Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN STATUS PSIKIATRI

SKIZOFRENIA PARANOID

Pembimbing :
dr. Mardi Susanto, Sp.KJ (K)
dr. Tribowo T Ginting, Sp.KJ

Disusun Oleh :
Agung Prakosos 1510221011

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa


Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional
RSUP Persahabatan Jakarta
2016

LAPORAN PSIKIATRI

I. IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Usia
Agama
Alamat
Pendidikan
Pekerjaan

: Tn. H
: Laki-laki
: 43 tahun
: Islam
: Pisangan, Jakarta Timur
: S1 Hukum
: Pengangguran

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 22 September
2016 pukul 11.00 WIB di Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan Jakarta.
A. Keluhan Utama
Pasien merasa terganggu dengan tetangga karena beberapa diantara
mereka mengetahui apa yang pasien ucapkan dalam hati.
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien datang pada tanggal 22 September 2016 pukul 11.00 WIB di
Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan Jakarta. Pasien datang ke rumah sakit
seorang diri dengan menggunakan angkutan umum 02.
Pasien merupakan pasien kontrol dari RSUD Duren Sawit. Pasien datang
untuk konsultasi masalah yang dialaminya saat ini. Saat ini pasien merasa
terganggu dan jengkel dengan beberapa tetangga di sekeliling rumahnya
karena mereka mengetahui apa yang dipikirkan atau yang diucapkan dalam
hati. Saat pasien membaca yasin, tetangga mengetahui bahwa pasien sedang
membaca yasin.
Pasien sering mendengar bahwa tetangga merasa terganggu dengan
bayangan dan suara pasien yang muncul. Kata pasien bayangan dan suara
pasien menurut tetangga bahkan sampai mengganggu anak kecil, padahal saat
itu pasien sedang berada dirumah.
Pasien sudah 10 tahun sering mendengar suara-suara yang tidak ada
sumbernya, pasien juga pernah melihat bayangan-bayangan yang tidak bisa
dilihat orang lain. Selama ini keluhan-keluhan tersebut dapat diabaikan oleh
pasien. Suara-suara yang didengar pasien seperti memerintah dan terdengar

seperti ngapain lu, merokok ya ? berhenti merokok !. Suara-suara tersebut


selama ini yang didengar bermacam-macam, tetapi paling sering adalah suara
anak laki-laki.
Pasien merasa tetangga disekelilingnya membicarakan diri pasien, karena
pasien sering mendengar bisikan tetangganya sedang membicarakannya. Bila
bisikan-bisikan yang didengarnya sudah tidak tertahankan oleh pasien, pasien
keluar dari rumah dan mencari suasana yang lebih tenang dengan pergi ke
mesjid. Bisikan yang didengar juga berkata ngapain lu disini ? kabur aja !
disini gak aman.
Pasien pernah ditegur tetangga di warung dan di pesta hajatan bahwa
bayangan dan suara pasien mengganggu tetangga yang lain. Pasien merasa
jengkel karena pasien merasa tidak melakukan apapun dan hanya berdiam diri
dirumah selama ini. Pasien mengatakan hanya dua orang tersebut yang terus
terang sementara tetangga yang lain mencibir di belakang. Pasien mengetahui
tetangga mencibir karena pasien mendengar suara-suara dirumahnya.
Pasien tidak pernah merasa disentuh atau ditoel-toel tanpa ada yang
menyentuhnya. Pasien tidak pernah merasa mencium bau-bauan tanpa ada
sumbernya, seperti bau menyan atau wangi lainnya. Pasien tidak pernah
merasa mengecap suatau rasa manis, asin atau pahit saat tidak makan sesuatu.
Pasien merasa orang-orang yang ada disekitar mengetahui yang dilakukan
pasien dan dipikirkan pasien sekecil apapun. Pasien tidak merasa seperti
dikontrol oleh orang lain. Pasien tidak pernah merasa ada yang memasuki
pikirannya. Pasien tidak pernah merasa pikirannya kesedot sehingga
pikirannya kosong dan menjadi blank. Pasien merasa tetangga sekelilingnya
mencibir dan mengejek dirinya. Pasien tidak merasa dapat berbicara dengan
penyiar di televisi. Pasien tidak merasa penyiar ditelevisi saat membawa
acaranya menyindir atau mengejek dirinya.
Pasien merasa asing dengan dirinya sendiri, pasien mengatakan mengapa
pasien menjadi seperti ini dan ingin kembali seperti dulu. Pasien tidak mera
ada yang asing dengan lingkungannya. Pasien mengatakan tidak merasakan
rasa sedih yang mendalam sehingga pasien menangis berlebihan, hilang minat
dan mudah lelah. Pasien menyangkal terdapat perasaan gembira yang
berlebihan, pikiran yang banyak, percaya diri yang meningkat dan ingin

