Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2015 adalah
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tinggi
dapat terwujud, melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia
yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam
lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu, secara adil dan merata, serta memliki derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia.
Pembangunan Nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat. Salah satu
dampak pembangunan kesehatan adalah meningkatnya umur harapan hidup
(UHH) dengan berbagai masalah dan kebutuhan bagi lanjut usia di bidang
kesehatan (Depkes RI 2010, p.1).
Umur Harapan Hidup waktu lahir penduduk Indonesia dari tahun ke
tahun terus mengalami peningkatan yang bermakna terutama pada periode
tahun 1980-1995. Estimasi UHH yang sebesar 52,41 tahun 1980 (SP 1980)
meningkat menjadi 63,48 tahun 1995 (SUSPAS 1995), dan diperkirakan
menjadi 66,2 tahun pada 2012 (SDKI 2002-2003). Pada tahun 2012 provinsi
dengan UHH waktu lahir tertinggi adalah DI Yogyakarta (72,4 tahun), DKI
Jakarta (72,3 tahun), dan Sulawesi Utara (70,9 tahun). Sedangkan UHH waktu

2
lahir terendah di Nusa Tenggara Barat (59,3 tahun), Kalimantan Selatan (61,3
tahun), dan Banten (62,4 tahun) (Depkes RI 2013, p. 21).
Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa seringkali dilihat dari
umur harapan hidup penduduknya, demikian juga indonesia sebagai suatu
Negara yang berkembang. Indonesia merupakan Negara berkembang yang
sedang giat giatnya melaksanakan pembangunan di segala bidang, termasuk
pembangunan di bidang kesehatan. Dalam GBHN dinyatakan pembangunan
kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan
masyarakat, serta mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup
sehat (Depkes RI 2002, p. 6)
Banyak

penelitian

epidemiologi

dinyatakan

bahwa

dengan

meningkatnya harapan hidup penduduk Indonesia, maka dapat diperkirakan


bahwa insiden penyakit degeneratif akan meningkat pula. Salah satu penyakit
degeneratif yang mempunyai tingkat morbiditas (angka kesakitan) dan
mortalitas (angka kematian) tinggi adalah hipertensi. Hipertensi menjadi
problem karena sering ditemukan menjadi faktor resiko stroke dan penyakit
jantung koroner. Peningkatan darah merupakan salah satu respon tubuh
terhadap stress dan merupakan respon fight or flight. Dalam keadaan stress
berkelanjutan, tekanan darah dapat tetap tinggi dan menyebabkan hipertensi
(Martono 2010, p.495)
Hasil survai diberbagai Negara dilaporkan bahwa hipertensi terdapat
15 20% penduduk dewasa. Menurut data World Health Organization (WHO)
1996, hipertensi berperan dalam morbiditas dan mortalitas terutama dinegaranegara maju (Martono, 2010 : 495) Di Dunia prevalensi hipertensi cukup

3
tinggi, hampir 1 milyar orang (26%) pada tahun 2003 menderita hipertensi dan
diperkirakan tahun 2025 jumlahnya akan meningkat menjadi 29 %. Dan di
Amerika diperkirakan sekitar 64 juta lebih penduduknya yang berusia antara
18 sampai 75 tahun menderita hipertensi (Vitahealth, 2005:8). Sedangkan di
negara industri dan Indonesia,

hipertensi merupakan salah satu masalah

kesehatan utama yang perlu diperhatikan oleh Dokter yang bekerja pada
pelayanan kesehatan primer karna angka prevalensinya yang tinggi dan akibat
jangka panjang yang ditimbulkannya (Tjokronegoro 2010, p. 453).
Jumlah penderita hipertensi di Sumatera Barat tahun 2013 merupakan
yang tertinggi di Indonesia maupun di dunia. Sekitar 450.000 orang atau
19,1% dari 4,4 juta jiwa penduduk mengalami hipertensi pada usia 40 tahun
ke atas sedangkan penderita hipertensi yang berusia 40 tahun ke bawah
jumlahnya mencapai 650.000 orang. Angka penderita hipertensi Sumatera
Barat dinyatakan tertinggi di Indonesia yang disebabkan karena pola makan,
gaya hidup masyarakat Sumatera Barat. Sedangkan rata-rata penderita
hipertensi di dunia hanya sekitar 10%, sementara kemampuan Indonesia untuk
mengobati hipertensi sampai normal lebih kecil hanya 1,3% dibanding di AS
17% (Wahyuni, 2014).
Di Kabupaten Solok terdapat 18 Puskesmas yang memberikan
pelayanan terhadap pasien hipertensi, dan diperoleh data penderita hipertensi
meningkat dari tahun 2013 berjumlah 10.256 orang dan tahun 2014 berjumlah
11.264 orang. Dari hasil laporan tahunan Dinas kesehatan Kabupaten Solok
tahun 2014 jumlah persentase kejadian hipertensi terbanyak adalah Puskesmas
Sulit Air yaitu 1.284 orang (11,4 %).

