Anda di halaman 1dari 29

DAFTAR ISI

Daftar Isi ...............................................................................................................................


BAB I Pendahuluan ..............................................................................................................
BAB II Pengertian Evaluasi, Komunikasi dan Pendidikan...................................................
BAB III Evaluasi Pendidikan dan Komunikasi Pendidikan dalam AL-Qran........................
Daftar Pustaka .......................................................................................................................
Daftar Pustaka .......................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
Evaluasi dan komunikasi itu perlu dilakukan, dengan mengingat akan sifat-sifat
manusia itu sendiri yaitu manusia adalah makhluk yang lemah, makhluk yang suka
membantah dan ingkar kepada Allah, mudah lupa dan banyak salah namun mempunyai batas
untuk sadar kembali. Tetapi di sisi lain manusia juga merupakan makhluk terbaik dan
termulia, yang dipercaya Allah untuk mengemban amanat yang istimewa, yang diangkat
sebagai khalifah di bumi dan yang telah diserahi Allah apa yang ada di langit dan di bumi.
Bertolak dari kajian tersebut, maka ditemukan hal-hal prinsipal sebagai berikut : bahwa
manusia itu ternyata memiliki kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan tertentu,
sehingga perlu diperbaiki baik oleh dirinya sendiri maupun pihak lain. Namun manusia itu
juga

memiliki

kelebihan-kelebihan

tertentu

sehingga

kemampuan

tersebut

perlu

dikembangkan dan manusia mempunyai kemampuan untuk mencapai posisi tertentu sehingga
perlu dibina kemampuannya untuk mencapai posisi tersebut. Dengan mengingat hal-hal
tersebut, maka evaluasi dan komunikasi amatlah diperlukan, apalagi dalam proses
pendidikan. Evaluasi dan komunikasi yang dilakukan Allah terhadap umat manusia
mengandung pengertian bahwa manusia senantiasa dalam pengawasan Allah yang apabila hal
ini disadari oleh manusia berarti ia akan hati-hati dalam bertingkah laku. Al Quran sebagai
sumber utama pendidikan Islam, banyak mengungkap konsep evaluasi di dalam ayat-ayatnya
sebagai acuan bagi manusia untuk hati-hati dalam melakukan perbuatannya. Selanjutnya
evaluasi dan komunikasi merupakan kajian yang harus dibahas, maka permasalahan yang
muncul seputar pembahasan ini adalah; bagaimana pengertian evaluasi, komunikasi dan

pendidikan?, ayat-ayat apa saja yang berkaitan dengan evaluasi dan komunikasi pendidikan
yang terdapat dalam Al-Quran?.
BAB II
PEMBAHASAN

A; PENGERTIAN EVALUASI, KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN


1; Pengertian Evaluasi

Untuk dapat menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan dan pengajaran perlu
dilakukan usaha atau tindakan penilaian atau evaluasi. Penilaian atau evaluasi pada dasarnya
adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu.1
Evaluasi adalah kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek
dengan menggunakan instrumen dan membandingkan hasilnya dengan tolak ukur untuk
memperoleh kesimpulan.2Sedangkan menurut Nana Sudjana (1998) menjelaskan bahwa
evaluasi pada dasarnya memberikan pertimbangan, harga atau nilai berdasarkan kriteria
tertentu. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki
siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya.3
Menurut Rama Yulis dan Samsu Nizar, evaluasi berasal dari kata to evalute yang berarti
menilai. Istilah nilai (value/al-qimat) pada mulanya di populerkan oleh filosof. 4 Penilaian
atau evaluasi menurut Edwind Wand dan Gerald W. Brown adalah the art or proces to
detemining the value of something. Penilaian dalam pendidikan berarti seperangkat tindakan
atau proses untuk menentukan nilai sesuatu yang berkaitan dengan dunia pendidikan menurut
ilmu jiwa, evaluasi berarti meetapkan fenomena yang dianggap berarti di dalam hal yang
sama berdasarkan suatu standar
1 Drs. Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung, Sinar Baru Algesindo, hal. 111
2 Drs. M. Sobry Sutikno, Belajar dan Pembelajaran, Prospect, Bandung, 2009, hal. 117.
3 Drs. Nana Sudjana, op. cit
4 Prof. Dr. H. Ramayulis dan Prof. Dr. Samsu Nizar, MA, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Kalam Mulia,, 2006 hal 234

2; Ruang Lingkup Evaluasi Pendidikan

Secara umum ruang lingkup dari evaluasi dalam bidang pendidikan di sekolah
mencakup tiga komponen utama yaitu :
a; Evaluasi program pengajaran
a; Evaluasi atau penilaian terhadap program pengajaran akan mencakup tiga hal, yaitu:
b; Evaluasi terhadap tujuan pengajaran
c; Evaluasi terhdap isi program pengajaran
d; Evaluasi terhadap strategi belajar mengajar.
e; Evaluasi proses pelaksanaan pengajaran
b; Evaluasi mengenai proses peaksanaan pengajaran akan mencakup :

