Anda di halaman 1dari 25

Medard Boss

Medard Boss (lahir di St. Gallen, Swiss , 4 Oktober 1903 meninggal 21 Desember 1990 pada umur
87 tahun) merupakan salah satu tokoh psikolog eksistensial. Ia menghabiskan masa mudanya di
Zurich, pusat aktivitas psikologi kala itu. Ia menerima gelar dokter dari Universitas Zurich pada
tahun 1928 dan kemudian bergabung denganCarl Jung. Setelah itu, ia melanjutkan studi
ke Paris dan Wina di bawah pengaruh Sigmund Freud. Ia pernah bekerja di rumah
sakit Burgholzil sebagai asisten Eugen Bleuler. Beberapa tahun di sana, ia kemudian pindah
ke Berlin dan London. Salah satu buku karangannya ialah The Analysis of Dreams dan I Dream Last
Night.
Boss memiliki pandangan tentang dasar-dasar psikologi eksistensial. Menurutnya, ide yang
dipergunakan manusia untuk menyikapi dunia dengan segala macam ekspektasi yang belum
terbentuk jelas, sangat berbeda dengan pandangan dasar eksistensialis bahwa dunia bukanlah
sesuatu yang kita tafsirkan, melainkan dunia yang menampilkan dirinya kepada kita di
bawah "cahaya" Dasein (sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Heidegger yang berarti "ada-didunia").
Analogi cahaya sangat penting dalam teori Boss. Menurut Boss, Dasein merupakan limpahan
cahaya yang menerangi segala sesuatu. Contohnya, ia memakai kata fenomena(phenomenom)
yang secara harfiah berarti bersinar atau menyeruak dari kegelapan. Contoh lainnya
ialah pertahanan psikologis yang mana bagi Boss merupakan persoalan tidak tersinarinya aspekaspek tertentu dari kehidupan dan psikopatologis hampir sama dengan memilih kehidupan
dalam kegelapan.
Boss juga utarakan konsep keterbukaan yang dibangun atas dasar bagaimana seseorang
berhubungan dengan tubuhnya sendiri. Keterbukaan seseorang terhadap dunia akan
diekspresikan oleh keterbukaannya secara badaniah dan bagaimana orang tersebut menggunakan
tubuhnya terhadap dunia. Inilah yang oleh Boss disebut dengan penubuhan keluar (bodying forth).
Menyangkut hubungan yang dijalin seseorang dengan orang lain (sesama), Boss menjelaskan
bahwa manusia bukanlah individu-individu yang terkurung di dalam tubuh masing-masing.Manusia
hidup bersamadalam sebuah dunia dan saling memberi sinar satu sama lain. Intinya, eksistensi
manusia adalah eksistensi bersama.
Konsep eksistensialis lain yang menjadi perhatian Boss ialah mood atau keselarasan irama.
Menurut Boss, sewaktu seseorang menyinari dunia dengan eksistensinya, orang tersebut juga
menyinari hal tertentu lebih dari hal lain, atau menyinari dengan sinar yang berbeda. Menjelaskan
hal itu, Boss mengambil contoh seseorang yang sedang marah. Orang yang sedang marah akan
menyelaraskan irama mood marah itu kepada hal-hal lain seperti pikiran dan tindakan. Orang itu
juga akan melihat segala hal berwarna merah. Sebaliknya, jika seseorang berada
dalam mood yang senang dan bahagia, maka ia akan menyelaraskan kepada hal-hal lain,
seperti senyum, raut muka yang cerah, dan sebagainya. Dunia sekellingnya pun menjadi cerah.Jika

seseorang sedang lapar, maka segala sesuatunya terlihat seolah-olahmakanan. Jika seseorang
sedang cemas, maka segala hal akan terasa seperti ancaman.
Boss merupakan satu dari sekian banyak psikolog eksistensialis yang mempelajari mimpi dan
menganggapnya sebagai bagian terpenting dari sebuah terapi. Menurut Boss, untuk mengetahui
makna dari suatu mimpi ialah dengan cara membiarkan mimpi itu sendiri memperlihatkan
maknanya.Dalam pemahamannya, tidak ada yang tersembunyi di balik simbol. Mimpi sejatinya
memperlihatkan pada manusia bagaimana cara menyinari hidup yang sedang dijalani. Boss
menggambarkan dengan sederhana bagaimana mimpi memperlihatkan maknanya.Jika seseorang
merasa terjebak, maka orang tersebut itu akan bermimpi terperosok ke dalam lubang. Jika
seseorang merasa bebas, maka orang itu akan bermimpi terbang. Jika seseorang merasa bersalah,
maka orang itu akan bermimpi tentang dosa. Jika seseorang merasa takut, maka orang itu akan
bermimpi dikejar binatang-binatang buas.
http://id.wikipedia.org/wiki/Medard_Boss

Medard Boss
Medard Boss lahir di St. Gallen, Swiss, pada tanggal 4 Oktober 1903. . Ketika
Medart Boss berusia 2 tahun orang tuanya berpindah ke Zurich. Medart Boss
kemudian menghabiskan masa mudanya di Zurich, pusat aktifitas psikologi pada
kala itu. Setelah tidak berhasil menjadi seorang seniman, Boss memutuskan untuk
belajar kedokteran. Pada tahun 1928 dia menerima gelar dokter dari university of
Zurich, kemudian melanjutkan studi ke Paris dan Wina dan dianalisis oleh Sigmund
Freud.
a)

Analogi Cahaya

Analogi cahaya sangat penting dari teori Boss. Kata fenomena, misalnya, secara
harfiah berarti bersinar, menyeruak dari kegelapan. Boss memandang Dasein
sebagai limpahan cahaya yang menerangi segala sesuatu.
b)

Eksistensial

Konsep fundamental dalam psikologi eksistensial, Dimana seluruh struktur


eksistensi manusia didasarkan pada konsep ini. Dasein adalah eksistensi manusia
dunia dimana manusia memiliki eksistensi meliputi tiga wilayah : Lingkungan
biologis atau fisik (Umwelt), Lingkungan manusia (Mitwelt),Sang manusia sendiri
(Elgenwelt)
c)

Mimpi-mimpi

Mimpi memperlihatkan pada kita bagaimana cara kita menyinari hidup yang sedang
dijalani. Jika kita merasa terjebak, kita akan bermimpi kakli terperosok lubang; jika
kita merasa bebas, kita akan mimpi terbang; jika kita merasa bersalah, kita akan

bermimpi tentang dosa; jika kita merasa takut, kita akan bermimpi dikejar-kejar
binatang buas.
Nb: Memiliki kebebasan untuk memilih gaya hidupnya sendiri tetapi harus bertanggung
jawab atas pilihannya itu dan mencari makna hiduo yang berkaitan dengan kecemasan,
kematian dan relevansinya dengan pengalaman individual.

