Anda di halaman 1dari 17

Blok Elektif

LAPORAN KASUS
PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PENYALAHGUNAAN NAPZA

FAKULTAS
KEDOKTERAN
Disusun Oleh:
Darayani Amalia
1102013070
BIDANG KEPEMINATAN DRUG ABUSE KELOMPOK 3

Tutor:
dr. Citra Fitri Agustina, Sp.KJ

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2016/2017
ABSTRAK

Pendahuluan : Pengawasan dan pola pengasuhan yang buruk dari orang tua serta pergaulan yang bebas di
dalam lingkungan menyebabkan seorang anak semakin mudah untuk dipengaruhi oleh penyalahgunaan NAPZA
(narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya).
Laporan Kasus: Tn. R 23 tahun, mengkonsumsi NAPZA sejak tahun 2008. Zat yang digunakan adalah
cannabinoid (ganja) dan shabu. Faktor pertama kali mengkonsumsi NAPZA karena stress dengan masalah
pada keluarganya.
Diskusi: Pola asuh orang tua merupakan gambaran tentang sikap dan perilaku orang tua dan anak dalam
berinteraksi dan berkomunikasi selama mengadakan kegiatan pengasuhan anak. Anak yang dibesarkan oleh
orang tua yang tidak menjalankan pola asuh yang benar, maka risiko gangguan perkembangan jiwa/kepribadian
anak menjadi lebih besar dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang benar, sehingga
anak menjadi lebih mudah dipengaruhi oleh NAPZA.
Kesimpulan: Pola asuh penelantar berpengaruh terhadap penyalahgunaan NAPZA, diperlukan edukasi bagi
para orang tua dalam mengasuh anak agar tercipta rasa saling memahami keluhan, keinginan, dan tanggung
jawab.
Kata Kunci: Pola asuh, NAPZA, pengaruh pola asuh
ABSTRACT
Introduction: Poor surveillance and parenting by parents as well as free social intercourse in the environment
cause a child to more easily affected by drug abuse
Case Report: Mr. R 23 years, consuming drugs since 2008. The substances that used are cannabinoid
(cannabis) and methamphetamine. The reason why he consumed drugs because of stress due to family issues.
Disccusion: Parenting is an overview of the attitudes and behavior of parents and children to interact and
communicate during the activities of child care. Children who raised by parents that did not perform a right
parenting, can risk the mental development disorders / child's personality becomes greater than children who
grew up with the right parenting, so that children become more easily influenced by the drugs.
Conclusion:Neglectful parenting effected to substance abuse, parents need an education for a right parenting in
order to create mutual understanding complaints, desires, and responsibilities.
Keywords:Parenting, drug abuse, influece parenting

PENDAHULUAN
Penyalahgunaan dalam penggunaan napza adalah pemakain obat-obatan atau zat-zat
berbahaya dengan tujuan bukan untuk pengobatan dan penelitian serta digunakan tanpa
mengikuti aturan atau dosis yang benar. Dalam kondisi yang cukup wajar atau sesuai dosis
yang dianjurkan dalam dunia kedokteran saja, penggunaan napza secara terus-menerus akan
mengakibatkan ketergantungan, depedensi, adiksi atau kecanduan. Penyalahgunaan napza
juga berpengaruh pada tubuh dan mental-emosional para pemakaianya. Jika semakin sering
dikonsumsi, apalagi dalam jumlah berlebih maka akan merusak kesehatan tubuh, kejiwaan
dan fungsi sosial di dalam masyarakat. (BNN-RI Advokasi pencegahan penggunaan napza,
2005)
Pengertian Napza menurut World Health Organization (WHO) (2013) adalah semua
zat padat, cair, maupun gas yang dimasukkan kedalam tubuh yang dapat merusak fungsi dan
struktur tubuh maupun fisik dan psikis tidak termasuk makanan, air, dan oksigen dibutuhkan
untuk mempertahankan fungsi tubuh normal. Menurut BNN (2005), yang dimaksud dengan
obat-obatan terlarang adalah zat-zat yang apabila dimasukan kedalam tubuh manusia, makan
akan mengadakan perubahan pada satu atau lebih fungsi-fungsi organ tubuh.
Menurut Undang-Undang No.22 Tahun 1997 pasal 1 ayat 1 tentang narkotika, yang
dimaksud dengan narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintesis ataupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan
dapat menimbulkan ketergantungan. Terdapat beberapa golongan

nasrkotika yang

diklasifikasikan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI.


