Anda di halaman 1dari 16

BAB II

PEMBAHASAN
PRINSIP DASAR PENANGANAN KEGAWATDARURATAN
1. Prinsip Dasar
Kasus gawatdarurat obstetri adalah kasus obstetri yang apabila tidak segera
ditangani akan berakibat kesakitan yang berat, bahkan kematian ibu dan janinnya.
Kasus ini menjadi penyebab utama kematian ibu, janin, dan bayi baru lahir. Dari sisi
obstetri empat penyebab utama kematian ibu, janin, dan bayi baru lahir ialah :
1) Perdarahan
2) Infeksi dan sepsis
3) Hipertensi dan preeklampsia/eklampsia
4) Persalinan macet ( distosia )
Persalianan macet hanya terjadi pada saat persalinan berlangsung, sedangkan
ketiga penyebab yang lain dapat terjadi dalam kehamilan, persalinan, dan dalam masa
nifas. Yang dimaksudkan dengan kasus perdarahan di sini termasuk kasus perdarahan
yang diakibatkan oleh perlukaan jalan lahir mencakup juga kasus rupture uteri.selain
keempat penyebab kematian utama tersebut, masih banyak jenis kasus gawatdarurat
obstetri baik yang terkait langsung dengan kehamilan dan persalinan, misalnya emboli
air ketuban, maupun yang tidak terkait langsung dengan kehamilan dan persalinan,
misalnya luka bakar, syok anafilaktik karena obat, dan cedera akibat kecelakaan lalu
lintas.
Manifestasi klinik kasus gawatdarurat tersebut berbeda-beda dalam rentang yang
cukup luas.

Kasus perdarahan, dapat bermanifestasi mulai dari perdarahan berwujud

bercak, merembes, profus, sampai syok.


Kasus infeksi dan sepsis, dapat bermanifestasi mulai dari pengeluaran cairan

pervaginam yang berbau, air ketuban hjau, demam, sampai syok.


Kasus hipertensi dan preekampsia/eklampsia, dapat bermanifestasi mulai dari
keluhan sakit/pusing kepala, bengkak, penglihatan kabur, kejang-kejang

sampai koma/pingsan/tidak sadar.


Kasus persalinan macet, lebih mudah dikenal yaitu apabila kemajuan
persalinan tidak berlangsung sesuai dengan batas waktu yang normal; tetapi
kasus persalinan macet ini dapat merupakan manifestasi ruptura uteri.

Kasus gawatdarurat yang lain, bermanifestasi klinik sesuai dengan


penyebabnya.

Mengenal kasus gawatdarurat obstetric secara dini sangat penting agar


pertolongan yang cepat dan tepat dapat dilakukan. Mengingat manifestasi klinik
kasus gawatdarurat obstetri yang berbeda-beda dalam rentang yang cukup luas,
mengenal kasus tersebut tidak selalu mudah dilakukan, bergantung pada
pengetahuan, kemampuan daya pikir dan daya analisis, serta pengalaman tenga
penolong. Kesalahan ataupun kelambatan dalam menentukan kasus dapat
berakibat fatal. Dalam prinsip, pada saat menrima setiap kasus yang dianggap
harus dianggap gawatdarurat, sampai ternyata setelah pemeriksaan selesai kasus
itu ternyata bukan kasus gawatdarurat.
Dalam menangani kasus gawatdarurat, penentuan permasalahan utama (diagnosis)
dan tindakan pertolongannya harus dilakukan dengan cepat, tepat, dan tenang
tidak panic, walaupun suasana keluarga pasien ataupun pengantarnya mungkin
dalam kepanikan. Semuanya dilakukan dengan cepat, cermat, dan terarah.
Walaupun prosedur pemeriksaan dan pertolongan dilakukan dengan cepat, prinsip
komunikasi dan hubungan antara dokter-pasien dalam menerima dan menangani
pasien harus tetap diperhatikan.
Menghormati pasien (respect)
Setiap pasien harus diperlakukan dengan rasa hormat, tanpa memandang
status sosial dan ekonominya. Dalam hal ini petugas juga harus memahami dan
peka bahwa dalam situasi dan kondisi gawatdarurat perasaan cemas, ketakutan,
dan keprihatinan adalah wajar bagi setiap manusia dan keluarga yang
mengalaminya.
Kelembutan (gentleness)
Dalam melakukan pemeriksaan ataupun memberikan pengobatan setiap
langkah harus dilakukan dengan penuh kelembutan, termasuk menjelaskan kepada
pasien bahwa rasa sakit atau kurang enak tidak dapat dihindari sewaktu
melakukan pemeriksaan atau memberikan pengobatan, tetapi prosedur itu akan
dilakukan selembut mungkin sehingga perasaan kurang enak itu diupayakan
sesedikit mungkin.

