Anda di halaman 1dari 36

DISKUSI KELOMPOK DAN PEMBERIAN TUGAS DALAM

METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING GUNA


MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR EKONOMI PADA
MATERI PERDAGANGAN INTERNASIONAL BAGI SISWA
KELAS XII IPS 1 DI SMA NEGERI 1 PAMANUKAN

PTK
(Penelitian Tindakan Kelas)
Diajukan Untuk Pengusulan Kenaikan Pangkat

Disusun Oleh :

Drs. CECEP RACHMAT


NIP. 196210201986031011

PEMERINTAH KABUPATEN SUBANG

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


SMA NEGERI 1 PAMANUKAN
TAHUN PELAJARAN 2014/2015

1|PTK Ekonomi 2014/2015

Pernyataan Keaslian Naskah

PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Drs. CECEP RACHMAT

Program Studi

: GURU MATA PELAJARAN EKONOMI

Unit Kerja

: SMA NEGERI 1 PAMANUKAN

Menyatakan bahwa naskah Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul :


DISKUSI KELOMPOK DAN PEMBERIAN TUGAS DALAM METODE
PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING GUNA MENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR EKONOMI PADA MATERI PERDAGANGAN
INTERNASIONAL BAGI SISWA KELAS XII IPS 1 DI SMA NEGERI 1
PAMANUKAN
Secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu
yang dirujuk sumbernya.
Pamanukan, 3 Oktober 2014
Pembuat Pernyataan,

materai tempel
Rp. 6.000,00

Drs. CECEP RACHMAT


NIP. 196210201986031011
GAMBAR
KOP
SEKOLAH

PEMERINTAH KABUPATEN SUBANG


DINAS PENDIDIKAN NASIONAL PEMUDA DAN OLAHRAGA
PEMUDA DAN OLAH RAGA

SMA NEGERI 1 PAMANUKAN


LEMBAR PENGESAHAN

1. Identitas Penulis
Nama

: Drs. CECEP RACHMAT

2.
3.
4.
5.

NIP
NUPTK
Gol/Ruang
Jabatan
Unit Kerja
Lokasi Penelitian
Lama Penelitian
Biaya Penelitian
Pengamat

: 196210201986031011
: 8352-7406-2200-033
: IV a
: GURU MATA PELAJARAN
: SMA NEGERI 1 PAMANUKAN
: SMA NEGERI 1 PAMANUKAN
: 2 Siklus
: PRIBADI
: ..........................................
1. Drs. DEDY GUNAWAN
: XII IPS 1
: 37 Siswa

6. Kelas Penelitian
7. Jumlah Siswa Kelas Penitian

Pamanukan, 7 Oktober 2014


Penulis

Kepala Perpustakaan

YATI MULYATI, S.Pd


NIP. 19640919 198903 2005

Drs. CECEP RACHMAT


NIP. 196210201986031011

Mengetahui, Mengesahkan
Kepala Sekolah
SMA NEGERI 1 PAMANUKAN

AHMAD SOLEHUDIN, M.Pd


NIP. 19639312 198803 1015

HALAMAN PENGESAHAN

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

Mengetahui / Mengesahkan
Pamanukan, Tgl 7 Oktober 2014
3

1. Identitas Penulis
Nama
NIP
NUPTK
Gol/Ruang
Jabatan
Unit Kerja

: Drs. CECEP RACHMAT


: 196210201986031011
: 8352-7406-2200-033
: IV.a
: GURU MATA PELAJARAN EKONOMI
: SMA NEGERI 1 PAMANUKAN

2. Pengamat :
1. Drs. DEDY GUNAWAN

Kepala Perpustakaan

Kepala Sekolah
SMA NEGERI 1 PAMANUKAN

YATI MULYATI, S.Pd


NIP. 19640919 198903 2005

AHMAD SOLEHUDIN, M.Pd


NIP. 19639312 198803 1015

ABSTRAK

DADANG, DISKUSI KELOMPOK DAN PEMBERIAN TUGAS DALAM METODE


PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING GUNA MENINGKATKAN PRESTASI
BELAJAR EKONOMI PADA MATERI PERDAGANGAN INTERNASIONAL BAGI
SISWA KELAS XII IPS 1 DI SMA NEGERI 1 PAMANUKAN .

Kata Kunci : Cooperative learning, Pembelajaran Kooperatif, Pembelajaran


Ceramah, Konvensional dalam Pembelajaran, Metode Discovery Learning, Belajar
EKONOMI.

Pedoman Guru Mata Pelajaran Ekonomi ini disusun agar guru


mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai perubahan paradigma
pembelajaran yang dituntut kurikulum 2013, sehingga guru dapat
melakukan perubahan pengajaran di kelas. Selain itu, pedoman ini
juga diharapkan dapat memberikan pengetahuan teknis dalam
menerjemahkan kurikulum kedalam perangkat yang relevan dan
menjadi acuan bagi guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran
(RPP) dan berperan dalam proses pembelajaran di kelas dari
pemecahan masalah guru harusnya menerapkan pembelajaran
scientific yang mengarah pada pembentukan karakter siswa yaitu
percaya diri, inisiatif belajar, disiplin, tanggung jawab, aktif oleh
karenanya perlu diadakan variasi model pembelajaran yang mengarah
pada tujuan prestasi belajar siswa.
Dalam penelitian tindakan kelas ini diterapkan model
pembelajaran discovery learning yang mengarah pada kemampuan
siswa untuk menemukan dan memecahkan permasalahan yang
dihadapi dalam pembelajaran ekonomi, penelitian dilakukan dikelas
XII IPS 1 SMA Negeri 1 Pamanukan pada semester 1 tahun ajaran
2014/2015, guru hanya bertindak sebagai pemberi motivasi,
mengasosiasi, mengeksplorasi pembelajaran dan mengasah
kemampuan peserta didik dalam ranah afektif dan ranah kognitifnya.
Penelitian berlangsung dengan baik, pada siklus 1 Nilai rata
rata pencapaian pada pretest dengan materi Perdagangan Internasional
dan Kerjasama Ekonomi Internasional selama apersepsi siswa lebih
banyak mengandalkan temannya, hal ini ditunjukkan dengan sikap
mencontoh teman, tidak percaya diri, sumber materi yang di pelajari
kurang dan dapat dilihat dari beberapa siswa yang tidak mencatat
pelajaran yang disampaikan guru. Penilaian dari pembelajaran pada
siklus 1 pertemuan pertama siswa tidak tuntas memenuhi KKM
sebanyak 21 dari 37 siswa di kelas XII IPS 1 dengan jumlah
presentase 43,24 % kelulusan. Kemudian setelah di adakan penelitian
penilaian peserta didik pada proses post test siklus 2 meningkat
dengan nilai rata rata 81,08 dan presentase kelulusan 89,19% atau
33 siswa tuntas dari 37 siswa dikelas XII IPS 1 pada pembelajaran
Perdagangan Internasional dan Kerjasama Ekonomi Internasional
menggunakan metode Discovery

KATA PENGANTAR

Puji
memberikan

dan

syukur

nikmat

ke

dan

kelapangan, sehingga penulis


judul

hadirat

karuniaNya

Allah
serta

SWT yang telah


kemudahan

dan

dapat menyelesaikan PTK dengan

DISKUSI KELOMPOK

DAN

PEMBERIAN

TUGAS

DALAM METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING


GUNA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR EKONOMI
PADA MATERI PERDAGANGAN INTERNASIONAL BAGI
SISWA KELAS XII IPS 1 DI SMA NEGERI 1 PAMANUKAN.
Penulisan penelitian ini kami susun untuk dikaji dalam bacaan di
perpustakaan sekolah dan dapat d-kai sebagai perbandingan dalam
pembuatan Penelitian Tindakan Kelas ataupun karya ilmiah bagi
teman sejawat juga anak didik pada latihan diskusi ilmiah dalam
rangka pembinaan Penelitian Tindakan Kelas remaja ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan Penelitian Tindakan Kelas
ini jauh dari sempurna untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak selalu penulis harapkan.

