Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


(OPC, APC, ROUTING SHEET DAN MPPC)

DISUSUN OLEH:
Kelompok

: 3 (Tiga)

1. Andri Saputra

/ 30410751

4. Ricky Akbar R.

/ 35410889

2. Ario Windarto

/ 31410107

5. Warda Tizinia

/ 38410457

3. Marulloh

/ 34410248

Tanggal / Shift

: 11 Oktober 2013 / 2 (Dua)

Nilai

Paraf Asisten

LABORATORIUM TEKNIK INDUSTRI LANJUT

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2013

OPERATION PROCESS CHART (OPC), ASSEMBLY PROCESS CHART


(APC), ROUTING SHEET, DAN MULTI PRODUCT PROCESS CHART
(MPPC) PRODUK RAK BUKU
Andri Saputra, Ario Windarto, Marulloh, Ricky Akbar Ramadhan,
Warda Tizinia
Mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri,
Universitas Gunadarma
Jalan Margonda Raya no.100, Depok
andri_anaktimur@gmail.com, 120892marulloh@gmail.com,
rickyakbarramadhan@yahoo.com, rio_oirr@hotmail.com,
wardatizinia@gmail.com

ABSTRAKSI
Suatu rancangan ataupun rencana tentang tata letak fasilitas pabrik
tidaklah akan bisa dibuat efektif apabila data penunjang mengenai bermacammacam faktor yang berpengaruh terhadap tata letak pabrik itu sendiri tidak
berhasil dikumpulkan dengan sebaik-baiknya. Salah satu informasi yang
diperlukan antara lain mengenai material dan proses manufakturing yang dipilih.
Perancang tata letak fasilitas sering kali mengabaikan kedua hal tersebut dalam
merancang tata letak fasilitas terutama dalam menentukan jumlah mesin yang
akan digunakan. Sehingga akan menyebabkan perusahaan akan mengalami
kerugian akibat pemborosan pembelian mesin yang terlalu banyak maupun
tingkat produksi yang tidak mencapai target akibat pembelian mesin yang kurang.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka diperlukan suatu alat yang mampu
memberikan informasi mengenai material dan proses manufakturing secara jelas
yaitu routing sheet dan multi product process chart (MPPC). Berdasarkan peta
proses operasi, urutan proses untuk setiap komponen yaitu mengukur, memotong,
dan meratakan serta untuk beberapa komponen mengalami proses melubangi
juga. Peta proses operasi terdiri dari 46 operasi dan 1 pemeriksaan. Waktu total
pembuatan produk rak buku yaitu sebesar 174,583 menit. Jumlah mesin aktual
yang digunakan untuk pembuatan produk rak buku yaitu meja fabrikasi 14 unit,
mesin potong 14 unit, mesin serut 6 unit, mesin bor 2 unit, dan meja perakitan 4
unit. Saran untuk penulisan laporan akhir ini khususnya untuk modul OPC, APC,
routing sheet, dan MPPC yaitu sebaiknya menentukan produk yang tidak rumit
dalam proses produksinya dan peta proses operasi sebaiknya terdiri dari waktuwaktu standar yang dilakukan oleh operator yang telah ahli dalam melakukan
setiap operasi.
Kata kunci: OPC, APC, Routing Sheet, MPPC, Rak Buku.

PENDAHULUAN
Tata letak atau pengaturan dari fasilitas produksi dan area kerja yang ada
adalah suatu masalah yang sering dijumpai dalam dunia industri. Permasalahan
tersebut tidak bisa dihindari, sekalipun hanya sekedar mengatur peralatan atau
mesin di dalam bangunan yang ada serta dalam ruang lingkup kecil serta
sederhana. Suatu rancangan ataupun rencana tentang tata letak fasilitas pabrik
tidaklah akan bisa dibuat efektif apabila data penunjang mengenai bermacammacam faktor yang berpengaruh terhadap tata letak pabrik itu sendiri tidak
berhasil dikumpulkan dengan sebaik-baiknya. Salah satu informasi yang
diperlukan antara lain mengenai material dan proses manufakturing yang dipilih.
Perancang tata letak fasilitas sering kali mengabaikan kedua hal tersebut dalam
merancang tata letak fasilitas terutama dalam menentukan jumlah mesin yang
akan digunakan. Sehingga akan menyebabkan perusahaan akan mengalami
kerugian akibat pemborosan pembelian mesin yang terlalu banyak maupun tingkat
produksi yang tidak mencapai target akibat pembelian mesin yang kurang.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka diperlukan suatu alat yang
mampu memberikan informasi mengenai material dan proses manufakturing
secara jelas yaitu routing sheet dan multi product process chart (MPPC). Kedua
alat tersebut memiliki kelebihan yaitu dapat memperhitungkan jumlah mesin
teoritis maupun aktual yang akan digunakan berdasarkan tingkat produksi dan
persentase scrap. Routing sheet dan multi product process chart (MPPC) pada
laporan akhir ini diterapkan pada produk rak buku. Nantinya dengan penerapan
routing sheet dan muti product process chart diharapkan dapat diketahui jumlah
mesin aktual yang akan digunakan sehingga dapat menentukan luas area stasiun
kerja.
Produk yang akan diproduksi adalah rak buku yang terbuat dari papan
kayu, sehingga dengan mempelajari routing sheet dan multi product process chart
dapat mengetahui jumlah mesin mesin yang diperlukan untuk pembuatan rak
buku. Selain itu, urutan produksinya pun harus memiliki langkah-langkah yang
mendasari proses perencanaan tata letak fasilitas yang baik dan tepat pada
perusahaan tersebut. Produksi rak buku dipilih karena pada saat ini permintaan
pasar untuk produk rak buku sangat tinggi. Perumusan masalah dari routing sheet
dan multi product process chart dalam pembuatan produk rak buku memiliki
beberapa inti permasalahan. Adapun permasalah tersebut yaitu bagaimana urutan
dari proses operasi yang menjelaskan secara singkat tentang tahap-tahap yang
dilalui oleh komponen rak buku dan berapa jumlah mesin aktual yang diperlukan
dalam memproduksi rak buku. Tujuan dari penerapan routing sheet dan MPPC
dalam pembuatan produk rak buku yaitu mengetahui urutan dan waktu proses
manufakturing dari pembuatan rak buku dan mengetahui jumlah mesin yang
diperlukan dalam produksi rak buku.

