Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

GELOMBANG DAN OPTIK

DIFRAKSI CAHAYA LASER OLEH KISI


DAN
PENGUKURAN PANJANG GELOMBANG LUCUTAN GAS
DENGAN DIFRAKSI KISI

Oleh
Muminul Muhaimin (106321400571/2006)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
2008

DIFRAKSI CAHAYA LASER OLEH KISI


A. Tujuan
1. Mempelajari difraksi cahaya laser oleh kisi.
2. Menentukan panjang gelombang cahaya laser.
B. Dasar Teori
Apabila suatu berkas cahaya mengenai banyak celah, dan di bagian belakang banyak
celah tersebut diletakkan sebuah layar maka pada layar akan terjadi pita terang di pusat
yang di bagian kanan dan kirinya dikelilingi oleh beberapa pita lagi yaitu gelap dan terang
secara berselang seling. Peristiwa ini disebut Difraksi, yang terjadi jika panjang gelombang
cahaya yang digunakan lebih pendek dari jarak antar celah.
Panjang gelombang cahaya yang digunakan dapat ditentukan dengan persamaan:
d sin m

m
dengan d adalah jarak antar celah pada kisi, m adalah besar sudut untuk terang ke-m (lihat
gambar), dan m = 0, 1, 2, 3,.

x
L

Peralatan yang mempunyai celah banyak dan sempit disebut kisi. Sebuah kisi terdiri
atas ratusan hingga ribuan celah yang berupa goresan. Misalnya sebuah kisi tertulis angka
500 garis/mm, artinya setiap 1 mm terdapat 500 goresan (celah). Apabila banyak setiap
satuan panjang (mm) adalah N, maka tetapan kisi d dituliskan;
d

1
mm
N

Pola difraksi ditandai dengan garis terang dengan persamaan


d sin n

sedangkan untuk pola difraksi minimum pada kisi ditandai dengan garis gelap, dengan
persamaan
1

d sin n
2

C. Peralatan
1. Sumber Laser He-Ne
2. Kisi dengan 3 variasi lebar celah

Gambar 1. Set Peralatan


D. Prosedur Eksperimen
1. Menseting peralatan seperti gambar 1.
2. Memilih kisi dengan jarak antar celah yang paling kecil dan memasang pada
tempatnya.
3. Menghidupkan laser.
4. Mengamati pita-pita gelap terang pada layar di belakang kisi. Mengukur jarak titik
terang pertama dari pusat (x) danmengukur jarak dari kisi ke terang pusat.
5. Mengulangi langkah 1 s.d 3 untuk lebar celah kisi yang lain.
6. Mengulangi langkah 1 s.d 4 untuk mengukur panjang gelombang laser yang
digunakan serta mengukur jarak layar ke kisi.
E. Data Pengamatan
Tabel Pengamatan
1
NO
d1

1.
2.
3.
4.
5.

d2

L (cm)
44
44
44
44
44

x (cm)
7.8
8.0
8.0
8.0
8.0

100

x (cm)
2.6
2.6
2.6
2.6
2.6

1
mm
300

mm

L (cm)
44
44
44
44
44

d3

x (cm)
16.8
16.7
16.7
16.8
16.8

1
mm
600

L (cm)
44
44
44
44
44

Keterangan
d = Jarak antar celah
x = Jarak terang pertama dari terang pusat
L = Jarak dari kisi ke terang pusat.
F. Analisa Data
Jika celah tunggal dibagi menjadi dua bagian
dengan lebar masing-masing d. Gelombang 1 dan
3 berbeda lintasan

1 2 d sin

, demikian juga

gelombang 2 dan 4. interferensi minimum terjadi bila


beda lintasannya sama dengan setengah panjang
1 2 d sin = 1 2 atau
sehingga
Jika celah dibagi menjadi gelombang
empat bagian,
dengan cara yang
sama diperoleh

1 4 d sin = 1 2 atau d sin =d2sin


. Sehingga
secara umum garis gelap ke-m terjadi
= .
jika
d sin = m , dengan m = 0,1, 2, 3, ....

atau

d sin
1 .
m

Untuk nilai yang kecil


xd
m
L

sin tan x L ,

sehingga berlaku;

3. Nilai panjang gelombang dari sinar laser He-Ne dapat diperoleh dari persamaan;
xd
mL

N
o
.
1
2
3

,dengan m=1 maka ;


d

xR

2,6 cm 2,6 10 2 m

5,90 10 7 m

7,9 cm 7,9 10 2 m

5,98 107 m

LR

1
44 cm = 0,44 m
mm 10 5 m
100
1
44 cm = 0,44 m
d1
mm 3,33 10 6 m
300
1
44 cm = 0,44 m
d1
mm 1,67 10 6 m
600
d1