Pengawasan dan pola pengasuhan yang buruk dari orang tua serta pergaulan yang
bebas didalam lingkungan menyebabkan seorang anak semakin mudah untuk dipengaruhi
oleh penyalahgunaan NAPZA. Faktor-faktor yang menyebabkan keluarga atau orang tua
meninggalkan tanggung jawab dan kewajiban mengasuh anak diantaranya, baik karena
kematian, tidak ketahui keberadaannya, kemiskinan, disharmoni keluarga (perceraian), dan
kesibukan pekerjaan. Bila dilihat dari banyak faktor yang menyebabkan seorang anak
menjadi penyalahgunaan napza dapat dikatakan kondisi keluarga yang tidak sehat
mempunyai pengaruh pada terjadinya penyalahgunaan napza. Kemudian secara sistematis
pola asuh yang diberikan oleh pada orang tua acap kali melakukan kesalahan besar dalma
mengembangkan tanggung jawab pada diri anak, dengan memberikan kebebasan dalam
berbagai hal yang menyimpang, dan perilaku tidak bertanggung jawab pada diri seorang
3

anak, hal ini sebagai bukti bahwa peran orang tua sepenuhnya terlibat dalam hal tersebut
(Balson, 2007).
Kecenderungan anak menggunakan napza tidak dapat dilepaskan dari peran dan
tanggung jawab orang tua. Pola asuh keluarga mempunyai peranan pada maraknya
penyalahgunaan napza yang saat ini yang semakin meningkat, sementara yang menjadi
sasaran utama dalam peredaran napza adalah para remaja yang memasuki usia sekolah dari
jenjang SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian besar
penyalahgunaan merupakan para remaja yang merupakan modal bangsa yang tidak ternilai
harganya. Selain itu, karena remaja hidup di dalam suatu kelompok individu yang disebut
keluarga, salah satu aspek penting yang dapat mempengaruhi perilaku remaja adalah interaksi
antar anggota keluarga.
Harmonis-tidaknya, intensif-tidaknya interaksi antar anggota keluarga akan
mempengaruhi perkembangan sosial remaja yang ada di dalam keluarga tersebut. Sebagai
individu yang sedang mencari jati diri, remaja berada pada situasi psikologis antara ingin
melepaskan diri dari orang tua dan perasaan masih belum mampu untuk mandiri, oleh karena
itu, pada umumnya remaja sering mengalami kebingungan karena sering terjadi pertentangan
pendapat antara mereka dengan orang tua. (Ali & Asrori, 2013)
Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk mengetahui faktor pola asuh pada
penyalahgunaan NAPZA di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur. Penulisan
ini berdasarkan wawancara dengan salah satu pasien di RSKO Cibubur, Jakarta Timur.

LAPORAN KASUS
Tn. R, 23 tahun, berasal dari Jakarta dengan pendidikan terakhir sarjana komputer.
Pasien belum menikah. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, ia memiliki adik
perempuan yang duduk di bangku SMA. Tn. R sudah menjalani rehabilitasi di RSKO
Cibubur sejak 1 bulan yang lalu.
Menurut Tn. R, ia mulai mengkonsumi Napza berupa ganja pada tahun 2008. Saat itu,
ia duduk di bangku kelas 1 SMA. Ia menggunakan ganja karena tengah merasa tertekan di
keluarganya. Kedua orangtuanya kerap berselisih. Tn. R mendapatkan efek yang
menyenangkan setelah konsumsi ganja seperti relaksasi. Tn. R kemudian menjadi pengguna
ganja secara rutin dan selalu membeli dari temannya. Ia menghabiskan sekitar tigabelas lintig
dalam satu hari. Jika ia kehabisaan uang untuk membeli ganja, ia membohongi orang tuanya
meminta uang dengan berbagai alasan dan selalu diberikan oleh ibunya.
Pada tahun 2010 Tn. R mencoba ingin berhenti mengkonsumsi Napza dengan alasan
mempunyai pacar. Ia sempat berhenti konsumsi ganja selama setahun namun akhirnya
kembali menggunakan Napza setelah berpisah dengan pacarnya
Sewaktu lulus SMA tahun 2011, orangtua Tn. R mendapati dirinya sedang
menggunakan ganja bersama teman-temannya di rumah temannya. Orangtua Tn. R
membawanya ke pusat rehabilitasi mental di Cipayung. Ia menjalani rehabilitasi di tempat
tersebut selama 3 bulan. Tn. R sempat mencoba melarikan diri dari pusat rehabilitasi dengan
cara keluar lewat jendela dan pulang ke rumah. Ia mengadu kepada orang tuanya bahwa di
pusat rehabilitasi tersebut ia digabung dengan pasien jiwa sehingga tidak nyaman. Orang
tuanya malah mengembalikan Tn. R ke pusat rehabilitasi tersebut.
Setelah keluar dari pusat rehabilitasi di Cipayung Tn. R diasingkan ke Kalimantan
oleh orang tuanya untuk tinggal bersama saudaranya dengan alasan menghindari temantemannya sesama pecandu di Jakarta. Tn. R tinggal di Kalimantan selama 6 bulan namun ia
tetap mendapatkan akses untuk mendapatkan ganja di Kalimantan. Tn. R kembali ke Jakarta
untuk melanjutkan pendidikannya.
Selama kuliah, Tn. R masih menggunakan ganja. Pada tahun 2012 Tn. R pertama kali
mengenal metamfetamin (shabu). Ia menggunakan shabu pertama kali dengan alasan
saat itu ia ingin membeli ganja namun penjualnya bilang sedang tidak ada stok dan hanya ada
shabu. Ia mulai menggunakan shabu, dengan frekuensi dua kali dalam seminggu, dengan
5