TINJAUAN PUSTAKA
Peta-peta kerja merupakan salah satu alat yang sistematis dan jelas untuk
berkomunikasi secara luas dan sekaligus melalui peta-peta kerja ini kita bisa
mendapatkan informasi-informasi yang diperlukan untuk memperbaiki suatu
metoda kerja. Peta-peta kerja ini berisi informasi-informasi yang diperlukan untuk

memperbaiki suatu metode kerja, terutama dalam suatu proses produksi. Jumlah
benda kerja yang harus dibuat, waktu operasi mesin, kapasitas mesin, bahanbahan khusus yang harus disediakan, alat-alat khusus yang harus disediakan, dan
sebagainya. Jadi, peta kerja adalah suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja
secara sistematis dan jelas (biasanya kerja produksi). Peta-peta ini dapat melihat
semua langkah atau kejadian yang dialami suatu benda kerja dari mulai masuk ke
pabrik (berbentuk bahan baku). Kemudian menggambarkan semua langkah yang
dialaminya, seperti transportasi, operasi mesin, pemeriksaan dan perakitan,
sampai akhirnya menjadi produk jadi, baik produk lengkap atau merupakan
bagian dari suatu produk lengkap [1].
Peta kerja atau sering disebut peta poses (process chart), merupakan alat
komunkasi yang sistematis untuk menganalisis proses kerja dari tahap awal
sampai tahap akhir, melalui peta proses ini dapat diketahui informasi yang
diperlukan untuk memperbaiki metoda kerja. Metoda kerja ini antara lain benda
kerja, berupa gambar kerja jumlah, spesifikasi material, dan dimensi ukuran
pekerjaan, macam proses yang dilakukan, jenis dan spesifikasi mesin, serta
peralatan produksi, waktu operasi (waku standar) untuk setiap proses atau elemen
kegiatan disamping total waktu penyelesaiannya, kapasitas mesin ataupun
kapasitas kerja lainnya yang dipergunakan. Berdasarkan peta kerja ini pula kita
bisa melihat semua langkah-langkah yang dialami oleh suatu benda kerja dari saat
mulai masuk ke lokasi kegiatan kemudian menggambarkan semua langkahlangkah aktivitas yang dialaminya seperti transportasi, operasi kerja, inspeksi,
menunggu, dan menyimpan, sampai akhirnya menjadi produk akhir (finished
goods product) yang merupakan hasil yang diinginkan [2].
Lambang-lambang yang digunakan pada peta peta-peta kerja yang biasa
digunakan pada perusahaan dikembangkan oleh Gilbreth yang dibuat untuk
membuat suatu peta kerja. Adapun lambang-lambang yang umum digunakan yaitu
operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu, penyimpanan, dan aktivitas
gabungan. Operasi disimbolkan dengan lingkaran. Kegiatan operasi terjadi apabila
suatu objek (material) akan mengalami perubahan sifat baik fisik maupun
kimiawi. Mengambil informasi maupun memberikan informasi pada suatu
keadaan juga termasuk operasi. Pemeriksaan disimbolkan dengan persegi. Suatu
kegiatan pemeriksaan terjadi apabila benda kerja atau peralatan mengalami
pemeriksaan baik untuk segi kualitas maupun kuantitas. Transportasi disimbolkan
dengan anak panah. Suatu kegiatan transportasi terjadi apabila benda kerja,
pekerja atau perlengkapan mengalami perpindahan tempat yang bukan merupakan
bagian dari suatu operasi. Menunggu disimbolkan dengan setengah lingkaran.
Proses menunggu terjadi apabila benda kerja, perkerja atau perlengkapan tidak
mengalami kegiatan apa-apa selain menunggu (biasanya sebentar). Penyimpanan
disimbolkan dengan segitiga terbalik. Proses penyimpanan terjadi apabila obyek
yang disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama. Benda kerja akan diambil
kembali, biasanya memerlukan suatu prosedur perizinan tertentu yang
mengakibatkan suatu operator menunggu. Aktivitas gabungan disimbolkan
dengan lingkaran dalam persegi. Kegiatan yang terjadi apabila antara aktivitas
operasi dan pemeriksaan dilakukan kebersamaan atau dilakukan pada suatu
tempat kerja [2].

