Anda di halaman 1dari 18

Laboratorium Mekanika Tanah

Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik


Universitas Indonesia
Anggota Kelompok

: 1.Rohana Carolyne P / 1406577404


2. Rhefa Fauza S / 1406577511
3. Hafsah Afifah T. /

Kelompok

: L 10 / Shift 16

Hari/Tanggal Praktikum : Minggu, 9 Oktober 2016


Judul Praktikum

: Hydrometer

Nama Asisten

: Feny Yuzanda

Nilai

Paraf

MODUL 3
A. STANDAR ACUAN DAN REFERENSI
ASTM D 421 "Standard Practice for Dry Preparation of Soil Samples for
Particle-Size Analysis and Determination of Soil Constants"
ASTM D 422 "Standard Test Method for Particle-Size Analysis of Soils"
AASHTO T 88 "Standard method of test for particle size analysis of soils"
SNI 3423:2008 Cara uji analisis ukuran butir tanah"
B.

TUJUAN
Menentukan distribusi dari butiran tanah yang memiliki diameter yang lebih
kecil dari 0.074 mm (lolos saringan No. 200 ASTM) dengan cara pengendapan
(hydrometer analysis).

C. DASAR TEORI
Praktikum ini didasarkan pada hubungan antara kecepatan jatuh dari suatu
butiran di dalam suatu larutan, diameter butiran, berat jenis butiran, berat jenis
larutan dan kepekaan larutan tersebut. Hubungan tersebut dapat dijabarkan oleh
hukum Stokes sebagai:
2 D 2
v= s w
9
2

( )

Menjadi

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
D=2

9. . v
2 s w

Dengan :
V
= kecepatan jatuh dari butiran (cm/s)
s = berat jenis butiran (gr/cm3)
w

= berat jenis larutan (gr/cm3)


= kepekatan larutan (dyne.s/cm2)
= diameter butiran (cm)

Batasan dari Hukum Stokes:

Hukum ini hanya berlaku jika: 0.0002 mm < D < 0.2 mm.
Butiran yang lebih besar dari 0.2 mm akan menyebabkan turbulensi pada
larutan, sedangkan butiran yang lebih dari 0.0002 mm cenderungakan
melakukan gerak Brown (hal ini dipengaruhi oleh gaya tarik dantolak antar

partikel).
Jumlah sampel yang dipergunakan harus jauh lebih sedikit dari pada
butiran yang dipakai (5 %) ini dilakukan agar tidak terjadi interferensi
selama pengendapan berlangsung. Menurut Bowles, hydrometer tipe152
H dikalibrasi untuk suspensi larutan yang mengandung 60 gramdalam

1000 ml air.
Butiran tanah diasumsikan bundar, walaupun asumsi ini tidak 100 %
benar. Tanahtanah yang akan dipakai harus diuraikan dengan bahan
dispersi berikut:
untuk tanah yang bersifat alkali/basa diberi sodium metafosfat
(NaPO3) dengan nama dagang Calgon.
untuk tanah yang bersifat asam diberi sodium silikat (Na2SiO3)dengan
nama dagang WaterGlass.

Kecepatan jatuh butiran:


v=

L=L1 +0,5

L
t

L2V b
A

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Dengan :
V

= kecepatan jatuh butiran

= tinggi jatuh butiran

= waktu

Vb

= volume Bulb Hydrometer

= luas penampang Hydrometer

L1

= dapat diliha pada tabel 3.5 sesuai dengan pembacaan hydrometer tipe 152 H
dan dikoreksi terhadap miniskus

Untuk yang sudah dikoreksi :


Rc = Raktual + zero correction
+ CT

Dengan :
CT

= koreksi terhadap temperatur yang dapat dilihat pada tabel 3.3

Untuk GS = 2,65 rumus yang digunakan :


%finer=

Rc
x 100
Ws

Sedangkan untuk Gs 2,65


%finer=

Rc x a
x 100
Ws

Dimana
a=

GS .1,65
( G S1 ) 2,65

Atau harga a dapat dilihat dalam tabel 3.2

Untuk memudahkan perhitungan :