4
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengangkat masalah
asuhan keperawatan pada Ny.K dengan Hipertensi di ruang rawat Inap
Puskesmas Sulit Air Kabupaten Solok Tahun 2015.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dalam pembuatan Karya Ilmiah Akhir Ners ini
adalah untuk mendapatkan gambaran umum tentang penatalaksanaan
keperawatan pada klien dengan Hipertensi.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tentang konsep hipertensi di ruang rawat Inap Puskesmas
Sulit Air Kabupaten Solok Tahun 2015.
b. Mengelola asuhan keperawatan pada klien dengan hipertensi di ruang
rawat Inap Puskesmas Sulit Air Kabupaten Solok Tahun 2015.
c. Menganalisa evidence based yang terkait dengan hipertensi di ruang
rawat Inap Puskesmas Sulit Air Kabupaten Solok Tahun 2015.
C. Manfaat
1. Bagi Penulis
Menjadi bahan tambahan atau masukan dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan hipertensi di ruang rawat Inap Puskesmas
Sulit Air Kabupaten Solok Tahun 2015

2.

Bagi Intitusi Pendidikan


Makalah

ini

dapat

meningkatkan

mutu

pendidikan

dalam

hal

mengembangkan potensi keperawatan terutama dalam pemberian asuhan


keperawatan pada klien dengan hipertensi.
3.

Bagi Lahan Penelitian

5
Data bisa dijadikan perencanaan dan pelaksanaan asuhan keperawatan
pada klien dengan hipertensi.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Konsep Hipertensi
1. Definisi Hipertensi

6
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten di
mana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas
90 mmHg. Pada populasinya manula, Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
sistolik 160 mmHg dan tekanan diastoliknya 90 mmHg. Hipertensi merupakan
penyebab utama gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal (Brunner & Suddarth
2002, p.896)
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi sebenarnya adalah suatu
gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan
nutrisi, yang dibawa oleh darah, terhambat sampai ke jaringan tubuh yang
membutuhkannya. Tubuh akan bereaksi lapar, yang mengakibatkan jantung
harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bila kondisi
tersebut berlangsung lama dan menetap, timbullah gejala yang disebut sebagai
penyakit tekanan darah tinggi (Vitahealth 2005, p.12).

Tabel 2.1
Kondisi Hipertensi Menurut Tekanan Darah
Kondisi
Hipertensi stadium 3
Hipertensi stadium 2
Hipertensi stadium 1
Normal tinggi
Normal
Paling Baik

Sistolik
(mmHg)
> 180
160-180
140-160
130-140
120-130
<120

(Sumber: Vitahealth 2005, p.15)

6
Diastolik
(mmHg)
>110
100-110
90-100
85-90
80-85
<80

Apa yang harus dilakukan


Hubungi dokter
Cek sebulan sekali
Cek 1 x 2 bulan
Cek sebulan sekali
Cek setahun sekali
Cek dua tahun sekali, bila usia
di atas 45 tahun.

7
2. Epidemiologi
Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang
memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti stroke untuk
otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan untuk
otot jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan
masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di
dunia. Semakin meningkatnya populasi usia lanjut maka jumlah pasien
dengan hipertensi kemungkinan besar juga akan bertambah. Diperkirakan
sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang
tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, di perkirakan
menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada
angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini.
Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak
dikumpulkan dan menunjukkan di daerah pedesaan masih banyak penderita
yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Baik dari segi case
finding maupun penatalaksanaan pengobatannya. Jangkauan masih sangat
terbatas dan sebagian besar penderita hipertensi tidak mempunyai keluhan.
Prevalensi terbanyak berkisar antara 6 sampai dengan 15%, tetapi angka
prevalensi yang rendah terdapat di Ungaran, Jawa Tengah sebesar 1,8% dan
Lembah Balim Pegunungan Jaya Wijaya, Irian Jaya sebesar 0,6% sedangkan
angka prevalensi tertinggi di Talang Sumatera Barat 17,8%. 14
Hasil penelitian Oktora (2007) mengenai gambaran penderita
hipertensi yang dirawat inap di bagian penyakit dalam RSUD Arifin
Achmad Pekan baru tahun 2005 didapatkan penderita hipertensi meningkat

