Anda di halaman 1dari 23

UPAYA PENANGANAN LIMBAH BATIK DENGAN

BIOREMEDIASI MENGGUNAKAN Polyporus rubidus


Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bioteknologi

Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Supartono, M.S.
Dr. Nur Kusuma Dewi, M. Si.

Disusun Oleh :
Haryanti

0402514029

Fanny Firman Syah

0402514042

Afriani Laela Nuritasari

0402514049

Ardiyana Pratono

0402514077

Yunita Wulansari

0402514079

PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM KONSENTRASI KIMIA


PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2015

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, yang
telah melimpahkan taufik dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan
penyusunan makalah yang berjudul UPAYA PENANGANAN LIMBAH BATIK
DENGAN BIOREMEDIASI MENGGUNAKAN Polyporus rubidus.
Adapun maksud penyusunan makalah ini adalah dalam rangka untuk memenuhi
tugas individu mata kuliah Bioteknologi. Di samping itu juga untuk menambah
pengetahuan dan wawasan tentang pemanfaatan kajian bioteknologi lingkungan dalam
upaya penanganan masalah pencemaran lingkungan, khususnya mengenai pemanfaatan
mikroba khususnya jamur dalam upaya penanganan zat pencemar.
Penyusun menyadari bahwa terselesainya makalah ini tidak semata-mata dari
jerih payah penyusun sendiri, melainkan atas bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu sepantasnyalah penyusun mengucapkan terima kasih, terutama
kepada :
1

Prof. Dr. Supartono, M.S dan Dr. Nur Kusuma Dewi, M.Si yang merupakan dosen

pengampu mata kuliah Bioteknologi.


Teman-teman kelas reguler prodi Pendidikan IPA (Kimia, S2) pascasarjana Unnes
angkatan 2014.
Akhir kata, penyusun menyadari akan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki

dan masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, sangat
diharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar makalah ini menjadi lebih
baik dan berdaya guna di masa yang akan datang.
Semarang,

Desember 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

Hal
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1
2
3
4

Latar Belakang ................................................................................................


Rumusan Masalah ..........................................................................................
Tujuan .............................................................................................................
Manfaat............................................................................................................

1
3
3
3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 4


2.1 Limbah Batik.................................................................................................. 4
2.2 Bioteknologi Lingkungan............................................................................... 6
2.3 Bioremediasi................................................................................................... 7
2.4 Jamur sebagai Agen Bioremediasi.................................................................. 9
BAB III PEMBAHASAN.................................................................................... 11
3.1 Pengolahan Limbah Batik .............................................................................. 11
3.3 Pengolahan Limbah Batik Sederhana ............................................................. 16
BAB IV PENUTUP ............................................................................................. 17
4.1 Simpulan ......................................................................................................... 17
4.2 Saran ............................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat pesat
selain berdampak positif terhadap perkembangan manusia tetapi juga memiliki
dampak negatif diberbagai bidang. Salah satunya adalah permasalahan
pencemaran lingkungan akibat aktivitas manusia. Kualitas lingkungan semakin
menurun, menimbulkan munculnya berbagai macam penyakit, sehingga
menyebabkan kualitas hidup menjadi turun. Berbagai macam dampak negatif
yang timbul akibat pencemaran lingkungan, mendorong adanya suatu upaya untuk
mengatasi dan mencegah dampak negatif akibat pencemaran lingkungan.
Batik merupakan salah satu warisan budaya asli Indonesia. Pekalongan
merupakan salah satu produsen batik terbesar di Indonesia. Seiring ditetapkannya
batik menjadi salah satu warisan budaya asli Indonesia oleh UNESCO tahun 2009
lalu, gembar-gembor pemerintah agar masyarakat memakai dan mencintai batik ini
pun semakin meluas. Hal ini menjadi poin positif tersendiri buat para pengusaha dan
pengrajin batik di Indonesia, khususnya di Pekalongan. Permintaan batik yang
melonjak tinggi berbanding lurus dengan limbah batik yang semakin banyak pula.
Miris melihat kenyataan bahwa kemudian limbah tersebut dibuang bebas ke sungai
tanpa mempedulikan dampak negatif dari pembuangan limbah tersebut.

Pembuangan limbah batik tersebut kemudian dialirkan ke sungai-sungai


yang kemudian menuju ke laut. Kondisi sungai sangat memprihatinkan, air sungai
menjadi sangat keruh, berwarna kehitaman dan berbau tidak sedap. Dahulu
kondisi sungai di Pekalongan tidak separah sekarang dan masih bisa digunakan
untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat Pekalongan. Sekarang, masyarakat
tidak dapat menggunakan air sungai untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Sebagian besar masyarakat Pekalongan bermata pencaharian sebagai
pengusaha batik. Usaha batik merupakan usaha turun temurun yang ada di
Pekalongan sehingga Pekalongan disebut sebagai Kota Batik. Banyak pengusaha