Kesesuaian antara proses belajar mengajar yang berlangsung, dengan garis-garis besar
program pengajaran yang telah ditentukan.
a; Kesiapan guru dalam melaksanakan program pengajaran.
b; Kesiapan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
c; Minat atau perhatian siswa didalam mengikuti pelajaran.
d; Keaktifan atau partisipasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
e; Peranan bimbingan dan penyuluhan terhadap siswa yang memerlukannya.
f;

Komunikasi dua arah antara guru dan murid selama proses pembelajaran berlangsung.

g; Pemberian dorongan atau motivasi terhadap siswa.


h; Pemberian tugas-tugas kepada siswa dalam rangka penerapan teori-teori yang

diperoleh didalam kelas dan upaya menghilangkan dampak negatif yang timbul
sebagai akibat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah.

c; Evaluasi hasil belajar

Evaluasi terhadap hasil belajar peserta didik ini mencakup:


a; Evaluasi mengenai tingkat penguasaan peserta didik terhadap tujuan-tujuan khusus

yang ingin dicapai dalam unit-unit program pengajaran yang bersifat terbatas.
b; Evaluasi mengenai tingkat pencapaian peserta didik terhadap tujuan-tujuan umum

pengajaran.
3; Fungsi Evaluasi Pendidikan

Secara umum, evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses setidak-tidaknya memiliki
tiga macam fungsi pokok yaitu
a; Mengukur kemajuan
b; Menunjang penyusunan rencana
c; Memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali

Adapun secara khusus, fungsi evaluasi dalam dunia pendidikan dapat ditillik dari tiga
segi, yaitu:
a; Segi psokologis
b; Segi didaktik
c; Segi administratif.

Bagi pendidik, secara didaktik evaluasi pendidikan itu setidak-tidaknya memiliki lima
macam fungsi, yaitu:
a; Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha (prestasi) yang telah dicapai oleh

peserta didiknya
b; Memberikan informasi yang sangat berguna, guna mengetahui posisi masing-masing

peserta didik di tengah-tengah kelompoknya.


c; Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status

peserta didik.

d; Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi peserta didik

yang memang memerlukannya.


e; Memberikan petunjuk tentang sudah sejauh manakah program pengajaran yang telah

di tentukan telah dapat dicapai.


Menurut Wina Sanjaya dalam bukunya Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran
ada beberapa fungsi evaluais, yakni :
a; Evaluasi merupakan alat yang penting sebagai umpan balik bagi siswa.
b; Evaluasi merupakan alat untuk mengetahui bagaimana ketercapaian siswa dalam

menguasai tujuan yang telah ditentukan.


c; Evaluasi dapat memberikan informasi untuk mengembangkan program kurikulum.
d; Informasi dari hasil evaluasi dapat digunkan oleh siswa untuk mengambil keputusan

secara individual khususnya dalam menentukan masa depan sehubungan dengan


pemilihan bidang pekerjaan.
e; Evaluasi berguna untuk para pengembang kurikulum dalam menentukan kejelasan

tujuan khusus yang ingin dicapai.


f;

Evaluasi berfungsi sebagai umpan balik untuk semua pihak yang berkepentingan
dengan pendidikan di sekolah.

4; Prinsip-Prinsip Evaluasi Pendidikan

Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakir (2010)5 mengatakan bahwa ada 3 (tiga) prinsipprinsip evaluasi yang harus di perhatikan, yaitu;
a; Prinsip Kesinambungan (Konstinuitas)

Dalam ajaran Islam, sangat diperhatikan prinsip kontinuitas, karena dengan berpegang
dengan prinsip ini, keputusan yang di ambil oleh seseorang menjadi valid dan stabil, dan
menghasilkan suatu tindakan yang menguntungkan, serta untuk mengetahui perkembangan
peserta didik sehingga kegiatan dan kerja peserta didik dapat dilihat melalui penilaian.
b; Prinsip Menyeluruh (Komprehensif)

Prinsip ini melihat semua aspek, seperti aspek kepribadian, ketajaman hafalan,
pemahaman, ketulusan, kerajinan, sikap kerja sama, tanggung jawab dan sebagainya.
c; Prinsip Objektivitas

Prinsip ini dilakukan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak boleh


dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat emosional dan irasional. Allah Swt., memerintahkan
agar seseorang berlaku adil dalam mengevaluasi sesuatu, jangan karena kebencian ketidak
objektifan evaluasi yang dilakukan.
Sedangkan Ramayulis (2008)6 mengatakan bahwa prinsip evaluasi dibagi menjadi 2,
yaitu:
a; Prinsip Umum