Peta proses operasi atau operation process chart (OPC) adalah peta kerja
yang yang mencoba menggambarkan urutan kerja dengan jalan membagi
pekerjaan tersebut menjadi elemen-elemen operasi secara detail. Tahapan proses
operasi kerja harus diuraikan secara logis dan sistematis. Peta ini juga memuat
informasi-informasi yang diperlukan untuk analisis lebih lanjut, seperti waktu
yang dihabiskan, material yang digunakan, dan tempat atau alat atau mesin yang
dipakai. Sesuai dengan relevansinya, pada akhir keseluruhan proses dinyatakan
keberadaan penyimpanan. Terdapat beberapa manfaat dengan adanya informasiinformasi yang dicatat peta proses operasi yaitu dapat mengetahui kebutuhan akan
mesin dan penganggarannya, dapat memperkirakan kebutuhan akan bahan baku,
sebagai alat untuk menentukan tata letak pabrik, sebagai alat untuk perbaikan cara
kerja yang sedang dipakai, dan sebagai alat untuk pelatihan kerja [1].
Peta proses operasi juga memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan
dengan adanya peta proses operasi dalam teknik menganalisa aliran bahan yaitu
menggabungkan informasi aliran produksi dan langkah perakitan ke dalam
penggambaran yang lebih lengkap, menunjukkan langkah yang akan dilakukan
pada setiap komponen, menunjukkan urutan setiap part, menunjukkan hubungan
antar part, dan menunjukkan tingkat kebutuhan mesin, tenaga kerja, dan peralatan
[3]
.
Peta proses perakitan atau assembling process chart (APC) adalah
gambaran grafis dari urut-urutan aliran komponen dan rakitan-bagian ke dalam
rakitan suatu produk. Terdapat beberapa informasi yang diperoleh dari peta proses
perakitan yaitu komponen-komponen yang membentuk produk, bagaimana
komponen-komponen ini bergabung bersama, komponen yang menjadi bagian
suatu rakitan-bagian, dan aliran komponen ke dalam sebuah rakitan. Tujuan dari
peta proses perakitan terutama untuk menunjukkan keterkaitan antara komponen,
yang dapat digambarkan oleh sebuah gambar terurai. Teknik-teknik ini dapat juga
digunakan untuk mengajar pekerja yang tidak ahli untuk mengetahui urutan suatu
rakitan yang rumit [4].
Routing sheet atau lembar pengurutan merupakan langkah-langkah yang
dicakup dalam memproduksi komponen tertentu dan rincian yang perlu diketahui
dari hal-hal yang saling berkaitan satu sama lain. Sebuah routing sheet menujukan
secara detail mengenai operasi yang dibutuhkan untuk sebuah bagian dalam
sebuah produksi. Hal ini memungkinkan juga untuk mengatur waktu untuk setiap
operasi dan setiap mesin. Proses routing ini menyimpulkan langkah-langkah
operasi yang diperlukan untuk merubah bahan baku menjadi produk yang
dikehendaki dimana untuk itu beberapa informasi harus menyertai di dalam
langkah ini yaitu nama dan komponen yang akan dibuat, nomor dari gambar kerja
dari komponen tersebut, macam operasi kerja dan nomor operasinya, mesin dan
peralatan produksi yang dipakai, serta waktu standar yang ditetapkan intuk
masing-masing operasi kerja [4].
Mesin, perkakas, peralatan pembantu seperti jigs dan fixture, dan lain-lain
yang harus dicantumkan secara spesifik didalam proses routing ini karena pada
akhirnya perencanaan tata letak pabrik akan ditujukan untuk mengatur semua
fasilitas produksi ini. Routing sheet menghasilkan beberapa informasi yang
diperlukan dalam perancangan tata letak fasilitas yaitu jumlah mesin teoritis yang

diperlukan untuk setiap proses pengerjaan, banyaknya siklus mesin dan bahan
baku yang diperlukan, memperbaiki metode kerja, dengan menurunkan waktu
standar, dan menentukan apakah waktu lembur lebih murah dibanding
penambahan mesin, serta menentukan apakah kerusakan mesin dapat
mengganggu seluruh lintasan produksi. Pembuatan Routing sheet memerlukan
data-data sebagai berikut yaitu kapasitas mesin, persentase scrap, dan efisiensi
mesin [4].
Suatu langkah dasar dalam pengaturan tata letak pabrik yang baik adalah
dengan menentukan jumlah mesin atau peralatan produksi yang dibutuhkan secara
tepat. Tentu saja di samping penentuan jumlah mesin ini, suatu keputusan yang
tepat di dalam pemilihan jenis atau tipe mesinnya itu sendiri juga merupakan
langkah yang harus diperhatikan benar-benar. Pemilihan alternatif penggunaan
tipe mesin tertentu pada dasarnya akan dilandasi dengan pertimbanganpertimbangan yang bersifat teknis dan ekonomis. Untuk keperluan penentuan
jumlah mesin yang dibutuhkan, maka di sini terdapat beberapa informasi yang
harus diketahui sebelumnya, yaitu volume produksi yang dicapai, estimasi scrap
pada setiap proses operasi, dan waktu kerja standar untuk proses operasi yang
berlangsung [5].
Tabel 1. Routing Sheet
No.
Operasi

