Anda di halaman 1dari 8

SIFAT PADATAN DAN POLIMORFISME OBAT

diajukan untuk memenuhi tugas Farmasi Fisika I

Oleh:
WILDHAN ALVIAN HAKIM
(3311141136)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Sifat padatan bahan aktif farmasi (BAF) sangat penting dalam pengembangan

bentuk sediaan farmasi,karena dapat memberikan dampak yang signifikan secara


klinis dan ekonomis. Hal ini disebabkan karena bentuk padatan sendiri memiliki
sifat yang lebih stabil daripada bentuk cair. Perbedaan sifat-sifat fisik suatu
padatan dan variasi dalam derajat kristalinitasnya memiliki pengaruh yang penting
dalam pengolahan BAF menjadi produk obat. (Alatas, dkk. 2010).
Padatan digolongkan dalam dua golongan, padatan kristalin yang partikel
penyusunnya tersusun teratur, dan padatan amorf yang partikel penyusunnya tidak
memiliki keteraturan yang sempurna. Studi bahan kristalin mempunyai sejarah
yang jauh lebih panjang karena kristal lebih mudah dipelajari daripada bahan
amorf. Perkembangan paling penting dalam studi bahan kristalin adalah
perkembangan analisis kristalografi sinar-X. Awalnya teknik ini hanya dapat
digunakan untuk struktur yang sangat sederhana seperi garam (NaCl). Namun
dalam 80 tahun terakhir analisis kristalografi telah berkembang dengan demikian
cepat sehingga protein dengan massa molekul yang sangat besar kini dapat
dipelajari dengan teknik ini. Terdapat berbagai cara untuk mengklasifikasikan
padatan, yang meliputi berbagai bahan. Namun, klasifikasi yang paling sederhana
adalah membaginya menjadi dua golongan: padatan kristalin yang partikelnya
tersusun teratur dan padatan amorf yang keteraturannya kecil atau tidak ada sama
sekali.
Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui macam-macam sifat padatan obat.
b. Untuk mengetahui sifat polimorfisme obat

1.2.

1.3.

Rumusan Masalah
a. Apa saja sifat-sifat padatan obat?
b. Bagaimana sifat polimorfisme obat?
BAB II
PENJELASAN SIFAT PADATAN DAN POLIMORFISME OBAT

2.1. Sifat Padatan Obat


Pada saat ini para pakar menyadari bahwa efek obat tidak semata-mata
tergantung pada faktor zat aktif yang berkhasiat saja, tetapi juga tergantung pada
bentuk sediaan terutama formulasinya. Salah satunya yaitu bentuk kristal zat aktif.
Namun demikian, tidak semua zat padat dapat membentuk kristal. Zat padat yang
tidak mempunyai struktur kristal dikenal dengan zat amorphous atau zat amorf.
Partikel-partikel dari zat amorf tersebut tidak mempunyai bentuk tertentu dan
permanen. Bentuk amorf yang merupakan yang akan lebih cepat pada saat proses
absorbsi berlangsung. (Partana, 2008).
a. Kristal
Dalam beberapa bahan kristalin, partikel penyusunnya tersusun sehingga
keteraturannya kadang nampak dengan mata telanjang. Kristal yang umum
kita lihat adalah natrium khlorida, tembaga sulfat hidrat, dan kuarsa.
Lokasi partikel penyusun padatan kristalin (ion, atom atau molekul)
biasanya dinyatakan dengan kisi, dan lokasi setiap partikel disebut titik
kisi. Satuan pengulangan terkecil kisi disebut dengan sel satuan. Sel satuan
paling sederhana adalah kubus. Tiga sumbu kubus dan beberapa sel satuan
lain tegak lurus satu sam lain, namun untuk sel satuan lain sumbu-sumbu
itu tidak saling tegak lurus. Faktor yang mendefinisikan sel satuan adalah
jarak antar titik dan sudut antar sumbu. Faktor-faktor ini disebut
dengan tetapan kisi . Di tahun 1848, kristalografer Perancis Auguste
Bravais

