Anda di halaman 1dari 37

FISIOLOGI TUMBUHAN - SB-141501

STOMATA

Alif Tian Edo P


Suci Mifta Widiarini
Irma Atikasari
Andina Wiwaswati H
Rizky Giovani Abadhaniar
Ilham Ramadhan
Izza Nur Laily

1513100010
1514100010
1514100009
1514100012
1514100046
1514100056
1514100075

Dosen Pengampu:
Dini Emavitalini, S.Si, M.Si

Asisten Praktikum:
Indah Budi Asih

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA 2015

STOMATA
Abstrak
Daun merupakan organ tumbuhan yang berfungsi sebagai
tempat berlangsungnya fotosintesis. Proses pertukaran gas
berlangsung pada stomata. Stomata merupakan celah epidermis
yang dibatasi oleh sel penjaga dan sel penutup. Salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi buka tutup stomata adalah perubahan
tekanan turgor yang terjadi pada sel penjaga. Tujuan dari
praktikum ini adalah mengetahui pengaruh tekanan turgor
terhadap mekanisme membuka dan menutupnya stomata. Metode
yang digunakan yaitu menggunakan sayatan daun Rhoeo discolor
dan dilihat perbedaan keadaan stomata saat ditetesi akuades dan
ketika ditetesi larutan gula 50%. Hasil dari praktikum
menunjukkan bahwa pada preparat yang ditetesi akuades, banyak
stomata yang terbuka dibandingkan dengan keadaan stomata saat
ditetesi larutan gula 50% menunjukkan banyak stomata yang
terutup.
Kata kunci: Hipertonis, Isotonis, Stomata, Rhoeo discolor, Turgor

ii

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah
SWT atas berkat dan hikmat yang diberikan, penulis dapat
menyelesaikan laporan praktikum dengan judul Stomata
sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah Fisiologi
Tumbuhan pada Jurusan Biologi, Fakutas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya. Penulis mendapatkan banyak sekali
bantuan berbagai pihak dalam menyelesaikan laporan
Praktikum ini. Atas berbagai bantuan dan dukungan tersebut,
pada kesempatan ini penulis menghaturkan ucapan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Allah SWT, Tuhan sekaligus Pengatur Kehidupan yang
telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk
menyelesaikan laporan Praktikum hingga selesai.
2. Kedua Orang Tua,
yang tak henti-hentinya
memberikan semangat dan kasih sayang yang luar biasa
kepada penulis
3. Dosen Pengampu, Praktikum Ibu Dini Emavitalini,
S.Si, M.Si. dan Indah Budi Asih selaku asisten
praktikum yang tidak kenal lelah memberikan ilmu dan
waktu dalam proses praktikum.
Surabaya, 28 Oktober 2016

Penyusun
iii

DAFTAR ISI
Abstrak
......................................................................................... Err
or! Bookmark not defined.
Kata Pengantar ................................................................ iii
DAFTAR TABEL ........................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ...................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN ............................................... 1
1.1. Latar Belakang ....................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................. 2
1.3 Tujuan..................................................................... 2
1.4 Manfaat................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................... 3
2.1 Morfologi, Fisiologi dan Taksonomi Tumbuhan
Rhoeo discolor........................................................ 3
2.2 Pengertian dan Fungsi Stomata ............................. 4
2.3 Tipe Stomata .......................................................... 6
2.4 Mekanisme Membuka dan Menutupnya Stomata .. 10
2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mekanisme
Buka Tutup Stomata ............................................... 12
BAB III METODOLOGI ................................................ 14
3.1. Waktu dan Tempat ................................................. 14
iv

3.2. Alat, Bahan, dan Cara Kerja................................... 14


3.2.1 Alat dan Bahan ............................................... 14
3.2.2 Cara Kerja ...................................................... 14
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 15
4.1 Analisis Data ............................................................. 15
4.2.1Stomata Rhoeo discolor ................................. 17
4.2.2 Faktor yang Mempengaruhi .......................... 18
4.3 Mekanisme Buka Tutup Stomata .............................. 19
4.4 Faktor Tekanan Turgor.............................................. 20
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................... 22
5.1. Kesimpulan............................................................. 22
5.2. Saran ....................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ..................................................... 23
LAMPIRAN .................................................................... 28

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil Pengamatan Stomata Rhoeo discolor ...... 16

vi

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Rhoeo discolor ............................................... 4
Gambar 2. Tipe stomata parasitik dan aktinositik ........... 7
Gambar 3. Tipe stomata anisositik, diasitik dan
anomositik ..................................................... 7
Gambar 4. Tipe stomata Famili Zingiberaceae ............... 8
Gambar 5. Tipe stomata Famili Pandanaceae ................. 9
Gambar 6. Tipe stomata Famili Ponteridaceae ............... 9
Gambar 7. Tipe stomata Famili Liliales .......................... 10
Gambar 8. Mekanisme buka tutup stomata ..................... 10
Gambar 9. Stomata perlakuan akuades ........................... 16
Gambar 10. Stomata perlakuan larutan gula 50% ........... 17

