Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

FILSAFAT HUKUM ISLAM


PENERAPAN KAJIAN FILOSOFIS TERHADAP PENETAPAN ARAH KIBLAT

OLEH : KELOMPOK V

ANDI SUNARTI
ABDUL MALIK
SAAHRUL
SAHRULLAH ZAINAL
HUKUM PIDANA DAN KETATANEGARAAN
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITASS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt, karena berkat rahmat dan
hidayahnya sehingga penulis berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan
oleh Dosen mata kuliah Filsafat hukum islam. Makalah ini berjudul tentang
Penerapan Kajian Filosofis Terhadap Penerapan Arah Kiblat.Makalah ini
sebagai salah satu media pembelajaran yang baik, guna menunjang dalam
proses pembelajaran bagi mahasiswa dan mahasiswi.
Ucapan terima kasih kepada:
1. Allah swt, yang telah memberikan kesehatan kepada penulis
2. Kedua orang tua yang telah mendidik sehingga penulis mampu seperti
sekarang ini.
3. Dosen pembimbing mata kuliah Filsafat Hukum Islam yang telah
memberikan tugas makalah ini.
4. Pihak yang terlibat langsung maupun tidak.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Maka dari itu penulis mengharapakan kritik dan saran yang membangun
dalam perbaikan karya tulis khususnya makalah yang telah di buat oleh
penulis. Namun Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi pembaca.

Samata, 17 Maret 2016


Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul..................................................................................................................
Kata Pengantar................................................................................................................
Daftar Isi..........................................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN
A.Latar belakang...........................................................................................................
B.Rumusan masalah........................................................................................................
C.tujuan...........................................................................................................................
BAB 11 PEMBAHASAN
1.
SejarahKabah........................................................................................................3
2.

Kabah

dan

baitul

Mamur....................................................................................4
3. Pengertian Arah Kiblat.........................................................................................5
4. Proses Penetapan Fatwa MUI tentang Arah Kiblat..............................................5

BAB 111 PENUTUP


A.Kesimpulan...........................................................................................................11
DAFTAR
PUSTAKA...............................................................................................................12

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Persoalan kiblat adalah persoalan azimut yaitu jarak dari titik utara ke
lingkaran vertikal melalui benda langit atau melalui suatu tempat yang diukur
sepanjang lingkaran horizon menurut arah perputaran jarum jam. Dengan
demikian, persoalan arah kiblat erat kaitannya dengan letak geografis suatu tempat
yakni berapa derajat jarak suatu tempat dari khatulistiwa yang dikenal dengan
istilah lintang dan berapa derajat letak suatu tempat dari garis bujur kota Makkah.
Selain itu, kiblat juga terkait dengan arah Ka bah di Makkah.Arah Ka bah ini
dapat ditentukan dari setiap titik atau tempat di permukaan Bumi dengan
melakukan perhitungan dan pengukuran. Oleh sebab itu, perhitungan arah kiblat
pada dasarnya adalah perhitungan untuk mengetahui guna menetapkan ke arah
mana Ka bah di Makkah itu dapat dilihat dari suatu tempat di permukaan Bumi,
sehingga semua gerakan orang yang sedang melaksanakan shalat, baik ketika
berdiri, ruku, maupun sujudnya selalu berimpit dengan arah yang menuju Ka bah.
Umat Islam telah bersepakat bahwa menghadap kiblat dalam shalat
merupakan syarat sahnya shalat, sebagaimana dalil-dalil syari yang ada. Bagi
orang-orang di kota Makkah dan sekitarnya melaksanakan shalat tidak menjadi
persoalan namun bagi mereka yang jauh dari Makkah tentu timbul permasalahan
tersendiri, terlepas dari perbedaan pendapat para ulama tentang cukup menghadap
arahnya saja sekalipun kenyataaannya salah atau menghadap ke arah yang sedekat
mungkin dengan posisi Ka bah yang sebenarnya.
Permasalahannya, apakah harus menghadap persis kebaitullah atau hanya
boleh ke arah taksirannya saja atau boleh ke pinggir Ka bah. Bagi yang melihat
Ka bah secara langsung, maka ia wajib menghadap ke arahnya karena tidak ada
kesulitan tetapi yang jauh dari Ka bah dapat melakukan shalat berdasarkan sabda
Nabi yang menyebutkan bahwa Baitullah merupakan kiblat bagi orang yang shalat
di Masjidil Haram, Masjidil Haram merupakan kiblat bagi penduduk kota Makkah
dan kota Makkah merupakan kiblat bagi penduduk di Bumi belahan Timur dan
Barat dari Umatku.
Indonesia yang berada di belahan Timur tentu dapat menghadap ke arah Ka
bah yang berada di belahan Barat namun dapat juga menghadap ke arah yang
lebih dekat yaitu dengan menyesuaikan antara arah Barat laut atau
Utara.Pergerseran kordinat antara Barat ke Barat laut atau Utara disinyalir karena