8
secara nyata pada kelompok umur 45-54 tahun yaitu sebesar 24,07% dan
mencapai puncaknya pada kelompok umur 65 tahun yaitu sebesar 31,48%.
Jika dibandingkan antara pria dan wanita didapatkan wanita lebih banyak
menderita hipertensi yaitu sebesar 58,02% dan pria sebesar 41,98 %.
3. Patofisiologi
Pada stadium permulaan hipertensi hipertrofi yang terjadi adalah
difusi (konsentik). Pada masa dan volume akhir diastolik ventrikel kiri. Pada
stadium selanjutnya, karena penyakit berlanjut terus, hipertrofi menjadi tak
teratur dan akhirnya akibat terbatasnya aliran darah koroner menjadi
eksentrik, berkurangnya rasio antara masa dan volume jantung akibat
peningkatan volume diastolik akhir adalah khas pada jantung dengan
hipertrofi eksentrik. Hal ini diperlihatkan sebagai penurunan secara
menyeluruh fungsi pompa (penurunan fraksieleksi) penigkatan tegangan
dinding ventrikel pada saat sistolik peningkatan konsumsi oksigen ke otot
jantung serta penurunan efek-efek mekanik pompa jantung. Diperburuk lagi
bila disertai dengan penyakit dalam jantung koroner.
Walaupun tekanan perkusi koroner meningkat, tahanan pembumluh
darah koroner juga meningkat sehingga cadangan aliran darah koroner
berkurang. Perubahan hemodinamik sirkulasi koroner pada hipertensi
berhubungan erat dengan derajat hipertrofi otot jantung.
Ada 2 faktor utama penyebab penurunan cadangan aliran darah koroner
yaitu :
a. Penebalan arteriol koroner, yaitu bagian dari hipertrofi otot polar dalam
resitensi seluruh badan. Kemudian terjadi valensi garam dan air

9
mengakibatkan

berkurangnya

compliance

pembuluh

ini

dan

meningkatnya tahanan perifer.


b. Peningkatan hipertrofi mengakibatkan berkurangnya kepadatan kapiler
per unit otot jantung bila timbul hipertrofi menjadi faktor utama pada
stadium lanjut dan gambaran hemodinamik ini
Jadi faktor koroner pada hipertensi berkembang menjadi akibat
penyakit meskipun tampak sebagai penyebab patologis yang utama dari
gangguan aktivitas mekanik ventrikel kiri (Manjoer 2001, p. 441).
4. Etiologi
Berhubung lebih dari 90% penderita hipertensi digolongkann atau
disebabkan oleh hipertensi primer, maka secara umum yang disebut
hipertensi adalah hipertensi primer.
5. Jenis Hipertensi
a. Hipertensi Primer
Hipertensi primer adalah hipertensi yang 90-95% kasus hipertensi
yang terjadi tidak diketahui dengan pasti penyebabnya. Faktor-faktor lain
yang dapat dimasukkan dalam faktor penyebab hipertensi jenis ini adalah
lingkungan, kelainan metabolisme intra seluler, dan faktor-faktor yang
meningkatkan resikonya seperti jenis kelamin obesitas, konsumsi alkohol,
merokok, dan kelainan darah (polisitemia) (Vitahealth 2005, p.26).
Hipertensi primer adalah penyakit hipertensi yang tidak langsung
disebabkan oleh penyebab yang telah diketahui atau dalam bahasa
sederhana adalah hipertensi yang penyebabnya tidak atau belum diketahui.
Mereka yang menderita hipertensi primer, tidak menunjukkan gejala

10
apapun. Pada umumnya, penyakit hipertensi primer baru diketahui pada
waktu memeriksakan kesehatan ke Dokter (Bangun 2002, p.3)
b. Hipertensi Sekunder
Pada 5-10 persen kasus sisanya, penyebab spesifiknya sudah
diketahui, yaitu gangguan hormonal, penyakit jantung, diabetes, ginjal,
penyakit pembuluh darah, atau berhubungan dengan kehamilan. Kasus
yang jarang terjadi adalah karena tumor kelenjar adrenal. Garam dapur
akan memperburuk kondisi hipertensi, tetapi bukan faktor penyebab
(Vitahealth 2005, p.27).
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang telah diketahui
penyebabnya. Timbulnya penyakit hipertensi sekunder sebagai akibat dari
suatu penyakit, kondisi, dan kebiasaan seseorang. Contoh kelainan yang
menyebabkan hipertensi sekunder adalah sebagai hasil dari salah satu atau
kombinasi hal-hal berikut.
1) Akibat stres yang parah.
2) Penyakit atau gangguan ginjal.
3) Kehamilan atau pemakaian pil pencegah kehamilan.
4) Pemakaian obat terlarang seperti, heroin, kokain, atau jenis narkoba
lainnya.
5) Cedera di kepala atau perdarahan di otak yang berat.
6) Tumor di otak atau sering reaksi dari pembedahan (Bangun,
2002:4)
6. Klasifikasi Hipertensi