Deskrips
i

Nama
Mesin

Produksi
Mesin/Jam

%
Scra
p

Bahan
Diminta

Bahan
Disiapkan

Efisiensi
Mesin

Kebutuhan
Mesin
Aktua
Teoritis
l
9

10

Variabel routing sheet merupakan suatu lembaran yang terdiri dari


beberapa kolom perhitungan. Kolom 1 merupakan nomor operasi, dimana berisi
nomor urut operasi-operasi yang dilakukan dalam menghasilkan suatu produk.
Kolom 2 merupakan deskripsi yaitu nama operasi yang dilakukan pada urutan
nomor urut operasi. Kolom 3 merupakan nama mesin yaitu nama mesin yang
digunakan pada setiap operasi sesuai dengan urutan mesin yang digunakan.
Kolom 4 merupakan produksi mesin/jam, dimana berisi banyak unit produk yang
dihasilkan dalam waktu 1 jam atau 60 menit [6].
60 menit
Produksi Mesin/Jam =
Waktu Operasi
Kolom 5 merupakan scrap yaitu jumlah buangan bahan baku atau persentase
kerusakan yang diperkirakan, yang dilakukan dalam satu operasi (dalam %).
Kolom 6 merupakan bahan diminta. Bahan diminta merupakan jumlah bahan
yang diharapkan setelah melalui suatu proses. Perhitungan bahan diminta pertama
kali dilakukan pada proses terakhir dari produk akhir, dimana jumlah produk awal
yang digunakan pada perhitungan bahan diminta, sehingga bahan disiapkan dapat
dihitung. Kolom 7 merupakan bahan disiapkan. Kolom jumlah bahan yang harus
disiapkan, berisi jumlah bahan yang harus tersedia dengan mempertimbangkan
persen scrap sebelum melakukan proses operasi tertentu. Persamaan yang
digunakan untuk menghitung bahan yang disiapkan yaitu [6].
Bahan yang diminta
Bahan yang disiapkan =
1 - % scrap

Kolom 8 merupakan efisiensi mesin yaitu tingkat pemanfaatan mesin. Kolom


9 merupakan jumlah mesin teoritis (JMT) yaitu jumlah mesin secara teoritis
untuk setiap operasi sesuai dengan peta proses operasi. Kolom 10 merupakan
jumlah mesin aktual. Kolom ini berisi tentang jumlah mesin yang akan digunakan
pada proses produksi, dimana diperoleh dari pembulatan hasil pada jumlah mesin
teoritis. Persamaan yang digunakan untuk perhitungan efisiensi mesin dan jumlah
mesin teoritis dapat dilihat di bawah ini [6].
Bahan yang disiapkan
Efisiensi Mesin =
Efisiensi
Efisiensi Mesin
Jumlah Mesin Teoritis =
mesin
kerja
Produksi
Reabilitas Jam
jam
hari
Multi product process chart (MPPC) merupakan suatu peta yang
digunakan untuk menganalisa aliran barang dalam pabrik yang sudah ada maupun
untuk perencanaan pabrik baru dan mempunyai keterkaitan dengan peta proses
operasi. Fungsi dari peta ini yaitu untuk menunjukan keterkaitan produksi antar
komponen atau antar produk mandiri, bahan, bagian, pekerjan, atau kegiatan.
Tujuan dari pembuatan multi product process chart (MPPC) yaitu untuk dapat
memahami aliran proses produksi suatu produk secara keseluruhan beserta dengan
total waktu pengoperasian mesin yang digunakan [5].
Berdasarkan multi product process chart (MPPC) tersebut akan dipelajari
dan dianalisis dua hal yang memiliki pengaruh yang cukup signifikasi dalam
perencanaan tata letak seperti aliran balik dimana dalam hal ini ditunjukan dengan
adanya aliran balik akibat fasilitas produksi tidak di tempatkan sesuai dengan
urutan proses. Aliran balik dalamproses perencanaan tata letak merupakan
indikator penting karena hal tersebut akan menunjukan langkah pemindahan
material yang sama sekali tidak efisien. Pengelompokan pola aliran yaitu
pengelompokan komponen yang memiliki urutan proses pengerjaan dan
menggunakan mesin yang sama. Hal ini akan penting dalam penyusunan tata letak
berdasarkan pengelompokan proses produksi [5].