adanya pergeseran lempeng Bumi yang disebabkan seringnya terjadi gempa Bumi
di Indonesia.Pertanyaannya, benarkah gempa Bumi menyebabkan terjadi
pergeseran lempeng Bumi dan apakah pergeseran lempeng Bumi menyebabkan
berubahnya arah kiblat dari Barat ke Barat laut atau Utara. Faktor pergeseran
lempeng Bumi inilah yang menjadi pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI)
dalam mengeluarkan fatwa tentang penetapan arah kiblat yang awalnya
menghadap ke arah Barat kemudian berubah menghadap ke arah Barat laut,
berdasarkan diktum fatwa MUI No. 3 Tahun 2010 dan No. 5 Tahun 2010. 5 Fatwa
MUI ini telah menimbulkan keresahan dalam masyarakat,sehingga ditanggapi
secara berbeda baik dari kalangan MUI maupun dari kalangan ahli falak dan
astronomi MUI.Karena itu, persoalan arah kiblat menarik dikaji tentang
bagaimana penetapan arah yang sebenarnya, apakah cukup menghadap ke Barat
atau menghadap ke Barat laut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah Kabah?
2. Seperti Apa Fenomena Kabah dan baitul Mamur?
3. Apa Pengertian Arah Kiblat?
4. D. Bagaimana Proses Penetapan Fatwa MUI tentang Arah Kiblat?

1.3 Tujuan Penulisan


Dengan disusunya makalah ini diharap peserta didik dapat memahami tentang
penerapan kajian filosofis terhadap penetapan arah kiblat sehingga dapat menunjang

kemampuan mendeskrifsikan dan memahami dalam proses pembelajaran. Dan


juga dapat sebagai bahan pengembangan dalam mengetahui metode penetapan
arah kiblat.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Kabah
Kabah adalah kiblat dan pusat berbagai peribadatan kaum muslimin yang
merupakan bangunan suci yang terletak di kota Mekah. Ka bah (Baitul Makmur)
pertama kali dibangun dua ribu tahun sebelum penciptaan dunia. Nabi Adam AS
dianggap sebagai peletak dasar bangunan Ka bah di Bumi, batu-batu yang
dijadikan bangunan Ka bah saat itu diambil dari limasacred mountains (gunung
sakral) yaitu Sini, al-judi, Hira, Olivet dan Lebanon. Setelah Adam wafat,
bangunan itu diangkat ke langit dan lokasi itu diangungkan dan disucikan dari
masa ke masa oleh umat para Nabi. Pada masa Nabi Ibrahim AS dan putranya
Ismail AS, lokasi itu digunakan untuk membangun sebuah rumah ibadah. Dalam
pembangunan itu, Nabi Ismail AS menerima Hajar Aswad (batu hitam) dari Jibril
di Jabal Qubais, lalu 5 Majelis Ulama Indonesia adalah organisasi keulamaan
yang bersifat independen yang tidak berafiliasi kepada salah satu aliran politik
mazhab atau aliran keagamaan Islam yang ada di Indonesia, MUI dibentuk pada
tanggal 26 Juli 1975 dalam pertemuan ulama nasional. Pembentukan MUI
membuka sejarah baru dalam mewujudkan kesatuan umat Islam di Indonesia
dalam satu forum tingkat nasional yang dapat menampung, menghimpun dan
mempersatukan pendapat dan pemikiran ulama atau ulama Islam secara
keseluruhan.muhammad Atho Muzhar, Fatwa-Fatwa Majelis Ulama Indonesia,
sebuah Studi tentang Pemikiran Hukum Islam di Indonesia. Sesungguhnya rumah
yang pertama dibangun untuk tempat ibadah manusia adalah Baitullah yang di
Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.lihat
QS. 3 (96): QS. 2 (125-127). Al-Risalah Volume 10Nomor 1Mei 2010 163
meletakkannya di sudut tenggara bangunan.bangunan itu berbentuk kubus
yang dalam bahasa Arab disebut muka ab dan dari kata inilah muncul sebutan Ka
bah.ketika itu, Ka bah belum berdaun pintu dan belum ditutupi kain.orang yang

