Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

PERLINDUNGAN DAN PENGAMANAN HUTAN

MONITORING KERUSAKAN HUTAN DAN RANCANGAN TEKNIK


PENANGGULANGANNYA

OLEH :
HELMI GRACIA
M111 14 061
KELOMPOK 7C

LABORATORIUM PERLINDUNGAN HUTAN DAN SERANGGA BERGUNA


FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Perlindungan

hutan

merupakan

bagian

dari

kegiatan

silvikultur yang bertujuan untuk menyelamatkan hutan dari


musuh-musuhnya. Perlindungan hutan merupakan bagian dari
kegiatan silvikultur yang sangat penting dan harus diberikan
perhatian khusus sesuai dengan subyeknya. Ilmu perlindungan
hutan dapat dipelajari secara terpisah dari bagian silvikultur
lainnya, dengan demikian ilmu ini akan tetap terasa pentingnya
dan tidak pernah akan dilupakan. Sasaran umum daripada
perlindungan hutan adalah menanamkan kesadaran kepada
setiap petugas kehutanan akan pentingnya hubungan ilmu
perlindungan hutan dengan cabang lain dari ilmu silvikultur pada
khususnya serta cabang-cabang ilmu kehutanan pada umumnya
yang dalam hubungan ini kita kenal baik sebagai

forest

management (Widyastuti, 2004).


Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan
lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan
semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan
berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide
sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari
tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer bumi yang paling
penting.
terutama

Hutan

merupakan

pepohonan

atau

suatu

kumpulan

tumbuhan

berkayu

tetumbuhan,
lain,

yang

menempati daerah yang cukup luas. Pohon sendiri adalah


tumbuhan cukup tinggi dengan masa hidup bertahun-tahun. Jadi,
tentu berbeda dengan sayur-sayuran atau padi-padian yang
hidup

semusim

saja.

Pohon

juga

berbeda

karena

secara

mencolok memiliki sebatang pokok tegak berkayu yang cukup

panjang

dan

bentuk

tajuk

(mahkota

daun)

yang

jelas.

Perlindungan hutan meliputi pengamanan hutan, pengamanan


tumbuhan dan satwa liar, pengelolaan tenaga dan sarana
perlindungan hutan dan penyidikan (Widyastuti, 2004).
Perlindungan hutan diselenggarakan dengan tujuan untuk
menjaga hutan, kawasan hutan dan lingkungannya, fungsi
lindung, fungsi konservasi dan fungsi produksi dapat tercapai
secara optimal dan lestari. Ada beberapa faktor yang bisa
menyebabkan

rusaknya

hutan,

diantaranya

kebakaran,

perladangan, pengembalaan, dan perambahan. Hal tersebut


yang

melatarbelakangi

mengantisapasi

penyusunan

kerusakan

hutan

laporan

yang

ini,

diakibatkan

untuk
oleh

kebakaran, perladangan, pengembalaan, dan perambahan hutan


(Widyastuti, 2004).
I.2Tujuan Praktek Lapang
Adapun tujuan dari praktek lapang perlindungan hutan:
1. Mengetahui faktor-faktor kerusakan hutan yang disebabkan
oleh

kebakaran,

perladangan,

perambahan,

dan

pengembalaan.
2. Mengetahui karakteristik kerusakan hutan
3. Mengetahui rancangan teknik penanggulangan kerusakan
hutan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kerusakan Hutan Akibat Faktor Hama
Persoalan hama dan penyakit bukanlah melulu persoalan Entomologi atau
Mikologi, tetapi merupakan persoalan yang cukup kompleks yang menyangkut
semua faktor-faktor yang ikut membentuk masyarakat hutan. Semua faktor baik
faktor organic maupun faktor non organik, mempunyai kedudukan yang sama dan
harus mendapat perlakuan yang sama pula. Dalam hutan alam dimana kedudukan
biologis masih terdapat seluruh faktor yang membentuk masyarakat hutan baik
faktor organik maupun yang bukan organik berada dalam kekuatan yang
seimbang. Diantara semua faktor tersebut setiap saat terjadi persaingan dalam
usaha untuk menjadi faktor yang dominan dan dengan adanya persaingan maka
timbul seleksi alami. Misalnya pohon sebagai faktor organik mengalami seleksi
alami yang terus menerus sehingga akan menghasilkan jenis pohon-pohon yang
kuat dan cocok untuk daerah lingkungan tertentu, seleksi alami dimulai dari biji
dimana biji yang berasal dari pohon yang cukup tua dan sehat akan tumbuh
menjadi pohon yang baik. Keseimbangan semua faktor dalam masyarakat hutan
alam dan terjadinya seleksi alami secara terus menerus, menyebabkan hutan
resisten terhadap serangan hama dan penyakit (Yunafsi, 2007).
Apabila hutan alam dikonversi menjadi hutan industri maka timbullah
problema hama hutan. Hutan industri apapun juga alasannya, merupakan suatu
kegiatan hasil manusia sebagai faktor ekologi yang dominan konversi hutan alam
menjadi hutan industri menyebabkan timbulnya kegoncangan-kegoncangan dalam
keseimbangan biologis. Setiap perubahan yang dilaksanakan dalam suatu
lingkungan dan setiap usaha untuk mempengaruhi lingkungan memerlukan
perubahanperubahan atau usaha-usaha lebih lanjut untuk menciptakan timbulnya
keseimbangan baru dalam hutan. Sebelum keseimbangan baru dapat dicapai
biasanya terjadi kerusakan atau kerugian-kerugian yang sebagai akibat dari pada
peluapan populasi suatu jenis serangga tertentu. Misalnya pada keadaan
lingkungan