vii

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Foto Alat dan Bahan ................................... 28
Lampiran 2. Foto Perlakuan Stomata .............................. 29

viii

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Daun merupakan organ tubuh tanaman yang penting,
karena daun merupakan tempat utama berlangsungnya
proses fotosintesis (Khoiroh et al. 2014). Proses
fotosisntesis membutuhkan CO2 sebagai bahan bakar
sehingga tanaman membutuhkan suatu struktur yang dapat
melakukan pertukaran CO2 di udara, yaitu stomata. Stomata
berasal dari bahasa Yunani, yaitu stoma (jamak: stomata)
yang merupakan celah dalam epidermis yang dibatasi oleh
dua sel epidermis khusus, yakni sel penjaga dan sel penutup
(Rompas, 2011).
Stomata berfungsi untuk menjalankan proses laju
transpirasi, asimilasi, dan respirasi. Terjadinya pembukaan
stomata akibat adanya tekanan turgor dari kedua sel penjaga
yang mengalami peningkatan, sehingga menyebabkan air
masuk kedalam sel penjaga (Lakitan, 1993).
Stomata memiliki beberapa tipe yang dapat
mempengaruhi terjadinya proses transpirasi ataupun proses
keluar masuknya gas ataupun air dari lingkungan ke dalam
sel (Khoiroh et al. 2014). Beberapa tipe stomata jika
dibedakan berdasarkan bentuk sel tetangganya, yaitu
anomositik, anisositik, diasitik, parasitik, aktinositik, dan
siklositik. Sedangkan jika dibedakan berdasarkan letak
penebalan pada sel penutupnya dibagi menjadi beberapa
jenis, yaitu tipe Amaryllidaceae, helleborus, dan graminea
(Haryanti dan Meirina, 2011).

2
Stomata dapat membuka dan menutup dikarenakan
faktor dari internal maupun eksternal yang berkaitan dengan
proses metabolisme tumbuhan yaitu transpirasi dan
fotosintesis. Salah satu faktor tersebut adalah tekanan turgor
sel penjaga yang fungsi utamanya yaitu mempertahankan air
dan keseimbangan karbon dioksida. Hal inilah yang menjadi
latar belakang pada praktikum ini. Pembukaan stomata
dipacu dengan pemberian akuades steril ke dalam sayatan
daun Rhoeo discolor di bagian abaksial, sedangkan
penutupan stomata dipacu dengan pemberian larutan gula
50%.
1.2. Rumusan Permasalahan
Permasalahan yang dibahas kali ini adalah :
1. Apakah tekanan turgor dapat mempengaruhi mekanisme
buka-tutupnya stomata?
2. Apakah tipe stomata pada daun Rhoeo discolor?
1.3. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh tekanan turgor terhadap membuka dan
menutupnya stomata.
1.4. Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah:
1. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
membuka dan menutupnya stomata terutama yang
disebabkan oleh tekanan turgor.
2. Mengetahui tipe stomata pada daun Rhoeo discolor

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi, Fisiologi dan Taksonomi Tumbuhan
Rhoeo discolor
Rhoeo discolor merupakan tanaman herba dengan
batang yang besar namun pendek dengan daun yang
tersusun melingkar, berbentuk lancelot berujung lancip,
melebar, dimana permukaan dorsal berwarna hijau
sedangkan permukaan ventral berwarna ungu yang
disebabkan oleh kekurangan krolofil serta adanya pigmen
antosianin (Abdul, 2008; Rahman, et al. 2015;
Tjitrosoepomo, 2010). Perbedaan warna pada daun tersebut
membuat tanaman ini tergolong ke dalam tanaman hias
varigata. Varigata adalah daerah dalam daun atau batang
yang memiliki warna yang berbeda dengan bagian lainnya
(Tjitosoepomo, 2010). Daunnya berjumlah 30-45 helai
berukuran panjang 4-6 cm (Rahman, et al. 2015), dan
merupakan daun tidak lengkap, dimana hanya terdiri atas
helaian daun (lamina) saja yang duduk memeluk batang
pada bagian pangkal daunnya. Jenis daunnya hipsofil
(hypsophyllum) atau brachte yakni daun terletak pada dasar
perbungaan dengan ukuran dan bentuk yang berbeda dengan
daun yang lain (Taiz dan Zeiger, 2002).
Tanaman ini merupakan tanaman perennial dengan
habitat di tanah kering atau kebun (Rahman, et al. 2015). Di
beberapa Negara, tanaman ini digunakan sebagai obat,
contohnya di Thailand digunakan untuk mengobati demam,
batuk, dan bronchitis serta dilaporkan mengandung senyawa

4
anti-mikroba, anti inflamasi, anti kanker dan juga untuk
insektisida (Sriwanthana, et al. 2007). Di Indonesia sendiri
tanaman ini dibuktikan memiliki anti mikobakteri yang
dapat mengatasi Mycobacterium tuberculosis tipe MDR
(multi-drug resistance) (Radji, et al. 2015).
Berikut ini merupakan taksonomi dari Rhoeo discolor:
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Magnoliophyta
Classis
: Liliopsida
Subclassis
: Commeliniidae
Ordo
: Commelinales
Famili
: Commelinaceae
Genus
: Rhoeo
Species
: Rhoeo discolor
(Tantiado, 2012)