dosis seperempat gram setiap kali konsumsi. Ia mengatakan bahwa efek yang didapatkannya
adalah menjadi lebih aktif, tidak perlu tidur, dan ingin bergerak terus. Meskipun mendapat
efek yang menyenangkan, Tn. R lebih menyukai ganja dibanding shabu.
Tn. R menyelesaikan kuliahnya pada awal tahun 2016. Tiga hari setelah wisuda,
orangtuanya berkoordinasi dengan RSKO untuk menjemput paksa dan membawanya ke
RSKO. Pada saat penjemputan tersebut, Tn. R sedang menggunakan ganja di rumahnya yang
berada di komplek tentara. Ia tidak mengira sebelumnya bahwa akan ada polisi memasuki
perumahan tentara. Ia bercerita bahwa ia ditangkap dengan cara diborgol lalu diberikan
injeksi kemudian ia tertidur selama 14 jam. Sehari kemudian ia sempat mengaku ingin kabur
dengan cara memanjat pagar namun sudah terlanjur tertangkap. Tn. R mengaku terakhir ia
menggunakan ganja 3 minggu yang lalu di RSKO karena masih ada sisa pada kantong
celananya.
Tn. R berharap setelah ia keluar dari RSKO ia ingin mencari pekerjaan dengan modal
sarjana komputernya dan mempunyai keluarga. Ia mengatakan masih ada perasaan kurang
percaya diri akan mendapatkan pekerjaan karena ia merasa ilmu yang ia peroleh selama
kuliahnya sudah tidak ada yang diingat.
Masalah keluarga yang dialami pasien adalah ketidakharmonisan ia dengan ayahnya
sejak ia di bangku SMA. Pasien kerap berselisih dengan ayahnya karena ayahnya
berselingkuh. Sejak kejadian tersebut orang tua pasien jarang berada di rumah dan jarang
dipedulikan oleh orang tuanya, oleh karena itu pasien lebih menemukan kenyamanan dengan
teman-temannya. Sampai saat ini ia masih berselisih dengan ayahnya ditambah lagi sejak ia
masuk rehabilitasi. Pasien berkata bahwa ayahnya sangat kecewa olehnya.

DISKUSI
Pola asuh pada anak dipercaya memiliki dampak terhadap perkembangan individu.
Dalam memahami dampak pola asuh orang tua terhadap perkembangan anak pada awalnya
terdapat dua aliran yang dominan yaitu psikoanalitik dan belajar sosial (social learnig)
(Lestari, 2002)
Menurut Hawari (2008) bahwa seseorang akan terlibat penyalahgunaan napza sampai
pada ketergantungan napza, apabila seseorang cenderung menyalahgunakan napza, yaitu
faktor predisposisi, faktor kontribusi, dan faktor pencetus. Hubungan antara orang tua dan
anak, kesibukan orang tua dan keutuhan keluarga termasuk dalam faktor kontribusi.
Faktor-Faktor Penyebab Penyalahgunaan Napza
Menurut Hawkins dkk (Buletin Psikologi, 1998) beberapa faktor utama yang
dipandang berpengaruh terhadap penyalahgunaan Napza adalah: faktor internal dari individu
(ciri kepribadian), faktor keluarga, dan faktor teman sebaya.
a. Faktor internal (ciri kepribadian): Pola kepribadian seseorang besar
pengaruhnya dalam penyalahgunaan Napza. Ciri kepribadian yang lemah dan
antisosial sering merupakan penyebab seseorang menjadi penyalahguna
Napza.
b. Faktor keluarga
Beberapa kondisi keluarga yang berpengaruh terhadap penyalahgunaan Napza
adalah:
1) Hubungan antara anggota keluarga tidak harmonis.
2) Keluarga yang tidak utuh.
3) Suasana rumah diwarnai dengan pertengkaran yang terus menerus.
4) Kurang komunikasi dan kasih sayang antara anggota keluarga.
5) Keluarga yang sering ribut dan berselisih.
6) Keluarga yang kurang mengamalkan hidup beragama.
7) Keluarga yang orang tuanya telah menggunakan Napza.
Menurut Sayuti (2006) keluarga sebagai lingkungan yang paling
menentukan bagi terbentuknya perilaku remaja. Jika di dalam keluarga
terdapat hubungan yang tidak harmonis, tingkat pendidikan yang rendah, rasa
dan praktek keagamaan lemah, maka secara langsung atau tidak langsung
maka akan memberikan pengaruh bagi kehidupan dan perilaku anaknya,
terutama yang masih dalam usia remaja, karena di saat anak memasuki usia
remaja, perkembangan emosinya masih labil, berperilaku ragu, sering uring7