yang sudah terkenal dan produksinya dikenal di seluruh Indonesia bahkan


di luar negeri. Pekerja batik sendiri rata-rata diambil dari masyarakat sekitar yang
bisa membuat batik. Sebagian besar masyarakat Pekalongan dapat membuat batik
atau hanya sekedar memberi malam pada kain dengan menggunakan canting.
Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini sebenarnya sudah banyak
menawarkan solusi dalam penanganan limbah batik tersebut. Seperti pembuatan
kolam

penampungan

yang

kemudian

dilakukan

pengendapan

untuk

mengendapkan zat-zat yang berbahaya, sehingga kualitas air sesuai dengan baku
mutu dan aman bagi lingkungan. Namun proses kimia dan fisik pengendapan
menghasilkan sludge lumpur yang kemudian menjadi masalah baru dalam
penanganannya. Disisi lain membangun sebuah instalasi pengolahan limbah pun
memerlukan biaya yang tidak sedikit dan perawatan juga memerlukan perawatan
yang sangat tinggi. Proses sedimentasi zat pencemar tersebut pun masih
menyisakan masalah, yaitu proses adsorbsi zat pewarna tekstil yang tidak begitu
maksimal. Secara fisik sudah terlihat aman, namun jika dilihat kandungannya
masih tidak layak untuk kemudian disalurkan di sungai.
Bioteknologi lingkungan adalah bioteknologi yang penggunaannya banyak
melibatkan mikroorganisme untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup
manusia dan alam sekitarnya. Bioteknologi lingkungan diharapkan dapat menjadi
solusi atas berbagai masalah lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia.
Penerapan bioteknologi menjadi alternatif yang sangat bijak dan ekonomis. Selain
tidak menimbulkan masalah baru dan aman terhadap lingkungan juga relatif tidak
memerlukan biaya yang tinggi.
Salah satu penanganan yang ditawarkan adalah dengan menggunakan
penggunaan jamur lapuk putih jenis Polyporus rubidus. Telah dilaporkan bahwa
Polyporus rubidus mampu mendegradasi zat pencemar dan zat warna sebesar
80% (Dayaram & Debjani, 2008). Proses pengendapan fisik dan kimia yang
kemudian dilanjutkan dengan biodegradasi dengan menggunakan Polyporus
rubidus diharapkan mampu mengatasi permasalahan pencemaran limbah batik di
Pekalongan.

Dalam makalah ini akan dibahas upaya penanganan limbah batik atau
bioremediasi zat pencemar dengan Polyporus rubidus.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja pemanfaatan bioteknologi di bidang lingkungan?
2. Bagaimana karakteristik limbah batik?
3. Bagaimana upaya bioremediasi limbah batik di Pekalongan?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pemanfaatan bioteknologi di bidang lingkungan.
2 Untuk mengetahui karakteristik limbah batik.
3 Untuk mengetahui upaya bioremediasi limbah batik dengan Polyporus
rubidus.
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai informasi ilmiah dalam
upaya pengembangan pembelajaran bioteknologi lingkungan, khususnya
bioremediasi
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Bagi Mahasiswa
Memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa, sehingga mampu
mengaplikasikan ilmu pengolahan limbah batik dan dapat sebagai referensi dalam
menambah wawasan dan meningkatkan penerapan ilmu di masyarakat.
2. Bagi Pemilik Industri Batik
Memberikan sumbangan ilmiah sebagai pedoman industri dalam
mengaplikasikan pengolahan limbah cair pewarna batik.
3. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat tentang
pengolahan limbah cair pewarna batik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Limbah Batik
2.1.1 Definisi Limbah
Definisi limbah menurut Peraturan Pemerintah No. 18/1999 Jo. PP
85/1999, adalah sisa atau buangan dari suatu usaha dan/atau kegiatan manusia.
Limbah adalah bahan buangan tidak terpakai yang berdampak negatif terhadap
masyarakat jika tidak dikelola dengan baik. Air limbah industri maupun rumah
tangga (domestik) apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan dampak
negatif bagi kesehatan.
Berdasarkan sifatnya limbah dapat dibedakan menjadi :
a. Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur,
bubur yang berasal dari sisa kegiatan dan atau proses pengolahan. Contohnya:
limbah dari pabrik tapioka yang berupa onggok, limbah dari pabrik gula
berupa bagase, limbah dari pabrik pengalengan jamur, limbah dari industri
pengolahan unggas, dan lain-lain. Limbah padat dapat di bagi 2 yaitu:
1) Dapat didegradasi, contohnya sampah bahan organik, onggok.
2) Tidak dapat didegradasi contoh plastik, kaca, tekstil, potongan logam.
b. Limbah cair adalah sisa dari proses usaha dan/atau kegiatan yang berwujud
cair. Contohnya antara lain : Limbah dari pabrik tahu dan tempe yang banyak
mengandung protein, limbah dari industri pengolahan susu, dan limbah
deterjen pencucian.
c. Limbah gas/asap adalah sisa dari proses usaha dan/atau kegiatan yang
berwujud gas/asap. Contohnya : limbah dari pabrik semen
2.1.2

Limbah Batik
Limbah batik merupakan limbah yang berasal dari pengolahan pembuatan

batik. Limbah batik biasanya berupa limbah cair yang banyak mengandung zat
pencemar seperti logam-logam berat dan zat pewarna tekstil yang sangat sulit
terurai.