Pamanukan, Tgl 3 Oktober 2014


Penulis

Drs. CECEP RACHMAT

DAFTAR ISI
BAB 1. PENDAHULUAN...............................................................................................1
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Latar Belakang Masalah..................................................................................................................1


Perumusan Masalah.........................................................................................................................4
Batasan Masalah..............................................................................................................................5
Manfaat Penelitian...........................................................................................................................5
Tujuan Penelitian.............................................................................................................................6
Definisi Istilah.................................................................................................................................6

BAB II. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN.........................................7


A.
B.
C.
D.
E.

Kajian Teori.....................................................................................................................................7
Pembelajaran Scientific dalam Kurikulum 2013...........................................................................10
Metode Discovery Learning..........................................................................................................12
Materi Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Ekonomi.......................................................19
Refleksi..........................................................................................................................................26

BAB III. METODE PENELITIAN.............................................................................27


A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

Design Penelitian...........................................................................................................................27
Tempat, Waktu Penelitian..............................................................................................................27
Subject Dan Object Penelitian.......................................................................................................28
Definisi Operasional......................................................................................................................28
Langkah Langkah Pembelajaran.................................................................................................28
Teknik Pengumpulan Data.............................................................................................................29
Instrumen Penelitian......................................................................................................................30
Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan..............................................................................................30
Teknik Analisis Data Deskriptif Kuantitatif..................................................................................31
Indikator Keberhasilan Tindakan...................................................................................................32

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................................33


A.
B.
C.

Deskripsi Hasil Penelitian..............................................................................................................33


Hasil dan Pelaksanaan Tindakan...................................................................................................33
Refleksi..........................................................................................................................................44

BAB V.............................................................................................................................45
PENUTUP......................................................................................................................45
A. Simpulan........................................................................................................................................45
B. Saran..............................................................................................................................................45
C. Manfaat Pembelajaran Dengan Metode Kooperatif Mandiri Pendekatan Struktural Team Assisted
Individualization......................................................................................................................................45

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................47
DAFTAR TABE

Tabel 1)

Deskripsi Kegiatan Penelitian..................................................................33

Tabel 2)

Hasil Pretest Siswa Pertemuan 1 Siklus 1...............................................35

Tabel 3)

Lembar Pengamatan Kegiatan Diskusi Kelompok................................37

Tabel 4)

Tabel 7) Lembar Pengamatan Kegiatan Presentasi...............................41

Tabel 5)
Nilai Post Test Siswa Kelas XII IPS 1 / Hasil Nilai Ulangan Mandiri
Siswa Penelitian.............................................................................................................43

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1)

Faktor Belajar Melalui Pendekatan Sistem.........................................8

Gambar 2) Faktor yang mempengaruhi Proses dan Prestasi Belajar (Sumber ;


Ngalim Purwanto 1990;107)...........................................................................................9
Gambar 3)

pendekatan scientific dan 3 ranah yang disentuh...............................11

Gambar 4)

Langkah-langkah pendekatan scientific..............................................12

Gambar 5)

Kerangka Berfikir / Design Penilitian.................................................27

Gambar 6)

Grafik Pengamatan Kegiatan Diskusi.................................................38

DAFTAR LAMPIRA

Lampiran 1)

RPP......................................................................................................49

Lampiran 2)

Lembar Soal Pretest..........................................................................58

Lampiran 3)

Lembar Penugasan Kelompok.........................................................60

Lampiran 4)

Format Penilaian Makalah...............................................................61

Lampiran 5)

.Soal Post Test Ulangan Mandiri......................................................63

Lampiran 6)

Kunci Jawaban Ulangan Mandiri....................................................66

Lampiran 7)

Lembar Pengamatan Kegiatan Diskusi Kelompok........................68

Lampiran 8)

Lembar Pengamatan Kegiatan Presentasi Siswa...........................69

Lampiran 9)

Jadwal Penelitian...............................................................................70

Lampiran 10)

Grafik Ketercapaian Penelitian........................................................71

Lampiran 11)

Ijin Penelitian.....................................................................................72

Lampiran 12)

Dokumentasi Foto..............................................................................73

BAB 1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Ekonomi sebagai bidang ilmu yang mempelajari bagaimana manusia
memenuhi kebutuhan hidupnya yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan
konsumsi barang dan jasa. Semua manusia dalam hidupnya tidak pernah lepas dari
kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi membuktikan bahwa ilmu ekonomi itu
penting. Perubahan paradigma belajar abad 21 menuntut perubahan pengajaran
ekonomi, peserta didik dituntut dapat mengaplikasikan ilmu ekonomi dalam dunia
nyata tidak semata pemahaman konsep. Sehingga dibutuhkan sebuah pedoman yang
dapat mengarahkan guru untuk mendesain dan mempraktikkan pembelajaran di kelas
sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.
Pedoman Guru Mata Pelajaran Ekonomi ini disusun agar guru mendapatkan
pemahaman yang utuh mengenai perubahan paradigma pembelajaran yang dituntut
kurikulum 2013, sehingga guru dapat melakukan perubahan pengajaran di kelas.
Selain itu, pedoman ini juga diharapkan dapat memberikan pengetahuan teknis dalam
menerjemahkan kurikulum kedalam perangkat yang relevan dan menjadi acuan bagi
guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran (RPP) dan berperan dalam proses
pembelajaran di kelas. Perencanaan pembelajaran meliputi bagaimana guru
merancang kegiatan pembelajaran, melakukan penilaian, memilih media dan sumber
belajar yang tepat, sehingga misi utama kurikulum dapat tercapai.
Mata pelajaran ekonomi merupakan mata pelajaran yang bersumber dari
perilaku ekonomi dalam kehidupan sosial masyarakat yang diseleksi dengan
menggunakan konsep-konsep
ilmu ekonomi yang digunakan untuk kepentingan
pembelajaran. Kehidupan sosial masyarakat senantiasa mengalami perubahan dari
waktu ke waktu. Perubahan-perubahan tersebut disebabkan oleh adanya interaksi
sosial baik antar individu maupun kelompok. Dalam konteks yang lebih luas
perubahan yang terjadi melahirkan globalisasi. Dalam globalisasi terjadi pola interaksi
yang serba cepat melewati batas-batas keruangan dan waktu. Maka hubungan antar
individu maupun kelompok dalam globalisasi tersebut melahirkan suatu pola hubungan
yang kompetitif. Individu maupun kelompok dalam pola hubungan ini akan terjadi
hubungan yang saling mempengaruhi. Sistem nilai yang dipegang oleh masing- masing
individu maupun kelompok akan saling berpengaruh dalam pola hubungan tersebut.
Masyarakat yang dibentuk dari pendidikan ekonomi ini adalah masyarakat yang
mendunia namun tetap berpijak pada kearifan lokal. Dalam kearifan lokal, tumbuh
adanya kesadaran keruangan dan kesadaran waktu. Kesadaran ruang yang dimaksud
adalah menyadari dimana dia tinggal, sedangkan kesadaran waktu berkaitan dengan
kapan dia hidup dalam suatu masyarakat. Pendidikan ekonomi juga harus mampu
1

