20, NH3, Cl-, dan CN-. (Sukarti, 2010).
Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan
titrimetrik melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang
larut namun sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah
kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah
anion atau molekul netral (Basset, 1994).
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi
pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang
terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian
adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi kompleks biasa seperti di atas,
dikenal

pula

kompleksometri

yang

dikenal

sebagai

titrasi

kelatometri

(pembentukan kelat), seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-yang


terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat
dinyatakan oleh persamaan :
M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O (Khopkar, 2002).
Praktikum yang telah dilakukan kali ini yaitu titrasi kompleksometri. Menurut
Khopkar (1990), titrasi kompleksometri meliputi reaksi pembentukan ion-ion
kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan.
Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan
yang tinggi. Contoh dari kompleks tersebut adalah kompleks logam dengan
EDTA. EDTA (Etilen Diamin Tetra Asetat) merupakan zat pengompleks yang
penggunaannya sangat luas dalam pembentukan kompleks. EDTA mengikat
logam melalui empat karboksilat dan dua gugus amina. EDTA membentuk
kompleks kuat terutama dengan Mn (II), Cu (II), Fe (III), dan Co (III). Menurut

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
Day dan Underwood (1999), titrasi kompleksometri juga bisa diartikan sebagai
titrasi yang didasarkan atas pembentukan larutan kompleks yang larut dari reaksi
komponen zat uji dengan titran.
Titrasi kompleksometri tersebut biasa digunakan untuk penentuan kadar
logam polivalen, seperti Mg, atau senyawa dengan Na-EDTA sebagai titran yang
membentuk kompleks. Rumus EDTA adalah sebagai berikut :
COOH-CH2
CH2-COOH
N CH2-CH2-N
COOH-CH2

CH2-COOH

Gambar 1. Struktur EDTA (Khopkar S.M, 1990)


EDTA (Etilen Diamin Tetra Asetat) merupakan salah satu jenis asam amina
polikarboksilat yang sangat luas penggunaanya dalam titrasi pembentukan
kompleks. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi
dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya
atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi
per molekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina
tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan empat
atom oksigen penyumbang dalam molekul (Rival, 1995). Bentuk asam dari EDTA
dinyatakan sebagai H4Y. EDTA jika dilihat dari strukturnya mengandung baik
donor elektron dari atom oksigen, ataupun donor dari atom nitrogen sehingga
dapat menghasilkan khelat bercincin sampai dengan enam secara serempak.
Praktikum ini melakukan titrasi kompleksometri dengan menggunakan
larutan EDTA 0,01 sebagai titran. Praktikum ini dilakukan untuk penetapan kadar
Magensium (Mg) dan Kalsium (Ca) serta penetapan kesadahan total, kesadahan
tetap, dan kesadahan sementara didalam air dengan menggunakan EBT (Erichrom
Black T.) sebagai indikatornya. EBT merupakan indikator yang digunakan pada
suasana pH 7-11. EBT yang dipakai dalam penetapan kadar Cu, Al, Fe, Co, Ni,
dan Pt digunakan cara titrasi tidak langsung, sebab ikatan kompleks antara logam
tersebut dengan EBT cukup stabil.
EBT yang dimasukkan kedalam suatu larutan yang akan diuji ditambahkan
larutan buffer akan menghasilkan warna merah anggur. Penambahan EBT dalam
larutan tersebut tidak perlu terlalu pekat, jika dengan penambahan 1 tetes EBT
menghasilkan warna merah anggur, maka larutan tersebut dapat langsung di titrasi

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
dengan EDTA. Reaksi dengan EDTA yang dititrasi pada titik akhir akan
menghasilkan perubahan warna dari merah anggur menjadi biru jelas.
IV.1 Penetapan Kadar Magnesium dan Kalsium
Praktikum yang seharusnya dilakukan kali pertama yaitu penetapan kadar
magnesium dengan cara pengambilan larutan ion Mg2+ (larutan yang digunakan
dalam praktikum yaitu MgCl2) sebanyak 10 ml terlebih dahulu kemudian
dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer dan ditambahkan akuades sebanyak 15 ml.
Akuades yang ditambahkan kedalam larutan ion Mg2+ berfungsi untuk
memudahkan dalam mengamati titik akhir titrasi, karena larutan yang digunakan
sangat sedikit. Selain itu aquades juga sebagai pelarut EDTA.
Mg2+ + 2H2O