1,68 cm 1,68 10 1 m 6,38 10 7 m

1 2 3
3
5,90 10 7 5,98 10 7 6,38 10 7
R
3
7
R 6,09 10 m
R

Untuk
2

S 1

2
2
x
L
x 3
L 3

S 1

d 2
xd 2
x
L
L 3
3
L2

S 1

10 5 2
5 10 4
0,44 3

S 1

59,2 10 18

2,6 10 2 10 5 2

5 10 4
3
0,44 2

S 1 7,69.10 9 m

Sehingga ralat relatif

R S

100 o o

7,69 10 9
100 o o
5,90 10 7
2
2

2
2

1
,
3
%

x
L
x 3
L 3

R1
RS1

S 2

d 2
xd 2
x
L
L 3
3
L2

S 2

3,33 10 6 2
5 10 4
0,44
3

S 2

73,9 10 18

S 2 8,9 10 9 m

7,9 10 2 10 5 2

5 10 4
2
3
0,44

Ralat relatif

R S

100 o o

8,9 10 9
100 o o
5,98 10 7

R 2

R2 1,5 %
2

S 3

2
2
x
L
x 3
L 3

S 3

d 2
xd 2
x
L
L 3
3
L2

S 3

1,67 10 6 2
5 10 4
0,44
3

1,68 10 2 10 5 2

5 10 4
2
3
0,44

S 3 167,11 10 20
S 3 1,29 10 9 m

Ralat relatif

R S

100 o o

1,29 10 9
100 o o
5,90 10 7
2,0%

R3
R3

G. Pembahasan
Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh;

1 5,90 10 7 7,69 10 9 m
1 5,98 10 7 8,9 10 9 m

1 6,38 10 7 1,29 10 9 m
Dari ketiga nilai panjang gelombang tersebut diperoleh nilai panjang gelombang
rata-rata R 6,09 10 7 m . Nilai ini telah mendekati nilai panjang gelombang dari cahaya
tampak warna merah. Secara teori panjang gelombang dari cahaya tampak warna merah
yaitu 7,0 10 7 m . Nilai yang diperoleh dari praktikum sedikit berbeda dengan teori, hal
ini disebabkan;
a.
Kesalahan paralaks praktikan dalam pembacaan skala pada alat ukur
b.
Kurang kokohnya letak laser sehingga mungkin secara tidak sengaja laser
bergeser sehingga mempengaruhi jarak laser ke terang pusat.
c.
Tidak tepat dalam penentuan terang pusat karena cahaya tampak yang timbul
kurang fokus sehingga tidk jelas.
H. Kesimpulan
Dari percobaan di atas diperoleh beberapa kesimpulan, diantaranya;
1.
Difraksi adalah peristiwa pelenturan cahaya tampak yang melebar di tepi celah
dengan pinggiran penghalang celah
xd

2. Panjang gelombang sinar laer He-Ne diperoleh melalui persamaan m L , dengan;


d = Jarak antar celah
x = Jarak terang pertama dari terang pusat
L = Jarak dari kisi ke terang pusat.
3.

Diperoleh panjang gelombang laser He-Ne


1 5,90 10 7 7,69 10 9 m dengan ralat relatif 1,3 %

1 5,98 10 7 8,9 10 9 m dengan ralat relatif 1,5 %

1 6,38 10 7 1,29 10 9 m dengan ralat relatif 2,0 %


I. Daftar Pustaka
Tim Penyusun. 2004. Fisika untuk SMA. Sagutindo Kinarya
Tim Penyusun. 2008. Modul Praktikum Gelombang dan Optik.Malang:Jurusan Fisika

PENGUKURAN PANJANG GELOMBANG LUCUTAN GAS


DENGAN DIFRAKSI KISI

A. Tujuan
1. Memahami asas kisi dengan tabung lucutan
2. Menentukan panjang gelombang spektrum cahaya dari tabung lucutan.
B.

Dasar Teori
Untuk amenunjukkan gejala difraksi, kita dapat menggunakan kisi, yaitu alat optik
yang dibuat dari lapisan tipis dengan banyak celah sempit. Jumlah setelah sangat banyak
dengan jarak antar celah dibuat sama.
Difraksi dapt dibedakan menjadi dua, yaitu difraksi fresnel dan difraksi Fraunhofer.
Difraksi Fresnel untuk jarak kisi relatif dekat dengan layar dan untuk yang jauh disebut
difraksi Fraunhofer.
Untuk pengukuran panjang gelombang spektrum yang dihasilkan dari tabung
lucutan, perhatikan gambar berikut.
Layar
x
L
x
Tabung lucutan
Gambar 1. Pengamatan
Panjang gelombang spektrum cahaya yang dihasilkan dari tabung lucutan dapat
ditentukan dengan persamaan ;
d

x
m x2 a2

Dengan d adalah jarak antar celah pada kisi, a adalah jarak kisi ke layar, dan x adalah jarak
terang ke-m, dan m = 0, 1, 2, 3,.
C.
1.
2.
3.
4.