Gambar 1. Rhoeo discolor (Tantiado, 2015)


2.2 Pengertian dan Fungsi Stomata
Stomata berasal dari bahasa Yunani stoma (jamak:
stomata), yang merupakan celah dalam epidermis yang
dibatasi oleh dua sel epidermis yang khusus, yaitu sel

5
penjaga atau sel penutup (Rahayu, et al. 2015). Di dekat sel
penutup terdapat sel-sel tetangga yang mengelilinginya. Sel
penutup dapat membuka dan menutup sesuai dengan
kebutuhan tanaman akan transpirasinya, sedangkan sel-sel
tetangga turut serta dalam perubahan osmotik yang
berhubungan dengan pergerakan sel sel penutup (Haryanti,
2010).
Stomata biasanya ditemukan pada bagian tumbuhan
yang berhubungan dengan udara terutama di daun (Rahayu,
et al. 2015) dan umumnya terdapat pada permukaan
abaksial (daun hipostomatus) dimana frekuensi stomata
lebih melimpah (Xuan, et al. 2011), tetapi ada beberapa
spesies tumbuhan dengan stomata pada permukaan atas dan
bawah daun (Rahayu, et al. 2015).
Daun amfistomatus (stomata terdapat pada kedua sisi
daun) banyak dijumpai pada tanaman-tanaman di
lingkungan yang gersang, sedangkan daun hipostomatus
biasanya banyak terdapat di tanaman dengan habitat
mesofitik. Selain itu juga ada daun epistomatus yang hanya
memiliki stomata di bagian adaksial meskipun jumlahnya
sedikit di alam, contohnya di tanaman yang mengambang
seperti lili air (Camargo, et al. 2011).
Stomata berperan penting bagi kehidupan tumbuhan,
karena pori stomata merupakan tempat terjadinya pertukaran
gas dan air antara atmosfer dengan sistem ruang antar sel
yang berada pada jaringan mesofil di bawah epidermis
(Rahayu, et al. 2015). Selain itu, stomata berperan dalam
difusi CO2 pada proses fotosintesis dan sebagai pintu
keluarnya cairan dari sel dalam proses transpirasi. Adanya
faktor-faktor dari dalam tumbuhan menyebabkan

6
penyerapan air hampir setara dengan transpirasi bila
penyediaan air cukup. Hal ini terjadi karena adanya
transpirasi potensial osmotik sel-sel mesofil daun naik
menyebabkan terbentuknya daya isap daun sebagai akibat
kohesi yang diteruskan lewat sistem hidrostastik pada xilem
(Khoiroh, et al. 2014).
2.3 Tipe Stomata
Bentuk atau tipe stomata dibedakan menjadi 4
berdasarkan sel epidermis yang berdekatan dengan sel
tetangga, yaitu anomositik, anisositik, parasitik, dan diasitik
(Rahayu, et al. 2015). Berikut perbedaan pada masingmasing stomata tersebut (Haryanti, 2010).
Anomositik, yaitu sel penutup dikelilingi oleh sejumlah
sel tertentu yang tidak berbeda dengan epidermis lain
dalam bentuk maupun ukurannya, seperti terdapat pada
Cucurbitae.
Anisositik/Cruciferous, yaitu setiap sel penutup
dikelilingi oleh 3 sel tetangga yang ukurannya tidak
sama, contohnya pada Cruciferae.
Parasitik/rubiaceous, yaitu tiap sel penjaga bergabung
dengan satu atau lebih sel tetangga, sumbu membujurnya
sejajar dengan sumbu sel tetangga dan apertur, terdapat
pada Rubiaceae dan Magnoliaceae.
Diasitik/caryophyllaceus, yaitu tiap sel penutup
dikelilingi oleh dua sel tetangga dengan dinding sel yang
membentuk sudut siku siku terhadap sumbu membujur
stoma, terdapat pada Caryophyllaceae dan Acanthaceae.
Aktinositik, yaitu setiap sel penutup dikelilingi oleh sel
tetangga yang menyebar dalam radius, seperti lingkaran.

Gambar 2. Tipe stomata parasitik (kiri) (Saadu, et al.


2009) dan aktinositik (kanan) (Abdulrahaman, et al.
2011)

Gambar 3. Tipe stomata anisositik (kiri) dan diasitik


(tengah) (Abdulrahaman, et al. 2011) dan anomositik
(kanan) (Obembe, 2015)
Sedangkan jika dibedakan berdasarkan letak sel
penutupnya, dibagi menjadi 2, yaitu stomata phanerophore
dan kriptophore yang dibedakan sebagai berikut (Mulyani,
2006).
Stomata phanerophore, yaitu stomata yang sel-sel
penutupnya terletak pada permukaan daun, seperti pada
tumbuh-tumbuhan hidrofit. Stoma yang letaknya
dipermukaan daun ini dapat menimbulkan banyaknya
pengeluaran secara mudah dan selain itu epidermisnya
tidak mempunyai lapisan kutikula.
Stomata kriptophore, yaitu stomata yang sel penutupnya
berada jauh di permukaan daun, biasanya terdapat pada
tumbuhan yang hidup di daerah kering yang dapat

