Anda di halaman 1dari 18

I.

1 SEJARAH MANAJEMEN MUTU LABORATORIUM

ISO 9000 mendefenisikan manajemen mutu sebagai kegiatan yang terkoordinasi atau
teratur untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi dalam hal mutu . Hal ini erat
kaitannya dengan defenisi dari system struktur organisasi, sumber daya yang berkualitas, proses
dan prosedur yang diperlukan untuk menerapkan manajemen mutu. Konsep manajemen mutu
yang diguanakan pada saat ini pertama kali muncul pada awal abad ke-20 dan merupakan hasil
dari proses manufaktur dan toko.
Salah satu konsep awal dari gerakan manajemen mutu adalah kontrol kualitas produk.
Shewhart mengembangkan metode statistik untuk proses kontrol pada tahun 1920, membentuk
suatu dasar untuk prosedur pengendalian mutu di laboratorium. Kualitas metode pengendalian
tidak diterapkan di laboratorium sampai tahun 1940-an. Pemikir kritis dan inovatif seperti Arman
Feigenbaum, Kaoru Ishikawa dan Genichi Taguchi juga menambahkan hasil pemikirannya untuk
prosedur pengendalian mutu di laboratorium. Dan yang terakhir metode yang sangat penting
untuk laboratorium adalah hasil pemikiran Galvin pada skala mikro untuk pengurangan
kesalahan.
I.2 PENTINGNYA MUTU LABORATORIUM
- Definisi kualitas/mutu
Kualitas/mutu dapat didefinisikan sebagai suatu ketelitian, kehandalan, dan ketepatan
waktu dalam melaporkan hasil tes. Hasil tes laboratorium harus seakurat mungkin, semua aspek
yang menyangkut pengoperasian laboratorium harus diakui, dan pelaporannya harus tepat waktu
karena banyak digunakan dalam lingkungan kesehatan publik dan klinis.
- Tingkat ketelitian yang diperlukan
Ketika melakukan pengukuran, selalu ada beberapa tingkat ketidaktepatan. Tantangannya
adalah bagaimana mengurangi tingkat ketidaktepatan sebanyak mungkin, dengan mengingat
keterbatasan sistem pengujian. Pada tingkat ketelitian 99% mungkin pada awalnya dapat
diterima, tetapi kesalahan 1% yang dihasilkan dapat menjadi sangat besar dalam sistem di mana
banyak peristiwa terjadi, seperti dalam pengujian laboratorium.
- Dampak negatif kesalahan laboratorium

Laboratorium menghasilkan hasil tes yang banyak digunakan dalam klinis dan lingkungan
kesehatan publik, dan hasil kesehatan tergantung pada keakuratan pengujian dan pelaporan. Jika
hasil yang disediakan tidak akurat, konsekuensinya bisa sangat signifikan, termasuk :
-

Pengobatan yang sia-sia

Kesulitan dalam pengobatan

Kegagalan dalam memberikan perawatan yang tepat

Penundaan dalam diagnosis yang benar

Tambahan dan tes diagnostik yang tidak perlu.

Konsekuensi ini mengakibatkan korban waktu dan usaha personil, begitupun dengan pasien
mengeluarkan biaya yang banyak.
- Meminimalisir kesalahan laboratorium
Untuk mencapai tingkat tertinggi dari keakuratan dan kepercayaan, maka penting untuk
melakukan semua proses dan prosedur di laboratorium dengan cara yang terbaik. Laboratorium
adalah sistem yang kompleks, melibatkan banyak langkah kegiatan dan banyak orang.
Kompleksitas sistem ini membutuhkan proses yang banyak dan prosedur harus dilakukan dengan
benar. Oleh karena itu, model sistem manajemen mutu, sangat penting untuk mencapai kinerja
laboratorium yang baik.
UU No. 23 / 1992 tentang kesehatan menjadi landasan hukum yang kuat untuk pelaksanaan
peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Sebagai penjabaran dari undang-undang tersebut salah
satunya adalah Surat Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medik Nomor HK 006.06.3.5.00788
tahun 1995 tentang pelaksanaan akreditasi Rumah Sakit (termasuk di dalamnya adalah pelayanan
laboratorium klinik) untuk mengukur mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit.
Berkaitan dengan pengukuran mutu pelayanan kesehatan tersebut, menurut Donabedian
ada 3 variabel yang dapat digunakan untuk mengukur mutu, yaitu :
1.

Input (struktur), ialah segala sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pelayanan

kesehatan, seperti SDM, dana, obat, fasilitas, peralatan , bahan, teknologi, organisasi, informasi
dan lain-lain. Pelayanan kesehatan yang bermutu memerlukan dukungan input yang bermutu
pula. Hubungan input dengan mutu adalah dalam perencanaan dan penggerakan pelaksanaan
pelayanan kesehatan.