Mg(OH)2 + 2H+

Kemudian, ditambahkan larutan buffer pH 10 sebanyak 2 ml. Larutan


buffer ditambahkan ke dalam erlenmeyer karena selama titrasi dengan larutan
EDTA terjadi reaksi pelepasan ion H +, yang dapat menyebabkan perubahan pH.
Agar pH larutan tidak terlalu berubah secara drastis, maka dilakukan penambahan
larutan buffer. Larutan buffer yang ditambahkan memiliki pH 10. Penambahan
larutan buffer dengan pH 10 ini dilakukan karena indikator EBT memiliki daerah
kerja pada pH kisaran 7-11, dan pada pH 10 indikator (HIn-2) akan berwarna biru.
Menurut WHO (1998), titrasi dilakukan dengan penambahan sebuah penyangga
NH3-NH4+ pada pH 10 agar dapat menjaga EDTA (H4Y) terutama dalam bentuk
H2Y2- di mana H2Y2- sebagai kompleks ion golongan IIA sangat baik tetapi tidak
bereaksi secara mudah dengan kation lain seperti Fe3+ yang mungkin terdapat
dalam air sebagai pengotor.
Setelah penambahan akuades dan larutan buffer, ditambahkan indikator
EBT sebanyak 1 tetes. Larutan tersebut dititrasi dengan EDTA hingga titik akhir
titrasi tercapai. Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator
yang berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu
indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir
yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir
semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat.
Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif.
Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup,

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
kalau tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam.
Namun, kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks
logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion
logam dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan
cepat. Kelima, kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator
logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka
terhadap ion logam (yaitu, terhadap pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit
mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir, penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan
dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator Eriochrome
Black T. Pada pH tinggi, 12, Mg(OH) 2 akan mengendap, sehingga EDTA dapat
dikonsumsi hanya oleh Ca2+ dengan indikator murexide (Basset, 1994). Menurut
Khopkar (1990), indikator EBT merupakan salah satu indikator logam dengan
range 7-11, dengan pK2 = 6,9 dan pKa = 11,5. Menurut Day dan Underwood
(1999), molekul EBT biasanya dihadirkan dalam bentuk singkatan sebagai asam
triprotik, H3In. Asam sulfonat pada EBT sebagai terionisasi, merupakan gugus
asam kuat yang terurai dalam larutan berair yang tidak tergantung pH, sehingga
struktur yang ditunjukkan adalah struktur ion H2In-. Bentuk indikator ini berwarna
merah.

OH
NaO3SN = N
N
O
2
Gambar 2. Struktur EBT (Day dan Underwood, 1999)
Kesulitan yang timbul dari kompleks yang lebih rendah dapat dihindari
dengan penggunaan bahan pengkelat sebagai titran. Bahan pengkelat yang
mengandung baik oksigen maupun nitrogen secara umum efektif dalam
membentuk kompleks-kompleks yang stabil dengan berbagai macam logam.
Keunggulan EDTA adalah mudah larut dalam air, dapat diperoleh dalam keadaan
murni

sehingga

EDTA

banyak

dipakai

dalam

melakukan

percobaan

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
kompleksometri. Namun, karena adanya sejumlah tidak tertentu air, sebaiknya
EDTA distandarisasikan dahulu misalnya dengan menggunakan larutan kadmium
(Harjadi, 1993).
Selanjutnya, penetapan kadar kalsium dilakukan dengan cara yang tidak
berbeda jauh dengan penetapan kadar magnesium yaitu pengambilan larutan ion
Ca2+ (larutan yang digunakan dalam praktikum yaitu CaCl 2) sebanyak 10 ml
terlebih dahulu kemudian dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer dan
ditambahkan akuades sebanyak 15 ml, larutan buffer pH 10 sebanyak 2 ml,
larutan kompleks MgEDTA 0,1 M sebanyak 0,5 ml, indikator EBT sebanyak 1
tetes. Larutan tersebut dititrasi dengan EDTA hingga titik akhir titrasi tercapai.
Mg2+ merupakan ion logam yang dapat bereaksi dengan EDTA membentuk
kompleks MgEDTA. Jika sebelum titrasi ditambahkan indikator maka indikator
akan membentuk kompleks dengan Mg2+ (berwarna merah). Reaksi antara Mg2+
dengan indikator adalah:
Mg2+ + HInd2- MgInd- + H+
(merah)
Kemudian, Mg2+ bereaksi dengan EDTA yang ditambahkan selama titrasi. Jika
semua Mg2+ sudah bereaksi dengan EDTA maka warna merah akan hilang
selanjutnya kelebihan sedikit EDTA akan menyebabkan terjadinya titik akhir
titrasi yaitu terbentuknya warna biru. Reaksi yang terjadi adalah:
Mg Ind- + H2Y2- MgY2- + H Ind- + H+
(merah)