Komunikatif
Petugas kesehatan harus berkomunikasi dengan pasien dalam bahasa dan
kalimat yang tepat, mudah dipahami, dan memperhatikan nilai norma kultur
setempat. Dalam melakukan pemeriksaan petugas kesehatan harus menjelaskan
kepada pasien yang diperiksa apa yang sedang dilakukan dan apa yang
diharapkan. Apabila hasil pemeriksaan normal atau kondisi pasien sudah stabil,
upaya untuk memastikan hal itu harus dilakukan. Menjelaskan kondisi yang
sebenarnya kepada pasien sangatlah penting.
Hak pasien
Hak-hak pasien harus dihormati, seperti penjelasan informed consent, hak
pasien untuk menolak pengobatan yang akan diberikan dan kerahasiaan status
medik pasien.
Dukungan Keluarga ( Family Support )
Dukungan keluarga bagi pasien sangat dibutuhkan. Oleh karena itu petugas
kesehatan harus mengupayakan hal itu antara lain dengan senantiasa memberikan
penjelasan kepada keluarga pasien tentang kondisi terakhir pasien, peka akan
masalah keluarga yang berkaitan dengan keterbatasan keuangan (prosedur lifesaving) harus dilakukan walaupun keluarga pasien belum diberi informasi.

2. Penilaian Awal
Dalam menentukan kondisi kasus obstetri yang dihadapi apakah dalam keadaan
gawatdarurat atau tidak, secara prinsip ahrus dilakukan pemeriksaan secara sistematis
meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik umum, dan pemeriksaan obstetric. Dalam
praktik, oleh karena pemeriksaan sistematis yang lengkap membutuhkan waktu agak
lama, padahal penilaian harus dilakukan secara cepat, maka dilakukan penilaian awal.
Penilaian awal ialah langkah pertama untuk menentukan dengan cepat kasus obstetri
yang dicurigai dalam keadaan gawatdarurat dan membutuhkan pertolongan segera
dengan mengidentifikasi penyulit (komplikasi)yang dihadapi. Dalam penilain awal
ini, anamnesis lengkap belum dilakukan. Anamnesis awal dilakukan bersama-sama
periksa pandang, periksa raba, dan penilaian tanda vital dan hanya untuk
mendapatkan informasi yang sangat penting yang berkaitan dengan kasus. Misalnya

apakah kasus mengalami perdarahan, demam, tidak sadarkejang, sudah mengejan atau
bersalin berapa lama dan sebagainya. Fokus utama penilaian adalah apakah pasien
mengalami syok hipovolemik, syok septik, syok jenis lain ( syok kardiogenik,syok
neurologik, dan sebagainya ), koma, kejang-kejang atau koma disertai kejang-kejang
dan hal itu terjadi dalam kehamilan persalinan, pascasalin, atau masa nifas. Syok
kardiogenik, syok neurogik, dan syok anafilaktik jarang terjadi pada kasus obstetric.
Syok kardiogenik dapat terjadi pada kasus penyakit jantung dalam
kehamilan/persalinan. Angka kematian sangat tinggi. Syok neurogenik dapat terjadi
pada kasus inversio uteri sebagai akibat rasa nyer yang hebat disebabkan oleh tarikan
kuat pada peritoneum, kedua ligamentum infodibulopelvikum dan ligamnetum
rotundum. Syok anafiklatik dapat terjadi pada kasus emboli air ketuban.
Pemeriksaan yang dikukan untuk penialaian awal sebagai berikut :
Penilaiain dengan periksa pandang ( inspeksi )
- Menilai kesadaran penderita : pingsan, kejang-kejang, gelisah, tampak

