Anda di halaman 1dari 8

DASAR PIKIRAN DAN RASIONAL

Negara Republik Indonesia yang berdiri 17 agustus 1945


sebenarnyaadalah negara pancasila. Predikat prinsipil ini berdasarkan ketentuan
yuridiskonstitusional bahwa negara Indonesia berdasarkan pancasila, sebagai
termaksud
di
dalam
pembukaan
undang-undang
dasar
1945
dinyatakan:kemudian daripada itu, untuk ,membentuk suatu pemerintahan
negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,
maka disusunlah kemerdekaan kebangsaanIndonesiaitu dalam suatu
susunan negara republik Indonesia yang berkedaulatanrakyat dengan
berdasar kepada: ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yangadil dan
beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin olehhikmat
kebijaksanaan
dalam
permusyawaratan/perwakilan,
serta
denganmewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.Ketentuan yuridis konstitusional ini mengandung makna konsekuensi
baik formal maupun fungsional, bahkan imperatif bahwa :
a. Pancasila adalah dasar negara atau fiafat negara republik Indonesia
b. Pancasila adalah norma dasar dan norma tertinggi di dalam negararepublik
Indonesia
c. Pancasila adalah ideologi negara, ideologi nasional Indonesia
d. Pancasila adalah identitas dan karakteristik bangsa atau kepribadian nasional,
yang perwujudannya secara melembaga,sebgai sistem negara pancasila
e. Pancasila adalah jiwa dan kepribadian bangsa, pandangan hidup(keyakinan
bangsa) yang menjiwai sistem kenegaraan dankemasyarakatan Indonesia.
Karena itu pancasila adalah sistemfilsafat Indonesia yang berpotensial dan
fungsional, yang normatif ideal.Sesungguhnya ketentuan formal atau yuridis
konstitusional di dalampembukaan undang-undang dasar 1945, bahwa pancasila
dasar negara republik Indonesia itu diangkat dari realitas sosio-budaya dan tata
nilai dasar masyarakat Indonesia. Justru karena nilai-nilai dasar ini telah menjiwai
dan merupakan perwujudan kepribadian bangsa, maka identitas substansialdan
instrunsik iniditingkatkan dalam hidup kenegaraan (sebagai sitem kenegaraan)
secara formal.Motivasi demikian bersumber atas keyakina bahwa nilai pancasila
adalah keyakinan atau pandangan hidup yang benar, baik dan unggul.
B. HUBUNGAN FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA DENGAN
PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT
Hubungan masyarakat dengan pendidikan menampakkan hubungan korelasi
positif. Artinya pendidikan yang maju dan modern pula. Sebaliknya pendidikan
yang maju dan modern hanya ditemukan dan diselenggarakan oleh masyarakat
maju dan modern. Hubungan timbal-balik yang saling menentukan itu bahkan
seakan-akan hubungan kausalitas. Maksudnya sebagai hubungan sebab-akibat;
yakni karena pendidikan masyarakat menjadi maju disatu pihak, sementara dilain
pihak pendidikan maju dilaksanakan di dalam dan oleh masyarakat maju pula.
Analisis di atas nampak seperti hubungan telor dengan ayam. Atau secara
teoritis di sebut hubungan korelasi positif. Akan tetapi hubungan demikian belum
memberikan prinsip dan persepsi bagaimana kita bersikap,agar kebijaksanaan dan