pertama membuat daun pintu Ka bah dan menutupinya dengan kain adalah Raja
Tubba dari Dinasti Himyar sebelum Islam di Najran. 10 Setelah Nabi Ismail AS
wafat, pemeliharaan dipegang oleh keturunannya, lalu diurus oleh Bani Jurhum
selama 100 tahun, lalu Bani Khuza ah yang kemudian memperkenalkan
penyembahan berhala, Hubal merupakan pemimpin berhala yang terdapat di Ka
bah dan disampingnya terdapat sejumlah anak panah yang digunakan kahin untuk
meramal. Berhala-berhala itu didatangkan dari Moab atau Mesopotamia (kawasan
Irak sekarang).selanjutnya, pemeliharaan Ka bah dipegang oleh kabilah-kabilah
Quraisy yang merupakan generasi penerus garis keturunan Nabi Ismail AS.
Menjelang kedatangan Islam, Ka bah dipelihara oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi
Muhammad saw. Ia menghiasi pintu Ka bah dengan emas yang ditemukan ketika
menggali sumur zam zam. Ka bah sebagai bangunan pusaka purbakala semakin
rapuh dimakan waktu, sehingga banyak bagian-bagian temboknya yang retak dan
bengkok, apalagi beberapa tahun sebelum bi sah, Mekah dilanda banjir hingga
menggenangi Ka bah sehingga meretakkan temboknya.pada saat itu, orang-orang
Quraisy berpendapat bahwa perlu diadakan renovasi bangunan Ka bah untuk
memelihara kedudukannya sebagai tempat yang suci. Dalam merenovasi
bangunan Ka bah, para pemimpin kabilah dan pemuka Quraisy membagi sudut Ka
bah menjadi empat bagian dan tiap kabilah mandapat satu sudut yang harus
dirombak dan dibangun kembali, ketika peletakan Hajar Aswad mereka berselisih
tentang siapa yang akan meletakkannya. Akhirnya mereka menunjuk Muhammad
bin Abdullah yang dikenal sebagain al-amin(orang dipercaya) saat itu. 1Setelah
penaklukan kota Mekah, pemeliharaan Ka bah dipegang oleh kaum muslimin dan
berhala-berhala yang terdapat disekitarnya

dihancurkan kemudian Nabi

memerintahkan Bilal mengumandangkan azan di atas Ka bah dan kaum muslimin


shalat berjama ah. Inilah awal penetapan arah kiblat kaum muslimin yang
kemudian diikuti oleh umat Islam sampai saat ini.