Asal Muasal Psikologi Eksistensial dalam Psikologi


Tokoh psikologi eksistensial yang terkenal adalah Ludwig Binswanger (1881)
danMedard Boss (1903). Psikologi eksistensial menolak konsep tentang kausalitas, dualisme
antara jiwa dan badan, serta pemisahan orang dari lingkungannya.
Ludwig Binswager lahir pada tanggal 13 april 1881, di Kreuzlingen, Swiss di tengah
keluarga yang memiliki tradisi kedokteran dan psikiatrik kuat. Kakeknya, yang namanya
kecilnya juga Ludwig adalah pendiri Belleuve Sanatorium di Kruezlingen pada tahun 1857.
ayahnya Robert adalah direktur Sanatorium tersebut. Pada tahun 1911, Binswanger diangkat
menjadi direktur medis Belleuve sanatorium.
Ludwig meraih gelar sarjana kedokteran dari University of Zurich tahun1907. Dia belajar
dibawah bimbingan Carl Jung dan menjadi asistennya dalam Freudian society. Seperti halnya
Jung, dia juga lebih terpengaruh Eugen Bleuleur, seorang psikiatri Swiss terkemuka. Dia adalah
salah seorang pengikut pertama Freud di Swiss. Pada awal 1920-an, Binswanger menjadi salah
pelopor pertama dalam menerapkan fenomenologi dalam psikiatri. Sepuluh tahun kemudian dia
menjadi seorang analisis eksistensial. Binswanger mendefinisikan analisis eksistensial sebagai
analisis fenomenologis tentang eksistensi manusia yang actual. Tujuannya adalah rekonstruksi
dunia pengalaman batin.
Binswanger adalah terapis pertama yang menekankan sifat dasar eksistensial dari tipe
krisis yang dialami pasien dalam pengalaman terapi. Binswanger pada dasarnya berjuang untuk
menemukan arti dalam penyakit gila dengan mnerjemahkan pengalaman para pasien kedalam
teori psikoanalisis. Setelah membaca pendekatan filsafat Heidegger Being in time (1962),
Binswanger menjadi lebih eksistensial dan fenomenologis dalam pendekatannya kepada para
pasien. Pada tahun 1956, Binswanger berhenti menjadi direktur Sanatorium setelah menduduki
posisi tersebut selama 45 tahun. Dia terus melakukan studi dan menulis sampai meninggal
pada tahun 1966.
Sedangkan Medard Boss lahir di St. Gallen, Swiss pada tanggal 4 oktober 1903.
kemudian menghabiskan masa mudanya di Zurich pusat aktivitas psikologi saat itu. Dia
menerima gelar kedokteran university of Zurich pada tahun 1928. kemudian melanjutkan studi
ke Paris dan Wina serta membiarkan dirinya dianalisis oleh S.Freud. Mulai tahun 1928, dia

bergabung dengan Carl Jung yang menunjukkan pada Boss kemungkinan lepasnya
psikoloanalisis dari interpretasi Freudian.
Dalam masa-masa itu, Boss membaca karya-karya Ludwig Binswanger dan Martin
Heidegger. Pertemuannya dengan Heidegger pada tahun 1964 yang kemudian berlanjut
dengan persahabatannyalah yang membawanya kepada psikologi eksistensial. Pengaruh
dalam eksistensial sangat besar sehingga sering disejajarkan dengan Binswanger.
Konsep dasar filsafat eksistensialistik sebagai kelompok ketiga menurut Blocher adalah
kerinduan manusia untuk mencari sesuatu yang penting, sesuatu yang bermakna dalam dirinya.
Sesuatu yang paling bermakna di dalam diri seseorang adalah eksistensi dirinya. Perhatian
yang lebih besar terhadap pribadi, terhadap manusia daripada terhadap system yang formal.
Konsep identitas menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan dalam kehidupan manusia. Mengenai
ini, Beck (1963) menyusun beberapa paham dasar sebagai konsep dasar falsafahnya yang
diambil sebagian besar dari filsafat eksistensialisme, sebagai berikut:

Setiap pribadi bertanggungjawab terhadap perbuatan-perbuatannnya sendiri.

Orang harus menganggap orang lain sebagai obyek dari nilai-nilai sebagai bagian dari
perhatiannya.

Manusia berada dalam dunia realitas.

Kehidupan yang bermakna harus terhindar sejauh mungkin dari ancaman, baik fisik
maupun psikis.

Setiap orang memiliki latar


pengalaman-pengalaman unik.

Orang bertindak atas dasar pandangan terhadap realitasnya sendiri yang subyektif,
tidak karena realitas yang obyektif di luar dirinya.

Manusia tidak bisa digolongkan sebagai baik atau jahat dari asalnya (by nature).

Manusia berreaksi sebagai kesatuan organisasi terhadap setiap situasi (Gunarsa,


1996:9-13).

belakang

keturunannya

sendiri

dan memperoleh

Prinsip Eksitensi dalam Psikologi


Psikologi eksistensial tidak mengkonsepsikan perilaku sebagai akibat dari
perangsangan dari luar dan kondisi-kondisi badaniah dalam manusia. Seorang individu
bukanlah mangsa lingkungan dan juga bukanlah makhluk yang terdiri dari insting-insting,
kebutuhan-kebutuhan, dan dorongan-dorongan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih,

dan hanya ia sendiri yang bertanggungjawab terhadap eksistensinya. Manusia dapat mengatasi
baik lingkungan maupun badan fisiknya apabila ia memang memilih begitu. Apa saja yang
dilakukannya adalah pilihannya sendiri. Orang sendirilah yang menentukan akan menjadi apa
dia dan apa yang akan dilakukannya.
Lalu apakah pengaruh eksistensialisme terhadap psikologi? Psikologi eksistensial ini
menjabarkan psikologi yang dilandaskan pada fakta primordial dari dunia pribadi yang
bermakna yang menjadi sasaran dari segenap aktivitas. Salah satu dalil dasar yang mendasari
psikologi eksistensial adalah setiap manusia unik dalam kehidupan batinnya, dalam
mempersepsi dan mengevaluasi dunia, dan dalam bereaksi terhadap dunia. Perhatiannya
adalah pada kesadaran, perasaan-perasaan, suasana-suasana perasaan, dan pengalamanpengalaman pribadi individual yang berkaitan dengan keberadaan individualnya dalam dunia
dan di antara sesamanya. Intinya dari perspektif ini adalah melihat manusia secara keseluruhan
sebagai subjek.
Sebagaimana tercermin dalam tulisan Binswanger dan Boss, psikologi eksistensial
bertentangan dengan pemakaian konsep kausalitas yang berasal dari ilmu-ilmu pengetahuan
alam dalam psikologi. Tidak ada hubungan sebab akibat dalam eksistensial manusia, hanya
ada rangkaian urutan tingkah laku tetapi tidak bisa menurunkan kausalitas dari rangkaian
tersebut. Sesuatu yang terjadi pada seorang anak-anak bukan penyebab dari tingkah lakunya
kemudian sebagai seorang dewasa. Peristiwa yang terjadi mungkin memiliki makna eksistensi
yang sama akan tetapi tidak berarti peristiwa A menyebabkan peristiwa B. Psikologi eksistensial
mengganti konsep kausalitas dengan konsep motivasi.
Untuk menjelaskan perbedaan antara sebab dan motif, Boss mencontohkan dengan
jendela yang tertutup oleh angin dan manusia. Angin menyebabkan jendela tertutup, tetapi
manusia termotif untuk menutup jendela karena ia tahu bahwa jika jendela terbuka maka air
hujan akan masuk. Karena prinsip kausalitas kurang relevan dengan tingkah laku manusia dan
sebaliknya motivasi dan pemahaman merupakan prinsip-prinsip operatif dalam analisis
eksistensial tingkah laku. (Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner, 1993)
Struktur Eksistensi
Ada-di-Dunia (Dasein)
Merupakan dasar fundamental dalam psikologi eksistensial. Seluruh struktur eksistensi
manusia didasarkan pada konsep ini. Ada-di-dunia (Dasein) adalah keseluruhan eksistensi
manusia, bukan merupakan milik atau sifat seseorang. Sifat dasar dari Dasein adalah
keterbukaannya dalam menerima dan memberikan respon terhadap apa yang ada dalam
kehadirannya. Manusia tidak memiliki eksistensi terlepas dari dunia dan dunia tidak memiliki
eksistensi terlepas dari manusia. Dunia dimana manusia memiliki eksistensi meliputi 3 wilayah,
yaitu:

Umweit (dunia biologis, lingkungan)