Batik adalah suatu cara penerapan corak diatas kain melalui proses celup,
rintang warna, dengan mala sebagai medium perintangnya (Indonesia Indah
Batik, 2006).
Tahap tahap pembuatan batik:
1. Persiapan
2. Pemolaan
3. Pemalaman
4. Pewarnaan Celup
5. Pelorodan (penghilangan lilin batik)
6. Pekerjaan akhir (finishing)
Karakteristik utama dari limbah industri tekstil batik adalah tingginya
kandungan zat warna sintetik, yang apabila dibuang ke lingkungan tentunya akan
membahayakan ekosistem perairan. Zat warna ini memiliki struktur kimia yang
berupa gugus kromofor dan terbuat dari beraneka bahan sintetis, yang
membuatnya resisten terhadap degradasi saat nantinya sudah memasuki perairan.
Meningkatnya kekeruhan air karena adanya polusi zat warna, nantinya akan
menghalangi masuknya cahaya matahari ke dasar perairan dan mengganggu
keseimbangan proses fotosintesis, ditambah lagi adanya efek mutagenik dan
karsinogen dari zat warna tersebut, membuatnya menjadi masalah yang serius.
Limbah cair industri tekstil dapat diamati dengan mudah, karena limbah
cairnya memiliki warna yang pekat. Warna ini berasal dari sisa-sisa zat warna
yang merupakan suatu senyawa kompleks aromatik yang biasanya sukar untuk
diuraikan oleh mikroba. Beberapa penelitian mengenai perombakan zat warna dari
limbah cair industri tekstil secara anerobik dilaporkan telah berhasil mengurangi
warna, khususnya zat warna azo ini umumnya resistan untuk dioksidasi oleh
mikoorganisme aerobik.
Jenis yang paling banyak digunakan saat ini adalah zat warna reaktif dan zat
warna dispersi. Hal ini disebabkan produksi bahan tekstil dewasa ini adalah serat
sintetik seperti serat polamida, poliester dan poliakrilat.Bahan tekstil sintetik ini,
terutama serat poliester, kebanyakan hanya dapat dicelup dengan zat warna

dispersi. Demikian juga untuk zat warna reaktif yang dapat mewarnai bahan kapas
dengan baik. (Oktavia, 2011)
2.2 Bioteknologi Lingkungan
Bioteknologi lingkungan merupakan salah satu pemanfaatan bioteknologi
yang penggunaannya banyak melibatkan mikroorganisme untuk meningkatkan
kualitas lingkungan hidup manusia dan alam sekitarnya. Peningkatan kualitas
lingkungan tersebut meliputi pencegahan terhadap masuknya berbagai polutan
agar lingkungan tidak terpolusi; membersihkan lingkungan yang terkontaminasi
oleh polutan; dan memberdayakan sumber daya alam yang masih memiliki nilai
tambah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Essensi kajian
bioteknologi lingkungan sesungguhnya untuk meningkatkan kesejahteraan taraf
kehidupan manusia melalui pemberdayaan lingkungan melalui mekanisme
tertentu.
Bioteknologi
menjanjikan

lingkungan

mengenai

analisis

dalam

biologi

dampak

merupakan

lingkungan

kajian

(AMDAL)

yang
untuk

kesejahteraan dalam meningkatkan penjagaan lingkungan hidup dalam kehidupan


modern yang lebih baik lagi di masa industrialisasi. Salah satu perlakuan
teknologi dalam bioteknologi lingkungan dilakukan melalui mikrobiologi yang
sudah dikembangkan pada abad 20, seperti mengaktivasi berbagai kotoran (hewan
dan manusia) dan pencernaan anaerobik hewan, kotoran-kotoran lain yang
berserakan di lingkungan tempat tinggal kita.
Pada waktu yang sama, hadirnya teknologi baru secara konstan ditujukan
untuk memecahkan masalah-masalah yang sedang trend sekarang ini, terutama
masalah lingkungan hidup, seperti detoksifikasi zat-zat kimia yang berbahaya
yang sudah banyak menyatu ke dalam berbagai tumbuhan dan hewan peliharaan
kita.
Kajian bioteknologi lingkungan mengakar kepada prinsip-prinsip dan
aplikasi biologi, yang berkaitan dengan teknologi. Strategi kita dalam
mengembangkan bioteknologi lingkungan berbasis kepada konsep-konsep dasar
dan perangkat yang bersifat kuantitatif saja. Yang dimaksud dengan prinsip-