Prinsip umum terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

5 Mujid, Abdul dan Jusuf Mudzakir. .Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta:Kencana Prenida


Media. 2010. Hal. 214

6 Ramayulis. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jartarta:Kalam Mulia. 2008. Hal.332

a; Valid

Evaluasi yang harus mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan
jenis tes terpercaya atau sahih, artinya adanya kesesuaian alat ukur dengan fungsi pengukuran
dan sasaran pengukuran. Apabila alat ukur tidak memiliki kesahihan yang dapat di
pertanggungjawabkan maka data yang akan dihasilkan akan salah dan menghasilkan
kesimpulan yang dimilikinya menjadi salah.
b; Berorientasi kepada kompetensi

Evaluasi harus memiliki pencapaian kompetensi peserta didik yang meliputi


seperangkat pengetahuan, sikap, keterampilan dan nilai yang terreflesikan dalam kebiasaan
berfikir dan bertindak. Dalam berpijak pada kompetensi ini, maka ukuran-ukuran
keberhasilan pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan jerarah.
c; Berkelanjutan

Evaluasi harus dilakukan secara terus menerus dari waktu ke waktu untuk mengetahui
secara menyeluruh perkembangan peserta didik, sehingga kegiatan dan unjuk kerja peserta
didik dapat di pantau melalui penilaian.
d; Menyeluruh

Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, yang mencakup aspek kognitif, afektif,
dan psikomotor serta berdasarkan strategi dan prosedur penilaian dengan berbagi bukti hasil
belajar peserta didik yang dapat dipertanggung jawabkan kepada semua pihak.
e; Bermakna

Evaluasi diharapkan memiliki makna yang segnifikan bagi semua pihak. Untuk itu
evaluasi hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindak lanjuti oleh pihak-pihak yang
berkepentingan.

f;

Adil dan obyektif


Evaluasi harus mempertimbangkan rasa keadilan dan obyektifitas peserta didik, tanpa

membedakan jenis kelamin, latar belakang etis, budaya. Sebab ketidakadilan dalam penilaian
dapat menyebabkan menurunnya motivasi belajar peserta didik karena merasa dianarkikan.
g; Terbuka

Evaluasi hendaknya dilakukan terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan


tentang keberhasilan peserta didik jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada
rekayasa dan sembunyi-sembunyi.
h; Ikhlas

Ikhlas ialah, keberhasilan niat atau hati guru atau pendidik, bahwa ia dalam
melakukan evaluasi itu dalam rangka efesiensi tercapainya pendidikan dan kepentingan
peserta didik itu sendiri.
i;

Praktis
Praktis berarti mudah dimengerti dan dilaksanakan dengan beberapa indicator, seperti;

hemat waktu, biaya, tenaga, mudah diadministrasikan mudah menskor dan mengelolahnya,
dan mudah ditafsirkan.
j;

Dicatat dan akurat


Hasil dari setiap evaluasi peserta didik harus secara sistematis dan komperhensif

dicatat dan disimpan, sehingga sewaktu-waktui dapat digunakan kembali.


b; Prinsip Khusus

Apapun jenis penilaian yang digunakan harus memungkinkan adanya kesempatan


terbaik dan maksimal bagi peserta didik menunjukan kemampuan hasil belajar mereka. Setiap

guru mampu melaksanakan porosedur penilaian, dan penvatatan secara tepat presentasi dan
kemampuan hasil belajar yang dicapai peserta didik.

5; Manfaat Evaluasi Pendidikan

Dalam Pendidikan, tujuan evaluasi lebih ditekankan pada penguasaan sikap (afektif
dan psikomotor) ketimbang asfek kogritif. Penekanan ini bertujuan untuk mengetahui
kemampuan peserta didik yang secara besarnya meliputi empat hal, yaitu ;
a; Sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya,

maksunya Sejauh mana loyalitas dan pengabdiannya kepada Allah dengan


indikasi-indikasi lahiriah berupa tingkah laku yang mencerminkan keimanan dan
ketaqwaan kepada Allah SWT.
b; Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat,

maksudnya Sejauh mana peserta didik dapat menerapkan nilai-nilai agamanya da


kegiatan hidup bermasyarakt, seperti ahlak yang mulia dan disiplin.
c; Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam

sekitarnya, maksudnya Bagaimana peserta didik berusaha mengelola dan


memelihara, serta menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya, apakah ia merusak
ataukah memberi makna bagi kehidupannya dan masyarakat dimana ia berada.
d; Sikap dan pandangan terhadap diri sendiri selaku hamba Allah Swt., khalifah

Allah Swt., serta anggota masyarakat, maksudnya Bagaimana dan sejauh mana ia
memandang diri sendiri sebagai hamba Allah dalam menghadapi kenyataan
masyarakat yang beraneka ragam budaya, suku dan agama.