strategi pengembangan pendidikan ditetapkan dan dilaksanakan.analisis filosofis


dapat memperjelas antar-hubungan itu.
Manusia sebagai subjek individual dapat dianalogikan dengan
masyrakat/negara/bangsa sebagai subyek kolektif. Subyek selalu menentukan
sikap dan wawasannya, kebijaksanaan, dan strategi serta tujuan dan sasaran yang
hendak ditempuhnya. Pertimbangan dan penentuan ini diambil berdasarkan
keyakinan ,motivasi dan tujuan dalam hidupnya.analog dengan pola dasar subyek
yang demikian, maka jelas hubungan masyarakat dengan pendidikan ialah
hubungan fungsional.jelasnya, masyarakat sebagi subyek, sedangkan pendidikan
adalah usaha, aktivitas subyek yang dilakukannya menurut tujuan dan
kehendaknya secara mandiri.bagi anak, tujuan dan kehendak belajar ini
dipengaruhi oleh faktor lingkungan, orang tua atau keluarga.
Demikian pula pada masyarakat/bangsa/negara, faktor itu ialah kondisi dan
tantangan zaman termasuk potensi-potensi yang dimilikinya (sumber daya alam,
sumber daya manusia, dan kebudayaan).
Manusia, masyrakat, bangsa, negara sebagai subyek mandiri memiliki
keyakinan, dan kepercayaan diri yang tercermin dalam tujuan (cita-cita) dan
hasrat luhur atau kehendak.cita dan rasa ini bersumber dari keyakinan-keyakinan
yang merupakan nilai dan pandangan hidupnya yang potensial (tumbuh dan
berkembang). Cita dan rasa ini menentukan bagaimana usaha dan aktivitas itu
ditempuh dan dilaksanakan; jadi manusia pribadi, atau masyarakat berdasarkan
cita dan karsa memilih dan menetapkan aktivitas dan fungsi hidupnya incasu
usaha mendidik dirinya itu karena itulah pendidikan merupakan fungsi manusia
dan masyarakat untuk mengembangkan dan meningkatkan subyek dirinya,
martabat dan kepribadiannya.
Hubungan masyarakat dan pendidikan sebagai hubungan fungsional berarti:
1. Bahwa masyarakat/negara adalah subyek yang menentukan secara sadar dan
mandiri cita karsa atau tujuan dan keinginan luhur yang akan dilakukan dan
dicapainyamelalui kebijakan, lembaga dan strategi tertentu.cita-karsa ini
bersumber cita dan tujuan hidupnya itu ; inilah keyakinan hidup atau pandangan
hidup suatu bangsa
2. Bahwa pendidikan baik sebagai usaha,lembaga maupun sebagai program,
perwujudannya secara nasional ialah sistem pendidikan nasional wajar bersumber
dan ditentukan oleh cita karsa subyek tersebut karenanya cenderung subyektif
(bandingkan dengan pendidikan individu, potensi pancaindra, pikir, minat, citakarsa-nya).
Manusia sebagai individual yang menentukan sikap dan wawasannya,
kebijaksanaan dan strategi serta tujuan dan sasaran yang hendak ditempuhnya..
Pertimbangan dan penentuan ini diambil bardasarkan keyakinan, motivasi dan
tujuan dalam hidupnya, maka manusia sebagai subjek individual. Pendidikan
adalah suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan individu menurut tujuan dan
kehendaknya secara mandiri. Masyarakat memiliki keyakinan dan kepercayaan
yang tercermin dalam tujuan dan hasrat luhur atau kehendak berdasarkan cita dan
karsa memilih dan menerapkan aktivitas kehidupan.
C. URGENSI FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA DALAM SISTEM
PENDIDIKAN NASIONAL

Filsafat pendidikan adalah nilai dan keyakinan filosofis yang menjiwai dan
mendasari serta memberikan identitas suatu sistem pendidikan nilai-nilai itu
bersumber pada pancasila yang di laksanakan pada berbagai sistem kehidupan
nasional secara keseluruhan. Fungsi pendidikan adalah membangun potensi
negara khususnya melestarikan kebudayaan dan kepribadian bangsa yang
menentukan eksistensi dan martabat bangsa. Pendidikan nasional harus dijiwai
oleh filsafat pendidikan pancasila. Pendidikan pancasila merupakan tuntunan
nasional, karena cita dan karsa bangsa atau tujuan nasional dan hasrat luhur rakyat
tersimpul dalam pembukaan uud 1945 sebagai perwujudan jiwa pancasila, cita
dan karsa yang diusahakan secara lembaga didalam pendidikan nasional.

