Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya penyusun masih
diberi kesehatan sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah yang berjudul model praktek keperawatan profesional (MPKP) ini disusun
untuk memenuhi tugas mahasiswa dari mata kuliah manajement keperawatan.
Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua temanteman kelompok yang sudah berpartisipasi dalam penyelesaian makalah ini
penyususn menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu,
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan
makalah ini dimasa mendatang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa khususnya dan
masyarakat pada umumnya. Dan semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk
menambah pengetahuan para mahasiswa, masyarakat dan pembaca.
Makassar,19 Desember 2014
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Keperawatan bukan profesi yang statis dan tidak berubah tetapi profesi yang secara
terus-menerus berkembang dan terlibat dalam masyarakat yang berubah, sehingga
pemenuhan dan metode perawatan berubah, karena gaya hidup berubah. Berbicara tentang
keperawatan ada hal penting yang harus dibahas yaitu Model Praktik Keperawatan
Profesioanal yang dapat diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan dan dalam hal ini,
makalah ini akan membicarakan tentang Model Praktik Keperawatan Profesional.

Perawat memberi asuhan keperawatan kepada klien termasuk individu, keluarga dan
masyarakat. Perawat menerima tanggung jawab untuk membuat keadaan lingkungan fisik,
sosial dan spiritual yang memungkinkan untuk penyembuhan dan menekankan pencegahan
penyakit, serta meningkatkan kesehatan dengan penyuluhan kesehatan. Karena beberapa
fenomena diatas wajib diketahui oleh seorang perawat yang profesional, sehingga profesi
keperawatan mampu memilih dan menerapkan Model Praktik Keperawatan Profesioanl yang
paling tepat bagi klien. Sehingga diharapkan nilai profesional dapat diaplikasikan secara
nyata, sehingga meningkatkan mutu asuhan dan pelayanan keperawatan.
Model praktik keperawatan profesional (MPKP) yaitu suatu sistem (struktur, proses
dan nilai-nilai profesional), yang memfasilitasi perawat profesional, mengatur pemberian
asuhan keperawatan, termasuk lingkungan tempat asuhan tersebut diberikan (Ratna Sitorus &
Yuli, 2006).
Model praktik keperawatan profesional (MPKP) adalah suatu sistem (struktur, proses
dan nilai-nilai profesional), yang memfasilitasi perawat profesional, mengatur pemberian
asuhan keperawatan, termasuk lingkungan tempat asuhan tersebut diberikan. Aspek struktur
ditetapkan jumlah tenaga keperawatan berdasarkan jumlah klien sesuai dengan derajat
ketergantungan klien. Penetapan jumlah perawat sesuai kebutuhan klien menjadi hal penting,
karena bila jumlah perawat tidak sesuai dengan jumlah tenaga yang dibutuhkan, tidak ada
waktu bagi perawat untuk melakukan tindakan keperawatan.
Selain jumlah, perlu ditetapkan pula jenis tenaga yaitu PP dan PA, sehingga peran dan
fungsi masing-masing tenaga sesuai dengan kemampuan dan terdapat tanggung jawab yang
jelas. Pada aspek strukltur ditetapkan juga standar renpra, artinya pada setiap ruang rawat
sudah tersedia standar renpra berdasarkan diagnosa medik dan atau berdasarkan sistem tubuh.
Pada aspek proses ditetapkan penggunaan metode modifikasi keperawatan primer
(kombinasi metode tim dan keperawatan primer).