mengatasi masalah-masalah sosial kontemporer pada masyarakat seperti rendahnya


etos kerja dan menurunnya jiwa kewirausahaan.
Pendidikan di sekolah saat ini diarahkan menuju proses pembelajaran yang
interaktif yang menjadikan peserta didik sebagai subjek dan objek pembelajaran,
sehingga peserta didik menjadi aktif tidak lagi pasif dalam pembelajaran. Merupakan
tugas dan peran seorang pendidik untuk merancang bagaimana menciptakan suatu
proses pembelajaran interaktif yang menjadikan peserta didik sebagai pemeran utama
dalam proses pembelajaran. Serta bagaimana memfasilitasi peserta didik agar
mudah memahami materi yang diajarkan sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai Tujuan pengajaran merupakan suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang
diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pengajaran (Hamalik, 2008 :109).
Tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran tersebut ditentukan oleh proses belajar
yang dialami peserta didik. Peserta didik yang belajar diharapkan mengalami
perubahan yang positif dalam pengetahuan, pemahaman, nilai dan sikap. Keberhasilan
tujuan pembelajaran yang ditetapkan juga dapat dilihat dari capaian hasil belajar
peserta didik. Proses pembelajaran dikatakan berhasil jika hasil belajar yang dicapai
peserta didik pada suatu materi pokok telah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum
(KKM) yang telah ditetapkan.
Ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi dan berkembang dengan sumber daya
yang ada. Pembelajaran ekonomi lebih difokuskan kepada fenomena empirik ekonomi
yang ada disekitar peserta didik, sehingga peserta didik dapat merekam peristiwa
ekonomi yang terjadi disekitar lingkungannya dan mengambil manfaat untuk
kehidupannya yang lebih baik. Artinya melalui pembelajaran ekonomi ini peserta didik
akan mendapatkan pengetahuan dan bekal yang cukup ketika mereka terjun ke dalam
masyarakat ekonomi, sehingga mereka dapat memecahkan masalah- masalah ekonomi
yang akan di hadapinya dimasa yang akan datang.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka mata pelajaran ekonomi penting
untuk dipelajari. Tetapi yang terjadi dilapangan banyak peserta didik yang kurang
tertarik dengan mata pelajaran ekonomi. Hal ini tercermin dari kurang maksimalnya
hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi. Begitupula yang terjadi di SMA Negeri 1
Pamanukan Kabupaten Tegal. Masih banyak peserta didik yang memperoleh nilai
dibawah KKM yang telah ditetapkan sekolah sebesar 75. Ketuntasan klasikal
hasil belajar peserta didik hanya mencapai 43,75% sedangkan 56,25% peserta didik
belum mampu mencapai kriteria ketuntasan minimum. Ketuntasan klasikal tersebut
masih kurang dari ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan sekolah yaitu 80%.
Kemandirian dalam belajar adalah aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih
didorong oleh niat atau motif sendiri untuk menguasai sesuatu kompetensi guna
mengatasi sesuatu masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi
yang dimiliki (Mudjiman, 2007:7). Kemandirian belajar siswa diperlukan agar mereka
mempunyai tanggung jawab dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya.
2

Berdasarkan hasil wawancara didapatkan informasi bahwa tidak hanya hasil


belajar yang kurang maksimal tetapi kemandirian belajar siswa juga masih
rendah. Hal ini tercermin dari hasil pengamatan yang telah dilaksanakan pada tanggal
4 Februari 2015 yang menunjukan bahwa kemandirian belajar siswa masih
rendah. Kemandirian belajar tersebut bisa dilihat dari berbagai aspek seperti inisiatif,
disiplin, percaya diri, tanggung jawab dan aktif.
Salah satu aspek inisiatif ini bisa dilihat dari banyak siswa yang hanya
mengandalkan satu buku sebagai sumber belajar dan tidak berusaha untuk
mencari sumber belajar yang lain, selain buku yang disarankan oleh guru
ekonomi. Bahkan ada siswa yang tidak membawa buku dan mengandalkan buku yang
dibawa oleh teman satu bangku. Kemudian aspek kedisiplinan bisa di lihat dari masih
banyak siswa yang berbicara sendiri ataupun bermain handphone ketika guru
sedang menjelaskan materi.
Aspek percaya diri, bisa dilihat dari sikap kemasih ragu-raguan siswa ketika
mengungkapkan pendapatnya. Aspek tanggung jawab bisa dilihat dari keterlambatan
siswa ketika masuk kelas maupun mengumpulkan tugas. Aspek tanggung jawab
yang lainnya yaitu masih banyak siswa yang hanya mengandalkan teman satu
kelompoknya ketika diskusi, dan yang terakhir pada aspek keaktifan bisa dilihat dari
ketika guru mempersilahkan untuk bertanya hanya sedikit siswa yang bertanya dan
ketika guru bertanya hanya sedikit siswa pula yang berani menjawab. Menurut guru
mata pelajaran ekonomi kondisi tersebut hampir sama terjadi pada semua kelas. Hal
tersebut menunjukan bahwa kemandirian belajar masih tergolong rendah.
Melihat permasalah diatas maka variasi model pembelajaran yang sesuai
dengan pendekatan scientific dalam kurikulum 2013 diperlukan untuk mengatasi
masalah hasil belajar dan kemandirian belajar siswa tersebut. Model pembelajaran
guided discovery learning akan coba diterapkan untuk mendorong siswa untuk lebih
aktif dan mandiri dalam belajar serta membantu siswa memahami materi mengenai
manajemen.
Model pembelajaran guided discovery learning menurut Hosnan (2014:280)
merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan
konstruktivisme. Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan kita itu adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri.
Pendapat tersebut senada dengan Trianto (2007:108) yang berpendapat bahwa manusia
harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan teori konstrukstivisme siswa akan terbiasa memecahkan masalah, menemukan
sesuatu yang baru, dan juga menemukan ide-ide. Dalam pembelajaran, siswa
membangun sendiri pengetahuan mareka melalui keterlibatan aktif didalam proses
belajar mengajar.
Model pembelajaran penemuan terbimbing (guided discovery learning)
merupakan model pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa
3

memperoleh pengetahuan baru dengan panduan dari guru. Pada model pembelajaran
penemuan terbimbing (guided discovery learning) tugas guru hanyalah sebagai
fasilitator. Siswa dijadikan sebagai subjek dan objek dalam belajar yang mempunyai
kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai kemampuan yang
dimilikinya, dengan demikian meski mendapatkan bimbingan guru rasa penemuan
(penyelidikan) yang dilakukan oleh peserta didik masih dapat dirasakan.
Model pembelajaran ini mendukung untuk lebih memahami materi pada mata
pelajaran ekonomi, khusunya pada materi pokok manajemen karena, materi manajemen
yang berkarakteristik hafalan, teori dan pemahaman konsep akan mudah dipahami apa
bila peserta didik dapat memahaminya berdasarkan pengalaman yang mereka miliki.
Artinya mereka dapat melihat atau mengamati fenomena-fenomena ekonomi terkait
materi yang ada di dalam materi pokok manajemen dalam lingkungan disekitar
mereka. Hal ini sesuai dengan karakteristik dalam model pembelajaran guided
discovery learning yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun
pengetahuan dan pemahaman baru yang didasari pada pengalaman nyata (Hosnan,
2014:285). Selain itu model pembelajaran penemuan terbimbing (guided discovery
learning) ini juga dapat melatih kemandirian belajar siswa. Karena pada pembelajaran
ini yang menjadi subjek dan objek belajar adalah peserta didik, guru hanya sebagai
fasilitator. Siswa dilatih untuk belajar secara mandiri dengan menemukan konsepkonsep baru dengan kemampuan dan pengalamannya, sedangkan guru hanya
membimbing, agar siswa lebih terarah dalam menemukan konsep baru tersebut.
Beberapa keunggulan model pembelajaran penemuan terbimbingan (guided
discovery learning) antara lain siswa aktif dalam kegiatan belajar, siswa
memahami benar bahan pelajaran, melatih siswa untuk lebih banyak belajar
sendiri, dapat menanamkan rasa ingin tahu pada siswa dan menumbuhkan kerjasama
dan interaksi antar siswa. Penggunaan model penemuan terbimbing dalam
pembelajaran juga berpengaruh pada kemandirian belajar dan hasil belajar siswa.
Penerapan model pembelajaran penemuan terbimbingan (guided discovery learning) ini
diharapkan peserta didik lebih memahami konsep-konsep ekonomi khususnya pada
materi pokok manajemen sehingga hasil belajar dapat ditingkatkan dan
kemandirian belajar siswa menjadi lebih baik. Atas dasar tersebut diambil
penelitian dengan judul :

DISKUSI KELOMPOK DAN PEMBERIAN TUGAS DALAM


METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING GUNA
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR EKONOMI PADA
MATERI PERDAGANGAN INTERNASIONAL BAGI SISWA
KELAS XII IPS 1 DI SMA NEGERI 1 PAMANUKAN
B. Perumusan Masalah