belanja berlebihan. Pasien mengatakan tidak pernah menggunakan NAPZA,


rokok maupun alkohol.
Pasien datang berdua dengan ibunya ke Poliklinik Psikiatri RSUP
Persahabatan dengan menggunakan pakaian yang rapih, sopan dan bersih.
Pasien menggunakan kaos tanpa kerah, dan celana panjang. Rambut pasien
pendek dan ikal. Pasien menggunakan kacamata. Pasien tidak menggunakan
aksesoris - aksesoris tambahan yang aneh. Sejak awal dilakukan tanya jawab
sampai akhir dilakukan tanya jawab, pasien dapat menjawab dengan cepat
pertanyaan yang diberikan dokter dan pasien bersikap kooperatif.
Pasien mengatakan kalau pasien datang ke RSUP Persahabatan
menggunakan angkutan umum 02. Hal ini menunjukkan bahwa ingatan
jangan pendek pasien baik dan tidak ada gangguan. Ketika ditanya jenjang
pendidikan, pasien menjawab pendidikan SD di Jakarta Timur hingga SMA.
Hal ini menunjukkan ingatan jangka panjang pasien tidak ada gangguan atau
baik. Pasien diminta mengulang 5 nama kota yang sebelumnya disebut oleh
dokter dan dapat mengulang yaitu Jakarta, Cirebon, Semarang, Jogja, dan
Surabaya dengan cepat dan tepat, hal ini menunjukan ingatan segera pasien
tidak ada masalah.
Semasa sekolah pasien tidak memiliki masalah dengan pergaulannya,
pasien memiliki banyak teman semasa pasien sekolah dan tidak memiliki
masalah dengan mereka. Pendidikan terakhir pasien adalah sarjana hukum,
selama ini dari SD-SMA pasien naik kelas terus tidak pernah tinggal kelas
dan tidak ada maslah dalam menerima pelajaran
Pasien juga dapat menjawab ketika dokter menanyakan soal hitung-hitung
matematika sederhana, seperti 100 dikurang 7 lalu pasien menjawab 93,
dokter menanyakan 93 dikurangi 7 pasien menjawab 86. Hal ini juga
menunjukkan bahwa tingkat intelegensi pasien tidak ada gangguan atau
fungsi kognitif pasien baik.
Pasien memahami pada saat dilakukan tanya jawab adalah pada siang hari
dan pasien sedang berada di Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan bersama
dokter dan para dokter muda. Ketika ditanya apa yang sedang dilakukan
pasien, pasien menjawab sedang melakukan tanya jawab atau konsultasi
tentang apa yang dirasakan dan diderita oleh pasien . Sehingga hal ini