METODOLOGI PENULISAN
Langkah pertama dalam penulisan laporan akhir ini yaitu mengidentifikasi
masalah. Inti permasalahan tersebut yaitu bagaimana urutan dari peta proses
operasi dan peta proses perakitan yang dilalui oleh setiap komponen rak buku dan
berapa jumlah mesin aktual yang diperlukan dalam memproduksi rak buku.
Selanjutnya langkah kedua yaitu membatasi pembahasan yang akan dilakukan
dengan beberapa pembatasan masalah. Pembatasan masalah pada laporan akhir ini
yaitu data penunjang berupa jumlah bahan yang diminta setiap komponen adalah
30, efisiensi mesin 95%, reabilitas 80%, dan jumlah jam kerja dalam sehari yaitu
8 jam. Selanjutnya menentukan tujuan penulisan yang ingin dicapai yaitu
mengetahui urutan dan waktu proses manufakturing dari pembuatan rak buku dan
mengetahui jumlah mesin yang diperlukan dalam produksi rak buku. Berdasarkan
hal-hal tersebut, maka perlu dilakukan studi literatur guna mencari penyelesaian
yang tepat sehingga dapat menjawab tujuan penulisan ini. Studi literatur dalam

sebuah penelitian untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang apa


yang sudah dikerjakan orang lain dan bagaimana orang mengerjakannya,
kemudian seberapa berbeda penelitian yang akan kita lakukan.
Langkah selanjutnya yaitu melakukan pembahasan berdasarkan studi
literatur yang telah dilakukan. Pembahasan yang pertama yaitu membuat routing
sheet. Pembuatan routing sheet membutuhkan informasi sebelum melakukan
perhitungannya. Informasi dapat diperoleh berdasarkan operation process chart
(OPC) dan assembling process chart (APC). Berdasarkan kedua peta kerja
tersebut, maka dapat diperoleh informasi mengenai nomor operasi, nama-nama
operasi, nama mesin yang digunakan, dan persentase scrap. Informasi-informasi
tersebut beserta data penunjang selanjutnya digunakan dalam perhitungan routing
sheet. Informasi yang diperoleh berdasarkan routing sheet yaitu jumlah mesin
teoritis dan aktual dan urutan proses secara keseluruhan. Selanjutnya routing
sheet digunakan sebagai input dalam pembuatan multi product process chart
(MPPC). Jumlah mesin teoritis untuk setiap komponen pada multi product
process chart (MPPC) selanjutnya dijumlahkan untuk setiap proses yang
menggunakan mesin yang sama. Lalu dilakukan pembulatan terhadap hasil
penjumlahan jumlah mesin teoritis karena mesin memiliki ukuran unit. Hasil
pembulatan diperoleh pada kolom jumlah mesin aktual. Jumlah mesin aktual
inilah yang akan menjadi pedoman dalam menentukan luas lantai dan kebutuhan
mesin. Berdasarkan hasil dari pembahasan dan analisis yang telah dilakukan maka
dibuat kesimpulan sesuai dengan tujuan penulisan laporan akhir ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pembahasan yang dilakukan pada laporan akhir ini terdiri dari dua bagian
yaitu pembuatan routing sheet dan pembuatan multi product process chart
(MPPC). Terdapat beberapa data penunjang yang diperlukan untuk membuat tabel
perhitungan routing sheet dan multi product process chart yaitu:
1. Waktu produksi dalam satu bulan adalah 4 minggu.
2. Waktu produksi dalam 1 minggu adalah 5 hari.
3. Waktu produksi dalam 1 hari adalah 8 jam.
4. Produk yang diproduksi berdasarkan peramalan adalah 30 produk/hari,
5. Efisiensi mesin sebesar 95%,
6. Reabilitas sistem kerja sebesar 80%,
7. produktifitas kerja per bulan sebesar 600 produk.
Selain data-data penunjang di atas, terdapat dua jenis peta kerja yang
menjadi data tambahan dalam perhitungan tabel routing sheet yaitu peta proses
operasi atau operation process chart (OPC) dan peta proses perakitan atau
assembling process chart (APC). Gambar 2. berikut ini merupakan gambar dari
peta proses operasi produk rak buku sedangkan Gambar 3. merupakan peta proses
perakitan produk rak buku.