6; JENIS-JENIS EVALUASI PENDIDIKAN

Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakir (2010)7 mengatakan ada empat macam jenis-jenis
evaluasi yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam, yaitu:
a; Evaluasi Formatif

Evaluasi yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai peserta didik
setelah ia menyelesaikan program dalam satuan bahan pelajaran pada suatu bidang studi
tertentu. Fungsi penilaian pormatif ini untuk memperbaiki proses pembelajaran kearah yang
lebih baik dan efesien atau memperbaiki satuan atau rencana pembelajaran.
b; Evaluasi Sumatif

Evaluasi yang dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik setelah mengikuti
pelajaran pada suatu catur wulan, satu semester, atau akhir tahun untuk menentukan jenjang
berikutnya. Fungsi penilaian sumatif untuk mengetahui angka atau nilai murid setelah
mengikuti program pembelajaran dalam satu semester atau akhir tahun.
c; Evaluasi penempatan (placement)

Evaluasi yang dilakukan sebelum anak mengikuti proses belajar mengajar untuk
kepentingan penempatan pada jurusan atau fakultas yang di inginkan. Fungsi dari evaluasi ini
untuk mengetahui keadaan peserta didik secara bertahap kemudian kepribadian secara
menyeluruh.
d; Evaluasi Diagonis

Evaluasi terhadap hasil peneletian tentang keadaan belajar peserta didik, baik
merupakan kesulitan - kesulitan atau hambatan yang ditemui dalam situasi belajar mengajar.
Fungsi evaluasi dianostik untuk permasalahan yang mengganggu peserta didik, hal ini akan
7 Mujid, Abdul dan Jusuf Mudzakir..Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta:Kencana Prenida
Media. 2010. Hal.217

mengakibatkan pesera didik mengalami kesulitan, hambatan atau gangguan dalam satu
bidang studi.
Sedangkan Ramayulis (2008)8 mengatakan ada lima macam jenis-jenis evaluasi yang
dapat diterapkan dalam pendidikan Islam, yaitu:
a; Penilaian Formatif

Yaitu penilaian untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik setelah
menyelesaikan program dalam satuan bahan pelajaran pada suatu bidang studi tertentu.
b; Penilaian Sumatif

Yaitu penilaian yang dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik yang telah selesai
mengikuti pelajaran dalam satu catur wulan semester, atau akhir tahun.
c; Penilaian Penempatan (placement)

Yaitu penilaian tentang pribadi peserta didik untuk kepentingan penempatan didalam
situasi belajar mengajar yang sesuai dengan anak didik tersebut.
d; Penilaian Diagnostik

Yaitu penilaian yang dilakukan terhadap hasil penganalisaan tentang keadaan belajar
peserta didik baik yang merupakan kesulitan-kesulitan atau hambatan yang ditemui dalam
situasi belajar mengajar.
e; Penilaian Berbasis Kelas

Yaitu suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang proses
dan hasil belajar peserta didik dengan menetapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan
berkelanjutan, bukti-bukti autentik, actual dan konsisten, serta mengindentifikasi pencapaian
kompetensi dan hasil belajar pada mata pelajaran yang dikemukakan melalui pernyataan yang

8 Ramayulis.Metodologi Pendidikan Agama Islam.Jartarta:Kalam Mulia. 2008. Hal.336

jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan petunjuk kemajuan belajar
peserta didik dan pelapornya.
B; Pengertian Komunikasi

Komunikasi atau communication dalam bahasa inggris berasal dari bahasa latin,
communis yang berarti sama, communico, communication, atau communicare yang berarti
membuat sama (to make common). Istilah pertama (communis) paling sering disebut
sebagai asal usul komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip,
yaitu communicatus yang mempunyai arti berbagi atau milik bersama, sehingga komunikasi
diartikan sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi
tersebut.9
Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, makna, atau suatu pesan dianut secara
bersama-sama.10 Adapun menurut leksikografer (ahli kamus bahasa), komunikasi adalah
upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Jika dua orang berkomunikasi,
pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling dipertukarkan adalah tujuan yang
diinginkan oleh keduanya. Websters New Collegiate Dictionary edisi tahun 1997, antara lain
menjelaskan bahwa komunikasi adalah proses pertukaran informasi di antara individu melalui
sistem lambang, tanda atau tingkah laku.11
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan/informasi dari satu pihak kepada
pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya.12 Pada umunya, komunikasi
dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah
pihak, yang disebut behasa verbal. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti
oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan,
9 Kismayanti el Karimah, dan Udud Wahyudin, Filsafat dan Etika Komunikasi, Bandung: Widya Padjajaran, 2010, hlm. 27.
10 Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004, hlm. 41.
11 http://st289771.sitekno.com/article/22828/hakikat-dasar-komunikasi.html.
12 Ibid, hal. 63.

menunjukan sikap tertentu. Aktifitas manusia yang disebut komunikasi merupakan fenomena
yang rumit dan terus menerus berubah. Walaupun demikian, ada beberapa ciri yang bisa
ditemui pada sebagian besar komunikasi. Ciri-ciri tersebut memiliki relevansi tertentu dengan
pembelajaran dan pengajaran bahasa.13