Peralatan
Kisi
Beberapa tabung lucutan untuk gas yang bebeda
Mistar
Pembangkit tegangan tinggi (Induktor Rumkorf).

Setting Peralatan
P
S
+
- + D.

Langkah Kerja
1. Menyusun peralatan seperti Gambar 2. Memasang tabung lucutan di tengah-tengah
mistar,menghubungkan tabung dengan induktor Rumkorf.

2. Mengukur jarak antara kisi dengan mistar (a)


3. Menghidupkan induktor Rumkorf
4. Melihat spektrum gas melalui kisi sehingga terlihat spektrum cahaya di kanan dan kiri
tabung. Memilih salah satu warna saja dan mengukur jarak terang pertama dari terang
pusat (x)
5. Mengulangi untuk warna yang lain
6. Mengulangi pelaksanaan 4 dan 5 untuk tabung yang lain
7. Membuat tabel data pengamatan yang diperoleh.
E.

Data Pengamatan
1. Tabel Pengamatan Helium
a = 86 cm
1
NO
d1

100

d2

mm

x1 cm
5.0
5.1
5.0
5.0
5.0

1.
2.
3.
4.
5.

mm

x1 cm
6.7
6.7
6.6
6.6
6.7

1.
2.
3.
4.
5.
F.

100

1
mm
600
x3 cm

d3

x 2 cm
12.9
13.0
13.0
12.9
12.9

2. Tabel Pengamatan Argon


a = 86 cm
1
NO
d1

1
mm
300

d2

35.0
35.2
35.0
35.0
35.1

1
mm
300

1
mm
600
x3 cm

d3

x 2 cm
10.5
10.5
10.5
10.6
10.5

24.0
24.0
24.1
24.0
24.0

Analisa Data
1. Panjang gelombang dari sinar laser gas helium diperoleh dari persamaan
d

x
m x a2
2

1
mm 10 5 m
100
1
d1
mm 3,33 10 6 m
300 2
2
2 1
2
x mm
1,67
a 6 m
d1x

10
3600
a 3

5,0 cm = 0,05 m

5,6 10 7 m

13,0 cm = 0,13 m

4,8 10 7 m

35,0 cm = 0,35 m

6,1 10 7 m

No.
1
2
S 13

, dengan a = 86 cm

d1

S 1

d 2
xd 2
x
a
a 3
a2
3

S 1

10 5 2
5 10 4
0,44 3

S 1

57,5 10 18

S 1 7,58 10 9 m

2,6 10 2 10 5 2

5 10 4
3
0,44 2

Sehingga ralat relatif

R S

100 o o

R1

7,58 10 9
100 o o
5,6 10 7

R1 1,4%
2

S 2

2
2
x
a
x 3
a 3

S 2

d 2
xd 2
x
a
a 3
3
a2

Sehingga ralat relatif

S 2

3,33 10 6 2
5 10 4
0,44
3

S 2

8,20 10 18

R S

7,9 10 2 10 5 2

5 10 4
3
0,44 2

100 o o

2,86 10 9
100 o o
4,8 10 7
0,6%

R2
R2

S 2 2,86 10 9 m

2
2
x
a
x 3
a 3

S 3

S 3

d 2
xd 2
x
a
a 3
3
a2

S 3

1,67 10 6 2
5 10 4
0,44
3

Sehingga
relatif

R3 3 100 o o
1,68 10 2 10 5 2
4
3

10
3
0,44 2
9
2

1,26 10
100 o o
6,1 10 7
2,0%

S 3 159,6 10 20

R3

S 3 1,26 10 9 m

R3

2. Panjang gelombang dari sinar laser gas Argon diperoleh dari persamaan
d

x
m x a2
2

, dengan a = 86 cm

No.

d
2

2S

3S

S 1 15,02 10 18
S 1 3,87 10 9 m

2
2
x
a
x 13
a 3
6,7 cm = 0,067 m
d1
mm 10 5 m
2
2
100
d 2
xd 2

1 x
a
10,5 cm = 0,105 m
2
a
3
d1
mm 3,a33
1036 m
300
2
2
5
10 51 2
66,7 10 2 24
10 cm
2= 0,24 m
4
4
d1
mm
5 10
5 10
1,67 10 m
0,86
3
600 3
0,86 2