Dunia objek disekitar kita, dunia natural. Yang termasuk dalam umwelt diantaranya kebutuhankebutuhan biologis, dorongan-dorongan, naluri-naluri, yakni dunia yang akan terus ada, tempat
dimana kita harus menyesuaikan diri. Akan tetapi umwelt tidak diartikan sebagai dorongandorongan semata melainkan dihubungkan dengan kesadaran-diri manusia.
Mitweit (dunia bersama)
Dunia perhubungan antar manusia dengan manusia yang lain. Didalamnya terdapat
perhubungan antar berupa interaksi manusiawi yang mengandung makna. Dalam perhubungan
tersebut terdapat perasaan-perasaan seperti cinta dan benci yang tidak pernah bisa dipahami
hanya sebagai sesuatu yang bersifat biologis semata.
Eigenwelt (dunia milik sendiri)
Adalah kesadaran diri, perhubungan diri dan secara khas hadir dalam diri manusia.
Ada-melampaui-Dunia (kemungkinan-kemungkinan dalam manusia)
Analisis eksistensial mendekati eksistensi manusia dengan tidak memakai pandangan lain
selain bahwa manusia ada di dunia, memiliki dunia, ingin melampaui dunia. Akan tetapi,
Binswanger tidak mengartikan ada-melampaui-dunia sebagai dunia lain melainkan mau
mengungkapkan begitu banyak kemungkinan yang dimiliki manusia untuk mengatasi dunia
yang disinggahinya dan memasuki dunia baru. Istilah melampaui/mengatasi dunianya dikenal
juga dengan transendensi yang merupakan karakteristik khas dari eksistensi manusia serta
merupakan landasan bagi kebebasan manusia.
Karena hanya dengan mengaktualisasikan kemungkinan-kemungkinan tersebut ia dapat
menjalani kehidupan yang otentik, apabila ia menyangkal atau membatasi kemungkinankemungkianan yang penuh dari eksistensinya atau membiarkan dirinya dikuasai oleh orangoarang lain atau oleh lingkungannya, maka manusia itu hidup dalam suatu eksistensi yang tidak
otentik. Manusia bebas memilih salah satu dari keduanya.
Dasar Eksistensi
Manusia dapat hidup dengan bebas, akan tetapi bukan berarti tanpa adanya batas-batas.
Salah satu batas adalah dasar eksistensi kemana orang-orang dilemparkan. Kondisi
keterlemparan ini, yakni cara manusia menemukan dirinya dalam dunia yang menjadi
dasarnya, merupakan nasibnya. Manusia harus hidup sampai nasibnya berakhir untuk
mencapai kehidupan yang otentik. Keterlemparan juga diartikan sebagai keadaan diperdaya
oleh dunia, dengan akibat orang-orang menjadi terasing dari dirinya sendiri.
Rancangan Dunia

Rancangan dunia adalah istilah Binswanger untuk menyebut pola yang meliputi cara ada di
dunia seorang individu. Rancangan dunia seseorang menentukan cara bagaimana ia akan
bereaksi terhadap situasi-situasi khusus serta ciri sifat dan simpton macam mana yang akan
dikembangkannya.batas-batas dari rancangan tersebut mungkin sempit, dan mengerut atau
mungkin lebar dan meluas.
Binswanger mengamati bahwa jika rancangan dunia dikuasai oleh sejumlah kecil kategori,
maka ancamannya akan lebih cepat dialami dibandingkan bila rancangan dunia terdiri dari
bermacam-macam kategori. Pada umumnya, orang memiliki lebih dari satu rancangan dunia.
Cara-cara Ada Dunia
Ada
banyak
cara
yang
berbeda
untuk
ada
di
dunia,
setiap
cara
merupakan Daseinmemahami, menginterpretasikan, dan mengungkap dirinya. Diantaranya,
cara jamak (dengan menjalin hubungan-hubungan formal, kompetisi, dan perjuangan), cara
tunggal (untuk dirinya sendiri), dan cara anonimitas (tenggelam di tengah orang banyak).
Biasanya orang tidak hanya memiliki satu cara eksistensi, tetapi banyak.
Eksistensial
Boss tidak berbicara tentang cara-cara ada di dunia dengan arti sama seperti yang
dikemukakan oleh Binswanger. Boss lebih membicarakan mengenai sifat-sifat yang melekat
pada eksistensi manusia, selain itu hal lain yang dibicarakan oleh Boss adalah spasialitas
eksistensi (keterbukaan dan kejelasan merupakan spasialitas (tdk diartikan dalam jarak) yang
sejati dalam dunia manusia), temporalitas eksistensi (waktu (bkn jam) yang
digunakan/dihabiskan manusia untuk.), badan (ruang lingkup badaniah dalam pemenuhan
eksistensi
manusia),
eksistensi
dalam
manusia
milik
bersama
(manusia
selalu berkoeksistensiatau tinggal bersama orang lain dalam dunia yang sama), dan suasana
hati atau penyesuaian (apa yang diamati dan direspon seseorang tergantung pada suasana hati
saat itu).
Dinamika Eksistensi
Psikologi eksistensial tidak mengkonsepsikan tingkah laku sebagai akibat dari
perangsang dari luar dan kondisi-kondisi badaniah dalam manusia. Seorang individu bukanlah
mangsa lingkungan dan juga bukanlah makhluk yang terdiri dari insting-insting, kebutuhankebutuhan, dan dorongan-dorongan.
Akan tetapi ia memiliki kebebasan untuk memilih dan hanya ia sendiri yang bertanggung
jawab terhadap eksistensinya. Apa saja yang dilakukannya adalah pilihannya sendiri, orang
sendirilah yang menentukan akan menjadi apa dia dan apa yang akan dilakukannya.
Perkembangan Eksistensi

Konsep eksistensial perkembangan yang paling penting adalah konsep tentangmenjadi.


Eksistensi tidak pernah statis, tetapi selalu berada dalam proses menjadi sesuatu yang baru,
mengatasi diri sendiri. Tujuannya adalah untuk menjadi manusia sepenuhnya, yakni memenuhi
semua kemungkinan Dasein.
Menjadi orang dan menjadi dunia selalu berhubungan, keduanya merupakan mitra
menjadi (co-becoming, Strauss). Orang menyingkap kemungkinan-kemungkinan dari
eksistensinya melalui dunia, dan sebaliknya dunia tersingkap oleh orang yang ada di dalamnya.
Manakala bila yang satu tumbuh dan berkembang maka yang juga harus tumbuh dan
berkembang begitu pula sebaliknya apabila yang satu terhambat maka yang juga terhambat.
Bahwa kehidupan berakhir dengan kematian sudah merupakan fakta yang diketahui oleh setiap
orang.
Terapi
Inti terapi eksistensial adalah hubungan antara terapi dengan kliennya. Hubungan ini
disebut pertemuan. Pertemuan adalah kehadiran asal satu Dasein kehadapan Dasein yang lain,
yakni sebuah ketersingkapan satu Dasein terhadap yang lainnya. Berbeda dengan terapiterapi formal, seperti terapi gaya Freud, atau terapi-terapi yang teknis, seperti terapi gaya
behavioris, para terapis eksistensial sepertinya ingin terlibat intim dengan Anda. Saling beri dan
saling terima adalah bagian paling alami dari pertemuan, bukan untuk saling menghakimi dan
memojokkan. (Boeree, C.George, 2004)
Para analasis eksistensial menyadari kompleksitas manusia yang mereka hadapi di
ruang-ruang praktek mereka. Mereka menyadari bahwa manusia bukan hanya merupakan
makhluk biologis atau fisik, melainkan juga sebagai makhluk yang unik dan mempunyai
kesadaran. Dengan perkataan lain, manusia tidak lain adalah tubuh (organisme) yang
berkesadaran. Oleh sebab itu, mereka beranggapan bahwa pendekatan analisis eksistensial
tentunya diperlukan, karena menwarkan kejernihan analisis atas pasien-pasien mereka. Gejala
manusia dan pengalaman-pengalamannya tentu saja tidak bisa dikuantitafikasikan dan
digeneralisasi begitu saja. Perlu pengungkapan yang lebih spesifik. Analisis eksistensial
dianggap mampu melakukan tugas itu.
Dalam analisis eksistensial yang dilakukan Binswanger sebagai metode baru yang
berbeda dari metode-metode yang ada sebelumnya, terlihat dalam kasus yang ditanganinya
yaitu kasus Ellen West yang merupakan salah seorang pasiennnya. Binswanger mengadakan
analisis fenomenologis mengenai tingkah lakunya dan menggunakan penemuan-penemuan
tersebut untuk merumuskan eksistensi atau cara-cara ada-di-dunia pasien tersebut. Ia
menyelidiki arsip-arsip di Sanotarium dan memilih kasus seorang gadis muda, yang pernah
berusaha untuk melakukan bunuh diri. Kasus ini menarik karena selain buku harian, catatancatatan pribadi dan puisi-puisinya yang penuh pesona, juga karena sebelum dirawat di
sanotarium, ia telah dirawat lebih dari dua periode oleh para psikoanalis dan selama di