Perumusan masalah di dasarkan pada Ketercapaian tujuan dalam aspek


pembelajaran Ekonomi yakni meliputi Percaya diri, Inisiatif Belajar, Kedisiplinan
Belajar, Tanggung jawab, Keaktifan pembelajaran, dengan menentukan model
pembelajaran Discovery Learning guna memenuhi Variasi Model bagi Guru dalam
Pembelajaran Ekonomi berdasarkan Scienfic Kurikulum 2013.
C. Batasan Masalah
Agar masalah yang teridentifikasi dapat terarah dan dikaji secara mendalam,
maka perlu adanya pembatasan masalah. Dalam penelitian ini, peneliti membatasi
masalah pada peningkatan kualitas pembelajaran dengan penerapan metode Resitasi
pada mata pelajaran akuntansi. Beberapa hal yang terkait dengan peningkatan kualitas
pembelajaran dalam penelitian ini adalah :
1. Kualitas pembelajaran adalah tingkat pencapaian tujuan pembelajaran yang
meliputi beberapa indikator, antara lain: (1) keaktifan siswa selama apersepsi, (2)
keaktifan siswa dalam kelompok saat mengikuti pembelajaran, (3) kemandirian
dalam mengerjakan soal, (4) ketuntasan hasil belajar (standar nilai KKM 75).
2. Mata pelajaran Ekonomi yang dijadikan sebagai objek penelitian dikhususkan pada
pokok bahasan Perdagangan Internasional dan Kerja sama Ekonomi Internasional.
3. Ketuntasan belajar siswa dalam penelitian ini adalah sekurang kurangnya 80%
siswa memenuhi standart Kriteria Ketuntasan Minimal 75 di SMA N 1 Pamanukan.
D. Manfaat Penelitian
Dalam suatu penelitian diharapkan mampu untuk menghasilkan sesuatu yang
bermanfaat. Hasil dari penelitian yang dilakukan ini diharapkan akan memberikan
manfaat secara praktis dan secara teoritis, yaitu :
1.

Manfaat teoritis
a. Memberikan kontribusi positif yang bermanfaat dalam dunia
pendidikan,
khususnya
mengenai
penerapan
metode
pembelajaran Resitasi terhadap peningkatan prestasi belajar
siswa.
b. Penelitian
ini diharapkan dapat
menjadi
bahan
pertimbangan dan pengembangan bagi penelitian-penelitian di
masa yang akan datang pada bidang permasalahan yang sejenis.

2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
Mendapat kemudahan dalam belajar dan memahami
materi akuntansi dengan metode pembelajaran Resitasi, sehingga
berdampak pada capaian prestasi belajar siswa.
5

b. Bagi Guru
Sebagai masukan bagi guru di bidang studi Akuntansi
sebagai suatu pendekatan metode pembelajaran alternatif yang
dapat digunakan dalam rangka meningkatkan prestasi belajar
siswanya.
E. Tujuan Penelitian
Secara Umum tujuan penelitian dengan metode Discovery Learning dengan
pemberian tugas dan diskusi kelompok adalah untuk menumbukan sikap percaya diri,
inisiatif belajar, disipilin, punya tanggung jawab, dan aktif, dalam kaitannya penerapan
variasi model pembelajaran scientific kurikulm 2013.
F. Definisi Istilah
1) Discovery Learning
Model Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan,
melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan
(Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam
penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip.
2) Karakter
Karakter adalah atribut atau ciri khusus yang membentuk dan
membedakan individu dengan kombinasi rumit antara mental serta nilai-nilai etika
yang membentuk seseorang, kelompok atau bangsa (Ikhwanuddin, 2014). Nilai
karakter yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah disiplin, rasa ingin tahu,
dan komunikatif. Disiplin merupakan tindakan yang menunjukkan perilaku tertib
dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Rasa ingin tahu merupakan sikap
dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas
dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. Komunikatif diartikan sebagai
tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja
sama dengan orang lain.
3) Pendekatan Scientific
Scientific Approach merupakan satu pendekatan yang digunakan dalam
pembelajaran dengan menitikberatkan pada penggunaan metode ilmiah dalam
kegiatan belajar mengajar. Hal ini di dasari pada esensi pembelajaran yang
sesungghnya merupakan sebuah proses ilmiah yang dilakukan oleh siswa dan guru.
Pendekatan ini diharapkan bisa membuat siswa berpikir ilmiah, logis, kritis dan
objektif sesuai dengan fakta yang ada.

BAB II. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A Kajian Teori
4. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Dengan belajar manusia mampu mengembangkan potensi- potensi yang
dibawanya sejak lahir sehingga nantinya mampu menyesuaikan diri demi
pemenuhan kebutuhan.
Pengertian belajar menurut Marris L Bigge dalam bukunya Darsono (2000:3)
adalah suatu perubahan yang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak
diwariskan secara genetis. Dalam hal ini perubahan yang dimaksud terjadi pada
pemahaman, perilaku, persepsi, motivasi atau campuran dari semuanya secara
sistematis sebagai akibat pengalaman dalam situasi-situasi tertentu.
Sedang menurut Hilgard dan Bower dalam bukunya Ngalim Purwanto
(1990:84) mengatakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku
individu terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman yang
berulang-ulang. Perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar
kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan sesaat seseorang
(misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).
Selanjutnya pengertian belajar menurut Oemar Hambalik (2003:27,28) yaitu:
Belajar adalah suatu cara untuk memotivasi dan mempertegas kelakuan melalui
pengalaman dan merupakan proses perubahan tingkah laku individu melalui
interaksi dengan lingkungannya sehingga akan terjadi serangkaian pengalamanpengalaman belajar.
Dari pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa yang disebut
belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang yang disebabkan adanya
pengalaman untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap dari seseorang
yang melakukan kegiatan belajar.
5. Faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa belajar adalah hal yang menimbulkan
proses perubahan dalam tingkah laku dan kecakapan. Sampai dimana perubahan
ini dapat tercapai atau dengan kata lain, berhasil atau tidak tergantung pada
beberapa faktor. Faktor-faktor belajar menurut Ngalim Purwanto (1990:120) dibedakan
menjadi dua yaitu:
1. Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang disebut faktor individu.
7

2. Faktor yang ada diluar individu yang disebut sebagai faktor sosial.
Yang termasuk dalam faktor individual antara lain: faktor kematangan atau
pertubuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi. Sedangkan yang
dimaksud faktor sosial antara lain faktor keadaan keluarga, guru dan cara mengajar,
lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial.
Untuk memahami kegiatan belajar perlu dilakukan analisis untuk menemukan
persoalan-persoalan apa yang terlibat dalam kegiatan belajar itu. Belajar sebagai suatu
proses tentu memerlukan input atau masukan dan output atau keluaran. Jadi dalam
hal ini kita dapat menganalisis kegiatan
belajar
dengan
mengunakan
pendekatan analisis sistem. Pendekatan sistem dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1) Faktor Belajar Melalui Pendekatan Sistem


Gambar di atas menunjukkan bahwa masukan mentah (input) merupakan bahan
baku yang diolah dalam hal ini pengalaman belajar tertentu dalam proses belajar
mengajar. Dalam proses belajar berpengaruh juga faktor lingkungan (inviromental
input) dan sejumlah faktor yang sengaja ditantang dan dimanipulasi (instrumen
input) guna menunjang tercapainya output yang dikehendaki.
Di samping itu juga masih ada lagi faktor lain yang mempengaruhi proses dan
prestasi belajar pada setiap orang yang dapat diiktisarkan sebagai berikut :