C; Pengertian Pendidikan

Kata pendidikan berasal dari kata dasar didik, artinya memelihara, merawar dan
memberi latihan agar seseorang memiliki ilmu pengetahuan seperti yang diharapakan
(tentang sopan santun, akal budi, akhlak dan sebagainya). Selanjutnya dengan menambahkan
awalan pe hingga menjadi pendidik, yang artinya orang yang mendidik.14
Secara terminologi, pendidik menurut Ahmad Tafsir 15 adalah orang yang
bertanggung jawab terhadap berlangsungnya proses pertumbuhan dan perkembangan potensi
anak didik, baik potensi kognitif maupun potensi psikomotornya. Di dalam Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Bab I pasal 6, di bedakan antara Pendidik
dan Tenaga Kependidikan. Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang
mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaran pendidikan. Sedangkan
Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor,
pamong belajar, widya iswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lainnya sesuai dengan
kekhususannya serta berpartisifasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Dalam pengertian yang lebih luas pendidik dalam perspekti Islam adalah orang yang
bertanggung jawab terhadap pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani peserta didik
agar ia mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiannya (baik sebagai Khalifah fil al-ardh
maupun abd) sesuai dengan nilai-nili ajaran Islam.16
13 Drs. Furqanul Azies, M.Pd, Drs. A. Chaedar Alwasilah, M.A, Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori Dan Praktek,
Bandung: Rosdakarya, 1996, hal. 8.
14 Prof. Dr. H. Ramayulis dan Prof. Dr. Samsu Nizar, MA, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Kalam Mulia, 2006 hal 138

15 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Rosdakarya, 1992, hal. 74
16 Op. Cit. Hal. 139

Pendidikan adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis untuk
memotivasi, membina, membantu, dan membimbing seseorang untuk mengembangkan
segala potensinya sehingga mencapai kualitas diri yang lebih baik.17
Istilah pendidikan disebut juga dengan istilah at-tarbiyah, at-talim, dan at-tadib.
Kata at-tarbiyah sebangun dengan kata ar-rabb, rabbayani, nurabbi, ribbiyun, dan rabban.
Fahrur Rozi berpendapat bahwa ar-rabb merupakan fonem yang seakar dengan at-tarbiyah,
yang berartiat-tanmiyah, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Ibnu abdillah Muhammad
bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi mengartikan ar-rabb dengan makna pemilik, yang maha
memperbaiki, yang maha mengatur, yang maha menambah, yang maha menunaikan.18
Pendidikan juga merupakan usaha pengembangan kualitas diri manusia dalam segala
aspeknya. Pendidikan sebagai aktifitas yang disengaja untuk mencpai tujuan tertentu dan
melibatkan berbagai faktor yang saling berkaitan antara satu dan lainnya sehingga
membentuk satu sistem yang saling mempengaruhi19
Beberapa definisi di atas mengisyaratkan, bahwa pendidik adalah orang yang
bertanggung jawab terhadap perkembangan dalam aspek rohani dan jasmani anak. Dalam
konteks pendidikan Islam, pendidik di sebut murabbi, muallim, muaddib, mudarris, muzakki,
dan ustadz.

a; Murabbi

Istilah murabbi merupakan bentuk (shighah) al-isim al fail yang berakar dari tiga kata.
Pertama, berasal dari kata raba, yarbu yang artinya zad dan nama (bertambah dan tumbuh).
Kedua, berasal dari kata rabiya, yarba yang mempunyai makna tumbuh

(nasya) dan

menjadi besar (tararaa). Ketiga, berasal dari kata rabba yarubbu yang artinya memperbaiki,
17 Drs. Anas Salahudin, M.Pd, Filsafat Pendidika, Bandung: CV Pustaka Setia, 2011, hal. 19.
18 Ibid
19 Tedi Priatna, Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam, Bandung, Pustaka Bani Quraisy, 2004, hal. 27.

menguasai, menjaga, dan memelihara. Kata kerja rabba semenjak masa Rasulullah sudah
dikenal dalam ayat Al-Quran dan Hadits Nabi. Firman Allah SWT:



Artinya: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah
mendidik aku waktu kecil."

(Q.S. al-Isra: 24)

Dalam bentuk kata benda, kata rabba di gunakan untuk Tuhan, hal tersebut karena
Tuhan juga bersifat mendidik, mengasuh, memlihara, dan bahkan menciptkan. Firman Allah:


Artinya: segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam.(Q.S. al-fatihah:2)
Secara ringkas term murabbi sebagai pendidik mengandung empat tugas;

a; Memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa


b; Mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan
c; Mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan;
d; Melaksanakan pendidikan secara bertahap
b; Muallim

Muallim berasal dari al-fil al-madhi allama, mudharinya yuallimu, dan masdarnya
al-talim. Artinya, telah mengajar, sedang mengajar, dan pengajaran. Kata muallim memiliki
arti pengajar atau orang yang mengajar. Istilah muallim sebagai pendidik dalam hadits
Rasulullah adalah kata yang paling umum dikenal dan banyak ditemukan. Muallim
merupakan al-ism al-fal-il dari allama yang artinya orang yang mengajar. Dalam bentuk
tsulasi mujarrad, masdar dari alima adalah ilmun, yang artinya sering dipakai dalam bahasa
Indonesia disebut ilmu.