Gambar 1. Peta Proses Operasi Rak Buku

Gambar 2. Peta Proses Perakitan Rak Buku

Peta proses operasi atau process operation chart (OPC) pada Gambar 1.
menunjukkan beberapa bagian yaitu keterangan dokumenter, komponen utama
dan tambahan, proses-proses yang dialami oleh setiap komponen sampai dengan
produk jadi, waktu proses setiap operasi dan pemeriksaan, dan total waktu
produksi. Berdasarkan keterangan dokumenter, nama objek yang diproduksi
adalah rak buku. Komponen-komponen utama yang diperlukan untuk membuat
rak buku yaitu kaki 1 sebanyak 1 unit, kaki 2 sebanyak 1 unit, kaki 3 sebanyak 1
unit, lingkaran 1 sebanyak 2 unit, lingkaran 2 sebanyak 2 unit, lingkaran 3
sebanyak 2 unit, lingkaran 4 sebanyak 1 unit, lingkaran 5 sebanyak 1 unit,
lingkaran 6 sebanyak 2 unit, dan lingkaran 7 sebanyak 2 unit. Selain kuantitas
setiap komponen, dapat diketahui pula ukuran yang diterima dan ukuran dipakai
setiap komponen. Proses yang dialami oleh setiap komponen yaitu mengukur,
memotong, meratakan, melubangi, dan merakit. Namun untuk komponen
lingkaran 4,6, dan 7 tidak mengalami proses melubangi.
Berdasarkan peta proses operasi terdapat 46 operasi dan 1 pemeriksaan
dalam membuat rak buku dengan waktu total produksi adalah sebesar 174,583
menit. Mesin-mesin yang digunakan yaitu meja fabrikasi untuk proses mengukur,
mesin potong untuk proses memotong, mesin serut untuk proses meratakan, mesin
bor untuk proses melubangi, meja assembling atau perakitan untuk proses
merakit. Namun apabila terdapat kombinasi antara meja perakitan dan obeng,
maka perakitan tersebut melibatkan sekrup dalam menggabungkan antara
komponen yang satu dengan komponen yang lain. Sedangkan apabila hanya meja
perakitan, berarti proses tersebut hanya sekedar menggabungkan tanpa sekrup.
Berdasarkan peta proses operasi, maka selanjutnya adalah perhitungan
tabel routing sheet. Perhitungan untuk tabel routing sheet sebaiknya dilakukan
untuk proses terakhir sebelum perakitan untuk semua komponen. Hal tersebut
dilakukan karena jumlah yang diminta adalah 30 unit untuk setiap komponen dan
karena proses merakit tidak menghasilkan scrap. Berikut ini merupakan contoh
perhitungan routing sheet komponen kaki 1 proses melubangi.
a. Kolom 1 : Nomor Operasi
Karena proses melubangi memiliki nomor urut 4 maka dapat ditulis dengan
O-4.
b. Kolom 2 : Deskripsi
Berisi nama operasi yang dilakukan yaitu melubangi.
c. Kolom 3 : Nama Mesin
Berisi nama mesin yang digunakan pada operasi melubangi yaitu mesin bor.
d. Kolom 4 : Produksi Mesin/Jam
Berisi banyak unit produk yang dihasilkan dalam waktu 1 jam atau 60 menit.
60 menit
Produksi Mesin/Jam =
Waktu Operasi
60 menit
Produksi Mesin/Jam
30 unit
2 menit
e. Kolom 5 : Scrap
Jumlah buangan bahan baku atau persentase kerusakan yang diperkirakan,
yang dilakukan dalam satu operasi (dalam %). Scrap diperoleh dari peta

proses operasi. Untuk proses melubangi scrap yang dihasilkan adalah 0,2%,
maka dapat ditulis 0,002.
Kolom 6 : Bahan diminta
Bahan diminta merupakan jumlah bahan yang diharapkan setelah melalui
suatu proses. Karena komponen kaki 1 terdiri dari 1 unit untuk 1 produk
maka jumlah bahan diminta dapat ditulis 30 unit. Jika terdiri dari 2 unit untuk
1 produk dapat ditulis sebesar 60 unit. Untuk jumlah bahan yang diminta
pada proses mengukur, memotong, dan meratakan dapat ditulis sesuai dengan
jumlah bahan yang disiapkan pada proses selanjutnya.
Kolom 7 : Bahan Disiapkan
Kolom jumlah bahan yang harus disiapkan, berisi jumlah bahan yang harus
tersedia dengan mempertimbangkan persen scrap sebelum melakukan proses
operasi tertentu.
Bahan yang diminta
Bahan yang disiapkan =
1 - % scrap
30 unit
Bahan yang disiapkan
30,01 unit
1 - 0,002
Kolom 8 : Efisiensi Mesin
Kolom efisiensi mesin merupakan tingkat pemanfaatan mesin.
Bahan yang disiapkan
Efisiensi Mesin =
Efisiensi
30,01 unit
Efisiensi Mesin
31,59
95%
Kolom 9 : Jumlah Mesin Teoritis (JMT)
Berisi tentang jumlah mesin secara teoritis untuk setiap operasi jumlah ini
diperoleh dengan menggunakan persamaan :
Efisiensi Mesin
Jumlah Mesin Teoritis =
mesin
kerja
Produksi
Reabilitas Jam
jam
hari
31,59
Jumlah Mesin Teoritis
0,17 unit
30 80% 8
Kolom 10 : Jumlah Mesin Aktual
Berisi tentang jumlah mesin yang akan digunakan pada proses produksi,
dimana diperoleh dari pembulatan hasil pada jumlah mesin teoritis. Maka
untuk proses melubangi komponen kaki 1 dapat ditulis dengan 1 unit. Tabel 2.
berikut ini merupakan hasil selengkapnya.

f.

g.

h.

i.

j.