11
a. Klasifikasi menurut The National Committe on the Detection and
Treatment of Hypertension
Klasifikasi Hipertensi menurut The National Committe on the
Detection and Treatment of Hypertension jilid keempat (1998) adalah
tekanan darah untuk orang dewasa berumur 18 tahun atau lebih. Tekanan
darah yang dimaksudkan adalah rata-rata dari dua atau lebih pengukuran
dan dilakukan dua kali atau lebih pada waktu yang berbeda. Tekanan darah
yang dinyatakan dalam satuan milimeter air raksa (mmHg) (Bangun 2002,
p.4)
Pada umumnya orang yang berusia di atas 55 tahun akan menderita
isolated systolic hypertension (hipertensi sistolik terisolasi). Namun, jika
hal ini terjadi pada orang yang lebih muda, dapat diramalkan bahwa di
kemudian hari orang itu akan menderita hipertensi Sistolik. Hipertensi
yang hebat atau tak terkontrol bisa menyebabkan sakit kepala (berdenyut
pada bagian belakang ketika bangun), mengantuk, bingung, gangguan
penglihatan, mual dan muntah (Bangun 2002, p.6).

b. Klasifikasi menurut WHO


Menurut WHO (World Health Organization), organisasi kesehatan
dunia di bawah PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), klasifikasi tekanan
darah tinggi sebagai berikut:
1) Tekanan darah normal, yakni jika sistolik kurang atau sama dengan
140 mmHg dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg.
2) Tekanan darah perbatasan, yakni sistolik 141-149 dan 91-94 mmHg.

12
3) Tekanan darah tinggi atau hipertensi, yakni jika sistolik lebih besar
atau sama dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama
dengan 95 mmHg.
Penyakit hipertensi umumnya berkembang saat umur seseorang
telah mencapai paruh baya (usia 40 hingga 60 tahunan). Penyakit ini lebih
banyak menyerang pria dan wanita pascamonopouse. Kebiasaan merokok,
diabetes melitus, kegemukan, pendidikan, dan status sosial ekonomi yang
rendah, dapat mempertinggi resiko penyakit hipertensi (Bangun 2002, p.6)
Tabel 2.2
Klasifikasi Hipertensi
Systolic Blood
Pressure mmHg
Normal
< 120
Prehypertension
120-139
Stage 1 Hypertension
140-159
Stage 2 Hypertension
> 160
(Prof. Dr. Dr. S. M. Lumbantobing, 2008:13)
Klasification

Diastolic Blood
Pressure mmHg
<80
80-90
90-99
>100

7. Gejala Hipertensi
Gejala-Gejala hipertensi bervariasi pada masing-masing individu
dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Gejala-gejalanya itu
adalah:
a. Sakit kepala
b. Jantung berdebar-debar
c. Sulit bernafas setelah bekerja keras atau mengangkat beban berat.
d. Mudah lelah.
e. Penglihatan kabur
f.

Wajah memerah

g. Hidung berdarah

13
h. Sering buang air kecil terutama di malam hari
i.

Telinga berdenging (tinnitus)

j.

Dunia terasa berputar (Vertigo) (Vitahealth 2005, p.12)

8. Faktor Resiko Hipertensi


Semakin Banyak faktor-faktor di bawah ini yang dimiliki, maka
semakin besar peluang untuk menderita hipertensi:
a. Pria
b. Berusia lanjut (45 tahun ke atas)
c. Dari keluarga hipertensi
d. Menderita diabetes mellitus.
e. Memiliki kadar kolesterol darah tinggi
f. Obesitas (kegemukan)
g. Menyukai makanan dengan kadar garam tinggi (asin)
h. Gaya hidup
i. Merokok
j. Penderita gangguan jantung (kerusakan organ, payah jantung atau
Pembesaran jantung).
k. Diastoliknya lebih dari 115 mmHg (Vitahealth 2005, p.12).
9. Komplikasi Hipertensi
Komplikasi hipertensi (komplikasinya mungkin sekali sehubungan
dengan tingginya tekanan darah) sebagai berikut:
a. Hipertensi malignan yang dipercepat
b. Ensefalopati
c. Perdarahan serebral (otak)