kesakitan
- Menilai wajah penderita : pucat, kemerahan, banyak berkeringat
- Menilai pernapasan : cepat, sesak napas
- Menilai perdarahan dari kemaluan
Penilaiaan dengan periksa raba ( palpasi )
- Kulit : dingin, demam
- Nadi : lemah/kuat, cepat/normal
- Kaki/tungkai bawah : bengkak
Penilaian tanda vital
- Tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan

Hasil penilaian awal ini, berfokus pada pasien apakah mengalami syok hipovolemik,
syok septik, syok jenis lain, koma, kejang-kejang, atau koma disertai kejang-kejang,
menjadi dasar pemikiran apakah kasus mengalami penyulit perdarahan, infeksi,
hipertensi/preeklampsia/eklampsia, atau penyulit lain. Dasar pemikiran ini harus
dilengkapi dan diperkuat dengan melakukan pemeriksaan klinik lengkap, tetapi sebelum
melakukan pemeriksaan klinik lengkap selesai dilakukan, langkah-langkah untuk
melakukan pertolongan pertama sudah dapat dikerjakan sesuai hasil penilaian awal,
misalnya ditemui kondisi syok, pertolongan pertama untuk mengatasi syok harus sudah
dilakukan.
3. Penilaian Klinik Lengkap

Pemeriksaan klinik lengkap meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik umum, dan


pemeriksaan obstetric termasuk pemeriksaan panggul secara sistematis meliputi
sebagai berikut:
Anamnesis : diajukan pertanyaan kepada pasien atau keluarganya beberapa hal
berikut dan jawabannya dicatat dalam catatan medik.
- Masalah atau keluhan utama yang menjadi alasan pasien datang ke klinik
- Riwayat penyakit/masalah tersebut, termasuk obat-obatan yang sudah

didapat
Tanggal hari pertama haid yang terakhir dan riwayat haid
Riwayat kehamilan sekarang
Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu termasuk kondisi

anaknya
Riwyat penyakit yang pernah diderita dan penyakit dalam keluarga
Riwayat pembedahan
Riwayat alergi terhadap obat

Pemeriksaan fisik umum:


- Penilaian keadaan umum dan kesadaran penderita
- Penilaian tanda vital ( tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan )
- Pemeriksaan kepala dan leher
- Pemeriksaan dada ( besarnya, kelainan bentuk, tumor dan sebagainya)
- Pemeriksaan perut ( kembung, nyeri tekan atau nyeri lepas, tanda abdomen
-

akut, cairan bebas dalam rongga perut )


Pemeriksaan anggota gerak ( antara lain edema tungkai bawah dan kaki )

Pemeriksaan obstetri:
- Pemeriksaaan vulva dan perineum
- Pemeriksaan vagina
- Pemeriksaan rahim ( besarnya, kelainan bentuk, tumor dan sebagainya )
- Pemeriksaan adneksa
- Pemeriksaan his ( frekuensi, lama, kekuatan, relaksasi, simetri dan
-

dominasi fundus)
Pemeriksaan janin:
Di dalam atau di luar rahim
Jumlah janin
Letak janin
Presentasi janin dan turunnya presentasi seberapa jauh
Posisi janin, moulage, dan kaput suksedaneum
Bagian kecil janin disamping presentasi ( tangan, tali pusat, dan
laian-lain )
Anomali kongenital pada janin
Taksiran berat janin
Janin mati atau hidup, gawat janin atau tidak