uringan, dan kecenderungan meniru gaya dan perilaku keluarga. Oleh


karenanya, jika lingkungan keluarga tidak dapat memberikan contoh yang
baik, maka lambat laun anak atau remaja akan mencari kepuasan di luar atau
remaja akan mencari kepuasan di luar dan bisa menjerumuskannya ke dalam
penyalahgunaan Napza.
c. Faktor lingkungan teman sebaya
Pengaruh buruk dari lingkungan pergaulan, khususnya pengaruh dan
tekanan dari kelompok teman sebaya sering menjadi sumber penyebab
terjadinya penyalahgunaan Napza. Kelompok teman sebaya tersebut berperan
sebagai media awal perkenalan Napza Menurut Hawkins dkk (dalam Buletin
Psikologi 1998). Penyalahgunaan Napza pada kelompok teman sebaya
merupakan prediktor yang kuat terhadap penyalahgunaan Napza pada remaja.
Jenis Pola Asuh
Orang tua sebaiknya bersikap tidak menghukum maupun bersikap menjauh terhadap
remajanya, namun orang tua sebaiknya mengembangkan aturan-aturan dan hangat terhadap
mereka. Terdapat empat tipe pengasuhan orang tua yang dikaitkan dengan aspek-aspek yang
berbeda dari perkembangan sosioemosional (socioemotional development) pada anak dan
remaja:
a. Pengasuhan Otoriter (authoritarian parenting)
Adalah model pengasuhan orang tua yang cenderung menetapkan standar
yang mutlak harus dituruti, biasanya diiringi dengan ancaman-ancaman.
Dalam pola asuh ini, orang tua cenderung memaksa, memerintah,
menghukum, apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh
orang tua, maka tidak segan untuk memberikan hukuman terhadap anak.
Orang tua tipe ini tidak mengenal kompromi dan dalam berkomunikasi
biasanya bersifat satu arah. Unsur kepatuhan dan ketaatan anak terhadap
peraturan orang tua dalam pengasuhan ini sangat tinggi, ketaatan dan
kepatuhan terhadap nilai budaya, nilai agama, adat istiadat serta norma, moral
yang berlaku di dalam masyarakat dianggap sebagai keberhasilan pendidikan
orang tua terhadap anaknya, tanpa memperhatikan apakah anaknya suka atau
tidak. Pada pengasuhan ini orang tua sering menggunakan kekuatan fisik,
ancaman, yang berupa sanksi untuk mendapatkan kepatuhan anak terhadap
aturan orang tua.
b. Pengasuhan Demokratis (authoritative parenting)
8

Adalah model pengasuhan orang tua yang memprioritaskan kepentingan anak,


akan tetapi tidak ragu mengandalikan mereka. Orang tua dengan pengasuhan
seperti ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau
pemikiran-pemikirn. Orang tua tipe ini juga bersikap realitis terhadap
kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampauai
kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan terhadap
anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya
kepada anak bersifat hangat. Pengasuhan ini memberikan kebebasan pribadi
untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya dengan sempurna bila individu
mampu mengontrol dan mengendalikan diri seta menyesuaikan diri dengan
lingkungan baik keluarga maupun masyarakat. Keaadan ini memberikan
kebebasan pada individu, namun dituntut untuk mengatur dan mengendalikan
serta menyesuaikan diri dan keinginannya dengan tuntutan lingkungan. Perlu
disadari bahwa pengawasan atau kontrol yang ketat harus diimbangi dengan
stimulus positif yang kuat agar individu tidak merasa tertekan dan merasa
dihargai sebagai pribadi yang bebas.
c. Pengasuhan Penelantar (neglectful parenting)
Adalah model pengasuhan orang tua yang membiarkan atau menelantarkan
anak, orang tua sangat tidak peduli dengan kehidupan anaknya. Pengasuhan
ini mengakibatkan anak kurang cakap secara sosial, memiliki kontrol diri yang
lemah, dan kurang mampu mandiri. Mereka juga memiliki harga diri yang
rendak, tidak matang, suka membolos, nakal, dan mungkin diasingkan dari
lingkungan masyarakat. Ketidakpedulian orang tua terhadap kehidupan anak,
juga berdampak pada rendahnya kepatuhan anak terhadap nilai-nilai sosial dan
religius. Pengasuhan ini bila diterapan kedalam keluarga akan menghasilkan
generasi yang tidak tumbuh kesadaran religiusnnya, dan secara mentalpun
mereka tidak sehat. Anak-anak yang dibesarkan dengan cara seperti ini akan
menambah populasi yang buruk, karena mereka cenderaung ingin hidup bebas
dan melakukan apa yang dia mau tanpa ada kontrol dari masyarakat, yang
selanjutkan

tumbuh

menjadi

penyakit

masyarakat

pada

akhirnya

mengakibatkan masalah sosial.