2.

Proses, ialah interaksi professional antara pemberi layanan dengan konsumen (pasien /

masyarakat ). Proses ini merupakan variable penilaian mutu yang penting.


3.

Output/outcome, ialah hasil pelayanan kesehatan, merupakan perubahan yang terjadi

pada konsumen (pasien/masyarakat), termasuk kepuasan dari konsumen tersebut.


Untuk meningkatkan mutu pelayanan, laboratorium klinik yang terdapat dalam seluruh
Rumah Sakit perlu dikelola dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen yang tepat. Salah
satu pendekatan mutu yang digunakan adalah Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality
Magement, TQM).
Menurut Sulistiyani & Rosidah (2003) konsep TQM pada mulanya dipelopori oleh W.
Edward Deming, seorang doktor di bidang statistik yang diilhami oleh manajemen Jepang yang
selalu konsisten terhadap kualitas terhadap produk-produk dan layananannya. TQM adalah suatu
pendekatan yang seharusnya dilakukan oleh organisasi masa kini untuk memperbaiki otputnya,
menekan biaya produksi serta meningkatkan produksi. Total mempunyai konotasi seluruh sistem,
yaitu seluruh proses, seluruh pegawai, termasuk pemakai produk dan jasa juga supplier. Quality
berarti karakteristik yang memenuhi kebutuhan pemakai, sedangkan management berarti proses
komunikasi vertikal dan horizontal, top-down dan bottom-up, guna mencapai mutu dan
produktivitas.
Pendekatan Manajemen Mutu Terpadu dalam pelayanan laboratorium menurut Sianipar
(1997) adalah menggunakan konsep dari Creech, yaitu suatu pendekatan manajemen yang
merupakan suatu sistem yang mempunyai struktur yang mampu menciptakan partisipasi
menyeluruh dari seluruh jajaran organisasi dalam merencanakan dan menerapkan proses
peningkatan yang berkesinambungan untuk memenuhi bahkan melebihi harapan pelanggan.
Terdapat lima pilar Manajemen Mutu Terpadu, yaitu kepemimpinan, proses, organisasi,
komitmen, produk dan service. Manajemen mutu terpadu berfokus pada peningkatan proses.
Proses adalah transformasi dari input, dengan menggunakan mesin peralatan, perlengkapan
metoda dan SDM untuk menghasilkan produk atau jasa bagi pelanggan.
II.1 PENGENDALIAN PRA ANALITIK
II.1.1 Pengertian

Pengendalian pra analitik adalah serangkaian kegiatan laboratorium saat pelayanan dimulai pada
pasien berupa penerimaan pasien, pengambilan spesimen, pelabelan spesimen, penerimaan spesimen,
penilaian spesimen, pengolahan spesimen hingga pengiriman spesimen dengan maksud agar spesimen
benar-benar representatif sesuai dengan keadaan pasien, tidak terjadi kekeliruan jenis spesimen, dan
mencegah tertukarnya spesimen-spesimen pasien satu sama lainnya.
II.1.2 Tujuan
Untuk menjamin bahwa spesimen-spesimen yang diterima benar dan dari pasien yang benar pula.
II.1.3 Cara Pengendalian
1. Menyediakan Katalog pemeriksaan, berisi informasi : Persyaratan pasien & Jenis spesimen.
2. Cara pengambilan & volume.
3. Wadah Spesimen
4. Pengiriman & Penyimpanan Spesimen
5. Menyediakan Prosedur Operasi Baku (SOP), antara lain : SOP penanganan spesimen dan
sampel.
6. Menyediakan pedoman-pedoman, antara lain : Pengambilan spesimen yang benar, Persyaratan
spesimen dan persiapan pasien, Persyaratan sampel

II.1.4 Kegiatan Pra Analitik


II.1.4.1 Persiapan Pasien Secara Umum dan yang mempengaruhi
a. Mempersiapkan pasien untuk pengambilan spesimen sesuai persyaratan umum dengan meminta
pasien berpuasa antara 8 12 jam pada jam 22.00 dan pagi hari jam 07.00 09.00 dilakukan pengambilan
spesimen.
b. Menghindari pemakaian obat-obatan sebelum spesimen diambil di laboratorium.
c. Menghindari aktifitas fisik/olah raga sebelum spesimen diambil
d. Memperhatikan efek postur, pengambilan darah paling baik dengan duduk tenang dibandingkan
berdiri karena keseimbangan cairan akan terganggu.
e. Diet makan dan minum pasien dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.
f. Merokok dan minum alkohol mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.
g. Ketinggian suatu tempat (geografis) berpengaruh pada hasil pemeriksaan laboratorium.
h. Demam akan menyebabkan kenaikan dan penurunan beberapa parameter pemeriksaan, waktu
demam yang tepat akan dapat membantu menegakkan diagnosis.
i. Trauma dapat menyebabkan terjadi hemostasis hingga pengenceran darah.

