Anda di halaman 1dari 9

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1

Kinetika Pertumbuhan Mikroba

Kinetika pertumbuhan mirkoba merupakan suatu rangkaian reaksi kimia yang


mengendalikan sintesis penyusunan biomassa yang diperoleh pada akhir biakan secara
menyeluruh yang mengikuti prisip kekekalan massa. (Kusnandi, no year)
Menurut Shuler dan Kargi (2001), untuk mikroba, kondisi lingkungan sangat
berpengaruh dalam proses pertumbuhan. Proses pertumbuhan adalah hasil dari replikasi dan
perubahan ukuran dalam sel. Mikroorganisme dapat tumbuh tergantung kondisi fisik, kimia
dan kondisi nutrisinya. Dalam kondisi nutrisi yang cukup, organisme mengekstrak nutrisi
dari media dan mengubahnya menjadi senyawa biologi. Bagian dari nutrisi utama ini
digunakan untuk produksi energy dan bagian yang digunakan untuk biosintesis dan
pembentukan produk. Sebagai hasil dari pemanfaatan nutrisi, massa mikroba meningkat
dengan waktu berdasarkan persamaan sebagai berikut:
Substrat + Sel/mikroorganisme Mikroorganisme + Produk
Sumber C, N, O, F dan mineral

metabolit, CO2, H2O, enzim

Pertumbuhan mikroorganisme merupakan contoh yang baik pada suatu reaksi


autokatalis. Pertumbuan mikrobial biasanya dicirikan dengan waktu yang dibutuhkan
untuk menggandakan massa atau jumlah sel. Waktu ganda massa dapat berbeda dengan
waktu ganda sel, karena massa sel dapat meningkat tanpa peningkatan jumlah sel. Laju
pertumbuhan ditunjukkan langsung oleh konsentrasi sel dan penambahan jumlah sel
(biomassa) yang merupakan keluaran yang normal dari reaksi tersebut. Namun demikian,
bila pada suatu lingkungan tertentu interval antara massa sel atau penggandaan jumlah
konstan dengan waktu, maka organisme itu tumbuh pada kecepatan eksponensial. Laju
pertumbuhan mikroorganisme dicirikan dengan laju pertumbuhan spesifik (specific
growth rate) dinyatakan sebagai berikut:
dCx
dT = Cx
dimana:Cx
= Konsentrasi sel dalam gram/liter
t
= waktu

= laju pertumbuhan spesifik dalam jam-1


Dengan membuat grafik In Cx terhadap t, maka didapat tg =
Dalam perhitungan pertubuhan mikroba, ada beberapa metode. Menurut Julianti, 2011
metode pengukuran pertumbuhan mikroba dapat diukur dengan :
1. Mengukur banyaknya sel
a) Perhitungan mikroskopis
Dengan bantuan dari slide Petroff Housser dan Hemocytometer. Dimana sel hidup
vs sel mati dibedakan dengan pewarnaan metilen biru atau tripen biru yang
mewarnai sel mati. Namun kelemahan dari metoda ini yaitu ukuran bakteri sangat
kecil dan bentuk sel khamir dan kapang bukan sel mandiri (utuh).

b) Perhitungan dengan pupuk cawan petri


Inokulasi suspensi mikroba dengan diencerkan secara bertigkat lalu disebarkan
dengan batang gelas steril pada permukaan cawan petri berisi agar. Lalu diinkuasi
24 jam (>) sampai timbul koloni yang terpisah, nantinya akan terdapat CFU (Cel
forming unit) yang dapat berasal dari satu sel, miselium, atau pseudomiselium.
Dapat digunakan untuk bakteri dan khamir, namun kurang baik untuk kapang.
Pada kondisi tertentu, khamir dapat membentuk miselium atau pseudomiselium.

c) Cultur slide
Metode ini modifikasi pupukan cawan petri dengan cara medium agar
ditempatkan dalam gelas kecil dan dipasang pada slide mikroskop, lalu
inokulasikan dengan suspense mikroba, selanjutnya slide diinkubasi dan terakhir
setelah tumbuh 2-3 kali massa mengganda, dilihat di bawah mikroskop.
Kelemahannya sama seperti metoda dalam cawan petri hanya saja metode ini
lebih cepat karena waktu yang dibutuhkan hanya 3-4 jam saja.