(tak berwarna)

(biru)

Penetapan kadar magnesium tersebut dilakukan dengan perhitungan


menggunakan rumus sebagai berikut:
2+=

V labu
V pipet
100
berat sampel (mg)

V titrasi 0,2432

Mg
Volume labu yang digunakan adalah 250 mL dengan volume pipet yang
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer sebanyak 10 mL.
Ca2+ merupakan ion logam yang mampu bereaksi dengan EDTA namun
ikatannya dengan EDTA tergolong lemah sehingga Ca2+ harus ditambahkan

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
dengan Mg.EDTA yang akan membantu Ca2+ untuk mencapai titik akhir titrasi.
Persamaan reaksi yang terjadi yaitu:
Ca2+ + MgY2- CaY2- + Mg2+
Mg2+ + HInd2- MgInd- + H+
(merah)
Mg Ind- + H2Y2- MgY2- + H Ind- + H+
(merah)
Penetapan

kadar

kalsium

(tak berwarna)
tersebut

(biru)

dilakukan

dengan

perhitungan

menggunakan rumus sebagai berikut:


2+=

V labu
V pipet
100
berat sampel (mg)

V titrasi 0,4008

Ca
Volume labu yang digunakan adalah 250 mL dengan volume pipet yang
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer sebanyak 10 mL.
Namun penetapan kadar ini tidak dilakukan dalam praktikum karena terdapat
kendala dalam pembuatan larutan MgEDTA.
4.2

Penetapan Kesadahan Air Total, Kesadahan Air Tetap, dan

Kesadahan Air Sementara


Salah satu parameter kimia dalam persyaratan kualitas air adalah jumlah
kandungan unsur Ca2+ dan Mg2+ dalam air yang keberadaannya biasa disebut
kesadahan air. Kesadahan dalam air sangat tidak dikehendaki baik untuk
penggunaan rumah tangga maupun untuk penggunaan industri. Bagi air rumah
tangga tingkat kesadahan yang tinggi mengakibatkan konsumsi sabun lebih
banyak karena sabun jadi kurang efektif akibat salah satu bagian dari molekul
sabun diikat oleh unsur Ca atau Mg. Bagi air industri unsur Ca dapat
menyebabkan kerak pada dinding peralatan sistem pemanasan sehingga dapat
menyebabkan kerusakan pada peralatan industri, disamping itu dapat menghambat
proses pemanasan. Akibat adanya masalah ini, persyaratan kesadahan pada air
industri diperhatikan. Pada umumnya jumlah kesadahan dalam air industri harus
nol, berarti unsur Ca dan Mg dihilangkan sama sekali (Peavy et. al., 1986).