j. Variasi Circadian Rythme merupakan perubahan dari waktu ke waktu pada tubuh yang
dipengaruhi waktu, siklus dan umur.
k. Umur, ras, dan jenis kelamin paling berpengaruh terhadap hasil pengukuran dan nilai rujukan
l. Kehamilan pada wanita perlu dipertimbangkan lama kehamilan yang berpengaruh pada
pengenceran.
II.1.4.2 Pengambilan Spesimen
a. Peralatan yang digunakan harus memenuhi persyaratan tertentu :
- bersih, kering, tidak mengandung bahan kimia/deterjen,
- Terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi spesimen.
- Mudah dicuci atau dibersihkan dari sampel sebelumnya.
- Pengambilan spesimen untuk pemeriksaan biakan harus menggunakan peralatan yang steril.
b. Wadah spesimen harus memenuhi :
-

Terbuat dari gelas atau plastik. Untuk spesimen darah harus terbuat dari gelas.

Tidak bocor atau merembes.

Harus dapat ditutup rapat dengan tutup berulir.

Besar wadah disesuaikan dengan volume spesimen

Bersih dan kering

Tidak mempengaruhi sifat zat-zat dalam spesimen

Tidak mengandung bahan kimia atau deterjen.

Untuk pemeriksaan zat dalam spesimen yang mudah rusak atau terurai karena pengaruh sinar

matahari, maka digunakan botol coklat.


-

Untuk pemeriksaan biakan dan uji kepekaan kuman wadah harus steril.

c. Pengawet : Diberikan agar sampel yang akan diperiksa dapat dipertahankan kondisi dan
jumlahnya dalam waktu tertentu. Antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah.
d. Waktu : Pada umumnya pengambilan spesimen dilakukan pada pagi hari, terutama untuk

pemeriksaan Kimia klinik, Hematologi dan Imunologi karena umumnya nilai normal ditetapkan pada
keadaan basal.
e. Lokasi : Sebelum mengambil spesimen, harus ditetapkan terlebih dahulu lokasi pengambilan
yang tepat sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diminta. Spesimen untuk pemeriksaan menggunakan
darah vena umumnya diambil dari vena cubiti daerah siku. Spesimen darah arteri umumnya diambil
dari arteri radialis di pergelangan tangan atau arteri femoralis di daerah lipat paha. Spesimen darah
kapiler diambil dari ujung jari tengah tangan atau jari manis tangan bagian tepi atau pada derah tumit 1/3

bagian tepi telapak kaki atau cuping telingan pada bayi. Tempat yang dipilih tidak boleh memperlihatkan
gangguan peredaran darah seperti cyanosis atau pucat, bekas luka dan radang
f. Volume : Volume spesimen yang diambil harus mencukupi kebutuhan pemeriksaan laboratorium
yang diminta atau dapat mewakili objek yang diperiksa.
g. Teknik Pengambilan : Pengambilan spesimen harus dilaksanakan dengan cara yang benar, agar
spesimen tersebut mewakili keadaan yang sebenarnya.

II.1.4.3 Pemberian Identitas Spesimen


Pemberian identitas pasien dan atau spesimen merupakan hal yang penting baik pada saat pengisian
surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan, pendaftaran, pengisian label wadah spesimen. Pada
surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan laboratorium sebaiknya memuat secara lengkap :
- Tanggal permintaan
- Tanggal dan jam pengambilan spesimen
- Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat/ruang) termasuk rekam medik.
- Identitas pengirim (nama, alamat, nomor telepon)
- Nomor laboratorium
- Diagnosis.keterangan klinik.
- Obat-obatan yang telah diberikan dan lama pemberian.
- Pemeriksaan laboratorium yang diminta.
- Jenis spesimen
- Lokasi pengambilan spesimen
- Volume spesimen
- Pengawet yang digunakan
- Nama pengambil spesimen.
II.1.4.4 Pengolahan Spesimen
Spesimen yang telah diambil dilakukan pengolahan untuk menghindari kerusakan pada spesimen
tersebut.Pengolahan spesimen berbeda-beda tergantung dari jenis spesimennya masing-masing.
1). Serum
Biarkan darah membeku terlebih dahulu pada suhu kamar selama 2-30 menit, lalu di sentrifuge
3000 rpm selama 5-15 menit. Pemisahan serum dilakukan dalam waktu 2 jam setelah pengambilan darah.
Serum yang memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan keruh.
2). Plasma
Kocok darah EDTA atau citrat dengan segera secara perlahan-lahan.