yang memungkinkan dimana parasit dan predator tidak ada atau minim sekali,
suatu jenis serangga dapat beranak dalam jumlah yang besar sebagai akibatnya
akan merusak kayu dalam jumlah yang besar pula, sehingga menimbulkan
kerugian yang secara ekonomis berarti. Pada tingkat kerugian yang ekonomis
inilah yang disebut terjadinya serangan (Yunafsi, 2007).
Di hutan alam hidup berbagai jenis hewan dan serangga, selama hewan dan
serangga tidak menimbulkan kerusakan terhadap tanaman yang secara ekonomis
berarti maka serangga dan hewan tersebut belum disebut sebagai hama. Akan
tetapi jika serangga dan hewan tersebut sudah menimbulkan kerusakan terhadap
jenis tanaman hutan yang secara ekonomis berarti maka serangga atau hewan
penyebab kerusakan terhadap jenis tanaman hutan dapat disebut sebagai hama. Di
hutan alam yang hidup berbagai jenis tumbuhan dan satwa sangat jarangsekali
terjadi kerusakan tanaman hutan akibat adanya serangga atau hewan. Keadaan ini
dikarenakan adanya hubungan antara mahluk hidup dan lingkungannya di hutan
alam sangat kompleks sehingga memperkuat kestabilan ekosistem. Bebeda
dengan hubungan antara mahluk hidup dan lingkungannya di areal hutan tanaman
industri yang cenderung monokultur atau memiliki keanekaragaman hayati rendah
telah membuat kondisi ekosistem yang labil. Keadaan ini yang memicu terjadinya
hama tanaman hutan. Hukum ekologi menyatakan bahwa makin rendah
keragaman suatu areal maka keadaan areal tersebut semakin labil.keadaan lanil ini
akan membuat dan mempermudah meledaknya suatu populasi jenis serangga dan
hewan tertentu yang dapat menjadi hama bagi jenis tanaman tertentu pula.
Apabila populasi margasatwa tersebut berlebihan (over population), maka akan
menimbulkan kerusakan dalam ekosistem hutan. Kerusakan yang ditimbulkan
dapat terjadi pada : (1) daun dari pohon, (2) pucuk dan tunas pohoh, (3) kulit
pohon, (4) batang pohon, (5) semai dan anakan, (6) biji dan buah, dan (7)
kerusakan tidak langsung akibat luka pohon yang ditimbulkan, (8) menjadi
pemangsa atau memakan populasi spesies lain (Yunafsi, 2007).