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
Kesadahan adalah istilah yang dignakan pada air yang mengandung kation
penyebab kesadahan. Pada umumnya kesadahan disebabkan oleh adanya logamlogam atau kation-kation yang bervalensi 2, seperti Fe, Sr, Mn, Ca, dan Mg, tetapi
penyebab utama dari kesadahan adalah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg).
Kalsium dalam air mempunyai kemungkinan bersenyawa dengan bikarbonat,
sulfat, khlorida, dan nitrat, sementara itu magnesium terdapat dalam air
kemungkinan bersenyawa dengan bikarbonat, sulfat, dan khlorida (Brault, 1991).
Kesadahan air dapat dibedakan atas 2 macam, yaitu kesadahan sementara
(temporer) dan kesadahan tetap (permanen). Kesadahan sementara disebabkan
oleh garam-garam karbonat (CO32-) dan bikarbonat (HCO3-) dari kalsium dan
magnesium, kesadahan ini dapat dihilangkan dengan cara pemanasan atau dengan
pembubuhan kapur tohor. Kesadahan tetap disebabkan oleh adanya garam-garam
khlorida (Cl-) dan sulfat (SO42-) dari kalsium dan magnesium. Kesadahan ini
disebut juga kesadahan non karbonat yang tidak dapat dihilangkan dengan cara
pemanasan tetapi dapat dihilangkan dengan cara pertukaran ion (Brault, 1991).
Kesadahan total didapatkan dengan menambahkan kesadahan tetap dan kesadahan
sementara.
Menurut Day dan Underwood (1999), jumlah kekerasan air, kalsium
ditambah magnesium, dapat ditentukan melalui titrasi langsung dengan EDTA
menggunakan indikator Eriochrome Black T atau calmagite. Kompleks antara
Ca2+ dan indikator terlalu lemah untuk mengakibatkan perubahan warna yang
terlihat. Bagaimanapun juga, magnesium membentuk sebuah kompleks yang lebih
kuat dengan indikator daripada yang dibentuk dengan kalsium, dan sebuah titik
akhir yang sesuai didapat dalam sebuah penyangga ammonia pada pH 10. Buffer
pH 10 adalah sebuah campuran dari MgY2- dan Y4-. Ketika campuran ini
ditambahkan kepada larutan yang mengandung Ca2+, CaY2- yang lebih stabil akan
terbentuk dengan membebaskan Mg2+ untuk bereaksi dengan indikator dan
membentuk MgIn- merah. Setelah Ca dipergunakan seluruhnya, titran tambahan
mengubah MgIn- menjadi MgY2- dan indikator berbalik menjadi bentuk HIn2yang biru.
PH buffer yang digunakan bertujuan agar pH larutan tidak berubah dan
indikator yang digunakan adalah EBT, karena dalam penentuan kesadahan tetap

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
air sampel dicari dengan mengkonversikan volume EDTA pada titrasi dengan mg
CaCO3. Sehingga indikator EBT lah yang cocok untuk mencari titik akhir titrasi
air sampel ini, agar ion Ca+2 dapat terdisosiasi sempurna menggunakan pH dan
indikator tersebut.
Praktikum penentuan kesadahan ini dilakukan penentuan kesadahan total
dan kesadahan tetap. Kesadahan total merupakan kesadahan akumulatif antara
kesadahan tetap dan kesadahan sementara. Kesadahan sementara adalah
kesadahan yang bisa dihilangkan dengan pemanasan, sedangkan kesadahan tetap
adalah kesadahan yang tidak hilang dengan pemanasan. Praktikum yang
dilakukan hanya penentuan kesadahan tetap dan kesadahan total saja. Akan tetapi
dapat pula diketahui nilai kesadahan sementaranya yaitu selisih dari kesadahan
total dikurangi kesadahan tetap. Sampel yang digunakan adalah air keran dan air
kemasan minuman.
Prosedur penetapan kesadahan air total dan kesadahan air tetap tidak
berbeda jauh. Prosedur penetapan kesadahan air total antara lain sampel
dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer sebanyak 50 ml, ditambahkan larutan
buffer pH 10 sebanyak 4 ml, ditambahkan indikator EBT sebanyak 5 tetes,
kemudian dititrasi dengan EDTA 0,01M. Sedangkan, prosedur penetapan
kesadahan air tetap hanya berbeda pada perlakuan yang diberikan pada sampelnya
da volume sampelnya, yaitu 250 ml. Sampel dipanaskan terlebih dahulu agar
kesadahan sementara yang terdapat pada sampel hilang. Berikut ini hasil
pengamatan penetapan kesdahan total dan kesadahan tetap dalam air pada
praktikum.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Penentuan Kesadahan
Sampel

Kesadahan Total
V Titrasi
mg
EDTA/ml CaCO3/L
5,9
118 ppm
2,6
52 ppm

Air Keran
Air
Mineral
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2016

Kesadahan Tetap
V Titrasi
mg
EDTA/ml CaCO3/L
5,7
114 ppm
3,2
64 ppm

Berikut adalah contoh perhitungannya:

Perhitungan Kesadahan Total

Kesadaha
n
Sementara
4 ppm
-12 ppm

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
Sampel Air Keran
mg CaCO3/L =

V Titran ( ml ) M EDTA Mr CaCO 3


V Sampel(ml)

5,9 0,01100
=118 ppm
50 103

Sampel Air Mineral


V Titran ( ml ) M EDTA Mr CaCO 3
mg CaCO3/L =
V Sampel(ml)