A.Sistematika filsafat pendidikan pancasila


Sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan
kepada tuhan yang maha esa serta berakhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.
Sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan
pendidikan mutu serta evaluasi dan evisiensi manajemen pendidikan untuk
menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan local
,nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara
terarah dan berkesinambungan..
B.Pancasila sebagai sumber dan dasar moral
Negara tunduk pada moral,negara wajib mengamalkan moral pancasila
.Seluruh tindakan kewajiban negara harus sesuai dengan pancasila. Seluruh
perundang-undangan harus mengacu pada pancasila. Nlai-nilai pancasila menjadi
pembimbing dalam pembuatanpolicy.pancasila mengandung kewajiban-kewajiban
moral bagi negara indonesia.
C.Tujuan pendidikan pancasila
1.Melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia .
2.Memajukan kesejahteraan umum
3.Mencerdaskan kehidupan bangsa
4.Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan ,perdamaian
abadi dan keadilan sosial.
D.Sistem pendidikan nasional pancasila
Setiap bangsa memiliki sistem pendidikan nasional.Pendidikan nasional
masing-masing bangsa berdasarkan pada kondisinya dan dijiwai oleh
kebudayaan .kebudayaan tersebut syarat dengan nilai-nilai yang tumbuh dan
berkembang melalui sejarah sehingga mewarnai seluruh gerak hidup suatu
bangsa.

A.Dasar Pikiran Dan Rasional


Landasan Historis
Bangsa Indonesia terbentuk melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang
sejak zaman kerajaan kutai, Sriwijaya, Majapahit sampai datangnya bangsa lain
yang menjajah serta menguasai bangsa Indonesia. Beratus-ratus tahun bangsa
Indonesia dalam perjalanan hidupnya berjuang untuk menemukan jati dirinya
sebagai suatu bangsa yang merdeka, mandiri,serta memiliki suatu prinsip yang
tersimpul dalam pandangan hidup serta falsafat hidup bangsa. Setelah melalui
suatu proses yang cukup panjang dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia
menemukan jati dirinya, yang didalamnya tersimpul ciri khas, sifat, dan karakter
bangsa yang berbeda dengan bangsa lain, yang oleh para pendiri negara kita
dirumuskan dalam suatu rumusan yang sederhana namun mendalam, yang
meliputi lima prinsip (lima sila) yang kemudian dinamakan Pancasila.
Dalam hidup berbangsa dan bernegara dewasa ini terutama dalam masa reformasi,
bangsa Indonesia sebagai bangsa harus memiliki visi serta pandangan hidup yang
kuat agar tidak terombang-ambing di tengah-tengah masyarakat internasional.
Dengan kata lain perkataan bangsa Indonesia harus memiliki nasionalisme serta
rasa kebangsaan yang kuat. Hal ini dapat terlaksana bukan melalui kekuasaan atau
hegemoni ideologi melainkan suatu kesadaran berbangsa dan bernegara yang
berakar pada sejarah bangsa.
Jadi secara historis bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila pancasila
sebelum dirumuskan dan disahkan menjadi dasar negara Indonesia secara objektif
historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Sehingga asal nilai-nilai
Pancasila tersebut tidak lain adalah dari bangsa Indonesia sendiri, atau dengan
kata lain bangsa Indonesia sebagai kausa materialis Pancasila. Oleh karena itu
berdasarkan fakta objektif secara historis kehidupan bangsa Indonesia tidak dapat
dipisahkan dengan nilai-nilai Pancasila. Atas dasar pengertian dan alas an historis
inilah maka sangat penting bagi p980ara generasi penerus bangsa terutama
kalangan intelektual kampus untuk mengkaji, memahami dan mengembangkan
berdasarkan pengembangan ilmiah, yang pada gilirannya akan memiliki suatu
kesadaran serta wawasan kebangsaan yang kuat berdasarkan nilai-nilai yang
dimilikinya sendiri. Konsekuensinya secara historis Pancasila dalam
kedudukannya sebagai dasar filsafat negara serta ideology bangsa dan negara
bukannya suatu ideology yang menguasai bangsa, namun justru nilai-nilai dari
sila-sila Pancasila itu melekat dan berasal dari bangsa Indonesia itu sendiri.