sanitarium ia telah menerima perawatan dari Bleuler dan Kraepelin. Dalam analisis eksistensial
(yang tekanannya lebih pada terapi), Binswanger pertama-tama menganalisis asumsi-asumsi
yang mendasari hakekat manusia kemudian ia berhasil sampai pada pemahaman mengenai
struktur tempat diletakkannya segenap system terapeutik. (Zainal A., 2002)
Medard Boss menggunakan analisis mimpi dalam terapinya terhadap seorang pasien
yang menderita obsesional-complusive. Pasien ini menderita kompulsi-kompulsi untuk mencuci
tangan dan membersihkan, ia sering bermimpi tentang menara-menara gereja. Pasien ini
sebelumnya telah menjalani analisa Freudian dan menginterpretasikan isi mimpi tersebut
sebagai simbol-simbol phalik serta menjalani analisa Jungian yang menghubungkannya dengan
simbol-simbol arketif religius. Dalam dengan Boss sang pasien menceritakan tentang mimpimimpinya yang datang berulang-ulang seperti ia mendekati sebuah pintu kamar mandi yang
selalu terkunci. Boss menunjukkan dalam pembahasannya tenang kasus itu bahwa pasien
merasa bersalah, karena telah mengunci beberapa potensi yang sangat penting dalam dirinya.
Ia mengunci baik kemungkinan-kemungkinan pengalaman badaniahnya maupun spiritualnya
atau aspek dorongannya dan aspek tuhannya, semua itu dilakukannya untk melarikan diri
dari semua masalah yang dihadapinya. Menurutnya pasien merasa bersalah bukan sematamata bahwa ia mempunyai rasa bersalah. Pasien tidak menerima dan tidak memasukkan
kedua aspek tersebut ke dalam eksistesinya, maka ia merasa bersalah dan berhutang pada
dirinya. Pemahaman mengenai rasa bersalah tidak ada hubungannya dengan sikap menilai
(judgmental attitude), yang perlu dilakukan hanyalah memperhatikan kehidupan dan
pengalaman pasien secara sungguh-sungguh dan penuh rasa hormat.
Pandangan Islam tentang Eksistensi Manusia
Sungguh kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur yang
kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia
mendengar dan melihat. Sungguh kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada
yang bersyukur dan ada pula yang kufur. (Q.S. Al-Insan : 2-3)
Berbicara mengenai eksistensi manusia yang dalam hal ini psikologi eksistensial
terdapat beberapa hal yang memiliki kesamaan dengan yang diajarkan dalam Islam. Seperti
yang terdapat pada ayat diatas, dapat kita ambil makna bahwa sesungguhnya manusia
diberikan kebebasan untuk memilih kebaikan ataupun keburukkan untuk hidup yang jelas Allah
SWT telah memberikan petunjuk yang benar dan lurus, apabila kemudian mereka (manusia)
mau bersyukur ataupun kufur tergantung kepada manusia itu sendiri. Karena Allah SWT telah
memberikan potensi-potensi kepada manusia untuk dikembangkan dan digunakan sebaikbaiknya. Dalam memandang kebebasan menusia untuk berbuat sesuatu untuk hidupnya
psikologi eksistensi juga mengungkapkan hal tersebut, manusia akan hidup dalam
eksistensinya walaupun dengan pilihan hidup yang otentik dan tidak otentik manusia itu sendiri
juga yang memilihnya. Namun ada hal yang tidak dapat ditemukan oleh pemakalah dalam
eksistensi manusia itu sendiri. Yaitu dari mana manusia itu berasal sehingga bisa menjadi ada-

di-dunia atau disebut Dasein. Manusia tidak memiliki eksistensi terlepas dari dunia dan dunia
tidak memiliki eksistensi terlepas dari manusia. Tidak ada penjelasan bagaimana manusia dan
dunia bisa ada. Kami memang menemukan aspek tuhan serta spiritual pada analisa mimpi
yang dilakukan oleh Boss akan tetapi penjelasan aspek tersebut tidak ditemukan. Seolah-olah
manusia dan dunia muncul dengan begitu saja kemudian manusia itu menyadari
keberadaannya maka dia ada. Sedangkan dalam ayat diatas jelas manusia diciptakan dari
setetes mani yang bercampur oleh Allah SWT.
Begitu pula dalam surat Ar-Rahman ayat 4, Dia menciptakan manusia serta pada ayat
7&10, Dan langit telah ditingggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan.(7) Dan bumi telah
dibentangkan-Nya untuk makhluk-Nya.(10). Bahwa manusia dan dunia adalah hasil ciptaan
Allah SWT. dan tidak begitu saja ada. Memang dalam teori in terdapat konsep transendensi,
akan tetapi pengertian transendensi disini menekankan pada cara manusia untuk
melampaui/mengatasi permasalahan dunianya.
Kelemahan dalam Psikologi Eksistensial
Salah satu kritik terhadap psikologi eksistensial adalah ketika psikologi telah
diperjuangkan untuk dapat membebaskan diri dari dominasi filsafat, justru psikologi eksistensial
secara terang-terangan menyatakan kemuakkannya terhadap positivisme dan determinisme.
Para psikolog di Amerika yang telah memperjuangkan kemerdekaan psikologi dari filsafat jelas
menentang keras segala bentuk hubungan baru dengan filsafat. Banyak psikolog merasa
bahwa psikologi eksistensial mencerminkan suatu pemutusan yang mengerikan dengan jajaran
ilmu pengetahuan, karena itu membahayakan kedudukan ilmu psikologi yang telah
diperjuangkan dengan begitu susah payah.
Salah satu konsep eksistensial yang paling ditentang oleh kalangan psikologi ilmiah
ialah kebebasan individu untuk menjadi menurut apa ynag diinginkannya. Jika benar, maka
konsep in sudah pasti meruntuhkan validitas psikologi yang berpangkal pada konsepsi tengtang
tingkah laku yang sangat deterministic. Karena jika manusia benar-benar bebas menentukan
eksistensinya, maka seluruh prediksi dan control akan menjadi mustahil dan nilai eksperimen
menjadi sangat terbatas. (Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner, 1993)
Banyak psikolog dan sarjana psikologi baik dalam maupun luar negeri mempertanyakan
keberadaan analisis eksistensial. Yang mereka pertanyakan menyangkut dasar-dasar ilmiah
dari analisis eksistensial. Psikologi sebagai ilmu telah lama diupayakan untuk melepaskan diri
dan berada jauh dari filsafat. Psikologi harus merupakan suatu science (ilmu pasti alami) yang
independent. Padahal, analisis eksistensial mengeritik ilmu (science) dan mengambil manfaat
dari filsafat (fenomenologi dan eksistensialisme). Atas dasar itu, banyak sarjana psikologi yang
bertanya, apakah analisis eksistensial relevan dengan perkembangan ilmu psikologi modern?
Jawaban atas pertanyaan itu tergantung pada pemahaman kita tentang manusia. Siapakah
atau apakah manusia itu? Apakah manusia pada dasarnya hanya merupakan bagian dari