8
langsung menerima radiasi matahari. Dengan demikian
fungsinya untuk mengurangi penguapan yang berlebihan,
membantu fungsi epidermis, mempunyai lapisan kutikula
yang tebal serta rambut-rambut. Stomata jenis ini
biasanya sering terdapat pada tumbuhan golongan kaktus.
Berdasarkan hubungan ontogeni antarasel penutup dan
sel tetangga, stomata dapat dibedakan menjadi 3 macam
menurut Mulyani (2006), yaitu
Stomata mesogen, sel tetangga yang mempunyai asalusul sama dengan sel penutup.
Stomata perigen, sel tetangga yang berkembang dari sel
protoderm yang berdekatan dengan sel induk stomata.
Stomata mesoperigen, sel disekeliling stomata, yaitu satu
atau lebih sel tetangga yang mempunyai asal-usul yang
sama dengan sel penutup, sedangkan sel yang lain tidak.
Berbeda dengan dikotil, menurut Mulyani (2006) pada
tanaman monokotil stomata dibagi menjadi 4 macam, yaitu
Sel penutup dikelilingi oleh 4 sampai 6 sel tetangga. Tipe
ini biasa terdapat pada Araceae, Musaceae, Cannaceae,
dan Zingiberaceae.

Gambar 4. Tipe stomata Famili Zingiberaceae (Jadhao, et


al. 2015)

9
Sel penutup dikelilingi oleh 4 sampai 6 sel tetangga, 2
diantaranya berbentuk bulat dan lebih kecil dari yang
lain, terletak pada ujung sel penutup. Tipe ini terdapat
pada spesies dari Palmae, Pandanaceae, dan
Cyclanthaceae.

Gambar 5. Tipe stomata Famili Pandanaceae (Rahayu, et


al. 2011)
Sel penutup didampingi oleh 2 sel tetangga. Tipe ini
terdapat
pada
Pontederiaceae,
Flagellariaceae,
Butomales, Alismatales, Cyperales.

Gambar 6. Tipe stomata Famili Ponteridaceae (Qaisar, et


al. 2005)
Sel penutup tidak mempunyai sel tetangga. Tipe ini
terdapat pada Liliales (kecuali Pontederiaceae),
Dioscorales, Amaryllidales, Iridales, dan Orchidales

10

Gambar 7. Tipe stomata Famili Liliales (Obembe, 2015)


2.4 Mekanisme Membuka dan Menutupnya Stomata
Pembukaan stomata berkaitan dengan proses
metabolisme tumbuhan yaitu transpirasi dan fotosintesis
pada pagi hari stomata akan mulai membuka lebar dan
stomata menutup karena tingginya intensitas cahaya dan
temperatur serta penguapan air yang berlebihan yang
biasanya terjadi pada siang hari (Fatonah, et al., 2013).
Stomata dibatasi oleh adanya sel penjaga atau sel
penutup (Rahayu, et al. 2015).Sel penutup adalah serat halus
selulosa pada dinding selnya yang tersusun melingkar. Pola
susunan ini dikenal sebagai miselasi radial. Karena serat
selulosa ini relatif tidak elastis, maka jika sel penutup
menyerap air mengakibatkan diameter tidak membesar
melainkan memanjang, sehingga sel penutup akan
melengkung ke arah luar dan terbukalah porus atau celah
stomata. Ketika sel penutup mengambil air melalui osmosis,
sel penutup akan membengkak dan semakin dalam keadaan
turgid. Perubahan tekanan turgor yang menyebabkan
pembukaan dan penutupan stomata terutama disebabkan
oleh pengambilan dan kehilangan ion kalium (K) secara
reversibel oleh sel penutup (Haryanti dan Meirina, 2011) Sel
penutup mengontrol diameter stomata dengan cara
mengubah bentuk yang akan melebarkan dan menyempitkan
celah di antara kedua sel tersebut. Ketika sel penutup
mengambil air melalui osmosis, sel penutup akan
membengkak dan semakin dalam keadaan turgid. Perubahan