Pemisahan plasma dilakukan dalam waktu 2 jam setelah pengambilan spesimen. Plasma yang
memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan keruh.
3). Whole blood
Darah yang diperoleh ditampung dalam tabung yang telah berisi antikoagulan yang sesuai, lalu
dihomogenisasi dengan cara goyang perlahan tabung.
4). Feses
Masukkan feses segar ke pot sampel lalu tutup rapat, dalam kurun waktu 1 jam feses segar harus
diperiksa dan jika lebih dari 1 jam maka sebaiknya feses diberi pengawet, misalnya Polivinil alcohol,
formalin dengan perbandinga 3:1, dan SAF.
II.1.4.5 Menilai Spesimen Yang Tidak Memenuhi Syarat
1. Spesimen diterima oleh petugas loket dan sampling.
2. Penilaian spesimen harus dilakukan sesuai dengan jenis pemeriksaan.
3. Penilaian spesimen harus segera dilakukan setelah menerima spesimen.
4. Petugas laboratorium wajib menolak dan mengembalikan spesimen yang tidak memenuhi syarat
pemeriksaan.
5. Spesimen yang ditolak diberitahukan lewat via aiphone ruangan atau yang mengantar spesimen.
6. Spesimen untuk pemeriksaan Patologi Aanatomi yang diantar ke laboratorium berupa jaringan
biopsi dan operasi yang telah lebih 1 hari, tidak menggunakan pengawet, ditempatkan suhu ruang ditolak
untuk pemeriksaan rujukan.
7. Kriteria penilaian dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

II.1.4.6 Penyimpanan Spesimen


Spesimen yang sudah diambil harus segera dikirim ke laboratorium untuk diperiksa, karena
stabilitas spesimen dapat berubah. Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas spesimen antara lain :
a. Terjadi kontaminasi oleh kuman dan bahan kimia.
b. Terjadi metabolisme oleh sel-sel hidup pada spesimen.
c. Terjadi penguapan.
d. Pengaruh suhu.
e. Terkena paparan sinar matahari.
Beberapa spesimen yang tidak langsung diperiksa dapat disimpan dengan memperhatikan jenis
pemeriksaan yang akan diperiksa. Persyaratan penyimpanan beberapa spesimen untuk beberapa
pemeriksaan laboratorium harus memperhatikan jenis spesimen, antikoagulan/pengawet dan wadah serta
stabilitasnya. Beberapa cara penyimpanan spesimen :

a. Disimpan pada suhu kamar


b. Disimpan dalam lemari es suhu 2-8OC
c. Dibekukan suhu -20OC, -70OC atau -120OC
d. Dapat diberikan bahan pengawet
e. Penyimpanan spesimen darah sebaiknya dalam bentuk serum atau lisat.
II.1.4.7 Pengiriman Spesimen
Spesimen yang akan dikirim ke laboratorium lain, sebaiknya dikirim dalam bentuk yang reatif
stabil. Untuk itu perlu diperhatikan persyaratan pengiriman spesimen antara lain :
a. Waktu pengiriman jangan melampaui masa stabilitas spesimen.
b. Tidak terkena sinar matahari langsung
c. Kemasan harus memenuhi syarat keamanan kerja laboratorium termasuk pemberian label yang
bertuliskan Bahan Pemeriksaan Infeksius atau Bahan Pemeriksaan Berbahaya.
d. Suhu pengiriman harus memenuhi syarat.
II.1.4 Mempertahankan Mutu Pra Analitik
1. Mengerjakan proses/prosedur sesuai standar (SPO) yang telah ditentukan.
2. Melaksanakan dan mengevaluasi program QC.
3. Pengawasan dan monitoring kegiatan harian untuk mengurangi kesalahan-kesalahan yang
mungkin muncul.
4. Ketersediaan anggaran dana dan personil yang memadai untuk kegiatan.
5. Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan staf laboratorium.
6. Adanya dukungan penuh dari pihak manajemen dalam melakukan pelayanan yang standar dan
bermutu.

III.1 Pemantapan Mutu Internal


Pemantapan mutu internal adalah suatu sistem dalam arti luas yang mencakup tanggung
jawab dalam memantapkan semua kegiatan yang berkaitan dengan pemeriksaan untuk mencegah
dan mendeteksi adanya suatu kesalahan serta memperbaikinya.
Pengertian pemeriksaan laboratorium mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang dimulai
sebelum proses pemeriksaan itu sendiri dilaksanakan yaitu dimulai dari tahap pra analitik yang
mencakup persiapan pasien, pemberian identitas spesimen, pengambilan dan penampungan

