Anda di halaman 1dari 5

Nama

NPM
Kelompok

I.

: Mohamad Sofwan Rizky


: 1506728081
:1

Tanggal Kegiatan
Paraf Asisten

: 14-09-2016
:

Outline
Komponen Baterai
Klasifikasi Baterai
Mekanisme Kerja Baterai
Contoh Spesifik Aplikasi Sel Volta pada Baterai: Baterai Seng-Karbon

1.
2.
3.
4.
II.

Pembahasan
1. Komponen Baterai
BATERAI merupakan salah satu perangkat yang dapat mengkonversi energi kimia
menjadi energi listrik dengan menggunakan prinsip elektrokimia serta reaksi reduksioksidasi. Baterai terdiri dari beberapa seldi mana sel merupakan unit dasar dari
elektrokimia yang akan menjadi sumber energi listrik dengan konversi energi kimiayang
penyusunannya dapat berupa susunan seri atau paralel tergantung pada voltase dan
kapasitas yang ingin dihasilkan. Sel elektrokimia tersebut terdiri dari tiga komponen utama:

Anoda atau elektroda negatif sebagai reduktor, di mana anoda akan


menyerahkan elektron ke sirkuit eksternal dan akan dioksidasi selama reaksi

elektrokimia berlangsung.
Katoda atau elektroda positif sebagai oksidator, di mana katoda akan menerima
elektron dari sirkuit eksternal dan akan direduksi selama reaksi elektrokimia

berlangsung.
Larutan elektrolit sebagai konduktor ionik yang menyediakan medium untuk
transfer muatan berupa ion pada sel di antara anoda dan katoda. Elektrolit pada
umumnya bersifat cair seperti air, pelarut, garam terlarut, yang bertujuan untuk
memberi konduktivitas ionik. Namun, beberapa baterai menggunakan elektrolit
yang berbentuk padat dengan tujuan untuk mengatur temperatur di dalam sel.

Secara praktikal, pemilihan anoda pada baterai didasari melalui efisiensi suatu
material sebagai reduktor, konduktivitasnya yang baik, serta harganya yang murah;
sehingga material metal seperti seng dan lithium banyak digunakan. Sementara itu,
pemilihan katoda didasari pada efisiensinya sebagai oksidator, stabilitasnya saat kontak
dengan elektrolit, serta kemampuannya dalam menghasilkan voltase; di mana pada
1

penggunaannya, oksida metal, oksihalida, serta sulfur dengan oksidanya banyak dipakai
sebagai material dari katoda. Elektrolit diharuskan memiliki konduktivitas ionik yang baik
namun tidak untuk konduktif secara listrik, di mana hal ini bisa menyebabkan sirkuit
pendek internal. Pada akhirnya, secara fisik anoda dan katoda diisolasi secara elektrik dan
dikelilingi dengan elektrolit.
2. Klasifikasi Baterai
Sel elektrokimia dan baterai diidentifikasi menjadi primer (nonrechargeable) atau
sekunder (rechargeable), di mana hal ini didasarkan pada kapabilitasnya saat dialiri
listrik. Berikut adalah klasifikasi dari baterai primer dan sekunder beserta klasifikasi
lainnya yakni fuel cell:

Baterai primer merupakan baterai yang hanya dapat dipakai sekali dan tidak
dapat diisi ulang dalam penggunaannya. Contoh baterai primer antara lain

baterai seng-karbon, baterai alkaline, dan baterai lithium.


Baterai sekunder merupakan baterai yang dalam penggunaannya dapat diisi
ulang dengan mengaliri listrik pada arah yang berlawanan pada terminal
baterai. Baterai ini dikenal dengan sebutan baterai penyimpan atau
akumulator. Contoh baterai sekunder antara lain baterai nikel-cadmium,

baterai nikel-metal-hidrida, dan baterai lithium-ion.


Fuel cell atau yang disebut dengan sel bahan bakar, merupakan alat konversi
energi elektrokimia yang akan mengubah hidrogen dan oksigen menjadi air, di
mana secara bersamaan akan menghasilkan energi listrik dan panas dalam
prosesnya. Fuel cell merupakan suatu bentuk teknologi sederhana seperti
baterai yang dapat diisi bahan bakar untuk mendapatkan energinya kembali, di
mana dalam kasusnya yang menjadi bahan bakar adalah oksigen dan
hidrogen. Pada operasinya, fuel cell tetap menggunakan katoda, anoda,
elektrolit, dan juga katalis.