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
D=

30.
L
( GsG w ) 980 t

Menjadi
D=K

L
t

Keterangan
-

satuan dalam L (cm) dan t (menit)


koefisien K dapat dilihat pada tabel 3.2

Setelah % finer dan D yang saling terkait telah dihitun, makan didapatkan suatu grafik
distribusi butiran. Dari grafik ini akan didapat D10,D30, dan D60
-

D10
= diameter yang koresponding dengan lolosnya butiran sebanyak 10%
(%finer = 10%)
D30
= diameter yang koresponding dengan lolosnya butiran sebanyak 30%
(% finer = 30%)
D60
= diameter yang koresponding dengan lolosnya butiran sebanyak 60%
(%finer = 60%)

Sehingga koefisien keseragaman (Cu) kita bisa dapatkan dengan rumus


Cu =

D60
D10

Definisi koefisien keseragaman untuk beberapa nilai :


CU = 1 , tanah yang hanya memiliki satu ukuran butiran
2 < Cu < 3 , tanah yang gradasinya sangat buruk
Cu > 15 , tanah bergradasi baik

Selain itu koefisien curvature (kelengkungan) Cc kita bisa dapatkan dengan rumus
D 302
C c=
D10 x D 60
1< Cc < 3, dapat dianggarp suatu range untuk tanah yang bergradasi bagik.

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Berikut merupakan tabel yang digunakan pada perhitungan analisis butiran metode
hidrometer. Semua tabel (3.1 3.5) bersumber dari Engineering Propoerties of Soil
and Their Measurement (Bowles,2001)

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

TEORI TAMBAHAN
Analisa

ukuran

butiran

adalah

percobaan

yang

digunakan

untuk

menentukandistribusi butir individu dalam sampel yang dinyatakan dalam persen berat
sampel menggunakan pembacaan dari hidrometer. Hasil pengujian paling berguna
untuk klasifikasi tanah sedangkan untuk gradasi kurang dianjurkan. Ditunjukan dari
beberapa percobaan bahwa semakin besar partikel tanah semakin baik sifat-sifat teknis
tanah tesebut. Hasil analisa dari ukuran butir digunakan untuk perancangan dan
pengendalian campuran tanah pada stabilisasi tanah.
D. PERALATAN
a. Alat

Hydrometer (Tipe 152 H)

Hydrometer jar (1000 ml)

Gelas ukur

Stopwatch

Pengaduk mekanis (mixer)

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Oven

Temometer

Gelas Belimbing

Saringan No.200 ASTM

Timbangan (ketelitian 0,01 gram)

b. Bahan

Sampel tanah lolos saringan No.4 ASTM, masing-masing 50 gram


(untuk 3 sampel)

E.

Laurat pendispersi 4% (water glass)

PROSEDUR
a. Persiapan
1. Menyiapkan sampel tanah sebanyak 50 gr kering oven dan diberi
wadah gelas belimbing
2. Menimbang

40

gram

waterglass

sebagai

bahan

pendispersi,

memasukannya ke dalam mixer cup, tambahkan air sampai 2/3 mixer


cup, kemudian tambahkan air suling sampai 2/3 tinggi mixer cup.
Setelah itu, menyalakan alat pengduk selama 10 menit.
3. Tuang larutan pendispersi ke dalam gelas ukur 1000ml. Kemudian
tambahkana air suling sampai 1000 ml. Kemudian tutup gelas ukur
tersebut dengan karet penutup, lalu goyangkan secara horizontal
selama 3 menit.
4. Tuangkan 125 ml larutan pendispersi yang telang dicampur air suling
tersebut ke dalam gelas belimbing berisi tanah. Diamkan 18 jam
5. Tuangkan sisa larutan pendispersi ke hydrometer jar 1000ml.
Campurkan dengan air suling sampai batas tera. Tabung ini berfungsi
sebagai tabung kontrol
b. Jalannya praktikum
1. Memeriksa koreski minikus dan koreksi nol pada alat hydrometer type 152
H dengan memasukannya ke tabung kontrol