spesimen, pengolahan dan penyimpanan spesimen serta transport spesimen, hingga kegiatan
pada tahap analitik dan kegiatan pada tahap pasca analitik.
Kesalahan pada pemeriksaan dapat berupa :
III.1.1 Kesalahan Teknik
Sifat kesalahan disini sudah melekat, selalu ada pada setiap pemeriksaan dan seakan-akan tidak
mungkin dapat dihindarkan. Usaha perbaikan jenis kesalahan ini hanya dapat memperkecil
kesalahan tetapi tidak mungkin menghilangkannya sama sekali. Kesalahan teknik ini ada 2
macam yaitu :
a. Kesalahan acak (Random error)
Kesalahan jenis ini menunjukkan tingkat ketelitian (presisi) pemeriksaan. Kesalahan ini akan
tampak pada pemeriksaan yang dilakukan berulang pada spesimen yang sama dan hasilnya
bervariasi, kadang-kadang lebih besar, kadang-kadang lebih kecil dari nilai seharusnya.
b. Kesalahan sistematik (Systematic error)
Kesalahan jenis ini menunjukkan tingkat ketepatan (akurasi) pemeriksaan. Sifat kesalahan ini
menjurus ke satu arah. Hasil pemeriksaan selalu lebih besar atau selalu lebih kecil dari nilai
seharusnya.
III.1.2. Kesalahan Non Teknik
Kesalahan yang terjadi di luar tahap analitik pemeriksaan. Kesalahan jenis ini dijumpai pada
tahap pra analitik atau pasca analitik. Kesalahan ini terbagi atas :
a. Kesalahan pengambilan sampel (sampling error)
- Persiapan pasien
- Pemberian identitas spesimen
- Pengambilan dan penampungan spesimen
- Pengolahan dan penyimpanan spesimen
- Transport spesimen
b. Kesalahan penghitungan dan penulisan (Clerical error)
Pencatatan hasil
Pada waktu bekerja di laboratorium yang harus diperhatikan adalah ketelitian (presisi) dan
ketepatan (akurasi) dari suatu pemeriksaan. Ketelitian diartikan kesesuaian hasil pemeriksaan
laboratorium yang diperoleh apabila pemeriksaan dilakukan berulang. Ketepatan diartikan

kesesuaian hasil pemeriksaan laboratorium dengan nilai yang seharusnya:


1. Ketelitian
Suatu pemeriksaan umumnya lebih mudah dilihat ketidaktelitian (impresisi) daripada ketelitian
(presisi). Impresisi dapat dinyatakan dengan besarnya SD (Standard Deviasi) atau CV (Koefisien
variasi). Makin besar SD dan CV makin tidak teliti. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
ketelitian yaitu : alat, metode pemeriksaan, volume/kadar bahan yang diperiksa, waktu
pengulangan dan tenaga pemeriksa.
2. Ketepatan
Pada suatu pemeriksaan umumnya dinyatakan ketidaktepatan (inakurasi) daripada ketepatan
(akurasi). Inakurasi adalah perbedaan antara nilai yang diperoleh dengan nilai sebenarnya (true
value). Ketepatan pemeriksaan terutama dipengaruhi oleh spesifisitas metode pemeriksaan dan
kualitas larutan standar. Agar pemeriksaan hasilnya tepat, maka harus dipilih metode
pemeriksaan yang memiliki spesifisitas analitis yang tinggi.
3. Uji Ketelitian
Hasil laboratorium digunakan untuk menentukan diagnosis, pemantauan pengobatan dan
meramalkan prognosis, maka amatlah perlu untuk selalu menjaga mutu hasil pemeriksaan, dalam
arti mempunyai tingkat akurasi dan presisi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam melaksanakan uji ketelitian ini dapat digunakan bahan kontrol assayed atau unassayed.
Kegiatan yang harus dilakukan adalam pengujian ini adalah :
a. Periode pendahuluan
Pada periode ini ditentukan nilai dasar yang merupakan nilai rujukan untuk pemeriksaan
selanjutnya. Periode ini umumnya dilakukan baik untuk pemeriksaan kimia klinik, hematologi,
imunoserologi maupun kimia lingkungan. Cara :
1). Periksalah bahan kontrol bersamaan dengan pemeriksaan spesimen setiap hari kerja atau pada
hari parameter yang bersangkutan diperiksa sampai mencapai 25 hari kerja.
2). Catat setiap nilai yang diperoleh tiap hari kerja tersebut dalam formulir periode pendahuluan
pada kolom x.
3). Setelah diperoleh 25 nilai pemeriksaan, hitung nilai rata-ratanya (mean), standar deviasi (SD).
Koefisien variasi (CV), batas peringatan (mean 2 SD) dan batas kontrol (mean 3 SD).
4). Teliti kembali apakah ada nilai yang melebihi batas mean 3 SD. Bila ada, maka nilai