c; Muaddib

Secara bahasa mu;addib merupakan bentukan masdar dari kata addaba yang berarti
memberi adab, mendidik.20 Adab dalam kehidupan sehari-hari sering diartikan tata krama,
sopan santun, akhlak, budi pekerti. Anak yang beradab biasanya dipahami sebagai anak yang
sopan yang mempunya tingkah laku terpuji.

d; Mudarris

Secara etimologi mudarris berasal dari bahasa Arab, yaitu shigat al-isim al-fail almadhi darrasa. Darrasa artinya mengajar, sementara mudarris artinya guru, pengajar.21
Secara terminologi mudarris adalah orang yang memiliki kepekaan intelektual dan
informasi, serta memperbarui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan, dan
berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka, serta melatih
keterampilan sesuai bakat, minat dan kemampuannya.22

e; Mursyid

Secara etimologi istilah Mursyid berasal dari bahasa Arab dalam bentuk al-ism aljail dari al-fi al al-madhi rassyada artinya llama, mengajar. 23
Secara terminologi adalah salah satu sebutan pendidik/guru dalam pendidikan islam
yang bertugas untuk membimbing peserta didik agar ia mampu menggunakan akal pikirannya
secara tepat, sesuatu atau mencapai kedewasaan berpikir. Musyid berkedudukan sebagai
pemimpin, petunjuk jalan, pengarah, bagi peserta didiknya agar ia memperoleh jalan yang
lurus.

f;

Muzakki

20 Mahmud Yunus, kamus Arab-Indonesia, Jakarta: PT, Hidayakarya Agt. 1990. Hal. 37
21 A. W. Munawwir, kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Yogyakarta: Pondok Pesantren AL-Munawwir, 1984,
hal. 13
22 Muhamin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Raja
Grafi Persada, 2005. Hal. 50
23 Munawwir, op. Cit, hal. 535

Sebagai istilah yang dipakai untuk pendidikan sebelumnya, maka muzakki juga
merupakan kalimat ism dalam bahasa Arab dengan shigat al-ism al-fail atau yang melakukan
suatu perbuatan. Muzakki berasala dari al-fiil madhi yang empat huruf, yaitu zakka yang
artinya nama dan zakka, yakni berkembang, tumbuh, dan bertambah. Pengertian dari zakka
adalah menyucikan, membersihkan, memperbaiki, dan menguatkan. Dalam bentuk kata lain
terdapat juga tazakka artinnya tasaddaq, yakni memberi sedekah, berzakat, menjadi baik
bersih. Azzakat sama artinya dengan al-Thaharah dan al-Shadaqat

al-Shadaqat

yakni

kesucian, kebersihan, shadaqah, dan zakat24


Berdasarkan pembahasan diatas, maka istilah muzakki adalah orang yang
membersihkan, mensucikan sesuatu agar ia menjadi bersih dan suci terhindar dari kotoran.
Apabila dikaitkan dengan pendidikan Islam, maka muzakki

adalah pendidik yang

bertanggung jawab memlihara, membimbing, dan mengembangkan fitrah peserta didik, agar
ia selalu berada dalam kondisi suci dalam keadaan taat kepada Allah terhindar dari perbuatan
yang tercela.

24 Ibid, op. Cit, hal. 535

BAB III
EVALUASI DAN KOMUNIKASI PENDIDIKAN DALAM AL-QURAN

A; Evaluasi Pendidikan Dalam Al-Quran

Term evaluasi dalam Al-Quran tidakdapat ditemukan dalam padanan yang pasti, tetapi
terdapat term-term tertentu mengarah pada makna evaluasi, term-term tersebut adalah:

1; Al-Hisab, memiliki makna mengira, menafsirkan, menghitung. Hal ini dapat

dilihat dalam firman Allah SWT:

Artinya: Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah
akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa
yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu(Q. S. Al-Baqarah: 284)
Allah SWT. Memberitahukan bahwa Dia kelak akan melakukan hisab (perhitungan) terhadap
hamba-hamba Nya atas semua yang mereka lakukan dan mereka sembunyikan di dalam hati mereka.
25

2; Al-Bala, memiliki makna cobaan, ujian, misalnya dalam firman Allah SWT:

Artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu
yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Q. S.al-Mulk: 2)
3; Al-Hukm, memiliki makna putusan atau vonis. Misalnya dalam firman Allah

SWT:









25 Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir, Bandung, Sinar Baru Algesindo, 2012, hal: 212

Artinya: Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara antara mereka dengan


keputusan-Nya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Q.S. an-naml: 78)
4; Al-Qada, memiliki arti putusan. Misalnya dalam firman Allah SWT:

Artinya: Mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada
bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah
menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya
akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. (Q.S. thaha: 72)
5; Al-Nazr, memiliki arti melihat. Misalnya dalam firman Allah SWT:

Artinya: Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk
orang-orang yang berdusta. (Q.S.an-Naml: 27)
B; Komunikasi Pendidikan Dalam Al-Quran
1; Qaulan Sadida (QS. An-Nisa: 9)



















Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar

Perkataan Qaulan Sadida diungkapkan Al-Quran dalam konteks pembicaraan


mengenai wasiat. Menurut tafsir Al-Maraghi26 bahwa Qaulan Sadida dari segi konteks ayat
mengandung makna kekuatiran dan kecemasan seorang pemberi wasiat terhadap anakanaknya yang digambarkan dalam bentuk ucapan-ucapan yang lemah lembut (halus), jelas,
jujur, tepat, baik, dan adil. Lemah lembut artinya cara penyampaian menggambarkan kasih
sayang yang diungkapkan dengan kata-kata yang lemah lembut. Jelas mengandung arti terang
sehingga ucapan itu tak ada penapsiran lain. Jujur artinya transparan, apa adanya, tak ada
yang disembunyikan.

26 Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. Tafsir Al- Maraghi, Terj. Bahrun Abubakar, Semarang: Toha Putra. 1985

Tepat artinya kena sasaran, sesuai yang ingin dicapai, dan sesuai pula dengan situasi
dan kondisi. Baik sesuai dengan nilai-nilai, naik nilai moral-masyarakat maupun ilahiyah.
Sedangkan adil mengandung arti isi pembicaraan sesuai dengan kemestiannya, tidak berat
sebelah atau memihak.
2; Qaulan Marufa (QS An-Nisa ayat 5)

Artinya: Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum Sempurna
akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok
kehidupan. berilah mereka belanja dan Pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah
kepada mereka kata-kata yang baik. (QS. An-nisaa: 5)
Secara bahasa arti marufa adalah baik dan diterima oleh nilai-nilai yang berlaku di
masyarakat (Shihab, 1998:125).27 Ucapan yang baik adalah ucapan yang diterima sebagai
sesuatu yang baik dalam pandangan masyarakat lingkungan penutur.
Dengan kata lain menurut beberapa ahli baik ahli tafsir seperti Hamka28 maupun
pendapat ahli lainnya bahwa qaulan marufa mengandung arti perkataan yang baik, yaitu
perkataan yang sopan, halus, indah, benar, penuh penghargaan, dan menyenangkan, serta
sesuai dengan kaidah dan hukum dan logika.
3; Qaulan Baligha (QS An-Nisa ayat 63)












Artinya:Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam
hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan
Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS. An-nisaa: 63)
Qaulan Baligha diartikan sebagai pembicaraan yang fasih atau tepat, jelas maknanya,
terang, serta tepat mengungkapkan apa yang dikehendakinya atau juga dapat diartikan

27 Shihab. M.Quraish. Tafsir Al-Misbah pesan, kesan dan keserasian Al-Quran.


28 Hamka, Tafsir Al-Azhar. Yayasan Latimojung, Surabaya, 1982, Cet. III.

Jakarta: lentera Hati. 2007

sebagai ucapan yang benar dari segi kata. Dan apabila dilihat dari segi sasaran atau ranah
yang disentuhnya dapat diartikan sebagai ucapan yang efektif.
4; Qaulan Maysura (QS Al-Isra ayat 28)














Artinya: Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari
Tuhanmu yang kamu harapkan, Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas.
(QS. Al-Isra: 28)
Dalam Terjemahan Departemen Agama, ditafsirkan apabila kamu tidak dapat
melaksanakan perintah Allah seperti yang tersebut dalam ayat 26, Maka Katakanlah kepada
mereka perkataan yang baik agar mereka tidak kecewa lantaran mereka belum mendapat
bantuan dari kamu. dalam pada itu kamu berusaha untuk mendapat rezki (rahmat) dari
Tuhanmu, sehingga kamu dapat memberikan kepada mereka hak-hak mereka.
Menurut bahasa qaulan maysura artinya perkataan yang mudah. Adapun para ahli
tafsir seperti At-Thabari dan Hamka mengartikan bahwa qaulan maysura sebagai ucapan
yang membuat orang lain merasa mudah, bernada lunak, indah, menyenangkan, halus, lemah
lembut dan bagus, serta memberikan rasa optimis bagi orang yang diajak bicara. Mudah
artinya bahasanya komunikatif sehingga dapat dimengerti dan berisi kata-kata yang
mendorong orang lain untuk tetap mempunyai harapan. Ucapan yang lunak adalah ucapan
yang menggunakan ungkapan dan diucapkan dengan pantas atau layak. Sedangkan yang
lemah lembut adalah ucapan yang baik dan halus sehingga tidak membuat orang lain kecewa
atau tersinggung.
5; Qaulan Layyina (QS Thaha ayat 20)