menunjukkan bahwa orientasi waktu, orientasi tempat, orientasi orang, dan


orientasi situasi pasien ini adalah baik atau tidak ada gangguan orientasi.
Pasien dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh dokter mengenai
Presden kita saat ini dan pasien dapat menjawab Jokowi, ketika ditanya
Presiden perempuan Indonesia pasien dapat menjawab Megawati, ketika
ditanya siapa Gubernur Jakarta pada periode sekarang pasien menjawab
Ahok, Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan umum pasien tidak
ada gangguan atau baik.
Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang telah diberikan seperti diatas dan
pasien dapat menjawab dengan benar, sehingga hal ini dapat menunjukkan
bahwa tidak terdapat gangguan fungsi otak pada pasien ini atau tidak terdapat
Gangguan Mental Organik.
Pasien dapat menjawab pertanyaan mengenai peribahasa yang diberikan
dokter. Seperti dokter memberikan pertanyaan apa yang dimaksud dengan
panjang tangan pasien menjawab suka mencuri dan arti dari tong kosong
nyaring bunyinya pasien menjawab orang yang banyak bicara tidak berilmu,
pasien dapat menjawab pertanyaan mengenai peribahasa dengan baik. Hal ini
untuk menilai daya pikir abstrak pada seseorang dan pada pasien ini tidak ada
gangguan pada daya pikir abstrak pasien.
Kemudian pasien diberikan pertanyaan tentang suatu keadaan apabila
pasien bertemu seorang anak yang terpisah dengan ibunya apa yang akan
pasien lakukan. Lalu pasien menjawab yang akan dilakukannya adalah
menolong pasien dengan cara melaporkan dan mengantarkan anak tersebut
kepetugas keamanan setempat.
Pasien tinggal bersama Ibunya di rumah miliknya sendiri. Pasien belum
menikah. Pasien saat tidak bekerja, dulu pasien pernah bekerja di percetakan
tetapi keluar karena gaji tidak sesuai harapan. Pasien sehari-hari hanya
bermain game dirumah. pasien membantu ibunya dirumah hanya 3 jam.
Karena pasien tidak bekerja, pasien mengaku penghasilan untuk kehidupan
sehari-hari pasien berasal dari uang bulanan pensiunan ibu pasien. Pasien
mengaku tidak ada kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pasien
berobat menggunakan BPJS dan tidak ada halangan dalam melakukan
pengobatan selama ini.

Pasien tampak tenang. Selama proses tanya jawab yang dilakukan, pasien
cenderung terbuka dan semangat untuk menjawab pertanyaan. Ketika
ditanyakan apakah tiga keinginan pasien saat ini, pasien menyebutkan bahwa
pasien ingin sembuh, bisikan-bisikan hilang, sehat mental dan jasmani.
C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat gangguan psikiatri, tidak ada
2. Riwayat gangguan medik, tidak ada
3. Riwayat penggunaan zat Psikoaktif/Alkohol maupun rokok, tidak ada
riwayat penggunaan NAPZA sebelumnya.
D. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat prenatal menurut ibu pasien, pasien lahir secara normal.
2. Riwayat masa kanak-kanak, tumbuh kembang pasien sesuai usianya, tidak
terdapat masalah dalam pertumbuhan maupun perkembangan.
3. Riwayat masa kanak-kanak, pasien dapat bersosialisasi dengan baik pasien
mengaku mudah bergaul dan memiliki banyak teman di sekolah, dan dapat
mengikuti pelajaran dengan baik
4. Riwayat pendidikan terakhir pasien adalah sarjana hukum
5. Riwayat pekerjaan pasien pernah bekerja dipercetakan.
6. Riwayat pernikahan, pasien belum menikah
E. Riwayat Keluarga
Menurut ibu pasien, bude pasien mengalami keluhan serupa dengan
pasien.
F. Status Sosial Sekarang
Pasien seorang laki-laki 43 tahun. Pasien belum menikah. Pasien
merupakan pengangguran, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien
mendapatkan uang pensiun dari ibu pasien. Saat ini pasien tinggal di rumah
sendiri bersama ibu pasien. Biaya pengobatan dibayar oleh BPJS.
G. Persepsi (Anggapan) Pasien Terhadap Dirinya
Saat ditanya harapan yang dinginkan pasien, pasien menjawab harapan
yang diinginkan pasien adalah pasien ingin sembuh, bisikan-bisikan hilang,
sehat jasmani dan mental.
III. STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan

Seorang laki-laki berusia 43 tahun, penampilan sesuai dengan usianya,


warna kulit sawo matang, berpakaian rapih, bersih dan sopan serta tidak
menggunakan aksesoris yang aneh.
a. Kesadaran Umum : compos mentis
b. Kontak Psikis : dapat dilakukan dengan baik oleh pasien, dapat
berkomunikasi dengan baik.
2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
a. Cara berpakaian : rapih, bersih dan sopan.
b. Aktivitas Psikomotor : pasien kooperatif, tenang, kontak mata baik,
serta dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan baik, serta
tidak ada gerakan involunter,
3. Pembicaraan
a. Kuantitas : pasien dapat menjawab semua pertanyaan yang
diberikan oleh dokter dan dapat mengungkapkan isi hati pasien.
b. Kualitas : baik, bicara spontan, artikulasi jelas, volume pas, dan isi
pembicaraan dapat dimengerti
4. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien dapat bersikap kooperatif saat dilakukan tanya jawab.
B. Keadaan Afektif
Mood
Afek
Keserasian
Empati

: Biasa
: Serasi
: Mood dan afek serasi
:Pemeriksa tidak dapat meraba-rasakan apa yang dirasakan
pasien saat ini.