Tabel 2. Routing Sheet Produk Rak Buku


No.
Operasi

Deskripsi

1
001 Kaki 1 (1)
O-1

Mengukur

O-2
Memotong
O-3
Meratakan
O-4
Melubangi
002 Kaki 2 (1)
O-5
Mengukur

Nama Mesin

Produksi
Mesin/Jam

%
Scrap

Bahan
Dimint
a
6

12.99

9.97
14.96
30

0.4732
0.0075
0.0002

12.27

Meja
Fabrikasi
MesinPotong
MesinSerut
MesinBor
Meja

Kebutuhan Mesin

Bahan
Disiapkan

Efisiensi
Mesin

Teoritis

Aktual

10

57.41

57.41

60.44

0.73

30.24
30.01
30

57.41
30.24
30.01

60.44
31.84
31.59

0.95
0.34
0.17

1
1
1
1

57.99

57.99

61.05

0.78

O-6

Memotong

Fabrikasi
MesinPotong

11.08

0.4785

30.24

57.99

61.05

0.87

Tabel 2. Routing Sheet Produk Rak Buku (Lanjutan)


No.
Operasi

Deskripsi

1
2
002 Kaki 2 (1)
O-7
Meratakan
O-8
Melubangi
003 Kaki 3 (1)
O-9

Mengukur

O-10
Memotong
O-11
Meratakan
O-12
Melubangi
004 Lingkaran 1 (2)

Nama Mesin

Produksi
Mesin/Jam

%
Scrap

Bahan
Dimint
a
6

MesinSerut
MesinBor

11.22
29.56

0.0076
0.0002

15.84
10.53
11.08
37.98

Meja
Fabrikasi
MesinPotong
MesinSerut
MesinBor

Kebutuhan Mesin

Bahan
Disiapkan

Efisiensi
Mesin

Teoritis

Aktual

10

30.01
30

30.24
30.01

31.84
31.59

0.45
0.17

1
1

57.99

57.99

61.05

0.61

0.4785
0.0076
0.0002

30.24
30.01
30

57.99
30.24
30.01

61.05
31.84
31.59

0.91
0.45
0.13

Meja
Fabrikasi
MesinPotong
MesinSerut
MesinBor

11.01
11.26
8.02
117.65

165.22

165.22

173.92

2.47

0.632
0.0128
0.0002

60.8
60.02
60

165.22
60.8
60.02

173.92
64
63.18

2.42
1.25
0.09

Meja
Fabrikasi
MesinPotong
MesinSerut
MesinBor

30.31
10.53
11.39
48.79

173.86

173.86

183.02

0.95

0.65
0.0131
0.0007

60.85
60.05
60

173.86
60.85
60.05

183.02
64.06
63.22

2.72
0.88
0.21

Meja
Fabrikasi
MesinPotong
MesinSerut
MesinBor

12.99
16.81
18.19
50.43

197.76

197.76

208.17

2.51

0.6921
0.0135
0.0009

60.89
60.06
60

197.76
60.89
60.06

208.17
64.1
63.23

1.94
0.56
0.2

Meja
Fabrikasi
Mesin Potong
Mesin Serut

14.26
16.86
19.11

215.06

215.06

226.38

2.49

0.8579
0.0182

30.56
30

215.06
30.56

226.38
32.17

2.1
0.27

Meja
Fabrikasi
MesinPotong
MesinSerut
MesinBor

12.5
14.29
60
125

107.61

107.61

113.28

1.42

0.7158
0.0182
0.0006

30.58
30.02
30

107.61
30.58
30.02

113.28
32.19
31.6

1.24
0.09
0.04

Meja
Fabrikasi
Mesin Potong
Mesin Serut

14.36
68.19
17.65

144.42

144.42

152.03

1.66

0.5754
0.0215

61.32
60

144.42
61.32

152.03
64.55

0.35
0.58

Meja
Fabrikasi
Mesin Potong
Mesin Serut

58.83
89.56
23.44

112.88

112.88

118.83

0.32

0.4555
0.0236

61.46
60

112.88
61.46

118.83
64.7

0.21
0.44

O-38

Meja
Perakitan

5.81

30

30

31.58

0.85

O-39

Meja
Perakitan

5.9

30

30

31.58

0.84

O-40

Meja
Perakitan

23.17

30

30

31.58

0.22

O-41

Meja
Perakitan

5.2

30

30

31.58

0.95

O-42

Meja
Perakitan

17.05

30

30

31.58

0.29

O-43

Meja
Perakitan

722.9

30

30

31.58

0.01

O-13

Mengukur

O-14
Memotong
O-15
Meratakan
O-16
Melubangi
005 Lingkaran 2 (2)
O-17

Mengukur

O-18
Memotong
O-19
Meratakan
O-20
Melubangi
006 Lingkaran 3 (2)
O-21

Mengukur

O-22
Memotong
O-23
Meratakan
O-24
Melubangi
007 Lingkaran 4 (1)
O-25

Mengukur
O-26
Memotong
O-27
Meratakan
008 Lingkaran 5 (1)
O-28

Mengukur
O-29
Memotong
O-30
Meratakan
O-31
Melubangi
009 Lingkaran 6 (2)
O-32

Mengukur
O-33
Memotong
O-34
Meratakan
010 Lingkaran 7 (2)
O-35

Mengukur
O-36
Memotong
O-37
Meratakan
011 Perakitan 1
Merakit
012 Perakitan 2
Merakit
013 Perakitan 3
Merakit
014 Perakitan 4
Merakit
015 Perakitan 5
Merakit
016 Perakitan 6
Merakit
017 Perakitan 7

1
1
1
1

3
3
2
1

1
3
1
1

3
2
1
1
3
3
1

2
2
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

O-44

Merakit
018 Perakitan 8
Merakit
O-45
019 Perakitan 9
Merakit
O-46

Meja
Perakitan

18.35

Meja
Perakitan

60

Meja
Perakitan

120

Meja
Perakitan

60

30

30

31.58

0.27

30

30

31.58

0.09

30

30

31.58

0.05

30

30

31.58

0.09

1
1
1

020 Pemeriksaan 1
I-1

Pemeriksaan

Berdasarkan routing sheet pada Tabel 2, maka selanjutnya dapat dibuat


multi product process chart (MPPC) produk rak buku. Gambar 3. berikut ini
merupakan multi product process chart (MPPC) untuk produk rak buku.