(1811-1863)

mengklasifikasikan

kisi

kristal

berdasarkan

simetrinya, dan menemukan bahwa terdapat 14 jenis kisi Kristal (kisi


Bravais). Besarnya sel satuan dapat ditentukan dengan hukum Bragg, yang
diusulkan oleh fisikawan Inggris William Lawrence Bragg (1890-1971) di
tahun 1912. Untuk mendapatkan informasi detail susunan akurat partikel
dalam kristal, pengukuran intensitas puncak difraksi perlu dilakukan.
Struktur padatan Kristal terdiri atas :
a) Susunan Terjejal
Banyak senyawa, khususnya kristal logam dan molekular mempunyai
sifat umum yang memaksimalkan kerapatannya dengan menyusun

partikel-partikelnya serapat mungkin. Sruktur kristal semacam ini


disebut dengan struktur terjejal.
b) Kubus Berpusat Badan
Beberapa logam , seperti logam alkali, mengkristal dalam kisi kubus
berpusat badan, yang mengandung bola yang terletak di pusat kubus
dan di sudut-sudut kubus sel satuan. Cara penyusunan ini disebut
dengan kisi kubus berusat badan.
c) Analisis Kristalografi Sinar X
Teknik analisis kristalografi sinar-X pertama dikenalkan di awal abad
20, dan sejak itu telah digunakan dengan meluas untuk penentuan
struktur berbagai senyawa. Teknik ini dengan sempurna telah
menyelesaikan berbagai masalah yang sebelumnya tidak dapat
diselesaikan. Tahap awal dicapai oleh William Henry Bragg (18621942), sang ayah, dan William Laurence Bragg (1890-1971), anaknya,
yang menentukan struktur garam dan intan.
Hingga beberapa tahun terakhir, analisis kristalografi sinar-X hanya
dilakukan para spesialis, yakni kristalografer, apapun molekul
targetnya. Sungguh, pengukuran dan pemrosesan data yang diperlukan
memerlukan pengetahuan dan pengalaman yang banyak. Namiun kini,
berkat perkembangan yang cepat dan banyak dalam bidang hardware
maupun software kristalografi sinar-X, pengukuran kristalografi sinar-X
telah menjadi mungkin dilakukan dengan training yang lebih singkat.
Kini, bahkan kimiawan sintesis yang minat utamanya sintesis dan
melakukan analisis kristalografi sinar-X sendiri. Akibatnya molekul
target yang dipelajari oleh para spesialis menjadi semakin rumit, dan
bahkan struktur protein kini dapat dielusidasi bila massa molekulnya
tidak terlalu besar. Kini pengetahuan tentang analisis kristalografi
diperlukan semua kimiawan selain NMR.
Difraksi cahaya terjadi dalam zat bila jarak antar partikel-partikelnya
yang tersusun teratur dan panjang gelombang cahaya yang digunakan
sebanding. Gelombang terdifraksi akan saling menguatkan bila
gelombangnya sefasa, tetapi akan saling meniadakan bila tidak sefasa.

Bila kristal dikenai sinar-X monokromatis, akan diperoleh pola difraksi.


Pola difraksi ini bergantung pada jarak antar titik kisi yang menentukan
apakah gelombang akan saling menguatkan atau meniadakan.
b. Amorf
Amorf (Amorphous), merupakan definisi struktural dari suatu material,
dimana atom-atomnya tersusun secara tidak teratur, sehingga panjang dan
sudut ikatan antar atom juga tidak teratur. Kasus inilah yang diketahui
sebagai bentuk penyimpangan struktural. Susunan partikel dalam padatan
amorf sebagian teratur dan sedikit agak mirip dengan padatan kristalin.
Namun, keteraturan ini, terbatas dan tidak muncul di keseluruhan padatan.
Banyak padatan amorf di sekitar kita-gelas, karet dan polietena memiliki
keteraturan sebagian. Fitur padatan amorf dapat dianggap intermediate
antara padatan dan cairan. Baru-baru ini perhatian telah difokuskan pada
bahan buatan seperti fiber optik dan silikon amorf. Sudut dan panjang
ikatan antar atom pada struktur amorf sangat tidak teratur. Akibat
ketidakteraturan ini, beberapa teori zat padat menjadi tidak berlaku (Misal
Teorema Bloch, Efek Hall, dan sebagainya). Oleh karena itu, analisa sifatsifatnya sebagian besar menggunakan metode pendekatan material
kristalinnya dengan mengacu pada hasil-hasil pengukuran eksperimental.
Amorf
Gelas kuarsa
Gelas khalkogenida

Penggunaan material
Serat optik
Membran selenium untuk mesin

fotokopi
Silikon amorf
Sel surya
Logam besi/kobal amorf
Bahan magnetic
Polimer
Polistirene
Karbon amorf
Karbon hitam (adsorben)
Silika gel
Gel (adsorben)
Tabel 1. Beberapa contoh padatan amorf fungsional

2.2. Polimorfisme Obat


Polimorfisme adalah suatu senyawa mengkristalisasi dalam bentuk lebih
dari satuspesies kristalin dengan perbedaan kisi internal. Stabilitas kimia, sifat

prosessing atau ketersediaan hayati berubah akibat polimorfisme. Senyawa


organik maupun senyawa anorganik yang memiliki minimal dua bentukkristal
yang

berbeda

dalam

bentuk

padatnya

disebut

bentuk

polimorfisme.