2. Landasan Kultural
Setiap bangsa di dunia dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
senantiasa memiliki suatu pandangan hidup, filsafat hidup serta pegangan hidup
agar tidak terombang-ambing dalam kancah pergaulan masyarakat internasional.
Setiap bangsa memiliki ciri khas serta pandangan hidup yang berbeda dengan
bangsa lain. Negara komunisme dan liberalism meletakkan dasar filsafat
negaranya pada suatu konsep ideology tertentu, misalnya komunisme
mendasarkan ideologinya pada konsep pemikiran Karl Marx.
Berbeda dengan bangsa-bangsa lain. Bangsa Indonesia mendasarkan pandangan
hidupnya dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada suatu asas cultural
yang dimiliki dan melekat pada bangsa itu sendiri. Nilai-nilai kenegaraan dan
kemasyarakatan yang terkandung dalam sila-sila Pancasila bukanlah hanya
merupakan suatu hasil konseptual seseorang saja. Melainkan merupakan suatu
hasil kaarya besar bangsa Indonesia sendiri, yang diangkat dari nilai-nilai cultural
yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri melalui proses refleksi filosofis paara
pendiri negara seperti Soekarno, M Yamin, M Hatta, Sepomo serta para tokoh
pendiri negara lainnya.
Satu-satunya karya besar bangsa Indonesia yang sejajar dengan karya besar
bangsa lain di dunia ini adalah hasil pemikiran tentang bangsa dan negara yang
mendasarkan pandangan hidup suatu prinsip nilai yang tertuang dalam sila-sila
Pancasila. Oleh karena itu para generasi penerus bangsa terutama dalam kalangan
intelektual kampus sudah seharusnya untuk mendalami secara dinamis dalam arti
mengembangkannya sesuai dengan tuntutan zaman.
3. Landasan Yuridis
Landasan yuridis perkuliahan Pendidikan Pancasila di pendidikan tinggi tertuang
dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pasal 39 telah menetapkan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang
pendidikan, wajib memuat Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama dan
Pendidikan Kewarganegaraan.
Demikian juga berdasarkan SK Menteri Pendidikan Nasional RI No.232/U/2000,
tentang Pedoman Penyusun Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil
Belajar Mahasiswa, pasal 10 ayat (1) dijelaskan bahwa kelompok Mata Kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan, wajib diberikan dalam kurikulum setiap program
studi, yang terdiri atas Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Pendidikan
Kewarganegaraan. Sebagai realisasi dari SK tersebut Direktoral Jendral
Pendidikan Tinggi, mengeluarkan Surat Keputusan No.38/DIKTI/Kep?2002,
tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian.
Pada pasal 3 dijelaskan bahwa kompetensi kelompok mata kuliah MPK bertujuan
menguasai kemampuan berfikir, bersikap rasional dan dinamis, berpandangan luas