11
tekanan turgor yang menyebabkan pembukaan dan
penutupan stomata terutama disebabkan oleh pengambilan
dan kehilangan ion kalium (K) secara reversibel oleh sel
penutup (Campbell et al, 2003).
Selain itu, stomata akan terbuka saat pompa H+-ATPase
mengeluarkan H+ dari sel penjaga. Di sel penjaga, aktivitas
H+-ATPase diregulasi positif oleh cahaya dan auksin
sedangkan Ca2+ dan ABA sebagai regulator negatif.
Pengeluaran H+ menghiperpolarisasi membrane plasma dan
menyebabkan penyerapan K+ melalui potassium channel.
Penyerapan K+ melalui potassium channel menyebabkan
asidifikasi pada apoplas dan membuat sel penjaga
kehilangan H+. Senyawa anionik yaitu malat yang dipecah
dari pati mentranspor NO3-, sedangkan ion Cl- berfungsi
sebagai sintesis gula. Ion-ion dan air yang ditransportasikan
melalui aquaporin menuju sel penjaga dan menyebabkan
turgor sehingga membuat stomata terbuka. Pada saat
stomata tertutup, inhibisi H+-ATPase dan aktivasi channel
anion menyebabkan depolarisasi membran. Channel anion
seperti rapid channel (R-type) dan slow channel (S-type)
memfasilitasi pengeluaran malat2-, Cl- dan NO3-. Pada
waktu yang sama terjadi pengeluaran K+ dan mengaktifkan
depolarisasi membran. Penurunan malat2- di sel penjaga juga
dipengaruhi oleh konversi glukoneogenik malat menjadi pati.
Pada stomata yang tertutup juga terjadi peningkatan
konsentrasi Ca2+ dan menyebabkan pelepasan Ca2+ melalui
channel di membran plasma dan tonoplas. Kehilangan
larutan di sel penjaga menyebabkan tekanan turgor menurun
dan stomata menutup (Golec dan Szarejko, 2013).

12

Gambar 8. Mekanisme buka tutup stomata (Golec dan


Szarejko, 2013).
2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mekanisme
Buka Tutup Stomata
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
mekanisme buka tutup stomata. Membuka dan menutupnya
stomata dipengaruhi beberapa faktor yaitu faktor internal
dan eksternal. Faktor internal yaitu adanya jam biologis dari
stomata yang akan membuka pada pagi hari karena
menyerap ion, sedangkan malam hari terjadi pembebasan
ion yang menyebabkan stomata menutup sedangkan faktor
eksternal karena intensitas cahaya matahari, suhu,
konsentrasi CO2 dan asam absisat (ABA) (Haryanti et al.,
2009).
Cahaya matahari akan merangsang sel penutup
menyerap ion K+ dan air sehingga stomata membuka pada
pgi hari. Stomata akan menutup apabila intensitas cahaya
dan temperatur serta penguapan air terjadi secara berlebihan
(Fatonah, et al., 2013). Cahaya matahari merangsang sel
penutup menyerap ion K+ dan air sehingga stomata
membuka pada pagi hari. Suhu dapat mempengaruhi karena
pada pagi hari suhu lingkungan masih seimbang dengan

13
suhu tubuh tanaman, sehingga penguapan air tanaman masih
terkontrol. Sedangkan pada siang hari suhu tersebut sudah
mulai naik sementara suhu tanaman masih rendah, oleh
karena itu tanaman harus mengurangi penguapannya
(transpirasi), sehingga porus stomata mulai menyempit
secara perlahan. Sedangkan pengaruh konsentrasi CO2 yang
rendah di dalam daun juga menyebabkan stomata membuka
Pada pengaruh hormon, saat daun tanaman mengalami
kekurangan air, ABA di dalam jaringan meningkat. Jika
daun mengering normal, secara perlahan-lahan ABA
meningkat sebelum akhirnya stomata menutup. Penutupan
ini diduga karena responnya terhadap rawan air melalui
peranan ABA (Salisbury dan Ross, 1995).

14
BAB III
METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 25 Oktober
2016 pukul 08.00-11.00 bertempat di Laboratorium Sains
dan Rekayasa Tumbuhan Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya.
3.2. Alat, Bahan, dan Cara Kerja
3.2.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu
mikroskop, kaca preparat, kaca penutup, silet. Bahan yang
digunakan dalam praktikum yaitu daun Rhoeo discolor,
akuades, dan larutan gula 50% (50 gram gula dan 100 ml
air).
3.2.2 Cara Kerja
Cara kerja yang dilakukan dalam praktikum yaitu
menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Setelah itu,
membuat sayatan melintang pada daun Rhoeo discolor dan
diletakkan pada kaca preparat kemudian ditetesi air lalu
ditutup dengan kaca penutup. Preparat diamati di bawah
mikroskop untuk melihat apakah stomata terbuka atau
tertutup. Diteteskan larutan gula 50% pada objek yang
diamati dengan cara diteteskan pada sisi gelas penutup lalu
diamati perubahan stomata yang terjadi.

15
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1.Analisis Data
Praktikum ini dilakukan dengan dua perlakuan yaitu
perlakuan pertama diteteskan dengan aquades dan perlakuan
kedua dilakukan dengan diteteskan larutan gula 50%.
Pertama dibuat preparat sayatan melintang daun R. discolor
pada bagian basal daun yang bewarna ungu. Sayatan tipis
dari daun R. discolor diletakkan pada gelas objek, kemudian
diteteskan dengan aquades dan ditutup dengan gelas
penutup lalu diamati dibawah mikroskop bentuk stomatanya
dan jumlah stomata yang membuka dan menutup. Untuk
perlakuan kedua sama seperti perlakuan pertama, akan tetapi
diteteskan larutan gula 50% dengan catatan menggunakan
preparat yang sama.
Hasil yang diperoleh yaitu pada perlakuan pertama
didapatkan stomata dari Rhoeo discolor sebanyak 17 yang
merupakan stomata dalam bentuk membuka, sedangkan
stomata menutupnya tidak ditemukan. Pada perlakuan
pertama ini dapat diamati bentuk dari stomata yang ada,
yaitu sel penjaganya tampak turgid setelah diteteskan
dengan aquades. Sedangkan pada perlakuan kedua
didapatkan hasil yaitu jumlah stomatanya 17, dan terjadi
perubahan karena perlakuan dari penetesan larutan gula 50%
yaitu stomata terbukanya menjadi 4, dan stomata
menutupnya menjadi 13.