S 1

ralat

7,8 10 7 m
4,0 10 7 m
4,5 10 7 m

Ralat relatif

R S

100 o o

3,87 10 9
100 o o
7,8 10 7
0,5%

R1
R1

S 2

2
2
x
a
x 3
a 3

S 2

d 2
xd 2
x
a
a 3
3
a2

S 2

3,3310 6 2
5 10 4
0,86
3

10,5 10 2 10 5 2

5 10 4
2
3
0,86

S 2 16,6 10 18
S 2 4,07 10 9 m

Ralat relatif

R S
1

100 o o

4,07 10 9
2 100 o o
2

2 7
2
4
,
0

10
S
x
a
a 3
R1 1,0x% 3
R1
2

S 2

d 2
xd 2
x
a
a 3
3
a2

S 2

1,67 10 6 2
5 10 4
0,86
3

S 2

41,9 10 20

S 2 6,47 10 10 m

24 10 2 1,67 10 6 2

5 10 4
2
3
0,86

Ralat relatif

R S

100 o o

6,47 10 10
100 o o
4,5 10 7
0,14%

R1
R1

G.

Pembahasan
Dari analisa data di atas, diperoleh bahwa panjang gelombang cahaya tampak dari gas
helium hampir sama dengan panjang gelombang gas helium secara teori yang besarnya
7
4 10 7 m , sedangkan dari hasil percobaan adalah 5,5 10 m . Untuk gas argon dalam
percobaan mempunyai panjang gelombang 5,4 10 7 m .
Kesalahan tersebut sangat mungkin terjadi dalam sebuah percobaan, kemungkinan
penyebabnya kekurangtelitian praktikan dalam pembacaan skala alt ukur, karena cahaya
yang jatuh pada mistar tidak jelas.

H.

Tugas
1. Turunkan persamaan untuk menentukan panjang gelombang (persamaan 1)
Jawab:
Jika celah tunggal dibagi menjadi dua bagian dengan lebar masing-masing d.
Gelombang 1 dan 3 berbeda lintasan

1 2 d sin

, demikian juga gelombang 2 dan 4.

interferensi minimum terjadi bila beda lintasannya sama dengan setengah panjang
gelombang sehingga

1 2 d sin

=1

atau d sin = .

Jika celah dibagi menjadi empat bagian, dengan cara yang sama diperoleh
1 4 d sin

=1

terjadi jika ;
d sin

= m 1

atau d sin = 2 . Sehingga secara umum garis gelap ke-m


Dari gambar disamping diperoleh nilai
x
, dengan r x 2 a 2 . Maka
r
x
sin
2
x2 a2
sin

Persamaan (1) dan (2) disubstitusi, diperoleh


d

x
x a
2

m atau d

x
x a2
2

2. Jelaskan bagaimana prinsip dari eksperimen ini. Bandingkan dengan prinsip


pengukuran panjang gelombang laser dengan kisi (pada percobaan pertama).
Jawab:
Pada gambar set up percobaan, tabung lucutan dipasang di tengah-tengah mistar.
Tabung tersebut kemudian dihubungkan dangan induktor rumkorf hingga terlihat
spektrum cahaya di kanan dan di kiri tabun. Dari sini kita dapat mengukur jarak antara
kisi dengan layar dan jarak terang pertama dari terang pusat (x), apabila sudah
didapatkan maka dapat menentukan panjang gelombang dari masing-masing spektrum
gas.
Pada dasarnya prinsip pengukuran panjang gelombang lucutan gas dengan difraksi
kisisama seperti halnya difraksi cahaya laser oleh kisi. Perbedaannya, pada percobaan
pengukuran panjang gelombang lucutan gas menggunakan ttabung yang diletakkan di
tengah-tengah mistar, sedangkan pada difraksi cahaya laser tidak menggunakan tabung
lucutan.
I.
Kesimpulan
Dari percobaan di atas dapat disimpulkan;
1. Untuk menentukan panjang gelombang spektrum cahaya dari tabung lucutan,
digunakan persamaan;
d

x
x a2
2

2. Diperoleh panjang gelombang dari masing-masing gas


a. Gas Helium
1 5,6 10 7 7,58 10 9 m dengan ralat relatif 1,4%

1 4,8 10 7 2,86 10 9 m dengan ralat relatif 0,6%

1 6,1 10 7 1,26 1010 m dengan ralat relatif 2,0%


b. Gas Argon

1 5,6 10 7 3,87 10 9 m dengan ralat relatif 0,5%

1 4,8 10 7 4,07 10 9 m dengan ralat relatif 1,0%

1 6,1 10 7 6,47 10 10 m dengan ralat relatif 0,2%


J.

Daftar Pustaka
Halliday,David. 1978. Fisika. Jakarta:Erlangga
Tim Penyusun. 2008. Modul Praktikum Gelombang dan Optik.Malang:Jurusan Fisika