d. Pengasuhan Pemanja (indulgent parenting)
Adalah model pengasuhan orang tua yang menerapkan pengasuhan permisif
atau pemanja, yang biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar
kepada anaknya. Memberikan kesempatan kepada anaknya untuk melakukan
9

sesuatu tanpa adanya pengawasan yang cukup dari orang tua. Para orang tua
cenderung tidak menegur atau memperingatkan apabila anaknya sedang dalam
kondisi menyimpang, sementara sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh
orang tua. Orang tua model seperti ini biasanya bersifat hangat, sehingga
seringkali disukai oleh anak. Pola pengasuhan ini didasari oleh pemahaman
pemikiran psikoanalitis yang memandang bahwa setiap manusia dilahirkan
sudah memiliki kebutuhan dasar pribadi yang menuntut untuk dipenuhi.
Apabila tuntutan kebutuhan dasar dan keinginan anak tidak terpenuhi maka
akan terjadi hambatan, serta timbul penyimpangan dalam proses pertumbuhan
dan perkembangannya (Santrock, 2007).
Faktor-fakto Penyebab Pola Asuh
Seseorang yang berada kondisi keluarga yang tidak baik akan mempengaruhi pola
asuh orang tua terhadap anak, anak akan merasa tertekan dan ketertekanannya itu dapat
merupakan faktor penyerta bagi dirinya. Kondiri keluarga yang tidak baik adalah sebagai
berikut:
a. Hubungan buruk/dingin antara ayah dan ibu
b. Terdapat gangguan fisik atau mental dalam keluarga
c. Cara pendidikan anak yang berbeda oleh kedua orang tua atau oleh kakek dan
nenek
d. Sikap orang tua yang dingin atau acuh tak acuh terhadap anak
e. Sikap orang tua yang kasar dan keras (otoriter) terhadap anak
f. Campur tangan atau perhatian yang berlebih antara orang tua terhadap anak
(intervensi proteksi dan kemanjaa yang berlebihan)
g. Orang tua jarang dirumah, terdapat istri lain atau perselingkuhan diantara
orang tua
h. Sikap atau kontrol yang tidak cukup dan tidak konsisten (berubah-ubah)
i. Kurangnya stimulasi kognitif atau bersosialisasi yang diberikan orang tua,
kemudia

berakibat

pada

kurang

berkembangnya

kematangan

mental/kepribadian (Khawari, 2006).


Fungsi Orang Tua/Keluarga
Menurut Robert Winch fungsi keluarga (orang tua) adalah:
a. Fungsi (nurturance), yaitu dalam pengertian sempit diartikan sebagai fungsi
pemeliharaan seperti memberi makan dan minum, memandikan, dan memberi
pakaian. Dalam arti luas termasuk proses psikologis seperti kepuasan emosional,
kebutuhan akan kata-kata pujian dan belaian kasih sayang atau dengan kata lain
meliputi interaksi emosional yang hangan antara anak dan orang tua.