2.2. Kerusakan Hutan Akibat Faktor Ternak


Kerusakan akibat penggembalaan ternak dalam hutan dapat menyebabkan
seluruh pohon mati, bahkan dapat menimbulkan erosi tanah. Derajat kerusakan
yang diderita hutan tergantung pada jenis serta jumlah ternak, intensitas
penggembalaan dan jenis pohon penyusun hutan. Jenis berdaun lebar akan lebih
disukai ternak daripada yang berdaun jarum. Intinya, spesies yang berbeda dapat
memberikan reaksi yang berbeda terhadap penggembalaan (Hartanto, 2003).
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penggembalaan di hutan
adalah ( Sumardi, 2007) :
1. Populasi ternak disekitar kawasan hutan : Semakin besar populasi ternak
yang hidup di sekitar hutan maka akan semakin banyak pakan ternak yang
dibutuhkan sehingga semakin besar kemungkinan ternak digembalakan di
hutan untuk memenuhi kebutuhan pakannya.
2. Jumlah hijauan ternak yang mampu dihasilkan di desa sekitar hutan :
Tidak adanya lahan di pedesaan sekitar hutan yang dapat digunakan untuk
penyediaan ternak guna memenuhi kebutuhan ternak, akan menyebabkan
masuknya pemilik ternak, baik sendiri maupun bersama ternaknya, ke
hutan untuk mencari pakan ternak.
3. Teknik memelihara ternak yang dilakukan oleh masyarakat : Peternakan
sistem lepas menyebabkan penggembalaan ternak di hutan.
4. Intensitas pengawasan oleh pengelola kawasan hutan : Kurangnya
pengawasan memungkinkan masuknya ternak di hutan.
Dengan adanya 4 faktor penyebab terjadinya penggembalaan ternak di
hutan tersebut, maka menimbulkan akibat kerusakan hutan. Akibat yang terjadi
yaitu ( Sumardi, 2007) :
a. Kerusakan Terhadap Tanah Hutan
Ternak yang digembalakan di dalam hutan, misalnya lembu dan kambing,
apabila populasinya berlebihan akan menyebabkan banyak tanah menjadi terbuka
karena rumput dan tanaman yang melindungi tanah dimakan ternak. Injakan kaki

ternak dapat mengakibatkan tanah terkais sehingga bila hujan akan mudah dibawa
oleh aliran air. Tanah akan menjadi padat, pori-pori tanah tertutup oleh partikelpartikel tanah dan air hujan akan menggenang di permukaan tanah. Akibat dari
semua itu akan dapat menimbulkan suatu erosi tanah, terutama tanah-tanah yang
miring akan lebih cepat tererosi. Tanah-tanah yang miring dan hutan-hutan yang
berfungsi untuk melindungi tata air atau sumber air merupakan daerah yang harus
bebas dari penggembalaan ternak.
b. Kerusakan tanah Tanaman Muda
Tanaman muda yang dimaksud adalah tanaman yang tajuknya masih dapat
dicapai oleh ternak. Tanaman muda sangat peka terhadap penggembalaan. Karena
tajuknya yang masih rendah dan batangnya masih lemah, bila dimasuki ternak
maka akan dapat berakibat :

daun/tajuk tanaman dimakan sampai gundul,

batang tanaman dapat melengkung atau patah,

seluruh tanaman dapat tercabut,

kulit batang sering dimakan dan terkupas.

c. Menularkan penyakit pada satwa liar


Ternak yang digembalakan didalam hutan dapat menularkan penyakit
kepada satwa liar yang hidup didalam hutan. Kasus yang populer terjadi di TN.
Ujung Kulon yaitu kematian Badak Jawa, karena penyakit antraks yang ditularkan
dari Kerbau yang digembalakan masyarakat di gunung Honje pada tahun 1981.
2.3 Kerusakan Hutan Akibat Faktor Angin
Angin sebagai faktor cuaca lainnya dapat memberikan pengaruh baik dan
buruk terhadap hutan. Pengaruh yang baik misalnya dalam hal penyerbukan dan
penyebaran biji. Disini hanya akan dibahas mengenai pengaruh yang merugikan
pohon-pohon hutan baik yang langsung maupun yang tidak langsung. Pengaruh
angin yangmerugikan dapat dibagi menjadi :
a. Pengaruh Terhadap Tanah Hutan

Pengaruh angin terhadap tanah hutan dapat menyebabkan terjadinya erosi


angin dan menyebabkan tanah menjadi kering. Erosi angin terjadi karena
perpindahan tanah dari tempatnya karena tiupan angin. Biasanya butir-butir tanah
yang halus sewaktu tanah sedang kering akan mudah untuk ditiup angin.
Tertiupnya butiran-butiran tanah yang terus menerus akan menyebabkan tanah
menjadi kurus atau tidak subur lagi. Sering pula serasah hutan juga tertiup
sehingga tanah menjadi terbuka dan ditempat lain terdapat timbunan dari serasah
yang tebal.
b. Pengaruh terhadap cuaca hutan
Angin kuat yang meniup di hutan dapat mengganggu atau menyebabkan
terjadinya gangguan terhadap penguapan, transpirasi, temperatur, kelembaban,
carbondioxida, dan lain-lainnya. Akibatnya cuaca dari hutan akan dapat berubah
menjadi cuaca yang tak menguntungkan bagi hutan. Sering terjadi karena adanya
angin cuaca di hutan menjadi dingin atau menjadi panas.
c. Pengaruh terhadap fisiologi pohon
Akibat fisiologi pohon karena tiupan angin dapat berbentuk:

Bentuk dari tajuk yang tak normal


Merubah sistem dari perakarannya
Berkurangnya tinggi dari pohon
Perubahan-perubahan fisiologi pohon tersebut adalah merupakan usaha

dari pohon untuk mempertahankan diri agar tetap hidup dalam menghadapi angin.
Gejala ini tampak jelas pada pohon-pohon yang tumbuh di pinggir hutan karena
merupakan pohon yang langsung menahan tiupan angin. Makin ke dalam hutan
akibat dari angin akan makin berkurang.
d. Kerusakan mekanis pada pohon
Kerusakan mekanis yang disebabkan oleh angin dapat berbentuk:

Ranting-ranting patah
Daun-daun berguguran
Akar-akar mudah patah
Batang-batang pohon patah
Pohon-pohon terbongkar dengan akarnya

Kerugian besar biasanya terjadi bila ada angin taupan, sehingga banyak
pohon akan tumbang dan patah. Angin yang kecil saja tidak akan menimbulkan
kerusakan mekanis. Kerusakan mekanis terjadi bila angin mempunyai kecepatan +
45 km per jam ke atas.

e. Penyemprotan garam pada hutan


Hutan yang menderita penyemprotan garam adalah yang berada di pantai.
Angin yang keras dengan kecepatan +150 km per jam akan mampu meniup butirbutir air laut sampai sejauh 45-70 km. Hutan yang tersiram air garam daunnya
akan menjadi kuning kemerah-merahan. Dalam keadaan yang merana ini sering
hama dan penyakit akan datang menyerang hingga dapat mempercepat
kematiannya. Hutan yang menderita hebat akan tampak seperti terbakar.
Mencegah sama sekali timbulnya kerusakan hutan akibat angin sangatlah
sulit, tetapi mengurangi besarnya kerusakan dapatlah dilakukan dengan jalan
mengusahakan agar pinggir hutan terutama yang berbatasan dengan tanah terbuka,
ditutupi vegetasi secara rapat dan vertikal dengan daun-daunnya yang lebat,
sehingga angin tidak dapat masuk ke dalam hutan. Usaha untuk membuat pohonpohon hutan tahan terhadap angin dapat dilakukan dengan pengaturan
penjarangan. Mempercepat penjarangan yang keras dan secara bertahap
membiasakan pohon untuk menghadapi angin (karena perubahan fisiologi pohon)
akan dapat membuat hutan lebih tahan dalam menghadapi angin. Tebang pilih
terutama yang berbentuk jalur-jalur banyak memberikan keuntungan dalam
menghadapi angin. Mengingat pohon-pohon tua akan lebih menderita daripada
yang muda di dalam menghadapi angin, maka sering daur tebang hutan
dipendekkan.
Untuk mencegah terjadinya erosi tanah oleh angin, jalan yang baik adalah
selalu mengusahakan agar tanah selalu tertutup oleh humus, serasah dan tanaman
bawah. Apabila terdapat tanah yang terbuka terutama banyak mengandung pasir,
untuk menghindari terjadinya erosi angin sebelum tanaman hutan dapat menutup,
dapat diusahakan dengan menanami jenis rumputan-rumputan atau semak-semak

yang cepat dapat menutup tanah. Menutup tanah dengan batang-batang rumput
kering yang diberi pemberat dapat pula dilakukan selama bibit-bibit pohon hutan
masih kecil.
2.4 Kerusakan Hutan Akibat Faktor Kebakaran
Kebakaran hutan adalah merupakan sumber kerusakan utama pada hutan
produksi, tetapi pada keadaan-keadaan tertentu kebakaran hutan juga memberi
manfaat. Perbedaan antara pentingnya kerusakan dan manfaat dari suatu
kebakaran hutan sangat luas dan seringkali dibesar-besarkan. Di bawah ini secara
khusus akan dibicarakan pengaruh kebakaran hutan dan kerusakan yang
ditimbulkannya sedangkan manfaat kebakaran hutan juga akan dibicarakan pada
judul tersendiri (Sutisna, 1998).
a. Tingkat Kerugian Pertahun Sebagai Akibat Kebakaran
Suatu studi tentang dokumen statistik dan laporan pada setiap tahun yang
dilakukan oleh bagian perlindungan hutan di Dinas Kehutanan Amerika Serikat
menunjukkan bahwa diantara tahun 1942-1946, jumlah luas areal hutan yang
terbakar di Amerika Serikat kecuali Alaska adalah sekitar 169,355 acres. Seluas
74,423 acres kebakaran terjadi pada areal yang dilindungi atau diawasi oleh
organisasi pemadam kebakaran. Sisanya kurang lebih 95,000 acres pertahun
mengalami kebakaran di daerah yang tidak dilindungi. Sepintas lalu, nampaknya
bahwa pengelolaan kebakaran hutan dinegara ini tidak efektif, kita hanya melihat
bahwa jumlah areal yang terbakar pada daerah yang dilindungi luasnya hanya 25
% lebih kecil dibanding dengan daerah yang tidak dilindungi. Tetapi apabila kita
menyadari bahwa luas daerah yang dilindungi selama lima tahun mendekati
498,000,000 acres, sedangkan areal yang tidak dilindungi hanya sekitar
129,000,000 acres (Sutisna, 1998).
Dari laporan tahunan didapatkan bahwa sekitar 42,000,000 acres luas
hutan terbakar setiap tahunnya, dimana hanya sekitar 14 % dari kebakaran ini
terjadi di atas areal yang dilindungi, sedangkan sisanya 86 % terjadi pada areal
yang tidak dilindungi. Melihat dari jumlah areal hutan secara keseluruhan maka
dapat disimpulkan bahwa hanya sekitar 0,7 % kebakaran terjadi pada areal yang