d) Caulter Counter
Kultur yang diencerkan ditempatkan pada reservoir cairan yang mengandung
elektrolit. Pipa bagian dalam divakumkan untuk menarik liquid. Lalu antara 2
elektroda diberi tegangan listrik. Bila sel melalui lubang kecil, akan terjadi
resistensi pulsa pada aliran listrik, lalu dapat dihitung besarnya resistensi besarnya
sel.

e) Nefolmetri
Metoda ini menghitung jumlah sel atau banyaknya partikel menggunakan suatu
sumber cahaya yag diarahkan tegak lurus terhadap tabung foto. Bila cahaya
menembus sampel cair, maka tabung foto mengukur cahaya yang disebarkan.
Metoda ini berguna untuk sampel cair (sel yang dicairkan) atau suspense partikel.
2. Mengukur Massa Sel : Metoda Langsung
a) Bobot sel kering
Metoda ini dilakukan dengan sample berupa kultur broth penuh, lalu di sentrifusi dan
setelahnya dicuci dengan lautan buffer atau air, terakhir dikeringkan pada suhu 80C
dalam waktu 24 jam atau pada suhu 110C dalam waktu 8 jam. Metoda ini digunakan
untuk sel yang ditumbuhkan pada medium bebas solid. Namun, tidak baik untuk sel
yang ditumbuhkan.
b) Turbiditas
Metoda ini dilihat dari densitas optik/turbiditas kaldu kultur (massa sel). Turbiditas
suspense sel diukur dengan cahaya pada panjang gelombang 600 700 nm
menggunakan spektrofotometer atau dengan rumus calorimeter menggunakan filter
merah. Namun, metode ini tidak baik digunakan untuk medium dengan kandungan
padatan selain sel, medium tidak boleh mengandung komponen lain yang dapat
mengabsorpsi cahaya yang digunakan.
3) Estimasi massa sel metode tidak langsung
a) Komponen sel
b) Pengambilan nutrient
c) Pembentukan produk
d) Evolusi panas
e) Volume Sel terkemas, dan
f) Viskositas.