10

b. Fungsi (control), yaitu didasarkan atas kewajiban dan tanggung jawab orang tua
terhadap kesejahteraan anak. Fungsi ini dilihat sebagai sesuatu yang mendasari
mekanisme sosialisasi pada tingkat laku ana dan menyangkut nilai-nilai yang diyakini
sebagai sesuatu yang penting.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Safaria (2007) mengatakan bahwa
keharmonisan keluarga merupakan salah satu faktor penyebab anak menggunakan NAPZA,
hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sodikin (2016) bahwa terdapat
pengaruh yang signifikan pada pola asuh orang tua terhadap penyalahgunaan NAPZA,
terutama pada jenis pola asuh penelantar (neglectful parenting)
Cannabis Sativa
Ganja/Cannabis adalah zat kimia (delta-9-tetrahydrocannabinol) yang ada di dalam
tumbuhan semi sintesis, yang dapat mempengaruhi hilangnya konsentrasi, peningkatan
denyut jantung, kehilangan keseimbangan dan koordinasi tubuh, rasa gelisah dan panik,
depresi, dan halusinasi serta menimbulkan ketergantungan mental yang diikuti oleh
kecanduan fisik dalam jangka waktu yang lama. (Rauf dkk 2002)
Ketika seseorang merokok ganja, THC dengan cepat melewati paru-paru masuk ke
dalam aliran darah. Darah membawa bahan kimia ke otak dan organ lain di seluruh tubuh.
Tubuh menyerap THC dan pengguna umumnya merasakan efek setelah 30 menit sampai 1
jam. THC bekerja reseptor sel otak tertentu yang biasanya bereaksi terhadap bahan kimia
seperti di otak. Bahan kimia alami seperti THC berperan dalam perkembangan otak normal.
Overaktivits ganja terjadi pada bagian otak yang mengandung jumlah reseptor
tertinggi. Hal ini menyebabkan efek fly yang dirasakan pengguna. Efek lainnya termasuk:
Perubahan panca indra (misalnya melihat warna cerah)
Perubahan rasa
Perubahan orientasi waktu
Perubahan suasana hati
Gerakan tubuh terganggu
Kesulitan berpikir dan memecahkan masalah
Memori terganggu
Keracunan ganja adalah hasil dari sejumlah perubahan otak yang terjadi ketika
menggunakan ganja. Hal ini memberikan perubahan dalam memori jangka pendek, orientasi
waktu, persepsi sensorik, konsentrasi, pemecahan masalah, kefasihan lisan, dan kontrol
psikomotor. Beberapa pengguna melaporkan perasaan positif seperti euforia ringan dan
relaksasi, sementara pengguna lain melaporkan adanya kecemasan, paranoid, dan reaksi
panik. Efek jangka pendek dari ganja berlangsung sekitar 1-4 jam, tergantung pada potensi
ganja, cara pemberian dan toleransi pengguna.
11

Methamphetamine
Ice adalah julukan methampetamin yang berwujud kristal dan tidak berbau serta tidak
berwarna, karena itu diberinama Ice. Penggunaan Ice mengakibatkan ketergantungan
mental pada obat ini dan pemakaian yang lama dapat menyebabkan peradangan pada otot hati
sampai kematian. Ice memiliki efek yang sangat kuat pada jaringan syaraf manusia, efek
yang ditimbulkan oleh penggunaan Ice adalah penurunan berat badan, impotensi, halusinasi,
kerusakan hati dan ginjal, kerusakan jantung serta stroke bahkan kematian (BNN, 2015)
shabu merupakan senyawa turunan dari amphetamine dan ephedrine shabu
menyebabkan peningkatan secara drastis hormo dopamine, serotonin dan noradrenalin dalam
otak dan saraf. Senyawa methaphetamine sebenarnya sudah lama digunakan oleh para dokter
untuk mengobati pasien berpenyakit narcolepsy/ kelainan tidur dan attention deficit
hyperactive disorder.
Bahan dasar methamphetamine berbentuk kristal yang dapat dihisap. shabu
menimbulkan ketergantungan tingkat tinggi. Efek bahaya yang bereaksi lebih cepat di dalam
tubuh. Penggunaan secara kontiyu dapat merusak orang-organ tubuh seperti paru-paru, hati,
dan ginjal. Pada akhirnya, efek yang paling buruk akan menyerang jantung yang bisa memicu
kasus stroke dan gagal jantung yang berujung kepada kematian. shabu dipakai dengan cara
dibakar di atas kertas timah lalu dihisap asapnya menggunakan bong supaya asapnya
disaring terlebih dahulu, ditumbuk lalu disedot melalui hidung, dimakan langsung, atau
dilarutkan ke dalam air lalu disuntik.
Efek dari shabu antara lain:
1. Hilangnya rasa sakit penyakit dan keinginan ntuk tidur
2. Energi yang meningkat seacara drastis
3. Euforia/senang
4. Hilangnya rasa lapar (walaupun tidak semua orang mersakan demikian)
5. Menjadi lebih sensitif terhadap suara, cahaya, dan sentuhan
6. Lebih aktif untuk berkomunikasi
7. Perasaan bulu kuduk/belakang leher yang merinding
8. Paranoid dan serangan panik
Pemakaian jangka panjag dari shabu mengakibatkan:
1. Kerusakan pada fungsi hormon dopamin, serotonin, dan noradrenaline sehingga juga
ikut mengacaukan fungsi keseimbangan hormon lainnya di otak (hypothalamus)
2. Kerusakan paru-paru (terutama bagi yang menghisap asap atau langsung), ginjal dan
liver
3. Penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit
4. Kerusakan di seluruh sistem saraf oto dan kulit yang menyebabkan gemetarn pada
otot terutama di bagian gigi, tangan dan kaki serta munculnya banyak kedut-kedutan
di seluruh tubuh
12