organisme dan atau dari materi (aspek fisik kehidupan)? Jika kita memahami manusia
sebgaimana para behavioris atau psikoanalis memahaminya, yakni bahwa manusia pada
dasarnya merupakan bagian dari organisme atau materi, maka analisis eksistensial tampaknya
tidak diperlukan. Cukup dengan pendekatan kuantitatif dan medis, dengan eksperimen dan
pembedahan otak musia, maka kita sudah cukup mampu memahami dan menyembuhkan
individu (manusia) yang bermasalah (patologis). Namun, dalam praktek atau kenyataan, kita
menyaksikan bahwa manusia ternyata jauh lebih kompleks dari sekedar organisme dan materi.
(Zainal A., 2002)

Daftar Pustaka
Abidin, Zanial, 2002. Analisis Eksistensial untuk psikologi dan psikiatri, Bandung: PT
Refika Aditama.
Ahmadi, Abu. 1991. Psikologi Umum. Jakarta, PT Rineka Cipta.
Boeree, C.George, 2004. Personality Theories, Yogyakarta
Chaplin, J.P., 1999. Kamus Lengkap Psikologi, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Davidoff, Linda L. 1988. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta, Erlangga.
Gunarsa, Singgih D. 1996. Konseling Dan Psikoterapi. Jakarta, PT BPK Gunung Mulia.
Hall, Calvin S. dan Lindzey, Gardner. 1993. Teori-Teori Holistik (OrganismikFenomenologi). Yogyakarta, Kanisius.
Hall, Calvin S. dan Lindzey, Gardner. 1993Teori-Teori Psikodinamik
(Klinis). Yogyakarta, Kanisius
Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner, 1993. Teori-teori Holistik (OrganismikFenomenologis),Yogyakarta : Kanisius.
http://www.psychologymania.com/2011/09/psikologi-eksistensial.html

EXISTENTIAL PSYCHOLOGY
LUDWIG BINSWANGER & MEDARD BOSS
SEJARAH
Ludwig Binswager

Ludwig Binswager lahir pada tanggal 13 april 1881, di Kreuzlingen, Swiss di tengah keluarga
yang memiliki tradisi kedokteran dan psikiatrik kuat.
Dia belajar dibawah bimbingan Carl Jung dan menjadi asistennya dalam Freudian society.
Binswanger adalah terapis pertama yang menekankan sifat dasar eksistensial dari tipe krisis
yang dialami pasien dalam pengalaman terapi.
Dia terus melakukan studi dan menulis sampai meninggal pada tahun 1966.
Medard Boss

Medard Boss lahir di St. Gallen, Swiss pada tanggal 4 oktober 1903. kemudian menghabiskan
masa mudanya di Zurich pusat aktivitas psikologi saat itu.
Pertemuannya dengan Heidegger pada tahun 1964 yang kemudian berlanjut dengan
persahabatannyalah yang membawanya kepada psikologi eksistensial. Pengaruh dalam
eksistensial sangat besar sehingga sering disejajarkan dengan Binswanger.
DEFINISI
Psikologi Eksistensial adalah sebuah aliran yang menolak untuk memandang manusia sebagai
hasil dari reduksi berdasar pandangan ilmu pengetahuan alam, yaitu semua perilaku didasarkan
pada hukum causa prima.
Eksistensialis menilai bahwa manusia tidak dapat dijelaskan dengan kompleksitas sistem-sistem
rasional.
Psikologi eksistensial tidak mengkonsepsikan tingkah laku sebagai akibat dari perangsang dari
luar dan kondisi-kondisi badaniah dalam manusia.
Konsep eksistensial perkembangan yang paling penting adalah konsep tentang menjadi.
Eksistensi tidak pernah statis, tetapi selalu berada dalam proses menjadi sesuatu yang baru,
mengatasi diri sendiri.
Tujuannya adalah untuk menjadi manusia sepenuhnya, yakni memenuhi semua kemungkinan
dalam kehidupannya.
Eksistensial Kepribadian adalah cara manusia menuju individu yang Menjadi, individu yang bisa
menentukan siapa, menjadi apa, dan bagaimana menjadi dirinya yang mampu mempergunakan
potensinya dengan maksimal.

PRINSIP DASAR
Eksistensi manusia adalah suatu proses yang dinamis, suatu menjadi atau mengada. Hal ini
sesuai dengan asal kata eksistensi itu sendiri yakni existence yang artinya ke luar dari atau
mengatasi dirinya sendiri. Jadi eksistensi bersifat lentur dan mengalami perkembangan atau
sebaliknya kemunduran tergantung padindividu dalam mengaktualisasi poensinya.
Eksistensi adalah ada-dalam-dunia (in-der-welt-sein). Manusia tidak hidup sendiri dan berada
dalam diri sendiri, melainkan berada dalam dunianya. Ada-dalam-dunia adalah struktur dasar
mengadanya manusia. Kata sambung disini menunjukkan bahwa mengadanya manusia tidak bisa
terlepas dan tidak dapat terrealisasi tanpa dunianya.
Manusia hidup dalam :
Mitwelt
Eigenwelt
dan Umwelt
Eksistensi adalah milik pribadi. Tidak ada dua individu yang identik. Tidak ada pula dua
pengalaman yang identik. Oleh sebab itu eksistensi adalah milik pribadi yang keberadaannya
tidak tergantikan oleh siapa pun.
TEORI

Sebagaimana tercermin dalam tulisan Binswanger dan Boss, psikologi eksistensial bertentangan
dengan pemakaian konsep kausalitas yang berasal dari ilmu-ilmu pengetahuan alam dalam
psikologi.
Tidak ada hubungan sebab akibat dalam eksistensial manusia, hanya ada rangkaian urutan
tingkah laku tetapi tidak bisa menurunkan kausalitas dari rangkaian tersebut.
Sesuatu yang terjadi pada seorang anak-anak bukan penyebab dari tingkah lakunya kemudian
sebagai seorang dewasa. Peristiwa yang terjadi mungkin memiliki makna eksistensi yang sama
akan tetapi tidak berarti peristiwa A menyebabkan peristiwa B. Psikologi eksistensial mengganti
konsep kausalitas dengan konsep motivasi.
APLIKASI TEORI
Seseorang yang cenderung melakukan tindak kekerasan, bukan di karenakan karena ia memiliki
kremosom Y yang lebih banyak dari ukuran normal. Melainkan karena itu adalah keputusan yang
dibuat oleh dirinya sendiri
KRITIK
Psikologi eksistensi di kritik dalam hal :
1.
Pandangannya bahwa orang bebas menjadi apa yang mereka inginkan
2.

Terlalu dekat dengan filsafat dan tidak cukup ilmiah

3.

Menolak doktrin evolusi dan mempertahankan bahwa kehidupan manusia itu unik

4.

Mempujangga ( literary ) dan hanya dipahami oleh orang tertentu

5.