16

No
1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Stomata R. discolor


Foto Pengamatan
Keterangan
a.stomata
membuka
Jumlah stomata
membuka 17.
Sel
penjaga
tampak turgid.

Gambar 9. Stomata
perlakuan aquades

dengan

(Dokumentasi pribadi, 2016)


2.

a.stomata
menutup
Jumlah stomata
membuka
4,
jumlah
stomata
menutup 13.
Sel sel penjaga
tampak flacid.

17

Gambar 10. Stomata dengan


perlakuan larutan gula 50%
(Dokumentasi pribadi, 2016)

Pada sel penjaga dengan perlakuan larutan gula 50%


dapat terlihat bahwa warnanya sedikit menghitam.
Perubahan warna ini menjelaskan bahwa ada respon dari
tekanan turgor pada sel penjaga akibat perubahan tekanan
air diatas daun Rhoeo discolor yang menghitam (Eamus et
al., 2008). Hal ini juga membuktikan bahwa praktikum yang
telah dilaksanakan sesuai dengan literatur Eamus et al.,
(2008).
4.2.1

Stomata Rhoeo discolor


Pada praktikum ini tumbuhan yang digunakan adalah
Rhoeo discolor karena tumbuhan ini banyak ditemukan
disekitar kampus ITS Surabaya. Selain itu menurut Eamus
et al. (2008) yang menyatakan bahwa untuk percobaan
tekanan turgor pada sel penjaga oleh perubahan tekanan air
diatas daun dapat digunakan Rhoeo discolor. Selain itu
kelebihan menggunakan tumbuhan ini ialah dari ukuran
stomatanya yang besar dan telah banyak digunakan pada
penelitian yang terdahulu (Eamus et al., 2008).

18
Pada tabel dapat dilihat bahwa bentuk stomata dari
Rhoeo discolor ini tampak seperti memiliki 2 sel penjaga
yang sejajar dengan sel penutupnya. Dari hal ini dapat
disimpulkan bahwa tipe stomata dari tumbuhan ini adalah
parasitik. Tipe stomata parasitik menurut Mulyani (2006)
yaitu berupa setiap sel penutup didampingi oleh satu atau
lebih sel tetangga yang letaknya sejajar dengan stomata.
Stomata tipe parasitik adalah jenis yang paling umum
terlihat namun ukuran dan jenis stomata bervariasi sesuai
dengan organ atau bagian yang ada stomanya. Stomata pada
lamina dan epikarp disusun secara acak, serta tersusun
paralel pada jaringan vaskular (Sreelakshmi et al., 2014).
4.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Buka Tutup
Stomata
Pada pratikum yang telah dilaksanakan didapatkan
stomata yang membuka dan stomata yang menutup. Untuk
itu perlu diketahui bahwa proses membuka dan menutupnya
stomata pada tumbuhan dapat terjadi karena beberapa faktor.
Daun dari Rhoeo discolor diambil sebelum praktikum ini
dilaksanakan, yaitu sekitar pukul 08.00 WIB. Alhasil pada
pengamatan stomata pertama kali yaitu tanpa perlakuan
larutan gula 50% ditemukan banyak stomata yang membuka.
Menurut Haryanti dan Meirina (2009) yang menyatakan
bahwa membuka dan menutupya stomata juga dipengaruhi
oleh 2 faktor yaitu:
a. faktor eksternal: intensitas cahaya, konsentrasi CO2
dan asam absisat (ABA). Cahaya matahari merangsang sel
penjaga menyerap ion K+ dan air sehingga stomata
membuka pada pagi hari. Konsentrasi CO2 yang rendah di
dalam daun juga menyebabkan stomata membuka.

19
b. faktor internal: jam biologis yang memicu serapan
ion pada pagi hari sehingga stomata membuka, sedangkan
pada malam hari terjadi pembebasan ion yang menyebabkan
stomata menutup (Haryanti dan Meirina, 2009).
Faktor lain yang memacu penutupan stomata adalah
transpirasi pada pori-pori dalam jarak sampai dengan 0,5
mm, sehingga terjadi koordinasi perpindahan spasial
(Hetheringon dan Woodward, 2012).
4.3 Mekanisme Buka Tutup Stomata
Hasil pengamatan yang diperoleh pada perlakuan
pertama dengan terbukanya seluruh stomata menunjukkan
bahwa akuades memasuki ruang intersel sehingga membuat
sel penutup pada stomata menggembung. Sesuai dengan
literatur, sel penutup mengontrol diameter stomata dengan
cara mengubah bentuk yang akan melebarkan dan
menyempitkan celah di antara kedua sel tersebut. Ketika sel
penutup mengambil air melalui osmosis, sel penutup akan
membengkak dan semakin dalam keadaan turgid. Perubahan
tekanan turgor yang menyebabkan pembukaan dan
penutupan stomata terutama disebabkan oleh pengambilan
dan kehilangan ion kalium (K+) secara reversibel oleh sel
penutup (Campbell et al, 2003).
Pada hasil perlakuan kedua, dari keseluruhan stomata
yang membuka, sebanyak tiga belas diantaranya menjadi
tertutup saat aquades diganti dengan larutan gula 50%. Hal
ini mengindikasikan bahwa larutan gula 50% memiliki
konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan cairan intersel
sehingga menyebabkan cairan di dalam sel menjadi
hipotonis dan di luar sel menjadi hipertonis. Hal ini