Gambar 2) Faktor yang mempengaruhi Proses dan Prestasi Belajar (Sumber ; Ngalim
Purwanto 1990;107)
Dari beberapa pendapat yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa
proses belajar untuk memperoleh suatu pengetahuan, keterampilan dan perubahan
sikap seseorang yang dipengaruhi oleh faktor-faktor belajar.
3. Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan hasil yang tercapai seseorang setelah melakukan
suatu proses belajar. Prestasi belajar merupakan perubahan tingkah laku kognitif,
tingkah laku afektif dan tingkah laku psikomotorik.
Menurut Zaenal Arifin (1991:3) prestasi adalah kemampuan, keterampilan dan
sikap seseorang dalam menyelesaikan sesuatu hal. Sedangkan
menurut
Poerwadarminto (1995:787) yang dimaksud dengan prestasi adalah
hasil yang
telah dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya (1995:787).
Dalam hal ini, prestasi hanya dibatasi dalam bidang pendidikan khususnya
pengajaran. Prestasi belajar merupakan suatu hal yang penting dalam
kehidupan manusia. Manusia selalu berusaha mengejar prestasi menurut bidang dan
kemampuan masing-masing. Suatu prestasi belajar tidak hanya sebagai indikator,
keberhasilan dalam bidang studi tertentu, tetapi juga sebagai indikator kualitas
institusi pendidikan. Selain itu juga, prestasi belajar juga berfungsi sebagai umpan
balik bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
Menurut Cronbach dalam bukunya Zaenal Arifin (1991:4), mengatakan bahwa
kegunaan prestasi belajar adalah sebagai umpan balik bagi pendidik dalam
mengajar, untuk keperluan diaknosis, untuk keperluan bimbingan dan penyuluhan,
9

untuk keperluan penempatan, untuk penentuan isi kurikulum dan yang menentukan
kebijaksanaan sekolah. Penilaian hasil-hasil pendidikan ialah mengetahui sejauh mana
kemajuan anak didik. Untuk menyatakan adanya suatu kemajuan atau keberhasilan
program belajar harus dilakukan dengan pengukuran proses secara terencana.
Menurut Robert L Embe (1997) mengatakan bahwa fungsi utama tes
prestasi di kelas adalah mengukur prestasi belajar para siswa (Azwar 1987:16). Dari
uraian di atas prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang diperoleh oleh
siswa selama melaksanakan proses belajar dengan memperoleh pengetahuan dan
keterampilan, yang diukur dengan tes yang dilaporkan dengan bentuk raport.

G. Pembelajaran Scientific dalam Kurikulum 2013


6. Konsep Pendekatan Scientific dalam Kurikulum 2013
Pada penerapan (implementasi Kurikulum 2013) di lapangan (baca:
sekolah), guru salah satunya harus menggunakan pendekatan ilmiah (scientific),
karena pendekatan ini lebih efektif hasilnya dibandingkan pendekatan tradisional.
7. Kriteria Pendekatan Scientific (Pendekatan Ilmiah)
Lalu bagaimanakah kriteria sebuah pendekatan pembelajaran sehingga dapat
dikatakan sebagai pendekatan ilmiah atau pendekatan scientific? Berikut ini tujuah
(7) kriteria sebuah pendekatan pembelajaran dapat dikatakan sebagai
pembelajaran scientific, yaitu:

10

1.

Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat


dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira,
khayalan, legenda, atau dongeng semata.

2.

Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas


dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang
menyimpang dari alur berpikir logis.

3.

Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan


tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan
mengaplikasikan materi pembelajaran.

4.

Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam


melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi
pembelajaran.

5.

Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan


mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon
materi pembelajaran.

6.

Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat


dipertanggungjawabkan.

7.

Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun


menarik sistem penyajiannya.
8. Langkah-Langkah

Pembelajaran

pada

Pendekatan Scientific (Pendekatan Ilmiah)

Gambar 3) pendekatan scientific dan 3 ranah yang disentuh


Proses pembelajaran yanag mengimplementasikan pendekatan scientific
akan menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan
keterampilan (psikomotor). Dengan proses pembelajaran yang demikian maka
11

diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif,
dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang
terintegrasi.
Perhatikan
diagram
berikut.
Adapun penjelasan dari diagram pendekatan pembelajaran scientific (pendekatan
ilmiah) dengan menyentuh ketiga ranah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta
didik tahu mengapa.

Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar


peserta didik tahu bagaimana.

Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar


peserta didik tahu apa.

Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan


untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki
kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari
peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.

Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam


pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.

Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana


dimaksud meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk
jejaring untuk semua mata pelajaran.

Langkah-langkah pembelajaran scientific meliputi:

Gambar 4) Langkah-langkah pendekatan scientific


H. Metode Discovery Learning
Pembelajaran penemuan (discovery learning) merupakan suatu rangkaian
kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta
didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis, sehingga
mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keteramplan sebagai wujud
adanya perubahan perilaku (Suhana, 2014:44). Pembelajaran penernuan (discovery)
dibedakan menjadi 2, yaitu pembelajaran penemuan bebas (free discovery learning)
dan pembelajaran penemuan terbimbing (guided discovery learning).
Dalam
12

pelaksanaannya, pembelajaran penernuan terbimbing (Guided Discovery Learning)


lebih banyak diterapkan, karena dengan petunjuk guru siswa akan bekerja lebih terarah
dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Hamalik (2008:188) guided discovery learning termasuk dalam sistem
pembelajaran dua arah karena melibatkan siswa dalam menjawab pertanyaanpertanyaan guru. Siswa melakukan discovery, sedangkan guru membimbing
mereka kearah yang benar/tepat. Senada dengan pendapat tersebut, Suhana (2014:44)
mengungkapkan bahwa guided discovery learning yaitu pelaksanaan penemuan
dilakukan atas petunjuk dari guru. Pembelajarannya dimulai dari guru mengajukan
berbagai pertanyaan yang melacak, dengan tujuan untuk mengarahkan peserta didik
kepada titik kesimpulan kemudian siswa melakukan percobaan untuk membuktikan
pendapat yang dikemukakan.
Pembelajaran dengan menggunakan model guided discovery bertujuan
untuk memperbaiki pola pengajaran yang selama ini hanya mengarah kepada
menghafal fakta-fakta saja, tetapi tidak memberikan kepada siswa pengertian konsepkonsep dan atau prinsip-prinsip yang terdapat dalam suatu materi pelajaran.
Dalam pembelajaran guided discovery ini siswa melakukan percobaan dengan
mengamati fenomena-fenomena yang berhubungan dengan materi yang terjadi
disekitar mereka serta mengumpulkan informasi dari hasil pengatan tersebut untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru dalam upaya menemukan
konsep-konsep berdasarkan data yang diperoleh dan membandingkannya dengan teori
yang terdapat dalam modul atau buku pelajaran. Dengan demikian, siswa diharapkan
dapat mengembangkan keterampilan berfikirnya dengan menemukan sendiri konsepkonsep dari materi yang diajarkan dan pemahaman konsep siswa akan lebih bersifat
permanent atau tidak akan mudah hilang dari ingatan. Berdasarkan pendapat tersebut
maka dapat disimpulkan model pembelajaran penemuan terbimbing (guided
discovery learning) merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa belajar
secara aktif dan mandiri dalam menemukan suatu konsep atau teori, pemahaman,
dan pemecahan masalah. Proses penemuan tersebut membutuhkan guru sebagai
fasilitator dan pembimbing. Banyaknya bantuan yang diberikan guru tidak
mempengaruhi siswa untuk melakukan penemuan sendiri.
9. Karakteristik Pembelajaran Guided Discovery Learning
Ciri utama belajar penemuan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan
masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan;
(2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan
pengetahuan yang sudah ada. Berdasarkan ciri-ciri tersebut maka menururt Hosnan
(2014:284) pembelajaran guided discovery learning memiliki karakteristik
sebagai berikut yaitu:
a.

Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar


13

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.

Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajar pada siswa.


Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin dicapai.
Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekan pada
hasil.
Mendorong siswa untuk mampu melakukan penyelidikan.
Menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar.
Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada siswa.
Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa.
Mendasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip kognitif.
Banyak menggunakan terminilogi kognitif untuk menjelaskan proses
pembelajaran; seperti predeksi, inferensi, kreasi dan analisis.
Menekankan pentingnya bagaimana siswa belajar.
Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi
dengan siswa lain dan guru.
Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif.
Menekankan pentingnya konteks dalam belajar.
Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar.
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuan dan
pemahaman baru yang didasari pada pengalaman nyata.
10. Peran Guru dalam Pembelajaran Guided Discovery
Learning

Dahar dalam Hosnan (2014:286) mengemukakan beberapa peranan guru


dalam pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai berikut:
a.
Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat
pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa.
b.
Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para
siswa untuk memecahkan masalah. Sudah seharusnya materi pelajaran itu
dapat mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar
penemuan, misalnya dengan menggunakan fakta-fakta yang berlawanan.
c.
Guru juga harus memperhatikan cara penyajian yang enaktif, ikonik, dan
simbolik.
d.
Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru
hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru
hendaknya jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan
yang akan dipelajari, tetapi ia hendaknya memberikan saran-saran
bilamana diperlukan. Sebagai tutor, guru sebaiknya memberikan umpan
balik pada waktu yang tepat.
e.
Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar
penemuan.
Secara garis besar tujuan belajar penemuan ialah mempelajari generalisasigeneralisasi dengan menemukan generalisai-generalisasi itu.
14

11. Langkah-Langkah

Pembelajaran

Guided

Discovery

Learning
Langkah-langkah pembelajaran yang tepat sangat menentukan keberhasilan
suatu model pembelajaran. Menurut Suryosubroto (2009:184) langkah-langkah
penerapan model pembelajaran penemuan adalah sebagai berikut:
1.
Identifikasi kebutuhan siswa.
2.
Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian
konsep dan generalisasi yang akan dipelajari.
3.
Seleksi bahan, dan problema/tugas-tugas.
4.
Membantu memperjelas Tugas/ problema yang akan dipelajari.dan
Peranan masing-masing siswa.
5.
Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan.
6.
Mencek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan
dipecahkan dan tugas-tugas siswa.
7.
Memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan.
8.
Membantu siswa dengan informasi/ data, jika diperlukan oleh siswa.
9.
Memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan
yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses.
10.
Merangsang terjadinya interaksi antarsiswa dengan siswa.
11.
Memuji dan membesarkan siswa yang bergiat dalam proses
penemuan.
12.
Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi
atas hasil penemuannya.
Sedangkan menurut Hosnan (2014:289) langkah-langkah penerapan model
pembelajaran penemuan adalah sebagai berikut:
1.
Menentukan tujuan pembelajaran.
2.
Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik (kemampuan awal,
minat, gaya belajar dan sebagainya).
3.
Memilih materi pelajaran yang akan dipelajari.
4.
Menetukan topik-topik yang harus diprlajari peserta didik secara
induktif(dari contoh-contoh generalisasi).
5.
Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh,
ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari peserta didik.
6.
Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks,
dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai
ke simbolik.
7.
Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.
12. Prosedur

Aplikasi

Learning
15

Pembelajaran

Guided

Discovery

Menurut Syah dalam Hosnan (2014:289) ada beberapa prosedur yang harus
dilaksanakan dalam kegiatan belajar penemuan, yaitu; (1) stimulus (pemberian
perangsang/stimuli), (2) problem statement (mengidentifikasi masalah), (3) data
collection (pengumpulan data), (4) data processing (pengolahan data), (5)
verifikasi, dan (6) generalisasi.
1.

Stimulation (stimulus/pemberian rangsangan)

Pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan
kebingungannya,
kemudian dilanjutkan
untuk tidak
memberi
generanisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Pada tahap
ini guru dapat memulai kegiatan proses belajar mengajar dengan
mengajukan beberapa pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas
belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi
belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam
mengeksplorasi bahan.
2.

Problem Statement (pernyataan/identifikasi masalah)

Pada tahap ini guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan
dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan
dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan
masalah).
3.

Data Collection (pengumpulan data)

Pada tahap ini guru memberikan kesempatan peserta didik untuk


mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.
4.

Data Processing (pengolahan data)

Pada tahap ini siswa mengolah data yang sudah didapat di identifikasi atau
di analisis untuk membentuk suatu konsep atau generalisasi. Dari
generalisasi tersebut peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru
tentang alternatif jawaban/penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian
secara logis.
5. Verification (pembuktian)
Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk
membuktikan kebenaran atau setidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi
dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing.
16

6.

Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

Pada tahap ini siswa menarik kesimpulan atau membuat kesimpulan atas
jawaban dari permasalahan yang telah di berikan sebelumnya.
13. Kelebihan

dan

Kekurangan

Pembelajaran

Guided

Discovery Learning

Setiap model pembelajaran pasti tidak ada yang sempurna, begitupun


dengan model pembelajaran guided discovery learning. Model pembelajaran guided
discovery learning mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan sehingga perlu
adanya pemahaman dalam melaksanakan model pembelajaran tersebut. Suryosubroto
(2009:185) memaparkan beberapa kelebihan model pembelajaran penemuan sebagai
berikut:
1.
Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak
persediaan dan penguasaan keterampilan dan proses kognitif siswa.
2.
Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan mungkin
merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh; dalam arti pendalaman
dari pengertian; retensi, dan transfer.
3.
Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa
merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan
dan kadang-kadang kegagalan.
4.
Model ini memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju
sesuai dengan kemampuannya sendiri.
5.
Model ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya,
sehingga ia lebih merasa terlibat dan termotivasi sendiri untuk belajar.
6.
Model ini dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya
kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan.
7.
Strategi ini berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan kepada
mereka dan guru berpartisipasi sebagai sesama dalam mengecek ide.
8.
Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat untuk
menemukan kebenaran akhir dan mutlak.
Sedangkan menurut Hosnan (2014:287) kelebihan model pembelajaran
penemuan adalah :
1.
Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan
masalah.
2.
Strategi ini memungkinkan peserta didik berkembang dengan
cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri
3.
Peserta didik akan mengerti konsep dasar yang lebih baik
4.
Mendorong peserta didik berpikir atau bekerja atau inisiatif sendiri
17

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Mendorong peserta didik berpikir intuisi dan menemukan hipotesis


sendiri
Situas proses belajar lebih terangsang
Menimbulkan rasa senang peserta didik, karena tumbuhnya rasa
menyelidiki dan berhasil
Kemungkinan peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai
sumber belajar
Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
Melatih siswa belajar mandiri
Siswa aktif dalam pembelajaran sebab ia berpikir dan menggunakan
kemampuan untuk menemukan hasil akhir.

Selain mempunyai beberapa kelebihan model pembelajaran penemuan juga


memiliki beberapa kekurangan. Menurut Suryosubroto (2009:186) kelemahan
model pembelajaran penemuan sebagai berikut:
1.
Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk
cara belajar ini.
2.
Model ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar.
3.
Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin
mengecewakan guru dan siswa yang sudah biasa dengan
perencanaan dan pengajaran secara tradisional.
4.
Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang
sebagai terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan
kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan keterampilan.
5.
Dalam beberapa ilmu (misalnya IPA) fasilitas yang
dibutuhkan untuk mencoba ide-ide mungkin tidak ada.
6.
Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk
berfikir kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan
ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru,
demikian pula proses-proses di bawah pembinaannya tidak
semua pemecahan masalah menjamin penemuan yang penuh
arti.
Sedangkan menurut Hosnan (2014:288) kelemahan model pembelajaran
penemuan adalah:
1.
Menyita waktu banyak. Guru dituntut mengubah
kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi
informasi menjadi fasilitator, motivator, dan
pembimbing siswa dalam belajar. Untuk seorang guru
ini bukan pekerjaan yang mudah karena itu guru
memerlukan waktu yang banyak. Dan sering kali
guru merasa belum puas kalau tidak banyak memberi
motivasi dan membimbing siswa belajar dengan baik.
2.
Menyita pekerjaan guru.
3.
Tidak semua siswa mampu melakukan penemuan
18

4.