Memasukkan hal religius dan etik secara tidak tepat kedalam psikologi

Pandangan Islam tentang Eksistensi Manusia


Sungguh kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur yang kami
hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar
dan melihat. Sungguh kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur
dan ada pula yang kufur. (Q.S. Al-Insan : 2-3)
Berbicara mengenai eksistensi manusia yang dalam hal ini psikologi eksistensial terdapat
beberapa hal yang memiliki kesamaan dengan yang diajarkan dalam Islam. Seperti yang terdapat
pada ayat diatas, dapat kita ambil makna bahwa sesungguhnya manusia diberikan kebebasan
untuk memilih kebaikan ataupun keburukkan untuk hidup, yang jelas Allah SWT telah
memberikan petunjuk yang benar dan lurus, apabila kemudian mereka (manusia) mau bersyukur
ataupun kufur tergantung kepada manusia itu sendiri. Karena Allah SWT telah memberikan
potensi-potensi kepada manusia untuk dikembangkan dan digunakan sebaik-baiknya.
http://hidayanti-nawari.blogspot.com/2010/12/existential-psychology.html

Sedangkan Medard Boss lahir di St. Gallen, Swiss pada tanggal 4 oktober
1903.


Dalam masa-masa itu, Boss membaca karya-karya Ludwig Binswanger dan
Martin Heidegger.

Konsep-konsep utama :
1. Kesadaran diri

Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu


kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir
dan memutuskan.

Semakin besar kesadaran dirinya, maka semakin besar pula kebebasannya


untuk memilih altrnatif-alternatif.

Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai dengan tanggung jawab.

Manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.


2. Kebebasan, tanggung jawab dan
kecemasan

Kesadaran akan kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan


kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia.

Kecemasan juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan


atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (Nonbeing)
3. Penciptaan Makna

Manusia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai


yang akan memberikan makna bagi kehidupan.

Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian.

Manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam


suatu cara yang bermakna.

Manusia juga berusaha untuk mengaktualisasikan diri, yakni mengungkapkan


potensi-potensi manusiawinya. Apabila gagal mengaktualisasikan dirinya, maka ia
bisa menjadi sakit.
Proses Teraupetik Tujuan :
Bugental (1965) menyebutkan bahwa keotentikan sebagai urusan utama
psikoterapi dan nilai eksistensial pokok
Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik :

Menyadari sepenuhnya keadaan sekarang


Memilih bagaimana hidup pada saat sekarang
Memikul tanggung jawab untuk memilih.
Klien yang neurotic adalah orang yang kehilangan rasa ada, dan tujuan terapi
adalah membantunya agar ia memperoleh atau menemukan kembali
kemanusiaannya yang hilang.
Pada dasarnya, tujuan terapi eksistensial adalah :
meluaskan kesadaran diri klien
meningkatkan kesanggupan pilihannya
menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
FUNGSI DAN PERAN TERAPIS
Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikoterapi Humanistik memiliki orientasi
bersama yang mencakup hal-hal berikut :
Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
Menyadari peran dan tanggung jawab terapis
Mengakui sifat timbale balik dari hubungan terapeutik.
Berorientasi pada pertumbuhan
Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang
menyeluruh.
Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan
klien.
Memandang terapis sebagai model, bisa secara implicit menunjukkan kepada
klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandagan dan untuk
mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
Bekerja kea rah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan
kebebasan klien.

PENERAPAN : TEKNIK-TEKNIK DAN PROSEDUR-PROSEDUR TERAPEUTIK

Tidak ada teknik tertentu yang ditentukan secara ketat


Metode-metode yang berasal dari Gestalt dan analisis transaksional sering
digunakan.
Mengintegrasikan metodologi dan konsep-konsep psikoanalisis.
TEMA-TEMA DAN DALIL-DALIL UTAMA EKSISTENSIAL
Dalil 1 : Kesadaran diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari diri yang menjadikannya mampu
melampaui situasi sekarang dan membentuk basis bagi aktivitas-aktivitas berpikir
dan memilih yang khas manusia.
semakin tinggi kesadaran, maka semakin utuh diri sesorang
Dalil 2 : Kebebasan dan tanggung jawab
Manusia pada dasarnya adalah bebas, oleh karenanya harus bertanggung jawab
atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya sendiri.
Dalil 3 : Keterpusatan dan kebutuhan akan orang lain.
Individu memiliki kebutuhan untuk memelihara keunikan dan keterpusatannya,
tetapi sekaligus memiliki kebutuhan untuk keluar dari diri sendiri, berhubungan
dengan orang lain dan lingkungan.
Keberanian untuk ada
Pengalaman kesendirian
Pengalaman keberhubungan
Manusia berhubungan dengan dunia luar dalam 2 bentuk :
- alam kekurangan (deficiency)
- alam menjadi (being)
Dalil 4 : Pencarian Makna
Salah satu kharakteristik yang khas pada manusia adalah perjuangannya untuk
merasakan arti dan maksud hidup.
Dalil 5 : Kecemasan sebagai syarat hidup
Kecemasana bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk pertumbuhan
Kesadaran adalah akibat dari kesadaran atas tanggung jawab untuk memilih.

Dalil 6 : Kesadaran atas kematian dan Non-ada


Karakteristik yang khas pada manusia adalah kemampuan untuk memahami konep
masa depan dan tak bisa dihindarkannya kematian.
Hidup menjadi bermakna karena memiliki pembatasan waktu.
Dalil 7 : perjuangan untuk aktualisasi diri
Manusia berjuang untuk aktualisasi diri, yakni kecenderungan untuk menjadi apa
saja yang mereka mampu.
Kompleks Junus :
perasaan takut, gamang, perasaan tidak berharga dan meragukan
kemampuan diri untuk memperoleh kemasyuran dan aktualisasi diri
Dalil Maslow tentang aktualisasi diri
Dalil dari Carl Rogers tentang pribadi yang berfungsi penuh
Terapi :
-

Membangkitkan ke-aku-an nya (eksistensi)

Bisa juga digabungkan dengan psikoanalisa.

http://dodydanpsikologi.blogspot.com/2012/01/pendekatan-eksistensialhumanistik.html

A.

BINSWANGER dan BOSS

Binswanger dan Boss adalah 2 orang psikologi terapis pengembang teori dan
praktek
terapi eksistensial yang disebut analisis eksistensial. Berikut inti dari
teori kepribadian Binswanger dan Boss :
1.

Taraf-taraf dunia dan keberadaan

Ada 3 taraf dunia tempat manusia meng-ada, yakni :


Dunia fisikal atau biologis. Dalam cara berelasi dengan alam atau dunia fisikal,
setiap individu memiliki persepsi yang berbeda tentang alam, misalnya individu
satu memandang laut sebagai sumber bahaya sehingga akan selalu menghindari
laut, sementara individu yang lain mempersepsi laut sebagai tempat yang ideal
untuk berolahraga air sehingga merasa senang berada di laut.
Dunia manusia atau sosial. Dalam berelasi atau meng-ada di dalam dunia sosial
juga berbeda persepsi masing-masing individu. Ada individu yang mempersepsi

bahwa orang lain itu baik, bisa saling mengerti, menghargai dan membantu
sehingga individu dalam dunia sosialnya bersedia dan sanggup untuk menjalani
hubungan dengan orang lain. Individu yang lain ada yang mempersepsi bahwa
adanya orang lain itu hanya untuk menilai, menghakimi, atu mengobjekkan dirinya
sehingga individu tidak akan mampu berhubungan dengan orang lain dan
menghindarkan diri dari pergaulan dengan orang lain. Ada pula individu yang
senantiasa mengantisipasi apa yang dipikirkan orang lain mengenai dirinya
sehingga ia senantiasa bertingkah laku yang disukai orang lain.
Dunia diri sendiri. Individu menjalani keberadaan sebagai subjek yang
merefleksikan, mengevaluasi, menilai atau menghakimi dirinya sendiri. Banyak
individu yang menghindari introspektif, karena hal itu akan menyakitkan namun ada
individu yang terus menerus introspektif dengan akibat mereka kekurangan
kemampuan untuk meng-ada di dalam dunia sosial secara adekuat.
2.