14
d. Hipertropi bilik kirim jantung
e. Gagal jantung kongestif
f. Insufisiensi ginjal
g. Diseksi aorta
h. Infark miokard
i. Penyakit jantung koroner
(Lumbantobing, 2008:23)
10. Cara Mengukur Tekanan Darah
Cara mengukur tekanan darah sebagai berikut:
a. Dengan posisi lengan setinggi posisi jantung, kantung pembalut lengan
dililitkan di lengan bagian atas.
b. Sambil menempatkan stetoskop pada pembuluh arteri di bawah
pembalut lengan, bola karet di tekan berkali-kali, sehingga udara yang
ada di rongga pembalut lengan menekan dan mendorong air raksa pada
manometer ke atas, karena mengembang, pembalut lengan menekan
arteri di bawahnya.
c. Klep pengatur udara dibuka perlahan-lahan, sehingga tekanan udara di
rongga pembalut lengan akan berkurang. Demikian pula dengan
tekanan air raksa akan berkurang.
d. Pada saat tekanan pembalut lengan sama dengan tekanan pada
pembuluh darah, darah akan segera mengalir. Pada saat itu akan
terdengar bunyi duk pertama kali melalui stetoskop dan saat itu juga
diperiksa penunjuk tekanan skala air raksa pada manometer. Jika
menunjukkan 160, berarti tekanan sistoliknya 160 mmHg.

15
e. Selanjutnya, kantung atau pembalut lengan dibiarkan mengempis
perlahan-lahan, sehingga tekanan udara pada pembalut lengan atas
akan terus berkurang dan di stetoskop akan terdengar bunyi duk
secara terus menerus, hingga tidak terdengar lagi, pada saat tidak
terdengar bunyi penunjuk tekanan skala air harus segera di periksa.
Misalnya angka menunjukkan 90 berarti tekanan darah diastolik adalah
90 mmHg.
f. Dengan demikian pengukuran tersebut nilainya 160/90 mmHg.
(Bangun, 2003:12)
11. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum melakukan
terapi bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan faktor lain atau
mencari penyebab hipertensi, biasanya diperiksa unaralis darah perifer
lengkap kemih darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolestrol
total, kolestrol HDI, dan EKG). Sebagai tambahan dapat dilakukan
pemeriksaan lain seperti klirens kreatinin protein urine 24 jam, asam urat,
kolestrol LDL, TSH dan ekokardiografi (Mansjoer 2000, p. 49).
a. Pemeriksaan Laboratorium
1)

Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume


cairan(viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti :
hipokoagulabilitas, anemia.

2)

BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi


ginjal.

16
Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi)

3)

dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.


Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal

4)

danada DM.
b. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
c. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian
gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
d. IUP

mengidentifikasikan

penyebab

hipertensi

seperti

Batu

pada

area

ginjal,perbaikan ginjal.
e. Photo

dada

Menunjukan

destruksi

kalsifikasi

katup,pembesaran jantung.
12. Pengobatan
Jenis-jenis pengobatan
a. Arti hipertensi non Farmokologis
Tindakan pengobatan supparat, sesuai anjuran dari natural cammitoe
dictation evalution treatmori of high blood preasure
1) Tumpukan berat badan obesitas
2) Konsumsi garam dapur
3) Kurangi alcohol
4) Menghentikan merokok
5) Olaraga teratur
6) Diet rendah lemak penuh
7) Pemberian kalium dalam bentuk makanan sayur dan buah
b. Obat anti hipertensi

17
1) Dioverika, pelancar kencing yang diterapkan kurangin volume input
2) Penyakit beta (B.Blocker)
3) Antoganis kalsium
4) Lanbi ACE (Anti Canvertity Enzyine)
5) Obat anti hipertensi santral (simpatokolim)
6) Obat penyekar ben
7) Vasodilatov (Mansjoer 2001, p. 522)

B. Asuhan Keperawatan Klien Hipertensi


Asuhan keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan
dalam praktek keperawatan. Hal ini biasanya disebut sebagai suatu
pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu teknik dan keterampilan
interversional dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien (Iyert el, al,
1996)

1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah pertama dari proses keperawatan melalui
kegiatan pengumpulan data atau perolehan data yang akurat dapat pasien
guna mengetahui berbagai permasalahan yang ada (Aziz 2009, p.85)
Adapun pengkajian pada pasien hipertensi menurut Doengoes, et al
(2001) adalah:
a. Aktivitas istirahat
Gejala

: Kelelahan umum, kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup

18
Tanda : - Frekuensi jantung meningkat
-

Perubahan trauma jantung (takipnea)

b. Sirkulasi
Gejala

: Riwayat hipertensi ateros klerosis, penyakit jantung koroner /


katup dan penyakit screbiovakuolar, episode palpitasi, perpirasi.