5. Perasaan terdapatnya banyak kutu-kutu yang merayap di kulit sehingga sering


membuat si pecandu menggaruk kulitnya terus-menerus sampai terluka dimana-mana
6. Menjadi lebih beresika terserang stroke dan penyakit jantung
7. Met mouth yaitu kerusakan berat pada gigi yang menyebabkan kehancuran dan
pembusukan gigi oleh karena kondisi mulut yang terus menerus kering dan terjadinya
gesekan-gesekan secara terus menerus pada gigi
Peran Keluarga dalam Pandangan Islam
Di dalam bahasa Arab kata keluarga disebut ahl atau ahila yang berarti keluarga
secara menyeluruh termasuk kakek, nenek, paman, bibi dan keponakan. Dalam pengertian
yang lebih luas, keluarga dalam Islam merupakan satu kesatuan unit yang besar yang
disebut ummah atau komunitas Umat Islam.Keluarga islami bukan sekedar berdiri di atas
kenyataan kemusliman seluruh anggota keluarga.
Di antara surat yang menyimbolkan arti penting tentang peran keluarga dalam
kehidupan sosial adalah surat ketiga, yakni surat Ali Imran (3) yang terdiri atas: 200 ayat,
3,460 kata dan 14,525 huruf. Secara umum dan garis besar, surat Ali Imran memuat perihal:
keimanan, hukum, dan kisah di samping lain-lain. Yang menariknya lagi surat Ali Imran ini
diiringi surat An-Nisa (4), yang mengisyaratkan arti penting bagi kedudukan seorang ibu
khususnya dan kaum wanita pada umumnya dalam hal pembentukan dan pembinaan keluarga
ideal yang disimbolkan dengan Keluarga Imran.
Masih dalam konteks peduli Al-quran terhadap peran keluarga, bisa difahami dari ayat 6
surat At-tahrim yang berbunyi

Artinya :
[66:6] Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,
keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Ayat tersebut pada dasarnya mengingatkan semua kepala keluarga dalam hal ini
Bapak dan atau Ibu bahkan para wali, supaya membangun, membina, memelihara dan atau

13

melindungi semua dan setiap anggota keluarga yang menjadi tanggungannya dari
kemungkinan mara bahaya yang disimbolkan dengan siksaan api neraka. Sebab, dalam
pandangan Islam, berkeluarga itu tidak hanya untuk sebatas dalam kehidupan duniawi; akan
tetapi juga sampai ke kehidupan akhirat.
Indikator lain dari peduli Islam terhadap eksistensi dan peran keluarga dalam
kehidupan sosial kemasyarakatan ialah adanya hukum keluarga Islam yang secara spesifik
mengatur persoalan-persoalan hukum keluarga mulai dari perkawinan, hadhanah (pengasuhan
dan pendidikan anak), sampai kepada hukum kewarisan dan lain-lain yang lazim dikenal
dengan sebutan al-ahwal al-syakhshiyyah, ahkam al-usrah, Islamic family law dan
lainnya. Hukum Keluarga Islam benar-benar mengatur semua dan setiap urusan keluarga
mulai dari hal-hal yang bersifat filosofis dan edukatif, sampai hal-hal yang bersifat akhlaqi
yang teknis operasional sekalipun.
Menurut Abdullah Nashih Ulwan orang tua (perkawinan dalam Islam) memiliki fungsi
sebagai:
a. Melindungi keberlangsungan spesies manusia, sebagai tempat lahirnya generasi baru
dan pemeliharaan serta pendidikan untuk kelestarian dan kesinambungan baik rohani
maupun jasmani.
b. Melindungi keturunan, anak-anak yang dilahirkan dari keluarga yang Islami akan
merasa bangga dengan pertalian nasab yang jelas, sehingga terbebas dari masalah
sosial dan psikologis, berbeda dengan anak yang dilahirkan dari perzinahan akan
cacat secara sosial dan psikologis.
c. Melindungi masyarakat dari dekadensi moral, sehingga akan menimbulkan
ketentraman dengan moralitas yang tinggi dan akhlak yang mulia bagi anak.
d. Kerjasama suami istri dalam mendidik anak, bila suami dan istri menjalankan
tugasnya dengan baik maka akan dihasilkan anak-anak yang shaleh yaitu generasi
Muslim yang didalam hatinya membawa kekuatan iman dan didalam jiwanya
membawa ruh Islmai.
e. Mebumbuh-kembangkan rasa kebapaan dan keibuan, perasaan cinta kasih sayang
suami istri akan memberi sentuhan yang mulia dalam memelihara anak, mengawasi
kemaslahatannya menuju kehidupan yang tentram, bahagia dan aman (Pulungan,
2007).