Pemeriksaan panggul

seluruhnya
Penilaian ruang tengah panggul
Penilaian tulang sacrum ( cekung atau datar )
Penilaian dinding samping ( lurus atau konvergen )
Penilaian spina iskiadika ( runcing atau tumpul)
Ukuran jarak antara spina iskiadika ( distansia interspinarum )
Penilaian pintu bawah panggul
Arkus pubis ( lebih besar atau kurang dari 900)
Penilaian tulang koksigis (ke depan atau tidak )
Penilaian adanya tumor jalan lahir yang menghalangi persalina

pervaginam
Penilaian panggul ( panggul luas, sedang, sempit atau panggul patologik)

Penilaian pintu atas panggul


Promontorium teraba atau tidak
Ukuran konnjugata diagonalis dan konjugta vera
Penilaian linea inominata teraba berapa bagian atau teraba

Penilaian imbang feto-pelvik: (imabng feto-pelvik baik atau disproporsi


sefalo-pelvik)

Pemeriksaan Laboraturium
Pemeriksaan laboraturium sangat membantu dan menentukan baik dalam
penanganan kasus perdarahan, infeksi dan sepsis, hipertensi dan
preeklampsia/eklampsia, maupun kasus gawatdarurat lain.
Pemeriksaan Darah
Darah dialmbil untuk pemeriksaan berikut ( disesuaikan dengan indikasi klinik )

Golongan darah dan cross match


Pemeriksaan darah lengkap termasuk trombosit
Kadar hemoglobin dan hematokrit penting dalam kasus perdarahan. Dalam
perdarahan akut kadar Hb dapat lebih tinggi tetapi dalam kenyataannya jauh
lebih rendah.dalam kasus sepsis kadar Hb penting dalam kapasitasnya untuk
mengangkut oksigen guna mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat
sehingga harus diupayakan kadar Hb > 10g % dan Ht > 30%.
Jumlah dan hitung jenis leukosit berguna dalam memprediksi infeksi, walupun
kenaikan jumlah leukosit tidak spesifik untuk infeksi. Pada kasus demam
tanpa tanda-tanda lokasi infeksi, bila jumlah leukosit > 15.000/mm3 berkaitan
denga infeksi bakteri sebesar 50%. Selain itu jumlah leukosit juga menjadi

salah satu komponen criteria dalam SIRS (systemic inflammatory response


syndrome) suatu istilah untuk menggambarkan kondisiklinik tertentu yaiut
pengaktifan inflammatory cascade dan dianggap ada apabila terdapat 2
kelainan dari 4 parameter yaitu 1) suhu tubuh, 2) frekuensi jantung, 3)
frekuensi napas, dan 4) jumlah leukosit.
Jumlah trombosit meningkat pada peradangan dan menurun pada DIC

(disseminated intravascular coagulation)


Pemeriksaan ureum dan kretinin untuk menilai fungsi ginjal dan dehidrasi
berat
Pemeriksaan glukosa darah
Pemeriksaan pH darah dan elektolit ( HCO3, Na, K, dan Cl )
Pemeriksaan koagulasi ( PT, PTT, dan fibrinogen )
PT (prothrombin time) dan PTT (partial thromboplastin time) meningkat pada
DIC fibrinogen menurun pada DIC.
Pemeriksaan fungsi hati, bilirubin, fosfatase alkalin dan kadar lipase penting
dalam evaluasi gagal organ ganda ( multiorga failure )

Pemeriksaan Air Kemih


Dilakukan pemeriksaan air kemih lengkap dan kultur. Dalam kondisi syok
biasanya produksi air kemih sedikit sekali atau bahkan tidak ada. Berat jenis air
kemih meningkat lebih dari 1.020.