Tanda :
-

Kenaikan TD (pengukuran serial dan kenaikan TD diperlukan


untuk menaikkan diagnosis

- Hipotensi postural (mungkin berhubungan dengan regimen otak)


- Nada denyutan jelas dari karotis, juguralis, radialis
- Denyut apical : Pm, kemungkinan bergeser dan sangat kuat
- Frekuensi / irama : Tarikardia berbagai distrimia
- Bunyi,

jantung

terdengar

S2 pada

dasar

S3 (CHF dini)

S4 (pengerasan vertikel kiri / hipertrofi vertical kiri).

c. Integritas ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi eufuria atau
jarah kronis (dapat mengidentifikasi kerusakan serebral ) faktorfaktor inulhfel, hubungan keuangan yang berkaitan dengan
pekerjaan.
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontiniu perhatian,
tangisan yang meledak, gerak tangan empeti otot muka tegang

19
(khususnya sekitar mata) gerakkan fisik cepat, pernafasan
mengelam peningkatan pola bicara.
d. Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal sakit ini atau yang lalu
e. Makanan/Cairan
Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi
garam, tinggi lemak, tinggi kolestrol, mual, muntah, perubahan berat
badan (meningkatkan/menurun) riwayat pengguna diuretik.
Tanda :
-

Berat badan normal atau obesitas

Adanya edema (mungkin umum atau tertentu)

Kongestiva

Glikosuria (hampir 10% hipertensi adalah diabetik).

f. Neurosensori
Gejala

Keluhan pening/pusing

Berdenyut, sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun dan


menghilang secara spontan setelah beberapa jam)

Episode kebas dan kelemahan pada satu sisi tubuh

Gangguan penglihatan

Episode epistaksis

Tanda : - Status mental perubahan keterjagaan orientasi, pola isi bicara,


efek, proses fikir atau memori.
g. Nyeri/Ketidak nyamanan

20
Gejala
-

Angma (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung)

- Nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudikasi


- Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya
- Nyeri abdomen / massa
h. Pernapasan
Gejala

Dispenea yang berkaitan dengan aktivitas kerja

Riwayat merokok, batuk dengan / tanpa seputum

Tanda : -

Distres respirasi

Bunyi nafas tambahan

-Sianosis
i. Keamanan
Gejala

: -

Tanda : -

Gangguan koordinas / cara berjalan


Hipotesia pastural
Frekuensi jantung meningkat
Perubahan trauma jantung (takipnea)

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis mengenai
seseorang, keluarga atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan
atau proses kehidupan yang aktual atau potensial (Aziz 2009, p. 92). Nanda
menyatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang
respon individu. Keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual
atau potensial. Sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai

21
tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat. Semua
diagnosa keperawatan harus didukung oleh data. Dimana menurut Nanda
diartikan sebagai defensial arakteristik definisi karakteristik tersebut
dinamakan tanda dan gejala suatu yang dapat diobservasi dan gejala sesuai
yang dirasakan oleh klien.
Menurut Doengoes, et al (2001), diagnosa keperawatan yang mungkin
ditemukan pada pasien dengan hipertensi adalah :
a. Curah jantung, penurunan, resiko tinggi terhadap b/d peningkatan
afterload, vasokontriksi, iskemia miokardia, hipertrofi d/d tidak dapat
diterapkan adanya tanda-tanda dan gejala yang menetapkan diagnosis
aktual
b. Nyeri (akut), sakit kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler selebral d/d
melaporkan tentang nyeri berdenyut yang terletak pada regiu suboksipital.
Terjadi pada saat bangun dan hilang secara spontan setelah beberapa
waktu
c. Intoleran aktivitas b/d kelemahan umum d/d laporan verbal tentang
kelebihan atau kelemahan
d. Nutrisi, perubahan lebih dari kebutuhan tubuh b/d masukan berlebihan
dengan kebutuhan merabolik d/d berat badan 10%-20% lebih dari ideal
untuk tinggi dan bentuk tubuh
e. Koping, individual, infektif b/d krisis situasional/maturasional, perubahan
hidup beragam d/d menyatakan ketidak mampuan untuk mengatasi atau
meminta bantuan

22
f. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi rencana
pengobatan b/d kurang pengetahuan / daya ingat d/d menyatakan masalah,
meminta informasi.