Bentuk polimorfisme ini pada umunya dibedakan atas dua golongan yaitu bentuk
stabil dan meta stabil. Bentuk stabil lebih dikenal sebagai bentuk kristal,
sedangkan bentuk amorf pada umumnya tidak dalam bentuk meta stabil yang
lebih populer dengan sebutan bentuk amorf. Bentuk amorf ini tidak dalam
bentuk

stabil

karena

pada proses

pembuatannya

dapat berubah menjadi bentuk kristal yang lebih stabil. Perubahan bentuk amorf
menjadi bentuk kristal dapat disebabkan oleh beberapa faktor suhu, dan tekanan
dalamwaktu cepat atau lambat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam
pemilihan

bahan

zat berkhasiat yang

berupa amorf perlu

diperhatikan

apakah bentuk kristal pada awalnya. Sebabapabila pemilihan tersebut terjadi


kekeliruan dalam pemilihan bentuk-bentuk tersebut dapat menyebabkan tidak
stabilnya sedian farmasi yang dihasilkan.
Untuk mengetahui bentuk polimerfik suatu bahan berkhasiat atau bahan
pembantu dapat digunakan salah satu dari beberapa cara sebagai berikut :
1. Disolusi, pengamatan terhadap bentuk amorf yang memiliki kecepatan
disolusi lebih besar.
2. Difraksi sinar X, setiap bentuk kristal memiliki susunan kisi kristal yang
berbeda dan perbedaan tersebut akan tampak dalam perbedaan spektra
sinar X.
3. Analisa inframerah, adanya perbedaan pada penyusunan kristal akan
berpengaruh terhadap energi ikatan molekul sehingga akan berpengaruh
pula terhadap spektra inframerahnya.
4. Differential Scanning Colorimetry and Differenstial thermal analysis.
Perubahan satu bentuk polimorfik menjadi bentuk lainnya, juga akan
melibatkan perubahan energi dimana panas yang terbentuk dideteksi oleh alat
tersebut. Perbedaan utama dari solida dan bentuk fisik lain adalah apakah padatan
berbentuk kristalin atau amorf. Pada karakterisasi Kristal, atom dan molekul
ditetapkan secara berulang dalam susunan tiga dimensi, sedangkan pada bentuk
amorf, atom atau molekul tersusun secara acak seperti dalam suatu cairan.
Semua bentuk amorf dan bentuk kristalin akan dikonversi menjadi bentuk
kristalin stabil. Polimorf menstabilkan akan dikonversi menjadi bentuk stabil

secara pelahan-lahan atau secara cepat (tergantung zatnya), dan ini merupakan hal
yang sangat penting dalam farmasi adalah bentuk yang cukup stabil untuk
menjamin usia-guna sediaan dan ketersediaan hayati. Masalah yang terkait dengan
keberadaan polimorfisme tidak stabil, kadang-kadang dapat diatasi dengan
penambahan eksipien yang memperlambat tranformasi, misalnya metilselulosa
untuk novobiosin.

DAFTAR PUSTAKA
Alatas, Fikri., Soewandhi, S.N., dan Sasongko, Lucy D.N. 2010. Pengaruh
Penggilingan terhadap Karakteristik Padatan Didanosin. Jurnal Sains
Materi Indonesia Vol. 13, No. 1, Oktober 2011, hal : 67 71.
Goeswin Agoes. 2008. Pengembangan Sediaan Farmasi. ITB : Bandung
Partana, Crys Fajar. 2008. KIMIA I. Bogor: Quadra
Soewandi, Sunandi Nurono. 2007. Polimorfisme Diklofenak Natrium. J.Sains
Tek.Far., 12(1)2007
Vlack, Lawrence H. Van. 2004. Elemen-Elemen Ilmu dan Rekayasa Material.
Edisi ke-6. Jakrta: Erlangga.