Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Terumbu karang adalah karang yang terbentuk dari kalsium karbonat koloni kerang laut

yang bernama polip yang bersimbiosis dengan organisme miskroskopis yang bernama
zooxanthellae. Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem laut. Ekosistem ini
terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan merupakan ekosistem yang sangat penting
dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (Nybakken,1998).
Terumbu karang (coral reef) di Indonesia merupakan yang terkaya di dunia. Diperkirakan
dari total luas terumbu karang di dunia yang mencapai 284.300 km2, 18 % (85.200 km2)
diantaranya berada di wilayah Indonesia. Hal ini juga berkaitan dengan Indonesia yang sebagai
negara maritim terbesar di dunia yang memiliki perairan seluas 93 ribu km2. Terumbu karang
Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia dengan lebih dari 18%
terumbu karang dunia, serta lebih dari 2.500 jenis ikan, 590 jenis karang batu, 2.500 jenis
moluska, dan 1.500 jenis udang-udangan. Sejauh ini telah tercatat lebih dari 750 jenis karang
yang termasuk kedalam 75 marga terdapat di Indonesia.
Terumbu karang Indonesia juga termasuk dalam wilayah segitiga karang dunia (coral
triangel) yang merupakan pusat keanekaragaman hayati dunia. Coral Triangle adalah pusat
keanekaragaman hayati laut termasuk terumbu karang di wilayah segitiga karang . Kawasan ini
meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan
Salomon. Luas total terumbu karang di segitiga karang ini adalah 75.000 km2 .
Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat rentan di dunia. Dalam beberapa
dekade terakhir sekitar 35 juta hektar terumbu karang di 93 negara mengalami kerusakan.
Jika laju kerusakan terumbu karang tidak menurun, maka diperkirakan pada beberapa
dekade ke depan sekitar 70% terumbu karang dunia akan mengalami kehancuran. Kenaikan
temperatur air laut sebesar 1 hingga 2C dapat menyebabkan terumbu karang menjadi stres dan
menghilangkan organisme miskroskopis yang bernama zooxanthellae yang merupakan pewarna
jaringan dan penyedia nutrient-nutrien dasar. Jika zooxanthellae tidak kembali, akibatnya
warnanya akan berubah menjadi putih dan jika tingkat ke-stres-annya sangat tinggi maka
terumbu karang tersebut akan mati.
1.2

Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih terperinci tentang
coral bleaching.

Dafpus e :
Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologi (alih bahasa dari Marine
Biology : An Ecologycal Approach, Oleh : M. Eidman, Koesoebiono, D.G. Bengen,
M.Hutomo, dan S. Sukardjo). PT Gramedia. Jakarta.B