2,6 0,01 100


=52 ppm
50 103

Perhitungan Kesadahan Tetap

Sampel Air Keran


V Titran ( ml ) M EDTA Mr CaCO 3 FP
mg CaCO3/L =
V Sampel( ml)

5,7 0,01 100


=

250
50

250 103

=114 ppm

Sampel Air Mineral


V Titran ( ml ) M EDTA Mr CaCO 3 FP
mg CaCO3/L =
V Sampel( ml)

3,2 0,01 100


=

250
50

250 10

=64 ppm

Perhtungan Kesadahan Sementara

Sampel Air Keran


Kesadahan Sementara = Kesadahan Total Kesadahan Tetap
= 118 114

= 4 ppm

Sampel Air Mineral


Kesadahan Sementara = Kesadahan Total Kesadahan Tetap

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
= 52 64

= -12 ppm

Berdasarkan hasil pengamatan, sampel air keran dengan air mineral


memiliki kesadahan tetap yang cukup tinggi namun masih masuk kategori sedang.
Perhitungan kesadahan tetap didapatkan setelah pemanasan yang berarti
perhitungan kesadahan tetap didapatkan setelah penghilangan kesadahan
sementara karena menurut literatur (Brault, 1991) yang sebelumnya telah
dipaparkan yaitu kesadahan tetap disebabkan oleh adanya garam-garam khlorida
dan sulfat yang tidak dapat dihilangkan dengan cara pemanasan sedangkan
kesadahan sementara disebabkan oleh garam-garam karbonat dan bikarbonat yang
dapat dihilangkan dengan cara pemanasan. Reaksi yang terjadi sebelum titrasi
sebagai berikut:
Ca2+ +HIn2-

CaIn- + H+

Mg2+ +HIn2-

MgIn- + H+

Reaksi yang terjadi saat titrasi sebagai berikut:


Ca2+ +H2Y2-

CaY2- + 2H+

Mg2+ +H2Y2-

MgY2- + 2H+

Reaksi yang terjadi saat mencapai titik akhir titrasi sebagai beikut:
MgIn- +H2Y2-

MgY2- + HIn- + H+

Sampel air keran memiliki nilai kesadahan total terbesar sebesar 118 ppm
dengan kesadahan tetap sebesar 114 ppm dan kesadahan sementara 4 ppm,
sedangkan air mineral memiliki nilai kesadahan total terbesar sebesar 52 ppm
dengan kesadahan tetap sebesar 64 ppm dan kesadahan sementara -12 ppm.
Didapatkan nilai minus pada kesadahan sementara sampel air mineral yang
kemungkinan karena terjadi kelebihan titrasi pada saat titik akhir.
Menurut Ebie dan Noriatsu (1992), tingkat kesadahan air biasanya digolongkan
seperti ditunjukkan pada tabel berikut ini.
Tabel 3. Klasifikasi Tingkat Kesadahan
mg/l CaCO3
0-75
75-150
150-300
>300
Sumber: Ebie dan Noriatsu, 1992

Tingkat Kesadahan
Lunak (soft)
Sedang (moderately hard)
Tinggi (hard)
Tinggi sekali (very hard)

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
Berdasarkan tabel di atas, nilai kesadahan yang didapatkan dalam
praktikum termasuk tingkat kesadahan yang sedang dilihat dari kesadahan total.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990,
tentang Syarat-Syarat Kualitas Air Bersih, menyatakan bahwa kadar maksimum
kesadahan (CaCO3) yang diperbolehkan yaitu 500 mg/lt. Hal ini berarti sampel air
dalam praktikum masih diperbolehkan untuk digunakan dalam kehidupan seharihari karena tidak melebihi batas kualitas air bersih yang telah ditentukan namun
tidak diperbolehkan untuk dijadikan air minum. Air sadah tidak layak digunakan
sebagai air minum karena banyak mengandung mineral kalsium (Ca) dan
Magnesium (Mg) yang dapat mengakibatkan gangguan terhadap kesehatan
maupun gangguan secara ekonomi. Nilai ambang batas kesadahan air yang
diperbolehkan sebagai air minum adalah 100 mg/L dan air yang mempunyai
kesadahan di atas harga tersebut dikategorikan sebagai air sadah. Sedangkan
kesadahan air yang dianggap baik bila nilai kesadahannya antara 50-80 mg/L.
Berarti sampel air mineral yang digunakan memiliki kesadahan yang baik
karena kesadahan sampel dibawah 100mg/L. Sedangkan untuk sampel air keran
memiliki tingkat kesadahan yang sedang karena kesadahan sampel berada diantara
70-150 mg/L.
Menurut Viessman (1985), penghilangan kesadahan (pelunakan) air
dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi Ca2+ dan Mg2+. Kation penyebab
kesadahan dapat dikurangi atau dihilangkan dengan proses-proses sebagai berikut:

Pemanasan
Proses pengendapan kimia, dan
Pertukaran ion (Ion Exchange)
Proses pertama yang dapat dilakukan yaitu pemanasan. Penghilangan

kesadahan dengan cara pemanasan hanya dapat menghilangkan kesadahan


sementara yakni garam Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2. Jika air yang mengandung
garam-garam tersebut dipanaskan maka akan terjadi senyawa CaCO 3 dan MgCO3
yang mempunyai sifat kelarutan yang kecil di dalam air sehingga dapat
diendapkan. Proses penghilangan kesadahan dengan cara pemanasan secara
sederhana dapat diterangkan seperti pada reaksi berikut:
2Ca(HCO3)2

2 CaCO3
Dipanaskan

Mengendap

+ H2O + 2CO2

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
2Mg(HCO3)2

2 MgCO3
Dipanaskan

+ H2O + 2CO2

Mengendap

Garam MgCO3 mempunyai kelarutan yang lebih besar di dalam air panas,
namun semakin rendah temperatur air kelarutan MgCO3 semakin kecil, bahkan
hingga menjadi tidak larut dan dapat mengendap. Garam CaCO 3 kelarutannya
lebih kecil daripada MgCO3, sehingga pada air panas sebagian CaCO 3
mengendap, pada air dingin pengendapannya akan lebih banyak lagi. Oleh karena
sifat ini maka air sadah tidak dikehendaki pada air industri karena dapat
menimbulkan endapan/kerak pada peralatan pemanas seperti boiler dan lain
sebagainya. Untuk skala rumah tangga jika air yang mengandung kesadahan yang
cukup tinggi jika dimasak atau dididihkan maka akan menimbulkan endapan di
dalam ketel dan jika air yang telah dimasak didinginkan maka kesadahan
sementara yang ada di dalam air dapat diturunkan.
Proses penghilangan kesadahan yang lainnya yaitu pengendapan kimia.
Proses penghilangan kesadahan dengan pengendapan kimia bertujuan untuk
membentuk garam-garam kalsium dan magnesium menjadi bentuk garam-garam
yang tidak larut sehingga dapat diendapkan dan dapat dipisahkan dari air. Bentuk
garam kalsium dan magnesium yang tidak larut dalam air adalah kasium karbonat
dan magnesium hidroksida. Penghilangan kesdahan dengan pengendapan kimia
dapat dilakukan dengan proses Kapur-Soda Ash (Lime Soda Softening) atau
dengan proses soda kaustik. Seluruh bentuk kesadahan juga dapat diendapkan
dengan cara penambahan soda kaustik (caustic soda, NaOH). Persamaan
rekasinya adalah sebagai berikut:
CO2 + 2NaOH
Ca2+ + 2(HCO3)- + 2NaOH
Mg2+ + 2(HCO3)- + 4NaOH

2Na+ + CO32- + H2O


CaCO3 + 2Na+ + CO32- + 2H2O
MgCO3 + 4Na+ + 2CO32- + 2H2O

Pengendapan Mg(OH)2 perlu menaikkan pH sampai 11,0 dengan


menambahkan natrium hidroksida berlebih sekitar 1,25 meq/l.
Pengendapan CaCO3 yang larut lewat jenuh di dalam air akan berlangsung
lambat yang dapat menyebabkan pengendapan di dalam perpipaan atau bak
penampung. Oleh karena itu perlua proses stabilisasi dengan cara mengubah
CaCO3 yang larut lewat jenuh menjadi bentuk yang larut di dalam air yaitu

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
Ca(HCO3)2. Proses stabilisasi dapat dilakukan dengan cara penambahan beberapa
jenis larutan asam, misalnya asam sulfat.
2CaCO3 + H2SO4
Mg(OH)2 + H2SO4