tersebut dihilangkan. Hitung kembali nilai mean, SD, CV, mean 2 SD dan mean 3 SD.
5). Nilai mean dan S yang diperoleh ini dipakai sebagai nilai rujukan Periode kontrol.
b. Periode kontrol
Merupakan periode untuk menentukan ketelitian pemeriksaan pada hari tersebut. Prosedur pada
periode kontrol ini tergantung dari bidang pemeriksaannya. Untuk pemeriksaan kimia klinik,
hematologi dan kimia lingkungan cara dalah sebagai berikut :
1). Periksa bahan kontrol setiap hari kerja atau pada hari parameter yang bersangkutan diperiksa.
2). Catatlah nilai yang diperoleh pada formulir periode kontrol.
3). Hitung penyimpangannya terhadap nilai rujukan dalam satuan S (Standar Deviasi Index)
dengan rumus :
Xi - mean
Satuan SD = ---------------SD
4). Satuan S yang diperoleh di plot pada kertas grafik kontrol. Sumbu X dalam grafik kontrol
menunjukkan hari/tanggal pemeriksaan sedangkan sumbu Y menunjukkan satuan S.
c. Evaluasi hasil
1 3S : Seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan keluar dari kontrol (out of control), apabila
hasil pemeriksaan satu bahan kontrol melewati batas x 3 S.
2 2S : Seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan keluar dari kontrol, apabila hasil
pemeriksaan 2 kontrol berturut-turut keluar dari batas yang sama yaitu x + 2 S atau x 2 S.
R 4S : Seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan keluar dari kontrol, apabila perbedaan
antara 2 hasil kontrol yang berturut-turut melebihi 4 S (satu kontrol diatas +2 S, lainnya dibawah
-2 S)
4 1S : Seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan keluar dari kontrol, apabila 4 kontrol
berturut-turut keluar dari batas yang sama baik x + S maupun x S.
10 X : Seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan keluar dari kontrol, apabila 10 kontrol
berturut-turut berada pada pihak yang sama dari nilai tengah.
Aturan ini mendeteksi gangguan ketelitian (kesalahan acak) yaitu 1 3S, R 4S atau gangguan
ketepatan (kesalahan sistematik) yaitu 2 2S, 4 1S, 10 x, 1 3S.
4. Ketepatan

Pada uji ketepatan ini dipakai serum kontrol yang telah diketahui rentang nilai kontrolnya
(assayed). Hasil pemeriksaan uji ketepatan ini dilihat apakah terletak di dalam atau di luar
rentang nilai kontrol menurut metode pemeriksaan yang sama. Bila terletak di dalam rentang
nilai kontrol, maka dianggap hasil pemeriksaan bahan kontrol masih tepat sehingga dapat
dianggap hasil pemeriksaan terhadap spesimen juga tepat. Bila terletak di luar rentang nilai
kontrol, dianggap hasil pemeriksaan bahan kontrol tidak tepat sehingga hasil pemeriksaan
terhadap spesimen juga dianggap tidak tepat.
5. Aturan Wesgard Rule Systems.
Menurut Kit Human Humatrol aturan Westgard Multirule System adalah sebagai berikut :
1 2 S Satu kontrol diluar nilai mean +/- 2 SD (tidak melampaui +/- 3 SD), merupakan
ketentuan peringatan.
1 3 S Satu kontrol diluar nilai mean +/- 3 SD, merupakan ketentuan penolakan yang
mencerminkan adanya kesalahan acak.
2 2 S Dua kontrol berturut-turut diluar nilai mean +/- 2 SD, atau dua kontrol (berbeda level)
berada diluar nilai mean +/- 2 SD merupakan ketentuan penolakan yang mencerminkan adanya
kesalahan sistematik.
R 4 S Satu kontrol diluar nilai mean + 2 SD dan satu kontrol lain diluar nilai mean 2 SD atau
dua kontrol berturut-turut + 2 SD kemudian 2 SD, merupakan ketentuan penolakan yang
mencerminkan kesalahan acak.
4 1 S Empat kontrol berturut diluar nilai mean + 1 SD atau mean 1 SD, merupakan
ketentuan penolakan yang mencerminkan kesalahan acak dan sistematik.
10 (x) Sepuluh kontrol berturut pada 1 sisi diatas atau dibawah nilai mean, merupakan
ketentuan penolakan yang mencerminkan kesalahan sistematik.