10

prinsip dan aplikasi biologi disini adalah memberdayakan semua proses


mikrobiologikal agar dapat dipahami, diprediksi, dan merupakan satu kesatuan
pemahaman. Setiap aplikasi bioteknologi lingkungan memiliki ciri-ciri khusus
tersendiri yang musti dipahami kita. Ciri khusus ini tidak dilakukan secara jungkir
balik, tetapi dilakukan secara step by step. (Risal, 2012)
2.3 Bioremediasi
Bioremediasi adalah proses degradasi biologis dari sampah organik pada
kondisi terkontrol menjadi suatu bahan yang tidak berbahaya atau konsentrasinya di
bawah batas yang ditentukan oleh lembaga berwenang. Sedangkan menurut United
States Environmental Protection Agency (dalam Surtikanti, 2011), bioremediasi
adalah suatu proses alami untuk membersihkan bahan-bahan kimia berbahaya. Ketika
mikroba mendegradasi bahan berbahaya tersebut,akan dihasilkan air dan gas tidak
berbahaya seperti CO2.
Bioremediasi

merupakan

pengembangan

dari

bidang

bioteknologi

lingkungan dengan memanfaatkan proses biologi dalam mengendalikan pencemaran.


Laju degradasi mikroba terhadap zat pencemar tergantung pada beberapa faktor, yaitu
aktivitas mikroba, nutrisi, derajat keasaman dan faktor lingkungan (Hardiani, dkk.,
2011). Teknologi bioremediasi ada dua jenis, yaitu ex-situ dan in situ. Ex-situ adalah
pengelolaan yang meliputi pemindahan secara fisik bahan-bahan yang terkontaminasi
ke suatu lokasi untuk penanganan lebih lanjut. Penggunaan bioreaktor, pengolahan
lahan (landfarming), pengkomposan dan beberapa bentuk perlakuan fase padat
lainnya adalah contoh dari teknologi ex-situ, sedangkan teknologi in situ adalah
perlakuan yang langsung diterapkan pada bahan-bahan kontaminan di lokasi
tercemar.
Teknologi bioremediasi dalam menstimulasi pertumbuhan mikroba dilakukan
dengan tiga cara yaitu:
1. Biostimulasi: dengan cara memperbanyak dan mempercepat pertumbuhan
mikroba yang sudah ada di daerah tercemar dengan cara memberikan
lingkungan pertumbuhan yang diperlukan, yaitu penambahan nutrien dan
oksigen. Jika jumlah mikroba yang ada dalam jumlah sedikit, maka harus
ditambahkan mikroba dalam konsentrasi yang tinggi sehingga bioproses dapat
terjadi.

11

2. Bioaugmentasi: dengan cara penambahan produk mikroba komersial ke


dalam limbah cair untuk meningkatkan efisiensi dalam pengolahan limbah
secara biologi. Hambatan mekanisme ini yaitu sulit untuk mengontrol kondisi
situs yang tercemar agar mikroba dapat berkembang dengan optimal. Selain
itu mikroba perlu beradaptasi dengan lingkungan tersebut yang diikuti dengan
penambahan nutrien tertentu.
3. Bioremediasi intrinsik: terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang
tercemar.

Saat

bioremediasi

terjadi,

enzim-enzim

yang

diproduksi

oleh

mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia


polutan

tersebut,

yang

disebut

biotransformasi.

Pada

banyak

kasus,

biotransformasi berujung dengan biodegradasi, struktunya menjadi tidak


kompleks dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan tidak
beracun.
Fenomena biodegradasi sangat penting untuk lingkungan yang harus bebas
dari sampah dan limbah untuk membuat jalan bagi kehidupan baru. Biodegradasi
dilakukan oleh dekomposer, mikroorganisme (jamur, bakteri, protozoa) yang
tumbuh pada bahan organik mati, atau produk limbah dari ekosistem. Dari sudut
pandang kimia, degradasi adalah oksidasi senyawa organik. Proses oksidasi yang
paling penting adalah respirasi telepon yang memungkinkan pelepasan karbon
dioksida dan penutupan siklus biogeokimia karbon.
Proses remediasi memiliki banyak keuntungan, diantara lain:
1. Bioremediasi sangat aman digunakan karena menggunakan mikroba yang
secara alamiah sudah ada dilingkungan (tanah).
2. Bioremediasi tidak menggunakan/menambahkan bahan kimia berbahaya.
3. Proses yang terjadi tidak hanya melakukan pemindahan polutan, tetapi
pengubahan molekul menjadi senyawa sederhana yang ramah lingkungan.
4. Teknik pengolahannya mudah diterapkan dan murah biaya.
Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan pengolahan tergantung pada
faktor jenis dan jumlah senyawa kimia yang berbahaya yang akan diolah, ukuran
dan kedalaman area yang tercemar, jenis tanah dan kondisi setempat dan teknik
yang digunakan.
2.4 Jamur sebagai Agen Bioremediasi