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
2. Memasukan campuran tanah yang telah direndam larutan pendispersi
selama 18 jam ke dalam mixer cup lalu tambahkaan air suling sampai
2/3 tinggi mixer cup. Kemudian aduk selama 10 menit
3. Memindahkan campuran dari mixer cup tersebut ke dalam hydrometer jar
lalu tambahkan air suling sampai 1000 ml
4. Menutup tabung dengan karet penutup dan mengocoknya secara horizontal
selama 3 menit
5. Menyalakan stopwatch dan menghitung durasi waktu sesaat tabung
diletakan.
6. Memasukan hydrometer type 152 H dan membacanya pada menit ke 1, 2
dan 4, baca angka yang ditunjukan. Kemudian angkat hydrometer type
152.
7. Melakukan pembacaan kembali pada menit ke 8, 15, 30, 60, 120 dan 1440.
Memasukan hydometer type 152 setiap 1 menit sebelum pembacaan,
setelah melakukan pembacaan dikeluarkan dan dimasukan ke dalam
tabung kontrol.
F.

DATA PRAKTIKUM
Berat Sampel Kering + Kontainer
Berat Kontainer
Berat Sampel Kering
Waktu
1
2
4
8
15
30
60
120
240
1440

F.

PENGOLAHAN DATA

12,98 gr
9,28 gr
3,70 gr

Temperatur
29
29
29
29
29
29
29
30
30
29

Ra
19
17
16
14
13
12
11
8
7
5

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Mencari nilai Rc
Rc =Ractual zero correction+C
Menit
1

Perhitungan
Rc =190,5+3,05

Hasil
21,55

Rc =170,5+3,05

19,55

Rc =160,5+3,05

18,55

Rc =140,5+3,05

16,55

15

Rc =130,5+3,05

15,55

30

Rc =120,5+3,05

14,55

60

Rc =110,5+3,05

13,55

120

Rc =80,5+3,8

11,3

240

Rc =70,5+3,8

10,3

1440

Rc =50,5+3,05

7,55

Mencari nilai yang tidak ada di tabel 3.2 dengan cara interpolasi
xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1
2,732,70
y0,99
=
2,752,70 0,980,99
=0,984

Mencari % Finer
Finer =
Menit
1
2

Rc x
x 100
Ws
Perhitungan
21,55 x 0,984
Finer =
x 100
50

Hasil
43,410

19,55 x 0,984
x 100
50

38,474

Finer =

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Finer =

18,55 x 0,984
x 100
50

36,506

Finer =

16,55 x 0,984
x 100
50

32,570

15

Finer =

15,55 x 0,984
x 100
50

30,602

Finer =

14,55 x 0,984
x 100
50

28,634

Finer =

13,55 x 0,984
x 100
50

26,666

Finer =

11,3 x 0,984
x 100
50

22,238

Finer =

10,3 x 0,984
x 100
50

20,270

Finer =

7,55 x 1,004
x 100
50

14,858

30

60

120

240
1440

Mencari nilai L dengan cara interpolasi


xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1

xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1

19,518
y13,3
=
1918 13,213,3

17,516
y13,7
=
1716 13,513,7

R=13,15

R=13,4

xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1

xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
16,515
y13,8
=
1615 13,713,8

14,513 y14,2
=
1413 1414,2

R=13,65

R=13,9

xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1
13,512
y 14,3
=
1312 14,214,3

xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1
12,511
y14,5
=
1211 14,314,5
R=14,2

R=14,15

xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1

xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1

11,510
y14,7
=
1110 14,514,7

8,57 y15,2
=
87 1515,2

R=14,4

R=14,9

xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1

xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1

7,56
y15,3
=
76 15,215,3

5,54
y15,6
=
54 15,515,6

R=15,15

R=15,45

Mencari nilai K yang tidak ada di tabel 3.4 dengan cara interpolasi
Temperatur 290 C
xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1