C. Fungsi Intelektual/Kognitif
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
Pasien dapat menyelesaikan pendidikan hingga sarjana. Pengetahuan
umum dan kecerdasan baik, pasien dapat menjawab tepat ketika diberi
pertanyaan presiden Indonesia dan arti dari panjang tangan.
2. Daya konsentrasi
Daya konsentrasi pasien baik. Pasien dapat mengikuti proses tanya jawab
dari awal hingga selesai. Pasien dapat menjawab pertanyaan hitunghitungan seperti 100 7 = 93 serta dapat mengulang menyebutkan 5 kota
yang sebelumnya disebutkan oleh dokter.
3. Orientasi
a. Orientasi waktu : baik, mengetahui waktu saat dilakukan tanya
jawab yaitu pada siang hari.

b. Orientasi tempat : baik, mengetahui tempat saat dilakukan tanya


jawab yaitu di Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan.
c. Orientasi orang : baik, dapat mengetahui sedang berbicara dengan
siapa yaitu dengan dokter.
d. Orientasi situasi : baik, pasien mengetahui sedang melakukan tanya
jawab.
4. Daya ingat
a. Daya ingat jangka panjang : baik, pasien dapat mengingat tempat
diamna pasien sekolah dari SD hingga jenjang pendidikan terakhir.
b. Daya ingat jangka pendek : baik, pasien dapat mengingat pergi ke
RSUP Persahabatan berdua dengan ibu pasien menggunakan
angkutan umum 02.
c. Daya ingat segera : baik, pasien dapat mengulang 5 kota yang
sebelumnya disebutkan oleh dokter.
5. Pikiran abstrak
Baik, pasien dapat mengartikan arti pribahasa

panjang tangan, dan

tong kosong nyaring bunyinya.


6. Kemampuan menolong diri sendiri
Baik, pasien dapat mengurus diri sendiri dengan baik.
D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi
a.
b.
c.
d.
e.

Halusinasi auditorik
Halusinasi visual
Halusinasi olfaktori
Halusinasi gustatori
Halusinasi taktil

: ada
: ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada

2. Depersonalisasi dan Derealisasi


a. Depersonalisasi : ada
b. Derealisasi : tidak ada
E. Proses Pikir
1. Arus pikir
a. Produktivitas : baik, menjawab spontan tentang dirinya
b. Kontinuitas : baik, pembicaraan sampai pada tujuan
2. Isi pikiran :
a. Preokupasi, tidak terdapat preokupasi.
b. Gangguan pikiran
Pasien saat ini terdapat thought broadcasting yaitu pasien merasa
orang-orang yang ada disekitar tahu apa yang akan dilakukan dan

dipikirkan oleh pasien, Waham rujukan pasien juga percaya


tetangga tetangga membicarakan dan mengejek pasien.
F. Pengendalian Impuls
Baik, pasien tampak tenang, pasien dapat melawan perasaannya, tidak tampak
cemas pada saat proses tanya jawab yang dilakukan dan tidak terdapat
gerakan-gerakan involunter.
G. Daya Nilai
1. Nilai sosial: tidak dapat dinilai.
2. Uji daya nilai: baik, saat ditanyakan apa yang akan dilakukan pasien
ketika menemukan seorang anak kecil yang kehilangan orang tua di
mall, kemudian pasien menjawab akan membantu anak tersebut
mencari orang tuanya.
3. Penilaian realitas: terdapat gangguan dalam menilai realitas.
H. Persepsi Pemeriksa Tentang Diri dan Kehidupannya
Pasien tidak memiliki gangguan fungsi otak, tidak pernah mengkonsumsi
obat-obatan psikoaktif. Pasien memiliki halusinasi auditorik, halusinasi
visual. Pasien tidak mengalami gangguan depresi ataupun gangguan manik.
Pasien tidak memiliki gangguan cemas. Pasien merasa ada masalah dengan
dirinya dan pasien memiliki keinginan untuk sembuh dengan meminum obat
secara teratur dan kontrol rutin.
I. Tilikan/Insigt
Tilikan 6 yaitu menyadari dirinya sakit dan mencari bantuan untuk
sembuh.
J. Taraf Dapat Dipercaya
Pemeriksa mendapat kesan secara menyeluruh bahwa jawaban yang
diberikan oleh pasien dapat dipercaya karena konsistensi jawaban pasien dari
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dari awal proses tanya jawab hingga
akhir tanya jawab.
IV. PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
Keadaan Umum
Tanda Vital
Tekanan darah