4. Prinsip Umum Pencegahan Infeksi Akut, Kasus Obstetri, Sepsis, Syok Septik
Pastikan jalan nafas bebas

Harus diyakini bahwa jalan nafas tidak tersumbat. Jangan memberikan cairan atau
makanan ke dalam mulut karena pasien sewaktu-waktu dapat muntah dan cairan
muntahan dapat terhisap masuk ke dalam para-paru ( aspirasi ). Putarlah kepala pasien
dan kalau perlu putar juga badannya ke samping dengan demikian bila ia muntah,
tidak sampai terjadi aspirasi. Jagalah agar kondisi badannya tetap hangat karena
kondisi hipotermia berbahaya, dan dapat memperberat syok. Naikkanlah kaki pasien
untuk membantu aliran darah balik ke jantung. Jika posisi berbaring menyebabkan
pasien merasa sesak nafas, kemungkinan hal ini dikarenakan gagal jantung dan edema
paru-paru. Pada kasus demikian, tungkai diturunkan dan naikkanlah posisi kepala
untuk mengurangi cairan dalam paru-paru.
Pemberian oksigen

Oksigen diberikan dalam kecepatan 6-8 liter / menit. Intubasi ataupun ventilasi
tekanan positif hanya dilakukan kalau ada indikasi yang jelas.
Pemberian Cairan Intravena
Cairan intravena diberikan pada tahap awal untuk persiapan mengantisipasi kalau
kemudian penambahan cairan dibutuhkan. Pemberian cairan infus intravena
selanjutnya baik jenis cairan, banyaknya cairan yang diberikan, dan kecepatan
pemberian cairan harus sesuaidengan diagnosis kasus. Misalnya, pemberian cairan
untuk mengganti cairan tubuh yang hilang pada syok hipovolemik seperti pada
perdarahan berbeda dengan pemberian cairan pada syok septik. Pada umumnya
dipilih cairan untuk mengganti cairan isotonic, misalnya NaCl 0,9 % atau Ringer
Laktat. Jarum infuse yang digunakan sebaiknya nomor 16 18 agar cairan dapat
dimasukan secara cepat.
Pengukuran banyaknya cairan infus yang diberikan sangat penting. Berhati
hatilah agar tidak berlebihan memberikan cairan intravena terlebih lagi ada syok
septic. Setiap tanda pembengkakan, napas pendek, dan pipi bengkak, kemungkinan
adalah tanda kelebihan pemberian cairan dihentikan. Diuretika mungkin harus
diberikan bila terjadi edema paru-paru.
Pemberian Tranfusi Darah
Pada kasus perdarahan yang banyak, terlebih lagi apabila syok, tranfusi darah
sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan jiwa penderita. Walaupun demikian,
transfusi darah bukan tanpa resiko dan bahkan dapat berakibat komplikasi yang
berbahya dan fatal. Oleh sebab itu, keputusan untuk memberikan transfusi darah harus
dilakukan dengan sangat hati- hati. Resiko yang serius berkaitan dengan transfuse
darah mencakup penyebaran mikroorganisme infeksius ( misalnya human
immunodeficiency virus atau HIV dan virus hepatitis ), masalah yang berkaitan
dengan imunnologik ( misalnya hemolisis), dan kelebihan cairan dalam sirkulasi
darah.
Pasang kateter kandung kemih
Kateter kandung kemih dipasang untuk mengukur banyaknya urine yang
keluar guna menilai fungsi ginjal dan keseimbangan pemasukan dan pengeluaran
cairan tubuh. Lebih baik dipakai kateter foley. Jika kateterisasi tidak mungkin
dilakukan, urin ditampung dan dicatat kemungkinan terdapat penigkatan konsentrasi
urin ( urin berwarna gelap ) atau produksi urine berkurang sampai tidak ada urine
sama sekali. Jika produksi urin mula- mula rendah kemudian semakin bertambah, hal

ini menunjukan bahwa kondisi mula-mula rendah kemudian semakin bertambah, hal
ini menunjukan bahwa kondisi pasien membaik. Diharapkan produksi urin paling
sedikit 1100 ml/ 4 jam atau 300 ml/jam.

