Anda di halaman 1dari 16

Spesies dalam bahasa latin berarti jenis atau penampakan.

Spesies merupakan unit dasar


untuk memahami biodiversitas. Menurut Waluyo (2005), spesies adalah suatu kelompok
organisme yang hidup bersama di alam bebas, dapat mengadakan perkawinan secara bebas,
dan dapat menghasilkan anak yang fertil dan bervitalitas sama dengan induknya. Menurut
Mayden (1997) dalam Ariyanti (2003) saat ini ada sekurang-kurangnya 22 konsep untuk
mendefinisikan spesies yang semuanya tampak berbeda-beda. Itu artinya bahwa para ahli
mempunyai sikap dan pandangan yang berbeda-beda dalam memahami tentang spesies.
Munculnya keanekaragaman konsep spesies ini dilatarbelakangi oleh dua alasan mendasar.
Alasan pertama adanya perbedaan pemahaman tentang spesiasi yang merupakan proses
munculnya suatu spesies baru. Karena spesiasi bukan hanya menarik perhatian para ahli
evolusi, tetapi juga telah memikat perhatian dari berbagai disiplin bidang biologi lainnya
seperti morfologi, genetika, ekologi, fisiologi, paleontologi, biologi reproduksi, dan biologi
tingkah laku. Alasan kedua adalah karena spesies merupakan hasil dari proses evolusi yang
terus berjalan. Artinya bahwa konsep spesies yang dibuat berdasarkan proses spesiasi yang
masih sebagian berjalan akan berbeda dengan konsep spesies yang dibuat ketika spesies itu
benar-benar sudah sampai pada akhirnya. Selain itu, bermacam konsep spesies muncul karena
tujuan klasifikasi yang berbeda-beda. Seperti misalnya untuk tujuan identifikasi yang
dilakukan oleh ahli taksonomi tumbuhan seringkali digunakan konsep spesies fenetik,
sedangkan untuk mengamati keragaman genetikyang diperlukan dalam bidang konservasi
digunakan konsep spesies biologi.
Ernst Mayr pada tahun 1963 mendefinisikan konsep spesies biologis (Biological Species
Concept/BSC) yang dapat diterima secara luas. Spesies menurut BSC adalah suatu populasi
atau kelompok populasi alami yang secara aktual memiliki potensi dapat saling kawin
(interbreeding) dan menghasilkan keturunan yang dapat hidup fertil, namun tidak dapat
menghasilkan keturunan yang fertil jika kawin dengan spesies lain. Dengan kata lain, suatu
spesies biologis adalah unit populasi terbesar di mana pertukaran genetik mungkin terjadi dan
terisolasi secara genetik dari populasi kelompok lainnya. Konsep ini didasarkan pada dua
pandangan biologis yaitu reproduksi seksual meningkatkan keseragaman dalam gen pool
melalui rekombinasi genetik dan jika dua kelompok populasi itu tidak dapat melakukan
kawin silang maka di sana tidak terjadi aliran gen (gene flow) di dalam lungkang gen (gene
pools). Ketidakmampuan interbreeding (perkawinan) akan memunculkan spesies yang
berasal dari penggabungan bersama pada beberapa waktu berikut setelah kondisi telah
mengalami perubahan. Jadi berdasarkan konsep ini, maka kriteria yang menentukan
keberhasilan reproduksi seksual adalah kemampuan untuk menghasilkan keturunan yang
fertil. Konsep spesies ini tidak berlaku untuk organisme aseksual dan hibridisasi antarspesies.
Campbell (2003) mengemukakan ada beberapa konsep spesies antara lain:
Konsep spesies Biologis mendefinisikan suatu spesies sebagai suatu populasi atau kelompok
populasi yang anggota-anggotanya memiliki kemampua untuk saling mengawini satu sama
lain di alam dan menghasilkan keturunan yang dapat hidup dan fertil jika kawin dengan
spesies lain. Dengan kata lain suatu spesies biologi adalah unit populasi terbesar dimana
pertukaran genetik mungkin terjadi dan terisolasi secara genetik dari populasi lain
semacamnya. Anggota suatu spesies biologis dipersatukan oleh ciri kesesuaian ciri
reproduksi. Semua manusia termasuk ke dalam spesies biologis yang sama. Sebaliknya
manusia dan simpanse tetap merupakan spesies biologis yang sangat jelas berbeda meskipun
hidup di wilayah yang sama karena kedua spesies itu tidak dapat saling mengawini.

Konsep spesies pengenalan menekankan pada adaptasi perkawinan yang telah tetap dalam
suatu populasi. Menurut konsep ini suatu spesies didefinisikan oleh suatu kumpulan sikap
dan ciri unik yang memaksimalkan keberhasilan perkawinan ciri molekuler morfologis
perilaku yang memungkinkan individu untuk mengenali pasangan kawinnya. Konsep ini
cenderung berfokus pada sifat dan ciri yang dipengaruhi oleh seleksi alam dan terbatas hanya
pada spesies yang bereproduksi secara seksual.
Konsep spesies kohesi berfokus pada mekanisme yang mempertahankan spesiesnya sebagai
bentuk fenotip tersendiri. Tergantung pada spesies, mekanisme ini meliputi sawar reproduktif
seleksi penstabilan dan tautan antara kumpulan gen yang membuat zigot berkembang
menjadi organisme dewasa dengan ciri khas yang spesifik. Konsep ini dapat diterapkan pada
organisme yang bereproduksi secara aseksual. Konsep ini juga mengakui bahwa perkawinan
silang diantara beberapa spesies menghasilkan keturunan hibrida yang fertil dan terkadang
hibrida itu berhasil kawin dengan salah satu spesies induknya. Konsep ini menekankan pada
adaptasi yang mempertahankan spesies tetua tetap utuh meskipun ada sedikit aliran gen
diantara mereka. Konsep ini dapat digunakan pada setiap kasus yang melibatkan hibridisasi.
Konsep spesies ekologis mendefinisikan spesies pada tempat dimana mereka hidup dan apa
yang mereka lakukan dan bukan dari penampakan mereka. Suatu spesies ekologis
didefinisikan oleh peranan unik yang dimainkannya atau posisi dan fungsi spesifiknya dalam
lingkungan. Contohnya dua populasi hewan yang tampak identik dapat dikatakan merupakan
dua spesies ekologis yang berbeda jika masing-masing hanya ditemukan dalam jenis
lingkungan spesifik (misalnya kolam air tawar dengan kumpulan keadaan kimia, biologi, dan
fisik yang khas).
Konsep spesies evolusioner mendefinisikan suatu spesies sebagai suatu urutan populasi tetua
dan keturunannya yang berkembang secara bebas dari kelompok lain. Masing-masing spesies
evolusioner memiliki peranan yang unik dan terpisah dalam lingkungan, setiap peran tertentu
melibatkan sekumpulan kekuatan seleksi alam yang spesifik (tekanan selektif). Dengan
demikian populasi yang membentuk suatu spesies dipengaruhi dan disatukan oleh
sekumpulan tekanan selektif yang unik.
Tabel 1. Perbandingan Enam Konsep Spesies
Konsep spesies
Konsep spesies
biologis