sebagai manusia intelektual. Adapun rambu-rambu mata kuliah MPK Pancasila


tersebut adalah terdiri atas selain segi historis, filosofis, ketatanegaraan,
kehidupan berbangsa dan bernegara juga dikembangkan etika politik.
Pengembangan rambu-rambu kurikulum tersebur diharapkan agar mahasiswa
mampu mengambil sikap sesuai dengan hati nuraninya, mengenali masalah hidup
terutama kehidupan rakyat, mengenali perubahan serta mampu memaknai
peristiwa sejarah, nilai-nilai budaya demi persatuan bangsa.
4. Landasan Filosofis
Pancasila adalah sebagai dasar filsafat negara dan pandangan filosofis bangsa
Indonesian. Oleh karena itu sudah merupakan suatu keharusan moral untuk secara
konsisten merealisasikannya dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Hal ini berdasarkan pada suatu kenyataan secara
filosofis dan objektif bahwa bangsa Indonesia dalam hidup bermasyarakat dan
bernegara mendasarkan pada nilai-nilai yang tertuang dalam sila-sila Pancasila
yang secara filosofis merupakan filosofi bangsa Indonesia sebelum mendirikan
negara.
Secara filosofis, bangsa Indonesia sebelum mendirikan negara adalah sebagai
bangsa yang berketuhanan dan berkemanusiaan, hal ini berdasarkan kenyataan
objektif bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang Maha Esa. Syarat mutlak
suatu negara adalah adanya persatuan yang terwujudkan sebagai rakyat
(merupakan unsur pokok negara), sehingga secara filosofis negara berpersatuan
dan berkerakyatan konsekuensinya rakyat adalah merupakan dasar ontologism
demokrasi, karena rakyat merupakan asal mula kekuasaan negara.
Atas dasar pengertian filosofis tersebut maka dalam hidup bernegara nilai-nilai
pancasila merupakan dasar filsafat negara. Konsekuensinya dalam setiap aspek
penyelenggaraan negara harus bersumber pada nilai-nilai Pancasila termasuk
system peraturan perundang-undangan di Indonesia. Oleh karena itu dalam
realisasi kenegaraan termasuk dalam proses reformasi dewasa ini merupakan
suatu keharusan bahwa pancasila merupakan sumber nilai dalam pelaksanaan
kenegaraan baik dalam pembangunan nasional, ekonomi, politik, hukum, social
budaya, maupun pertahanan dan keamanan.
B.Hubungan Filsafat Pendidikan Pancasila Dengan Pendidikan Dan Masyarakat
Sudah dikatakan di atas, filsafat pendidikan Pancasila merupakan terapan dari
filsafat Pancasila, maka selama membahas filsafat pendidikan Pancasila akan
berangkat dari filsafat Pancasila. Filsafat pendidikan Pancasila menggunakan cara
kerja dan hasil-hasil filsafat Pancasila, berupa pemikiran manusia tentang realitas,
pengetahuan dan nilai-nilai Pancasila. Sebagai Filsafat, Pancasila harus
menampakkan diri sebagai indikator karakteristik mentalitas bangsa Indonesia.

Rumusan mentalitas itu sebagai sosok acuan bangsa, termasuk pendidikan


sehingga dimensi karakteristik mentalitas itu menjadi tujuan pendidikan. Tujuan
pendidikan itulah yang dielaborasi menjadi tujuan konstitusional pendidikan (red.
dalam UUD 1945), tujuan institusional (lembaga pendidikan), tujuan kurikuler,
dan tujuan instruksional.
Kedudukan filsafat dan filsafat pendidikan Pancasila sangat berperan sentral,
terutama pada penentuan tujuan pendidikan. Yaitu bagaimana menjabarkan/
mengelaborasikan filsafat hidup atau tujuan hidup menjadi tujuan pendidikan.
Kesesuaian antara filsafat hidup dan tujuan pendidikan dapat menentukan hasil
pendidikan yang akan dicapainya. Jadi, Pancasila menjadi filsafat pendidikan
Pancasila berkenaan dengan kepastian mekanisme penyerapan kristalisasi nilai
yang menjadi harapan masyarakat, kemudian dirumuskan menjadi tujuan
pendidikan sehingga arah dan landasan pendidikan nasional Indonesia yang
bersifat filosofis, yaitu filsafat pendidikan Pancasila (H.Ong Komar, Harian
Pikiran Rakyat, Selasa 2 Juni 2009)
Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan
proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan
pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh
filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan
serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru
dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan
rambu-rambu dari teori-teori pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan
inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat,
memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang
kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu
dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan
dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak
terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik.
Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Prof. Dr. Umar Anggara Jenie
menyatakan, Pancasila sebagai paradigma pengembangan ilmu pengetahuan
diperlukan untuk panduan etik. Sila-sila dalam Pancasila adalah prinsip-prinsip
etika universal yang juga dihormati negara lain (Kompas, 16 Agustus 2006).
Filsafat Pendidikan Pancasila mendasari Ilmu Pengetahuan kontektual milik
budaya bangsa Indonesia yang nilai-nilainya berbeda dengan bangsa lain. Ilmu
pengetahuan kontekstual yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan milik budaya
bangsa Indonesia yang nilai-nilainya berbeda dengan bangsa lain. Menurut ajaran
Ki Hadjar Dewantara, ilmu pengetahuan kontekstual budaya Indonesia yang
dimaksud adalah ilmu pengetahuan yang beralaskan garis-hidup bangsanya
(cultureel-nationaal) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan
(maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyat, agar dapat
bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia
ke seluruh dunia; ilmu pengetahuan yang membuat peserta didik mampu