dilindungi dan sebanyak 15 % pada areal yang tidak dilindungi setiap tahunnya.
Dengan data ini akan memberi keyakinan bahwa dengan usaha perlindungan,
hutan dapat diselamatkan dari bencana kebakaran (Sutisna, 1998).
Usaha perlindungan hutan terhadap bahaya kebakaran di Amerika Serikat
dimulai sejak 73 tahun yang lalu yakni sejak dibentuknya organisasi pengendalian
kebakaran pada tahun 1910. Hasil pencatatan yang dilakukan oleh Dinas
Kehutanan Amerika Serikat tentang tingkat kerusakan hutan sebagai akibat
kebakaran setiap tahunnya adalah mendekati $ 35,000,000 yang mana sekitar $
90,000 terjadi pada daerah-daerah yang dilindungi dan sisanya terjadi pada daerah
hutan yang dilindungi. Besarnya jumlah tersebut hanya meliputi jenis-jenis
kerusakan yang mudah dihitung seperti pohon, permudaan, makanan ternak dan
nilai perbaikan tegakan yang habis terbakar. Juga perlu diketahui bahwa nilai areal
yang dilindungi disini ditaksir sebesar $ 3.00 peracre, sedang nilai areal yang
tidak dilindungi hanya berkisar $ 1.3 peracre. Jumlah kerugian yang digambarkan
diatas tidak termasuk semua bentuk kerugian yang sifatnya tidak langsung tetapi
kemungkinan akibatnya jauh lebih berbahaya seperti misalnya akibat kebakaran
terhadap kerusakan lingkungan hidup sehingga menimbulkan bahaya erosi dan
banjir. Kerugian tidak langsung sebagai akibat kebakaran hutan ini sangat sulit
diperhitungkan tetapi biasanya dalam jangka waktu panjang nilai kerusakannya
melebihi dari kerusakan langsung (Widyastuti, 2004).
Sekitar 75 % areal hutan yang tidak dilindungi di Amerika Serikat terletak
pada bagian selatan, sehingga didaerah ini dianggap sangat perlu untuk
membentuk satu organisasi perlindungan terhadap bahaya kebakaran. Dewasa ini
di Amerika Serikat nampak adanya kecenderungan, menurunnya kerusakan hutan
akibat kebakaran. Hal ini terutama disebabkan karena adanya usaha perlindungan
kebakaran hutan yang dilakukan secara terus menerus yang mana selalu berusaha
menjadikan areal yang belum terlindungi menjadi areal yang dilindungi dari
bahaya kebakaran dan juga selalu berusaha untuk meningkatkan metode
pengendalian api yang dilaksanakan pada areal yang sudah dilindungi
(Widyastuti, 2004).