: Tampak sakit sedang


: 120/90 mmHg

Frekuensi nadi
Frekuensi nafas
Suhu
Sistem Kardiovaskuler
Sistem Muskuloskeletal
Sistem Gastrointestinal
Sistem Urogenital
Gangguan Khusus

: 60 x/menit
: Tidak diperiksa
: Tidak diperiksa
: Tidak ada kelainan
: Tidak ada kelainan
: Tidak ada kelainan
: Tidak ada kelainan
: Diabetes tak terkontrol

B. Status Neurologis
Saraf Kranial
Saraf Motorik
Sensibilitas
Susunan Saraf Vegetatif
Fungsi Luhur
Gangguan Khusus

: Tak tampak kelainan


: Tak tampak kelainan
: Tak tampak kelainan
: Tak tampak kelainan
: Tak tampak kelainan
: Tak tampak kelainan

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


1. Pasien seorang laki-laki berusia 43 tahun Pasien kontrol.
2. Pasien mengingat riwayat sekolah pasien, datang ke RS dengan siapa dan
mengendarai apa serta dapat mengulangi menyebutkan 5 nama kota
berbeda yang dicontohkan sebelumnya sehingga menunjukkan bahwa
ingatan jangka panjang, jangka pendek dan segera pasien masih baik.
3. Ketika diberi perumpamaan suatu situasi pasien mampu menjawab
masalah tersebut dengan baik sehingga daya nilai pasien baik.
4. Pasien tidak memiliki masalah pada kesadaran, daya ingat, fungsi kognitif
maupun orientasi.
5. Saat ini pasien masih mendengar bisikan, dan bayangan-bayangan yang
tidak dapat dilihat orang lain. Pasien merasa diejek-ejek dan dicibir
tetangganya, merasa kegiatannya diketahui oleh orang lain.
6. Pasien tidak merasakan senang atau sedih yang berlebihan. Pasien tidak
merasakan rasa sedih yang medalam, keinginan untuk bunuh diri dan
kehilangan minat.
7. Pasien lahir normal. Masa kanak-kanak dan remaja memiliki kemampuan
bersosialisasi dengan baik.
8. Tumbuh kembang pasien baik, pasien dapat bersosialisasi dengan baik
sehingga tidak terdapat gangguan kepribadian.
9. Pasien dapat menyelesaikan pendidikan hingga sarjana dengan baik
sehingga tidak terdapat retardasi mental.
10. Di keluarga pasien bude pasien mengalami keluhan yang serupa.

11. Pasien tidak bekerja, sumber perekonomian pasien didapatkan dari uang
pension ibu pasien dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
12. Pasien belum menikah
13. Mood pasien biasa dan afek serasi, mood dan afek serasi
14. Keadaan umum baik, tidak ditemukan gangguan medis.
15. Saat ini pasien tinggal di rumah pribadi bersama ibu pasien
16. Gejala pasien berat dan diasbilitas berat
VI. FORMULA DIAGNOSIS
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan yang telah dilakukan pada
pasien, terdapat gejala atau perilaku yang secara klinis ditemukan bermakna
sehingga menimbulkan penderitaan (distress) dan yang berkaitan dengan
terganggunya fungsi (disfungsi). Berdasarkan hasil tersebut, maka pasien
mengalami gangguan jiwa.
1. Diagnosis Aksis I
a. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik tidak terdapat
gangguan fisik yang menyebabkan disfungsi otak. Hal ini dapat
dinilai dari tingkat kesadaran, daya ingat atau daya konsentrasi,
orientasi yang masih baik, sehingga pasien ini bukan penderita
Gangguan Mental Organik (F.00)
b. Berdasarkan anamnesis pasien tidak memiliki riwayat penggunaan
zat-zat psikoaktif (NAPZA) sehingga dapat disimpulkan tidak ada
Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Zat Psikoaktif atau
Alkohol (F.10)
c. Pada pasien ini ditemukan adanya halusinasi auditorik maka pasien
termasuk

kedalam

Gangguan

Psikotik

(F.20).