Namun, menurut Shuler dan Kargi (2001), metode perhitungan untuk menentukan
konsentrasi massa sel dapat dilakukan dengan cara :
Metode langsung
Penentuan berat kering selular adalah metode langsung yang paling umum digunakan
untuk menentukan konsentrasi massa sel dan hanya berlaku untuk sel ditumbuhkan dalam
medium padatan bebas. Jika padatan nonseluler, seperti molase padatan, selulosa, atau jagung
minuman keras curam, yang membenci, pengukuran berat kering akan tidak akurat. Biasanya,
sampel dari kaldu kultur disentrifugasi atau disaring dan dicuci dengan larutan buffer atau air.
massa sel basah dicuci kemudian dikeringkan di 80C selama 24 jam; maka berat sel kering
diukur.
Packed cell volume digunakan untuk dengan cepat tetapi memperkirakan konsentrasi
sel alam kaldu fermentasi (misalnya, fermentasi antibiotik industri). Kaldu fermentasi
disentrifugasi dalam tabung lulus meruncing dalam kondisi standar (rpm dan waktu), dan
volume sel yang diukur.
Metode cepat lain didasarkan pada penyerapan cahaya oleh sel-sel tersuspensi dalam
media kultur sampel. Intensitas cahaya yang ditransmisikan diukur menggunakan
spektrometer. Kekeruhan atau kepadatan optik pengukuran media kultur menyediakan
metode cepat, murah, dan sederhana memperkirakan kepadatan sel tanpa adanya padatan lain
atau senyawa lightabsorbing. Luasnya transmisi cahaya dalam ruang sampel adalah fungsi
densitas sel dan ketebalan ruangan. transmisi cahaya dimodulasi oleh kedua penyerapan dan
hamburan. Sel-sel berpigmen memberikan hasil yang berbeda dari penyerapan
ones.Background tidak berpigmen oleh komponen dalam medium harus dipertimbangkan,
terutama jika spesies terlarut menyerap diambil ke dalam sel. media harus dasarnya partikel
bebas. prosedur yang tepat memerlukan menggunakan panjang gelombang yang
meminimalkan penyerapan oleh komponen menengah (600- 700-nm panjang gelombang
sering digunakan), "pengosongan" terhadap media, dan penggunaan kurva kalibrasi. Kurva
kalibrasi berhubungan optical density (OD) untuk pengukuran berat kering. kurva kalibrasi
tersebut dapat menjadi nonlinier pada nilai OD tinggi (> 0,3) dan tergantung sampai batas
tertentu pada keadaan fisiologis sel.
Metode tidak langsung
Dalam banyak proses fermentasi, seperti cetakan fermentasi, metode langsung tidak
dapat digunakan. Dalam kasus tersebut metode tidak langsung digunakan, yang terutama
didasarkan pada pengukuran konsumsi substrat dan / atau pembentukan produk selama
pertumbuhan.Komponen intraseluler sel seperti RNA, DNA, dan protein dapat diukur sebagai
tindakan tidak langsung dari pertumbuhan sel. Selama siklus pertumbuhan batch, konsentrasi
komponen intraseluler berubah dengan waktu. Namun, DNA dan protein konsentrasi tetap
cukup konstan. Oleh karena itu, dalam media yang kompleks, konsentrasi DNA dapat
digunakan sebagai ukuran pertumbuhan mikroba. pengukuran protein selular dapat dicapai
dengan menggunakan metode yang berbeda. Jumlah asam amino, Biuret, Lowry (Folin
reagen), dan pengukuran nitrogen Kjeldahl dapat digunakan untuk tujuan ini. Total asam

amino dan metode Lowry yang paling dapat diandalkan. Baru-baru ini, penentuan protein kit
dari beberapa vendor telah dikembangkan untuk sederhana dan cepat reasurements protein.
Metode-metode tersebut digunakan untuk memantau dan mengkaji fenomena
pertumbuhan mikroorganisme. Untuk lebih jelasnya dapat diamati dengan kurva
pertumbuhan yaitu sebagai berikut :
KURVA PERTUMBUHAN MIKROORGANISME

2.2

Fasa fasa pada Kinetika Pertumbuhan


Pertumbuhan bakteri dikelompokkan menjadi empat fase, yaitu fase adaptasi, fase
perbanyakkan, fase statis juga kematian.

Fase adapatasi

Tidak ada pertambahan populasi fase ini, sel hanya berubah dan bertambah ukurannya.
Ketika sel dipindah pada media yang baru, sel akan melakukan proses adaptasi. Dalam fase
adaptasi terjadi penambahan volume sel karena ketika fase statis sel dapat melakukan
mengecil (Agroteknologi, 2015). Kurun waktu ini merupakan penyesuaian bakteri dalam
lingkungan yang baru. Pada fase ini tidak ada pertambahan jumlah sel, melainkan
peningkatan ukuran sel (Lay dan Hastowo, dalam Rofii, 2009). Waktu yang dibutuhkan fase
adaptasi ini tergantung kondisi lingkungan mikroorganisme tersebut sebelum diinokulasikan,
jumlah inoculum seta kondisi media dan kondisi inkubasi yang digunakan untuk
pertumbuhan. (Garbutt, dalam Rofii, 2009)

Fase perbanyakan

Fase dimana bakteri berkembang dengan cepat. Sel membelah dengan kecepatan dua kali
lipat. Setelah mendapat kondisi pertumbuhan ideal, sel membelah diri. Disebut juga dengan
fase eksponensial karena pembelahan sel termasuk persamaan ekponensial. Pada fase inilah
senyawa etanol, asam laktat dan asam organik lainnya terbentuk (Agroteknologi, 2015). Laju
pertumbuhan selama fase logaritmik ini ditentukan oleh beberapa faktor seperti suhu
inkubasi, aktivitas air dan pH media penanaman (Garbutt, dalam Rofii 2009)