Keterangan
Menekankan isolasi reproduktif, yaitu kemampuan
anggota suatu spesies untuk saling mengawini satu
sama lain, tetapi tidak dengan anggota spesies yang lain
Konsep spesies
Menekankan perbedaan anatomi yang dapat terukur
morfologis
antar spesies. Sebagian besar spesies yang diidentifikasi
oleh para ahli taksonomi telah dikelompokkan menjadi
spesies terpisah berdasarkan kriteria morfologi
Konsep spesies
Menekankan proses adaptasi perkawinan yang telah
pengenalan
mantap dalam suatu populasi karena individu
mengenali ciri-ciri tertentu dari pasangan kawin yang
sesuai
Konsep spesies kohesi Menekankan kohesi fenotipe sebagai dasar penyatuan
spesies, dengan masing-masing spesies ditentukan oleh
kompleks gennya yang terpadu dan kumpulan

adaptasinya
Konsep spesies ekologiMenekankan peranan spesies (niche/relung), posisi dan
fungsinya dalam lingkungan.
Konsep spesies
Menekankan pada garis keturunan evolusi dan peranan
evolusioner
ekologis
Selain itu dalam Wikipedia, disebutkan bahwa hanyutan genetic yang merupakan sebuah
proses bebas yang menghasilkan perubahan acak pada frekuensi sifat suatu populasi. Proses
ini mencapai puncaknya dengan menghasilkan spesies yang baru. Dan sebenarnya, kemiripan
antara organisme yang satu dengan organisme yang lain mensugestikan bahwa semua spesies
yang kita kenal berasal dari nenek moyang yang sama melalui proses divergen yang terjadi
secara perlahan ini
Spesiasi adalah pembentukan spesies baru dan berbeda dari spesies sebelumnya dalam
kerangka evolusi. Spesiasi dapat berlangsung cepat, dapat pula berlangsung lama hingga
puluhan juta tahun. Setiap populasi terdiri atas kumpulan individu sejenis (satu spesies) dan
menempati suatu lokasi yang sama. Karena suatu sebab, populasi dapat terpisah dan masingmasing mengembangkan adaptasinya sesuai dengan lingkungan baru. Dalam jangka waktu
yang lama, populasi yang saling terpisah itu masing-masing berkembang menjadi spesies
baru sehingga tidak dapat lagi mengadakan perkawinan yang menghasilkan keturunan fertil.
Terbentuknya spesies baru (spesiasi) dapat diakibatkan oleh adanya isolasi geografi, isolasi
reproduksi, dan perubahan genetika.
Sumber: Erik Perdana Putra & Taufik Taher. Spesiasi. 2011. Makalah. Pendidikan Biologi
PPs UM. Malang

SPECIES DAN SPESIASI a. Konsep Spesies Spesies dalam bahasa latin berarti jenis atau
penampakan. Spesies merupakan unit dasar untuk memahami biodiversitas. Menurut

Waluyo (2005), spesies adalah suatu kelompok organisme yang hidup bersama di alam bebas,
dapat mengadakan perkawinan secara bebas, dan dapat menghasilkan anak yang fertil dan
bervitalitas sama dengan induknya. Menurut Mayden (1997) dalam Ariyanti (2003) saat ini
ada sekurang-kurangnya 22 konsep untuk mendefinisikan spesies yang semuanya tampak
berbeda-beda. Itu artinya bahwa para ahli mempunyai sikap dan pandangan yang berbedabeda dalam memahami tentang spesies. Munculnya keanekaragaman konsep spesies ini
dilatarbelakangi oleh dua alasan mendasar. Alasan pertama adanya perbedaan pemahaman
tentang spesiasi yang merupakan proses munculnya suatu spesies baru. Karena spesiasi bukan
hanya menarik perhatian para ahli evolusi, tetapi juga telah memikat perhatian dari berbagai
disiplin bidang biologi lainnya seperti morfologi, genetika, ekologi, fisiologi, paleontologi,
biologi reproduksi, dan biologi tingkah laku. Alasan kedua adalah karena spesies merupakan
hasil dari proses evolusi yang terus berjalan. Artinya bahwa konsep spesies yang dibuat
berdasarkan proses spesiasi yang masih sebagian berjalan akan berbeda dengan konsep
spesies yang dibuat ketika spesies itu benar-benar sudah sampai pada akhirnya. Selain itu,
bermacam konsep spesies muncul karena tujuan klasifikasi yang berbeda-beda.Seperti
misalnya untuk tujuan identifikasi yang dilakukan oleh ahli taksonomi tumbuhan seringkali
digunakan konsep spesies fenetik, sedangkan untuk mengamati keragaman genetikyang
diperlukan dalam bidang konservasi digunakan konsep spesies biologi. Ernst Mayr pada
tahun 1963 mendefinisikan konsep spesies biologis (Biological Species Concept/BSC) yang
dapat diterima secara luas. Spesies menurut BSC adalah suatu populasi atau kelompok
populasi alami yang secara aktual memiliki potensi dapat saling kawin (interbreeding) dan
menghasilkan keturunan yang dapat hidup fertil, namun tidak dapat menghasilkan keturunan
yang fertil jika kawin dengan spesies lain. Dengan kata lain, suatu spesies biologis adalah
unit populasi terbesar di mana pertukaran genetik mungkin terjadi dan terisolasi secara
genetik dari populasi kelompok lainnya. Konsep ini didasarkan pada dua pandangan biologis
yaitu reproduksi seksual meningkatkan keseragaman dalam gen pool melalui rekombinasi
genetik dan jika dua kelompok populasi itu tidak dapat melakukan kawin silang maka di sana
tidak terjadi aliran gen (gene flow) di dalam lungkang gen (gene pools). Ketidakmampuan
interbreeding (perkawinan) akan memunculkan spesies yang berasal dari penggabungan
bersama pada beberapa waktu berikut setelah kondisi telah mengalami perubahan. Jadi
berdasarkan konsep ini, maka kriteria yang menentukan keberhasilan reproduksi seksual
adalah kemampuan untuk menghasilkan keturunan yang fertil.Konsep spesies ini tidak
berlaku untuk organisme aseksual dan hibridisasi antarspesies. Campbell (2003)
mengemukakan ada beberapa konsep spesies antara lain: Konsep spesies Biologis
mendefinisikan suatu spesies sebagai suatu populasi atau kelompok populasi yang anggotaanggotanya memiliki kemampua untuk saling mengawini satu sama lain di alam dan
menghasilkan keturunan yang dapat hidup dan fertil jika kawin dengan spesies lain. Dengan
kata lain suatu spesies biologi adalah unit populasi terbesar dimana pertukaran genetik
mungkin terjadi dan terisolasi secara genetik dari populasi lain semacamnya. Anggota suatu
spesies biologis dipersatukan oleh ciri kesesuaian ciri reproduksi. Semua manusia termasuk
ke dalam spesies biologis yang sama. Sebaliknya manusia dan simpanse tetap merupakan
spesies biologis yang sangat jelas berbeda meskipun hidup di wilayah yang sama karena
kedua spesies itu tidak dapat saling mengawini. Konsep spesies pengenalan menekankan
pada adaptasi perkawinan yang telah tetap dalam suatu populasi.Menurut konsep ini suatu
spesies didefinisikan oleh suatu kumpulan sikap dan ciri unik yang memaksimalkan
keberhasilan perkawinan ciri molekuler morfologis perilaku yang memungkinkan individu
untuk mengenali pasangan kawinnya.Konsep ini cenderung berfokus pada sifat dan ciri yang
dipengaruhi oleh seleksi alam dan terbatas hanya pada spesies yang bereproduksi secara
seksual. Konsep spesies kohesi berfokus pada mekanisme yang mempertahankan spesiesnya
sebagai bentuk fenotip tersendiri. Tergantung pada spesies, mekanisme ini meliputi sawar