mengalaminya sendiri dan kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakyatnya


(Karya, KH.Dewantara, bagian Pertama: Pendidikan, 2004).
C.Urgensi Filsafat Pendidikan Pancasila Dalam System Pendidikan Nasional
Pancasila sebagai filsafat pendidikan bangsa harus menampakkan diri sebagai
indikator karakteristik mentalitas bangsa Indonesia. Rumusan mentalitas itu
sebagai sosok acuan bangsa, termasuk pendidikan sehingga dimensi karakteristik
mentalitas itu menjadi tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan itulah yang
dielaborasi menjadi tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional.
Bagaimanapun, untuk menetapkan arah pendidikan, tidak akan lepas dari
persoalan tujuan hidup dan maknanya bagi individu dan masyarakat. Oleh karena
itu, tujuan hidup masyarakat melekat pada nilai-nilai masyarakat dan
perubahannya. Kekonkretan tujuan hidup tergambar dengan menjawab
pertanyaan, bagaimana seharusnya anggota masyarakat hidup dalam
masyarakatnya?
Apa karakteristik manusia yang dicita-citakan (manusia ideal) oleh masyarakat?
Bagaimanakah gambaran kehidupan yang sempurna, baik di dunia maupun di
akhirat kelak? Jawabannya merupakan sumber acuan untuk penetapan arah tujuan
hidup masyarakat. Tugas para ahli pendidikan nasional bertindak untuk menyerap
pengkristalan nilai yang terdapat dalam masyarakat dan perubahannya. Nilai itu
kemudian ditetapkan sebagai tujuan hidup.
Bagaimana tujuan hidup harus dicapai anggota masyarakat dalam perjalanan
hidupnya merupakan tindakan para ahli pendidikan nasional berikutnya untuk
dielaborasikan ke dalam tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan
kurikuler, dan tujuan instruksional. Pengelaborasian tujuan hidup menjadi tujuan
pendidikan diperlukan kemampuan deduktif filosofis.
Dengan demikian, kedudukan filsafat dan filsafat pendidikan sangat berperan
sentral, terutama pada penentuan tujuan pendidikan. Yaitu bagaimana
menjabarkan/mengelaborasikan filsafat hidup atau tujuan hidup menjadi tujuan
pendidikan. Kesesuaian antara filsafat hidup dan tujuan pendidikan dapat
menentukan hasil pendidikan yang akan dicapainya.
Jadi, Pancasila menjadi filsafat pendidikan Pancasila berkenaan dengan kepastian
mekanisme penyerapan kristalisasi nilai yang menjadi harapan masyarakat,
kemudian dirumuskan menjadi tujuan pendidikan sehingga arah dan landasan
pendidikan nasional Indonesia yang bersifat filosofis, yaitu filsafat pendidikan
Pancasila. ***