Gambar 3. Multi Product Process Chart (MPPC) Rak Buku

Berdasarkan hasil routing sheet pada Tabel 2. dapat dilihat bahwa jumlah
mesin yang digunakan setiap komponen berbeda-beda, hal tersebut dikarenakan
dipengaruhi oleh produksi mesin per jam dan persentase scrap. Semakin besar
jumlah produksi mesin per jam maka jumlah mesin yang dibutuhkan cenderung
kecil dan sebaliknya. Perhitungan jumlah mesin yang digunakan juga dipengaruhi
oleh efisiensi mesin dan reabilitas. Efisiensi mesin merupakan tingkat
pemanfaatan mesin dalam melakukan suatu proses produksi. Nilai efisiensi mesin
sebesar 95% menunjukkan mesin dapat digunakan selama 95% dari waktu
bekerja sedangkan sisanya sebesat 5% dari waktu bekerja digunakan untuk waktu
set up mesin maupun maintenance. Sedangkan reabilitas merupakan peluang
sebuah komponen (mesin), melakukan fungsinya dengan baik, dalam kurun waktu
dan operasi tertentu. Jumlah mesin aktual pada routing sheet tidak dapat
digunakan secara langsung dalam perancangan tata letak fasilitas mesin
dikarenakan jumlah-jumlah tersebut masih dalam setiap komponen dan belum
dikelompokkan dalam mesin yang sama. Maka dari itu diperlukan multi product
process chart (MPPC).
Berdasarkan multi product process chart (MPPC), jumlah total mesin yang
digunakan adalah 40 unit dengan rincian 14 meja fabrikasi, 14 mesin potong, 6
mesin serut, 2 mesin bor, dan 4 meja fabrikasi. Mesin potong memiliki kuantitas
paling besar dibandingkan dengan mesin yang lain, hal tersebut disebabkan karena
pada routing sheet jumlah produksi mesin tidak cukup banyak dan scrap yang
dihasilkan cukup banyak sehingga akan mempengaruhi jumlah mesin teoritisnya.
Berdasarkan multi product process chart, dapat dilihat pula bahwa aliran proses
produk rak buku berbentuk intermittent dimana proses setiap komponen
dilakukan berulang-ulang sebelum perakitan. Perbedaan yang jelas antara routing
sheet dan multi product process chart (MPPC) yaitu penentuan jumlah mesin
aktual. Pada multi product process chart (MPPC) penentuan jumlah mesin
dikelompokkan berdasarkan kesamaan dalam mesin yang digunakan. Sehingga
teknik yang digunakan dalam perancangan tata letak fasilitas adalah process
layout.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan pada penulisan laporan akhir ini menjawab tujuan penulisan
berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan. Kesimpulan pada
laporan akhir ini yaitu berdasarkan peta proses operasi, urutan proses untuk setiap
komponen yaitu mengukur, memotong, dan meratakan serta untuk beberapa
komponen mengalami proses melubangi juga. Peta proses operasi terdiri dari 46
operasi dan 1 pemeriksaan. Waktu total pembuatan produk rak buku yaitu sebesar
174,583 menit. Jumlah mesin aktual yang digunakan untuk pembuatan produk rak
buku yaitu meja fabrikasi 14 unit, mesin potong 14 unit, mesin serut 6 unit, mesin
bor 2 unit, dan meja perakitan 4 unit. Saran untuk penulisan laporan akhir ini
khususnya untuk modul OPC, APC, routing sheet, dan MPPC yaitu sebaiknya
menentukan produk yang tidak rumit dalam proses produksinya dan peta proses
operasi sebaiknya terdiri dari waktu-waktu standar yang dilakukan oleh operator
yang telah ahli dalam melakukan setiap operasi. Hal tersebut dikarenakan karena
sangat berpengaruh dalam jumlah mesin aktual.

DAFTAR PUSTAKA
[1]

[2]

[3]

[4]

[5]

[6]

Sutalaksana, Iftikar Z. 2006. Teknik Tata Cara Kerja. Bandung: Institut


Teknologi Bandung.
Wignjosoebroto, Sritomo. 2008. Pengantar Teknik & Manajemen Industri.
Surabaya: Guna Widya.
Iswanto, Paulus. 2011. Skripsi: Perancangan Ulang Tata Letak Workshop
Untuk Produksi Cover Bushing dan Sliding Bushing. Depok: Universitas
Indonesia.
Apple, James M. 1990. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Bandung:
Institut Teknologi Bandung.
Wignjosoebroto, Sritomo. 2009. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan.
Surabaya: Guna Widya.
http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=93143. Diakses pada Tanggal 8
Oktober 2013 pukul 16.20 WIB.