reproduktif seleksi penstabilan dan tautan antara kumpulan gen yang membuat zigot
berkembang menjadi organisme dewasa dengan ciri khas yang spesifik. Konsep ini dapat
diterapkan pada organisme yang bereproduksi secara aseksual.Konsep ini juga mengakui
bahwa perkawinan silang diantara beberapa spesies menghasilkan keturunan hibrida yang
fertil dan terkadang hibrida itu berhasil kawin dengan salah satu spesies induknya. Konsep ini
menekankan pada adaptasi yang mempertahankan spesies tetua tetap utuh meskipun ada
sedikit aliran gen diantara mereka. Konsep ini dapat digunakan pada setiap kasus yang
melibatkan hibridisasi. Konsep spesies ekologis mendefinisikan spesies pada tempat dimana
mereka hidup dan apa yang mereka lakukan dan bukan dari penampakan mereka. Suatu
spesies ekologis didefinisikan oleh peranan unik yang dimainkannya atau posisi dan fungsi
spesifiknya dalam lingkungan.Contohnya dua populasi hewan yang tampak identik dapat
dikatakan merupakan dua spesies ekologis yang berbeda jika masing-masing hanya
ditemukan dalam jenis lingkungan spesifik (misalnya kolam air tawar dengan kumpulan
keadaan kimia, biologi, dan fisik yang khas). Konsep spesies evolusioner mendefinisikan
suatu spesies sebagai suatu urutan populasi tetua dan keturunannya yang berkembang secara
bebas dari kelompok lain. Masing-masing spesies evolusioner memiliki peranan yang unik
dan terpisah dalam lingkungan, setiap peran tertentu melibatkan sekumpulan kekuatan seleksi
alam yang spesifik (tekanan selektif).Dengan demikian populasi yang membentuk suatu
spesies dipengaruhi dan disatukan oleh sekumpulan tekanan selektif yang unik. Spesies
menunjuk dua kategori, yaitu kategori taksonomi dan konsep biologi. Spesies menurut BSC
(Biological Species Consept) yang dikemukakan oleh Mayr (1963) adalah suatu kelompok
populasi alami yang secara aktual maupun potensial dapat saling kawin (interbreeding) dan
kelompok ini secara reproduktif terisolasi dari kelompok yang lainnya. Kriteria yang
menentukan keberhasilan reproduksi seksual adalah kemampuan untuk menghasilkan
keturunan yang fertil (Stearns and Hoekstra, 2003).Sedangkan spesies menurut kategori
taksonomi didasarkan atas perbedaan ciri morfologi atau penampilannya dengan kriteria
persamaan ciri dengan anggota lainnya dalam spesies yang bersangkutan. Spesies dalam
pandangan modern adalah suatu golongan populasi yang alami (deme) yang tersendiri secara
genetis dan memiliki bersama suatu gene pool umum.Golongan ini terisolasi secara
reproduksi dengan kelompok lainnya.Suatu spesies adalah unit atau kesatuan terbesar dalam
populasi, di dalamnya terjadi pertukaran gen atau gene flow.Kebanyakan spesies dipisahkan
dengan perbedaan-perbedaan yang nyata secara anatomi, fisiologi dan tingkah laku (Waluyo,
2005).Kriteria yang ditekankan dalam konsep spesies adalah reproduksi, yaitu apakah ada
atau tidak ada suatu gene flow secara nyata dan potensial. Jika terdapat isolasi sempurna
reproduksi diantara dua populasi yang dari luar hampir menyerupai, atau tidak terjadi gene
flow diantara kedua populasi itu, maka kedua populasi dapat dimasukkan dalam dua spesies
yang berbeda, tanpa memandang persamaan morfologinya. Jika secara morfologi berbeda
tetapi terdapat gene flow yang efektif, maka kedua populasi itu dapat dimasukkan ke dalam
satu spesies yang sama. Anatomi, fisiologi, dan tingkah laku hanya berguna sebagai kunci
identifikasi dari populasi yang terisolasi secara reproduksi, sifat-sifat tersebut tidak
menentukan apakah suatu populasi terdiri dari satu spesies atau lebih. b. Konsepspesiasi
Spesiasi merupakan proses pembentukan spesies baru. Ada beberapa pendapat mengenai
proses spesiasi. Ada pendapat menyatakan bahwa proses spesiasi hanya terjadi pada masa
lampau dan tidak terjadi lagi pada masa kini, sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa
spesiasi masih berlangsung hingga kini. Untuk memahami proses spesiasi, perlu diingat
bahwa keadaan muka bumi pada masa lampau tidak sama dengan saat ini. Permukaan bumi
yang semula panas menjadi dingin, daratan mulai terbentuk, dengan demikian terdapatlah
habitat baru. Terbentuknya tumbuh-tumbuhan, hutan, padang rumput secara tidak simultan,
dan terjadi di sejumlah tempat sehingga meyebabkan timbulnya habitat baru yang
sebelumnya tidak ada. Kondisi iklim pada masa lalu juga berubah-ubah.Peristiwa glasiasi,