Perkembangan Keberadaan

Perkembangan keberadaan bertumpu pada 1) Konsep pemenjadian, bahwa diri


manusia selalu berada dalam proses perkembangan menuju taraf yang lebih tinggi
dengan kualitas yang berebda dari taraf sebelumnya. 2) Konsep ada di luar dunia
menyatakan bahwa setiap manusia itu mempunyai kemungkinan-kemungkinan atau
potensi bawaan yang dapat direalisasikan sehingga dapat mencapai kehidupan dan
keberadaan yang otentik. Namun individu itu sendiri memiliki kebebasan untuk
memilih, menentukan dan memutuskan potensi apa yang akan direlisasikannya.
Manusia bebas untuk menentukan arah perkembangan dirinya sendiri dan bebas
untuk menentukan akan menjadi apa dan bagaimana dirinya. Tentunya kebebasan
yang dimiliki harus disertai dengan tanggung jawab atas penentuan nasibnya
sendiri.
3.

Psikopatologi

Psikopatologi merupakan suatu fenomena kehidupan historis yang bersumber pada


ketidakmampuan individu menghadapi kecemasan eksistensial, misalnya kematian
secara konstruktif, ketidakmampuan individu meng-ada dalam tiga taraf dunianya
dan penghindaran individu dari realisasi potensi bawaan yang dimiliki dalam
dirinya.
http://kace44.blogspot.com/2012/05/psikologi-eksistensial.html

PERBANDINGAN TEORI-TEORI PSIKOLOGI


Ditulis Oleh Wilujeng Dwi
Saturday, 07 April 2012

No

ASPEK

1.

Tokoh

PSIKOANALISA

BEHAVIORAL

EKSISTENSIAL

Sigmund Freud

B. F. Skinner

Viktor Fankl

Carl Gustav Jung

Edwart Leo
Thordike

Ludwig Binswanger

Alfred Adler

ANALISIS
TRANSAKSIONAL

RASIONAL EMOSI
PERILAKU

Eric Lennard Berne

Albert Ellis

Manusia mampu
mengembangkan
potensinya untuk
keuntungan pribadi
dan masyarakat.

Manusia memainkan
peran penting dalam
menyelesaikan
kesulitannya sendiri
melalui cara mereka
dalam
menginterpretasikan
situasi.

Medard Boss
Ivan P. Pavlov
John Broadus
Watson
Albert Bandura

2.

Hakikat
Manusia

Tingkah laku
manusia
ditentukan oleh
kekuatan
irrasional,
motivasi, tak
sadar dan
dorongan
biologis dan
instingtual.

Manusia
dianggap
sebagai sesuatu
yang dapat
ditentukan dan
diprogram
sesuai dengan
keinginan
lingkungan yang
membentuknya.

Manusia dianggap
sebagai ciptaan
tuhan yang sulit
dimengerti, tetapi
diakui bahwa semua
manusia memiliki
potensi.

3.

Struktur
Kepribadian

Id: sistem asli


bersifat subjektif,
yang terdiri dari
insting, dan
gudangnya
energi psikis.

Struktu
kepribadian
eksternal yaitu
tingkah laku
yang teramati.

Mempiunyai
kebebasan, dan
tanggung jawab,
berkembang untuk
mencari makna
hidup.

Stimulus Hunger
Struktur Hunger
Stroke
Position Hunger

Ego: memenuhi
kebutuhan Id
yang terkait
dengan dunia
nyata.

Ego State

Manusia memainkan
peran pentingdalam
menyebabkan
kesulitanya sendiri
melalui cara mereka
sendiri dalam
menginterpretasikan
situasi atau peristiwa
lingkungan.

Super ego:
komponen moral
kebpribadian.
4.

5.

Hakikat
Kecemasan

Kecemasan
berkembnag
karena konflik
ego dan
superego
mengenai kontrol
akan energi
psikis yang ada.

Tujuan Memperkuat ego.


Konseling
Meningkatkan
kemampuan
individu dalam
bercinta dan
bekerja.
Membantu
aktualisasi diri.

Kecemasan
akibat dari
menghindari
atau kondisi
pelepasan diri.

Kecemasan
Sebagai akibat
kegagalan untuk
memenuhi bagian
psikologis dari
kebutuhan fisiologis
atau kebutuhan rasa
aman.

Kecemasan akibat
dari kesalahan saat
menganalisa
transaksi-transaksi
atau interaksiinteraksi antar
manusia.

Kecemasan akibat
dari kegagalan saat
menginterpretasikan
situasi atau peristiwa
lingkungan.

Memperkuat
perilaku adaptif.

Membantu manusia
menemukan nilai,
makna dan tujuan
dalam hidup.

Membantu konseli
dalam
mengembangkan
pribadi agar dapat
membuat ego state
berfungsi pada
saat yang tepat.

Membantu konseli
mengidentifikasi
sistem keyakinannya
yang tidak rasional
dan mengubahnya
menjadi lebih
rasional.

Mengurangi
kecemasan.
Memperkuat
pengendalian
diri.
Bersifat asertif.

6.

Teknik

Asosiasi Bebas Teori

Konseling Logo

Analisis Struktural Teknik-teknik Emotif:

Konseling

Pengkondisian
Klasikal:
Analisis mimpi
Analisis
transperensi
Analisis
resistensi
Interpretasi

Desentralisasi
sistemis
Pengkondisian
avertif

Metode-metode
Didaktik
Analisis
Fenomelogis
Analisis Mimpi

Analisis
Transaksional
Permainan Peran

Latihan asertif

Analisis Upacara,
hiburan dan
permainan

Teori
Pengkondisian
Operan:

Analisis Skenario

Assertive Training
Sosiodrama
Self modeling
Imitasi
Teknik-teknik Behavior:
Rainforcement
Social Modeling

Penguatan

Live Models

Hukuman
Penghapusan
Pembentukan
Pengolaan diri
kontrak
Teori Kognisi
Sosial:
Teknik
modeling
Teori Pendekatan
Kognitif:
Penghentian
pikiran
Restrukturisasi
kognitif
Suntikan stres
Teknik
pengajaran diri
Pemecahan
masalah
7.

8.

Aplikasi
Konseling

Pembicaraa

Konselor
psikoanalisa
yang
mengembangka
n keyakinan
bahwa
psikoanalisa
dapat digunakan
secara efektif
untuk menangani
semua
gangguan non
psikotik.

Menangani
gangguan
seperti
kecemasan,
depresi,
kecanduan obat,
gangguan
makan,
penyimpangan
seksual, dan
hipertensi.

Konsep-konsep
eksistensial
mengingatkan kita
tentang pentingnya
memiliki
kebermaknaan
dalam hidup ini.

Proses belajar

Pribadi yang

Kegagalan manusia

Stimulus Hunger
Struktur Hunger
Stroke
Ego State
Position Hunger

Tidak bisa

Diterapkan secara
efektif untuk
menangani
kesulitan-kesulitan
kognitif, kognisi, dan
perilaku yang
berkaitan dengan
distress, psikologis
dan psikopatologi,
emosi dan perilaku,.

Kecenderungan

n Riwayat
Konseli

yang tidak benar


pada masa
kanak-kanak.

tidak mampu
mengatur diri
dalam
hubungannya
dengan diri
sendiri, orang
lain dan
lingkungan.

dalam mengatasi isu


keberadaan.

memperbaiki
kesalahan
komunikasi.

berfikir irrasional dan


menghubungka
dengan pengalaman
hidupnya.

9.

Masalahmasalah
yang
Ditangani

Menangani
semua
gangguan non
psikotik.

Tingkah laku
yang
menyimpang
dari normanorma yang
berlaku di
masyarakat.