12

Proses bioremediasi yang menggunakan jamur sebagai agen pengurainya


disebut dengan mikoremediasi. Jamur sebagai agen bioremediasi digunakan untuk
detoksifikasi lingkungan yang tercemar polutan berbahaya. Salah satu peran jamur
dalam bioremediasi dilakukan oleh miselium. Miselium ekstraselular yang
mengeluarkan enzim dan asam yang memecah lignin dan selulosa, dua blok
bangunan utama tanaman serat. Ini adalah senyawa organik yang terdiri dari
panjang rantai karbon dan hidrogen, secara struktural mirip dengan banyak
polutan organik. Kunci untuk menentukan mikoremediasi adalah spesies jamur
yang tepat untuk menargetkan polutan tertentu.
Jamur mempunyai mekanisme degradasi yang berbeda dengan bakteri.
Bakteri menguraikan senyawa organik polutan dengan cara mengambil senyawa
tersebut kedalam selnya (misalnya dengan proses diffusi dinding sel) dan
memanfaatkan enzim intraseluler (enzim yang berada di dalam sel). Dengan
mekanisme ini, diffusi senyawa polutan kedalam dinding sel dibatasi oleh ukuran
molekul senyawa polutan, ukuran dinding sel, dan toksisitas dari senyawa akan
mengganggu atau bahkan mematikan bakteri. Pada sistem jamur, enzim
pendegrasi disekresi (dikeluarkan) oleh jamur dari miselianya, atau disebut enzim
ekstra seluler. Dengan demikian, proses biodegradasi terjadi diluar sel jamur, atau
miselianya. Dengan mekanisme ini dapat mengatasi permasalahan ukuran molekul
senyawa polutan dan toksisitas senyawa polutan terhadap mikroorganisme
pendegradasi.
Jamur yang sampai saat ini banyak digunakan dalam bioremediasi adalah
jamur pelapuk putih (white rot fungi). Studi tentang white rot fungi dan
aplikasinya telah dilakukan banyak peneliti di dunia dan di Indonesia . Reddy dan
Zacharia (2001) telah melaporkan beberapa potensial dari jamur pelapuk putih
dari berbagai penelitian, yang disajikan pada tabel di bawah ini.

13

Penelitian di Indonesia menujukkan bahwa jamur pelapuk putih mampu


menguraikan biomassa ampas tebu (Rosyida, dkk., 2013), mendegradasi
insektisida jenis karbofuran dalam tanah sebanyak 6-22% (Chanif, dkk., 2015),
serta mengurangi bobot dan mendekomposisi limbah kakao selama 40 hari
(Rahim, dkk., 2015).
Polyporus rubidus merupakan salah satu jenis spesies jamur pelapuk putih
yang memiliki kemampuan bioremediasi. Jamur ini mendegradasi zat pencemar
dan zat warna sebesar 80% (Dayaram & Debjani, 2008). Jamur Polyporus sp.
mampu mendegradasi polutan fenantren sebanyak 150 mg/ml selama 96 jam
(Tony, dkk., 2011), dan minyak mentah dalam tanah sebesar 93% (Kristianti, dkk.,
2011). Proses pengendapan fisik dan kimia yang kemudian dilanjutkan dengan
biodegradasi dengan menggunakan Polyporus rubidus diharapkan mampu
mengatasi permasalahan pencemaran limbah batik.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengolahan Limbah Batik
Pengolahan limbah cair batik adalah bagaimana menghilangkan
atau menurunkan unsur-unsur dan senyawa pencemar dari limbah tekstil
untuk mendapatkan effluent dari pengolahan yang mempunyai kualitas
yang dapat diterima oleh badan air penerima buangan tanpa gangguan
fisik, kimia dan biologis. Ada tiga cara pengolahan air limbah batik akan
dilakukan dengan memnggabungkan metode fiika, kimia dan biologi.
1. Pengolahan limbah cair batik secara fisik
Pada

pengolahan

ini

bertujuan

untuk

menyisihkan

atau

memisahkan bahan pencemar tersuspensi atau melayang yang berupa


padatan dari dalam air limbah. Pengolahan limbah cair secara fisik pada
industri tekstil, misalnya penyaringan dan pengendapan. Aerasi adalah
proses awal yang selalu dilakukan secara terbuka maupun dengan paksa
(injeksi udara). Proses penyaringan dimaksudkan untuk memisahkan
padatan tersuspensi atau padatan terapung yang relatif besar seperti zat-zat
warna, zat-zat kimia yang tidak larut dan kotoran-kotoran pada limbah
cair. Proses penyaringan ini dilakukan sebelum limbah tersebut
mendapatkan pengolahan lebih lanjut. Sedangkan proses pengendapan
ditujukan untuk memisahkan padatan yang dapat mengendap dengan gaya
gravitasi.
2. Pengolahan limbah cair batik secara kimia
Pada pengolahan ini bertujuan untuk menghilangkan partikelpartikel yang tidak mudah mengendap (koloid), menetralkan limbah cair
dengan cara menambahkan bahan kimia tertentu agar terjadi reaksi kimia
untuk menyisihkan bahan polutan. Pada pengolahan ini menggunakan
arang aktif. Arang aktif selain lebih ekonomis dan juga lebih aman bagi
lingkungan.
Arang aktif merupakan suatu padatan yang mengandung 85-95%
karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan

14

pemanasan pada suhu tinggi maupun diaktifasi dengan bahan-bahan kimia


(aktivator). Arang aktif atau activated carbon berdasarkan pada pola
strukturnya adalah suatu bahan yang

15

16

berupa karbon amorf yang sebagian besar terdiri dari karbon


bebas serta memiliki permukaan dalam sehingga memiliki daya serap
yang tinggi (Tamarjaya, 2014).
Arang aktif adalah karbon tak berbentuk yang diolah secara khusus
untuk menghasilkan luas permukaan yang sangat besar, berkisar antara
300-2000 m3/gr. Luas permukaan yang besar dari struktur dalam poripori

karbon

aktif

dapat

dikembangkan, struktur ini memberikan

kemampuan karbon aktif menyerap (adsorb) gas-gas dan uap-uap dari gas
dan dapat mengurangi zat-zat dari liquida. Arang aktif adalah arang yang
telah mengalami perubahan sifat fisika dan kimia karena telah melalui
proses aktivasi sehingga daya serap dan luas permukaannya meningkat.
Arang aktif yang berasal dari kulit kakao memiliki potensi sebagai
adsorben (Maryanto, dkk., 2009).
Adapun mekanisme penyerapan adalah sebagai berikut:
1. Molekul adsorbat berpindah menuju lapisan terluar dari adsorben.
2. Karbon aktif dalam kesatuan kelompok mempunyai luas permukaan pori
yang besar sehingga dapat mengadakan penyerapan terhadap adsorbat.
3. Sebagian adsorbat ada yang teradsorpsi di permukaan luar, tetapi sebagian
besar teradsorpsi di dalam pori-pori adsorben dengan cara difusi.
4. Bila kapasitas adsorpsi masih sangat besar, sebagian besar molekul adsorbat
akan teradsorpsi dan terikat di permukaan. Tetapi bila permukaan pori
adsorben sudah jenuh dengan adsorbat maka akan terjadi dua kemungkinan,
yaitu :
a. Terbentuk lapisan adsorpsi kedua, ketiga dan seterusnya.
b. Tidak terbentuk lapisan adsorpsi kedua, ketiga dan seterusnya sehingga
adsorbat yang belum teradsorpsi akan terus berdifusi keluar pori
Pada beberapa penelitian membuktikan efektivitas penyerapan
adsorbsi arang aktif pada logam-logam berat. Namun pada zat warna
beberapa penelitian arang aktif kurang begitu efektif, sehingga dibutuhkan
perlakuan lain untuk menghilangkan zat pewarna berbaha yang masih
terdapat dalam air limbah.

17

3. Pengolahan limbah cair batik secara biologi


Pengolahan secara biologi ini memanfaatkan mikroorganisme yang
berada di dalam air untuk menguraikan bahan-bahan polutan. Pengolahan
limbah cair secara biologi ini dipandang sebagai pengolahan yang
paling murah, efisien dan ramah lingkungan. Pengolahan ini digunakan
untuk mengolah air limbah yang biodegradable. Selain itu pengolahan
limbah cair tekstil berdasarkan karakteristiknya, limbah tersebut juga
dapat diolah dengan berbagai macam metode yang inovatif.
Pengkajian biodegradasi zat warna tekstil secara biologi lebih
banyak diarahkan dengan menggunakan bakteri dan jamur. Beberapa
bakteri pada kondisi anaerob dilaporkan mampu untuk mendegradasi zat
warna azo di antaranya Aeromonas sp., Pseudomonas sp., dan
Flavobacterium sp.

Sebaliknya, ada beberapa bakteri yang dilaporkan

mampu mendegradasi zat warna azo pada kondisi aerob diantaranya


adalah Plesiomonas sp. dan Vibrio sp. (Sastrawidana, 2009).

Pada

kondisi anaerob degradasi zat warna tekstil menggunakan bakteri lebih


cepat dibandingkan dengan kondisi aerob, namun kelemahannya yaitu
menghasilkan amina aromatik yang bersifat lebih toksik dibandingkan
dengan zat warna azo itu sendiri. Hasil uji toksisitas menunjukkan
degradasi limbah tekstil pada kondisi anaerob lebih toksik dibandingkan
dengan limbah awal (Sastrawidana, 2009).
Salah satu jamur yang dilaporkan mampu untuk mendegradasi zat
warna azo dengan efektif jamur Polyporus rubidus (Dayaram & Debjani,
2008). Jamur pendegradasi kayu memiliki kelebihan dibandingkan bakteri
dalam merombak zat warna yaitu produk yang dihasilkan memiliki
toksisitas yang lebih rendah daripada produk yang dihasilkan dari proses
biodegradasi menggunakan bakteri (Hakala, 2007).
Berdasarkan laporan Dayaram dan Debjani (2008), salah satu
jenis jamur lapuk putih yaitu Polyporus rubidus mampu mendegradasi zat
warna sintetik, yaitu reactive blue, remazol black, reactive orange dan
congo red. Pada konsentrasi 100 mg/L, jamur Polyporus rubidus dapat
mendegradasi 90% zat warna reactive blue dalam lama inkubasi 5 hari.