letusan gunung berapi, terbentuknya daratan menyebabkan muka bumi mengalami evolusi
yang besar (Waluyo, 2005). Evolusi molekuler meliputi: evolusi makromolekul dan 2)
rekonstruksi sejarah evolusi gen dan organisme. Pada organisme tingkat tinggi, kajian asalusul organisme sangat diuntungkan oleh keberadaan mitokondria dan kloroplas karenad alam
kedua organela seluler tersebut diketahui adanya DNA yang berbeda dengan DNA
kromosom.Selain itu telah terbukti bahwa DNA mitokondria hanya berasal dari ibu.Untuk
inilah telah asal-usul manusia, hewan dan tumbuhan tingkat tinggi banyak dilakukan dengan
melakukan analisis DNA mitokondria dengan pendekatan secara molekuler. Spesiasi
membahas tentang transisi mikroevolusi ke makroevolusi. Proses mikroevolusi yang terjadi
pada populasi, yaitu seleksi alam, perubahan frekuensi gen, pemeliharaan variasi genetik,
ekspresi khusus dari variasi gen, evolusi dari kelamin, sejarah hidup dan alokasi seksual,
seleksi seksual, dan konflik genetik. Jembatan antara mikro dan makroevolusi adalah
spesiasi, yang bertanggung jawab terhadap keanekaragaman kehidupan (Stearns and
Hoekstra, 2003). Spesiasi merupakan proses pembentukan spesies baru dan berbeda dari
spesies sebelumnya melalui proses perkembangbiakan natural dalam kerangka evolusi
Kehidupan terjadi di dalam kelompok.Para ahli taksonomi memakai segala macam
perbedaan, morfologi, tingkah laku dan genetik untuk mengidentifikasi spesies.Mereka
mempunyai masalah yang serius untuk memutuskan bagaimana kelompok harus berbeda
untuk mengklasifikasikannya ke dalam spesies yang berbeda.Terkadang perbedaan ciri satu
spesies dengan spesies lainnya dapat overlap. c. Model spesiasi pada tingkat populasi Modelmodel spesiasi pada tingkat populasi ada dua yaitu sebagai berikut: 1. Spesiasi Alopatrik
( Allopatric Speciation) Terjadinya spesiasi alopatrik banyak dibuktikan melalui studi variasi
geografi. Spesies yang beranekaragam secara geografis dari seluruh karakter dapat
menghalangi pertukaran gen antara spesies simpatrik. Populasi yang terpisah secara geografis
dapat terisolasi oleh kemandulan atau perbedaan perilaku (ketika diuji secara eksperimen)
dibandingkan dengan populasi yang berdekatan. Populasi yang terisolasi mungkin tidak dapat
melakukan interbreeding jika mereka bertemu, karena bentuknya sangat menyimpang
(divergent) dan kemudian masuk ke dalam simpatrik tetapi tidak terjadi interbreeding.
Spesiasi alopatrik merupakan mekanisme isolasi yang terjadi gradual. Contoh: Burung
Acaulhiza pusilla tersebar luas di benua Australia dan mempunyai suatu populasi yang sedikit
berbeda yaitu A. Ewingi. Penjelasan yang amsuk akal adalah selama peristiwa pleistocene
glaciation, ketika permukaan laut lebih rendah, Acanthiza menyerbu Tasmania dan
membedakan ke dalam A.ewingi yang terisolasi oleh suatu periode glacial, mungkin telah ada
A.pusilla pada pulau itu. Contoh bukti perbedaan alopatrik misalnya hewan air tawar
menunjukkan keanekaragaman yang besar di daerah pegunungan yang banyak terisolasi
dengan sistem sungai.Pada suatu pulau suatu spesies adalah homogen di atas rentang
kontinen yang berbeda dalam hal penampilan, ekologi dan perilaku. Suatu contoh allopatric
speciation lainnya yaitu suatu kelompok ular (garter snake) (Thamnophis) di bagian barat
Amerika Utara.Hubungan kompleks antar ras ular Thamnophis. Di dalam kelmpok akuatik,
hammondii, gigas, couchi, hydrophila, aquaticus, dan atratus membentuk suatu
sekuens/urutan sbspesies allopatric yang melakukan interbreed dimana jika mereka bertemu
(daerah abu-abu); tetapi atratus hidup pada waktu sama dengan hammondii tanpa
interbreeding. Lebih dari itu, hydrophila melakukan interbreed dengan biscutatus jika mereka
bertem, tetapi biscutatus juga melakukan interbreeds dengan anggota kelompok terestrial,
yang dengan cara lain memperluas sympatric dengan kelompok akuatik dan tidak melakukan
interbreed. Contoh spesiasi alopatrik lainnya adalah pembentukan spesies burung finch di
Kepulauan Galapagos yang dikemukakan oleh Darwin.Spesiasi burung finch termasuk dalam
isolasi geografik, spesialisasi ekologi, serta penyebaran kedua dan penguatan.Fenomena
penguatan merupakan satu di antara sedikit mekanisme spesiasi di mana seleksi alam
mengambil peran (Stearns and Hoekstra, 2003). Menurut Darwin bahwa burung finch berasal

dari satu nenek moyang burung yang sama. 2. Spesiasi Simpatrik Model spesiasi simpatrik
meliputi spesiasi gradual dan spontan.Sebagian besar model spesiasi simpatrik masih dalam
kontroversi, kecuali pada model spesiasi spontan dan spesiasi poliploidi yang terjadi pada
tanaman. Jika bastar antara dua spesies diploid membentuk tetraploid akan dapat
memperbesar isolasi reproduktif dari tetua yang diploid. Keturunan triploid akibat backcross
mempunyai proporsi aneuploidi yang tinggi, karena gamet membawa cacat bawaan.
Pembatasan interbreeding diantara bentuk diploid dan tetraploid dapat muncul, tetapi tidak
pada poliploidi. Mutasi tunggal atau perubahan kromosom menimbulkan isolasi reproduktif
lengkap di dalam satu tahap tidak akan sukses bereproduksi, kecuali jika ada perkawinan
inbreeding (perkawinan dalam keluarga yang membawa mutasi baru). Pada hewan secara
umum perkawinan inbreeding tidak biasa terjadi, tetapi pada golongan Chaicidoidea
(Hymenoptera) itu biasa terjadi.Keanekaragaman spesies yang tinggi di dalam kelompok
dimudahkan oleh perkawinan inbreeding (Askew, 1968 dalam Widodo dkk, 2003). Isolasi
reproduktif antar spesies yang berkerabat dekat pada umumnya dapat dihubungkan dengan
adanya perbedaan bukan pada lokus gen tunggal, tetapi pada banyak lokus. Kebanyakan
spesiasi berlangsung secara gradual , karena tidak sempurnanya gen awal terhadap arus gen
(gene flow) menjadi semakin efektif. Model-model spesiasi simpatrik didasarkan pada seleksi
terpecah (distruptive selection), seperti ketika dua homozigot pada satu atau lebih lokus
teradaptasi dengan sumber yang berbeda dan hal itu merupakan suatu multiple-niche
polymorphism.Contohnya pada serangga herbivora bergenotip AA dan AA teradaptasi
dengan spesies tumbuhan 1 dan 2, dimana genotip AA tidak teradaptasi dengan baik.Masingmasing homozigot ingin mempunyai fittes lebih tinggi jika dilakukan mating secara
assortative dengan genotip yang mirip dan tidak menghasilkan keturunan heterozigot yang
tidak fit. Assortative mating mungkin dipertimbangkan adanya lokus B yang dapat
mempengaruhi perilaku kawin maupun mendorong serangga untuk memilih inang spesifik,
yang pada tempat tersebut dapat ditemukan pasangan dan kemudian dapat bertelur.Jika BB
dan Bb kawin hanya pada inang 2, perbedaan dalam pemilihan inang dapat mendasari
terjadinya pengasingan/ isolasi reproduktif.Banyak dari serangga herbivora yang merupakan
spesies yang berkerabat dekat dibatasi oleh perbedaan inang, terutama untuk pemenuhan
kebutuhan makan, mating/kawin. Contoh simpatrik yaitu spesies baru rumput rawa payau
yang berasal dari sepanjang pantai Inggris selatan pada tahun 1870-an. Rumput ini adalah
suatu allopoliploid yang diturunkan dari spesies Eropa (Spartina maritima) dan spesies
Amerika (Spartina alternaflora).Benih dari spesies Amerika terselip di pemberat kapal dan
tidak sengaja terbawa masuk ke Inggris pada awal abad ke-19.Tumbuhan pendatang itu
berhibridisasi dengan spesies lokal, dan akhirnya menghasilkan spesies keiga (Spartina
anglica), yang secara morfologi berbeda dan terisolasi secara reproduktif dari kedua spesies
tetuanya, berkembang sebagai suatu allopoliploid.Jumlah kromosom konsisten dengan
mekanisme spesiasi ini. Untuk S. Maritima, 2n=60, S.alternaflora, 2n=62, dan untuk spesies
baru itu, S.anglica, 2n=122. Sejak awal S.anglica telah tersebar dipantai Inggris dan
menyumbat muara sebagai gulma.Spesiasi simpatrik dapat terjadi dalam evolusi hewan.
Masing-masing spesies pohon ara diserbuki oleh suatu spesies tawon tertentu, yang kawin
dan meletakkan telurnya di pohon ara. Suatu perubahan genetik yang menyebabkan tawon
untuk memilih spesies pohon ara yang berbeda akan memisahkan individu yang kawin dari
fenotipe yang baru ini dari populasi tetuanya, dan hal ini akan mengkibatkan perubahan
evolusioner lebih lanjut. Suatu polimorfismeseimang bersama dengan perkawinan asortatif
dapat menghasilkan spesies simpatrik (Campbell et all, 2000:49). 3. SpesiasiParapatrik Pada
spesiasi ini isolasi reproduksi berkembang dalam beberapa gen flow diantara populasipopulasi. Pada populasi tersebut terdapat suatu alela yang berdampak pada terjadinya isolasi
reproduktif pada populasi tersebut.Sehingga spesies-spesies dalam populasi tersebut tidak
dapat melakukan perkawinan (pertukaran gen) (Widodo dkk, 2003: 54). Contohnya adalah