Fase statis/konstan

Pada fase ini bakteri kehabisan nutrient, beberapa sel mati yang lain membelah diri. Fase
ini memperlihatkan jumlah bakteri yang lahir jumlahnya sama dengan bakteri yang mati
(Agroteknologi, 2015).
Menurut Shulrt dan Kargi (2001), meskipun tingkat pertumbuhan bersih adalah nol
selama fase stasioner, sel-sel yang masih aktif secara metabolik dan menghasilkan metabolit
sekunder. metabolit primer adalah produk terkait pertumbuhan dan metabolit sekunder yang
non-growth terkait. Bahkan, produksi metabolit tertentu ditingkatkan selama fase stasioner
(misalnya, antibiotik, beberapa hormon) karena metabolit deregulasi. Selama fase diam, satu
atau lebih dari fenomena berikut dapat terjadi:
1. Total konsentrasi massa sel mungkin tetap konstan, tetapi jumlah sel yang layak dapat
menurunkan.
2. Sel lisis dapat terjadi dan massa sel yang layak bisa turun. Sebuah fase pertumbuhan
kedua mungkin terjadi dan sel-sel dapat tumbuh pada produk lisis sel segaris
(pertumbuhan
samar).
3. Sel mungkin tidak tumbuh tetapi mungkin memiliki metabolisme aktif untuk
menghasilkan metabolit sekunder. Peraturan seluler berubah ketika konsentrasi metabolit
tertentu (karbon, nitrogen, fosfat) yang rendah. metabolit sekunder diproduksi sebagai
hasil dari metabolit deregulasi.

Fase kematian

Fase ini ditandai dengan sel mati lebih cepat dari pada sel baru. Penyebab kematian yaitu
autolisis sel dan hilangnya energi. Kebanyakan bakteri hanya hidup beberapa jam sebelum
mengalami kematian. Namun beberapa bakteri tertentu bisa hidup hingga puluhan tahun
dengan cara berubah menjadi spora (Agroteknologi, 2015). Menurut Garbutt, dalam Rofii
(2009), kematian ini dapat diakibatkan oleh beberapa penyebab berikut :

1.
2.
3.
2.3

Sel kehabisan energy (organiseme menghabiskan energy cadangannya dan


kelaparan),
Perubahan pH dalam media penanaman merusak sel organiseme dan
menyebabkan kematian sel
Akumulasi bahan beracun hasil proses metabolism.

Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba

Menurut Wibowo (no year), faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme


ada 2 faktor, yaitu intrinsik dan ekstrinsik.
-

Faktor intrinsik : pH, moisture content, potensial oksidasi reduksi, kandungan


nutrisi, kandungan antimikroba, struktur biologi, dll.
Faktor ekstrinsik : Temperaue, kelembaban relative lingkungan, konsentrasi gas di
lingkungan, dll.

Ketersediaan Nutrisi
Kebutuhan mikroorganisme tergantung pada air, bahan-bahan yang terlarut dalam
air,dan semua unsur yang ikut serta pada pembentukan sel dalam bentuk berbagai senyawa
yang dapat diolah. Kebutuhan nutrin pokok meliputi unsur mikro dan makro. Unsur makro
terdiri dari C, O, H, N, S, P, K, Ca, Mg dan Fe yang terkandung dalam semua organisme dan
unsur mikro atau unsur-unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sepura, seperti Mn, Mo, Ze, Pb,
Co, Ni, Va, Bo, Cl, Na, Se, Si dan lainnya. Sumber-sumber karbon dan energi diambil oleh
organisme fotosintesis dengan cara mengoksidasi senyawa-senyawa anorganik dengan
memanfaatkan CO2 sebagai sumber karbon utama. Glukosa, selulosa, dan pati dimanfaatkan
sebagai sumber energi. Organisme juga memerlukan zat pelengkap atau suplemen yang
digunakan dalam komponen dasar sel yang tidak bisa disintesis dari komponen-komponen
sederhana, suplemen tersebut adalah asam amino, senyawa purin, pirimidin dan vitamin.
Mikroorganisme juga memerlukan S, N dan O2 (Schlegel, dalam Saputro, 2015).
Temperatur
Kisaran suhu untuk aktivitas enzim menentukan sifat pertumbuhan mikroorganisme.
Suhu tertinggi dimana mikroorganisme masih dapat tumbuh disebut suhu maksimum dan
suhu terendah mikroorganisme masih dapat tumbuh disebut suhu minimum (Lay, 1994).
Mikroorganisme mempunyai suhu optimum, yaitu suhu dimana mikroorganisme dapat
tumbuh secara oiptimal.