Temperatur 300 C
xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
2,632,60
y0,0125
=
2,652,60 0,01230,0125
K=0,01238

2,632,60
y0,0124
=
2,652,60 0,01220,0124
K=0,01228

Mencari nilai D
D=K

Menit
1

2
4
8
15
30
60
120
240
1440

L
t

Perhitungan
13,15
D=0,01238
1

Hasil
0,00448

D=0,01238

13,4
2

0,0320

D=0,01238

13,65
4

0,0228

D=0,01238

13,9
8

0,0163

D=0,01238

14,15
8

0,0120

D=0,01238

14,2
30

0,0085

D=0,01238

14,4
15

0,0060

D=0,01228

14,9
120

0,0043

D=0,01228

15,15
240

0,0030

15,45
1440

0,0012

D=0,01238

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Grafik hubungan antara presentasi finer dan diameter butiran


0

f(x) = 7.72 ln(x) + 65.3 ANTARA %FINER


GRAFIK
HUBUNGAN
0.1
0
R = Diemeter
0.99 0.01(mm)
Logarithmic ()
DENGAN DIAMETER

%Finer

G.

ANALISIS

a. Analisis Percobaan
Percobaan Hydrometer merupakan percobaan yang memiliki tujuan yaitu
menentukan distribusi dari butiran tanah yang memiliki diameter yang lebih
kecil dari 0.074 mm (lolos saringan No. 200 ASTM) dengan cara pengendapan.
Tahap pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan tanah lolos
saringan No.4 ASTM sebanyak 50 gram yang sudah dioven serta didiamkan
selama kurang lebih 18 jam dan laurtan pendispersi. Larutan pendispersi
merupakan larutan yang digunakan untuk menetralkan kondisi sampel tanah.
Larutan pendispersi dibuat dengan water glass. Water glass dipilih karena
kondisi tanah di Fakultas Teknik berada pada kondisi asam. Larutan water glass
yang digunakan yaitu sebesar 40 gram, dimana ini mewakili 4% dari water
glass. Kemudian water glass tersebut dimasukan ke mixer cup dengan
mencampurnya dengan air suling sampai 2/3 tinggi mixer cup sebelum diaduk
oleh alat pengaduk. Tujuan dari pengadukan adalah untuk menghomogenkan
water glass tersebut dengan air suling. Aduk selama 10 menit.
Setelah dilakukan pengadukan, larutan tersebut dimasukan ke hydrometer
jar kemudian ditambahkan air suling sampai 1000 ml. Kemudian menutupnya
dengan penutup karet dan dikocok selama kurang lebih 3 menit. Sebanyak 125
ml larutan akan dicampur dengan tanah, sedangkan sisa dari larutan dispersi
tersebut kemudian menjadi tabung kontrol. Catat koreksi nol dan koreksi
miniskus pada keesokan harinya.
Campuran tanah dan larutan pendispersi tersebut dimasukan ke dalam mixer
cup dan gelas belimbing tersebut dibersihkan oleh air suling sehingga tidak ada
tanah yang tersisa di dalam gelas melainkan masuk ke dalam mixer cup. Setelah
dimasukan ke dalam mixer cup, dilakukan penambahan air suling sampai 2/3