munculnya spesies baru tupai tanah terjadi karena munculnya pul gen baru gara-gara spesiasi
alopatrik. Aliran genetik terhambat, arus keluar-masuknya alela dari dan ke populasi menjadi
terlarang akibat isolasi geografis.Meski hanya terhalang sungai, setelah spesiasi terjadi, kedua
populasi tupai tidak bisa lagi saling kawin.Meyr menyebutkan seleksi parapatrik menuntut
adaptasi tertentu pada populasi pendiri dibanding populasi induk. d. Dua Pengaruh Utama
Spesiasi 1) Isolasi Geografis Sebagian besar para ahli Biologi berpendapat bahwa faktor awal
yang mempengaruhi spesiasi adalah pemisahan geografi, karena selama populasi dari spesies
yang sama masih berhubungan secara langsung atau tidak, gen flow masih dapat terjadi.
Namun, jika terbentuk hambatan bagi penyebaran spesies (sebab-sebab geografis) maka,
tidak akan ada pertukaran susunan gen dalam sistem populasi dan evolusi akan berlangsung
sendiri-sendiri. Semakin lama kedua populasi tersebut akan semakin berbeda karena telah
mengalami evolusi dengan caranya sendiri.Sejalan dengan waktu pemisahan geografi dari
sistem populasi akan mengalami penyimpangan, sebabnya adalah sebagai berikut: a) Kedua
sistem populasi yang terpisah itu mempunyai frekuensi gen permulaan yang berbeda. Jadi,
jika dua populasi memiliki potensi genetik yang berbeda sejak awal pemisahannya, sudah
barang tentu akan menempuh jalan yang berbeda. b) Mutasi terjadi secara random.
Pemisahan dalam dua sistem populasi tersebut mungkin disebabkan adanya mutasi. c)
Pengaruh tekanan seleksi alam sekeliling setelah mereka menempati posisi pemisahan yang
berbeda. d) Pergeseran susunan gen (genetic drift). Ini berpeluang bagi terbentuknya koloni
baru. 2) Isolasi Reproduksi Isolasi geografis di atas dapat dikatakan sebagai faktor luar
(ekstrinsik) yang menjadi penyebab terjadinya spesiasi. Selanjutnya, dalam rentang waktu
yang lama akan terjadi mekanisme isolasi intrinsik, dimana sifat-sifat yang dipunya oleh
populasi tersebut dapat mencegah bercampurnya dua populasi atau mencegah inbreeding jika
kedua populasi itu berkumpul lagi setelah batas pemisahannya sudah tidak ada. Oleh karena
itu dapat dikatakan bahwa spesiasi dimulai dengan adanya penghambat (barier) luar yang
menjadikan dua sistem populasi menjadi sama sekali alopatrik (mempunyai tempat yang
berbeda). Namun keadaan ini belum sempurna sampai populasi ini mengalami proses
intrinsik yang menjaga supaya mereka tetap alopatrik atau gene pool mereka tetap terpisah
meskipun mereka dalam keadaan simpatrik (mempunyai tempat yang sama). DAFTAR
PUSTAKA Anonim,tanpatahun. The Life
System.http://www.eesc.columbia..TheLifeSystem.htm Anonim.tanpatahun.
Speciation.http:www//biology.iupui.edu.fbiocoursesfch2spec.html Campbell, Reece,
Mitchell. 2000.Biologi. Jilid II, edisikelima. Jakarta: Erlangga Farabee.M.J. 2000.Evolution
II.http://www.estrellamountain.eduevolutionII.html. Stearns.Stephen,Hoekstra,Rolf. 2003.
Evolution an introduction. New York:Oxford Waluyo, L. 2005. EvolusiOrganik. UMM
Press.Malang. Widododkk. 2003. Evolusi. P.MIPA. UM.DirjenDikti. Depdiknas. Sumber:
Erik Perdana Putra &TaufikTaher. Spesiasi. 2011. Makalah. PendidikanBiologi PPs UM.
Malang
Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ

Tabel 2.1. Konsep species dan singkatan yang telah distandarisasi

1. Morphological (MSC)
2. Agamospecies (ASC)
3. Biological (BSC)
4. Cohesion (CSC)
5. Cladistic (ClSC)
6. Composite (CpSC)
7. Ecological (EcSC)
8. Evolutionary Significant
Unit (ESU)
9. Evolutionary (ESC)
10. Genealogical Concordance
(GCC)
11. Genetic (GSC)
12. Genotypic Cluster
Definition (GCD)
13. Hennigian (HSC)
14. Internodal (ISC)
15. Non-dimensional (NDSC)
16. Phenetic (PhSC)
17. Phylogenetic (PSC)
18. Polythetic (PtSC)
19. Recognition (RSC)
20. Reproductive Competition
(RCC)
21. Successional (SSC)
22. Taxonomic (TSC)
1.1. Morphological Species Concept/ Typological Species Concept
Menurut konsep ini, keragaman yang diobservasi di alam
merefleksikan keberadaan sejumlah tipe yang terbatas. Individu-individu tidak berada dalam
hubungan tertentu antara satu dengan yang lainnya,
semata-mata ekspresi dari tipe yang sama. Konsep ini, yang berdasarkan
filosofi dari Plato, merupakan konsep spesies dari Linnaeus dan
pengikutnya. Oleh karena tradisi filosofi ini, konsep tipe disebut juga sebagai
esensialime dan juga disebut konsep spesies esensialis. Konsep species
tipe memiliki beberapa sinonim seperti clasical species concept, Linnaean
species concept, and morphospecies concept. Berbagai usaha yang sematamata mendefinikan spesies secara numerik atau matematik secara logis
ekuivalen dengan konsep ini. Derajat perbedaan morfologi adalah kriteria
status species untuk pengikut konsep spesies tipe.
Konsep ini dipertimbangkan sebagai metode yang paling sesitif dan
paling umum digunakan oleh ahli taksonomi, ahli biologi umum dan
sebagainya. Karena sebagian besar situasi yang melibatkan populasi
allopatrik hanya sedikit atau tidak ada informasi yang tersedia mengenai
kebebasan reproduktif, hanya perbedaan morfologi yang membantu sebagai
wakil keturunan dari silsilah yang berbeda. Konsep ini juga menjembatani
satu keputusan yang memisahkan suatu keadaan yang melekat pada
beberapa konsep lain antara seksual dan aseksual species, selama ini