Tidak berlaku untuk semua topik

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa model guided


discovery learning tidak hanya memiliki kelebihan, tetapi juga memeliki beberapa
kelemahan. Oleh karena itu perlu adanya pemahaman yang mendalam mengenai
model ini supaya dalam penerapannya dapat terlaksana dengan efektif.

I. Materi Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Ekonomi


1. Kerjasama ekonomi Internasional
A. Pengertian kerjasama ekonomi Internasional
Istilah kerja sama ekonomi internasional tidak sama dengan perdagangan
internasional. Kerja sama ekonomi internasional mempunyai cakupan yang lebih
luas daripada perdagangan internasional.
Perdagangan internasional, yaitu kegiatan perdagangan barang dan jasa
yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk di negara lain.
Sebagian orang menganggap bahwa perdagangan internasional identik dengan kerja
sama ekonomi internasional atau hubungan ekonomi intemasional. Hal ini
sebetulnya keliru. Pengertian kerja sama ekonomi internasional jauh lebih luas dari
sekadar perdagangan internasional.
Lebih jelas, kerja sama ekonomi internasional mencakup hal-hal berikut:
1. Perdagangan internasional (ekspor-impor) berlaku untuk barang
maupun jasa, seperti barang konsumsi dan bahan baku, maupun
seperti jasa tenaga ahli dan konsultan.
2. Pertukaran sarana atau faktor-faktor produksi, terutama untuk
sarana dan prasarana produksi yang mudah bergerak seperti
tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, teknologi, dan modal.
3. Hubungan utang-piutang, yang timbal karena adanya dua
kegiatan di atas. Perdagangan internasional dan pembayaran
atas sarana dan prasarana produksi, umumnya tidak dilakukan
19

secara

tunai,

melainkan

dengan

sistem

kredit

yang

menyebabkan adanya hubungan utang-piutang.

Dapat disimpulkan bahwa kerja sama ekonomi internasional adalah kerja sama
ekonomi yang timbal karena perdagangan internasional, pertukaran sarana-prasarana
produksi, dan hubungan utang-piutang yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan
penduduk dari negara-negara lain.
Dengan demikian kerjasama ekonomi internasional adalah hubungan antara suatu
negara dengan negara lainnya dalam bidang ekonomi melalui kesepakatan-kesepakatan
tertentu, dengan memegang prinsip keadilan dan saling menguntungkan.
B. Bentuk-bentuk kerjasama ekonomi Internasional
Jika antar-negara menjadi kata kunci dalam ekonomi internasional, maka sejak
dahulu pun kerja sama ekonomi internasional sudah dilakukan oleh para pedagang.
Pedagang Arab sudah melakukan kontak dagang dengan negara-negara yang
didatanginya, untuk sekaligus menyebarkan agama Islam (abad ke-8 hingga 15M). Pada
abad ke-14 Malaka menjadi pelabuhan dagang yang menarik banyak pedagang dari banyak
tempat di Asia dan Afrika. Di jalanan kola Malaka sekitar 84 bahasa digunakan. Malaka
menjadi pusat dagang dan budaya multietnis. menyamai New York, Los Angeles, atau
Hong Kong saat ini.
Antara tahun 1405 dan 1433, Cheng Ho, atau Admiral Zheng He, mengepalai tujuh
pelayaran yang meliputi 62 kapal besar untuk melakukan perdagangan maritim ke negaranegara di Asia Tenggara, India, Teluk Persia, Lout Merah, Semenanjung Arab, hingga
pantai Afrika Timur dan Kilwa di Tanzania.
Bangsa Eropa tertarik menemukan sumber rempah-rempah di Timur Jauh. lni
membawa mereka mendatangi Malaka, bahkan kemudian merebutnya. Inilah yang
mengawali penjajahan bangsa Eropa di Asia.
Bentuk Kerja Sama Ekonomi Internasional
A. Menurut bidang kerja sama
a.

Bidang keuangan
20

Kerja sama ekonomi di bidang keuangan ini sangat dibutuhkan oleh negara-negara yang
sedang berkembang guna membiayai pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan
masyarakatnya. Contoh kerja sama bidang keuangan adalah IMF dan Bank Dunia.
b.

Bidang perdagangan

Kerja sama di bidang perdagangan membicarakan masalah jenis dan jumlah barang yang
ingin diperjualbelikan, termasuk di dalamnya masalah pengaturan tentang pengenaan pajak
ekspor, tarif, bea masuk, dan lain-lain bagi negara-negara anggota. Bentuk badan kerja
sama ini antara lain WTO, APEC, dan GATT.
c.

Bidang perburuhan

Kerja sama di bidang perburuhan mengatur masalah hak-hak dan kewajiban buruh, serta
masalah peningkatan kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup dan kesehatan buruh bagi
negaranegara anggota. Contoh badan kerja sama ini adalah ILO (International Labour
Organization).
d.

Bidang pasar bersama

Bidang kerja sama ini memberikan keleluasaan kepada anggota untuk melakukan transaksi
perdagangan dengan sesama anggota.
B. Menurut ruang lingkup kerja sama
a)

Kerja sama bilateral

Kerja sama ekonomi bilateral merupakan kerja sama antara dua negara. Sifat kerja sama ini
adalah saling membantu pada bidang produksi, perdagangan, dan lain-lain yang saling
menguntungkan. Contoh kerja sama Indonesia dengan Cina.
b)

Kerja sama multilateral

Kerja sama ekonomi multilateral merupakan kerja sama ekonomi tiga negara atau lebih.
Sifat kerja sama ini adalah politik ekonomi internasional untuk membebaskan
perekonomian internasional dari pembatasan bilateral. Contoh: perdagangan yang
melibatkan Indonesia, Cina, dan Jepang.
c)

Kerja sama regional


21

Kerja sama regional merupakan kerja sama ekonomi antarnegara yang satu dengan yang
lain dalam satu kawasan tertentu. Sifat kerja sama ini adalah saling membantu. Contoh:
kerja sama negara-negara yang tergabung dalam ASEAN.
d)

Kerja sama antar regional

Kerja sama ekonomi antarregional merupakan kerja sama ekonomi antar kelompok negaranegara dalam satu kawasan dengan kawasan/kelompok yang lain. Manfaat kerja sama ini
adalah dapat menata perekonomian dengan baik. Contoh: kerja sama ASEAN dengan Uni
Eropa.
e)

Kerja sama internasional

Kerja sama ekonomi internasional merupakan kerja sama ekonomi negara-negara di dunia.
Manfaat kerja sama ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan membuka
diri terhadap negara lain.
C. Manfaat kerjasama ekonomi internasional
a. Meningkatkan Keuangan Negara
Kerja sama ekonomi antarnegara dapat memberikan banyak manfaat bagi
Indonesia, salah satunya di bidang keuangan. Melalui kerja sama ini Indonesia
memperoleh bantuan berupa pinjaman keuangan dengan syarat lunak yang digunakan
untuk pembangunan. Dengan demikian, adanya pinjaman keuangan otomatis dapat
meningkatkan keuangan negara.
b. Membantu Meningkatkan Daya Saing Ekonomi
Kerja sama ekonomi dapat menciptakan persaingan yang sehat di antara negaranegara anggota. Persaingan yang sehat ini dapat dilakukan dengan meningkatkan
kemampuan produsen tiap negara dalam menghasilkan produk-produk yang mampu
bersaing dengan negara-negara lain. Keberhasilan bersaing suatu negara ditingkat regional
dan internasional pada gilirannya akan meningkatkan perekonomian negara yang
bersangkutan.
c . Meningkatkan Investasi

22

Kerja sama ekonomi antarnegara dapat menjadi cara menarik bagi para investor
untuk

menanamkan

modalnya

di

Indonesia.