Setiap mikroorganisme mempunyai kisaran suhu minimal, maksimal dan optimal


untuk tumbuh yang berbeda-beda. Mikroorganisme psikotropik hidup pada suhu refrigerasi
dengan kisaran temperatur optimal 15 sampai 20 oC. Mesopilik organisme dapat hidup pada
suhu 5 7oC dengan kisaran temperatur optimal 35 - 40oC. Thermopilik mikroorganisme
dapat tumbuh pada temperatur sampai 80oC (Grau, 1986)
.
Ketersediaan Air
Mikroorganisme tidak dapat hidup tanpa air, kebutuhan air untuk mikroorganisme
sangat spesifik dan biasa disebut dengan aktivitas air (aw/water activity). Aktivitas air adalah
perbandingan antara tekanan uap larutan denagan tekanan uap air solven murni pada
temperatur yang sama (Soeparno, 1992). Air murni mempunyai nilai a w 1,00 (Kadar Air
100%).
Nilai aw dari mikroorganisme mendekati air murni dengan kisaran tergantung pada
jenis mikroorganisme. Bakteri pathogenik mempunyai kisaran 0,995 sampai 0,980. Bakteri
halophilik mempunyai nilai aw optimum pada larutan NaCl 0,80 sampai 0,85. Yeast
mempunyai nilai aw antara 0,87 samapi 0,90. Jamur mempunyai nilai kisaran aw 0,79 sampai
0,93 (Grau, 1986).
Kebutuhan Oksigen
Mikroorganisme dapat dipilah berdasarkan kebutuhan akan oksigen, diantaranya
adalah aerob obligat, anaerob obligat, anaerob fakultatif dan mikroaerofil (Lay, 1994).
Mikroorganisme aerobik obligat menghasilkan energi melalui respirasi dengan
demikian tergantung pada oksigen. Mikroorganisme obligat anaerobik hanya mampu hidup
dalam

lingkungan

bebas

oksigen,

karena

oksigen

bersifat

toksik

terhadapnya.

Mikroorganisme anaerob fakultatif tumbuh dengan adanya oksigen, jadi bersifat aerotoleran,
tetapi mikroorganisme ini tidak dapat memanfaatkan oksigen dan memperoleh energi dengan
cara fermentasi (Schlegel, 1994). Mikroorganisme mikroaerofil memerlukan oksigen dalam
jumlah kecil sekitar 5 sampai 10% (Lay, 1994).
pH
Setiap mikroorganisme mempunyai pH optimum yang tertentu, sehingga pH awal
yang optimum dan mempertahankannya selama pertumbuhan

amatlah penting.

Mikroorganisme kebanyakan hidup pada kondisi pH netral dimana terdapat keseimbangan

ion H+ dan OH-. Ada juga mikroorganisme yang dapat hidup pada kondisi asam (asidophilik)
dan kondisi basa (Schlegel, 1994).
Sewaktu pertumbuhan mikroorganisme seringkali terjadi perubahan pH pada media
lingkungan hidupnya. Mikroorganisme yang melaksanakan fermentasi menghasilkan asam
sehingga pH akan turun menjadi 3,5. Perubahan lingkungan media dapat menjadi basa
dengan adanya metabolisme protein dan asam amino dengan dihasilkannya ion amonium
(Lay, 1994).