perbedaan morfologi bersifat dapat diturunkan dan mewakili terpisahnya


garis keturunan. Pernyataan yang menyatakan bahwa manusia berorientasi
species, sehingga konsep species dengan mudah dinyatakan sebagai satu
konsep yang operasional.
Konsep species tipe (esensialis) diterima oleh ahli taksonomi sampai
periode post-Linnaean. Ada empat postulat yang diterima oleh para
esensialis
Spesies terdiri atas individu-individu yang mirip yang memiliki karakter inti
yang sama
Tia-tiap species terpisah antara satu dengan yang lainnya oleh
diskontinuitas yang tajam
Tiap species bersifat konstan sepajang waktu
Kemungkinan variasi dalam satu species sangat terbatas
Ada tiga batasan konsep sepcies menurut konsep tipe yaitu
Berbeda dan monotipe
Tidak mengalami mutasi dan terbentuk seperti adanya
Melakukan perkainan sesungguhnya
Permasalahan nyata terkait dengan konsep species morfologi adalah
adanya species sibling atau species kriptik atau tersimpannya/ bertahannya
morfologi plesiomorfik. Disini, tidak ada atau sedikit divergensi moefologi
terjadi dan dua atau lebih species berbeda terlihat sangat mirip. Dalam
kasus ini konsep species morfologi akan berakibat pada rendahnya dugaan
keragaman biologis. Masalah potensial lainnya adalah melekatnya
kecenderungan tingkat divergensi morfologi yang berubah-ubah. Dengan
melakukan kriteria tersebut, peneliti akan berasumsi bahwa semua sifat
morfologi, terutama yang secara tradisional dilakukan pada takson,
berevolusi pada laju divergensi yang konstatn. Hal ini asumsi yang tidak
dijustifikasi dan patahkan oleh observasi bahwa bahkan dalam satu
kelompok taksonomi divergensi morfologi sangat biasa.
Konsep species tipe ditolak secara universal karena dua alasan
praktis. Pertama, di alam seringkali ditemukan individu-individu dari species
yang sama sering memperlihatkan variasi yang sangat jelas sebagai hasil
dimorfisme seksual, perbedaan umur, polimorfisme dan bentuk variasi
individu lainnya. Meskipun sering dideskripsikan sebagai species yang
berbeda, namun setelah mereka ditemukan sebagai anggota dari breeding
population yang sama, mereka hanya dikenal sebagai derajat perbedaan
morfologi. Fena yang berbeda yang masuk ke dalam satu populasi tidak
dapat dipertimbangkan sebagai sepcies yang berbeda tidak peduli seberapa
besar perbedaan mereka secara morfologi. Kedua, ada species di alam
sibling species yang sangat sulit dibedakan pada semua karakter secara
morfologi merupakan konsep species biologi. Jadi derajat perbedaan tidak
dapat dipertimbangkan sebagai kriteria untuk membuat keputusan didalam
membuat ranking suatu taksa sebagai species.
Ini merupakan konsep non-dimensional yang memperlakukan species
sebagai klas, mendefinisikan mereka berdasarkan kelengkapan morfologi
esensial tertentu. Dengan demikian, konsep ini tidak mengijinkan peneliti
untuk memperlakukan species sebagai bagian dari keseluruhan sejarah
yang membentuk silsilah keturunan. Sebagai individu, definisi setiap species
akan berubah ketika karakter esensial dari satu species pada t

1
akan
berbeda dari t
2
melalui keturunan. Ketika konsep ini telah membantu
sebagai metode tradisional untuk mengidentifikasi species, konsep ini
memeliki cacat yang fata sebagai satu konsep primer.
1.2. Agamospecies concept (ASC)
Konsep ini memiliki sinonim Microspecies, Paraspecies,
Pseudospecies, Semispecies.
Konsep ini secara khusus merujuk pada taksa yang tidak sesuai
dengan cara repoduksi secara seksual dan biparental, sering species ini
dihasilkan dari hibridisasi antar psecies atau atar genus. Species ini dapat
menghasilkan gamet tetapi seringkali tidak terjadi fertilisasi, kecuali melalui
hibridisasi. Ghiselin merujuk species ini sebagai tumpukan daun yang jatuh
dari pohon dan menumpuk. Agamospecies mungkin bagian dari species
komplek dimana didalamnya ada species yang bereproduksi secara seksual.
Dalam kasus ini, agamospecies mungkin bersifat fakultatif atau obligat
apomiktik. Apomiktik obligat kadang dirujuk sebagai mikrospecies. Pada
kenyataannya kumpulan individu organisme dari species sering polifiletik,
dihasilkan dari beberapa persilangan antara tetua, species biseksual. Taksa
ini sering didiagnosa dengan beberapa ciri yang berhubungan baik oleh
morfologi maupun kromosom. Species ini sering memiliki kisaran geografis
terbatas. Beberapa autor hanya mengenal mereka sebagai species jika
kisaran geografis mereka paling tidak memiliki diameter 20 km
1.3. Konsep Species Biologi
Sinonim GSC, Isolation Species Concept
Menurut Simpson (1969) konsep ini juga disebut konsep species
genetik. Akan tetapi menurut Mayr dan Ashlock (1991) dan Mayden (1997)
berbeda dengan konsep species genetic. Menurut konsep ini species
merupakan satu populasi inklusif Mendel, hal ini diintegrasikan oleh ikantan
reproduksi seksual dan asal-usul (Dobzhansky, 1970). Sementara Menurut
Mayr (1940) species adalah kelompok populasi alam yang benar-benar
atau memiliki potensi untuk melakukan perkawinan dan terisolasi secara
reproduktif dari kelompok lain. Menurut Mayr dan Ashlock (1991) Species
adalah kelompok populasi alam yang dapat melakukan perkawinan dan
terisolasi secara reproduktif dari kelompok lain.
Species terdiri atas komunitas reproduktif yang didalamnya ada unit
ekologi dan genetik. Individu-individu dari satu species mencari dan
mengenali satu dengan yang lainnya untuk perkawinan, memelihara
komunikasi antar gen pool dan individu-individu yang menyusunnya
berinteraksi sebagai satu unit dengan species lain yang dengannya
mereka berbagi lingkungannya. Menurut Mayr (1997) setiap species
biologi adalah satu kumpulan genotipe seimbang dan harmonis serta tidak
ada pemisahan interbreeding individu, tidak masalah seberapa berbeda
secara genetik sehingga akan menorong terjadi gangguan kerharmonisan
genotip dengan segera. Sebagai hasil, ada tambahan mekanisme yang
sangat selektif, disebut mekanisme isolasi, yang akan mendorong
persilangan individu species yang sama dan menghambat perkawinan
non-conspecific. Hal ini menyediakan arti sebenarnya dari species.