B. Ka bah dan Baitul Ma mur


Istilah Baiutul Ma mur terdapat dalam al-qur an yang dipahami oleh para ahli
tafsir sebagai sebuah rumah di langit ke tujuh yang setiap hari dikunjungi oleh
para malaikat sebanyak 70. 000 untuk beribadah dan bertawaf di sana. Pojok
sebelah Utara disebut al-ruknul Irqi, sebelah Barat disebut al-ruknusyi Syam,
sebelah Selatan disebut al-ruknul Yaman, dan sebelah Timur disebut al-ruknul
Aswadi karena Hajar Aswad terletak pada pojok ini. Ibid. 164 Al-Risalah Volume
10 Nomor 1 Mei 2010
sebagaimana penduduk bumi bertawaf di Ka bah. Demikian pula dengan baitul
Ma mur yang merupakan Ka bah bagi penduduk langit ke tujuh. Oleh karena itu,
di sana didapatkan Ibrahim as kekasih Allah menyandarkan punggungnya di
Baitul Ma mur karena ia telah membanguh Ka bah di bumi dan sudah pasti pahala
itu diberikan kepadanya sesuai amal ibadahnya. Setiap langit terdapat bait yang di
dalamnya para penghuninya beribadah dan mengerjakan shalat sedangkan yang
terdapat di langit dunia di sebut Baitul Izzah. Selain itu, Ka bah yang berada di
bumi konon sama dengan Baitul ma mur yang ada di langit sebagaimana
diriwayatkan oleh Ali ibn Abbas dalam tafsirnya terhadap QS al-thur ayat 4
tersebut. Di langit Baitul Ma mur konon berada tepat di atas Ka bah dan kesucian
dan kemuliannya sama dengan kesucian dan kemulian Ka bah di bumi yang
terdapat 70 ribu malaikat yang mengerjakan shalat setiap hari di dalamnya. 15
Mengacu pada keterangan di atas, maka dapat dipahami bahwa melaksanakan
shalat di atas pesat maupun di luar angkasa tetap harus menghadap ke arah Barat
Laut karena pada hakikatnya Ka bah yang berada di bumi merupakan landasan
arah kiblat di bumi dan di udara bahkan luar angkasa sampai ke langit ke tujuh
tepatnya di Baitul Ma mur. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak perlu bingung
tentang arah kiblat ketika ia berada di atas pesawat maupun di planet lain karena
sudah sangat jelas arah kiblat yang ada yaitu Ka bah di bumi menjulang ke Baitul

Ma mur di atas langit ke tujuh.


C. Pengertian Arah Kiblat
Kata al-qiblah terulang sebanyak 4 kali dalam al-qur an. Dari segi bahasa,
kata al-qiblah terambil dari akar kata qabala-yaqbalu yang berarti menghadap.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kiblat diartikan arah ke Ka bah di Mekah
pada waktu shalat. Dalam Kamus al-munawwir kiblat diartikan sebagai Ka bah,
dan dalam Ensiklopedia Hukum Islam, kiblat diartikan sebagai bangunan Ka bah
atau arah yang dituju kaum muslimin dalam melaksanakan sebagian ibadah. Ka
bah ditetapkan oleh Allah Swt. menjadi kiblat umat Islam ketika hidup dan mati,
yaitu waktu shalat menghadap kiblat dan ketika mati dibaringkan dalam kubur
menghadap kiblat. Sementara yang dimaksud arah kiblat adalah arah atau jarak
terdekat sepanjang lingkaran besar yang melewati kota Makkah (Ka bah) dengan
tempat kota yang bersangkutan. Dengan demikian, tidak dibenarkan jika orang
Makassar dalam melaksanakann shalat menghadap ke arah Timur serong ke
Selatan 14 QS at-thur (52): 4 15 Lihat dalam 95.Muhammad Ilyas Abdul Ghani,
Sejarah Makkah.
sekalipun arahnya tetap sampai ke Makkah jika berpatokan pada bulatnya
Bumi. Dengan demikian, kiblat atau Ka bah yang dihadapi ketika melaksanakan
shalat terletak di dalam Masjidil Haram Makkah yang menjadi pusat arah umat
Islam dalam melaksanakan ibadah. Sekalipun pada awalnya, Nabi ketika shalat
menghadap Baitul Maqdis karena kedudukannya yang masih dianggap paling
istimewa dan Ka bah di Mekkah masih dikotori dengan banyaknya berhala di
sekelilingnya. Pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram tidak
boleh dianggap ada perbedaan padahal keduanya sama di sisi Allah.
D. Proses Penetapan Fatwa MUI tentang Arah Kiblat
Pedoman fatwa MUI ditetapkan dalam surat keputusan MUI nomor U-