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
tinggi mixer cup. Kemudan aduk campuran tanah dan air suling tersebut selama
10 menit dengan alat pengaduk.
Setelah dialakukan pengadukan dengan alat pengaduk, campuran tersebut
dimasukan ke dalam hydrometer jar sembari memastikan tidak ada tanah yang
tersisa di dalam mixer cup dengan dilakukan pembersihan oleh air suling.
Hydrometer jar kemudian ditambahkan air suling hingga 1000 ml, ditutup
dengan penutup karet dan dikocok secara horizontal selama kurang lebih 3 menit
agar homogen. Setelah tabung diletakan di atas meja, memulai perhitungan
waktu karena tanah sudah mulai mengendap.
Catat pembacaan pada hydrometer dan temperatur pada menit ke 1,2 dan 4,
jangan angkat hydrometer pada waktu tersebut. Temperatur dibaca pada tabung
kontrol. Kemudian lakukan pembacaan kembali pada menit ke 8,15,30,60 dan
120, 240 dan 1440, namun letakan hidrometer setiap satu menit sebelum
pembacaan. Setelah semua pembacaan telah dilakukan, saring larutan tersebut
dengan saringan No.200 ASTM. Lakukan penggosokam pada permukaan
saringan agar seluruh tanah yang lebih kecil dari 0,074 mm. Sisa tanah ini akan
kemudian digunakan untuk percobaan Sieve Analysis.

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

b. Analisis Hasil
Dari praktikum Hydrometer akan didapatkan data koreksi nol. koreksi
miniskus, pembacaan temperatur, dan pembacaan hydrometer. Besarnya koreksi
nol dan koreksi miniskus yaitu berturut turut 0 dan 0,5. Dari pembacaan
hydrometer didapatkan nilai yang terus menurun, hal ini disebabkan dari partikel
yang mengendap.
Specific Gravity yang didapatkan yaitu sebesar 2,73. Dimana jika dilihat
angka Gs tersebut cenderung besar sehingga partikel tanahnya besar dan
menyebabkan cepatnya proses pengendapan.
Dari pengolahan data yang ada, dapat dilihat bahwa semakin lama waktu
pengendapan semakin kecil besar diameter tanah yang ada karena partikel
besarnya sudah mengendap dan hanya partikel kecilnya yang tersuspensi.
Dalam grafik hubungan antara diameter butiran dan presentase finer ini,
nilai Y adalah presentasi finer dan X nilai logaritma dari diameter butiran.

50
GRAFIK
HUBUNGAN ANTARA %FINER
40
f(x) = 7.72 ln(x) + 65.3
DENGAN DIAMETER
30 R = 0.99

%Finer

20
10

0
0.1

Logarithmic ()
0.01

Diemeter (mm)

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
c. Analisis Kesalahan
Dari praktikum Hyrdrometer ini didapatkan beberapa kesalahan yang dialami
selama praktikum dan berpotensi mempengaruhi data yang ada. Beberapa
kesalahan yang ada yaitu :
- Batuan yang masih tersangkut
- Sisa tanah yang masih bersisa di alat pengaduk/ gelas belimbing/ mixer cup
- Laurutan yang tumpah pada saat pengocokan
- Pengocokan yang tidak dilakukan secara sempurna
H.

APLIKASI
Pada perancangan pembangunan, hasil dari percobaan praktikum hidrometer

sangatlah berguna. Hasil dari percobaan hidrometer digunakan untuk menentukan


distribusi butir individu dalam sampel tanah. Hasil pengujian yang paling berguna
merupakan klasifikasi tanah.
I.

KESIMPULAN

Semakin lama waktu pengendapan, presentase finer dan diameternya


semakin kecil

Nilai Gs yang besar menyatakan bahwa partikel tanah sampel besar dan
menyebabkan pengendapan semakin cepat

Aplikasi dari percobaan ini adalah untuk menentukan distribusi tanag yang
dapat dijadikan acuan untuk klasifikasi tanah

J.

REFERENSI
Pedoman Penyelidikan dan Pengujian Tanah Dasar untuk Pekerjaan Jalan. 2006.
Pedoman Konstruksi Bangunan. Departemen Pekerjaan Umum Direktorat
Jendral Bina Marga
DTS UI. 2016. Pedoman Praktikum Meknaika Tanah. Jakarta

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

K.

LAMPIRAN

Gambar 1. Proses pengadukan tanah, larutan


pendispersi dan air suling

Gambar 2. Proses pemindahan hasil pengadukan ke


hydrometer jar

Gambar 3. Tabung Kontrol dan Hydrometer