Species adalah alat untuk mencegah adanya genotipe yang harmonis dan
terintegrasi dengan baik. Inti dan satu-satunya kriteria untuk realitas
species adalah ide isolasi reproduksi dari satu species dengan species
lain. Species adalah gen pool yang terlindung dan dilingdungi oleh alatnya
sendiri (mekanisme isolasi) melawan gen yang berasal dari hanyutan gen
dari gen pool yang lain.
BSC secara specific tidak mencakup species uniparental meskipun
mereka ada dan beberapa memiliki keragaman tipe pseudospecies.
Konsep ini juga digambarkan sebagai definisi operasional bahwa taxa dari
kategori species dapat dibatasi dari species yang lain oleh kriteria lain yang
didefinisikan secara operasional, sebagai contoh populasi interbreeding
lawan non-interbreeding.
BSC telah memperoleh kritik yang substansial substansial terkait
dengan: 1) tidak adanya perspektif silsilah keturunan; 2) nondimensionalitas; 3) kesalahan kualitas operasional sebagai definisi; 4) tidak
mencakup organisme non-reproduksi seksual; 5) tidak membedakan
penggunaan kriteria isolasi reproduksi; 6) kebingunan antara mekanisme
isolasi dan efek isolasi; 7) ada ketergantungan implisit pada seleksi grup;
8) sifat relasionalnya; 9) nada teologisnya; 10) pekerjaanya sebagai
konsep tipe, tidak berbeda dari konsep morfologi.
1.4. Cladistic Species Concept (ClSC)
Kumpulan organisme antara dua kejadian spesiasi, antara satu
proses spesiasi atau diturunkan dari satu kejadian spesiasi. Sinonim ISC
dan CSC.
Konsep species dimana species diperlakukan sebagai individu bukan
kelompok. Sebagai subteori, diskusi konsep ini tergabung dengan BSC
dan EcSc untuk menyediakan teori lebih lengkap dalam memahami
species. Species adalah satu keturunan dan spesiasi menghasilkan dua
atau atau keturunan. Dengan definisi ini, species tidak dapat parapiletik, bahkan jika individu
organisme dari satu atau lebih garis keturunan species
secara genealogi lebih berkerabat dekat terhadap satu atau lebih
keturunan species yang lain.
Dalam beberapa hal konsep ini dapat membantu sebagai konsep
utama untuk keragaman biologis. Ini merupakan konsep silsilah
keturunan, yang memperlakukan species sebagai individu.
Konsep ini telah mendapat kritik karena tidak adanya kekhusussan
terkait dengan spesiasi, satu isu yang memperkuat monopili species.
Membandingkan ClSC dan CpSc dan alasan bahwa diskusi mengenai
monopili species tidak cukup, tetapi bahwa organsime yang membentuk
species terlibat dalam peristiwa spesiasi akan relative parapiletik satu
dengan lainnya. Jadi ClSC bukan merupakan konsep yang layak sebagai
konsep primer.
1.5. Ecological Species Concept (EcSC)
Species adalah satu keturunan yang menempati zone adaftif yang
minimal berbeda dari keturunan lain dalam lingkungannya dan berevolusi
secara terpisah dari semua keturunan lain diluar lingkungannya. Sinonim
ESC.
Konsep ini menggambarkan species sebagai unit ekologi yang
membetuk keturunan sepanjang waktu dalam satu lingkungan kompetitif.

Ini merupakan satu definisi operasional dimana perbedaan ekologi akan


membentuk species berbeda dan berevolusi secara terpisah. Konsep ini
bersifat toleran baik untuk biseksual maupun uniseksual species. Species
yang berevolusi melalui hibridisasi dan species yang melakukan
pertukaran gen, sepanjang perbedaan ekologi terpelihara pada keturunan.
Penyamaan evolutionary species concept dan ecological species concept
tidak akurat. Kedua konsep tersebut berbeda, dalam hal ESC tidak perlu
adanya divergensi ekologi antara species simpatrik. Hanya menurut
konsep ESC asli dari Simpson (1961), species diarahkan pada kontek
evolusi dan ekologi.
Disini tidak ada keraguan bahwa adanya divergensi ekologi diantara
keturunan simpatrik dapat menjamin pengenalan mereka sebagai species
yang berbeda. Sementara itu satu konsep toleran, sebagai satu konsep
operasional, konsep ini tidak dapat dijadikan sebagai konsep primer.
1.6. Evolutionary Species Concept (ESC)
Satu keturunan yang berevolusi secara terpisah dari yang lain dan
dengan kecenderungan dan aturan evolusinya (Simpson, 1962). Satu
keturunan dari populasi yang diturunkan dari nenek moyang yang
memelihara identitasnya dari yang lain, dan keturunan yang memiliki
kencedungan dan nasib evolusinya sendiri (Wiley, 1978). Satu kesatuan
yang tersusun dari organisme yang memelihara identitasnya dari kesatuan
lain sepanjang waktu dan ruang, dan yang memiliki nasib evolusi dan
kecenderungan sejarahnya yang bebas (Wiley and Mayden, 1997).
Konsep ini awalnya diperjuangkan oleh Simpson (1951, 1962) dari
ketidakpuasan umum dengan non-dimensinalitas BSC. Wiley telah
mengembangkan konsep ini lebih lanjut dan telah membuktikan penerapan
umum konsep ini pada sistem biologis. Tidak seperti definisi lain yang telah
dijelaskan disini, ESC sebagain besar telah ditolak sampai baru-baru ini.
Beberapa peneliti telah menjelaskan dan mengembangkan lebih lanjut
konsep ini. Mereka beralasan bahwa hanya konsep inilah yang memiliki
kapasitas untuk mengakomodasi semua tipe keragaman biologi.
Berlawanan dengan persepsi dari beberapa peneliti (Minelli, 1993) ESC
tidak mempertimbangkan species sebagai kelas atau berfokus pada
species sebagai kesatuan ekologi. ESC tidak sama dengan EcSC.
Sedangkan Simpson (1961) telah menganjurkan sau konsep keturunan
terhadap sepcies dan divergensi ekologi dan evolusi. Jadi, logika wajar
dari konsep ESC Simpson dan Wiley agak berbeda.
ESC bukan merupakan konsep yang operasional. Akan tetapi, ini
merupakan satu konsep keturunan yang non-relasional. Jadi, kelengkapan
dan pola species dapat diinterpretasikan dengan benar terkait dengan
keturunan unik mereka. Konsep ESC mengakomodasi organisme
uniparental, species yang terbentuk melalui hibridisasi dan nenek moyang
species. Tidak diperlukan adanya batasan kelengkapan tertentu untuk
keberadaan species. Akhirnya, isolasi reproduktif, dipertimbangkan
sebagai turunan kelengkapan dari status plesiomorfik kompatibilitas
reproduksi, jadi keberhasilan reproduksi benar-benar bersifat segaram.
1.7. Genetic Species Concept (GSC)
Konsep ini mirip dengan konsep morfologi kecuali bahwa metode
yang digunakan untuk menentukan species adalah ukuran perbedaan
genetic, diduga untuk merefleksikan isolasi reproduksi dan kebebasan

evolusi. Sebagai konsep fenetik, jarak dan kemiripan genetic digunakan


untuk mengidentifikasi species yang berbeda. Kebebasan genetic diuji
menggunakan metode yang beragaman mulai dari kromatografi,
elektroforesis sampai sekuensing.
Ketika nampaknya bersifat operasional, satu masalah mendasar
dari GSC adalah bahwa untuk sebagian besar keragaman tidak ada
informasi genetic yang tersedia. Karena divergensi pada setiap gen
tertentu tidak memiliki laju yang sama (seragam), mungkin sekali tidak
pernah ada standar jarak untuk species. Konsep ini bertahan pada asumsi
bahwa pada setiap kejadian spesiasi disana akan ada perubahan tertentu
pada setiap gene. Jika peneliti menguji 200 gen dan mereka semuanya
identik diantara dua species, mereka akan mempertimbangkan mereka
sebagai species yang sama. Namun, gen berikutnya dapat
memperlihatkan perubahan yang sangat besar diantara dua sister species
sebagai hasil kejadian spesiasi. Jika hanya satu gen dari 200 gene
monoalel mengalami divergensi akan menghasilkan jarak genetik yang
dapat disepelekan. Pada satu skala linier, divergensi tersebut akan
menjadi sepele untuk perbandingan species dimana lima dari 20 gene
bersifat divergen. Disini, pada contoh heuristik ini kedua pasangan species
berada sebagai species yang bebas secara evolusi dan secara genetik.
GSC secara esensi adalah pengganti, konsep operasional yang
dikembangkan dari BSC, Derajat divergensi genetik tertentu diasumsikan
dapat menjamin pengenalan species. Namun, definisi operasional ini tidak
memeiliki petunjuk bagi peneliti ketika berapa besar perbedaan dianggap
cukup untuk digunakan sebagai batasan species? Hal ini sebagian besar
karena divergensi gen tertentu atau beberapa gen tidak mungkin dapat
digunakan untuk menduga didalam atau antar kelompok taksonomi.
Menggunakan konsep non-evolusi ini, peneliti juga disesatkan untuk
percaya bahwa tidak adanya divergensi pada suatu gen yang semata-mata
tersedia karena teknologi menghilangkan realitas divergensi yang mungkin
ada pada setiap karakter. Dengan demikian, kenyataan species dengan
morfologi yang divergen dan dapat diturunkan mungkin secara naif
dipertanyaakan jika divegensi pada gen atau protein yang mudah diuji
yang diinginkan. Ketika konsep ini tersedia sebagai konsep tradisional
untuk mengindentifikasi species, hal ini merupakan kesalahan fatal jika ia
merupakan konsep primer. Kekurangan data secara umum, bersamaan
dengan besarnya variasi genetik yang terobservasi diantara sister species,
validitasnya dapat dipertanyakan jika semata-mata mendasarkan pada
divergensi genetik untuk memvalidasi species, dan kurangnya prespektif
filogenetik didalam menginterpretasikan variasi telah menghalangi GSC
sebagai konsep primer
1.8. Hennigian Species Concept (HSC)
Konsep ini berasal dari catatan awal Hennig mengenai species.
Konsep ini telah dikembangkan lebih lanjut oleh Willmann dan Meier dan
Willmann. Tetapi, yang lebih penting, versi yang diusulkan oleh pengarang
terakhir hanya menggabungkan beberapa dari pandangan species dari
Hennig. Konsep mereka merupakan konsep operasional, dan oleh
pengakuan mereka sendiri, merupakan konsep yang identik dengan BSC
jika siolasi reproduktif mutlak diadopsi sebagai kriteria untuk populasi yang
hidup dimasa yang sama, dan asal dari isolasi dua sister species