Peningkatan profesionalisme keperawatan di Indonesia dimulai sejak diterima dan


diakuinya keperawatan sebagai profesi pada Lokakarya Nasional Keperawatan (1983). Sejak
saat itu berbagai upaya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional, Departemen
Kesehatan dan organisasi profesi, diantaranya adalah dengan membuka pendidikan pada
tingkat sarjana, mengembangkan Kurikulum Diploma III keperawatan, mengadakan pelatihan
bagi tenaga keperawatan, serta mengembangkan standar praktik keperawatan. Upaya penting
lainnya adalah dibentuknya Direktorat Keperawatan di Departemen Kesehatan di Indonesia.
Semua upaya tersebut bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme keperawatan agar mutu
asuhan keperawatan dapat ditingkatkan. (Sitorus, 2006).
Walaupun sudah banyak hal positif yang telah dicapai di bidang pendidikan
keperawatan, tetapi gambaran pengelolaan layanan keperawatan belum memuaskan. Layanan
keperawatan masih sering mendapat keluhan masyarakat, terutama tentang sikap dan
kemampuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien atau keluarga.
(Sitorus, 2006).
Layanan keperawatan yang ada di Rumah Sakit masih bersifat okupasi. Artinya,
tindakan keperawatan yang dilakukan hanya pada pelaksanaan prosedur, pelaksanaan tugas
berdasarkan instruksi dokter. Pelaksanaan tugas tidak didasarkan pada tanggung jawab moral
serta tidak adanya analisis dan sintesis yang mandiri tentang asuhan keperawatan. Untuk
mengatasi masalah tersebut diperlukan restrakturing, reengineering, dan redesigning system
pemberian asuhan keperawatan melalui pengembangan Model Praktek Keperawatan
Profesional (MPKP) yang diperbaharui dengan SP2KP. (Sitorus, 2006).
Keperawatan adalah salah satu bentuk pelayanan profesional yang dilakukan oleh seorang
perawat untuk menyelesaikan masalah kesehatan klien dengan melaksanakan asuhan
keperawatan. Menurut University of South Alabama Medical Center dalam Swansburg and
Swansburg (1999), menyebutkan bahwa asuhan keperawatan adalah tindakan yang diterima

oleh klien yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien/keluarga untuk meningkatkan
derajat kesehatannya.Asuhan keperawatan yang professional haruslah diorganisir dengan
pendekatan professional pula. Pengelolaan asuhan keperawatan yang selanjutnya disebut
sebagai metode penugasan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Metode
penugasan yang memungkikan dilaksanakan asuhan keperawatan secara professional adalah:
Metode tim dan metode primary nurse seperti yang dilkaksanakan pada MPKP (model
praktek keperawatan professional) di ruang rawat RSCM.
1.2 Rumusan masalah
1. Apa Peran struktur MPKP
a) Kepala ruangan
b) Perawat primer (PP)
c)

Perawat asosiet (PA)

d) CCM
2. Apa Tingkatan dan spesifikasi MPKP
a) MPKP I
b) MPKP II
c) MPKP III

3. Apa Penjelasan,Kelebihan dan kekurangan Metode penugasan dalam MPKP


a)
b)
c)
d)

metode tim
metode fingsional
Metode primer
Metode kasus

BAB II
PEMBAHASAN
1. Peran struktur MPKP
a. Kepala ruangan :
a) Merencanakan pekeriaan, menentukan kebutuhan perawatan pasein, membuat penugasan,
b)

melakulan supervisi, menerima instruksi dokter.


Kepala ruangan membagi perawat yang ada menjadi 2 tim dan tiap tim diketuai masing-

masing oleh seorang ketua Tim yang terpilih melalui suatu uji.
c) Kepala ruangan bekerja sama dengan ketua Tim mengatur jadual dinas (pagi, sore, malam)
d) Kepala Ruangan membagi pasien untuk masing-masing Tim.
e) Apabila suatu ketika satu Tim kekurangan Perawat Pelaksana karena kondisi tertentu. Kepala
Ruangan dapat memindahkan Perawat Pelaksana dari Tim ke Tim yang mengalami
kekurangan anggota.
f) Kepala ruangan menunjuk penanggung jawab shift sore, malam, dan shift pagi apabila
karena sesuatu hal kepala ruangan sedang tidak bertugas. Oleh sebab, itu yang dipilih adalah
g)
h)
i)
j)
k)
l)

perawat yang paling kompeten dari perawat yang ada.


Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawatan primer
Orientasi dan merencanakan karyawan baru
Menyusun jadwal dinas
Memberi penugasan pada perawat asisten/asosiat (PA)
Evaluasi kerja
Merencanakan /menyelenggarakan pengembangan staf

a. Perawat primer (PP):


Dalam menjalankan pekerjaannya perlu adanya sebuah peranan yang bisa untuk
memaksimalkan keberhasilan yang bisa disebutkan antara lain :
a) Menjelaskan keadaan dan demografi klien
b) Menjelaskan masalah keperawatan utama
c) Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan
d) Menjelaskan tindakan selanjtunya
e) Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil
f) Menerima pasien Mengkaji kebutuhan pasien untuk asuhan keperawatan
g) Membuat tujuan rencana keperawatan
h) Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama dinas bersama PA yang menjadi anggota
timnya.
i) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya.
j) Mengkoordinasi pelayanan yang diberikan oleh disiplin lain maupun perawat lain
k) Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai
l) Menerima dan menyesuaikan rencana
m) Menyiapkan penyuluhan untuk pulang
n) Melakukan pendokumentasian (catatan perkembangan, catatan tindakan keperawatan
b. Perawat asosiet (PA):
a) Mengikuti konferens untuk menerima penjelasan tentang asuhan yang direncanakan oleh PP
b) Melaksanakan asuhan keperawatan yang telah dibuat oleh PP
c) Memberi informasi/masukan yang diperlukan kepada PP tentang klien
d) untuk keperluan asuahan keperawatan selanjutnya.
e) Mencatat tindakan keperawatan yang telah dilakukan dalam catatan
f) tindakan keperawatan.
c. CCM:
a)
mengarahkan dan membimbing PP dalam memberikan asuhan keperawatan. CCM
diharapkan akan menjadi peran ners spesialis pada masa yang akan datang.
2. Tingkatan dan spesifikasi MPKP
a)

MPKP I: MPKP dengan tenaga perawat pelaksana minimal D3 keperawatan tetapi Kepala

Ruangan (Karu) dan Ketua Tim (Katim) mempunyai pendidikan minimal S1 Keperawatan.
b) MPKP II: MPKP Intermediate dengan tenaga minimal D3 Keperawatan dan mayoritas
c)

Sarjana Ners keperawatan, sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa.


MPKP III: MPKP Advance yang semua tenaga minimal Sarjana Ners keperawatan, sudah
memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa dan doktor keperawatan yang bekerja di area
keperawatan jiwa..

3. Penjelasan,Kelebihan dan kekurangan Metode penugasan dalam MPKP


a. metode tim

a)

metode tim: Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat.


Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman serta memiliki
pengetahuan

dalam

bidangnya.

Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok, selain itu
pemimpin kelompok bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota tim.sebelum tugas dan
menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam
menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan. Selanjutnya pemimpin tim yang
melaporkan kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan atau asuhan keperawatan
klien.
Metode ini menggunkan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan

1)
2)
3)
4)

askep terhadap sekelompok pasien.


b) Kelebihan metode tim:
Saling member pengalaman antara sesame tim
Pasien dilayani secara komfrehensif
Terciptanya kaderisasi kepimpinan
Tercipta kerja sama yang baik
5) Member kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
6) Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda dengan aman dan efektif
c) Kekurangan metode tim:
1)
Tim yang satu tidak mengetahui pasien yang bukan menjadi tanggung jawabnya
2)
Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan atau terburuburu sehingga dapat mengakibatkan komunikasi dan koordinasi antar anggota tim terganggu
3)

4)

sehingga kelancaran tugas terhambat


Perawat yang belum terampul dan belum berpengalaman selalu tergantung atau berlindung

kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim


Akontabilitas dalam tim kabur
b. metode fingsional :
a) metode fungsional yaitu pengorganisasian tugas pelayanan keperawatan yang didasarkan
kepada pembagian tugas menutut jenis pekerjaan yang dilakukan. Metode ini dibagi menjadi
bebrapa bagian dan tenaga ditugaskan pasa bagian tersebut secara umum, misalnya kepala
ruangan, perawat staf, perawat pelaksana, pembantu perawat,dan tenaga administrasi
ruangan

b) kerugian metode fungsional:


1) Pasien mendapat banyak perawat.
2) Kebutuhan pasien secara individu sering terabaikan
3) Pelayanan pasien secara individu sering terabaikan.
4) Pelayanan terputus-putus
5) Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai
c) Kelebihan dari metode fungsional :
1) Sederhana
2) Efisien.
c. metode primer
a) metode primer Yaitu pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat dan terus
menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan
mengkoordinasikan askep selama pasien dirawat.
1)
2)
3)
4)

1)
2)
3)
4)

b) Kelebihan dari metode perawat primer:


Mendorong kemandirian perawat
Ada ketertarikan pada pasien dan perawat selama dirawat
Berkomunikasi langsung dengan dokter
Perawatan adalah perawatan komfrehensid
5) Model praktek keperawatan professional dapat dilakukan atau diterapkan
6) Memberikan kepuasan kerja bagi perawat
7) Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan
c) Kelemahan dari metode perawat primer:
Perlu kualitas
Kuantitas tenaga perawat
Hanya dapat dilakukan oleh peraeat professional
Biaya relative lebih tinggi dibandingkan metode lain
d. metode kasus
a) metode kasus Yaitu pengorganisasian pelayanan atau asuhan keperawatan untuk satu atau
beberapa klien oleh satu orang perawat pada saat bertugas atau jaga selama periode waktu
tertentu sampai klien pulang. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas dan
menerima semua laporan tentang pelayanan keperawatan klien. Dalam metode ini staf
perawat ditugaskan oleh kepala ruangan untuk memberi asuhan langsung kepada pasien yang
ditugaskan contohnya di ruang isolasi dan ICU.
b) Kekurangan metode kasus :
a) Kemampuan tenaga perawat pelaksana dan siswa perawat yang terbatas sehingga tidak
mampu memberikan asuhan secara menyeluruh
b) Membutuhkan banyak tenaga
c) Beban kerja tinggi terutama klien banyak sehingga terus rutin yang sederhana terlewatkan

d)
c)

a)
b)
c)
d)

Pendelegasian perawat klien hanya sebagian selama perawat penanggung jawab klien
bertugas
Kelebihan metode kasus:
Kebutuhan pasien terpenuhi
Pasien merasa puas
Masalah pasien dapat dipahami oleh perawat
Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat di capai

BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) adalah suatu sistem (struktur, proses
dan nilai-nilai profesional), yang memfasilitasi perawat profesional, mengatur pemberian
asuhan keperawatan, termasuk lingkungan tempat asuhan tersebut diberikan (Ratna Sitorus &
Yuli, 2006)
SP2KP adalah Sistem Pemberian Pelayanan Keperawtan Professional. SP2KP adalah
system pemberian pelayanan keperawatan professional yang merupakan pengembangan dari
MPKP (Model praktek Keperawatan Profesional) dimana dalam SP2KP ini terjadi kerjasama
professional antara perawat primer (PP) dan perawat asosiet (PA) serta tenaga kesehatan
lainnya.
3.2 saran
Sebagai seorang perawat nantinya, kita diharapkan mampu memahami konsep MPKP
dan SP2KP sehingga nantinya kita dapat menerapkan konsep tersebut ketika kita sudah
bekerja.

DAFTAR PUSTAKA
Kelliat, Budi Anna dan Akemat. 2009. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa.
Jakarta : EGC.
http://justwanttosay-stephanie.blogspot.com/2011/09/mpkpmodel-praktek-keperawatan.html
http://www.scribd.com/doc/49683208/modul-MPKP
Sitorus,Ratna.2006.Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit.Jakarta:EGC
Ali, Zaidin. 2001. Dasar Dasar Keperawatan Profesional. Jakarta : Widya Medika
http://www.nursingbegin.com/konsep-model-asuhan keperawatan-profesional/
http://stikeskabmalang.wordpress.com/2009/10/28/model-praktek-keperawatan-profesionaldi-indonesia/
Swanburg, Russel C.2000. Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan
Perawatan Klinis.Jakarta:EGC.