596/MUI 1997 yang meliputi dasar-dasar umum penetapan fatwa yaitu didasarkan
pada dalil ahkam yang kuat dan membawa kemaslahatan umat serta prosedur
spenetapan fatwa dan teknik serta kewenangan organisasi dalam penetapan fatwa.
Prosedur penetapan fatwa yaitu setiap masalah yang dihadapi MUI dibahas dalam
rapat komisi fatwa untuk mengetahui substansi masalah, dalam rapat komisi
tersebut dihadirkan ahli yang berkaitan dengan masalah yang akan difatwakan
untuk didengarkan pendapatnya untuk dipertimbangkan. Setelah mendengar
pendapat ahli, ulama melakukan kajian terhadap pendapat para imam mazhab dan
fukaha dengan memperhatikan dalil-dalil yang digunakan dengan berbagai cara
istidll, jika fukaha memiliki ragam pendapat maka komisi mengadakan
pemilihan salah pendapat untuk difatwakan, apabila cara ilhq dan analogi tidak
menghasilkan produk yang memuaskan, komisi dapat melakukan ijtihad jam i
dengan menggunakan al-qawid al-ushuliyyat dan al-qawid al-fi liyyat. Salah
satu fatwa MUI yang telah melalui proses penetapan berdasarkan ketentuan
komisi fatwa adalah fatwa yang terkait kiblat. Fatwa MUI No. 3 Tahun 2010 yang
menyatakan bahwa kiblat untuk wilayah hukum Indonesia adalah mengarah ke
Barat, sebagai konsekuensi dari pergeseran lempeng Bumi.MUI juga menegaskan
bahwa pergeseran tersebut tak mempengaruhi arah kiblat. Untuk itu, umat Islam
tak perlu bingung dengan arah kiblat apalagi mengubah bahkan membongkar
masjid atau musalah agar mengarah ke kiblat. Dalam diktum fatwa MUI No. 03
Tahun 2010 tentang kiblat tersebut disebutkan bahwa;
Pertama, tentang ketentuan hukum. Dalam kententuan hukum tersebut
disebutkan bahwa:
(1) Kiblat bagi orang shalat dan dapat melihat Ka bah adalah menghadap
ke bangunan Ka bah (Ainul Ka bah).
(2) Kiblat bagi orang yang shalat dan tidak dapat melihat Ka bah adalah
arah Ka bah (Jihad al-ka bah).

(3). Letak georafis Indonesia yang berada di bagian Timur Ka


bah/mekkah, maka kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap ke arah
Barat.
Kedua Rekomendasi mui merekomendasikan agar bangunan masjid/musalah
di Indonesia sepanjang kiblatnya menghadap ke arah Barat, tidak perlu diubah,
dibongkar, dan sebagainya. Namun fatwa MUI No. 3 Tahun 2010 mendapat
respons dan protes dari kalangangan masyarakat, khususnya golongan Syafi i
yang menilai bahwa fatwa MUI No. 3 Tahun 2010 tersebut tidak tepat karena
seharusnya arah kiblat menghadap ke Barat laut. Dasar pertimbangannya adalah
karena letak Indonesia, maka secara umum kiblat menghadap ke Barat laut bukan
ke Barat.Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 3 Tahun 2010 tentang kiblat
ternyata masih salah.dalam fatwa itu menyebutkan letak geografis Indonesia yang
berada di bagian Timur Makkah sehingga arah kiblat menghadap ke arah
barat.padahal, berdasarkan hasil penelitian dari ilmu falak dan astronomi, arah
yang ditentukan oleh MUI justru menghadap ke Afrika, Somalia Selatan, Kenya
dan Tanzania.Menurut kajian ilmu ini, arah Indonesia tidak persis di Timur
Makkah. Arah kiblat yang benar adalah menghadap ke Barat laut dengan
kemiringan

bervariasi,

berada.pelurusan

arah

sesuai
kiblat

letak
tidak

geografis
harus

wilayah

dengan

tempat

merombak

masjid

bangunan

masjid.melainkan, cukup dengan menyesuaikan garis saf salat dengan kiblat yang
benar.karena itu, MUI menghimbau agar semua wilayah di Indonesia harus
menyesuaikan arah kiblat sesuai dengan ralat dari fatwa MUI tersebut. Alasannya
adalah karena Indonesia terletak tidak di Timur pas arah Ka bah tapi agak ke
Selatan, jadi arah kiblat kita juga tidak pas ke Barat tetapi agak sedikit mengarah
ke arah Barat laut.

Atas dasar ini, maka Majelis Ulama Indonesia (MUI)

kemudian meralat fatwa No. 3 Tahun 2010 dengan dikeluarkannya fatwa No. 5
Tahun 2010 dengan menyebutkan bahwa arah kiblat yang sebelumnya disebutkan

menghadap ke Barat kini telah direvisi dengan menghadap ke Barat laut.