Ca2+ + 2(HCO3)- + SO42Mg2+ + SO42- + 2H2

Akan tetapi, proses stabilisasi yang paling umum digunakan adalah konversi
CaCO3, atau Mg(OH)2 menjadi bentuk yang larut dengan penambahan karbon
dioksida (CO2). Proses tersebut dinamakan proses rekarbonasi (recarbonation
process). Derajat keasaman (pH) akhir umumnya adalah 8,5 9,5 tergantung ratio
karbonat dan bikarbonat yang diharapkan.
2CaCO3 + CO2 + H2O
Mg(OH)2 + CO2

Ca2+ + 2(HCO3)Mg2+ + 2(HCO3)-

Proses yang ketiga yaitu pertukaran ion. Pada proses pertukaran ion
kalsium dan magnesium ditukar dengan sodium. Pertukaran ini berlangsung
dengan cara melewatkan air sadah ke dalam unggun butiran yang terbuat dari
bahan yang mempunyai kemampuan menukarkan ion. Bahan penukar ion pada
awalnya menggunakan bahan yang berasal dari alam yaitu greensand yang biasa
disebut zeolit. Agar lebih efektif bahan greendsand diproses terlebih dahulu. Pada
saat ini bahan-bahan tersebut sudah diganti dengan bahan sintesis yang lebih
efektif yang disebut resin penukar ion. Ada dua jenis resin penukar ion yaitu resin
penukar ion positif dan resin penukar ion negatif. Untuk menghilangkan
kesadahan atau untuk pelunakan air digunakan resin penukar ion positif.
Resin penukar ion positif (kation) yang digunakan secara komersial
umumnya dalam bentuk asam kuat atau asam lemah. Resin penukar ion positif
(kation) asam kuat dapat menghilangkan seluruh kation atau ion positif yang ada
di dalam air, sedangkan resin penukar ion positif asam lemah umumnya dibatasi
hanya untuk menghilangkan kesadahan yang berhubungan dengan alkinitas
karbonat. Selain dalam bentuk asam kuat atau asam lemah ada pula yang ada
dalam bentuk netral (intermediate).
Resin penukar ion mempunyai afinitas yang berbeda terhadap tiap jenis
ion yang ada di dalam air. Akibatnya resin penukar ion menunjukkan urutan
selektivitas untuk tiap jenis ion yang terlarut di dalam air. Untuk resin penukar ion
positif dalam bentuk asam kuat (strong acid cation exchange resin) urutan jenis

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
ion positif yang mempunyai afinitas terhadap resin penukar ion mulai dari yang
terbesar sampai yang terkecil adalah sebagai berikut: Kalsium (Ca2+), Magnesium
(Mg2+), Ammonium (NH4+), Kalium atau Potasium (K+), Sodium atau Natrium
(Na+), dan yang terakhir Hidrogen (H+). Dengan demikian apabila air dilewatkan
ke dalam suatu bed (unggun) resin penukar ion positif maka pada lapisan unggun
resin yang paling atas sebagian besar diduduki oleh ion Kalsium (Ca 2+)
disebabkan karena kalsium mempunyai afinitas paling besar. Oleh karena
magnesium mempunyai afinitas yang lebih tinggi setelah kalsium maka lapisan di
bawah kalsium sebagian besar akan ditempati oleh ion magnesium (Mg 2+),
demikian seterusnya. Lapisan yang paling bawah akan ditempati oleh ion natrium
(Na+) karena mempunyai afinitas terhadap resin penukar ion yang paling rendah.
Secara sederhana, mekanisme pertukaran ion di dalam unggun resin
penukar ion positif dimulai dari ion hidorgen (H+) menempati seluruh lapisan
unggun resin. Tahap berikutnya yaitu awal operasi ion kalsium, magnesium,
natrium yang masuk ke dalam unggun resin akan menempati unggun resin
menggantikan kedudukan ion hidrogen. Lapisan paling atas akan ditempati oleh
ion kalsum, selanjutnya oleh ion magnesium, kemudian natrium dan lapisan yang
paling bawah masih ditempati oleh ion hidrogen. Sebagian ion hidrogen yang
telah ditukar oleh ion kalsium, magnesium, dan natrium akan keluar terikut
dengan air yang keluar unggun resin. Apabila operasi berlanjut terus-menerus
maka ion kalsium yang masuk akan menggantikan kedudukan ion magnesium, ion
magnesium yang masuk akan menggantikan kedudukan ion natrium, dan ion
natrium yang masuk akan menggantikan ion hidrogen. Sedangkan ion hidrogen
yang telah tertukar akan keluar unggun resin melalui aliran air yang keluar. Jika
operasi berlangsung terus maka seluruh resin akan ditempati oleh ion kalsium dan
magnesium. Pada proses pelunakan air atau proses penghilangan kesadahan, saat
seluruh unggun resin telah diduduki oleh ion kalsium dan magnesium maka
proses pelunakan harus dihentikan karena jika proses dilanjutkan maka ion
magnesium akan tergantikan oleh ion kalsium dan ion magnesium yang
tergantikan akan keluar melalui aliran air yang keluar unggun resin. Pada kondisi
seperti ini resin dinyatakan jenuh dan harus diregenerasi kembali. Ion-ion yang