Pemberian Antibiotika
Antibiotic harus diberikan apabila terdapat infeksi, misalnya pada kasus sepsis,
syok septic, cedera intraabdominal, dan perforasi uterus. Apabila tidak terdapat tandatanda infeksi, misalnya pada syok perdarahan, antibiotika tidak perlu diberikan.
Apabila diduga ada proses infeksi yang sedang berlangsung, sangat penting untuk
memberikan antibiotika dini. Sebelum pembedahan dilakukan, antibiotika harus
diberikan setidak tidaknya sebagai pencegahan.
Pada kasus syok, pemberian antibiotika intravena lebih diutamakan sebab lebih cepat
menyebarkan obat kejaringan yang terkena infeksi. Apabila pemberian intravena tidak
dimungkinkan, obat dapat vdiberikan intramuscular. Pemberian antibiotika per oral
diberikan apabila pemberian intravena dan intramuscular tidak dapat dilakukan dan
pasien tidak dalam kondisi syok, pada infeksi ringan, atau untuk mencegah infeksi
yang belum timbul, tetapi diantisipasi dapat terjadi sebagai komplikasi.
Oleh karena identifikasi kuman patogen tertentu biasanya tidak dimugkinkan dan
kuman pathogen ganda mungkin telah terdapat di tempat infeksi, untuk kebanyakan
kasus dipilih antibiotika berspektrum luas yang efektif terhadap kuman gram
negative, gram positif, anerobik, dan klamidia. Antibiotika hharus diberikan dalam
bentuk kombinasi agar diperoleh cakupan yang luas. Penggunaan antibiotika dalam
kehamilan dan persalinan dengan janin hidup harus dipertimbangkan masakmasak
dengan memperhatikan efek samping setiap jenis antibiotika terhadap janin.
Profilaksis antibiotika ialah pemberian antibiotic untuk pencegahan infeksi pada kasus
tanpa tanda tanda dan gejala infeksi. Antibiotika diberikan dalam dosis tunggal,
paling banyak adalah tiga kali dosis. Sebaikanya profilaksis antibiotika diberikan
setelah tali usat diklem untuk menghindari efeknya pada bayi. Profilaksis antibiotika
yang diberikan dalam dosis terapuetik selain menyalahi prinsip juga tidak perlu dan
suatu pemborosan bagi penderita. Resiko penggunaan antibiotika berlebihan adalah
resistensi kuman, efek samping, toksisitas, reaksi alergi, dan biaya yang tidak perlu
dikeluarkan.
Obat pengurang rasa nyeri

Pada beberapa kasus gawatdarurat obstetric, penderita dappat mengalami rasa


nyeri yang membutuhkan pengobatan segera. Pemberian obat pengurang rasa nyeri
jangan sampai menyembunyikan gejala yang sangat penting untuk menentukan
diagnosis. Hindarilah sedasi yang berlebihan. Obat narkotika dapat menekan
pernapasan. Hindarilah penggunaan narkotika pada kasus yang dirujuk tanpa
didampingi petugas kesehatan, terlebih lagi petugas tanpa kemampuan untuk
mengatasi depresi pernapasan.
Penanganan masalah utama
Penyebab utama kegawatdaruratan kasus harus ditentukan diagnosisnya dan
ditangani sampai tuntas secepatnya setelah kondisi pasien memungkinkan untuk
segera ditindak. Kalau tidak, kondisi gawatdarurat dapat timbul lagi dan bahkan
mungkin dalam kondisi yang lebih buruk.
Rujukan
Apabila fasilitas medik di tempat kasus diterima terbatas untuk menyelesaikan
kasus dengan tindakan klinik yang adekuat, maka harus diirujuk ke fasilitas kesehatan
lain yang lebih lengkap. Seharusnya sebelum kasus dirujuk, fasilitas kesehatan yang
akan menerima rujukan sudah dihubungi dan diberi tahu terlebih dahulu sehingga
persiapan penanganan ataupun perawatan inap telah dilakukan dan diyakni rujukan
kasus tidak atau ditolak.