3. Perencanaan
Perencanaan

adalah

proses

penyusunan

berbagai

intervensi

keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah, menghilangkan atau


mengurangi masalah pasien (Aziz 2009, p. 106)
Perencanaan keperawatan pada pasien dengan hipertensi menurut
Dongoes et al (2000) adalah :
Diagnosa keperawatan I
Curah jantung, penurunan, resiko tinggi terhadap b/d peningkatan
afterload, vasokontruksi, iskemia miorkadia, hipertrofi b/d tidak dapat diterapkan
adanya tanda-tanda dan gejala yang menetapkan diagnosis actual.
Intervensi :

Pantau TD

Catat keberadaan

Aukultasi tonus jantung dan bunyi nafas

Berikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurang aktivitas/keributan


lingkungan

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi

Rasionalisasi

23

Perbandingan dari tekanan memberi gambaran yang lebih lengkap tentang


keterlibatan/bidang masalah kaskuler

Mencerminkan efek dari kosakontraksi (peningkatan SVR 0 dan kongesti


vena)

Dapat mengidentifikasi kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau


gagal jantung kronik

Adanya pucat, dingin, kulit, lembab dan masa pengisian kapiler lambat
mungkin

keterkaitan

dengan

kosokentreksi

atau

mencerminkan

kekomposisi/penurunan curah jantung

Dapat mengidentifikasi gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler

Membantu untuk menurunkan rangsang simpatis meningkatkan relaksasi

Menurunkan stress dan ketegangan yang mempengaruhi TP dan


perjalanan penyakit hipertensi

Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress, membuat efek


tenang sehingga tak menurunkan TD

Karena efek samping obat tersebut maka penting untuk menggunakan


obat dalam jumlah penting sedikit dan dosis paling rendah.

Diagnosa Keperawatan II
Nyeri (akut), sakit kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler selebral d/d
melaporkan tentang nyeri berdenyut yang terletak pada regium suboksipital.
Terjadi pada saat bangun dan hilang secara spontan setelah beberapa waktu.
Intervensi :

Kaji respon pasien terhadap aktivitas

24

Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas

Instruksikan pasien terhadap teknik penghematan energi

Rasionalisasi :

Tekhnik menghemat energy, mengurangi penggunaan energy, membantu


keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

Kemajuan aktifitas berharap mencegah peningkatan kerja jantung tibatiba

Diagnosa keperawatan III


Intoleran aktivitas b/d kelemahan umum b/d laporan verbal tentang
kelebihan atau kelemahan.
Intervensi :

Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan


lemak, garam dan gula sesuai indikasi

Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan

Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet

Rasionalisasi :

Meminimalkan stimulus / meningkatkan relaksasi

Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang


memperlambat / memblok respon simpatis efektif dalam menghilangkan
sakit kepala dan komlikasinya

Aktifitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala


adanya peningkatan tekanan vaskuler serebral

25

Pusing dan penglihatan kabur sehingga b/d sakit kepala

Menurunkan / mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang system saraf


simfatis

Dapat mengurangi tegangan dan ketidak nyamanan yang diperberat.

Diagnosa IV
Nutrisi perubahan lebih dari kebutuhan tubuh b/d masukan berlebihan
dengan kebutuhan merabolik d/d berat badan 10%-20% lebih dari ideal untuk
tinggi dan bentuk tubuh.
Intervensi :

Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi prilaku

Saraf laporan gangguan tidur

Bantu pasien untuk mengidentifikasi sresor spesifik dan kemungkinan


startegi untuk mengatasinya

Dorong pasien untuk mengevaluasi prioitas tubuh.

Rasionalisasi :

Kegemukan adalah resiko tambahan pada tekanan darah tinggi karena


disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan
dengan peningkatan masa tubuh

Kesalahan kebiasaan makanan menunjang terjadinya ateroskelrosis dan


kegemukan yang merupakan preposisi untuk hipertensi dan komlikasinya

26

Motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal, individu harus


berkeinginan untuk menurunkan berat badan, bila tidak maka program
sama sekali tidak berhasil

Mengindikasikan kekuatan/kelemahan dalam menentukan kebutuhan


individu untuk penyesuaian / penyuluhan

Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 50 kalori per hari secara


teori dapat menurunkan BB 0,5 kg/hari

Membantu untuk memfokuskan perhatian pada faktor mana pasien


telah/dapat mengontrol perubahan

Penting untuk mencegah perkembangan heterogenesis

Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet


individual.

Diagnosa V
Koping, individual, infektif b/d krisis situasional / maturasional,
perubahan hidup beragam d/d menyatakan ketidak mampuan untuk mengatasi
atau meminta bantuan.

Intervensi :

Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar

Tetapkan dan nyatakan batas Hd normal

Bantu pasien untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskular

Bahan pentingnya menghentikan merokok

27
Rasionalisasi :

Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang


mengatasi hipertensi klanik menginterasikan tetapi yang diharuskan ke
dalam kehidupan sehari-hari

Manifestasi mekanisme koping maladaftif mungkin merupakan indicator


yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama TD distolik

Fokus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada relative terhadap
pandangan pasien tentang apa yang diinginkan

Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistik untuk


menghindari rasa yang tidak menentu dan tidak berdaya.