10

Suatu hal penting yang perlu diingat bahwa salah satu pengaruh tidak
langsung dari kebakaran hutan adalah kemungkinan timbulnya hama dan
penyakit. Luka-luka yang terjadi serta lemahnya kondisi pohon sebagai akibat
kebakaran hutan akan mempermudah serangga menyerang dan berkembang biak
secara cepat sehingga menimbulkan kerusakan pohon yang lebih besar.
Selanjutnya salah satu alasan mengapa kebakaran hutan dianggap perusak kedua
dibanding perusak serangga, hal ini terutama karena sudah dikuasainya program
pencegahan awal dari kebakaran dan dikuasainya program pencegahan awal dari
kebakaran dan juga teknik pengendalian bilamana kebakaran terjadi. Seandainya
belum dimiliki organisasi pencegahan dan pengendalian kebakaran yang baik,
maka tentunya kerusakan hutan akibat kebakaran pasti akan jauh lebih besar
dibandingkan faktor-faktor perusak lainnya. Api dapat timbul secara tiba-tiba,
tidak terduga serta dalam waktu yang relatif singkat, tetapi dia dapat dikendalikan
secara efektif dibandingkan dengan perusak lainnya (Widyastuti, 2004).
b. Klassifikasi Kerusakan Sebagai Akibat Kebakaran Hutan
Kerusakan sebagai akibat kebakaran hutan secara garis besarnya dapat
diklassifikasikan sebagai berikut ini, dimana nomor 1 4 mempunyai hubungan
langsung dengan metode silvikultur yang diterapkan setiap tahun (Sutisna, 1998).
1. Kerusakan Pohon - pohon yang Bernilai Penting
Kerusakan ini bisa bervariasi dari bentuk luka bakar yang kecil pada
bagian bawah pohon sampai pada hangusnya seluruh pohon, tetapi yang terakhir
ini jarang terjadi kecuali bila kebakarannya keras sekali, yang umum terjadi
adalah pohon-pohon yang terbakar hanya sampai mati saja. Kematian pohon
disebabkan karena matinya cambium atau lapisan-lapisan hidup lainnya yang
terdapat antara kulit dan kayu. Temperatur sekitar 54C sudah cukup mematikan
kambium (Baker, 1929), tetapi suatu studi lain yang lebih detail oleh Lorenz
(1939) menunjukkan bahwa lethal temperatur terletak antara 65C dan 69C.
Bilamana kambium sekeliling batang mati, maka pohon-pohon kelihatannya
seperti diteres dan kemudian mati. Kambium yang sudah mati ditandai dengan
warnanya yang agak hitam sedangkan warna kambium pada keadaan marginal
adalah bercahaya. Tidak mutlak bahwa kulit harus terbakar hangus, bahkan

11

dengan sedikit tanda terbakar pada kulit kayu yang tipis sudah cukup mematikan
pohonnya. Panas yang menghanguskan kulit bagian luar kadang-kadang sudah
cukup untuk mematikan kambium.
2. Kerusakan

Pada

Pertumbuhan

Tanaman

Muda

Termasuk

Bibit

Permudaan
Pohon-pohon yang ada dibawah tegakan tua, utamanya permudaan yang
kulitnya tipis serta tajuknya lekat dari permukaan tanah akan lebih mudah
dimatikan api daripada pohon-pohon yang tinggi besar. Bahkan dengan api yang
kecil sudah cukup untuk mematikan anakan pohon yang ada. Api secara
bersamaan akan membinasakan baik pohon muda maupun pohon tua, namun yang
paling menderita adalah tentunya pohon muda. Sedikit saja kerusakan pada pohon
muda akan membuat pohon merana sehingga pertumbuhannya lemah dan mudah
dihinggapi hama atau penyakit. Kadang-kadang kerusakan seperti ini akan
berkembang cepat sekali dan menyebabkan kebakaran terjadi.
3. Kerusakan Pada Tanah
Sebagai akibat kebakaran hutan maka sifat fisik tanah akan lebih banyak
dirusak daripada sifat kimianya. Kerusakan fisik tanah terjadi karena pengurangan
kadar humus. Bahan-bahan organik diatas tanah selain humus biasanya sulit
dimakan api. Heyward dengan hasil penelitiannya mengatakan bahwa panas yang
dihasilkan oleh kebakaran pada pinus jenis tertentu tidak mampu menghabiskan
bahan-bahan organik yang terletak dekat diatas permukaan tanah (1/4 inci).
Kebakaran yang keras akan mematikan semua pohon, menyebabkan
terbukanya tajuk, menghanguskan ranting dan humus yang ada dipermukaan
tanah sehingga tanah akan menjadi terbuka dari panas terik matahari dan
hembusan angin. Tanah seperti ini akan cepat sekali mengalami kerusakan fisik.
Dilain pihak kebakaran dapat memperbaiki sifat kimia daripada tanah
tetapi manfaat ini sangat kecil apabila dibandingkan dengan kerusakan fisik yang
ditimbulkannya. Kebakaran ringan yang mampu menghanguskan serasah tetapi
tidak sampai mematikan tegakan pohon dianggap tidak merusak tanah, bahkan
kadang-kadang kejadian seperti ini dianggap menguntungkan.
4. Merusak Makanan Ternak