18

Dan enzim laccase yang dihasilkan oleh jamur Polyporus rubidus juga
mampu mengdegradasi limbah cair industri tekstil. Jamur Polyporus
rubidus merupakan jamur yang paling efektif digunakan untuk
mendegradasi zat warna dan zat pencemar lain yang ada di limbah.
Jamur lapuk putih mampu menghasilkan enzim lignolitik
ekstraseluler yaitu laccase, mangan peroksidase (MnP) dan lignin
peroksidase (LiP) yang berperan penting dalam mendegradasi lignin,
selulosa dan hemiselulosa.

Ketiga enzim

ini

bertanggung

jawab

terhadap pemecahan awal polimer lignin dan menghasilkan produk


dengan berat molekul rendah (Hakala, 2007).
LiP merupakan enzim lignolitik yang mampu mengoksidasi inti
aromatik (fenolik dan nonfenolik) melalui pelepasan satu elektron
menghasilkan radikal kation

dan

fenoksi. LiP

adalah

enzim

peroksidase ekstraseluler yang mempunyai potensial redoks yang besar


dan pH optimum yang rendah.

(MnP) merupakan heme peroksidase

ekstraseluler yang membutuhkan Mn2+ sebagai substrat pereduksinya.


MnP mengoksidasi Mn2+ menjadi Mn3+, yang kemudian mengoksidasi
struktur fenolik menjadi radikal fenoksil. MnP merupakan salah

satu

peroksida pendegradasi lignin yang dihasilkan oleh beberapa jamur


lapuk putih (Hofrichter, 2002). Laccase mereduksi O2 menjadi H2O
dalam substrat fenolik melalui reaksi satu elektron membentuk radikal
bebas.

Dengan

adanya

mediator

seperti

2,2-azinobis(3-

ethylbenzthiazoline-6-sulphonate (ABTS) atau hydroxybenzo triazole


(HBT),

laccase

mampu

mengoksidasi senyawa non fenolik tertentu.

Laccase dihasilkan oleh sebagian besar jamur lapuk putih (Hatakka,


1994). Enzim lignolitik ekstraseluler yang dihasilkan jamur lapuk putih
memiliki

spesifikasi

substrat

yang

rendah

sehingga

mampu

mendegradasi berbagai jenis organopolutan yang memiliki struktur yang


mirip dengan lignin.
Mekanisme Degradasi Lignin oleh Enzim Mangan Peroksidase
(MnP). Lignin merupakan senyawa polimer aromatik yang sulit

19

didegradasi dan hanya

sedikit

organisme

yang

mampu

mendegradasi lignin. Lignin sulit didegradasi karena strukturnya yang


kompleks dan heterogen. Jamur P. Chrysosporium mampu mendegradasi
lignin dan berbagai polutan aromatik. Jamur ini menghasilkan enzim
lignin peroksidase (LiP) dan mangan peroksidase (MnP)

yang

mempunyai peranan penting dalam proses degradasi lignin. Enzim LiP


mampu memecah unit nonfenolik yang menyusun struktur lignin,
sedangkan enzim

MnP

mengoksidasi Mn

2+

menjadi

3+

Mn

yang

berperan dalam pemutusan unit fenolik lignin. Reaksi degradasi lignin


oleh enzim MnP disajikan pada Gambar 3.1.
Reaksi enzim MnP dengan cincin fenolik diawali dengan
pelepasan sebuah elektron dan membentuk radikal fenoksil. Radikal
fenoksil selanjutnya mengalami mesomeri kemudian bereaksi dengan O2
radikal membentuk eter peroksida.
mengalami
alifatik.

pemecahan

cincin

Eter

peroksida

selanjutnya

secara spontan membentuk senyawa

Sistem enzim MnP membelah gugus ini menjadi CO2 dan

radikal alifatik.

Radikal alifatik kemudian bereaksi kembali dengan

enzim MnP menghasilkan lebih banyak CO2 dan asam organik


(Hakala, 2007).

20

Gambar
3.1. Mekanisme degradasi lignin oleh enzim MnP
3.3 Pengolahan Limbah Batik Sederhana
Limbah cair hasil dari proses pewarnaan batik tulis maupun batik cap harus
diolah secara benar agar tidak mencemari lingkungan. Berikut merupakan
gambaran untuk pengolahan limbah batik cair secara sederhana:

Gambar 3.2. Mekanisme degradasi lignin oleh enzim MnP

BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
1. Pemanfaatan bioteknologi dalam memecahkan masalah pencemaran limbah
batik di Pekalongan menjadi lebih efektif dengan penggunaan biodegradasi
Jamur Polyporus rubidus.
2. Pemanfaatan Jamur Polyporus

rubidus selain lebih ekonomis juga

memecahkan masalah tanpa menimbukan masalah baru (eco-friendly)


4.2 Saran
1. Biodegradasi menggunakan jamur Polyporus

rubidus dapat digunakan

seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah dalam kegiatan mengurangi


pencemaran lingkungan yang terjadi.
2. Sebelum dilakukan bioremediasi, sebelumnya dapat digunakan biosensor
sebagai detektor yang akurat dalam upaya pemerintah mengatasi lingkungan
yang tercemar akibat limbah batik yang yang banyak tersebar diberbagai
daerah.