Telaah para Ahli tentang Penetapan Arah Kiblat MUI Penentuan arah kiblat
di Indoensia sangat menentukan karena pergeseran arah kiblat sebesar 1 derajat
saja bisa melencengkan arah sekitar 100 km dari titik Ka bah.semakin jauh dari
Ka bah, maka lencengan arah kiblat semakin besar.karena itu, sangat diajurkan
untuk menetapkan arah kiblat. Namun demikian, Sekretaris Komisi Fatwa Majelis
Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Hasanudin, mengatakan bahwa perbedaan yang
terdapat antara Fatwa MUI No. 3 Tahun 2010 tentang kiblat dan Fatwa MUI No. 5
Tahun 2010 tentang arah kiblat saling menyempurnakan.
No 8 2010 menyatakan kiblat muslim Indonesia adalah arah Barat sedangkan
dalam Fatwa MUI No. 5 2010 disempurnakan dengan redaksi: kiblat umat Islam
Indonesia adalah menghadap ke Barat laut dengan posisi bervariasi sesuai dengan
letak kawasan masing-masing. Lebih lanjut Hasanudin mengatakan, madzhab
yang sekarang ada dan dianut tentang arah kiblat tidak salah selama merujuk alqur an dan hadis.
Oleh karena itu masyarakat tidak perlu risau dan saling menyalahkan satu
sama lain karena tiap-tiap pendapat memiliki argumen dan dalil masing-masing.
Dia menyebutkan misalnya, pendapat yang menyatakan arah kiblat ke Barat
adalah Madzhab Hanbali yang berpegang pada teks.selain itu, umat muslim tidak
perlu membongkar bangunan masjid agar sesuai dengan arah kiblat, umat Muslim
cukup menggeser posisi barisan (saf) shalat sesuai dengan arah kiblat. Tidak perlu
mengubah posisi masjid karena terlalu memberatkan. Hal yang sama disampaikan
oleh Zulfa Mustofa, Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama LBM PBNU). Dia memaparkan, perbedaan arah kiblat terletak pada
persoalan apakah ditentukan secara persesi (tepat) atau kira-kira. Menurutnya,
fatwa MUI No. 5 Tahun 2010 muncul setelah perdebatan panjang yang lantas

mengakomodir Madzhab Syafii yang notabene madzhab mayoritas muslim


Indonesia. Zulfa menjelaskan, Madzhab Syafii memberlakukan syarat ketepatan
dan kehati-hatian dalam upaya penentuan arah kiblat.meskipun tidak secara tepat,
ujar dia, setidaknya ada usaha agar sebisa mungkin arah kiblat Indonesia
sesuai.namun demikian, dia menegaskan selama arah kiblat tidak melenceng jauh
dan bertolak belakang dengan teks al-qur an dan hadis maka shalat yang
dilakukan tetap sah. Zulfah menambahkan bahwa yang terpenting adalah tidak
terjadi konflik dan saling menghormati pendapat satu sama lain. Di samping itu,
dia menghimbau agar tidak perlu menggeser posisi masjid karena secara fisik
bangunan masjid tidak ada masalah. Menyikapi perubahan fatwa MUI, Zulfah
menyerukan agar umat muslim tidak resah karena tradisi merubah fatwa lumrah
terjadi. Dia menyebutkan umat Islam leluasa mengikuti pendapat yang lebih
maslahat yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan tidak perlu terjadi
konflik antar umat. Pandangan berbeda dikemukakan oleh Ali Mustafa Ya qub
imam besar masjid Istiqlal yang menegaskan bahwa pendadat yang kuat bagi
orang Indonesia tentang arah kiblat adalah menghadap ke Barat berdasarkan ayat
al-qur an dan al-hadis. Dia menuturkan bahwa muslim Indonesia berada di Timur
Ka bah sehingga arah kiblat yang benar adalah menghadap ke Barat secara
mutlak. Ya qub meminta agar masyarakat Indonesia tidak perlu ragu & bimbang
tentang sah tidaknya shalat mereka. Menurutnya muslim Indonesia tidak perlu
merubuhkan masjid dan membangun kembali agar sesuai dengan arah kiblat
karena menggeser arah kiblat tidak diperintahkan dalm Islam dan tidak menjadi
suatu kewajiban. Perbedaan pendapat ulama di atas disebabkan oleh adanya sudut
pandang yang berbeda dalam memahami ayat dan wilayah hukum Indonesia
terhadap posisi Ka bah.karena itu, perlu dikaji kembali kedua kemungkinan
pendapat tersebut di atas, apakah posisi Ka bah berada di Barat atau Barat
laut.untuk menentukan posisi Indonesia, maka dapat digunakan teknologi Google