Menangani
kegagalan manusia
dalam menghadapi
isu-isu keberadaan.

Menangani
masalah dalam
kesalahan
komunikasi.

Menangani sistem
keyakinannya yang
tidak rasional dan
mengubahnya
menjadi lebih
rasional.

10.

Pribadi
Sehat

Individu bergerak
menurut
perkembangan
ilmiah,
perilakunya
sebagai hasil
dari belajar
dalam mengatasi
kecemasan,
keseimbangan
antara kinerja
seper ego
terhadap id dan
ego.

Pribadi yang
mampu
mengatur diri
dalam
hubungannya
dengan diri
sendiri, orang
lain dan
lingkungannya.

Mereka yang berada


dalam keadaan
seimbang dengan
dirinya sendiri,
teman,
keluarga,kolega,
lingkungan fisik dan
spiritualnya.

Im ok, You ok.

Kognisi, emosi dan


perilaku saling
berinteraksi dan
saling
mempengaruhi.

11.

Pribadi Tidak
Sehat

Dinamika yang
tidak efektif
antara super ego
dan proses
belajar yang
tidak benar pada
masa kanakkanak.

Tidak mampu
mengatur diri
dalam
hubungannya
dengan diri
sendiri, orang
lain dan
lingkungan.

Gangguan
emosional pada
dasarnya
disebabkan oleh
kegagalan manusia
dalam mengatasi isu
keberadaan.

Manusia yang tidak


bisa memperbaiki
kesalahan
komunikasi.

Gangguan
emosional berakar
pada
kecenderungan
gaya berfikir
bawaan, pemikiran
irrasional dan
pengalaman
hidupnya.

N
o

ASPEK

1.

Tokoh

GESTALT

Frederick Perls

EKLEKTIK

TRAIT & FACTOR

Arnold Lazarus

Walter Bigham

Allen Ivey

John Darley

PSIKOLOGI
INDIVIDUAL

PERSON
CENTERED

Alfred Adler

Carl Rogers

Manusia pada
dasarnya
adalah mahluk
sosial, mereka
menghubungka
n dirinya
dengan orang
lain, ikut dalam
kegiatan-

Memiliki
kecenderungan
yang inheren
untuk
mengarahkan dan
mengaktualisasika
n dirinya, manusia
membutuhkan
kondisi lingkungan

Donald G. Paterson
E. G. Williamson
2.

Hakikat
Manusia

Manusia memiliki
suatu
kecenderungan
dasar untuk
mencapai
keseimbangan,
kecenderungan
yang mengarahkan
manusia untuk

Manusia memiliki
perspektif jamak
yang terus
menerus
berkembang.

Manusia
merupakansistem sifat
atau faktor yang saling
berkaitan antara satu
dengan lainnya, seperti
kecakapan, minat, sikap,
dan temperamen.

berfikir luas.

3.

Struktur
Kepribadian

Setiap manusia
memiliki sifat dasar
yang baik dan
sama, yakni
mengaktualisasika
n diri dan memiliki
kemampuan untuk
menangani
kehidupannya
dengan berhasil,
meski kadang
butuh bantuan.

4.

Hakikat
Kecemasan

Kecemasan
diakibatkan karena
individu
membiarkan
aspek-aspek
dirinya terpisahpisah.

5.

Tujuan
Konseling

Membangkitkan
kesadaran konseli
tentang tubuhnya.

Individu adalah
unik dan dapat
mengarahkan
dirinya sendiri.

Kepribadian merupakan
suatu system sifat atau
factor yang saling
berkaitan satu dengan
yang lain seperti
kecakapan, minat, sikap
dan temperamen.

kegiatan kerja
sama sosial,
menempatkan
kesejahteraan
sosial diatas
kepentingan diri
sendiri dan
mengembangka
n gaya
hidup yang
mengutamakan
orientasi sosial.

yang empatik,
autentik, dan
dapat memberikan
penghargaan
positif tanpa
syarat.

Organisasi
Sistem

Mengajukan 2
konstruk pokok
dalam teorinya
yaitu organisme
dan self.

Tendes-tendes
Determinasi
Gabungan
mental dan
moral

Its constituent
Self Felling
The action of selfseeking and self
preservation.
Kecemasan
diakibatkan oleh
inkonruensi antara
diri dan
organisme.

Membantu
individu dalam
proses
perkembanganny
a dengan
melakukan
berbagai
pendekatanpendekatan.

Membantu individu
mencapai
perkembangan
kesempurnaan berbagai
aspek kehidupan
manusia.
Membantu individu
dalam memperoleh
kemajuan,memahami
dan mengelola diri
dengan cara
membantunya menilai
kekuatan dan kelemahan
diri dalam kegiatan
dengan perubahan
kemajuan tujuan-tujuan
hidup dan karir.
Membantu individu untuk
memperbaiki
kekurangan,ketidakmam
puan, dan keterbatasan
diri serta membantu
pertumbuhan dan
integrasi kepribadian.
Mengubah sifat-sifat
subyektif dan kesalahan
dalam penilaian diri

Membentuk
minat social,
mengoreksi
kesalahan
asumsi dan
tujuan.

Membantu konseli
memahami diri,
menerima diri, dan
merealisasikan
semua potensi
yang dimilikinya.

dengan mengggunakan
metode ilmiah.

6.

Teknik
Konseling

Penggunaan kursi
kosong (empty
chair)

Hubungan
konselor dan
klien
Interview
Asesmen
Perubahan ide

7.

Aplikasi
Konseling

Diterapkan sebagai
suatu pendekatan
yang efektif untuk
konseli yang
memiliki masalah
kecemasan,
depresi, merasa
tidak sempurna
dan kurang bisa
menyesuaikan diri.

Dengan
menggunakan
lebih dari satu
pendekatan
untuk menangani
masalah konseli.

8.

Pembicaraa
n Riwayat
Konseli

Tidak mau
mengakui aspekaspek diri.

tidak bisa
mengandalikan
perspektif jamak
yang
berkembang.

9.

Masalahmasalah
yang
Ditangani

Seseorang yang
mengalami
gangguan
kepribadian atau
perilaku karena
menolak atau tidak
mau mengakui
aspek-aspek diri
dan
membiarkannya
terpisah.

Individu yang
tidak bisa
mengandalikan
perspektif jamak
yang terus
menerus
berkembang.

10
.

Pribadi
Sehat

Mereka yang dapat


bertindak secara
produktif
dalammelaksanaka
n tugas-tugas
kehidupan dan
pemeliharaan dan
secara intuitif
bergerak menuju
pertumbuhan dan
pemeliharaan diri.

Perilaku manusia
itu kompleks.

Penggunaan hubungan
intim (rapport)

Empati
Dukungan

Memperbaiki
pemahaman diri
Pemberian nasihat dan
perencanaan program
kegiatan

Kolaborasi
Memekankan
tanggung jawab
konseli,
konstelasi
keluarga, dan
pemeriksaan
ingatan
konseling.
Banyak
digunakan
sebagai
kerangka kerja
dalam konseling
perkawinan,
konseling karir,
konseling
umum, dan
pendidikan
orang tua.

Pengkomunikasia
n tiga kondisi:
empati, ketulusan
dan penghargaan
tanpa syarat
melalui
ketrampilan,
attending, dan
listening.

Menangani
kesulitan individu,
konsep respek,
keautentikan, dan
empati.

Anak laki-laki
memiliki gambaran
diri sebagai anak
yang baik dan
dicintai oleh orang
tuanya, tetapi ia
juga senang
mengganggu adik
perempuannya
sehingga dia
dihukum.

11
.

Pribadi
Tidak Sehat

Gangguan
kepribadian atau
perilaku karena
menolak atau tidak
mau mengakui
aspek-aspek diri.

Diposkan oleh The World of Guidance and Counseling di 06.23