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
tak diharapkan keluar misalnya magnesium atau kalsium yang terikut keluar
unggun resin penukar ion disebut leakage.
Ada dua jenis siklus pertukaran ion yaitu pertukaran ion dengan siklus Na
yang regenerasinya dengan memakai larutan natrium klorida dan pertukaran ion
dengan siklus H yang regenerasinya dengan menggunakan larutan asam kuat
misalnya asam klorida atau asam kuat. Jika menggunakan asam kuat misalnya
asam klorida atau asam sulfat maka pada akhir regenerasi maka ion kalsium atau
magneisum yang menempati unggun resin akan digantkan seluruhnya oleh ion
hidrogen. Apabila regenerasi menggunakan larutan natrium klorida, seluruh ion
kalsium dan magnesium yang telah menempati unggun resin akan digantikan oleh
ion natrium. Penghilangan Ca dan Mg dengan zeolit:
Na2Z + CaSO4

Ca-Z + 2Na2SO4

Na2Z + MgSO4

Mg-Z + 2Na2SO4

Na2Z + CaCl2

Ca-Z + 2NaCl

Na2Z + MgCl2

Mg-Z + 2NaCl

Regenerasi dengan NaCl


Ca-Z + 2NaCl

Na2Z + FeCl2

Mg-Z + 2NaCl

Na2Z + MnCl2

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
V.

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum titrasi kompleksometri, dapat disimpulkan:
1. Kesadahan air total terbesar terdapat pada sampel air keran sebesar 118
ppm CaCO3 dan pada sampel lab sebesar 52 ppm CaCO3.
2. Sampel pada praktikum masih dapat digunakan dalam kehidupan seharihari tetapi tidak dapat digunakan untuk minum.
3. Cara menghilangkan kesadahan dapat dilakukan dengan cara pemanasan,
pengendapan kimia, dan pertukaran ion.
4. Kandungan ion-ion logam dalam sampel air keran lebih banyak daripada
sampel air minum
5.2 Saran

Buret yang digunakan kondisinya harus masih baik terutama bagian

krannya.
Alat lainnya yang digunakan harus bersih.
Titrasi harus dilakukan dengan teliti agar didapatkan volume yang benar.

Ribi Ramadanti Multisona


240210150073
1B
DAFTAR PUSTAKA
Basset,

J. dkk. 1994. Buku Ajar Vogel:Kimia Analisis Kuantitatif


Anorganik. Terjemahan A. Hadyana Pudjaatmaka dan L. Setiono. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Brault, J. L. 1991. Water Treatment Handbook. 6th Edition. Volume I and II.
Degremont. Lavoiser Publishing, Paris.
Day, R. A. dan Underwood A. L. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga,
Jakarta.
Ebie, K. Dan Noriatsu, A. 1992. Sanitary Egineering for Practice (Esei Kougaku
Engshu), Water and Wastewater (Jusoido To Gesuido). Morikira Shupang,
Tokyo.
Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press, Jakarta.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 1990. Syarat-Syarat Kualitas Air Bersih.
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990. Indonesia.
Peavy, H. S. et. al. 1986. Environmental Engineering. Mc Graw-Hill Book
Company, Singapore.
Rival, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia . UI Press. Jakarta.

Sukarti, T. 2008. Kimia Analitik. Penerbit Widya Padjadjaran, Bandung.


Viessman, W. Jr. dan Hammer, M. J. 1985. Water Supply and Pollution Control.
4th Edition. Harper and Row Publishers, New York.
World Health Organization, 1998. Edetic acid (EDTA) in Drinking-water. Health
criteria and other supporting information. Guidelines for drinking-water
quality, 2nd ed. Addendum to Vol. 2. WHO/SDE/WSH/03.04/58.
Switzerland.