MAKALAH OBSTETRI
Kegawatdaruratan Obstetri

DISUSUN OLEH :
Amalia Darmansyah
Anggun Famelia
Anisa Dwi Wulan Dari
Artha Claca Tambunan
Atika Salma
Debby Sri Nengsih
Desi Utami
Desni Herfi
Deta Restiana
Dewita Putriyana

AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU


PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN
T.A 2011/2012

KATA PENGANTAR
Alhamdulilah segala puji dan syukur hanyalah bagi Allah SWT, yang telah menciptakan.
Berkat rahmat, ridho dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas Makalah obstetri ini dengan
judul :kegawatdaruratan obstetri.
Adapun maksud dari penyusunan Tugas Makalah obstetri ini adalah untuk memenuhi salah
satu syarat dalam rangka menyelesaikan tugas obstetri. Shalawat beserta salam semoga tercurahkan
kepada Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Dalam menyelesaikan Makalah obstetri ini, saya menyadari masih banyak kekurangan namun
berkat bimbingan, dukungan serta bantuan dari semua pihak, akhirnya saya dapat menyelesaikan
tugas Makalah obstetri. Untuk itu dalam kesempatan ini saya ingin mengucapakan terima kasih
kepada :
1.
2.
3.
4.

Hj. Djusmalinar,SKM.M.Kes selaku Direktur Akademi Kesehatan Sapta Bakti


Hj. Puti Hajar,SST selaku Ketua Program Studi Kebidanan
Hj. Hadara,SKM.MM selaku dosen pembimbing Mata Kuliah Obstetri
Dan kawan-kawan yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini

Semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada saya mendapat imbalan dan rahmat dari
Allah SWT. Akhirnya saya berharap semoga Makalah obstetri ini berguna khususnya bagi penulis dan
pihak lain yang membutuhkan.

Bengkulu, Januari 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman judul.............................................................................................................................. i
Kata Pengantar............................................................................................................................ ii
Daftar isi.................................................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN....................................................................................................................... 1
I.1 Latar Belakang............................................................................................................. 1
I.2 Tujuan.......................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP..................................................................................................................... 6
III.1 Kesimpulan...............................................................................................................6
III.2 Saran................................................................................................................ 6
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang

Kasus gawatdarurat obstetri adalah kasus obstetri yang apabila tidak segera
ditangani akan berakibat kesakitan yang berat, bahkan kematian ibu dan janinnya.
Kasus ini menjadi penyebab utama kematian ibu, janin, dan bayi baru lahir. Dari sisi
obstetric empat penyebab utama kematian ibu, janin, dan bayi baru lahir ialah :
5) Perdarahan
6) Infeksi dan sepsis
7) Hipertensi dan preeklampsia/eklampsia
8) Persalinan macet ( distosia )
1.2 Rumusan Masalah

Apa prinsip dasar penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetric


Bagaimana penilaian klinik lengkap?
Bagaimana penanganan kasus perdarahan dalam obstetric
Bagaimana prinsip umum pencegahan infeksi ?
Bagaimana penanganan infeksi akut dalam obstetric ?

1.3 Tujuan

Tujuan Umum
Agar mahasiswa mengetahui prinsip dasar penatalaksanaan
kegawatdaruratan obstetri.
Agar mahasiswa mengetahui penilaian klinik lengkap
Agar mahasiswwa mengetahui penanganan kasus perdarahan dalam

obstetric
Agar mahasiswa mengetahui prinsip umum pencegahan infeksi
Agar mahasiswa mengetahui penanganan inffeksi akut dalam obstetri.
Tujuan Kusus
Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Obstetri yang ditugaskan oleh
dosen pembimbing.

1.1.

Metode Penulisan
Dalam menyusun makalah ini penulis menggunakan metode kepustakaan. Data yang
ditulis bersumber dari buku .

DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo sarwono. 2010.ilmu kebidanan.Jakarta. PT bina pustaka

BAB III
PENUTUP