14

SIMPULAN
Tn. R pasien rehabilitasi di RSKO mulai mengenal dan menggunakan ganja sejak ia
duduk di bangku SMA tahun 2008 yang di dapatkan dari temannya dengan alasan karena
mengalami stress yang dialami akibat masalah dari keluarga dan pada tahun 2012 ia mulai
menggunakan shabu. Tn. R sempat masuk pusat rehabilitasi dan kabur namun tertangkap
kembali.
Faktor yang mempengaruhi seseorang untuk menggunakan NAPZA salah satunya
yaitu pola asuh. Terdapat macam-macam pola asuh yaitu; 1. Pengasuhan otoriter 2.
Pengasuhan demokratis 3. Pengasuhan penelantar dan 4. Pengasuhan pemanja.
Tn. R mengalami frustasi yang diakibatkan karena masalah dari keluarganya ayanh
Tn R berselingkuh dan sejak saat itu kedua orang tuanya jarang berada di rumah dan Tn. R
lebih sering menghabiskan waktunya bersama teman-temannya. Pola asuh yang seperti ini
merupakan tipe pengasuhan penelantar. Pengasuhan penelantar bisa menyebabkan anak
menjadi makin mudah untuk dipengaruhi terhadap penyalagunaan NAPZA karena anak tidak
diawasi oleh orang tuanya, sehingga anak tidak mempunyai batasan dalam pergaulan maupun
untuk mencoba sesuatu yang baru.
Untuk menjalani pola asuh yang tepat pada anak diperlukan edukasi bagi para orang
tua dalam mengasuh anak agar tercipta rasa saling memahami keluhan, keinginan, dan
tanggung jawab. terjalin pengertian, kepedulian, rasa cinta kasih sayang, serta saling menjaga
antara satu sama lain.

15

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Rumah Sakit Ketergantungan Obat,


Cibubur, Jakarta, yang telah memberikan kesempatan untuk mendapatkan wawasan dan
memfasilitasi dalam mengumpulkan informasi untuk menysun laporan kasus ini. Terima
kasih pula kepada seluruh residen RSKO yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi
cerita dan pengalaman kepada kami. Terima kasih kepada para narasumber dan staff RSKO
Cibubur, Jakarta, atas wawasan dan waktu yang diberikan. Terima kasih kepada DR. Drh. Hj.
Titiek Djannatun selaku koordinator penyusun blok elektif, dr. Hj. RW. Susilowati, Mkes
selaku koordinator pelaksana blok elektif, dr. Nasrudin Noor, SPKJ selaku pengampu bidang
kepeminatan Drug Abuse. Terima kasih kepada dr. Citra Fitri Agustina, SpKJ selaku tutor
pembimbing kelompok A-3 kepeminatan Drug Abuse, kepada teman-teman kelompok A-3
dan seluruh teman-teman kepeminatan drug abuse yang telah membantu penyelesaian
laporan kasus ini.

16

DAFTAR PUSTAKA
Ali M & Asrori M. 2013. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Bumi
Aksara
Balson M. 2007. Bagaimana Menjadi Orang Tua Yang Baik. Jakarta: PT bumi Aksara
(Hal.45)
Buletin Psikologi. 1998. Bagaimana Menghindari Diri dari Penyalahgunaan
Napza (tidak diterbitkan). Depok : Universitas Indonesia

Jurnal Online, Laporan Badan Narkotika Nasional, Survei Nasional Perkembangan


Penyalahguna Napza, di download pada tanggal 17 November 2016 dari
http://www.badannarkotikanasional.co.id/
Jurnal Online BNN, Jurnal od Data on The Prevention and Eradicating of Drug Abuse and
Illicit Trafficking, di download pada 17 november 2016 dari http://www.bnn.go.id/
Khawari D. 2008. Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat
Adiktif) Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Lestari S. 2002. Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik Dalam
Keluarga. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Pulungan W. 2007. Kecenderungan Tingkah Laku Prososial Remaja Dihubungkan dengan
Golongan Pekerjaan Ayah dan Pengasuhan dalam Keluarga. Jakarta: Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia (Thesis)
Rauf H.M. dkk. 2002. Dampak Penyalahgunaan Napza Terhadap Remaja dan Kamtibmas.
Jakarta: BP Dharma Bhakti
Santrock J.W. 2007. Remaja, Jilid II, Edisi Kesebelas. Jakarta: Erlangga
Sodikin M. 2016. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Penyalahgunaan Narkoba pada
Remaja di Lapas Kelas II A Narkotika Cipinang Jakarta Timur. Jakarta: UIN
Sudarsono S.H. 2010. Kenakalan Remaja. Jakarta: Rineka Cipta
Tim BNN. 2005. Materi Advokasi Pencegahan Napza. Jakarta: Badan Narkotika Nasional
Republik Indonesia (Hal.7)

17