digunakan untuk menetukan batasan species pada suatu waktu. Namun,


mereka memandang konsep ini sebagai konsep BSC Mayr yang berbeda
karena dia gagal untuk menyediakan kriteria yang menspesifikasi
bagaimana dan kapan biospecies muncul dan hilang. Tersirat dalam
diskusi mereka adalah isu species konsep dan arti dari species nenek
moyang. Secara logika mengikuti versi ekstrim ini dari konsep isolasi (BSC)
adalah bahwa uniseksual bukan merupakan species tetapi agamotaksa
(sensu ASC), taksa tidak harus dipertimbangkan sama dengan species
biseksual.
Konsep Hennigian ditolak ketika segala sesuatu karakteristik yang
berpartisipasi dalam spesiasi untuk beberapa alasan yang sama dari BSC
ditolak. Konsep HSC tidak harus dilakukan untuk pertanyaan sistematik
tidak juga untuk iso biodiversitas. Namun, untuk beberapa hal disini
nampak bahwa Meier dan Willmann lebih dari Mayr dari kenyataan bahwa
konsep species penting untuk manusia daripada hanya sekedar untuk
kataloger dan kurator koleksi. Jadi HSC dicirikan sebagai satu konsep
dimensional yang dapat digunakan untuk pertanyaan allopatrik atau
alokronik dan tidak seperti BSC, konsep ini menghargai pentingnya
perbandingan antara sister taksa.
Tanpa memperhatikan kelengkapan positif dari BSC, HSC
digambarkan kurang cukup untuk sistem biologis dan dikembangkan
berdasarkan padangan terbatas mengenai sistem alam. Isu problematik
penting dari konsep ini adalah mencakup pengeluaran beberapa
keragaman biologis, hubungan alamiahnya, besarnya ketergantungan
pada kriteria operasional, dukungan palsu dari isolasi sebagai batasan
species yang tidak berubah-ubah dan penemuan palsu mengenai species
nenek moyang
1.9. Phenetic Species Concept (PhSC)
Merupakan konsep species non-dimensional dan konsep yang
operasionalnya terbatas yang mungkin disamakan dengan beberapa
konsep, dimana semua kesamaan (kemiripan) merupakan kriteria utama
untuk keberadaan species. Secara operasional, variasi dari satu set
karakter lebih kecil di dalam kelompok daripada antar kelompok kesatuan
yang dikenal sebagai satu takson yang berbeda. Species diperlakukan
sebagai kelas, mereka tidak berada sebagai silsilah keturunan dan jika
satu species berubah melalui anakan, selanjutnya diagnosis akan direvisi.
Ketka secara esensi metode yang dilakukan oleh ahli taksonomi,
langkanya dasar toeri dari konsep ini menghalangi kensep ini untuk
menjadi konsep primer.
1.10. Phylogenetic Species Concept (PSC)
Saat ini paling tidak ada tiga konsep yang berbeda mengenai
spesies yang teridentifikasi sebagai filogenetik. Definisi ini mewakili
pertumbuhan systematic filogenetik dan satu kebutuhan umum diantara
beberapa peneliti untuk satu definisi species keturunan yang operasional
dan memiliki proses bebas. Beberapa berpendapat bahwa dengan
tumbuhnya popularitas filogenetik , disini sangat kritis untuk memiliki
definisi yang dapat mengidentifikasi unit paling kecil yang layak untuk
analisis. Untuk beberapa yang lain, species adalah unit yang paling kecil
yang layak untuk analisis dan unit infraspecies tidak cukup dalam kontek
ini. Prespektif ini menjaga bahwa keragaman species harus difahami

sebelum analisis filogenetik dilakukan. Yang lainnya mempertahankan


posisi bahwa pola hierarki ada dalam species dan metode filogenetik
sudah cukup.
Hal biasa dengan PSCs adalah satu usaha untuk mengidentifikasi
kesatuan biologis terkecil yang dapat didiagnosa dan atau monofiletik.
Jadi species adalah satuan biologis dan unit produk dari seleksi alam dan
keturunan. Sebagai konsekuensi, subspecies, penuh dengan
ketidakpastian antara kenyamanan dan keaslian, bukan merupakan unit
evolusi yang cukup dan tidak memiliki status ontology. Perbedaan PSCs
membentuk tiga kelas umum, satu menekankan pada monofili, satu pada
diagnisabilitas dan satu untuk keduanya.
1.11. Taxonomic Species Concept (TSC)
Ini merupakan speciesnya para ahli taksonomi, mereka tidak perlu
merupakan speciesnya ahli genetik atau ahli evolusi. Konsep ini mungkin
digunakan oleh sebagian besar ahli taksonomi pratis sebagai batasan kerja
untuk mengumpulkan individu organisme ke dalam taksa yang berbda.
Konsep ini terutama berdasarkan pada kelengkapan morfologi didalam
menentukan species karena banyak karakter lain sevcara tradisional tidak
mudah diamati bagi ahli taksonomi. Dalam praktenya, konsep ini
merupakan non dimensional konsep, memperlakukan species sebagi kelas
dan tidak memiliki prespektif keturunan.
Keterbatasan berdasar karakter tradisional dilapangan pada
taksonomi kurang nyata pada taksonomi modern. Banyak tiper karakter
berbeda menjadi tersedia dengan cepat dan harus digunakan didalam
penentan taksa. Namun, katakan bahwa manusia memiliki species yang
berorientasi species, karakter morfologi yang paling menyenangkan
mungkin akan tetap karakter yang paling banyak digunakan didalam
mengurakan keragaman taksonomis. Namun, kebenaran ini tidak perlu
menghilangkan keberadaan taksa teridentifikassi menggunakan tipe
karakter lain (ekologi, praotein, tingkah laku, sekens dan sebagainya