Earth agar posisi Indonesia terhadap Ka bah dapat ditentukan.

selanjutnya, para ahli falak seperti Ali Parman mengatakan bahwa dalam
menentukan arah kiblat dapat menggunakan dua sistem yaitu teori sudut dan teori
bayangan.
Teori sudut adalah penentuan arah kiblat dengan memanfaatkan Utara
geografis atau menentukan arah dari tempat tinggal seseorang ke kota
Makkah (Ka bah) di permukaan Bumi sama dengan menentukan
azimutsudut Ka bah karena arah ukur sepanjang horizon yang
memperhitungkan Utara Selatan meredian setempat.
Sedangkan teori bayangan ialah menentukan arah kibat yang berpedoman
pada posisi matahari. Atau dengan kata lain, pada jam (waktu) tertentu
untuk tanggal dan bayangan suatu benda (tongkat misalnya) mengarah ke
Ka bah. Ada dua cara yang bisa dilakukan bagi mereka yang menganut
teori ini yaitu; Pertama; berpedoman pada posisi matahari yang sedang
atau hampir persis berada pada titik zenitka bah yang sangat
diperhitungkan adalah deklinasi dan lintang tempat. Secara astronomi,
keadaan ini dapat terjadi apabila nilai lintang tenpat sama dengan nilai
deklinasi matahari pada saat berkulminasi. Saat matahari berkulminasi di
Makkah yang nilai deklinasinya hampir sama dengan nilai lintang tempat
Makkah (Ka bah). Deklinasi matahari di Makkah yaitu + 21 o 24 o dan
lintangnya 21 o 25 o Jadi hampir sama dan cukup dinilai paling dekat. 33
Kedua; berpedoman pada posisi matahari yang sedang persis berada pada
azimut Ka bah. Cara ini dikenal dengan istilah bayangan kiblat, maka
benda apasaja yang dapat berdiri tegak lurus mengarah ke kiblat pada hari,
tanggal dan jam tertentu.untuk mengetahui jam berapa terjadi bayangan
arah kiblat, maka data yang harus dipersiapkan adalah data arah kiblat

suatu tempat (Makassar 67 o 30 Ibid. 31 Ali Parman, op. cit., h. 71. 32


Azimut atau as-samtu adalah arah yaitu harga suatu sudut untuk matahari
atau bulan dihitung sepanjang horizon atau ufuk yang biasanya diukur dari
titik Utara ke Timur sampai titik perpotongan antara lingkaran vertikal
yang melaewati matahari atau bulan itu dengan lingkaran horizon.khazin,
op. cit., h. 137. 33 Deklinasi adalah jarak dari suatu benda langit ke
equator langit diukur melalui lingkaran waktu dan dihitung dengan
derajat,menit dan sekon. Berhubungan dengan itu lingkaran waktu
dinamakan pula lingkaran deklinasi. Deklinasi matahari berubah-ubah
selama satu tahun tetapi pada tanggal-tanggal yang sama bilangan
deklinasi itu kira-kira sama. Sayuti Ali, Ilmu Falak.Ed. 1 (Cet. 1; Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 11. Al-Risalah Volume 10Nomor
1Mei 2010 169

10 32 o dari Utara ke Barat), data deklinasi matahari yang bersumber dari


Almanak Neutika atau Epemeris, data Bujur tempat (Bt), data Bujur Daerah (BD),
data perawa waktu (e), data lintang tempat (P). Tujuan disiapkannya data-data ini
adalah untuk mencari pada jam berapa bayangan suatu benda mengarah ke arah
Ka bah. Aplikasi teori sudut memiliki kesamaan dengan penetapan arah kiblat
yang berbasis aplikasi komputer, yaitu Qibla Lacator yang menggunakan piranti
peta digital Google.Qibla Lacator ditemukan oleh seorang peneliti dari
Universitas Waterloo di Ontario Canada yang bernama Hammed Zarrabi Zadeh
bersama Ibnu Mas ud pada tahun 2006. 34 Dengan Qibla Lacator dapat diketahui
arah kiblat dari manapun umat berada, cara ini dianggap lebih akurat dan mudah
dibanding caracara sebelumnya seperti kompas. Selain Qibla Lacator, aplikasi
komputer dengan menggunakan Google Earth lebih praktis karena hanya
menentukan titik sudut suatu masjid dengan membuat titik sudut tengah pada Ka