21

DAFTAR PUSTAKA
Astuti, D. 2013. Peruraian Biodegradasi Bahan Pencemar. Di akses di
http://sriastutiturnip.blogspot.co.id/2013/04/peruraianbiodegradasibahan-pencemar.html Tanggal 24 Oktober 2015
Chanif, I., Syamsuuddin D., da Luqman Q.A. 2015. Uji Potensi Jamur Pelapuk
Putih dalam Bioremediasi Insektisida Karbofuran. Jurnal HPT 3 (2): 8390.
Dayaram, P & Debjani, D.. 2008. Decolorisation of synthetic dyes and textile
wastewater using Polyporus rubidus. Journal Environment Biology. 29
(6) 831-836
Hakala, T.K. 2007. Caracterization 0f The Lignin-Modifying Enzymes of The Selective
White-Rot Fungus Physisporinus Rivulosus . Disertasi. Department of Applied
Chemistry and Microbiology. University of Helsinki.

Hardiani, H., Teddy K., dan Susi S. 2011. Bioremediasi Logam Timbal (Pb) dalam
Tanah Terkontaminasi Limbah Sludge Industri Kertas Proses Deinking.
Jurnal Selulosa 1 (1): 31-41.
Kristianti, R.A., Tony H., Tadashi O., Yasuhiro T., dan Kazuhiro M. 2011.
Bioremediation of Crude Oil by White Rot Fungi Polyporus sp. S133.
Journal Microbiology Biotechnology (21) 9: 995-1000.
Kuhad, R.C. & Ajay S. 2013. Biotechnology for Environmental Management and
Resource Recovery. London: Springer New Delhi Heidelberg New York
Dordrecht London
Maryanto, D., Mulasari, S. A., dan Suryani, D., 2009, Penurunan Kadar
Emisi Gas Buang Karbon Monoksida (CO) dengan Penambahan
Arang Aktif pada Kendaraan Bermotor Di Yogyakarta: KES MAS,
Di akses di
http:// www.penganten.com/Carbon%20Actif/proposal
%20active%20carbo%20. Tanggal 24 Oktober 2015
Mubarak, A.S. & Juni, T. 2009. Peringatan Dini Pencemaran Logam Berat dan
Pestisida Berdasarkan Rasio Seks Anakan Daphnia sp. Jurnal
Perikanan. 11(2):201-205
Oktavia, D. 2011. Pengolahan Limbah Industri Tekstil. Di akses di
https://dwioktavia.wordpress.com/2011/04/14/pengolahan-limbahindustri-tekstil/ Tanggal 24 Oktober 2015
Rahim, I., Tutik K., Laode A., dan Burhanuddin R. 2015. Potensi Jamur Pelapuk
Putih dalam Mendekomposisi Limbah Kulit Kakao. Prosiding. Seminar
Nasional Mikrobiologi Kesehatan dan Lingkungan. Makassar, 29 Januari
2015.
Reddy, C dan Zacharia M. 2001. Bioremediation Potential Of White Rot Fungi.
New York: Cambridge Press.

22

Risal,

M.
2012.
Bioteknologi
Lingkungan.
Di
akses
di
http://www.artikelbagus.com/2012/01/bioteknologi-lingkungan.html
Tanggal 24 Oktober 2015
Rosyida, V.T., Cici D., dan Satriyo K.W. 2013. Pretreatment Ampas Tebu (Bagas)
Menggunakan Empat Jamur Pelapuk Putih dan Karakteristik
Pertumbuhannya. Makalah. Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan
Kimia V. UNS Surakarta, 6 April 2013.
Sastrawidana, I. D. K. 2009. Isolasi bakteri dari Lumpur Limbah Tekstil dan
Aplikasinya untuk Pengolahan Limbah Tekstil Menggunakan System
Kombinasi Anaerob-Aerob. Disertasi. Institut Pertanian Bogor.
Surtikanti, H.K. 2011. Toksikologi Lingkungan dan Metode Uji Hayati. Bandung.
Rizqi Press.
Tamarjaya, F. 2014. Adsorpsi Emisi Gas CO, NO, dan NOx menggunakan Karbon
Aktif dari Limbah Buah Kakao. Skripsi. Makassar: Universitas
Hassanudin.
Tony, H., Sanro T., dan Muhamad A. 2011. Indentification of Metabolites from
Phenanthrene Oxidation by Phenoloxidases and Dioxygenases of
Polyporus sp. S133. Journal Microbiology Biotechnology (21) 3: 299304.

23

Anda mungkin juga menyukai