Artinya: Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, Maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang
merayap dengan cepat. (QS Thaha ayat 20)
Qaulan layyina dari segi bahasa berarti perkataan yang lemah lembut. Secara lebih
jelas bahwa qaulan layyina adalah ucapan baik yang dilakukan dengan lemah lembut
sehingga dapat menyentuh hati yang diajak bicara. Ucapan yang lemah lembut dimulai dari

dorongan dan suasana hati orang yang berbicara. Apabila berbicara dengan hati yang tulus
dan memandang orang yang diajak bicara sebagai saudara yang dicintai, maka akan lahir
ucapan yang bernada lemah lembut.
Dengan kelemah lembutan itu maka akan terjadi sebuah komunikasi yang akan
berdampak pada tercerapnya isi ucapan oleh orang yang diajak bicara sehingga akan terjadi
tak hanya sampainya informasi tetapi jua akan berubahnya pandangan, sikap dan prilaku
orang yang diajak bicara.
6; Qaulan Karima (QS Al-Isra ayat 23)
Dari segi bahasa qaulan karima berarti perkatan mulia. Perkataan yang mulia adalah
perkataan yang memberi penghargaan dan penghormatan kepada orang yang diajak bicara.










Artinya:Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika
salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan
ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan
yang mulia. (QS. Al-Isra: 23)
Dalam hal ini bisa juga diartikan mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak
dibolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan
lebih kasar daripada itu.

BAB III
KESIMPULAN

Evaluasi adalah kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek
dengan menggunakan instrumen dan membandingkan hasilnya dengan tolak ukur untuk
memperoleh kesimpulan.
Komunikasi atau communication dalam bahasa inggris berasal dari bahasa latin,
communis yang berarti sama, communico, communication, atau communicare yang berarti
membuat sama (to make common). Istilah pertama (communis) paling sering disebut
sebagai asal usul komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip,
yaitu communicatus yang mempunyai arti berbagi atau milik bersama, sehingga komunikasi
diartikan sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi
tersebut
Pendidikan adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis untuk
memotivasi, membina, membantu, dan membimbing seseorang untuk mengembangkan
segala potensinya sehingga mencapai kualitas diri yang lebih baik.
Term evaluasi dalam Al-Quran tidak dapat ditemukan dalam padanan yang pasti,
tetapi terdapat term-term tertentu mengarah pada makna evaluasi, term-term tersebut adalah
Al-Hisab, Al-Bala, Al-Qada, dan Al-Nazr.
Adapun term komunikasi dalam Al-Quran diantaranya adalah pada kalimat Qaulan
Sadida, Qaulan Marufa , Qaulan Baligha , Qaulan Maysura, Qaulan Layyina, Qaulan
Karima.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. 1985. Tafsir Al- Maraghi, Terj. Bahrun Abubakar,
Semarang: Toha Putra
Azies, Furqanul , A. Chaedar Alwasilah, M.A. 1996. Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori
Dan Praktek, Bandung: Rosdakarya.
Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir. 2012. Tafsir Ibnu Kasir, Bandung,
Sinar Baru Algesindo.
Departemen Agama, 1991. Al Quran dan Terjemahnya, Proyek pengadaan kitab suci Al
Quran, Jakarta.
El Karimah, Kismayanti, Udud Wahyudin, 2010. Filsafat dan Etika Komunikasi, Bandung:
Widya Padjajaran.
Hermawan, A. Heris.2008. Ilmu Pendidikan Islam.Bandung:Pustaka Ilmiah.
Muhamin, 2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Sekolah, Madrasah
dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Raja Grafi Persada.
Mujid, Abdul, Jusuf Mudzakir. 2010. .Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta:Kencana Prenida
Media.
Mulyana, Dedi. 2004. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Munawwir, Ahmad Warson. 1984. kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap,
Yogyakarta: Pondok Pesantren AL-Munawwir.
Priatna, Tedi. 2004. Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam, Bandung, Pustaka Bani
Quraisy.
Ramayulis. 2010. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jartarta:Kalam Mulia.
Ramayulis, Samsu Nizar. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta. Kalam Mulia
Shihab. M.Quraish. 2007. Tafsir Al-Misbah pesan, kesan dan keserasian Al-Quran. Jakarta: lentera
Hati.

Sudjiono, Anas. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Grapindo Persada.
Sudjana, Nana. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung, Sinar Baru Algesindo.
Sutikno , M. Sobry. 2009. Belajar dan Pembelajaran, Bandung. Prospect.
Salahudin, Anas. 2011. Filsafat Pendidika, Bandung: CV Pustaka Setia.
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya
Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Prenada media
Group.
Tafsir, Ahmad . 1992. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Rosdakarya.
Yunus, Mahmud. 1990. kamus Arab-Indonesia, Jakarta: PT, Hidayakarya Agt.
http://st289771.sitekno.com/article/22828/hakikat-dasar-komunikasi.html.