20
membuat air menjadi keluar. Keluarnya air tersebut
membuat sel penjaga menjadi flasid yang kemudian
menutup (Syarif, 2009). Sesuai dengan literatur, pergerakan
air dari satu sel ke sel lainnya akan selalu dari sel
yang mempunyai potensi air lebih tinggi ke sel ke potensi
air lebih rendah. Tinggi rendahnya potensi air sel akan
tergantung pada jumlah bahan yang terlarut (solute) didalam
cairan sel tersebut. Semakin banyak bahan yang terlarut
maka potensi osmotik sel akan semakin rendah
(Lakitan, 2004). Pergerakan pori stomata disebabkan oleh
perubahan pada volume sel penjaga yang diatur oleh keluar
masuknya ion K+ dan ion-ion lain dari dan ke sel penjaga
selama proses pembukaan dan penutupan stomata (Willmer
dan Fricker, 2000).
4.4 Pengaruh Tekanan Turgor
Tekanan turgor sangat mempengaruhi membuka dan
menutupnya stomata. Berdasarkan hasil praktikum yang
diperoleh, terjadi peningkatan tekanan turgor sel penjaga
akibat masuknya aquades ke intersel. Sesuai dengan literatur,
menurut Salisbury dan Ross (1995) juga menyatakan
bahwa adanya air akan meningkatkan turgor dinding sel
yang mengakibatkan dinding sel mengalami peregangan
sehingga ikatan antara dinding sel melemah. Stomata akan
membuka jika tekanan turgor
kedua
sel
penjaga
meningkat. Peningkatan tekanan turgor sel penjaga
disebabkan oleh masuknya air ke dalam sel penjaga. Proses
masuknya air tersebut berasal dari tekanan tinggi ke
daerah bertekanan rendah. Tinggi rendahnya potensial
air ini bergantung pada jumlah bahan yang terlarut

21
(solute) di dalam cairan sel. Semakin banyak jumlah
bahan yang terlarut maka potensial osmotik sel akan
semakin rendah. Semakin rendah potensial osmotik sel
maka semakin rendah pula turgiditas sel. Jika sel
bersifat
flacid (kendor), stomata
akan menutup
(Lakitan, 2004).

22
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa tekanan turgor mempengaruhi
terjadinya buka tutup stomata. Saat stomata diberi akuades
terlihat bahwa banyak stomata terbuka akibat naiknya
tekanan turgor pada sel karena masuknya air ke sel penjaga,
sedangkan saat stomata diberi larutan gula tekanan turgor
menurun dan menyebabkan stomata dalam keadaan flaccid
sehingga stomata tertutup.
5.2 Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya yaitu pengambilan
daun dilakukan pada jam biologis stomata. Sayatan
diharapkan lebih tipis agar stomata dapat terlihat dengan
jelas.

23
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir. 2008. Tanaman Hias Bernuansa Varigata.


Yogyakarta: Lily Publisher
Abdulrahaman, A. A., Oyedotun, R. A., Oladele, F. A. 2011.
Diagnostic Significance of Leaf Epidermal Features in
the Family Cucurbitaceae. Insight Botany Vol. 1 (2):
22-27
Camargo, M. A. B., Marenco, R. A. 2011. Density, Size and
Distribution of Stomata in 35 Rainforest Tree Species
in Central Amazonia. Acta Amazonica. Vol. 41 (2):
205-212
Campbell, Reece. 2003. Biologi. Jakarta: Penerbit Erlangga
Eamus, D., Taylor, D.T., Macinnis, C.M.O., Shanahan, S.,
Silvi, L.D. 2008. Comparing Model Predictions and
Experimental Data for the Response of Stomatal
Conductance and Guard Cell Turgor to Manipulations
of Curticular Conductance, leaf-to-air vapour Pressure
Difference and Temperature: Feedback mechanisms
are able to account for all observations. Plant, Cell
and Environment. Vol 31:269-277
Fatonah,S, Asih, D, Mulyanti, D, Irian,D. 2013. Penentuan
Waktu Pembukaan Stomata Pada Gulma Melastoma
malabathricum L. Di Perkebunan Gambir Kampar,
Riau. Biospecies Vol. 6 (2): 15-22