bah, maka garis lurus akan menlucurke Ka bah. Berbeda dengan teori
bayangan,kemudian dikritik olehthomas Jamaluddin (pakar astronomi dan
astrofisika) karena tingkat keakuratannya yang meragukan.sekalipun demikian,
penentuan arah kiblat dengan menggunakan bayangan matahari dapat mendekati
akurasi jika dilakukan dengan cermat dan tepat waktu, yaitu sekitar tanggal 26-30
Mei pukul 16:18 WIB dan tanggal 13-17 Juli pukul 16:27 WIB, saat itu matahari
tepat berada di atas Makkah.Pada saat itu, matahari yang tampak pada di seluruh
penjuru Bumi dapat dijadikan penunjuk lokasi Ka bah begitu pula bayangan
benda tegak pada waktu juga dapat menjadi penentu arah ke kibat karena dalam
satu tahun, matahari singgah di Bumi sebanyak dua kali tepat di atas Ka bah yang
disebut dengan Istiwa A zm(persinggahan utama). Peristiwa persinggahan utama
ini terjadi pada tanggal 28 Mei atau 27 di tahun Kabisat pukul 12:18 waktu
Makkah dan 16 Juli atau 15 di tahun Kabisat pukul 12:27. 35 Selain kedua teori
tersebut di atas, menentukan dan mengukur arah kiblat dapat juga dilakukan
dengan menggunakan kompas, yaitu kompas transparan, kompas magnet dan
kompas kiblat, menggunakan busur derajat, rubu mujayyab, rumus segitiga sikusiku, tongkat istiwa. Hanya saja menentukan arah kiblat dengan menggunakan
kompas magnet maupun kompas kiblat hasilnya relatif kasar karena pengaruh
grafitasi Bumi dan medan magnet. Sedangkan menentukan arah kiblat dengan
menggunakan kompas transparan, rumus segitiga, busur derajat, rubu mujayyab,
rumus segitiga, hasilya relatif lebih akurat dibandingkan dengan kompas magnet
dan kompas kiblat.sementara menentukan arah kiblat dengan tongkat istiwa
(bayang-bayang tongkat) merupakan media yang sangat akurat.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut;
1. Kedudukan Ka bah bagi kaum muslimin karena menjadi arah kiblat dalam
beribadah
2. Penentuan arah kiblat dalam fatwa MUI didasari oleh adanya pergeseran
lempeng Bumi, kemudian menjadi sebab perubahan fatwa MUI
3. Para ahli memandang bahwa penentuan arah kiblat dengan menggunakan teori
sudut dan bayangan dikritik oleh pakar astronomi bahwa teori ini tidak akurat.
Penetapan dan pengukuran arah kiblat dengan menggunakan teori manual telah
lama diterapkan para ahli, para pakar astronomi menawarkan pengukuran arah
kiblat dengan menggunakan aplikasi komputer dengan menggunakan piranti
Google Earth.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Sayuti. Ilmu Falak.Ed. 1. Cet. 1; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997.
Azhari, Susiknan. IlmuFalak, Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern.
Cet. 2; Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007.
Dahlan, Abdul Aziz dkk.ensiklopedia Hukum Islam.Jilid 3.Cet. I; Jakarta: Ichtiar
Baru Van Hoeve, 1997.
http://forum.upi.edu/index.php?topic=13608.0
http://kampungtki.com/baca/15939.
http://www.al-habib.info/arah-kiblat/cara-menentukan-kiblat-denganmatahari.htm
http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=249:
Parman, Ali. Ilmu Falak.tt: Tp, 2001. Shihab, Quraish. Membumikan al-qur
an.bandung,Mizan 1994
TIM.Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, 1989), h.
438. 172 Al-Risalah Volume 10 Nomor 1 Mei 2010