Banyaknya

investor

yang

mau

menginvestasikan modalnya di Indonesia dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk


meningkatkan perekonomian dan pembangunan Indonesia. Selain itu, banyaknya investasi
dapat juga menambah lapangan kerja baru, sehingga jumlah pengangguran dapat
berkurang.
d. Menambah Devisa Negara
Kerja sama ekonomi antarnegara khususnya di bidang perdagangan dapat
meningkatkan devisa negara. Devisa diperoleh dari kegiatan ekspor barang. Semakin luas
pasar akan semakin banyak devisa yang diperoleh negara, sehingga dapat memperlancar
pembangunan negara.
e. Memperkuat Posisi Perdagangan
Persaingan dagang di tingkat internasional sangat berat. Hal ini disebabkan adanya
berbagai aturan dan hambatan perdagangan di setiap negara. Untuk itu perlu adanya kerja
sama ekonomi. Sehingga dalam kerja sama tersebut perlu dibuat aturan per-dagangan yang
menguntungkan negara-negara anggotanya. Dengan demikian adanya aturan tersebut dapat
memperlancar kegiatan ekspor dan impor dan menciptakan perdagangan yang saling
menguntungkan. Akibatnya posisi perdagangan dalam negeri semakin kuat.
D. Lembaga-lembaga ekonomi Internasional
Kerja sama internasional di dunia ini diwujudkan dalam berbagai bentuk organisasi,
adapun organisasi-organisasi tersebut adalah sebagai berikut.
1.

PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) atau UNO (United Nations Organization)


PBB adalah organisasi internasional yang dianggap sebagai induk organisasi

internasional lainnya. PBB didirikan pada tanggal 24 Oktober 1945, ditandai dengan
penandatanganan Piagam PBB di San Fransisco, selanjutnya setiap tanggal 24 Oktober
diperingati sebagai hari lahirnya PBB oleh negara anggotanya.
Lembaga-lembaga anggota PBB adalah sebagai berikut:
a. UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization).
23

UNESCO adalah organisasi di bawah naungan PBB yang bergerak dalam bidang
pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
b.

FAO (Food and Agricultural Organization)

FAO adalah organisasi dunia yang melakukan kegiatan serta mengusahakan bahan
makanan dan hasil-hasil pertanian.
c.

ILO (International Labour Organization).

ILO adalah organisasi internasional yang bergerak dalam bidang perburuhan.


2.

UNDP (United Nations Development Program)


UNDP adalah badan PBB yang melakukan kegiatan program pembangunan di

negara-negara berkembang. Tujuan pembangunan memberikan sumbangan untuk


membiayai program pembangunan, seperti survei pembuatan dan pembangunan jalan di
Indonesia. Negara-negara donatur untuk pembangunan itu adalah Amerika, Denmark,
Kanada, Inggris, Belanda, dan Prancis. UNDP, GATT, ILO, dan sebagainya.
3.

WTO (World Trade Organization)


WTO merupakan badan kerja sama PBB yang bergerak di bidang perdagangan

internasional untuk mempertahankan tata niaga internasional dan pengaturan perdagangan


secara umum. WTO dibentuk di Genewa, Swiss pada tahun 1947 dalam konferensi yang
diselenggarakan oleh PBB dan diikuti oleh 23 negara. Manfaat dibentuknya WTO adalah
memperlancar arus barang dan jasa melalui pengurangan tarif dan bea masuk yang tinggi
sehingga saling menguntungkan negara-negara anggota.
4.

UNICEF (United Nations International Children's Emergency Fund)


UNICEF adalah organisasi internasional yang melakukan kegiatan dalam bentuk

kemanusiaan dan kesejahteraan anak, didirikan pada tahun 1946 dan berkedudukan di New
York.
5.

IMF (International Monetary Fund)


IMF adalah organisasi dunia yang bergerak dalam bidang keuangan internasional,

didirikan pada tanggal 27 Desember 1945 dengan tujuan untuk mencapai stabilitas
keuangan di berbagai dunia dan mendorong kerja sama internasional di bidang ekonomi
keuangan.

24

6.

IBRD (International Bank for Reconstruction and Development)


IBRD disebut juga World Bank (Bank Dunia) adalah badan internasional yang

bergerak dalam bidang perbankan untuk pembangunan dan kemajuan negara-negara


berkembang. IBRD didirikan pada tanggal 17 Desember 1945 dan berkedudukan di
Washington DC. Badan ini bertujuan memberikan bantuan baik yang bersifat jangka
panjang maupun jangka pendek kepada negara-negara yang sedang berkembang.
7.

IDB (Islamic Development Bank)


Bank Pembangunan Islam adalah lembaga keuangan internasional, yang didirikan

pada tanggal 20 Oktober 1975 dengan tujuan utama membantu pembangunan ekonomi dan
sosial di negara-negara anggota dan masyarakat Islam, baik secara perorangan maupun
secara bersama. Kegiatan IDB antara lain memberikan pinjaman dengan syarat lunak. IDB
sekarang beranggotakan 45 negara, termasuk Indonesia yang menjadi salah satu negara di
antara 22 negara pendiri dari organisasi konferensi Islam.
8.

OPEC (Organization Petrolium Exporting Countries)


OPEC adalah organisasi negara-negara pengekspor minyak. Organisasi ini didirikan

dengan maksud untuk mengatur produksi dan harga minyak mentah. OPEC didirikan pada
tanggal 14 November 1960 atas prakarsa negara Irak, Iran, Kuwait, Arab Saudi, dan
Venezuela. Indonesia menjadi anggota OPEC sejak tahun 1962. Anggota OPEC mengalami
peningkatan dengan masuknya negara Aljazair, Ekuador, Gabon, Libya, Qatar, Nigeria, dan
Persatuan Emirat Arab.
9.

IDA (International Development Association)


IDA adalah organisasi pembangunan internasional yang memberikan kredit kepada

negara-negara berkembang dengan syarat ringan.


10. WCO/CCC (World Costumer Organization atau Customs Cooperation Council).
WCO merupakan organisasi bea dan cukai sedunia yang didirikan pada tanggal 15
Desember 1950 di Brussel, Belgia. Tujuan pembentukan WCO ini adalah untuk
memperbaiki dan mengharmonisasikan cara kerja bea dan cukai sedunia, sehingga dapat
memperlancar arus lalu lintas perdagangan dan penumpang serta investasi internasional.
E. Analisis kerjasama ekonomi Internasional
25

Dampak Kerja Sama Ekonomi Internasional Bagi Indonesia:


Indonesia sedang melaksanakan pembangunan ekonomi untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Dalam melaksanakan pembangunan konomi tersebut, Indonesia
memerlukan bantuan dari negara-negara maju. Bantuan yang datang dari negara maju
dapat berupa modal, teknologi, sumbersumber pro-duksi yang tidak dimiliki oleh
Indonesia, maupun tenaga ahli. Hubungan ekonomi yang dilakukan Indonesia dengan
negara lain sangat luas. Ada yang berbentuk kerja sama ekonomi, baik yang bersifat
regional maupun internasional, ada yang di bawah naungan PBB maupun tidak. Kerja sama
ekonomi internasional mempunyai beberapa dampak bagi negara yang melakukan. Bagi
Indonesia, dampak yang diterima dengan adanya kerja sama internasional di antaranya
sebagai berikut.
a. Lapangan pekerjaan menjadi semakin luas. Ini terjadi karena dengan
adanya kerja sama ekonomi internasional dapat membuka proyekproyek baru.
b. Negara mendapatkan pajak dari perusahaan asing yang menanamkan
modalnya di Indonesia.
c. Indonesia bisa memperoleh transfer teknologi dari negara yang
menanamkan modalnya di Indonesia.
d. Dengan masuknya teknologi modern dari luar, Indonesia dapat
meningkatkan efisiensi dalam melakukan produksi suatu barang
sehingga harga tersebut bisa menjadi murah.
e. Jika Indonesia dapat memproduksi barang-barang yang semula di
impor (karena ada kerja sama ekonomi dengan negara maju),
Indonesia dapat menghematdevisa.
J. Refleksi
Hipotesis dalam penelitian ini yaitu model pembelajaran Discovery
Learning dalam diskusi kelompok dan pemberian tugas sangat efektif diterapkan
pada pembelajaran Ekonomi Akuntansi pada materi Laporan Perdagangan
Internasional dan Kerja sama Ekonomi.

26

27