VI.1. LABORATORIUM PARASITOLOGI


VI.1.1 Pengertian Laboratorium

Laboratorium adalah suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian. Tempat ini
dapat merupakan ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka. Laboratorium adalah suatu
ruangan yang tertutup di mana percobaan eksperimen dan penelitian dilakukan (Depdikbud :
1995, 2003).
Laboratorium Klinik adalah laboratorium kesehatan yang melaksanakan pelayanan
pemeriksaan di bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi klinik, parasitologi klinik,
imunologi klinik atau bidang lain yang berkaitan dengan kepentingan kesehatan perorangan
terutama untuk menunjang upaya diagnosis penyakit, penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan.
VI.1.2 Parasitologi
Parasitologi adalah adalah suatu ilmu cabang biologi yang mempelajari tentang semua
organisme parasit. Tetapi dengan adanya kemajuan ilmu, parasitologi kini terbatas mempelajari
organisme parasit yang tergolong hewan parasit, meliputi: protozoa, helminthes, arthropoda dan
insekta parasit, baik yang zoonosis ataupun anthroponosis. Cakupan parasitologi meliputi
taksonomi, morfologi, siklus hidup masing-masing parasit, serta patologi dan epidemiologi
penyakit yang ditimbulkannya. Organisme parasit adalah organisme yang hidupnya bersifat
parasitis; yaitu hidup yang selalu merugikan organisme yang ditempatinya (hospes). Predator
adalah organisme yang hidupnya juga bersifat merugikan organisme lain (yang dimangsa).
Bedanya, kalau predator ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari yang dimangsa, bersifat
membunuh dan memakan sebagian besar tubuh mangsanya. Sedangkan parasit, selain ukurannya
jauh lebih kecil dari hospesnya juga tidak menghendaki hospesnya mati, sebab kehidupan hospes
sangat essensial dibutuhkan bagi parasit yang bersangkutan.
Menyadari akibat yang dapat ditimbulkan oleh gangguan parasit terhadap kesejahteraan
manusia, maka perlu dilakukan usaha pencegahan dan pengendalian penyakitnya. Sehubungan
dengan hal tersebut maka sangat diperlukan suatu pengetahuan tentang kehidupan organisme
parasit yang bersangkutan selengkapnya. Tujuan pengajaran parasitologi, dalam hal ini di
antaranya adalah mengajarkan tentang siklus hidup parasit serta aspek epidemiologi penyakit
yang ditimbulkannya. Dengan mempelajari siklus hidup parasit, kita akan dapat mengetahui
bilamana dan bagaimana kita dapat terinfeksi oleh parasit, serta bagaimana kemungkinan akibat

yang dapat ditimbulkannya. Selanjutnya ditunjang oleh pengetahuan epidemiologi penyakit, kita
akan dapat menentukan cara pencegahan dan pengendaliannya.
Laboratorium parasitologi adalah salah satu sarana yang digunakan untuk penelitian dan
pemeriksaan berbagai jenis parasit. Berbagai jenis parasit dari jenis amoeba,protozoa,jamur,dan
lainnya bisa diperiksa di laboratorium parasitologi dengan bantuan mokroskop. Sedangkan jenis
cacing dan serangga bisa diamati secara makroskopis.
Laboratorium

Parasitologi

mengembangkan

kompetensi

mahasiswa

dalam

mengidentifikasi berbagai organisme yang tergolong parasit, diantaranya protozoa darah,


protozoa usus, protozoa jaringan, Nemathoda jaringan, Nemathoda usus, Cestoda, Trematoda,
serta pemeriksaan tinja umtuk identifikasi parasit dan sediaan darah malaria. Identifikasi
dilakukan melalui pengamatan langsung pada preparat parasitologi dengan bantuan mikroskop
dan pembuatan preparat. Laboratorium parasit dilengkapi dengan mikroskop binokuler, digital
camera DCE-2, alat dan bahan pembuatan preparat.
VI.1.3 Fungsi Laboratorium Parasitologi
1. Melakukan identifikasi parasit yang terkandung dalam suatu sampel
2. Melakukan penelitian yang berhubungan dengan parasit
3. Menegakkan diagnosa dokter
4. Melakukan pengamatan jenis-jenis parasit baik secara makroskopis maupun mikroskopis

VI.1.4. Fasilitas Laboratorium Parasitologi


1. Ruangan laboratorium yang memadai
Ruangan laboratorium yang ideal yakni memiliki luas yang cukup,keadaan yang bersih dan
rapi,serta di lengkapi dengan jendela dan ventilasi yang cukup sehingga udara dan sinar matahari
bisa cukup memasuki ruangan sehingga tidak menimbulkan ruangn laboratorium yang pengap
dan gelap.
Syarat ruangan laboratorium :
a. Seluruh ruangan laboratorium harus mudah dibersihkan
b. Penerangan di laboratorium harus cukup
c. Permukaan meja kerja harus tidak tembus air, juga tahan asam, alkali, larutan organik dan
panas yang sedang
d. Tersedianya bak cuci tangan dengan air mengalir dalam setiap ruangan laboratorium