Diagnosa keperawatan IV
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi rencana
pengobatan b/d pengetahuan / daya ingat d/d menyatakan masalah, menerima
informasi
Intervensi :

Bela penguatan pentingnya kerjasama dalam regimen pengobatan dan


mempertahankan perjanjian tindak lanjut

Jelaskan tentang obat yang diresep bersamaan dengan rasional

Sarankan untuk sering mengubah posisi, olaraga kaki saat baring

Rasionalisasi :

Bila pasien tidak menerima realities bahwa membutuhkan pengobatan


kontinyu, maka perubahan perilaku tidak akan dipertahanakan

28

Pemahaman bahwa TD tinggi dapat terjadi tanpa gejala adalah ini untuk
memungkinkan pasien melanjutkan pengobatan meskipun ketidak merasa
sehat

Faktor-faktor ini telah menunjukkan hubungan dalam menunjang


hipertensi dan penyakit kardiovaskular

Nikotin

meningkatakan

pelepasan

katekolomamin,

mengakibatkan

peningkatan frekwensi jantung, TD fasokontriksi, mengurangi oksigenasi


jaringan dan meningkatkan beban kerja miokardium (Doengoes et al, 2001
: 41-49)

4. Implementasi
Implementasi adalah proses keperawatan dengan melaksanakan
berbagai

strategis

keperawatan

(tindakan

keperawatan)

yaitu

telah

direncanakan (Aziz 2001, p.11)


Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan
pencegahan penyakit. Pemulihan kesehatan dan mempasilitas koping
perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik. Jika
klien mempunyai keinginan untuk berpatisipasi dalam pelaksanaan tindakan
keperawatan

selama

tahap

pelaksanaan

perawat

terus

melakukan

pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai


dengan kebutuhan klien tindakan.
Adapun implementasi pada pasien hipertensi adalah :
Diagnosa keperawatan I :

29

Memantau TD

Mencatat keberadaan

Aukultasi tonus jantung dan bunyi nafas

Memberikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurang aktivitas /


keributan lingkungan

Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi

Diagnosa keperawatan II :

Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas

Memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas

Mengintruksikan pasien terhadap teknik penghematan energy

Diagnosa keperawatan III :

Membicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi


masukan lemak, garam dan gula sesuai indikasi

Menetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan

Mengkaji ulang masukkan kalori harian dan pilihan diet

Diagnosa keperawatan IV

Mengkaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi prilaku

Mencatat laporan gangguan tidur

Membantu

pasien

untuk

mengidentifikasi

stesor

kemungkinan strategi untuk mengatasinya

Mendorong pasien untuk mengevaluasi prioritas tubuh

Diagnosa keperawatan V

spesifik

dan

30

Mengkaji kesiapan dan hambatan dalam belajar

Menetapkan dan nyatakan batas Hd normal

Membantu

pasien

untuk

mengidentifikasi

faktor-faktor

resiko

kardiovaskuler

Membahas pentingnya menghentikan merokok

Diagnosa keperawatan VI :

Memberi penguatan pentingnya kerjasama dalam regimen pengobatan dan


mempertahankan perjanjian tindak lanjut

Menjelaskan tentang obat yang diresep bersamaan dengan rasional

Menyarankan untuk sering mengubah posisi, olaraga kaki saat baring

5. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap terakhir proses keperawatan dengan cara menilai
sejauh mana tujuan diri rencana keperawatan tercapai atau tidak (Aziz 2009, p 12)
Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan.
Hal ini dapat dilaksanakan dengan mengadakan hubungan dengan klien
berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan sehingga
perawat dapat mengambil keputusan:
a. Mengakhiri tindakan keperawatan (klien telah mencapai tujuan yang
ditetapkan)
b. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien memerlukan waktu
yang lebih lama untuk mencapai tujuan) (lyer, at al, 1996)
Adapun evaluasi keperawatan pada pasien dengan hipertensi adalah :
Diagnosa I

31

Berpatisipasi dalam aktivitas yang menurunkan Td beban kerja jantung

Mempertahankan Td dalam rentang individu yang dapat diterima

Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal


pasien

Diagnosa II

Berpatisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan

Melaporkan tindakan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur

Menunjukkan penurunan dalam tanda intoleransi fisiologi

Diagnosa III

Melaporkan nyeri / ketidak nyamanan hilang / terkontrol

Mengungkan metode yang memberikan pengurangan

Mengikuti reqman farmokologi yang diresepkan

Diagnosa IV

Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dan kegemukan

Menunjukkan perubahan pola makan

Melakukan / mempertahankan program olaraga yang tepat seacar


individual

Diagnosa V

Mengidentifikasi prilaku koping efektif konsekuensinya

Mendemontrasikan penggunaan keterampilan / metode koping efektif

32
Diagnosa VI

Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen

Mempertahankan TD dalam perimeter normal