12

Api akan segera menghanguskan rumput-rumput kering dan juga tumbuh tumbuhan lainnya yang dapat dijadikan makanan ternak. Api dapat mematikan
akar-akar vegetasi yang tumbuh rapat dengan demikian akan menyebabkan
berkurangnya kerapatan makanan ternak dan juga akan menggantikannya dengan
vegetasi yang tidak dikehendaki sebagai makanan ternak. Kerusakan makanan
ternak yang serius sebagai akibat kebakaran dapat dibiarkan denagn membiarkan
ternak masuk kedalam hutan untuk mengurangi tumpukan bahan organik yang
mudah terbakar. Kebakaran ringan pada vegetasi kering biasanya dianggap
menguntungkan karena pada vegetasi kering tersebut sesudah terbakar ringan
akan muncul tunas-tunas muda yang dijadikan makanan ternak yang baik
5. Manfaat Kebakaran Hutan
Akibat yang menguntungkan daripada kebakaran hutan secara garis besar
dapat diuraikan seperti uraian berikut. Pada prinsipnya, agar kebakaran hutan itu
benar-benar memberikan manfaat yang diperlukan maka harus diketahui secara
pasti tentang keadaan bagaimana api dapat dipercayakan untuk menyelesaikan
pekerjaan-pekerjaan atau maksud-maksud tertentu disamping itu juga harus
diketahui jenis kebakaran bagaimana yang dapat memberi manfaat.
6. Api atau kebakaran dapat dipergunakan untuk membantu permudaan
alami dari jenis-jenis yang dikehendaki
Hal ini dapat dilakukan dengan membakar tumpukan serasah yang tebal
pada lantai hutan sehingga mineral-mineral tanah menjadi terbuka dimana hal ini
merupakan persyaratan persemaian dari jenis-jenis pohon tertentu, tetapi perlu
diingat bahwa tidak semua jenis pohon menghendaki keadaan seperti ini untuk
perkecambahan. Kebakaran juga dapat mematikan pohon-pohon yang tumbuh
terdahulu yang dianggap kurang baik sehingga dapat memberi kesempatan pohonpohon yang baik untuk tumbuh kemudian yakni sesudah kebakaran terjadi. Pada
permudaan jenis pinus tertentu (longleaf pine) apabila diantaranya terdapat
permudaan tanaman lain, maka biasanya dilakukan pembakaran yang dapat
mematikan permudaan lain, tetapi tidak mematikan permudaan pinus tersebut.

13

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Perlindungan dan Pengamanan Hutan dilakukan pada hari
Minggu, 21 November 2016 Pukul 08.00 WITA, di Hutan Pendidikan Universitas
Hasanuddin , Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.
1.2. Alat dan Bahan
1.2.1. Adapun alat yang digunakan adalah sebagai berikut :
1) Roll Meter Min. 25 meter
2) Tali Rafia
3) Kamera
1.2.2. Adapun bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :
1) Kertas Grafik
2) Tally Sheet
1.3. Prosedur kerja Lapangan
1) Membuat plot berukuran 25 m x 25 m
2) Melakukan pengamatan terhadap pohon yang mengalami kerusakan akibat
faktor biotik/abiotik pada plot yang telah dibuat
3) Mencatat hasil pengamatan pada tally sheet yang sudah disediakan
4) Menggambar sketsa tegakan pada kertas grafik.
1.4. Analisis data
Persentase Kerusakan=

Kerusakan pohon x 100


Total Pohon

14

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil
4.1.1. Tally Sheet
Faktor Fisik/Abiotik/Biotik
No

Pohon

Hama Ternak

1.

Pinus
merkusii

2.

Pinus
merkusii

Dll

Angin

Kebakaran

Rayap

3.

Pinus
merkusii

4.

Pinus
merkusii

Manusia

5.

Pinus
merkusii

6.

Pinus
merkusii

Pinus
merkusii

Pinus
merkusii

Pinus
merkusii

10

Pinus
merkusii

11

Pinus
merkusii

12

Pinus
merkusii

13

Pinus
merkusii

14

Pinus
merkusii

15

Pinus
merkusii

16

Pinus
merkusii

15

17

Pinus
merkusii

Manusia

18

Pinus
merkusii

19

Pinus
merkusii

20

Pinus
merkusii

21

Pinus
merkusii

22

Pinus
merkusii

Rayap

23

Pinus
merkusii

Manusia

24

Pinus
merkusii

25

Pinus
merkusii

26

Pinus
merkusii

27

Pinus
merkusii

28

Pinus
merkusii

29

Pinus
merkusii

30

Pinus
merkusii

31

Pinus
merkusii

32

Pinus
merkusii

33

Pinus
merkusii

34

Pinus
merkusii

Manusia

35

Pinus
merkusii

16

36

Pinus
merkusii

37

Pinus
merkusii

38

Pinus
merkusii

39

Pinus
merkusii

40

Pinus
merkusii

41

Pinus
merkusii

42

Pinus
merkusii

43

Pinus
merkusii

44

Pinus
merkusii

45

Pinus
merkusii

46

Pinus
merkusii

47

Pinus
merkusii

48

Pinus
merkusii

49

Pinus
merkusii

4.1.2. Gambar Plot

17

4.1.3. Diagram Faktor kerusakan

18

Persentase Kerusakan
1.0000

80%

0.8000
0.6000
Persentase Kerusakan

0.4000
0.2000
0.0000

Persentase Kerusakan
4%

8%

0%
0%

Faktor Kerusakan

4.2.