3. Mekanisme Kerja Baterai


Mekanisme kerja pada baterai dibedakan menjadi saat baterai tidak dialiri muatan
(discharge) dan pada saat baterai dialiri muatan (charge):

Saat tidak dialiri muatan (discharge), elektron mengalir dari anoda menuju
katoda di mana elektron akan diterima dan material katoda akan direduksi.
Pada kasus ini, anoda berperan sebagai elektroda negatif sementara katoda
berperan sebagai elektroda positif.

Gambar 1. Operasi elektrokimia pada sel yang tidak dialiri muatan

Elektroda negatif: reaksi anoda (oksidasi)


2++ 2e
Zn Z n
Elektroda positif: reaksi katoda (reduksi)

C l 2 +2 e 2 C l
Reaksi total (discharge)
(ZnC l 2 )
2++2 C l
Zn+C l2 Z n

Saat dialiri muatan (charge)


Pada saat baterai dialiri muatan, maka aliran muatan akan berbalik di mana
proses oksidasi akan terjadi pada elektroda positif dan reduksi akan terjadi
pada elektroda negatif. Sehingga, pada kasus ini anoda berperan sebagai
elektroda positif sementara katoda berperan sebagai elektroda negatif.

Gambar 2. Operasi elektrokimia pada sel yang dialiri muatan

Elekroda negatif: reaksi katoda (reduksi)


2++2 e Zn

Zn
Elektroda positif: reaksi anoda (oksidasi)
C l 2 +2 e
2 C l
Reaksi total (charge)
Zn+C l 2
2++2 C l
Z n

4. Contoh Spesifik Aplikasi Sel Volta pada Baterai: Baterai Seng-Karbon


Proses sel elektrokimia dalam memproduksi listrik terjadi karena adanya reaksi kimia,
di mana adanya penerimaan dan pelepasan elektron pada elektroda. Operasi ini dapat
diilustrasikan dengan contoh spesifik aplikasi sel volta pada salah satu jenis baterai
primer, yakni baterai seng-karbon.

Gambar 3. Komponen dan operasi kerja pada baterai seng-karbon

Pada baterai seng-karbon, terjadi aliran elektron dari elektroda negatif yakni anoda
menuju elektroda positif yakni katoda. Elektroda negatif pada baterai ini digunakan
material seng dikarenakan sifat stabilitasnya pada proses reaksi dan kemudahannya
dalam mengoksidasi. Sementara katoda pada baterai ini digunakan batang karbon yang
dikelilingi oleh campuran mangan dioksida dan bubuk grafit yang berperan untuk
menerima elektron dari anoda. Pasta elektrolit yang terbuat dari ammonium klorida
juga akan membantu operasi baterai dalam proses transfer elektron dari anoda menuju
katoda.
Reaksi kimia pada baterai seng-karbon dapat diuraikan sebagai berikut di mana terjadi
pelepasan elektron pada seng (anoda).
Zn(s) Zn2+(aq) + 2 eElektron yang dilepas dari katoda pun akan diterima oleh batang karbon yang berperan
sebagai anoda di mana dalam prosesnya terjadi reaksi antara pasta elektrolit
(ammonium klorida) dengan anoda, dan di saat yang bersamaan juga terjadi reaksi
simultan antara elektrolit dengan katoda (mangan dioksida), sehingga dapat dituliskan
sebagai
2NH4Cl + 2 e- H2 + 2NH3 + 2 Cl2MnO2 + H2 Mn2O3 + H2O
sehingga reaksi yang terjadi pada anoda adalah
2MnO2 + 2 e- + 2NH4Cl Mn2O3 + 2NH3 + H2O + 2 ClPada akhirnya, dapat dikatakan terjadi pelepasan elektron dari seng menuju ammonium
klorida, di mana elektron dari hidrogen sebagai produk sampingan pada ammonium
klorida juga akan terlepas dan menuju mangan dioksida. Sehingga, selama pemakaian
seng secara perlahan-lahan akan larut ketika arus listrik dihasilkan. Ketika ammonium
khlorida jenuh, aliran arus listrik berhenti dan sel harus dibuang. Sel seperti ini
dikatakan primer atau tak dapat diisi ulang.
III.

Daftar Pustaka
Linden, David. (2002) Handbook of Batteries, 3rd Edition, United States America:
McGraw Hill.
Barak, M. (1980) Electrochemical Power Sources Primary and Secondary Batteries,
United Kingdom: Peter Peregrinus.