24
Golec, A.D and I. Szarejko. 2013. Open or Close The gateStomata Action Under The Control of Phytohomones
in Drought Stress Condition. Frontiers in Plant Cell.
Vol. 4 (138): 1-16
Haryanti S., Meirina T. 2009. Optimalisasi Pembukaan
Porus Stomata Daun Kedelai (Glycine max (L) merril)
Pada Pagi Hari dan Sore. BIOMA. Vol. 11. No. 1. Hal.
18-23
Haryanti, S. 2010. Jumlah dan Distribusi Stomata pada
Daun Beberapa Spesies Tanaman. Buletin Anatomi
dan Fisiologi. Vol. 18 (2): 21-28
Hetheringon, A., dan Woodward, I. 2012. Stomata.
Lancaster: New Phytologist
Jadhao, A. S., Bhuktar, A. S. 2015. Anatomical Studies of
Curcuma decipiens Dalz. (ZIngiberaceae) from
Maharashtra State (India). Journal of Global
Biosciences Vol. 4 (1): 1258-1261
Khoiroh Y., Harijati N.,, Mastuti R. 2014. Pertumbuhan
Serta Hubungan Kerapatan Stomata Dan Berat Umbi
Pada Amorphophallus muelleri Blume Dan
Amorphophallus variabilis Blume. Jurnal Biotropika.
Vol. 2(5)
Lakitan, B. 2004. Dasar-Dasar
Jakarta: Grafindo Persada

Fisiologi Tumbuhan.

Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta:


Kanisius.

25
Obembe, O. A. 2015. Structural Diversity of Stomata in
Some Monocotyledonous Weeds. World Journal of
Science and Technology Research Vol. 3 (1): 23293837
Qaisar, M., Ping, Z., Rehan, S. M., Ejaz ul, I., Rashid, A. M.,
Yousaf, H. 2005. Anatomical Studies on Water
Hyacinth (Eichornia crassipes (Mart.) Solms) Under
the Influence of Textile Wastewater. Journal of
Zhejiang University Science Vol. 6B (10): 991-998
Radji, M., Kurniati, M., Kiranasari, A. 2015. Comparative
Antimycobacterial Activity of some Indonesian
Medicinal Plants Against Multi-Drug Resistant
Mycobacterium tuberculosis. Journal of Applied
Pharmaceutical Science Vol. 5 (01): 019-022
Rahaman, A. A. and Oladele, F. A. 2003. Stomatal complex
types, stomatal size, density and index in some
vegetable species in Nigeria. Nigerian Journal of
Botany, Vol. 16: 144-150.
Rahayu, P., Rofieq, A., Muizzudin. 2015. Perbedaan
Anatomi Jaringan Stomata Berbagai Daun Genus
Allamanda.
Prosiding
Seminar
Nasional
Pendidikan Biologi 2015: 686-693
Rahayu, S. E., Kartawinata, K., Chikmawati, T., Hartana, A.
2011. Leaf Anatomy of Pandanus Species
(Pandanaceae) from Java. Reinwardtia Vol. 13 (3):
305-313

26
Saadu, R.O., Abdulrahaman, A. A., Oladele, F. A. 2009.
Stomatal Complex Types and Transpiration Rates in
Some Tropical Tuber Species. African Journal of
Plant Science Vol. 3 (5): 107-112
Salisbury, F. B. dan C. W. Ross. 1999. Fisiologi
Tumbuhan. Bandung: ITB
Sreelakshmi, V.V., Sruthy, E.P.M., dan Shereena, J. 2014.
Relation Between the Leaf area and Taxonomic
Importance of Foliar Stomata. International Journal
of Research
in Applied Natural and Social
Sciences. Vol 2 (7): 53-60
Sriwanthana, B., Treesangsri, W., Boriboontrakul, B.,
Niumsakul, S., Chavalittumrong, P. 2007. In Vitro
Effects of Thai Medicinal Plants on Human
Lymphocyte Activity. Songklanakarin Journal of
Science and Technology Vol. 29
Taiz, L. dan Zeiger, E. 2002. Plant Physiology Third
Edition. Massachusetts: Sinauer Associates Inc.
Tantiado, R.G. 2012. Survey on Ethnopharmacology of
Medicinal Plants in Iloilo, Philippines. International
Journal of Bio-Science and Bio-Technology. Vol. 4
(4)
Tjitosoepomo,Gembong. 2010. Taksonomi Tumbuhan
Spermatophyta. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

27
Wardhana, A.W. 2001. Dampak Pencemaran Lingkungan.
Willmer, C.M., dan Fricker, 2000. Stomata. 2nd Edition.,
London: Chapman and Hall
Xuan, X., Wang, Y., Ma, S., Ye, X. 2011. Comparisons of
stomatal parameters between normal and abnormal leaf
of Bougainvillea spectabilis Willd. African Journal of
Biotechnology.Vol. 10(36): 6973-6978

28

LAMPIRAN

Lampiran 1. Foto Alat dan Bahan


Keterangan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Akuades
Pipet tetes
Kaca objek
Kaca penutup
Larutan gula 50%
Silet baru
Daun Rhoeo discolor

28
29

Lampiran 2. Foto Perlakuan Stomata

Penetesan akuades (kiri) dan penetesan larutan gula


(kanan)

Pengamatan stomata di bawah mikroskop