Pembahasan

19

Dari hasil di atas terdapat kerusakan akibat hama yaitu 0%, kerusakan
akibat ternak yaitu 0%, kerusakan akibat angin yaitu 0% dan kerusakan akibat
kebakaran yaitu 0.7959%. Adapun yang terdapat kerusakan akibat faktor dan lain
lain misalnya manusia, Lumut dan Rayap yaitu 0.2040%. Kerusakan yang
paling banyak terjadi pada plot hasil pengamatan adalah faktor akibat kebakaran.
Berdasarkan data yang diperoleh terdapat beberapa faktor yang menyebabkan
kebakaran

pada

Hutan

Pendidikan

Bengo

Bengo.

Kemarau

yang

berkepanjangan menyebabkan hutan menjadi kering dan sangat mudah terbakar,


sehingga sedikit sumber api dapat menyebabkan kebakaran. Faktor yang
menyebabkan munculnya titik api adalah pencari lebah yang menggunakan asa
puntuk mengusir lebah dari sarangnya untuk diambil madu dari sarangnya. Faktor
selanjutnya yang dapat menyebabkan kerusakan hutan yaitu perambahan oleh
masyarakat sekitar berupa pemungutan hasil hutan berupa getah pinus yang dapat
dilihat dari bekas penyadapan pada bagian pangkal pohon yang telah terbakar.
Faktor lain yaitu pembakaran yang disengaja karena hubungan antara
pengelola Hutan Pendidikan dengan masyarakat sekitar. Sehingga masyarakat
membakar hutan secara sengaja. Sehingga berdasarkan hasil pengamatan,
kebakaran merupakan faktor terbesar yang menyebabkan kerusakan hutan pada
Hutan Pendidikan Bengo Bengo.
Dari kerusakan tersebut maka rancangan teknik penanggulangannya yakni
pencegahan merupakan upaya yang dilakukan pada fase sebelum kejadian
berlangsung. Kegiatan pencegahan kebakaran hutan dapat dilakukan meliputi
membuat peta kerawanan kebakaran, memantau gejala rawan kebakaran,
penyiapan regu pemadam, membangun menara pengawas, membuat jalur sekat
bakar, penyuluhan dan membentuk organisasi pemadam kebakaran hutan dan
lahan.

20

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Kerusakan hutan karena kebakaran hutan merupakan penyebab kerusakan
yang dapat menimbulkan kerugian yang paling besar dalam waktu yang sangat
singkat. Berbeda dengan faktor kerusakan hutan akibat faktor lain seperti hama
dan penyakit.
Kegiatan pencegahan kebakaran hutan dapat dilakukan meliputi membuat
peta kerawanan kebakaran, memantau gejala rawan kebakaran, penyiapan regu
pemadam, membangun menara pengawas, membuat jalur sekat bakar,
penyuluhan dan membentuk organisasi pemadam kebakaran hutan dan lahan.
5.2. Saran
Sebaiknya di hutan pendidikan Universitas Hasanuddin di jaga dengan
baik agar tidak terjadi lagi kerusakan kerusakan yang tidak di inginkan.

21

DAFTAR PUSTAKA
Hartanto, 2003. Tata Kelola Perusahaan di Perum Perhutani. Yayasan Sarana
Wana Jaya. Jakarta.
Sumardi, Widyastuti, 2004. Panduan Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan
Hutan. Laboratorium Kesehatan dan Perlindungan Hutan, Fakultas
Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Sumardi, Widyastuti, 2007. Dasar-dasar Perlindungan Hutan. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Sumarna Yana, 2001. Budidaya Pinus. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sutisna, dkk, 1998. Pedoman Pengelolaan Pohon Hutan di Indonesia (Seri
Manual). Yayasan PROSEA. Bogor.
Widyastuti, S.M, 2004. Kesehatan Hutan: Suatu Pendekatan Dalam
Perlindungan Hutan (Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Dalam
Ilmu Perlindungan Hutan Pada Fakultas Kehutanan Universitas
Gadjah Mada). UGM, Yogyakarta.
Yunafsi, 2007. Permasalahan Hama, Penyakit, dan Gulma dalam Pembangunan
Hutan Tanaman. Fakultas Pertanian, Universitas Sumatra, Medan.

22