Gangguan

halusinasi, berlangsung lebih dari 1 bulan yaitu 10 tahun, sehingga


sudah termasuk kedalam Skizofrenia (F.20). Terdapat halusinasi
auditorik, halusinasi visual, dan waham rujuk serta tough
broadcasting yang menonjol sehingga pasien termasuk dalam
Skizofrenia Paranoid (F.20.0).
2. Diagnosis Aksis II
Pasien tumbuh dan berkembang pada masa kanak-kanak sampai dewasa
secara normal. Pasien dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang
lain sebagaimana orang normal lainnya bukan penderita gangguan
kepribadian. Pasien dapat menyelesaikan pendidikan sampai sarjana dan

10

fungsi kognitif baik, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat retardasi


mental. Karena tidak terdapat gangguan kepribadian dan tidak terdapat
gangguan retardasi mental, maka diagnosis pasien pada aksis II adalah
tidak ada diagnosis.
3. Diagnosis Aksis III
Pada anamnesis tidak ditemukan adanya keluhan pada sistem lain. Maka
pada pasien ini aksis III adalah tidak ada diagnosis.
4. Diagnosis Aksis IV
Pasien tinggal di rumah pribadi ibu pasien. Pasien belum menikah dan
tidak bekerja. Kondisi perekonomian pasien cukup baik, untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari pasien mendapatkan uang pensiun dari ibu pasien.
maka diagnosis Aksis IV Masalah Pekerjaan dan Masalah Pernikahan
5. Diagnosis Aksis V
Pada aksis V, dinilai kemampuan penyesuaian diri pasien dengan
menggunakan Global Asessment of functioning (GAF) yang dinilai
berdasarkan ada atau tidak disfungsi dalam pekerjaan, bersosialisasi
maupun psikologis pasien. Pada pasien saat ini didapatkan gejala berat,
disabilitas berat Maka pada aksis V didapatkan GAF Scale 50-41.
VII. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I
Aksis II
Aksis III
Aksis IV
Aksis V

: Skizofrenia Paranoid
: Tidak ada diagnosis
: Tidak ada diagnosis
: Masalah pekerjaan dan masalah pernikahan
: GAF 50-41

VIII. DAFTAR PROBLEM


Organobiologik
Psikologis
Sosioekonomi

: Tidak ada
: Halusinasi auditorik, halusinasi visual
: Kebutuhan sehari-hari pasien mendapatkan uang pensiun

Keluarga

dari ibu pasien


: Pasien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga

IX. PROGNOSIS
1. Prognosis ke arah baik
a. Pasien menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya
b. Pasien mempunyai keinginan yang kuat untuk sembuh

11

c. Pasien masih mau datang untuk kontrol


d. Semangat hidup pasien masih baik
e. Mendapatkan dukungan dari keluarga
f. Akses berobat bagus
2. Prognosis ke arah buruk
a. Perjalanan penyakit sudah berlangsung lama, kurang lebih 10
tahun
b. Respon Pengobatan kurang baik
c. Keluarga pasien ada yang memiliki keluhan serupa
Berdasarkan data-data diatas dapat disimpulkan prognosis pasien ini adalah :

Ad vitam
Ad functionam
Ad sanationam

: bonam
: dubia ad bonam
: dubia

X. TERAPI
1. Psikofarmaka
Risperidon 2 x 3 mg
Clozapine 2 x 200 mg
2. Psikoterapi
a. Minum obat teratur dan rutin kontrol jika obat habis.
b. Semakin mendekatkan diri kepada ALLAH SWT, dengan cara
shalat, berzikir, dan berdoa.
c. Mengabaikan jika mendengar bisikan-bisikan atau melihat
bayangan dan pikiran-pikiran yang mengejek pasien, lebih sabar.
d. Meminta pasien untuk curhat tentang apa yang didengar, dilihat
dan dirasakan oleh pasien kepada keluarganya.
e. Melakukan kegiatan positif seperti berolahraga, mengisi kegiatan
sehari-hari dengan hobi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, Rusdi. Dr. Sp.KJ. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Cetakan
Pertama. PT. Nuh Jaya. Jakarta. 2001.
2. Maslim, Rusdi. Dr. Sp.KJ. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga.
PT. Nuh Jaya. Jakarta. 2007.
3. Elvira. Sylvia. Dr. Sp.KJ. Buku Ajar Psikiatri. Edisi Kedua. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2013.

12