e. Denah ruang laboratorium yang lengkap (termasuk letak telepon, alat pemadam kebakaran,
pintu keluar darurat) digantungkan di beberapa tempat yang mudah terlihat.
f. Tempat sampah dilengkapi kantong plastik
g. Tersedia ruang ganti, pakaian, ruang makan/minum dan kamar kecil
h. Ventilasi laboratorium harus cukup
i. Udara dalam laboratorium dibuat mengalir searah
j. Tersedianya aliran listrik dan generator dengan kapasitas memadai
2. Peralatan (sarana dan prasarana) yang lengkap
Peralatan yang canggih dan modern sangat diperlukan untuk melengkapi laboratorium
parasitologi. Mikroskop listrik binokuler misalnya salah satu sarana yang sangat mendukung
dalam pemeriksaan dan penelitian yang dilakukan di laboratorium parasitologi. Hendaknya
kalibrasi alat juga dilakukan secara berkala.
Peralatan yang terdapat di laboratorium parasitologi :
a.
b.
c.
d.
e.

Meja praktikum
Mikroskop
Staining chamber
Preparat laboratorium jadi/awetan
Peralatan pengecatan, dsb

Penataan alat mikroskop :


a. Letakkan mikroskop ditempat yang datar dan tidak licin
b. Bila menggunakan cahaya matahari, tempatkan di tempat yang cukup cahaya
c. Biasakan memerika dengan menggunakan lensa objektif 10x dulu, bila sudah jelas diubah ke
objektif 40x lalu 100x, jangan lupa gunakan emersi oil
d. Bersihkan lensa dengan kertas lensa
e. Jangan menyentuh objektif dengan jari, jangan merendam lensa dengna alkohol.
f. Simpan mikroskop di tempat yang rendah kelembabannya
Cara memperlakukan alat di laboratorium parasitologi :
1. Membawa alat sesuai petunjuk penggunaan
2. Menggunakan alat sesuai petunjuk penggunaan.
3. Menjaga kebersihan alat
4. Menyimpan alat sesuai petunjuk
Prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan alat dan bahan di laboratorium:
Aman
Alat disimpan supaya aman dari pencuri dan kerusakan, atas dasar alat yang mudah dibawa
dan mahal harganya seperti mikroskop perlu disimpan pada lemari terkunci. Aman juga berarti
tidak menimbulkan akibat rusaknya alat dan bahan sehingga fungsinya berkurang.
Mudah dicari
Untuk memudahkan mencari letak masing masing alat dan bahan, perlu diberi tanda yaitu
dengan menggunakan label pada setiap tempat penyimpanan alat (lemari, rak atau laci).
Mudah diambil
Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan seperti lemari, rak dan
laci yang ukurannya disesuaikan dengan luas ruangan yang tersedia
3. Tersedia berbagai contoh preparat yang sudah jadi
Berbagai contoh preparat dari beberapa jenis parasit seperti telur cacing,larva cacing,
protozoa,amoeba, dan lainnya bisa dijadikan kelengkapan laboratorium parasitologi. Preparatpreparat yang sudah jadi bisa dijadikan gambaran sebelum menemukan berbagai parasit yang
bisa ditemukan dalam sampel.
4. Tenaga ahli yang terampil dan berkompeten
Tenaga ahli sangat diperlukan dalam mengerkan berbagai pemeriksaan dan penelitian yang
dilakukan di laboratorium parasitologi. Tenaga ahli yang terampil dan berkompeten merupakan
hal yang sangat penting karena bila dalam suatu laborarorium yang sudah dilengkapi sarana dan
prasarana yang canggih dan modern namun tidak memiliki tenaga ahli justru akan merugikan
laboratorium tersebut.

5. Sanitasi laboratorium yang terjaga


Kebersihan laboratorium harus menjadi hal tersendiri diperhatikan. Pembersihan tempat
kerja dilakukan dengan desinfektan agar tidak menimbulkan bau yang tidak enak di dalam
laboratorium. Disediakan tempat pembuangan limbah yang sesuai sangat diperlukan sehingga
kebersihan ruangan laboratorium selalu terjaga.

DAFTAR PUSTAKA
http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/2012/11/pengendalian-mutu-laboratorium.html
diakses jumat, 28 oktober 2016 pukul 19.25
http://ejournal.litbang.depkes.go.id Home Vol 8, No 02 Jun (1998) Girsang.html
diakses jumat, 28 Oktober 2016 pukul 19.26 WITA
https://www.scribd.com/doc/168259343/PENGENDALIAN-MUTU-LABORATORIUM
diakses jumat, 28 Oktober 2016 pukul 20.03
http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/2010/02/pemantapan-mutu-labkes.html

diakses sabtu, 29 oktober 2016 pukul 09.38


http://annasyalala.blogspot.co.id/2013/06/lab-parasitologi-yang-representatif_7935.html
diakses minggu, 30 Oktober 2016 pukul 09.36 WITA
http://aakmylove.blogspot.com/2013/10/laboratorium-parasitologi.html
diakses minggu, 30 Oktober 2016 pukul 09.30 WITA